Disclaimer: I don't own anything except this storyline!


Warning: AU. OOCness. Typo(s). Tata bahasa+EYD kacau. Crack pairing. Similarity with my other fics. Alur cepat. Alur lompat. Alur ringan. Cover not mine (sy cuma mengedit saja).

This fic is mere fiction. If there's a similarity or resemblance of the situation and the story with another or other story fic form it is not intentional.

DLDR!

Rate: M

Special thanks to ArdWar : sy akui kelemahan saya adalah pada EYD, sudah sering kali diingatkan tapi tetap saja penyakit lupa datang menghinggap. terima kasih sudah sedia mampir, memberi saran dan kritik :); Alyazala: seneng ktemu ma Alya-san lagi. sama" penggemar berat AsuCaga :); Popcaga: halo pop lama tak jumpa gimana kabar? lulus memuaskan kah? semoga iya ;) ditunggu karya kamu juga dan silent readers.


Previous :

Kuberi mereka kesempatan terakhir, "Lepaskan atau ... -"

"- atau apa manis?" Pria disampingku kembali berbisik.

"Atau kami akan menghajarmu!"

Eh!?

Itu bukan suara Shi, apalagi milikku. Suara itu sangat kukenal. Kami semua terkejut dan berbalik. Benar, itu Kira! Dan dibelakangnya ... A-Athrun!

-oOoxnelxoOo-

.

Just a Lil' Sis?

.

Act 1-2

.

-oOoxnelxoOo-

Pria brengsek ini tak juga melepaskan tangan genit mereka. Kulihat ekspresi Kira seperti ingin membunuh orang, Athrunpun tak jauh beda. Tangan mereka mengepal, rahang mengeras, pandangan gelap ... aku menelan ludah melihatnya.

Mengerikan!

"Hibiki? Zala? Maaf dude, kami berdua yang menemukan kucing-kucing lebih dulu."

Bibirku berkedut, k-kucing!? Mereka menyamakanku dengan benda hidup berbulu itu?

Tak menghiraukan mereka, Athrun maju selangkah. "Lepaskan," ia berdesis, tenang tapi matanya terlihat mengancam.

"Apa masalahmu kawan?" sahut pria satu lagi.

Ia menatap mereka kesal.

Perdebatan ini sukses membuat yang lain menatap kami. Bahkan pertandingan grup lain yang sedang berjalan sempat terhenti.

Oh great, sekarang kami jadi pusat perhatian?

"Kalau aku jadi kau akan kututup mulutku dan pergi menjauh selamanya." Shiho ikut memprovokasi.

Oh, double great, tentu saja itu kukatakan dengan tak sungguh-sungguh.

"Lepaskan tanganmu dari adikku!" Akhirnya Kira memberi tahu seluruh dunia bahwa aku adiknya. Hhh ... kurasa aku harus bersiap-siap, para wanita akan mendekatiku karena ... Kira!

"Adik?" Kedua pria, hell ... bahkan manusia di sekitar kami ikut terkejut dengan pengakuannya. Bisik-bisik mulai terdengar lantang.

"Ya, aku adiknya ...," akuiku sambil menghela nafas panjang. Kulirik Athrun masih menatap penuh ancaman pada pria yang lengannya mulai meninggalkan bahuku.

"So-sorry ... ayo kita pergi!" Kedua pecundangpun pergi entah kemana. Kerumunan mulai membuyarkan diri mereka dengan (mungkin) rasa penasaran masih menghinggapi mereka.

"Hampir saja kupatahkan lehernya!" geram Shiho. Aku tak sadar menjatuhkan bukuku ketika pria itu tadi merangkulku. "Kau baik-baik C?" tanyanya padaku.

"Yah, lebih baik daripada di ekspos oleh kakakmu sendiri," ucapku malas seraya men-death-glare kakakku yang tak terpengaruh sama sekali.

"Kalian baik-baik saja?" Kira mendekat padaku begitu pula ... Athrun. "Seharusnya kau menelponku kalau sudah datang! Pencundang di sini lebih ganas dari yang kau kira." Kira mulai berceramah, aku memutar mataku.

"Kau baik-baik saja, Princess ...," yup! Itu panggilannya padaku. Dan aku memanggilnya ... cukup dengan Athrun. Ia memelukku singkat dan mencium keningku lima detik lebih lama dari biasanya.

Well ... ini cuma sikapnya yang bisa kau lihat sehari-hari di Orbu. Kulirik dari ujung mataku, mulut Shiho terbuka lebar hingga kau bisa memasukkan nuklir siap ledak ke dalamnya. Ya, Shi tak tahu sikap manis Athrun ini. Aku tak pernah bercerita padanya.

Aku hanya mengangguk mencoba menutupi rasa maluku. Aku yakin pipiku sudah memerah.

"Zala ... mau sampai kapan kau memeluknya? Lepaskan adikku, aku sendiri yang akan melakukannya."

"Dasar pelit, sister complex." Athrun bergumam, mungkin sekarang ia memandang Kira kesal, seperti biasanya. Athrun perlahan melepaskanku.

Sial kau Kira!

"Kubunuh kalau kau berani Kira," ancamku, ia malah mencium kedua pipiku yang cemberut.

Kudengar seseorang berdehem. Ups, aku sampai lupa pada Shi. Kami semua menatapnya.

"Nah big boys kenalkan ini Shiho sahabatku. Kami seangkatan dan ... ia juga pintar beladiri," tambahku, para pria menatapku singkat dengan tatapan tak percaya, lalu kembali menatap Shiho.

Sahabat? Aku jarang memperkenalkan seseorang sebagai sahabatku. Apalagi seorang wanita.

Shiho mengulurkan tangannya, pertama pada Athrun, memberikan senyum manisnya sambil melihatku dari ujung matanya. "Senang bertemu dengan ... sahabat Princess. Berarti kau orang yang spesial." Athrun tersenyum tulus padanya tak ada mata genit.

"Senang bertemu denganmu, C banyak cerita tentangmu," Shiho menyeringai sambil kembali melirikku cepat, aku berdesis padanya, "kebetulan saja aku cocok berteman dengannya," candanya.

"C?" Kira dan Athrun menatapku.

"Hmm ... nama panggilanku padanya atau mungkin mulai sekarang kupanggil ia dengan 'Princess?" goda Shiho. Ingatkan aku untuk mencekiknya nanti.

"Maaf nona cantik, kau boleh memanggilnya C tapi Princess hanya boleh dari ... mulutku," jelas Athrun sambil menunjukkan deretan giginya yang putih, oh God! Itu seksi sekali. Kurasa seluruh tubuhku menghangat mendengar pengakuannya.

"Zala ... minggir, kenalkan ...," Kira melepas paksa jabatan Athrun dan ia memutar mata emerald-nya. "Kira Hibiki, kakak ... C di sana My Lady ..." Kira merayunya.

OMG! Kubunuh dia karena berani menggoda sahabatku. Dan yang lebih mengejutkan, ia mencium punggung tangan Shiho. Kira Hibiki! Segera tulis wasiatmu kau akan mati di tanganku atau Shi akan membun -

Tunggu!

Shi tersenyum ... err ... sepertinya aku mengenal jenis senyuman itu. Shit! Ia balas menggoda Kira. "Kau boleh memanggilnya apapun yang kau mau, Hibiki," ucapnya dengan nada manja. Dan ia berkedip nakal.

Someone, hit me now. Temanku ber-eyesfucking atau apalah namanya itu dengan kakakku? Kurasa rahangku terjatuh melihat ini.

"Kira saja baby~" ini dia muncul Kira Playboy Hibiki. "Maukah kau ke bar untuk merayakan kemenangan kami?" Kira menawarkan tangannya dan disambut oleh Shiho dengan senang hati.

Tanpa melihatku Kira berkata, "Pulanglah dulu C, kunci pintu, jangan menungguku." Ia menatap Shiho yang terkikik kecil.

Shiho melihatku singkat, ia memberikan padangan iba sekaligus senang. "Bye C, bye Athrun." Ia berkedip padaku dan berbisik 'he's hot!'

Kusipitkan mataku. "Dasar pengkhianat," balasku lirih, Shiho tersenyum dan pergi begitu saja dengan kakakku tercinta. Saat mengatakan "tercinta", itu kukatakan dengan setengah-setengah.

"Ayo Princess kita pulang." Suara favoritku membangunkanku. Kutatap ia heran, ia berkata lagi, "Setelah mengantarkanmu pulang, aku akan menyusul mereka."

Aku cemberut, "Jadi kau takkan mengajakku?"

Ia malah mencubit ujung hidungku lembut. "Kau belum cukup umur Princess, dan aku tak mau kau menjadi santapan mata para pria brengsek di sana."

"Shiho juga belum!" balasku.

Ia malah merangkulku. Matanya melembut menatapku. "Ada Kira di sana, dia akan baik-baik saja."

"Apa maksudmu? Ada kau dan Kira di sana yang akan menjagaku bukan? Tapi ... tunggu aku tak butuh itu, aku bisa menjaga diriku!" Kupelototi wajah tersenyumnya. Damn him! So adorable dengan senyum itu.

"Tidak. Dan itu final! Pulang dan beristirahatlah." Meskipun wajahnya ramah tapi nadanya tegas.

Aku menghela nafas panjang. "Baiklah -oh tunggu, bukuku!" Aku melepaskan diri dari lengannya. Merunduk untuk mengambil buku setebal kurasa hampir 15 sentimeter itu.

"Kau membawa itu semua?" Kudengar suaranya yang khawatir. Terkejut dengan barang bawaanku.

Aku berdiri, memeluk ketiga buku itu. "Yup!" jawabku. "Kira butuh referensi untuk tugas akhirnya, ia menyuruhku meminjam ini semua dengan kartu perpus-ku karena kartunya hilang."

Athrun membuat suara 'tsk' dan berdesis, "Bagaimana ia bisa membiarkan adiknya membawa buku seberat ini!" Wajahnya marah. "Berikan padaku!" Itu perintah bukan sesuatu yang bisa di tawar.

"Ta -"

"Berikan padaku, berikan tas punggungmu itu juga!" perintahnya lagi, mengambil paksa buku dan tasku. Tapi tak bersikap kasar.

Belum sempat aku membalas ia memotong dengan memberikan tasnya. Untuk ukuran orang cerdas, tasnya ringan sekali.

Ta-tapi ... tasku itu 'kan berat sekali!

Athrun benar punggungku terasa ringan. Sampai aku bisa merasakan tubuhku ini seakan bisa terbang hanya dengan hembusan angin.

"Terima kasih," ucapku, membuatnya menatapku aneh. Tak lama ia tersenyum.

Ia mengulurkan satu tangannya padaku dan yang lain memeluk ketiga buku itu dengan mudahnya. "Ayo Princess."

.

.

.

.

.

Sesampainya di apartemen, ia meletakkan tas dan bukuku langsung ke kamarku seakan seperti rumahnya sendiri. Tentu saja dia hafal tempat ini. Sebelum aku di sini, setiap minggu mereka berpesta. Musik, minum dan wanita. Dan ... Aku tak mau membayangkannya. Setelah aku di sini, kebiasaan itu menghilang. Athrun dan Kira memang masih berpesta tapi di tempat Yzak Joule. Athrun tinggal di asrama pria dan Dearka Elsman adalah teman sekamarnya.

"Kau langsung pergi?" tanyaku berharap ia akan meluangkan waktu lebih lama di sini.

"Maaf Princess, aku harus ke bar. Kita bertemu di kampus besok." Ia menyakinkanku. "Kunci pintunya, Princess. Kira takkan pulang. Jangan lupa isi perutmu, aku tak mau kau sakit."

Aku memutar mataku, beginilah derita mempunyai dua orang kakak overprotective. "Iya ayah," jawabku malas. Kuantar ia sampai di depan pintu.

"Aku serius." Sebelum pergi, ia berbalik dan menatapku. "Kunci pintu!" Aku hanya mengangguk kecil. Ia mendekat, saat kukira ia akan mencium pipiku seperti biasanya, ia malah mencium ujung bibirku. Aku terkejut mataku melebar. Jantungku berdebar kencang. Tapi ... Athrun malah bersikap seolah itu hal yang biasa dan wajar.

"Nite ... C." Oh Haumea! Saat mengucapkan itu ia malah terlihat lebih seksi dengan senyum mautnya. Aku masih berdiri di sana dengan wajah dungu bahkan saat sosok Athrun menghilang dari pandanganku. Seluruh tubuhku menghangat, aku seperti tak menemukan suaraku dan kakiku terpaku di sana.

Kurasa hanya aku saja yang merasakan ini. Aku rasa aku lupa telah bernafas tadi. Aku senang ... juga sedih karena baginya aku hanya adik kecil.


TBC


Mind to review?

Thanks,

Fighting!

Nel. ^o^)9

Last Edited : 06-09-2014

Publish : 12-09-2014