_FROM THE DARKEST SIDE_

Support By :

Qhia503

Cast :

Kim Kibum

Choi Siwon

Kim Kangin (Kim Young Woon)

Lee Hyori

And other cast

.

.

Main Pair : SiBum

Disclaimer : SiBum milik para shipper, dan saya adalah selirnya xD

A/N : Remake dari dari sebuah novel karya SANTHY AGATHA dengan judul yang sama

Rated : T (Saat ini XD)

Genre : Mistery, Drama and sedikit Thriler

Warning : Boy x Boy / Boys Love / Shonen Ai / GaJe / Alur Gagal / Typo / Kehancuran Karya / Author Gak Beres

Summary : Kibum tidak pernah jika tindakannya ikut bersama sang umma menemui calon appa tirinya malah membawanya pada permasalahan yang rumit. Cinta dan obsesi dari dia dikegelapan…

.

Karena saya masih new, jadi mohon bimbingannya^^#bow

.

.

Jja, happy reading^^

.

.

Chapter 3 :

Namja itu menatap Kangin lalu mengalihkan pandangannya ke api yang menyala, membakar tumpukan dedaunan kering yang sudah dikumpulkan oleh tukang kebun.

Di balik tumpukandaun-daun itu, ada tas cokelat milik Kibum yang berisi pakaiannya, dan tentu saja kacamata kuno itu.

"Jangan sampai ada yang tersisa, pastikan itu" gumamnya tegas.

Kangin menganggukkan kepalanya, "Baik tuan Andrew"

Namja itu mengeryit mendengar panggilan itu, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Betapa aku merindukan panggilan itu. Dan hanya kau Kim Young Woon, pelayanku yang setia yang berani memanggilku demikian"

"Saya selalu setia pada Anda berdua" jawab Kangin, suaranya masih datar.

Andrew tersenyum lambat-lambat, kebiasaannya kalau dia ingin memerangkap seseorang.

"Benarkah? Mungkin kau memang setia pada Siwon. Tapi padaku?"

Dengan tepat Andrew beranjak tepat dihadapan Kangin yang mulai kehilangan topeng datarnya, kepala pelayan itu mulai terlihat gelisah.

"Saya setia pada Anda berdua, saya pastikan itu" jawab Kangin cepat.

"Kau memang harus setia padaku..." gumam Andrew dengan nada malasnya yang biasa "Karena kalau tidak, aku akan marah. Dan kalau aku marah, tidak perlu kujelaskan kau sudah tahu bukan?" Andrew tersenyum sangat manis.

Wajah Kangin pucat pasi, keringat dingin mulai mengalir dipelipisnya. Dia tidak suka kalau harus terpaksa mendampingi dan berbicara dengan tuannya yang satu ini.

Rasanya seperti berhadapan dengan serigala buas yang memutuskan untuk bermain-main dulu sebelum memangsa korbannya.

Ah… Kenapa tuan Siwon tidak muncul-muncul?

"Saya bersumpah tidak akan berkhianat" gumam Kangin akhirnya.

Andrew terkekeh "Ya ya, karena kalau tidak, aku akan pastikan tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan yang kedua kalinya" ia menoleh, senyumnya hilang dan menatap Kangin tajam.

"Kecelakaan yang pertama itu hanyalah peringatan. Menunjukkan apa yang bisa kulakukan kepada keluargamu kalau kau sampai berulah lagi, tapi aku tidak akan bermain-main pada kecelakaan yang kedua, kau tentunya mengerti kan?"

Kangin mengeryit, lalu cepat-cepat menganggukkan kepalanya.

Putra dan menantunya mengalami kecelakaan parah di jalan pulang menuju rumah mereka tiga tahun yang lalu. Sebuah mobil dengan sengaja menabrakkan diri ke mobil mereka. Pengemudi mobil itu mati seketika, tetapi putra dan menantunya bisa diselamatkan meskipun terluka parah.

Dan semua itu terjadi setelah Kangin mencoba mengingatkan harabeoji Kibum bahwa ada bahaya yang mengintai cucu mereka.

Senyum Andrew muncul lagi melihat keryitan Kangin, dia kemudian menatap Kangin dengan ramah "Bukankah kau seharusnya berterimkasih padaku karena kebaikan hatiku?"

Kangin segera menganggukkan kepalanya, takut kalau dia tidak segera menjawab, tuannya yang menakutkan ini akan marah "Ka-Kamsahamnida tuan Andrew"

Andrew terkekeh mendengarnya, tampak puas.

"Dan kudengar menantumu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki ya? Cucu pertamamu?"

Kangin langsung pucat pasi begitu Andrew mengucapkan hal itu didepannya. Tidak mungkin kan tuannya ini tega menyakiti bayi kecil yang tidak berdaya? Tapi Kangin kemudian menatap mata yang bersinar keji itu dan menyadari kalau Andrew pasti mampu melakukannya. Namja ini tidak punya setitikpun belas kasihan dihatinya.

"Saya bersumpah akan setia pada Anda tuan Andrew. Tapi saya mohon, jangan sakiti cucu saya, dia masih kecil"

"Hei… Kau menghinaku" Andrew terkekeh, "Aku sedang berpikir untuk mengirimkan kartu ucapan dan hadiah untuk menantu daan cucumu. Lagipula kau tidak berpikir aku tega menyakiti anak kecil bukan?"

Kangin menatap Andrew dan bulu kuduknya berdiri. Kata-kata yang tersirat itu untuk member tahu dierinya bahwa Andrew mampu menyakiti anak kecil yang paling tidak berdosa sekalipun.

"Bagus" Andrew tampak puas dengan sikap diam Kangin, "Aku ingin kau setia padaku, bukan pada Siwon"

Andrew merenung lalu menatap tas pakaian Kibum yang terbakar habis.

"Menjijikkan sekali pakaian itu, pakaian murah yang membuat kecantikan Kibum-ku lenyap" tiba-tiba Andrew menoleh pada Kangin, "Kau juga berpendapat begitu bukan?"

Kangin langsung mengangguk.

"Perempuan murahan yang mengaku sebagai ibunya itu memperlakukan anaknya dengan sangat buruk, ibu paling pendengki yang yang pernah kutahu, dan menurutku…

Api dimata Andrew menyala

…ibu semacam itu sebaiknya tidak ada di dunia ini"

Kangin semakin pucat ketika melihat api dimata itu. Itu api yang sama saat tuan Andrew memerintahkan untuk melenyapkan orang-orang yang tidak diinginkannya. Kangin berdoa untuk Hyori.

Apapun yang direncanakan tuan Andrew padanya, Kangin harap agar tuan Siwon bisa membujuk untuk membatalkan niatnya. Kalau itu tidak berhasil, yah… semoga Tuhan melindungi Hyori.

.

.

I'M SIPUT

.

.

Ruang makan itu kosong. Sarapan hangat sudah disiapkan di meja dan belum tersentuh sedikitpun.

Kibum mengeryit. Tadi Siwon hyung bilang akan menunggunya sarapan, tapi kenapa ruangan ini kosong? Lagipula kemana ummanya?

"Kau tampak berbeda"

Sekali lagi suara itu mengejutkan Kibum hingga ia langsung memutar badannya dan behadapan dengan Siwon yang baru memasuki ruangan. Siwon berhenti dan menatap lekat-lekat kearah Kibum dari ujung kepala sampai ujung kakinya.

"Ah mian, sekali lagi aku mengejutkanmu" Siwon tersenyum, "Baju itu cocok untukmu" sambungnya.

Kibum menundukkan kepalanya.

"Ka-Kamsahamnida" gumamnya pelan lalu menengok kearah pintu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Hyori disana.

"Hyori tidak pernah sarapan, dia terbiasa bangun siang. Kesibukannya sebagai artis sudah mengubah pola tidurnya" gumam Siwon tenang lalu mendahului Kibum ke meja makan, "Duduklah, kita sarapan bersama, banyak yang ingin kutanyakan padamu"

Dengan patuh Kibum duduk, aura namja ini berubah. Kali ini berwibawa dan penuh charisma, bukan aura menakutkan seperti tadi pagi. Mereka menyantap sarapan dalam diam sampai Siwon membuka percakapan, "Jadi selama ini kau dirawat oleh harabeoji dan halmeonimu?"

Kibum mengerjab mendengar pertanyaan itu. "Iya, Hyori terlalu muda ketika melahirkan saya. Jadi harabeoji dan halmeoni saya mengambil alih tugas untuk membesarkan saya" Kibum tersenyum mengingat keduanya. "Saya tidak menyesalinya, mereka pengganti orang tua yang baik"

Siwon ikut tersenyum lembut melihat ekspresi Kibum "Kau pasti sangat menyayangi mereka"

Kibum mengangguk "Tentu saja"

"Kenapa kau tidak memanggil Hyori dengan sebutan umma?" Siwon bertanya dengan cepat, membuat tangan Kibum yang sedang mengarahkan sendok ke mulutnya membeku. Pengalihan topic pembicaraan secara mendadak itu sejenak membuat Kibum terpaku bingung, tapi dia segera menemukan jawaban.

"Ah.. Mungkin karena saya kurang begitu dekat dengannya. Anda tahu, kami jarang bertemu dan lagi usia kami cukup dekat jadi rasanya cukup aneh kalau saya memanggilnya umma" Kibum berbohong, dan entah kenapa dia merasa kalau Siwon tahu bahwa ia sedang berbohong.

"Anak baik" Siwon meyesap kopinya tapi matanya menatap lekat kearah Kibum, "Kau melindungi ummamu meskipun dia sama sekali tidak peduli padamu. Aku tahu kalau Hyori tidak mau dipanggil umma olehmu, dia tidak mau terdengar begitu tua karena ada namja seumurmu memanggilnya dengan sebutan umma"

Kibum dibuat tak berkutik dengan kebenaran yang dilemparkan Siwon padanya.

"Katakan" sambung Siwon sambil meletakkan cangkir kopinya, "Apa kau menyayangi Hyori?"

Kibum langsung mengangguk.

"Tentu saja, meskipun kami tak terlau akrab, dia tetap orangtua saya"

Wajah Siwon tampak datar mendengar jawaban itu.

"Jika misalnya terjadi sesuatu pada dirinya, apakah kau akan merasa sedih?"

Kibum mengeryit. Sekali lagi namja didepannya ini melemparkan pertanyaan yang begitu aneh, "Tentu saja" jawabnya langsung.

Siwon terdiam Nampak berpikir lalu menarik napas. "Apapun yang terjadi nanti kau harus tahu kesedihanmu adalah hal terakhir yang kuinginkan" gumamnya pelan. Lalu melanjutkan menyantap sarapannya dalam keheningan.

Sementara itu diujung meja yang satunya Kibum sedang sibuk berpikir, menelaah semuanya. Pertanyaan-pertanyaan Siwon benar-benar membuatnya kebingungan. Dan kalimat terakhirnya tadi, apa maksudnya?

.

.

I'M SIPUT

.

.

Hyori terbangun hampir menjelang siang, dia segera mandi dan berdandan secantik mungkin. Hatinya berbunga-bunga. Matanya memandang sekeliling kamarnya, kamar ini mewah, bukan yang terbaik memang, Hyori mendengus, tapi kemudian segera tersenyum lagi.

Sebentar lagi. Dia hanya harus bersabar sebentar lagi, lalu dia kan menempati kamar terbaik di rumah ini : Kamar Siwon.

Seulas senyum puas tersungging dibibirnya, membayangkan masa depannya akan dipenuhi kemewahan dan suaminya nanti, Hyori menyeringai di cermin, suaminya adalah namja yang akan membuat yeoja-yeoja lain mati cemburu pada keberuntungannya.

Siwon adalah calon suami paling potensial untuknya, dia melihatnya dalam acara amal yang kebetulan mengundang Hyori sebagai artis pengisi acara disana. Saat melihat Siwon pertama kalinya, dia langsung terpesona dan memutuskan untuk mengejarnya.

Ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, Siwon juga tertarik padanya, dan tiga bulan setelah mereka menjalin hubungan namja itu melamarnya. Tentu saja Hyori tidak menolak. Hanya yeoja bodoh yang akan menolak lamaran namja seperti Siwon.

Hanya ada satu permasalahan, Siwon selalu menolak tidur dengannya, padahal Hyori sudah jelas-jelas memberinya iisyarat bersedia lebih dari sekedar bercumbu secara panas.

Lagipula baginya, jika mereka tidur bersama,ikatan mereka bisa lebih kuat. Hyori perlu memastikan bahwa Siwon tidak akan meninggalkannya sampai ikatan mereka sah dalam pernikahan nanti.

Tapi Siwon benar-benar tak tergoyahkan, namja itu hanya mencumbu Hyori dengan keahliannya yang membuat dia hampir gila, tetapi selalu terhenti ketika mereka hampir melewati batas.

'Malam ini aku harus berhasil mengajaknya tidur denganku'

Hyori bukan orang suci, dan dia tidak pernah berpura-pura sebagai orang suci. Reputasinya sebagai aktris sudah penuh dengan bernagai skandal dan gossip perselingkuhan.

Tujuh tahun sejak kebodohannya yang melahirkan seorang anak yang sama sekali tidak diinginkannya, dia menikah lagi dengan seorang pejabat kaya yang kemudian diceraikannya setelah dua tahun pernikahan.

Perceraian yang menghebohkan karena marak dengan spekulasi perselingkuhan dan tuduhan-tuduhan lainnya. Dia mencibir, waktu itu dia memang selingkuh. Suaminya waktu itu sudah tua sedangkan ia masih muda dan cantik. Jadi wajar-wajar saja kan kalau dia selingkuh?

Setelah perceraiannya itu ia hidup dengan bebas dan bahagia, sampai dia bertemu Choi Siwon. Namja yang akan mewujudkan seluruh impiannya untuk menjadi ratu yang akan membuat semua orang iri.

Setelah mengenakan gaun merahnya yang paling sexy, Hyori melangkah keluar kamar dan melalui lorong yang sepi untuk mencari Siwon.

'Dia pasti akan terpesona dengan kecantikanku'

Senyum Hyori makin membuncah penuh percaya diri. Dengan langkahnya yang gemulai ia melewati lorong demi lorong rumah mewah itu menuju ruang kerja Siwon.

"…harus yang terbaik untuk tuan Kibum"

Langkah Hyori langsung terhenti mendengar suara itu.

"Itu instruksi langsung dari tuan Siwon, semua harus yang terbaik untuk tuan Kibum. Apa pesanan sepatu dan yang lainnya sudah datang?"

Suara itu… Hyori mengeryit. Itu suara Kangin, kepala pelayang di rumah ini. Tapi apa Hyori tidak salah dengar? Yang terbaik untuk Kibum? Kibum? Kenapa Siwon mau repot-repot mengurus anak yang bahkan ia tidak pedulikan itu.

Dengan cepat otaknya berputar, dia harus segera mendapatkan Siwon bagaimanapun caranya. Malam nanti, dia akan menyusup ke kamar Siwon dengan gaun malam yang sexy untuk menyerahkan dirinya.

Siwon pasti tidak akan menolak lagi. Tidak pernah ada yang menolak pesona Lee Hyori sebelumnya.

.

.

I'M SIPUT

.

.

Hyori mematut dirinya didepan cermin terakhir kali sebelum melangkah keluar kamar, mau tak mau dia mengagumi kecantikannya sendiri.

Rambutnya yang diwarnai kemerahan oleh salon ternama tergerai panjang dan berkilaun indah, kulitnya yang sangat halus bagaikan sutera -hasil perawatan salon ternama- tampak bercahaya dan lembut.

Wajahnya sangat cantik, semua orang mengakuinya. Diusianya yang ke 36, ia telah mencapai puncak sebagai wanita matang dan percaya diri. Dia sudah berpengalaman menaklukkan hati para namja. Dan malam ini dia bertekad menaklukkan Siwon.

Setelah mengenakan jubah kamar tipisnya, pelengkap gaun tidurnya yang sexy, Hyori melangkah keluar kamarnya diam-diam. Saat ini tengah malam, lorong-lorong juga bercahaya temaram, dan dengan senyum sensual membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Hyori berjalan menuju kamar Siwon.

Diketuknya kamar itu pelan, tidak ada jawaban. Dengan ragu Hyori memegang handle pintu dan mencoba membukanya. Tidak dikunci. Apakah Siwon masih di ruang kerjanya?

Pikiran itu membuatnya tersenyum. Kalau begitu kejutannya akan berjalan sempurna. Dia akan bebrbaring di ranjang dengan pose sexy, dan ketika namja itu memasuki kamar dan melihatnya, pasti akan senang sekali.

Hyori masuk ke dalam kamar Siwon, lalu menutup pintu dibelakangnya. Kamar itu sangat gelap dan bercahaya remang, Hyori mengeryit menyadari bahwa ini pertama kalinya dia masuk ke kemar calon suaminya itu. Diedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kamar ini luas, mewah dan indah. Tapi kesannya terlalu 'manly'.

Hyori mencibir, begitu mereka menikah nanti, hal pertama yang harus dillakukannya adalah mendekor ulang kamar ini. Karpet Persia mahal warna emas akan akan dipasangkannya dilantai untuk menggantikankarper bulu warna abu-abu yang sekarang diinjaknya. Dia ingin membuat kamar ini seperti kamar raja dan ratu.

Dengan puas Hyori melangkah mengelilingi ruangan, memikirkan perubahan-perubahan apa yang akan dilakukannya. Sampai ketika dia melangkah ke meja kayu di samping ranjang Siwon, langkahnya terhenti.

Tumpukan album foto?

Tertarik, Hyori membuka album foto yang sangat tebal itu. Ada kira-kira delapan album disana,dengan sampul kulit yang sangat tebal dan berukuran besar. Dan foto-foto yang ada didalam album itu membuat Hyori ternganga.

Album itu penuh dengan gambar-gambar Kibum! Ada Kibum yang sedang berjalan di trotoar sambil membawa bungkusan belanjaan, Kibum yang sedang duduk dan minum teh di sebuah rumah makan, Kibum yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah, Kibum yang sedang bercakap-cakap dengan seorang namja berperawakan mungil didepan sebuah minimarket…

Hyori membuka kalap semua album itu. Wajahnya langsung pucat pasi. Delapan album foto itu, semuanya berisi foto Kibum sejak dia masih kanak-kanak sampai sekarang!

Kenapa ini? Kenapa Siwon memiliki album foto seperti ini? Tangan Hyori mulai gemetaran.

Dan suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuatnya tersentak.

"Ada yang bilang kalau kau lancang memasuki teritoral terlarang seseorang karena rasa ingin tahu yang berlebihan, maka keingintahuanmu itu bisa membunuhmu"

.

.

I'M SIPUT

.

.

Suara itu begitu dingin, berbisik seperti dihembuskan angin, tapi ditelinga Hyori seperti suara petir. Ia begitu kaget hingga menjatuhkan salah satu album foto itu ke lantai dengan suara berdebum keras.

Siwon ada disana, muncul begitu saja dari kegelapan, matanya menatap Hyori lalu beralih ke album foto yang tergeletak dilantai, wajahnya tampak tak senang.

"Sebelum kita berbicara-" suaranya lembut mengalir "-maukah kau mengambil album dilantai itu dan meletakkannya kembali ke meja, chagiya?"

Menakutkan…

Itulah pikiran pertama yang tertlintas dipikiran Hyori ketika mendengar suara Siwon. Suara itu biasa saja, diucapkan dengan intonasi yang begitu lembut, tetapi entah mengapa terasa menakutkan.

Siwon bilang apa tadi? Ah ya! Album foto…

Dengan sedikit gemetar, Hyori mengambil album foto itu dan meletakkannya kembali di meja. Siwon tersenyum puas melihatnya.

"Siwonnie… Apa maksud semua ini? Kenapa kau…"

"Ssttt…" masih dengan tersenyum Siwon meletakkan telunjuknya didepan bibirnya sendiri, meminta Hyori untuk berhenti bicara. "Saat aku bilang kita akan berbicara, berarti hanya aku yang bicara, dan bukan kau chagiya"

Bibir Hyori gemetar, gelisah dan bulu kuduknya meremang tanpa sebab. Kenapa Siwon terasa berbeda? Padahal dimatanya penampilan Siwon tampak sama, begitu tampan, tapi namja ini terlalu penuh senyum, senyum yang auranya berbeda, keji.

"Bertanya-tanya ya Hyori chagy?" Siwon terkekeh pelan.

Hyori menggeleng lalu mengangguk, kebingungan. Ia membelalakkan matanya dan mencoba membuka mulut untuk bersuara.

"Ssttt…" Siwon meletakkan telunjuk dibibirnya lagi, "Kita tidak mau membangunkan seisi rumah kan? Ini sudah tengah malam" suaranya berbisik, matanya penuh canda, seperti anak kecil yang mengajak temannya berkompromi melakukan suatu kenakalan rahasia.

Mau tak mau Hyori menahan suaranya, menunggu. Suasana kamar ini begitu menekan, menakutkan. Sementara Siwon terus berdiri diditu menatapnya dengan senyuman miliknya yang manis.

"Sebenarnya ini diluar rencana. Aku tidak ingin melakukan semuanya secepat ini" Siwon melirik album foto diatas meja kayu itu dengan sudut matanya, "Siwon akan marah, tapi seperti kubilang tadi, ketika rasa ingin tahumu membawamu memasuki territorial terlarang, kau-bisa-terbunuh" kata-kata terakhir diucapkan penuh penekanan.

Hyori mengeryit, Siwon akan marah? Apa maksudnya, bukankah namja yang sedang bebicara dengannya ini adalah Siwon? Ia mencoba mencerna omongan Siwon, tetapi karena terlalu gelisah otaknya tidak bisa berpikir.

"Kita harus memikirkan sesuatu, jalan keluar dari permasalahan ini" Siwon bersedekap berpura-pura serius, "Kita bisa memakai pisau, tapi darahnya terlalu banyak, dan aku sedang tidak ingin repot-repot membersihkan darah yang berceceran. Lagipula aku harus menggali lubang untuk mengubur mayat dibelakang. Hm… tidak, pisau terlalu merepotkan. Harus memakai cara lain"dahinya berkerut seolah berpikir, "Harus dibuat seperti kecelakaan" tiba-tiba Siwon menatap tajam Hyori sambil menyeringai, ia melangkah maju.

Otomatis Hyori melangkah mundur, tapi terhenti karena menabrak meja dibelakangnya.

"Bagaimana Hyori-ah? Aku dapat ide yang bagus, kecelakaan dengan tersetrum didalam bathub sepertinya menyenangkan. Tidak ada darah, paling Cuma sedikit kesakitan. Tapi aku harus merelakan bathub disalah satu kamarku tidak dipakai selamanya"

Dahi Siwon berkerut seperti tidak senang karena bathubnya tidak akan bisa dipakai selamanya. Lalu dia tersenyum lebar seperti mendapat ide cemerlang.

"Ah! Ya, aku tahu. Jatuh dari tangga. Rasa sakitnya sedikit, paling hanya kesakitan ketika tangan atau kaki patah, dan ketika kepala menyentuh lantai dengan keras tidak ada kesakitan lagi karena nyawamu akan langsung melayang. Kita harus berharap begitu karena kalau tidak rasa sakitnya tidak akan tertahankan. Hm… Banyak darah mungkin, tapi aku bisa mengatasinya"

"Siwonnie… Kau sedang bicara apa?" suara Hyori terdengar berbisik, sedikit tercekat ditenggorokan karena ngeri. Kata-kata Siwon yang panjang dan lebar itu begitu mengerikan, dan tidak ada korelasinya dengan apa yang mereka bicarakan.

Siwon menatap langsung kemata Hyori, semakin dekat senyum tak pernah hilang dari bibirnya.

"Membicarakan apa katamu? Hyori-ah, kau ini bodoh atau apa?" Siwon menggeleng berpura-pura bingung, "Aku maklum, semua artis biasanya bodoh"

Siwon sudah berdiri tepat satu langkah didepan Hyori, tangannya terulur meraih pipi yeoja itu dan mengusapnya lembut, "Hyori chagy… Tentu saja aku sedang membicarakan cara kematianmu"

"Apa?" wajah Hyori pucat pasi, shock.

"Hmmm" Siwon menggeleng dengan dahi berkerut seperti sedang memarahi anak kecil, "Kau sudah mendengar dengan jelas tadi, aku tidak mau mengulanginya lagi Chagy"

"Siwonnie…" Hyori mulai merengek, kalau saat ini calon suaminya itu sedang bercanda, maka candanya sudah keterlaluan. Jantungnya seperti mau meledak karena ketakutan.

"Siwonnie…" namja itu menirukan rengekan Hyori dengan nada mengejek, "Panggil saja nama itu terus, tidak akan berhasil. Kau sedang tidak beruntung dear karena harus berhadapan denganku sekarang" gumam Siwon misterius.

Entah karena tatapan Siwon yang keji atau karena nada suaranya, detik itulah Hyori sadar kalau Siwon tidak main-main, namja ini benar-benar akan membunuhnya!

Hyori berusaha melangkah untuk lari, tapi dengan mudah Siwon menahannya. Tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu yang berkilat ditangan kiri Siwon, itu… Sebuah pisau!

"Ini memang pisau jika kau bertanya-tanya" Siwon mengangkat pisau yang sangat tajam itu kedepan wajah Hyori, membuat yeoja itu memejamkan matanya ketakutan, "Kalau kau mencoba mengusik kemarahanku, aku terpaksa menggunakan pisau ini. Bukan masalah karena pada akhirnya kau mati juga. Tapi kau tahu tidak?"

Siwon memasang smirk.

"Tertusuk dengan pisau rasanya sangat menyakitkan. Pada awalnya, ketika perutmu tertusuk oleh pisau ini, tidak akan terasa sakit, tapi ketika aku mencabutnya mungkin sebagian organ dalammu akan keluar. Sakitnya tidak tertahankan, tapi tentu saja aku tidak berhenti disitu, aku akan menghujamkannya lagi, mencabutnya lagi. Terus seperti itu berkali-kali, dan ketika aku selesai… Percayalah, kau akan lebih memilih jatuh dari tangga" matanya berkilat senang.

Seluruh tubuh Hyori gemetar ketakutan mendengar penjelasan gila Siwon.

"Kau tidak akan berani melakukannya! Polisi… Polisi akan…"

"Oh, apa aku lupa bilang soal mengubur mayat dikebun belakangku yang begitu luas?"

Wajah Hyori pucat pasi, "Kalau aku menghilang begitu saja, polisi akan mencariku!" Hyori mencoba mengancam.

"Aku punya banyak koneksi untuk mencegah hal-hal semacam itu terjadi, sedikit uang disana-sini, dan kau akan berakhir dengan cerita 'Artis Lee Hyori kabur keluar negeri setelah meninggalkan calon suaminya yang kaya raya dan membawa kabur koleksi perhiasan yang tak ternilai harganya dari rumah itu'"

Dahi Siwon mengeryit lagi.

"Meskipun kalau memang harus terjadi seperti itu, nantinya akan sedikit merepotkanku. Oleh karena itu demi kebaikan kita, sebaiknya kita lebih baik memilih 'tangga'" Siwon tersenyum mempesona "Bukankah kau seharusnya berteima kasih karena aku begitu baik?"

Hyori memucat. Berterima kasih? Apa maksud Siwon? Namja ini tersenyum sangat manis tapi tatapannya begitu keji seperti orang gila, dan Hyori yakin Siwon tidak akan segan-segan melakukan apapun yang tadi dikatakannya dengan begitu mengerikan.

"Siwonnie…." Air matanya mulai mengalir, "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kau menakutiku… Ada apa ini sebenarnya?"

Dengan santai Siwon mengambil dasinya lalu mengikatnya dibibir Hyori yang pasrah mulutnya dibungkam. Bagaimana mungkin dia berani memberontak kalau pisau tajam itu teracung dimukanya? Siwon mengamati hasil ikatannya, ia tersenyum puas melihat Hyori yang tidak bisa berbicara. Ia terlihat senang melihat air mata yang mengalir dipipi yeoja itu.

"Karena kau tidak mau berterimakasih, lebih baik aku mengikat mulutmu, dengan begitu kau tidak perlu bebicara. Aku muak mendengar suaramu, kau tahu itu? Aksen mendesahmu yang dibuat-buat itu terdengar sangat menjijikkan, apa kau berpikir dirimu begitu sexy?" cibirnya.

"Lagipula aku tidak suka kau memanggilku dengan nama Siwon. Kau bisa memanggilku dengan nama Andrew" bisiknya sembari mengusap air mata yang mengalir dipipi Hyori. Mata yeoja itu membelalak, bingung dengan perkataan Siwon barusan.

"Aahh… Kasihan… Kau ketakutan sekali ya chagiya? Aku tidak bermaksud membuatmu begitu ketakutan. Kau tahu aku memang banyak bicara kalau sedang senang. Maafkan aku ya?" dengan lembut Siwon mengecup dahi Hyori lalu mendorongnya pelan-pelan keluar ruangan, dengan pisau yang masih menempel dipinggangnya.

Mereka melewati lorong remang-remang itu. Hyori berdoa sepenuh hati, mengedarkan pandangannya kesekeliling dengan gelisah dan ketakutan.

'Kumohon! Siapa saja! Selamatkan aku!'

Tapi doanya sia-sia, rumah itu begitu sepi dan senyap. Sampai mereka berdua berdiri diujung tangga yang mengarah turun ke pintu utama dibawah.

"Ada kata-kata terakhir?" Siwon terkekeh, "Aku lupa, mulutmu diikat ya?" dengan lembut Siwon melepas ikatan dasi dimulut Hyori.

Saat ikatan dimulutnya terlepas, Hyori bermaksud berteriak sekeras-kerasnya, membangunkan seisi rumah ini, meminta pertolongan. Tapi saat baru membuka mulut ia merasakan tubuhnya melayang kebawah. Siwon sudah mendorongnya.

Tubuhnya terlempar kebawah, melayang-layang sebentar lalu terjatuh dengan keras. Bunyi tulang-tulang patah berderak terdengar ditelinganya disertai rasa sakit yang amat sangat. Bau anyir darah mulai tercium. Terasa hangat dan nyeri menyebar tanpa henti dari belakang kepalanya.

Tapi tidak seperti kata Siwon sebelumnya, rasa sakit itu tidak langsung lenyap, ia masih sadar! Dan rasa sakit yang menyerangnya sangat luar biasa, sungguh tak tertahankan. Hyori masih bisa mendengar langkah kaki Siwon yang menuruni tangga pelan-pelan lalu membungkuk diatasnya.

"Masih hidup ya?" Siwon tersenyum.

Ia mengamati posisi Hyori yang terlentang dengan aneh, tangan dan kakinya tertekuk dengan posisi berlawanan, patah dengan tulang mencuat dikedua sisi. Dan darah segar mengalir dari bagian belakang kepalanya, mulai menggenang membasahi rambutnya.

"Hyori yang malang, sungguh tidak beruntung, kasihan sekali…" ia menggeleng pura-pura iba, lalu sekali lagi terkekeh sambil mengamati Hyori penuh rasa humor.

Hyori mencoba bicara, tapi hanya suara erangan yang terdengar dari tenggorokannya, dia terbatuk dan seketika itu juga darah segar menyembur dari mulutnya, keluar tanpa henti. Sangat menyakitkan, sampai kemudian telinganya mulai berdenging.

Hyori mencoba menatap Siwon, mempertahankan kesadarannya. Namja itu masih berdiri disana, tersenyum manis mengucapkan 'annyeong' dengan lembut. Tetapi kemudian kegelapan mulai menyelimutinya, menarik dirinya kedalam pusaran tak tertahankan.

Dan seperti kata Siwon tadi...

.

.

.

…semuanya lenyap…

.

.

.

From the Darkest Side

.

.

.

TBC

.

.

.

Ngaret ya? -_-

Saya tahu ini udah super duper lama update T^T

Tapi gimana dong? Lepi sering berpetualang dan jarang dirumah…

Warnet? Lupakan saja, ujung-ujungnya umma SiPut bakal nyuruh ke pasar…

Hah~ Saya akan usahakan buat gak telat. Tolong sabar ya? Remake juga gak semjudah yang dibayangin, beuh… #tepar

Maaf gak bisa bales review satu-satu, soalnya ini udah tengah malam banget ^_^ (Saya sendirian ditemani dua ekor kucing, tapi kucingnya juga tidur -_-)

Tapi review kalian saya baca selalu kok buat penyemangat, jadi jangan khawatir… Chap depan insya Allah saya jawab. ^,~

Special thanks to :

Lee bummebum |Rikanagisa|Kim Eun Seob|anin arlunerz|baby sibum|Lady Ze|Seo Shin Young|Guest|Mrs. EvilGaemGyu (kau benar-benar dongsaeng kurang ajar -_-)| baekhyunniewife|Jirania|Vanesha|bumranger89|sellinandrew|Kyuwife|cK|bumhanyuk|Elfishy|dirakyu|

Thanks atas review dan supportnya^^

Dan buat para silent riders, tolong hargai sedikit karya saya, karena bagaimanapun tetap ada usaha jika seseorang menulis ff walau itu remake. Walau hanya tanda titik, Anda akan tetap saya hargai. Nama Anda akan tetap saya tulis, jadi jangan khawatir.

Mungkin kalian bertanya-tanya siapa itu Mrs. EvilGaemGyu, dia ini yeodongsaeng saya, orangnya evil sama kaya biasnya, jadi jangan heran kalau kami saling 'memaki' XD

Kami berdua fudjoshi akut yang hampir sama pemikiran, hampir loh ya, hampir XD

Mampir aja ke akun dia kalau penasaran, nanti juga tahu, kalau saya saranin baca karya dia yang Reading Club, itu ff genre horror remake dari manhwa, SiPut bantu dia ngoreksi ff itu, katanya biar klop aja, muehehehe…

Sekali lagi makasih ya atas kunjungannya, baik yang menampakkan diri maupun tidak. Duh, silent rider itu emang bandel banget }:

Follow and mention PutPut_407 kalau mau kenal SiPut dan mengetahui hal-hal lainnya.. #cipokatuatu

Eh ngomong-ngomong saya ini ElfSiwonest loh ya, jangan salah tafsir… Hehe #gakadayangdenger #pundung

Oke! Sampai ketemu chap depan! \(^0^)