Summary: Dua saudara kembar Sawada benar-benar dekat. Mereka selalu bersama sampai seorang tutor sadis dari Italia datang menghancurkan hari-hari damai mereka—tepatnya salah seorang dari mereka. Tapi, apakah tidak ada yang tahu kalau yang satu lagi juga menderita? [AU; TwinFic!; sisanya masih misteri]
Genre: Friendship, Angst, Family, Romance, Hurt/Comfort
Notes: Gak dibeta, kurang diedit, seadanya, chapter pendek—jangan ditanya
Disclaimer: Tsui tidak memegang hak cipta apapun atas Katekyo Hitman REBORN!
A/N: Aku mau basa-basi dulu, update chapter gak terlalu penting…. Soalnya ini ada di draft, sayang kalau dibuang.
Terima kasih banyak pada yang sudah follow dan review padahal aku cuma bisa ngasih chapter pendek seadanya, "Terima kasih banyak!" buat Mitsu21, Hikage Natsu, dan Nuruhime-chan19.
Menjawab pertanyaan Hikage Natsu-san, kurasa itu bisa dijelaskan dalam cerita berikut.
Childhood Memories Part 1
Kunjungan Timoteo ke Jepang disambut dengan baik oleh keluarga Sawada.
Dia ingat saat dia dijemput oleh Iemitsu, Nana, dan anak mereka di bandara.
"Ie, berikan salam," pinta Nana dengan lembut.
Ie menatap Timoteo dengan malu-malu. Dia memberi salam dan senyum terbaiknya. Timoteo mengelus rambut cokelatnya dengan penuh kasih sayang.
"Kau anak yang sangat ramah," pujinya.
Selama beberapa hari, Timoteo bercengkerama dengan keluarga bahagia itu. Tidak sekalipun dia mengangkat topik paling sensitif keluarga tersebut. Sebenarnya dia merasa tidak enak karena mengabaikannya. Untungnya Nana tidak pernah terlihat mencoba menyembunyikan kenyataan itu. Kenyataan bahwa masih ada orang lain yang tinggal di sana.
Nana selalu memasak makanan lebih dari empat porsi. Dia juga selalu membuat makanan untuk orang sakit dan menyiapkan obat-obatan. Saat melihat semua itu, Timoteo hanya bisa berdoa dalam hati untuk kesehatan Tsuna.
Suatu hari, saat Timoteo dan Iemitsu sedang mengobrol di beranda, Ie menangis dengan sangat kencang. Mereka berdua menghampirinya yang sedang bermain di halaman. Saat mereka tiba, Ie sudah terkapar di tanah di dekat sebuah pohon. Iemitsu melihat lututnya yang berdarah.
"Kau pasti mencoba memanjat pohon lagi, ya. Kau selalu melakukan hal-hal berbahaya, tapi akhirnya kau selalu menangis" Iemitsu membantu anaknya berdiri dan membersihkan bajunya.
"Ooh, anak yang sangat berani," komentar Timoteo takjub.
"Haha... ya begitulah. Dia mirip ayahnya!" kata Iemitsu bangga.
Mereka malah melihat Ie seperti tontonan. Hal ini sepertinya membuat Ie kesal karena dia menangis lebih kencang. Setelah itu lah Iemitsu dan Timoteo melihat api harapan (dying will flame) dalam diri Ie. Timoteo adalah orang pertama yang memperhatilannya.
"Api yang sangat murni untuk anak kecil sepertimu!" Timoteo memutuskan untuk menyegelnya. Setelah selesai, Ie tertidur di pelukan ayahnya. "Kekuatannya akan disegel. Dia masih terlalu kecil untuk mengendalikannya dan kita tidak mau ada sesuatu yang berbahaya terjadi padanya," jelas Timoteo.
Iemitsu mengangguk setuju.
Waktu itu Timoteo belum pernah bertemu dengan Tsuna. Jika dia bertemu dengannya, dia tidak akan bisa berkata seperti itu.
-/-
Tidak terasa, Timoteo harus kembali lagi ke Italia. Sebelum pulang, dia masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang ketinggalan. Nana menawarkan diri untuk mengambil kembali benda itu, tapi Timoteo menolaknya dengan halus karena dia tidak bisa menyerahkan tanggung jawab terhadap benda yang sangat berharga kepada siapapun.
Kemungkinan besar dia meninggalkannya di kamar mandi jadi dia langsung menuju ke sana.
Di depan kamar mandilah dia melihat sosoknya untuk yang pertama kali. Tubuhnya lebih mungil, kurus, dan terlihat sangat rentan dibandingkan dengan saudaranya. Rambut cokelatnya berantakan seperti tidak terurus, tapi bajunya bersih dan wangi.
"Tsuna?" meskipun baru pertama bertemu, Timoteo tahu bahwa dia adalah anak itu. Anak yang gampang sakit di keluarga Sawada, anak yang selalu sendirian di kamarnya sambil menunggu makanan di antar kepadanya.
Tsuna menolehkan kepalanya pada Timoteo. Mata cokelat bertemu dengan mata oranye. Timoteo tidak bisa berkata-kata. Tsuna terus memandanginya dengan mata bulat besar yang menyala jingga.
Timoteo sudah melihat api harapan Ie, tapi api Tsuna sudah tingkat lain. Jika Tsuna diibaratkan sebagai tokoh yang benar-benar keluar dari buku fantasi, maka Ie hanyalah anak manusia biasa.
Tsuna adalah langit murni dan paling harmonis termuda yang pernah ia lihat.
Timoteo cepat-cepat menyadarkan dirinya. Dia tidak ingin Tsuna berpikir ada yang salah dengan dirinya.
Timoteo membungkukkan badannya agar bisa setingkat dengan Tsuna, "Bisakah kau mengembalikan benda milikku?" Timoteo bertanya dengan lembut sambil menunjuk benda kecil yang ada di tangan Tsuna.
Tsuna mengangguk. Dia memberi isyarat pada Timoteo untuk membuka tangannya. Lalu dia meletakkan cincin langit di atas telapak tangan Timoteo.
"Terima kasih." Tsuna mngangguk dan tersenyum dengan sangat manis padanya. "Jii-chan!"
Timoteo terkekeh mendengar panggilan Tsuna untuknya. Dia mengelus rambut Tsuna yang ternyata cukup empuk sambil memikirkan cara untuk menyegal api harapannya.
"Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?" tiba-tiba Nana datang menghampiri.
Timoteo bangkit. "Untunglah, Tsuna yang menemukannya."
"Sou ka? Tsuna?" Nana menatap Tsuna dan Tsuna balik menatapnya.
"Kaa-san Tsuna mau main!"
"Ara, kau sudah baikan sekarang?"
"Um!"
"Baiklah kau boleh pergi, tapi jangan jauh-jauh, ya."
"Ie!" Tsuna berlari dengan sangat enerjik menuju ke tempat saudaranya dan Iemitsu berada.
Timoteo memperhatikan interaksi ibu-anak itu dengan seksama. Dia hanya bisa melihat keluarga bahagia di sana. Dia bersyukur karena Tsuna tidak diperlakukan berbeda.
"Dia terlihat sehat."
"Iya dia memang begitu. tapi sekalinya sehat besoknya dia pasti jatuh sakit lagi."
"Kalau begitu kenapa kau membiarkannya bermain?" Timoteo menguji Nana.
"Habisnya aku tidak bisa melarangnya bermain. Dia masih anak-anak. Kalau dia lagi sehat aku akan membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan."
Timoteo merasa uas dengan jawaban Nana.
"Anak-anak memang harus diberi lebih banyak kebebasan. Aku setuju denganmu."
Nana mengantar Timoteo kembali keluar rumah. Timoteo mengikuti di belakang. Nana tidak tahu kalau wajah Timoteo segera diliputi oleh kesedihan.
Apa yang aku pikirkan? Tidak akan ada cara untuk menyegelnya…. Tsuna tidak akan bisa hidup lama. Tubuhnya hanya sedang menuju kehancuran, pikir Timoteo. Tapi, dalam hatinya dia berharap Tsuna akan menemukan kebahagian.
Timoteo juga bertanya-tanya dalam hati apakah Iemitsu mengetahui tentang ini atau tidak. Tapi, meskipun dia tahu tidak akan ada yang berubah. Iemitsu mungkin malah akan tambah panik. Akhirnya, dia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapapun. Itu yang terbaik.
.
.
Mereka pikir aku bisa menanggungnya
Aku pikir aku bisa menanggungnya
Dengan pundakku yang kecil ini
Padahal tinggal masalah waktu
~Chapter end~
Aku gak tahu waktu di cerita ini, anak-anak Sawada umurnya berapa, padahal aku yang buat ceritanya (-_-')
Tapi, Tsuna kelihatannya pintar jadi pasti lebih tua dari adegan di anime/manga. Silahkan kalian imajinasikan sendiri. Gak masalah kan kalau waktunya beda ma canon.
Yang terakhir di bold/italic itu abaikan saja. Entah kenapa aku senang menulis yang seperti itu. Itu tuh ceritanya perasaan Tsuna—dia jadi sentimentil—kalau dia tahu apa yang dipikirin orang tentang dia. Mungkin nanti ada petunjuk dari situ—gak tau juga deh.
Next Update: 27 November 2014
