Disclaimer: I don't own anything except this storyline!


A/N: Telat updatekah saya? Mudah"an nggak *gulp* iniloh dhek RenCaggie pesananmu … maaf y semalem sinyalq blank! Oiy … ayo teman" sukseskan IFA 2014. Kmren dah ikutan tapi karena dah susah payah milih kanankiri trus sinyal tiba" lost kira" dah masuk belum y?

Special thanks:

Saya mendapatkan reviewer baru (Yipiee) *loncat"datskasur*:

Mrs Zala: klo begitu critanya saya tinggal melanjutkan dengan THE END. Hehe … Lacus? Iya ya mana Lacus ya? *plak* thanks reviewnya

Ikma Zun: Salam kenal Ikma-san … apa ini masih lama? Thanks dah mampir

RenCaggie: Maaf ya dhek telat lagi. Tenang aja Athrun akhirnya ma saya kok *hajaredberjamaah* thanks udah mampir n ngingetin updet terus hehe …

Alyazala : Jangan kesal dong … nie dah updet jangan kesal lagi y … thanks reviewnya

Popcaga: Shinn? Shinn d cari pops tuh! Hehe … thanks dah mampir

Ojou rizky: Hi Rizky-chan, lama tak jumpa pa kabar? Mudah"an baik thanks dah nyempetin mampir

Dan semua silent readers.

Enjoy xD


Previous:

Aku berusaha keras mati-matian dengan kepintaranku yang standar, hanya untuk mengejarnya kemari.

Tapi ... ia menjadi sangat jauh. Makin jauh. Tak terjangkau olehku.

Aku memang tak menarik. Tak cantik. Tak punya tubuh seksi atau dada besar. Tak pintar. Tak kaya. Tak terkenal. Karena sebelumnya aku yakin, Athrunlah satu-satunya pria selain keluargaku yang melihatku ... sebagai aku. Cagalli Hibiki yang sederhana dan tak feminin.

Kurasa aku terlalu bermimpi jauh. Athrun merupakan bintang bersinar di atas sana, aku hanya sebuah batu kerikil biasa.

Aku menghela nafas. Tanpa Athrun menjawab pertanyaanku, aku pun tahu jawabannya. Kurasa ini sudah cukup, lebih lama lagi aku di sini, justru akan membuatku lebih terluka.

Perlahan kepalanya tertunduk, "A-aku hanya … aku hanya tak ingin kau didekatku."

-oOoxnelxoOo-

.

Just a Lil' Sis?

.

Act 2-2

.

-oOoxnelxoOo-

See ... bagaimana beberapa kata bisa membuat seseorang hancur. Kalau aku punya penyakit jantung, mungkin itu sudah cukup untuk membunuhku.

Atau ... Aku seperti penjahat yang akan di hukum mati. Dengan acungan senjata ke arah kepalaku, kata-kata itu seperti pelatuknya.

Tidak!

Itu bahkan lebih parah, 'ia tak ingin aku didekatnya'? Selama ini aku hanya seperti wabah penyakit mematikan baginya.

"Mengapa ...?" Suaraku terdengar pecah. Oh tidak, bukan itu yang ingin kutanyakan.

Cukup!

Sudah cukup!

Bukankah seharusnya aku lari, mengapa aku masih berdiri di sini. Mengapa kaki ini tak mau di ajak bekerjasama? Ayo bergeraklah kakiku. Jangan sampai kau mendengar sesuatu yang tak ingin kau dengar lagi.

"Kumohon jangan menangis," lanjutnya.

Lalu mengapa kau mengatakan hal seperti itu? Kuatlah Cagalli! Jangan menangis. Setidaknya jangan di sini!

Jangan sampai kau mengatakan sesuatu padanya. "Ma-maaf kalau aku mengganggumu." Aku mati-matian menahan airmataku agar tak keluar. "Tak kusangka aku hanya parasit bagimu."

Yang tak pernah terbayangkan olehku lagi adalah ia menahanku, memeluk tubuhku dari belakang. Itu cukup membuat airmataku menetes dengan sendirinya. "Jangan berkata seperti itu Cagalli." Aku benci kalau ia tak memanggilku 'Princess' seperti biasa. "Kau sangat berharga bagiku. Kumohon jangan menangis." Suaranya begitu dekat di telingaku, bagai menenangkanku. Tapi belum cukup menghentikan tangisku.

Lalu, mengapa? Mengapa?

Aku tak sadar, aku makin terisak. Airmataku membasahi lengan yang melingkar dileherku. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa, aku tak tahu harus mengatakan apa selain 'mengapa'!

"Kesalahanku adalah membiarkan kau didekatku. Seharusnya saat itu aku tak mendekatimu. Tapi, saat bajingan itu memegang tubuhmu, aku tak bisa berpikir apapun selain membunuhnya!"

Eh!? Apa maksudnya? Kejadian di lapangan itu 'kah?

Kudengar ia menghela nafas panjang. "Maafkan aku Princess, seharusnya aku bersikap seolah tak mengenalmu saat itu dan membiarkan Kira mengatasinya. Gara-gara aku ... kau ..."

Ia tak melanjutkan lagi membuatku bertanya. "Aku ... kenapa?" Syukurlah, suaraku kembali dan isakkanku terhenti. Ia melepaskanku, membalikkan tubuhku, tangannya masih ada di kedua sisi bahuku. Menjagaku erat.

Ia menatapku. Ternyata, ia sama menderitanya sepertiku. Mata emerald miliknya yang paling kusukai, terpancar kesedihan dan keresahan. "Aku bukan orang yang baik Princess. Kau tahu itu. Aku ... aku tak pernah bersama dengan satu wanita selama ini. Merekapun sama, kurasa. Wanita-wanita itu hanya ingin, ehm, t-tidur denganku itu saja. Walau hanya semalam, dan, uhm, aku bisa meninggalkan mereka kapan saja. Saat itu, aku berhasil tak mendekatimu, tapi pria bajingan itu, berhasil membuatku mendekat padamu. Tubuhku pun bergerak dengan sendirinya, membuatku lupa di mana aku berada." Matanya terpejam erat. Aku tahu kebiasaannya dengan para wanita, menyakitkan memang, tapi aku tahu, ia tak pernah serius pada mereka.

"A-apa maksudmu?" Kutanya lagi.

Matanya terbuka lebar. Seperti tak ingin melanjutkan.

"Aku tak pernah membencimu Princess. Aku takut ... kaulah yang membenciku. Setelah mengantarmu pulang, aku ke bar seperti biasa. Yang tak biasa ... mereka menganggapmu seperti wanita-wanita yang biasa kutiduri." Oh Tuhan, jadi itu! Ia melanjutkan, "mereka beramsumsi aku terlambat datang ke bar karena aku ... umm ... sibuk denganmu! Salah satu dari mereka mengatakan ... umm -"

"Lanjutkan," yakinku. Membuat rahangnya kembali mengeras.

"Hhh ... aku sungguh tak ingin mengingatnya Princess, tapi -baiklah. Pecundang itu mengatakan, kalau kau sangat manis. Ia menyukaimu. Kalau aku sudah bosan denganmu, ia ingin tidur denganmu, menggantikan tempatku. Aku tahu, Kira akan menghajar pria itu, tapi tanganku lebih dulu mendarat di rahangnya." Ia menghela nafas lagi. "Saat itu aku baru mengetahuinya bahwa semakin kau didekatku semakin mereka menilai buruk tentangmu. Aku tak mau mereka berbicara buruk tentangmu Princess. Kira menolak ideku menghindarimu, aku bersikeras melakukannya. Ia mengatakan bahwa itu bukan keputusan yang tepat, jika nanti kau menangis, sahabat atau bukan, ia akan menghajarku. Kira benar ... sangat sulit berpisah denganmu di saat kau begitu dekat. Aku malah membuatmu menangis. Maafkan aku, Princess." Athrun tersenyum pahit.

Ia melindungiku ... lagi!

Haumea, selama ini, ia juga menderita sepertiku. Aku tak peduli ia menyadari perasaanku atau tidak. Aku peluk saja ia erat, seperti -setelah kehilangannya selama beribu tahun. "Aku merindukanmu. Jangan berbuat seperti itu lagi. Aku sudah dewasa tahu! Berhenti memperlakukan aku seperti boneka kaca," ucapku sewot dalam dekapannya. Hmm ... begitu hangat dan nyaman. Bau Athrun juga sangat harum. Sangat enak.

"Maaf Princess," ucapnya lagi. Aku bisa merasakan ia mencium ujung kepalaku.

Kepalaku terangkat, ia menatapku lembut dengan senyum manis khasnya. Ia sudah kembali, Athrunku sudah kembali. Oh Tuhan, aku sangat merindukan pria ini. "Takkan kumaafkan," godaku.

Ia terkejut dan sedikit cemberut. Ia sangat lucu ketika membuat muka itu. Kutahan diriku agar tak tertawa dan mencium bibirnya yang menggoda itu. God, ia tak terelakkan. "Aku memang pria brengsek Princess, kau tak perlu memaafkanku." Ow, kau lihat matanya, begitu sedih.

"Takkan kumaafkan kalau kau belum membelikanku es krim," nadaku merajuk.

Mata hijau yang tadinya redup menjadi bersinar kembali. Senyumnya ikut mengembang. Aku suka Athrun yang ini. "Humph, kau ini!" Ia mencium kedua pipiku.

"Sekarang," perintahku dengan pipiku yang merona. Sangat merona. Si cowok womanizer ini malah biasa saja.

"Siap Yang Mulia!"

Aku terkikik kecil, "Aku senang kau kembali Athrun."

"Aku juga Princess. Aku merindukanmu."

"Jangan menghindar lagi."

"Perbuatan paling bodoh yang pernah kulakukan."

"Jangan lari lagi."

"Takkan pernah."

"Janji?"

"Haruskah kita berjanji dengan menggunakan kelingking?" ejeknya. Aku tertawa memukul gemas dada kerasnya.

"Kupatahkan lehermu, kutendang 'kebanggaanmu' di bawah sana, kalau kau mengingkarinya!"

Ia membuat ekspresi pura-pura kesakitan. "Ouch, kalau begitu kubatalkan janjiku!"

Senyumku menghilang, "Kau bercanda 'kan?" Aku menggembungkan pipiku kesal.

Athrun tersenyum tipis. Ia menatapku dengan ekspresi yang tak kutahu sebelumnya. "Aku berjanji," ucapnya setelah ia cukup lama terdiam. Semoga debaran jantungku tak terdengar menggema di ruang kosong ini. Tangannya mengusap lembut kulit di salah satu pipiku. Jantungku berdegup makin kencang.

"Athrun?"

"Hmm?"

Kalau kami sekarang berciuman apakah itu salah? Ia hanya menganggapku sebagai adik kecilnya saja. "Apakah 'aku' bagimu?" Aku ingin sekali menanyakan itu. Tapi aku takut bila mengatakan hal terlarang itu, sikapmu akan seperti kemarin. Dan itu sangat menyiksaku. Lebih baik seperti ini. Aku menggeleng lemah, "Tidak ... tidak apa-apa? Jadi ... dimana kau akan mentraktirku?"

Ia menyengir. Menampakkan giginya yang putih. Sungguh seksi. "Karena Princess Cagalliku ini kelihatan sangat lapar sekali, maka kebab special lalu double banana choco sundae untuk makan siang? Bagaimana?"

Alisku terangkat satu, bibirku menyeringai. Cagalliku? Aku suka itu! Hanya membayangkan saja air liurku hampir menetes. "Bagaimana aku bisa menolak, lead the way, My Knight."

Kami tersenyum, meninggalkan ruangan kosong itu, mengisi perut yang kosong dan bergandengan tangan.

Perfect!

Still ... aku hanya adik kecil baginya.

Sigh ...


TBC


A/N2: see Athrun not that bad ... maybe hehe ...

Next in Act 3-1, 3-2:

"Athrun kau sangat berlebihan!" Aku berdiri, "kau tahu, aku merasa tersinggung dengan ucapanmu! Maaf tapi, kau tak punya hak untuk terlalu khawatir padaku!"

Ia mengikuti tindakanku. Aku harus mendongak dan memberinya tatapan menantang. Terlihat jelas, raut kesal dan kecewa. "Tentu saja aku punya hak, karena aku ... a-aku ..."

Sepertinya ia terkejut dengan ucapannya, ia terhenti. Aku memiringkan wajahku. "Aku apa?" Sebenarnya dalam hatiku aku berharap dia menjawab, "kekasih" atau "pacar". Aku menunggunya. Berharap. Menunggu. Berharap. Please ... ucapkan itu.

See ya~

Mind to review?


Thanks,

Fighting!

Nel. ^o^)9

Edited:02-10-2014

Updated:08-10-2014