Disclaimer: I don't own anything except this storyline!


Special thanks to : RenCaggie, AlyaZala, Mrs. Zala, Not Name, AnitaIndah777, NNC, Erythrina Errol. Luv you guys xD.

A/N: Maaf terlambat RL comes first, apalagi jika ibu tercinta jatuh sakit. Well enjoy~

-oOoxnelxoOo-

.

Just a Lil' Sis?

.

Act 3

.

-oOoxnelxoOo-

Hari-hari kami kemudian, diisi dengan kesenangan, pertengkaran, senyuman, adu mulut, tawa, perdebatan, begitu berulang-ulang.

Entah mengapa itu menjadi rutinitas kami yang tidak membosankan.

"Tidak!" tegas Kira dan Athrun bersamaan sekali lagi.

Argh ... ini membuatku frustasi!

"Ayolah guys, cuma semalam saja dan aku bersamanya. Satu lagi, kami pintar menendang bokong orang!" Shiho mencoba meyakinkan. Ia memberikan kedua priaku, oh-so-innocent-face-nya.

"Tidak!"

Tak heran mereka berteman akrab. Bagaimana mereka bisa mengucapkan itu secara bersamaan? Sekarang aku berpikir kalau mereka itu benar-benar ... gay!

Hanya alasan itu yang bisa aku pikirkan saat ini.

Aku menghela nafas panjang, melihat perdebatan mereka. Dua lawan satu. Pria versus wanita. Kira dan Athrun mengeroyok Shiho.

Kuputar mataku, What a gentleman!? Tentu saja itu sindiran.

"Argh, kalian memang imposibble, keras kepala! Aku tak tahu lagi C, aku menyerah!" Shiho menghentakkan kakinya. Ia berlalu begitu saja, melewati mereka ke lantai dua, kamarku dan Kira. Ia memasuki kamar Kira -duh- tentu saja. Getaran pintu yang terbanting keras terasa sampai ke telapak kakiku.

Hhh, Shiho benar-benar marah.

Weekend ini seperti biasa kami berempat habiskan dengan bermalas-malasan di apartemen Kira. Nonton film, makan, tidur, nonton film lagi, makan lagi, tidur lagi, kadang menyesaikan tugas. Athrun setelah kejadian itu, kembali sering berada di tempat kami.

Sampai-sampai ia membelikanku penutup telinga, yah ... lebih baik! Daripada menyumpal dengan kapas.

Kadang ia mengomeli Kira dan Shiho agar melakukan saat aku tak di rumah. Karena berimbas pada masalah mental dan aku masih terlalu polos untuk itu dan yada-bla-yada-bla, sampai aku memutar mataku. Entah siapa kakakku sekarang?

Apa aku sudah mengatakan kalau Athrun sering kemari? Terlalu sering bahkan. Ia menjemput, kadang mengantarku pulang kalau aku ikut kegiatan club dan kemalaman, makan siang di kampus bersama (with the genk too), membantu mengerjakan tugas, kadang makan malam di apartemen Kira, bila terlalu larut atau terlalu lelah kerja part time sampai malam, ia tidur di sini, di kamar Kira (bila Kira tak bersama siapapun) atau di sofa di lantai bawah yang membuatku tak tega.

Ia masih sering dikelilingi wanita. Tapi ... menurut mata elangku, kegiatannya (berciuman di sini dan sana, mungkin tidur dengan wanita a, b, c, dsb) itu mulai berkurang.

Makin banyak wanita yang mendekatiku, mulai dari merayuku; berpura-pura baik; jika berpapasan denganku mereka membelalakkan matanya padaku; terang-terangan tak suka dan mendampratku atau hampir mem-bully-ku, tak peduli aku adik The Ultimate Playboy, Kira Hibiki.

Kenapa aku katakan 'hampir'? Karena mereka sudah kuancam dengan bogemku lebih dulu. FYI, missy ... ini bukan pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini. Hampir beberapa tahun berada di sekitar Kira dan Athrun bagai neraka dan surga.

Karena itulah aku jarang percaya dengan orang lain selain mereka. Aku jarang mempunyai teman wanita. Teman lelaki juga jarang, itu akibat death glare dari Kira dan Athrun membuatku mereka mundur duluan atau tak sedikit mereka kehilangan kepercayaan diri dengan almost 'kesempurnaan' mereka berdua. Itulah mengapa, mendapatkan Shiho merupakan anugerah bagiku dan keduanya. Akhirnya aku mendapatkan sahabat yang menerimaku apa adanya.

Hanya saja, akhir-akhir ini aku khawatir padanya. Khawatir pada hubungan Shiho dan Kira, memang mereka mengatakan tak hubungan spesial kecuali hanya 'teman tidur' tapi tetap saja membuatku resah. Aku merasa -walaupun kami masih bersahabat beberapa bulan- ada yang berubah dari Shiho ketika di dekat Kira.

"Apa kau tak mengejarnya?" Aku melirik ke lantai atas lalu Kira.

Ia hanya menatapku bingung. "Apa?" Ia menantangku bertanya dengan muka oh-yes-I-am-too-innocent, membuatku ingin benar-benar serius mengamplas mukanya.

"Shiho." Aku memberikan sedikit hint. Awas saja kalau ia masih tak mengerti dengan ultimate brain-nya itu, aku sudah siap melemparnya dengan bantal di sofa yang kududuki.

"Oh," Hanya itu yang bisa dia katakan.

Shame on your ultimate brain, playboy!

Saat aku hampir melemparkan remote dvd player ke wajah sok tampannya itu, Athrun tiba-tiba duduk disampingku. Aku tahu ia mengerti apa yang kupikirkan, maka ia mencoba menghentikanku sebelum terjadi pertumpahan darah akibat kekerasan dalam rumah tangga.

Aku men-death glare Athrun, sedangkan ia malah memberikan aku, his infinite smile. Aw, mana bisa aku melawan yang satu ini. Tapi aku mencoba mempertahankan rasa kesalku.

"Athrun kau saja yang menghadapi singa liar ini, pastikan ia tak ikut! Aku akan pergi ke bar dengan Dearka! Kunci pintu, aku tak pulang," ucap Kira mengambil jaket dan kunci mobilnya.

Apa!? Ia pergi! Si idiot itu!

Aku ingin berdiri tapi tangan Athrun menahanku. Aku terjatuh kembali. Kuberikan tatapan paling horor milikku, tapi ia masih dengan senyum mautnya dan wajah seolah tak ada yang salah dengan perbuatannya.

Oh, Athrun dan wajah charming-nya! Haumea, ini tak adil!

"Apa?!" bentakku. Sebenarnya aku tak tega membentak wajah tampan itu.

"Kita masih ada urusan nona. Kau tak boleh ke kelab hari ini, besok dan seterusnya," tegasnya.

Ini dia, mulai lagi. "Dengar Athrun, aku delapan belas tahun. Aku bisa menjaga diri. Ingat, sabuk hitam!"

"Aku tahu. Tetap saja tak boleh, kau takkan pernah tahu, apa yang bajingan itu bisa lakukan padamu. Dunia seperti itu lebih berbahaya dari yang kau pikirkan."

Baiklah, aku sudah mulai risih. Demi Tuhan, aku bukan bayi! "Bisakah kau berhenti menjadi Kira yang kedua -"

"Apa maksudmu -"

"M-maksudku kau tak usah khawatir yang berlebihan seperti ini. Di sana ada Shiho -"

"Kau belum dua puluh satu tahun Princess, kau tak akan diperbolehkan masuk -"

"Kalau soal itu. Flay sudah mengatasinya. -"

"F-Flay!? Kau bersama Flay? Flay Allster?" tanyanya begitu terkejut.

Aku memang tak dekat dengannya. Kami bicara seperlunya. Jelas sekali, pembicaraan kami tak pernah nyambung.

Flay bicara fashion, aku bicara olahraga. Ia menggosipkan artis, aku menganalisis pertandingan. Ia menginginkan baju branded keluaran terbaru, aku menginginkan sepatu lari berkualitas bagus. Ia suka pergi ke salon, aku suka pergi ke gym. Beda dengan Shi yang ibunya seorang fashion designer, mau tak mau ia pasti mengetahui sedikit pembicaraan soal fashion.

Lihat sendiri bukan, aku dan Flay berbeda, lalu bagaimana ia bisa mengundangku ke kelab langganannya?

Pernah dengar 'dunia tak selebar daun kelor'? Sesungguhnya aku pun tak tahu bagaimana bentuk daun itu, ingin tahu? Gampang search saja di mesin Google, well ... untuk itulah mesin pencari fenomenal seperti itu diciptakan.

Eer, sampai dimana tadi? Yang jelas kita tadi tak membicarakan benda berklorofil bukan?

Oh ya Flay?

Teman sekamar Shiho adalah teman kecil Flay. Benar! Yang dijuluki ensiklopedia berjalan oleh Shi. Ia mengajak Shi dan vice versa. Intinya Flay tak mempermasalahkan.

Karena Flay, aku, Shi dan teman sekamar, seangkatan alias kami belum genap 21 tahun, maka si kaya Allster menggunakan kekuasaannya. Aku sendiri tak masalah karena kelab itu cukup aman.

Um, well setidaknya, katanya sih begitu.

Aku mengangguk. "Hm-mm, tunangan Joule."

Warna wajahnya berubah. Menggertakkan giginya. Ia bergumam sesuatu dan sepertinya, mengumpat. "Tidak. Ia memberimu pengaruh buruk Princess. Kau tak boleh pergi! Akhir cerita! Meskipun bersama Shiho."

"Kau berlebihan Athrun. Takkan terjadi apapun di sana. Percayalah padaku."

"Aku mungkin percaya padamu, tapi aku tak percaya dengan hidung belang di sana!"

Aku menggeleng. "Berdebat denganmu lebih parah dengan Kira. Aku yang akan memutuskan! Suka atau tidak, aku dan Shiho akan pergi dan kami akan kembali larut malam utuh, takkan terjadi apapun! Aku berjanji padamu!"

"Tap -"

"Athrun." Kuberikan tatapan aku-tak-mau-membahasnya-lagi.

Ia menghela nafas panjang. Ia menyerah dengan keputusanku. "Baiklah, boleh aku ikut?" Ia merajuk seperti anak kecil.

Sekali lagi aku memberinya apa-kau-bercanda looks. "Athrun, ini ladies night!" Yah ... terkadang aku merasa Athrun lebih cantik di bandingkan aku. Oke, hilangkan itu, darimana aku mendapat pikiran seperti itu.

"Hanya aku saja takkan mengganggu," ia masih bersikeras ikut.

"Tidak, kau di sini -atau menyusul Kira?"

"Aku tak mau, minum dengan Dearka akan berakhir ...," ia tak melanjutkan.

Alisku terangkat, "Be-ra-khir?" tanyaku penasaran.

Ia berkedip cepat, "Ah tidak. Jam berapa kau berangkat? Aku akan mengantarmu."

"Tak perlu, aku dan Shiho akan naik taksi."

"Oh tidak. Kau sudah membuatku pusing dengan pergi ke kelab malam sekarang kau mau membunuhku dengan pergi naik taksi?"

Kau tahu sesuatu, cukup sudah! Pria ini terlalu berlebihan! Demi Haumea, aku sudah dewasa! Aku bisa beladiri! Aku sudah delapan belas tahun! Hellooo ... aku sudah mempunyai id card kependudukan! Aku sudah mempunyai kakak yang protektifnya berlebihan! Dan aku tak membutuhkan yang kedua!

Apakah aku perlu mendaki Gunung Himalaya dan berteriak, "Aku bisa menjaga diriku!"

"Athrun kau sangat berlebihan!" Aku berdiri, "kau tahu, aku merasa tersinggung dengan ucapanmu! Maaf tapi, kau tak punya hak untuk terlalu khawatir padaku!"

Ia mengikuti tindakanku. Aku harus mendongak dan memberinya tatapan menantang. Terlihat jelas, raut kesal dan kecewa. "Tentu saja aku punya hak, karena aku ... aku ..."

Sepertinya ia terkejut dengan ucapannya, ia terhenti. Aku memiringkan wajahku. "Aku apa?" Sebenarnya dalam hatiku aku berharap dia menjawab, "kekasih" atau "pacar". Aku menunggunya. Berharap. Menunggu. Berharap. Please ... ucapkan itu.

Bola matanya menghindariku. Benda itu bergerak kemanapun selain menatapku. "A-aku ... kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri Princess."

Aku memutar bola mataku, melewati tubuhnya.

Tentu saja, aku ini mengharapkan apa?

"Kau kesal Princess." Ia kembali menangkap pergelangan tanganku. Tanpa melihatnya aku tahu ia khawatir.

Tapi aku sangat kesal. Garis bawahi, sangat. "Ya, karena kakak-kakakku tak mempercayai adiknya sendiri. Sekarang lepaskan, aku mau tidur." Ia melepaskan genggamannya ragu.

Tanpa menoleh aku beranjak ke lantai dua. Aku tahu setiap langkahku menaiki anak tangga ia masih menatap punggungku. Sampai di atas, kulihat ia sekilas. Ia memandangku sedih, seperti ada yang ia sesali.

Oh tidak Cagalli, kau masih kesal. Mereka memperlakukanmu seperti boneka Barbie. Kututup pintu kamarku keras tak mau kalah dengan apa yang dilakukuan Shiho tadi, kurebahkan tubuhku. Kusiapkan diriku bersenang-senang nanti malam.

Persetan dengan Athrun dan Kira.


TBC


Mind to review~

Thanks,

Fighting!

Nel. ^o^)9

Edited : 09/11/2014

Publish : 11/11/2014