Gedung baru, teman baru, pemandangan baru, dan atmosfer baru ini masih terlihat asing bagiku. Walau aku belum mempunyai teman baru, aku tak merasa keberatan. Sahabat-sahabatku berada di sini, dan aku kembali bertemu denganmu di tempat ini. Aku bahagia, tentu saja. Namun, masalah akan selalu ada dimanapun dan kapanpun seseorang itu berada.
.
.
.
Dear Diary
By 狐氏例(Kitsuneshi Rei)
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki-sensei
Warning : Gaje, missed typo(s), OOC, dll.
.
.
.
Enjoy!
21 April
Aku kembali sekelas dengan Aomine-kun, Kise-kun, juga Shigehiro-nii. Tentu saja aku tidak melupakan seorang Akashi Seijuurou yang juga sekelas denganku. Seperti yang sudah kuduga, ketiga sahabatku itu sudah berkenalan dengan banyak orang. Sungguh sulit bagiku untuk bersosialisasi walau sudah seminggu berselang. Yah, Akashi-kun juga tidak banyak berbicara dengan yang lain. Hanya saja aura Akashi-kun yang begitu kuat itu membuat orang-orang membicarakannya, berbeda denganku yang dikenal sebagai phantom player di Teiko dulu. Keberadaanku sulit untuk dideteksi, bahkan oleh sahabat-sahabatku sendiri. Akashi-kun adalah orang yang bisa menyadari keberadaanku dengan mudah setelah kedua orang tuaku. Hanya saja, ada satu orang lagi yang bisa menyadari hawa keberadaanku yang sangat tipis ini. Tentu saja aku tidak masalah dengan itu, tapi...
... sepertinya aku mendapatkan tatapan tidak senang karenanya...
"Kurokocchi! Ayo ke kantin!" teriak seorang Kise Ryouta dengan suara yang sanggup memecahkan semua kaca yang berada di kelas.
"Berisik, Kise!" gerutu Aomine sembari menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Hidoi-ssu, Aominecchi!"
Penghuni kelas X-2 hanya bisa sweatdrop melihat pemandangan sehari-hari yang melibatkan Kise dan Aomine. Ogiwara sudah lelah untuk menjadi penengah di antara mereka berdua dan Kuroko tetap tidak menggubris semua ocehan-ocehan itu seperti biasa. Pemuda bersurai azure itu memilih untuk mengerjakan soal matematika yang dijadikan tugas untuk pertemuan selanjutnya.
"Mau ikut ke kantin?" Kali ini Ogiwara yang mengajak Kuroko. Tentu saja dengan suara yang lebih pelan dari Kise.
Kuroko mengangkat wajahnya dari kumpulan angka di depannya. "Kalian duluan saja. Aku akan menyusul setelah meminjam kamus di perpustakaan," jawabnya. Pelajaran bahasa Inggris memang berlangsung setelah istirahat dan Kuroko lupa membawa kamusnya.
Surai Ogiwara bergoyang seiring anggukan pelan kepalanya. "Kalau begitu kami pergi dulu, ya!" pamit pemuda itu, kemudian berlalu sambil menyeret seorang pemuda berisik dan pemuda tan yang masih berdebat di depan pintu sejak tadi.
Kelereng azure itu menatap punggung sahabat-sahabatnya yang mulai mengecil. Diam-diam ia tersenyum. Sudah seminggu Kuroko menjadi siswa baru di sini. Dan selama seminggu itu pula Kuroko belum mendapatkan teman baru. Semua sahabatnya sudah mulai berbaur dengan yang lain. Walau jarang berbicara dengan murid lain, sudah banyak orang yang mengenal Akashi, berbeda dengannya. Sepertinya hawa keberadaan tipis yang dimiliki pemuda bersurai azure ini tidak terlalu membantu dalam bersosialisasi. Namun, Kuroko tidak keberatan dengan semua ini. Toh lama kelamaan ia juga akan mempunyai teman baru. Hanya saja ia tidak tahu kapan itu terjadi.
Kuroko menghela napas dan menutup buku matematikanya. Semilir angin memainkan helaian surainya. Kedua manik sewarna langit cerah itu terhalang kelopak, menikmati setiap belaian angin yang menghembusnya. Pemuda itu membuka kelopak matanya, mengalihkan sepasang manik itu ke arah jajaran sakura yang rimbun di kejauhan. Akan sangat menyenangkan jika ia bisa ber-hanami seperti yang lain. Kuroko bertanya-tanya apakah teman-temannya itu masih mempunyai waktu luang atau tidak. Sepertinya ia harus menanyakannya kepada mereka bertiga. Atau mungkin pada sang mantan kapten klub basket Teiko juga?
Pemuda azure itu menggelengkan kepalanya pelan. Lagi-lagi ia memikirkan Akashi. Ia menghela napas. Bisakah ia menghilangkan pemikirannya tentang Akashi barang sehari saja? Ah, sepertinya Akashi tidak berada di kelas sejak jam ketiga. Kemana dia?
Kuroko kembali menghela napas. Oke, sepertinya sangat sulit untuk membuat sosok Akashi tersisihkan dari pikirannya.
Kaki-kaki ramping Kuroko akhirnya bergerak begitu ia mengukuhkan niatnya untuk tidak memikirkan sang pemuda bermanik heterokrom dan segera pergi ke perpustakaan. Ia menoleh ke belakang, mengamati teman-teman sekelasnya yang sedang mengobrol ketika ia akan membuka pintu. Akrab dengan yang lain sepertinya menyenangkan. Kuroko juga ingin berbagi cerita dengan kawan-kawan sebayanya. Mungkin ia harus menghilangkan kebiasaannya yang datang dan pergi dengan tiba-tiba itu.
Merenung seperti ini hanya menghabiskan waktu pemuda bermanik azure itu. Astaga, perhatiannya pada sesuatu sangat mudah beralih. Kuroko kembali memusatkan pikirannya pada tujuan awalnya, bukan pada Kise, Aomine, Ogiwara, Akashi, maupun masalahnya dalam bersosialisasi. Ia harus pergi ke perpustakaan atau ditertawakan seluruh penghuni kelas jika ia melakukan hal konyol nanti. Yah, kemampuannya dalam berbahasa memang tidak terlalu baik. Tapi, setidaknya ia lebih baik daripada si pemuda tan.
Lorong sepanjang kompleks kelas Kuroko begitu ramai saat ini. Waktu istirahat masih lama dan kesan ramai memang sudah tidak asing lagi. Kuroko hanya berjalan dalam diam, terus menekuri lantai. Ia belum sempat makan siang sementara para cacing di dalam perutnya itu sudah mulai berunjuk rasa. Sungguh, sepertinya ia lebih baik langsung pergi ke perpustakaan daripada merenung tadi. Kaki-kaki Kuroko mulai bergerak lebih cepat. Hanya saja ia kurang berhati-hati dalam melangkah dan menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Kuroko sedikit oleng, namun segera menemukan keseimbangannya kembali.
"Ma—"
"Maaf, aku kurang berhati-hati."
Permintaan maaf yang sudah berada di ujung lidah Kuroko harus terpotong karena orang yang ditabraknya itu sudah mengucapkannya terlebih dahulu. Pemuda bersurai azure itu mendongak. Dilihatnya seorang pemuda beralis cabang yang lebih tinggi darinya itu membawa tiga buah kamus di tangannya. Surai scarletnya senada dengan sepasang manik bersorot tajam yang dimilikinya. Kuroko yakin bahwa pemuda ini bukan orang Jepang asli. Hanya saja Kuroko meragukan hipotesanya karena ia bisa berbicara menggunakan bahasa Jepang dengan lancar walaupun aksen luar-nya masih terasa.
"Halo? Apa kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu lagi.
Manik azure itu mengerjap berkali-kali. Ah, sepertinya ia melamun lagi. "Aku baik-baik saja. Terima kasih," Kuroko membungkukkan badannya, "dan maaf karena sudah menabrakmu."
Pemuda scarlet itu terkekeh pelan. "Aku juga kurang hati-hati, kok," tambahnya. "Sepertinya aku pernah melihatmu. Kau sekelas denganku, bukan?"
Jujur saja Kuroko sedikit terkejut—tidak, ia benar-benar terkejut. Baru kali ini ada orang yang menyadari keberadaannya yang tipis di kelas. Rasanya tidak mungkin pemuda itu mengenali Kuroko karena si pemilik manik azure itu tak pernah menyapa teman-teman lain di kelas kecuali sahabat-sahabat yang sudah ia kenal.
"Kau... mengenalku?" tanya Kuroko dengan nada datar, dengan sebersit rasa tidak percaya tentunya.
Pemuda itu kembali terkekeh. "Kalau tidak salah namamu Kuroko Tetsuya, benar? Waktu memperkenalkan diri kau tiba-tiba berdiri di samping sensei dan membuatnya terjungkal dengan tidak elitnya." Suara kekehannya terdengar semakin keras, membuat beberapa siswa yang berada di sekelilingnya menoleh heran. "Bagaimana denganmu? Apa kau tahu siapa aku?" Ia balik bertanya.
Kening Kuroko berkerut samar. Sungguh, ia merasa tidak enak jika ia mengatakan 'maaf, aku tidak mengenalmu' pada pemuda di hadapannya ini. Kuroko takut jika pemuda itu akan tersinggung dan membencinya. Bukannya apa-apa, tapi orang itu adalah teman baru pertama Kuroko. Walaupun Kuroko tidak terlalu berminat untuk bersosialisasi, tapi ia juga ingin mempunyai banyak teman.
"Sepertinya memorimu terlalu lemah untuk mengingat nama-nama teman sekelas, ya," kata pemuda scarlet itu kembali memecah lamunan Kuroko. "Namaku Kagami Taiga. Aku baru saja pindah dari Amerika. Salam kenal, Kuroko!" ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
Walau agak ragu, akhirnya Kuroko menjabat uluran tangan pemuda bernama Kagami itu. Sebuah kurva kecil terukir di wajahnya. Baru kali ini Kuroko menunjukkan senyumannya pada orang yang baru dikenalnya. "Salam kenal juga, Kagami-kun. Mohon bantuannya untuk beberapa hari ke depan."
Si pemuda scarlet itu juga tersenyum. "Ngomong-ngomong, kau mau kemana? Sepertinya tadi kau terburu-buru."
Kuroko kembali melupakan niatnya untuk pergi ke perpustakaan. Astaga, sudah berapa kali perhatiannya teralih seperti ini? Kuroko mengerling pada jam dinding yang bertengger di kelas yang ada di sampingnya. Istirahat tinggal tujuh menit lagi. Bagus, sepertinya ia harus menahan lapar sampai pulang nanti.
"Kuroko?"
Manik azure Kuroko menatap lurus ke manik scarlet Kagami. Ah, melamun itu sungguh tidak baik bagi Kuroko. "Aku ingin ke perpustakaan. Kamusku tertinggal," jawabnya datar.
"Tertinggal, ya?" ulang Kagami. "Kebetulan aku baru saja meminjam tiga kamus dari perpustakaan. Kau mau memakainya satu?" tawarnya.
"Terima kasih, tapi," Kuroko menatap Kagami heran, "kenapa Kagami-kun meminjam tiga kamus sekaligus?"
Kagami terdiam, lalu mengangkat tangannya yang membawa barang bernama kamus itu. "Oh, aku juga tidak membawa kamus hari ini dan teman sebelahku memintaku untuk meminjamkannya kamus di perpustakaan. Karena yang lainnya juga sering lupa, kupikir sebaiknya aku membawa satu lagi untuk berjaga-jaga. Siapa tahu ada yang mau meminjamnya," jelasnya. "Dan sepertinya firasatku benar."
"Bukankah sebelumnya Kagami-kun tinggal di Amerika? Seharusnya Kagami-kun sudah mahir, bukan?" tanya Kuroko lagi.
"Ah, itu..." Tangan Kagami yang bebas mengusap tengkuknya salah tingkah. "Karena sudah lama tinggal di Amerika aku sering lupa jika harus menterjemahkan kosakata bahasa Inggris kedalam bahasa Jepang. Lagipula, ada baiknya jika sedia payung sebelum hujan."
"Kita sedang membicarakan pelajaran, Kagami-kun, bukan hari hujan," sanggah Kuroko dengan ekspresi datar seperti biasa.
Kagami hanya ber-sweatdrop ria. "Aku tidak membicarakan hari hujan. Itu hanya kata kiasan," geramnya. "Dan cepat ambil kamusnya sebelum istirahat berakhir."
Kuroko kembali tersenyum. Ternyata menyenangkan jika mempunyai teman baru. Sepertinya ia akan mulai mengenalkan dirinya lagi pada teman-teman sekelasnya walau diawali dengan mengejutkan mereka. Tangan Kuroko terulur, mengambil kamus yang berada di tangan Kagami. "Kau menakutkan jika seperti itu, Kagami-kun."
Kening Kagami mulai berkedut. "Apa kata..."
"Tapi..." Kuroko memotong protesan Kagami. Senyumannya masih belum lepas dari wajahnya. "terima kasih."
Kagami terperangah, namun ia pun akhirnya tersenyum lebar. "Seharusnya aku yang berterimakasih padamu, Kuroko," gumamnya tulus.
"Kau mengatakan sesuatu, Kagami-kun?"
Pemuda scarlet itu membuang muka ke samping. "Tidak."
Kuroko masih menatap Kagami dengan penasaran. "Kau aneh," gumamnya.
"Apa katamu?!"
.
.
"Huwaaa! Kenapa kau meninggalkan kami, Kurokocchi?!" pekik Kise Ryota sambil menubruk Kuroko ketika pemuda mungil itu kembali ke kelas bersama Kagami.
"Kise-kun, sesak..."
"Oi, Kise!" Aomine berusaha melepaskan pelukan Kise begitu melihat Kuroko yang mulai kesulitan untuk bernapas. "Kau mau membunuh Ku... Lho? Bukankah kau murid pindahan dari Amerika yang bisa melompat tinggi itu?" tanya si pemuda tan begitu menyadari sosok Kagami di samping Kuroko.
"Kau... ace Teiko yang terkenal itu?" Kagami balik bertanya. "Aku membaca artikel tentang Kiseki no Sedai di majalah kemarin lusa. Tak kusangka aku berada satu kelas dengan seorang ace Kisedai."
"Kenapa kau baru menyadarinya, eh? Apakah otakmu selambat itu?" tanya Aomine dengan nada mengejek.
Kagami bisa merasakan keningnya berkedut. "Enak saja! Kau jarang mengikuti pelajaran, tahu! Itu sebabnya aku baru melihatmu sekarang!" protesnya.
"Itu benar-ssu! Aominecchi, 'kan, sering bolos pelajaran," tambah Kise. Sepertinya pemuda pirang itu tidak berniat untuk melepaskan Kuroko dari dekapannya.
"Diam kau, Kise!"
Kise pura-pura tidak mendengar ocehan Aomine. Ia beralih menatap pemuda scarlet yang berdiri di sampingnya itu. "Kau teman baru Kurokocchi, ya? Kalau tidak salah namamu Kagami Taiga, 'kan?" tanya Kise memastikan. "Namaku Kise Ryota-ssu, dan pemuda bodoh yang di sana itu Ahomine Daiki. Salam kenal-ssu!"
"Siapa yang kau sebut pemuda bodoh, hah?! Dasar pirang berisik!" Aomine kembali memprotes.
"Kualitas otakku lebih baik daripada Aominecchi!" Kise tak mau kalah.
"Seharusnya kau lebih rajin mengikuti pelajaran agar kau lebih pintar." Kali ini Kagami ikut menambahi.
Sebuah tanda perempatan muncul di kening Aomine. "Apa katamu?!"
"Hore! Ada yang membelaku-ssu! Terima kasih, Kagamicchi!" pekik Kise riang. Sungguh kekanakan sekali.
"Diam kau! Dasar pemuda berisik!"
"Hei, ada apa ini?"
Ketiga makhluk yang ribut sejak tadi itu menoleh serempak. Dilihatnya seorang Ogiwara Shigehiro yang berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Salah satu tangannya menenteng plastik berisi roti yakisoba dan segelas vanilla shake kesukaan Kuroko. "Setelah kalian meninggalkanku, kalian malah membuat keributan di sini," ucap pemuda itu dengan kening berkerut. "Dan Kise, kau harus melepaskan Kuroko sekarang atau dia akan mati, cepat atau lambat."
Dengan muka bingung, Kise menatap Kuroko yang tampak sudah kehabisan oksigen di dalam pelukannya. Segera saja ia melepaskan Kuroko dari dekapannya dan memekik nyaring, "Huwaaa! Maafkan aku, Kurokocchiii!" Wajah kekanakannya itu basah karena air mata berlebihannya. Sungguh tipikal seorang Kise Ryota.
Kuroko terbatuk pelan dan berjalan menjauhi Kise. "Aku benci Kise-kun."
"Jangan membenciku, Kurokocchiiii! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi-ssu!" Kise semakin menjadi-jadi. Sepertinya kau melakukan kesalahan, Kuroko Tetsuya.
Si pemilik manik azure itu tidak menggubris Kise yang masih berteriak-teriak di sana. Ogiwara hanya menghembuskan napas pasrah. Ternyata ia bisa tahan bersama orang-orang seperti itu dalam waktu yang lama. Menjadi penengahnya pula. Sungguh hebat dirinya itu.
Ogiwara berjalan menuju bangkunya—tepat di depan Kuroko—dan duduk di sana, menghadap Kuroko yang kembali menekuri buku di depannya. Pemuda yang sudah dianggap Kuroko sebagai kakaknya itu meletakkan barang yang dibawanya di meja Kuroko. Sepasang manik azure menatap heran ke arah Ogiwara yang sedang tersenyum.
"Kau harus makan atau kau akan pingsan di tengah-tengah pelajaran nanti," ucap Ogiwara sambil mendekatkan roti yakisoba dan vanilla milkshake yang dibelinya tadi pada Kuroko. Pemuda azure itu pasti sudah kelaparan sekarang.
Untuk sejenak Kuroko ragu. Namun, mengingat perutnya yang sudah kelaparan stadium akhir, ia menerima pemberian Ogiwara. Lagipula, Ogiwara pasti akan memaksanya makan jika ia menolak. "Terima kasih, Shigehiro-nii." Kuroko tersenyum.
Ogiwara mengacak-acak surai Kuroko lembut. "Sepertinya kau sudah mendapatkan teman baru," katanya sambil menatap Kagami Taiga yang masih bersama Kise dan Aomine. "Kalau tidak salah aku pernah melihatnya waktu kita makan di kedai dekat bandara saat SMP dulu," tambahnya.
Kuroko mengikuti arah pandangan Ogiwara. "Benarkah?"
Ogiwara mengangguk. "Kau tidak mengingatnya? Dia duduk di samping kita, lho." Pemuda bersurai cokelat itu meyakinkan Kuroko. "Ah, dia melihat kemari."
Manik azure Kuroko beradu pandang dengan manik scarlet Kagami. Kuroko baru sadar kalau manik Kagami terasa begitu dalam. Cukup lama mereka saling bertatapan sampai sebuah suara mengalihkan perhatian Kuroko.
"Tetsuya?"
Kuroko menoleh. Sosok yang begitu dicarinya kini berdiri di hadapannya. Wajah Akashi memang terlihat biasa saja, tapi sorot sepasang kelereng crimson itu menyiratkan kelelahan. Sejak masuk ke sekolah ini Akashi sudah diangkat menjadi anggota dewan murid. Mungkin kelak ia akan menjadi ketua.
"Akashi-kun? Kenapa baru kembali?" tanya Kuroko.
Akashi menyeringai jahil. Ia mendekatkan wajahnya ke depan wajah Kuroko. "Sepertinya kau merindukanku, eh?" godanya.
Kontan saja Kuroko terkesiap pelan. Merindukan Akashi? Tentu saja. Tapi Kuroko tidak bisa mengatakannya secara langsung atau ia akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan teman-teman sekelasnya. "Kau terlalu berharap, Akashi-kun."
"Wah, sepertinya aku ditolak." Ia menjauhkan wajahnya dan kembali berdiri tegak. "Daripada itu, sepertinya Ryota dan Daiki mempunyai teman baru lagi."
"Dan teman baru Kuroko juga," tambah Ogiwara bersemangat. "Kami pernah bertemu dengannya di kedai, tapi sepertinya Kuroko tidak mengingatnya."
Manik crimson Akashi beralih ke tempat Kagami berdiri. Pemuda scarlet itu sepertinya sudah tidak melihat kemari lagi. "Oh, dia, ya?" Akashi kembali menatap Kuroko dengan tatapan... tidak senang? "Sepertinya ia tertarik padamu, Tetsuya."
Manik Kuroko dan Ogiwara membulat kompak—walau kekagetan Kuroko tidak terlalu kentara, tetap saja mata bulatnya itu 'agak' melebar. Kagami Taiga tertarik pada Kuroko? Ayolah, meski sudah seminggu mereka sekelas, mereka tidak pernah mengobrol sebelumnya dan baru saja berkenalan hari ini. Oke, semua ini bisa saja disebut sebagai cinta pandangan pertama. Tapi, Kagami tidak terlihat seperti tipe orang yang percaya dengan cinta pandangan pertama. Sepertinya Akashi membutuhkan banyak istirahat atau ia akan terus-terusan melantur.
"Akashi-san!"
Mereka bertiga—Kuroko, Akashi, dan Ogiwara—menoleh serempak. Terlihat salah seorang senpai yang saat ini menjabat sebagai ketua dewan siswa berdiri di ambang pintu sambil menatap Akashi. Ibu jarinya mengisyaratkan agar sang pemuda bersurai crimson mengikutinya. Diam-diam Akashi menghela napas kesal. Rapat, lagi.
"Aku harus pergi," Akashi kembali menatap Kuroko, "dan selamat karena kau memiliki penggemar rahasia, Tetsuya."
Kuroko hanya bisa terdiam melihat sosok Akashi yang sudah menghilang di sana. Apakah ia bersalah karena memiliki teman baru? Sangat kecil kemungkinan Kagami memiliki perasaan khusus padanya. Ia hanyalah seorang phantom kalau boleh tahu. Bisa saja Kuroko dan Kagami pernah berkenalan sebelumnya—walaupun Kuroko tidak mengingatnya—sehingga pemuda scarlet itu mengenalnya. Rasanya tidak mungkin Kagami menjadi penggemar rahasia Kuroko.
"Kau masih memikirkan Akashi?"
Suara Ogiwara membuat Kuroko terfokus padanya kembali. Sepasang kelereng bulat berwarna azure itu hanya menatapnya intens, seolah berkata 'ya' secara tersirat. Pemuda bersurai cokelat itu hanya terkekeh pelan. "Sepertinya dia cemburu."
Oke, sepertinya otak Ogiwara juga sedang bermasalah saat ini. "Maksud Shigehiro-nii?"
"Akashi selalu OOC saat bersamamu, kau tahu?" Senyum misterius tersungging di wajah Ogiwara. "Contohnya seperti tadi."
Baru saja Kuroko akan membuka mulut untuk bertanya lagi ketika bel dimulainya kembali jam pelajaran terdengar. Ogiwara hanya mengacak surai azure-nya pelan dan pergi ke tempat duduknya. Rombongan Kise dan yang lainnya juga sudah bubar setelah sensei masuk ke kelas. Hanya Akashi yang kembali menghilang. Pemuda itu terlihat begitu lelah. Mungkin kata-katanya tadi hanyalah efek dari rasa lelah Akashi.
"Kuroko-san, tolong terjemahkan teks halaman tiga puluh tujuh paragraf dua!"
Manik Kuroko menatap ke depan. Dilihatnya Kagami yang menoleh padanya dan tersenyum. Kuroko membalas senyum Kagami dengan senyum kecil yang terkesan dipaksakan. Ia melirik kamus yang dipinjamkan Kagami padanya tadi. Sungguh, semua ini membuat Kuroko pusing.
"Kuroko-san?"
Kuroko berdiri dari tempat duduknya. Beberapa pasang manik teman-teman sekelasnya menatap ke arahnya. Ia menghela napas pelan. Ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan semuanya. Ia harus melupakannya, setidaknya untuk saat ini.
"Hai, Sensei!"
.
.
Sudah berselang seminggu sejak kejadian itu dan Akashi masih disibukkan dengan urusan dewan siswa sampai saat ini. Sebelumnya Akashi masih sempat menghabiskan waktunya bersama Kuroko dan kawan-kawan—walau lebih sering bersama Kuroko daripada bersama Ogiwara dan yang lain—walau sering mengurusi organisasi itu. Sekarang pemuda crimson itu jarang berbicara dengan siapa saja, terutama pada Kuroko yang sering disapanya sebelumnya. Sebelumnya Kuroko memang berkesimpulan bahwa Akashi kelelahan karena tugasnya yang menumpuk. Tapi, sekarang Kuroko meragukan hipotesanya. Tidak hanya kelelahan, Akashi terlihat seperti... menghindar. Ia tidak pernah makan siang atau pergi ke perpustakaan bersama Kuroko lagi. Karena itulah Kuroko lebih sering bersama Ogiwara atau Kagami sekarang. Walaupun Kuroko tidak sendirian, tapi rasanya sungguh menyesakkan jika diacuhkan oleh orang yang kita sukai.
Hal ini masih berlanjut sampai pulang sekolah. Kuroko masih ingin melihat ribuan sakura itu berguguran dengan teman-temannya, apalagi bersama Akashi. Ia terus menunggu pemuda bermanik dwiwarna itu kembali dari urusannya hingga tertidur manis di bangkunya karena orang yang ditunggunya tidak kunjung datang. Sebenarnya Ogiwara sudah menawarkan diri untuk menemani Kuroko. Hanya saja pemuda berkulit porselen itu bersikeras untuk menunggu Akashi sendiri. Akhirnya Ogiwara tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut pada pemuda bermanik azure itu.
Sebuah langkah kaki terdengar menggema di lorong yang sudah mulai sepi. Suara pintu kelas yang tergeser pelan pun terdengar begitu keras. Sesosok pemuda bersurai crimson yang ditunggu-tunggu Kuroko akhirnya muncul dengan raut wajah yang begitu lelah. Setelah ini ia akan bebas dari tugas dewan siswa selama seminggu ke depan. Akashi benar-benar membutuhkan istirahat sekarang atau daya tahan tubuhnya akan menurun perlahan-lahan.
Baru saja Akashi akan meninggalkan ruang kelas ketika ekor matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal tertidur di bangkunya. Tanpa sadar kaki-kaki Akashi melangkah mendekati sosok Kuroko yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Suara dengkuran halus dan napas teratur pemuda azure itu dapat ditangkap oleh telinga Akashi. Rasanya ia begitu kejam mengacuhkan Kuroko seminggu ini. Bukannya apa-apa, hanya saja urusan dewan siswanya itu begitu menumpuk dan suasana hatinya sedang buruk saat itu.
Akashi menyibakkan beberapa helai surai Kuroko yang menghalangi wajah porselennya itu. Ah, tampaknya efek tak acuh Akashi berimbas pada Kuroko.
"Maafkan aku, Tetsuya," gumamnya sambil membelai pipi porselen itu pelan. Tapi, sepertinya Kuroko terbangun karena kelakuan Akashi mengingat pemuda itu baru saja mengerang pelan dan kelopaknya mengerjap perlahan.
"Akashi-kun?" tanyanya dengan mata yang masih terlihat sayu. "Kau belum pulang?"
Akashi menjauhkan dirinya dari Kuroko. Pemuda itu tidak menjawab apa-apa, hanya menatap Kuroko dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tak heran jika Kuroko balas menatapnya dengan tatapan bingung. "Ada apa, Akashi-kun?"
Helaan napas panjang keluar dari mulut Akashi. Manik heterokrom itu masih menatap Kuroko dengan tajam. "Bisakah kita bicara?"
Dan hawa di sekitar mereka menjadi tegang seketika.
A/N :
Saya benar-benar memaksakan diri! *gulung-gulung nggak jelas* Sepertinya ending chapter ini nggak pas, ya? Duh, ini gara-gara efek write block yang mendadak datang di saat-saat klimaks :'( Karena itu saya minta maaf jika ada banyak typo dan kegajean yang bertebaran di atas sana *bow*
Terima kasih banyak buat Minecchi/Katsuki SAL, Flow . L, yuli . sama . 9, sakisaria, febry . antik, Saika125, Kouzuki Haruka, KakaknyaKurokoTetsuya, ChwangKyuh EvilBerry, dan Ariefyana Fuji Lestari yang sudah berkenan untuk mem-fav/mem-follow/me-review fic gaje bin abal saya ini. Buat Flow . L-san, Akashi memang nggak jadi ke Kyoto, kok (tapi nggak tahu nanti bakal pindah atau nggak :3 *ditabok*).
Seperti biasa : review, nee?
