Summary: Dua saudara kembar Sawada benar-benar dekat. Mereka selalu bersama sampai seorang tutor sadis dari Italia datang menghancurkan hari-hari damai mereka—tepatnya salah seorang dari mereka. Tapi, apakah tidak ada yang tahu kalau yang satu lagi juga menderita? [AU; TwinFic!; sisanya masih misteri]

Genre: Family, Hurt/Comfort, Friendship, Angst, Romance

Notes: Gak dibeta, kurang diedit, seadanya, chapter pendek

Disclaimer: Tsui tidak memegang hak cipta apapun atas Katekyo Hitman REBORN!

A/N: Waktu pertama ngasih nama Ie— namanya gak kayak gitu, sekarang namanya jadi aneh (-_-'), kita abaikan saja haha… (-_-||)

Sebenarnya cuma sampai childhood memories part 2, tapi karena waktunya sempit dan aku sudah bilang kalau hari ini update, jadi chpater ini cuma jadi setengah. Setengahnya lagi, chapter berikutnya, ya. Sayangnya, karena UAS, aku gak akan update sampai kurang lebih tiga minggu lagi.

Nuraiya deh nanti diusahain, tapi follow dulu dong :) Nuruhime-chan19 senpai? Pake sama dong! –enggak deng bercanda. Dipanggil senpai aja udah terharu :') Mau nambahin words? Iya, ngerepotin, ngerepotin banget—tadinya mau bilang gitu. Setelah lihat sendiri di web ternyata memang sedikit. Nanti diusahiin—pas libur semester, ya. Hikage NatsuKalau dia gak menderita, gak seru, hehehe. Guest1 cowok dua-duanya udah pasaran, bro atau non? Lagipula dibuat cowok-cewek karena ada alasannya. Guest2 Gak full-family. Aku ini suka campur-aduk. Tapi, utamanya family dan romance paling cuma sekadar hint-hint doang, sebagai peringatan ke orang-orang yang benci romance. Tenang aja bukan Shounen-ai. Apa?! Kamu suka shounen-ai?—bercanda...

Tsuna dan Ie (7 thn)


Childhood Memories Part 2


[Haru]

Musim semi. Hari dimana Ie dan Tsuna akan memulai sekolah dasar telah tiba. Ie telah mengenakan pakaian bersih dan rapi serta menggendong tas punggung merah yang mencolok. Ie berdiri di depan gerbang kediaman Sawada, menunggu kembarannya yang tak kunjung datang.

Pintu depan terbukan Nana keluar dari dalam rumah. Ie tidak melihat Tsuna dimanapun. "Mana Tsuna?" tanya Ie.

Nana menbungkuk dan menepuk kepalanya, "Maaf ya, sayang, sepertinya kau harus masuk sekolah sendiri."

Mata Ie melebar. "Tsuna sakit lagi?" tanya Ie dengan penuh harap Nana akan menggelengkan kepalanya.

Sayangnya, Nana hanya diam menatapnya. "Besok dia pasti baikan lagi. Besok kalian bisa pergi ke sekolah bersama-sama. Sekarang Ie diantar kaa-san saja, ya?"

"Gaak mau!" Ie merajuk. "Tsuna! Tsuna!"

"Ssst... Ie! Jangan mengganggu tetangga. Kumohon Ie, menurutlah! Besok kalian pasti bisa—"

"—Huwaaa...!" Ie menangis sejadi-jadinya.

Nana hanya bisa menghela napasnya. Ie bukanlah anak manja dan dia cukup pintar. Dia akan segera berhenti kalau tahu tidak ditanggapi.

"Hiks... hiks..." tepat seperti dugaan Nana. "Hiks... kalau begitu hari ini Ie juga tidak sekolah."

"Ie!" Nana membentaknya.

Ibu dan anak itu tidak menyadari kalau ada sepasang mata jingga yang memperhatikan mereka dari balik jendela.

Tsuna memperhatikan saudaranya dengan sedih. Dia ingin berada di sana untuk memberitahunya bahwa ia baik-baik saja, bahwa dia berjanji dia akan pergi ke sekolah bersama-sama besok, bahwa dia sudah merasa cukup senang dengan perasaan Ie padanya. Tapi, tubuhnya tidak mengizinkannya. Dia berusaha untuk bangkit, tapi tidak bisa. Tsuna menatap dingin pada sesuatu yang seperti berusaha menarik dirinya ke bawah.

"Ie!" suara anak-anak memanggil nama saudaranya membuat Tsuna kembali menengok ke luar jendela.

Teman-teman Ie datang untuk menjemputnya. Awalnya ekspresi Ie tidak berubah, tapi setelah mendengar celotehan teman-temannya, seberkas senyum mulai menghiasi bibirnya.

Nana melambaikan tangan pada anaknya dengan senyum mengembang. Ie balik mlambaikan tangannya. Tsuna juga melambaikan tangan pada saudaranya meskipun tidak ada yang tahu.


[Natsu]

Musim panas datang. Keluarga Sawada berencana untuk pergi berlibur. Iemitsu bahkan akan mengambil cuti di tempat kerjanya.

"Nee, Okaasan, kita mau kemana?" tanya Ie dengan semangat sambil memasukkan potongan-potongan jeruk ke dalam mulutnya.

Seluruh keluarga Sawada yang tersisa sedang bercengkerama di beranda. Tsuna sedang tidur bersandar di pangkuan ibunya. Sementara sang ibu, Nana, membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang.

"Coba tebak kira-kira kita mau kemana?" Nana balik bertanya.

"Ke pantai!" tebak Ie.

Nana tertawa kecil. "Salah. Coba tebak lagi!"

Selama beberapa saat Ie berpikir dengan keras. Raut wajahnya sangat menggemaskan, membuat Nana ingin mencubit pipinya.

"Otousan bilang kita akan ke gunung," Nana memberitahunya.

Mata Ie berbinar mendengar kata 'gunung'. "Kita akan pergi ke peternakan, kita juga bisa memancing. Dan perjalanan ke sana pasti akan sangat menyenangkankan!" jelas Nana dengan penuh semangat.

"Aku mau ke gunung!" kali ini Ie berteriak dengan lebih kencang dan membuat Tsuna terbangun.

"Apa aku boleh ikut ke gunung, juga?" dia langsung masuk ke pembicaraan.

"Tentu saja! Ini kan liburan keluarga. Mou, Tsuna ada-ada saja," jawab Nana gemas.

Tsuna tersenyum senang.

-/-

Iemitsu tiba di rumah seminggu sebelum musim panas berakhir, sementara Nana sudah berkemas-kemas sejak lama sehingga mereka bisa langsung pergi tidak lama setelah sang ayah pulang.

Tapi, mereka seharusnya tidakpergi. Malam sebelum keberangkatan, Tsuna terserang demam—selalu seperti itu.

Sebagai seorang ibu, Nana sangat khawatir akan kesehatan Tsuna. Begitu pula dengan Ie dan Iemitsu. Tapi, berbeda dengan Ie dan Iemitsu, Nana yang sehari-harinya selalu merawat Tsuna bagaimanapun juga sudah terbiasa dengan kondisinya yang naik-turun. Dia tidak secemas mereka. Agak sedikit kejam, tapi akal sehat Nana memberitahunya bahwa kepulangan suaminya lebih jarang terjadi daripada turunnya kesehatan anaknya. Dan bagaimanapun akal sehat tidak pernah salah. Dia tinggal membuat keputusannya.

Dan inilah yang dia putuskan: berbicara empat mata dengan Tsuna sampai Tsuna setuju dengan idenya. Untungnya Tsuna adalah anak yang penerut. Tidak butuh waktu lama bagi Nana untuk membuatnya setuju.

Ie tidak protes seperti saat musim semi lalu—saat dia dan Tsuna tidak bisa masuk di hari pertama sekolah bersama—karena tahu bahwa Tsuna selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri dan dia belum pernah terlihat keberatan. Selain itu, Tsuna juga sangat keras kepala dan yang terpenting Ie sudah sangat menantikan hari ini. Dia membicarakannya setiap hari, setiap jam, dan sepanjang waktu sementara Tsuna hanya mendengarkan sambil sesekali merespon sewajarnya sehingga tidak menyakiti hatinya. Oh iya, Tsuna kan takut hewan... Pikirnya. Mungkin Tsuna sebenarnya tidak ingin pergi.

Awalnya Iemitsu menolak ide ini. Dia juga ingin menghabiskan waktunya bersama Tsuna. Dia menyayangi Tsuna sama sayangnya dengan ia menyayangi Ie. Dan dia tidak percaya kalau Tsuna tidak keberatan.

Dia masuk ke kamar Tsuna tanpa mengetuk pintu dan membuat Tsuna terkejut. Tsuna segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan memunggungi ayahnya. Iemitsu saja sudah agak sulit melihat sosok Tsuna yang kecil dalam ruangan yang gelap, ditambah dengan perilakunya itu, Iemitsu sama sekali tidak bisa melihat wajah Tsuna. Sikap Tsuna tersebut mengindikasikan seakan-akan dia membencinya. Tapi, tentu saja itu tidak mungkin! Pikir Iemitsu. Dia masih ingat saat Tsuna datang menangis padanya atau saat dia duduk di pangkuannya dengan tenang sekitar beberapa bulan—atau mungkin beberapa tahun—yang lalu.

"Tsuna?" Iemitsu memanggil namanya.

Tidak ada respon.

Iemitsu mendekati Tsuna. Dia duduk di tepi tempat tidurnya. Jarak mereka sudah sangat dekat. Iemitsu ingin menepuk pundak itu, tapi dia mengurungkan niatnya. Siapa tahu, siapa tahu dia memang dibenci…. Iemitsu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa kau baik saja-saja? Apa kau masih sakit? Apa kau benar-benar tidak bisa ikut?" berderet-deret pertanyaan terlontar dari mulut Iemitsu.

Tsuna hanya menggelengkan kepalanya sekali. Senjata makan tuan, Iemitsu tidak tahu pertanyaan mana yang sebenarnya Tsuna respon.

"Apa kau baik-baik saja?" Tsuna menggeleng. "Sama sekali tidak baik," jawabnya sambil diikuti suara batuk-batuk.

Di sela-sela kekhawatirannya, Iemitsu merasa kagum akan kejujuran Tsuna.

"Mungkin sebaiknya kita tidak pergi. Kau harus dirawat…" Tsuna menggeleng lagi.

"Kawahira-obaachan yang akan merawatku."

"Nee, Tsuna—"

"—Tidak ada yang berubah kalau kau ada di sini," kata Tsuna dengan dingin.

Iemitsu hanya bisa tertawa untuk menyembunyikan kesedihannya, "Wahaha… itu benar. Aku kan bukan dokter!"

Untuk menanggapinya, Tsuna mengangguk. Hal ini membuat Iemitsu sedikit senang. Tsuna juga setuju dengannya! Itu berarti Tsuna bukannya tidak mau dia ada di sana… Mungkin dia hanya tidak ingin penyakitnya menular! Ya, pasti itu! Sangat mudah bagi Iemitsu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Tsuna sama sekali tidak membencinya. Entah dia benar atau tidak, Tsuna tetap bukan malaikat.

Iemitsu memperhatikan tubuh anaknya yang seluruhnya dibalut selimut dengan sedih. Tapi, dia tidak terlalu sedih karena kondisi Tsuna jauh lebih baik daripada saat dia baru lahir. Dia dan Nana benar-benar cemas saat itu. Iemitsu bahkan menolak semua panggilan dari kantor-nya. Yang paling mengenaskan adalah saat mereka harus memberinya nama….

Apakah dia akan diberi nama Ie atau Tsuna?

Apakah dia yang menderita akan menjadi Ie atau Tsuna?

Iemitsu sudah lama tahu bahwa pertanyaan itu dapat terlontar karena bayi mungil itu sudah menderita sebelum dia diberi nama. Jika hal itu kebalikannya, maka pertanyaannya akan lain. Pertanyaan di atas juga bisa diputar balikkan.

Siapakah yang akan menderita?

Ie… atau Tsuna?

Ironis. Pada saat itu, baik Iemitsu maupun Nana tidak tega memberinya nama. Memberi anak pertama mereka nama seperti memutuskan siapakah yang akan menderita. Tapi, tidak memberinya nama sama juga dengan menelantarkannya. Sesakit-sakitnya anak mereka, mereka tidak akan pernah menelantarkannya. Dengan berat hati, bayi lucu dan tak berdosa itu mereka beri nama Tsuna.

"Tsuna…" Iemitsu menyebut nama itu dengan menggunakan lebih banyak perasaan karena dia baru mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan. Hal ini membuatnya mendapatkan sedikit perhatian Tsuna.

Tsuna sedikit mengangkat kepalanya. Sayangnya, Iemitsu tidak memperhatikan. Dia sudah masuk terlalu jauh ke dalam pikirannya sendiri. Dia dan Nana memang telah berjanji untuk tidak menelantarkan Tsuna, anak yang mereka pilih untuk menanggung semua penderitaan itu. Namun, nyatanya sekarang, mereka akan meninggalkannya di rumah karena kondisi tubuhnya.

Sejujurnya, Tsuna tidak tampak semenderita itu. Setelah dia berhasil bertahan hidup, tubuhnya memang masih lemah, tapi menjadi baik seiring dengan berjalannya waktu. Kata menderita mungkin terdengar terlalu lebay. Namun, meskipun demikian, orang yang observan seperti dirinya tahu bahwa Tsuna telah menanggung lebih banyak beban dari yang terlihat. Selain tinggi badannya yang kurang untuk anak seusianya dan tubuhnya yang kurus kering, namun masih terbilang normal, Tsuna juga sering terkena serangan sakit kepala hebat—seakan-akan dia punya kanker otak—yang hanya Tsuna dan dia yang tahu. Suatu malam, Iemitsu juga pernah melihatnya bermimpi buruk. Sangat-sangat buruk sampai Tsuna hanya bisa menangis meringkuk di kasurnya, bukannya pergi mencari perlindungan pada ibunya. Dan tampaknya, mimpi buruk itu terjadi secara berkala. Mengingat semua itu, Iemitsu mau tidak mau jadi berpikir bahwa mungkin Tsuna sedang dikutuk. Seseorang sedang mengutuknya. Meskipun demikian, dia diam saja karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Tsuna," Iemitsu memanggil Tsuna lagi, tidak sadar kalau suaranya sedikit bergetar. "Apa kau ingin kita pergi?"

Kali ini dia tidak mengangguk atau menggeleng. Tapi Iemitsu bisa merasakan Tsuna menarik napasnya dan menghembuskannya kembali, seperti orang dewasa yang sedang mencoba untuk bersabar. Kemudian, orang dewasa tersebut akan mengatakan sesuatu yang hebat dan rasional, namun disaat yang sama terlalu sempurna untuk dipegang. "Tidak apa-apa kalau Okaasan dan Ie ingin bersenang-senang. Lagipula aku tidak apa-apa. Aku tidak akan sendiri," katanya.

"Tsuna juga ingin bersenang-senang bukan?" Iemitsu ingin berkata begitu, tapi dia tidak mengatakannya. Dia ayahnya yang perhatian, tapi dia bukan ayah yang semanis itu. "Kalau begitu, cepat sehat, ya," kata Iemitsu dengan tulus. Sebelum pergi, Iemitsu merengkuh Tsuna ke dalam pelukannya. Tsuna tidak protes, tapi dia juga tidak memeluknya balik. Iemitsu tidak bisa berharap lebih.

Akhirnya, Tsuna jadi dititipkan pada Kawahira-obaasan yang tinggal di komplek sebelah sementara mereka pergi berpiknik keluarga selama satu minggu. Sebenarnya ini bukan pilihan yang terlalu buruk buat Tsuna. Kawahira-obaasan selalu bisa membuatnya sembuh lebih cepat dan kue-kue tradisional Jepang buatannya selalu nomor satu di dunia.