Disclaimer: I don't own anything except this storyline!
A/N: Maaf telat, sedang berlibur :p
Warning: idem.
Special thanks: wow! Sy melihat muka lama d sana (kesanny kayak sepuh) haha ... bercanda! orz.
Popcaga: awaz pop ntar g isa nutup lg mulutnya haha ... thx reviewnya xD
Alya Zala: siapa yg mnjadi pasangan Kira? Klo saya boleh g Alya-san? hehe ... thx reviewnya xD
UL: Hi UL ktemu lag :) ni uda updet, thx reviewny xD
RenCaggie: Halo dhek, kemane aje? Ayo updet fic u juga (padahal aq juga lemot updet hehe). Thxny reeviewny xD oiy sy juga suka badAthrun so yummy :p lolz.
Mrs. Zala: nah ini Godreadernya AsuCaga :p, apa kabar? Lama g ngobrol lagi xD kykny mrs. Zala jarang buka fic n sy jarang bikin fic :p thx reviewnya xD
Enjoy~
-oOoxnelxoOo-
.
Just a Lil' Sis?
.
Act 2
.
-oOoxnelxoOo-
Kalau Athrun Zala mengatakan "kita bertemu besok di kampus!" lagi, Lebih baik jangan terlalu kau percaya Cagalli, karena tiga hari setelah kejadian itu, kau sering tak melihatnya. Sehari kemudian kau memang melihatnya tapi dari kejauhan. Dan itupun tak sendiri. Dengan para wanita bitchy mengelilinginya.
Setelah itu, kau memang sering melihatnya. Tapi bukan pada kondisi yang kau inginkan. Berciuman. Berciuman dengan wanita. Wanita berbeda-beda. Berciuman di pipi. Berciuman di bibir. Cium tangan. Cium leher. Serius guys, cari kamar sana!
Sigh ...
Aku juga bahkan tak mendapatkan telepon atau sms darinya. Kukira dengan masuk Universitas yang sama dengannya, aku bisa semakin mendekatinya. Aku bisa leluasa merayunya karena kita sudah dewasa. Tapi ...
Sigh ...
Dua minggu setelah hari itu, baru aku sadar akan sesuatu. Kurasa semenjak aku di sini, ia menghindariku. Dulu ... kata Kira, Athrun sering menginap di tempat Kira. Sekarang tak pernah. Tiap minggu ia ada di lapangan, bertaruh, bermain dan pergi begitu saja setelah Shiho dan aku datang. Di kampus mereka sering terlihat makan siang di kantin, di satu meja yang biasa. Tapi kutemukan ia, Dearka dan gadis-gadis murahan itu di meja lain. Di meja yang biasa hanya ada aku, Kira, Yzak dan Flay, tunangannya (akhirnya aku tahu kalau si tampang pemarah, Yzak dan Flay mempunyai hubungan khusus) dan Shiho.
Shiho? Yup. Setelah kejadian itu, Kira dan Shiho makin akrab. Setiap weekend, Shiho menginap di apartemen kami tapi di kamar Kira. Dengan pintu tertutup! Aku selalu menyumpal telingaku dengan kapas tiap malam, tapi jeritan-jeritan 'aneh' masih selalu bisa terdengar dari kamar Kira, tepat di sebelah kamarku. Apa yang mereka lakukan? Sungguh aku tak mau membahasnya. Itulah sebabnya Shiho tak ikut ke bar karena weekend ia menghabiskan waktunya di sini.
Saat kutanyakan hubungan mereka. Mereka mengatakan tak ada hubungan khusus! Oh Haumea, lalu mereka berbuat itu untuk apa? Didasari apa? Aku tak mau Shiho tersakiti oleh Kira dan sebaliknya. Terserah mereka mau mengatakan aku naif, polos atau ketinggalan jaman, aku tak peduli. Melakukan hubungan itu seharusnya didasari rasa cinta.
Sebulan setelah kejadian almost kiss tepat di bibir itu, mulai membuatku gila. Pernah aku dengan sengaja mendekati Kira, Athrun dan kawan mereka yang lain duduk di tengah taman kampus, untungnya, tanpa wanita genit disekitar mereka. Kira melihatku, lalu melirik Athrun, mengatakan sesuatu membuat Athrun berpaling menatapku. Tapi ekspresinya seperti tak ... senang. Membuatku hatiku remuk. Tapi aku tetap mendatangi mereka. Yang membuatku terkejut adalah tiba-tiba Athrun pergi dari sana.
"Kemana dia?" tanyaku.
"Siapa?" balas Kira enteng.
"Athrun." Kali ini aku cemberut.
"Ah, dia ... ehm, dia cuma bilang ada urusan." Aku tahu ada yang disembunyikan tapi kakak idiotku ini malah mendukungnya.
Aku menggebrak meja tanpa berkata apapun, membuat Kira dan yang lain terkejut, dan pergi meninggalkan mereka.
Dearka juga sama saat kutanyakan ia pun tak tahu malah merasa sikap Athrun seperti biasanya. Dearka mengatakan padaku mungkin ia hanya sedikit sibuk dengan tugas akhirnya saja. Tanya pada Yzak? Na-ah, aku dan dia selalu berakhir dengan perdebatan tiada henti. So ... aku (terpaksa) bertanya pada Flay yang sebenarnya aku yakin akan mendapatkan jawaban sama, tapi nothing to lose!
"Aku tak tahu. Aku tak peduli," jawabnya tak ramah. Begitulah jawaban Flay saat kutanyakan tentang Athrun. Tidak begitu terkejut.
"Baiklah. Terima kasih." Ketika aku akan beranjak pergi, ia bertanya untuk pertama kalinya selama kami bersama-sama.
"Kau ... siapanya Athrun Zala?"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan tak peduli."
Ia mengangkat bahunya. "Well ... Yzak benar, kau dan Athrun sama saja, bye adiknya Kira~" ia sempat mengedipkan matanya sebelum pergi dengan sepatu higheel tujuh sentinya dengan warna senada dengan rambut merahnya itu.
"Namaku Cagalli!" teriakku padanya.
.
.
.
.
.
"Kau menghindariku bukan?"
"Tidak."
"Lihat aku saat menjawab!"
"..."
Aku berhasil menyudutkan pria berambut navy-blue di sebuah ruang kelas kosong. Setelah satu setengah bulan lebih akhirnya aku berhasil membuatnya bertatap muka denganku. Setelah sekian lama, ia menghidar dari diriku atau telepon dariku.
Ia menolak memandangku. Kedua telapak tangannya di saku celananya. Bahkan saat aku kesal pun aku masih mengagumi sosok dihadapanku ini. Ia terlihat tampan seperti biasa, hanya saja ia belum bercukur, rambut halus mulai nampak di sekitar dagunya.
Tubuhku membelakangi satu-satunya pintu masuk dan keluar. Ia didepanku sekitar lima langkah. Kedua tanganku di pinggangku. Raut wajahku -entahlah, kurasa aku benar-benar murka.
"Apa ... a-apa kau membenciku?" Aku memulai lirih.
"Apa! Tidak! Tentu tidak! Bagaimana kau bisa bicara seperti itu?" sahutnya. Akhirnya ia menatapku.
Sesungguhnya aku juga takut mengatakan itu dan ia menjawab "ya".
Tanganku jatuh ke samping. "Lalu mengapa?" tanyaku pelan.
Ekspresinya melembut. Haumea, aku sangat merindukannya. Aku ingin berlari dan memeluknya. Kau tahu sesuatu, ia seperti tas Hermes limited edition yang di pajang di sebuah etalase toko dengan kaca sebagai penghalang. Boleh di lihat tapi tak boleh di sentuh.
Athrun segalanya bagiku. Di balik sikap iseng yang selalu ia tunjukkan padaku saat kami masih kecil, ia sebenarnya sangat melindungiku, menjagaku. Athrun adalah anak tunggal, jadi aku mengerti rasa kesepiannya. Ia selalu menjadi kakak dengan pemikirannya yang lebih dewasa diantara kami bertiga.
Aku sangat menyayanginya. Saat ayahnya meninggal di usianya yang 13 tahun, ia tak menangis. Saat kukira ia tak bersedih, aku salah. Ia hanya berusaha bersikap tegar. Beda denganku dan Kira yang 'cry baby', ia jarang menunjukkan airmata. Ia berusaha tak membuat kami dan Ibunya lebih sedih lagi.
Tapi ...
Aku tak suka itu. Aku juga ingin melindunginya. Aku juga ingin membahagiakannya. Aku ingin ia menunjukkan perasaannya. Kutunggu ... tapi ia tak pernah menangis, padahal matanya jelas terpancar kesedihan.
Sebulan setelah kematian Paman Patrick, tak sengaja aku melihatnya seorang diri di kamar meneteskan airmata. Tapi segera ia hapus saat melihatku dan berpura-pura menjadi tegar. Ia kembali pada 'topeng ksatria'. Apa yang bisa dilakukan gadis 10 tahun ini? Ia menamparnya, lelaki keras kepala yang tak mau menangis itu. Keras, di pipi sebelah kiri.
Athrun melihat heran. Dengan berlinangan airmata, aku berkata, "Sakit tidak? Biasanya saat aku dan Kira kesakitan, kami pasti menangis. Itu sangat sakit bukan?" Yang kumaksud adalah pipinya.
Ia masih mengelak, aku tahu itu sakit. Tapi ia tak mau membuatku sedih. Ia tersenyum kecil tapi itu hanya dipaksakan. "Tidak Cagalli -kumohon jangan menangis."
"Kalau begitu, jangan di tahan. Kau tahu pukulanku itu sangat sakit. Tak ada siapapun di sini jadi jangan berbohong. Menangislah ..."
Ia hampir menangis. Matanya mulai berair. Ia masih menahannya. Memandang sedikit kesal. "Apa maksudmu? Sudah kukatakan ini tak sakit -"
"Apa kau merindukannya?" potongku. Pandanganku mulai buram karena airmataku.
"Huh?"
"Ayahmu. Karena aku merindukannya. Aku merindukannya pie apple buatannya. Aku merindukan saat ia memarahiku karena tak sengaja menginjak tanaman kesayangannya. Aku rindu pada pelukannya saat aku menangis karena keisengan kalian, aku rindu pada senyumannya jika aku bisa membalas kalian. Aku rindu saat ia menjewer telinga kita bertiga. Aku rindu ia mencium kening Bibi Lenore saat berangkat bekerja. Aku rindu ia mengusap rambutmu saat kau menjadi peringkat pertama."
Itulah pertama kalinya aku melihat air itu tumpah dari mata emerald-nya. Ia terisak. Airmataku menetes tapi aku masih dapat tersenyum padanya. Kubawa ia dalam pelukannku. Kuusap lembut rambut dan punggungnya. Aku tak peduli bila kaos pemberian ayahku ini basah karenanya. Saat itu, Athrun lebih penting dari apapun. Ia melunturkan topeng ketegarannya. Ia hanya menjadi seorang anak yang kehilangan ayahnya. Ia hanya seorang Athrun Zala. Anak dari Patrick Zala.
Aku ingat, saat itu kami menangis sampai airmata kami kering dan mata kami bengkak dan merah.
Entah saat itu aku merasa senang atau sedih. Aku senang ia berhasil menunjukkan siapa dirinya, aku juga sedih, karena melihat kesedihannya. Sejak itu aku juga ingin melindunginya dengan caraku sendiri. Sejak itu pula, ia memanggilku Princess. Sejak itu pula, ia menjadi kesatriaku. Tapi aku tak mau hanya menjadi putri yang hanya duduk diam menunggu pertolongan kesatria kuda putih. Aku ingin menjadi putri yang kuat yang dapat melindungi kesatrianya pula.
Karena itu ...
Aku berusaha keras mati-matian dengan kepintaranku yang standar, hanya untuk mengejarnya kemari.
Tapi ... ia menjadi sangat jauh. Makin jauh. Tak terjangkau olehku.
Aku memang tak menarik. Tak cantik. Tak punya tubuh seksi atau dada besar. Tak pintar. Tak kaya. Tak terkenal. Karena sebelumnya aku yakin, Athrunlah satu-satunya pria selain keluargaku yang melihatku ... sebagai aku. Cagalli Hibiki yang sederhana dan tak feminin.
Kurasa aku terlalu bermimpi jauh. Athrun merupakan bintang bersinar di atas sana, aku hanya sebuah batu kerikil biasa.
Aku menghela nafas. Tanpa Athrun menjawab pertanyaanku, aku pun tahu jawabannya. Kurasa ini sudah cukup, lebih lama lagi aku di sini, justru akan membuatku lebih terluka.
Perlahan kepalanya tertunduk, "Maaf Ca-cagalli." Sudah lama ia tak memanggilku "Cagali", berarti ini sesuatu yang sangat penting. Aku merasa tegang, sama tegangnya saat ujian masuk kemari, kulihat ia mulai berkata lagi, "A-aku hanya … aku hanya tak ingin kau didekatku."
TBC
A/N2: *jduaaaarrrr!* mind to review again guys? *wink*
Thanks,
Fighting!
Nel. ^o^)9
Edited: 25-09-2014
Updated: 30-09-2014
