Disclaimer: I don't own anything except this storyline!
A/N: Thanks buat yang uda nyempetin baca fic Yang Tak Terlupakan, dun het mi 4 tat hihi ...
Special thanks to : RenCaggie, NotName, AlyaZala, Ikma Zun, Mrs. Zala, Lenora Jime, Popcaga. Maaf belum bisa balas satu-satu coz lagi IN HURRY bgt, mohon maklum :D
Enjoy~
-oOoxnelxoOo-
.
Just a Lil' Sis?
.
Act 3-2
.
-oOoxnelxoOo-
Kira tersedak minumannya.
Dearka membuka rahangnya lebar.
Athrun menjatuhkan botol birnya.
Untunglah botol itu tak pecah.
By the way ...
Kira dan Dearka memutuskan ber-weekend-ria di apartemen kami. Entah bagaimana ceritanya, mereka memutuskan menghabiskan malam ini dengan bir, kacang dan nonton film maraton.
Dearka-lah yang pertama kali mendekati kami. Kami, which are, aku dan Shiho. C and Shi. Ia bersiul, melihat kami dari atas sampai bawah. Memutari kami. Aku seperti melihat bintang dimatanya. Membuatku sedikit geli.
"Babes~ kalian berdua, so fucking hot!" Ia mengklaim, membuat kami tertawa kecil.
Shiho mempermakku habis-habisan. Memakaikan sedikit make-up di wajahku dan meminjamkan salah satu dress-nya (yang kuanggap terlalu terbuka) padaku.
Shiho mengucir tinggi rambutnya. Memamerkan leher jenjangnya. Poni ala jepangnya di jepit ke belakang, menampakkan mata amethyst-nya yang indah. Rambutku agak lebih pendek karena Shiho meng-curly-nya sedikit. Poniku -yang masih straight- diarahkan ke samping.
Shiho memakai sleeveless v-neck dress putih tulang super ketat yang membuat lekukan di tubuhnya terlihat, dengan belahan dada rendah. Sedangkan aku dengan black dress tanpa lengan tak terlalu ketat (aku tak suka baju ketat, mereka membunuhku!). Bagian depan tertutup sedangkan bagian belakang, setengah punggungku terekspos.
Yeah Shiho is evil!
Shiho hanya memakai anting-anting silver panjang dan aku hanya memakai kalung dengan liontin ruby-ku yang biasa kupakai sehari-hari. Itu adalah charm luck-ku selama ini.
Aku tak bisa membayangkan memakai stilleto silver Shiho yang super tinggi itu, maka aku memilih wedges yang bagi Shiho tak cocok di pakai ke kelab. Kukatakan padanya, ini lebih baik daripada aku tak bisa berjalan. Ia setuju, karena ia tak mau melihatku terjatuh saat menari di lantai dansa.
Aku sudah menduga dengan penampilanku ini, Athrun dan Kira akan menatap kami horor, tapi aku cukup terkejut dengan muka aneh mereka.
Kira-lah yang pertama kali bicara. "K-kau, ap-apa, pakaian apa yang kalian pakai itu? Dan siapa yang mengijinkan kalian pergi? Naik ke atas dan ganti pakaian kalian? Terutama kau Cagalli Hibiki!"
Tsk!
"Siapa kau yang memutuskan kami pergi atau tidak?" balas Shiho tak mau kalah.
Kira berkedip cepat seperti ia mendengar sesuatu yang salah. "A-Apa? K-Kau ..." Kira tercekat lalu melihatku singkat. "Cagalli adikku dan k-kau ... kau sahabatnya."
Entah kenapa perkataan Kira seperti dejavu. Mengingatkan percakapan aku dan si rambut biru itu tadi sore. "Listen buddy, aku bukan siapa-siapamu Hibiki! Dan C berhak memutuskan hidupnya! Tidakkah kalian terlalu mengekangnya!? Demi Tuhan, ia adikmu bukan budakmu! Berilah ia kesempatan untuk melihat dunia luar. C wanita dewasa, ia sudah dapat membedakan apa yang tepat untuknya. C bukan anak kecil lagi, ia bisa menjaga dirinya, aku bisa menjaga diriku! Kalau kau khawatir kami akan melemparkan diri kami pada pria hidung belang di luar sana, kau jangan khawatir, tak ada rencana itu di otak kami. Atau setidaknya ... belum."
Wow! Kalau Kira bukan kakakku aku pasti sudah bertepuk tangan mendengar ucapan Shiho. Aku setuju dengan ucapannya tapi tidakkah itu terlalu ... pedas? Aku baru pertama kali melihat mereka berkelahi secara terang-terangan.
Wajah Shiho dan Kira hanya berjarak beberapa senti saja. Mereka kelihatan sangat kesal, sangat marah. Muka Shiho memerah. Kira hendak mengatakan sesuatu tapi ia urungkan. Ia sangat terkejut dengan celotehan Shiho. Tangannya mengepal, sangat erat. Napas mereka berat seperti menahan sesuatu yang meluap.
Aku sedikit khawatir pada Shiho. Sepertinya yang diucapkannya mengandung suatu arti lain. Ia seperti tak hanya membicarakan tentangku.
Kuhela nafas panjang. Apa aku harus mengatakan sesuatu atau -
"Ayolah dudes~ biarkan para wanita seksi ini bersenang-senang. Mereka bisa menjaga diri. Kalau ada yang macam-macam dengan mereka, aku pastikan para pencundang itu akan kehilangan 'bola' mereka," sahut Dearka disampingku, mencoba membela kami. "Dan ladies, kalau terjadi sesuatu kalian harus segera menghubungi kami. Oke?"
Bukan, kurasa ia bersikap mencoba menengahi kami, wow, bravo Elsman, tak kusangka kau dewasa juga dibalik sikap player-mu.
Aku mengangguk padanya, "Oke."
Shiho, masih beradu pandang dengan Kira, menjawab lirih, "Oke."
"Guys?" Dearka bertanya. Menanti jawaban kedua pria yang lain.
"Fine, kalian menang, lakukan sesuka kalian," jawab Kira, masih memandang Shiho. Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan merebahkan dirinya di sofa, menyalakan TV dan berlaku seolah tak terjadi apapun.
Shiho menghembuskan nafas panjang. Bahunya melemas, setelah sempat begitu tegang tadi.
Aku mengalihkan pandanganku pada pria bermahkota navy blue yang berdiri di depan lemari pendiri, yang tak mengeluarkan suara -selama perdebatan Kira-Shiho- sama sekali.
Ia tak tersenyum, juga tak telihat marah, sedikit terlihat tak nyaman. Ia menatapku lurus. Lagi-lagi, memandangku dengan ekspresi yang tak kukenal. Apakah ia terpengaruh dengan ucapan Shiho dan Kira ataukah ...?
Lama aku dan Dearka menunggu jawabannya.
Dearka membuka suara lebih dulu, "Athrun?"
Ia memutus kontak denganku. Matanya turun melihat botol bir yang terjatuh di lantai. "Berhati-hatilah," ucapnya lirih. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku sedikit kecewa dengan jawabannya tapi itu tak boleh merusak malamku.
"Bagus!" sorak Dearka.
Aku dan Shiho -yang sedang berjalan ke arahku- tersenyum padanya. Kami memberinya 'pelukan kakak' singkat dan mencium pipinya.
"Thanks, kau yang terbaik," bisikku. "No woman. No drunks. No sex," peringatanku.
Ia hanya berkedip, "Promise. Have fun. Temukan pria yang lebih hot dari aku, walau aku yakin itu sangat mustahil."
Aku dan Shi, terkikik kecil. Ucapan Dearka berhasil mendapat beberapa lemparan popcorn dari Kira.
"Hei!" teriak Dearka pada Kira yang kembali menonton televisinya.
Aku mencium Kira di pipi. "Kau tak usah cemas. Aku sayang padamu."
Kira masih marah tapi aku tahu itu tak sungguh-sungguh. Mengenal Kira, ia tak pernah bisa benar-benar marah padaku. Ia cemberut tak menatapku. "Cepat pulang. Love you too."
Shiho tak mengikuti jejakku, kulihat ia memeluk singkat Athrun. Ia mengucapkan sesuatu pada Shiho yang tak terdengar olehku. Shiho tersenyum, mencium pipinya. Kami berpapasan. "Kutunggu di bawah."
Ia tak berpamitan dengan Kira. Kira pun seakan tak peduli.
Giliranku ... mendekat pada kesatriaku.
Ia menatapku seolah aku adalah makhluk paling aneh di dunia. "Apa yang harus kulakukan agar kau membatalkan rencanamu malam ini. Kau membunuhku Princess."
"Grow up Zala, she's a big girl!" Kudengar Dearka menyahut dari jauh. Athrun tak memperdulikannya.
Aku hanya tersenyum dan memeluknya. Ia membalas memelukku seolah aku akan pergi sangat jauh. "Jaga kakakku, jangan biarkan dia mabuk." Permintaanku dalam pelukannya.
"Kau juga. Kalau terjadi sesuatu -"
"Kalian seperti mengharapkan terjadi sesuatu."
"God, no! Telepon aku sesampainya di sana."
Kudorong tubuhnya, satu lengan kokohnya masih memeluk pinggangku. "Athrun aku hanya pergi semalam!"
Ia menghela nafas panjang. Ia sama sekali tak tersenyum. "Kau membuatku sangat cemas Princess."
Mulai lagi. Kenapa semua lelaki hari ini bersikap seperti "Drama Queen", kecuali Dearka.
Kuputar mataku.
Ia makin cemberut. Ya Haumea, aku hampir membatalkan rencanaku melihat wajahnya yang menggemaskan. "Jangan memutar matamu lagi Princess. God, kau sangat cantik malam ini," Athrun berbisik. Haumea, suaranya sungguh seksi.
Kugigit bibir bawahku. Ia selalu berhasil membuatku merona. Wajahku begitu panas. "Jangan menggoda." Kulepaskan diri darinya. Aku takut ia menyadari perasaanku. "Bye Athrun." Kucium pipinya.
Ia masih tampak tak senang. "Jangan minum apapun terutama dari orang asing! Dan telepon aku." Wajahnya begitu serius. Aku menahan agar tak memutar mataku. Ia bahkan mengantarku ke depan pintu. Bukan hanya mata yang ingin kuputar, aku ingin memukul kepalaku sendiri.
Bukan hanya itu saja, ia sempat 'mengancam' supir taxi kami yang masih terlihat muda. Membuat supir itu sedikit ketakutan.
Setelah taxi itu berjalan meninggalkan apartemen kami. Kudengar ia bertanya padaku, "siapa dia nona, kekasihmu? Geez ... mengapa ia begitu menakutkan?"
Dari bangku belakang, aku terkejut mendengar pertanyaannya. Tapi senyum tipis tersungging di bibirku, aku yakin wajahku merona.
"Ehm ... begitulah ia," jawabku singkat. Dan supir itu mengangguk kecil. Aku tak mengiyakan dan tak membantahnya ketika ia mengatakan kekasih.
"Entahlah nona, meski ia menakutkan tapi kau sungguh beruntung, ia begitu khawatir dan peduli padamu. Ia romantis, ya ... kecuali dengan sifat temperamentalnya itu."
Shiho melihatku dengan pandangan menggoda. Ia berbisik, "Kau dengar sendiri bukan? Bahkan orang lain bisa melihatnya. Ia menganggapmu spesial C."
"Kuharap begitu,"jawabku lirih.
Tapi pengakuannya kalau ia hanya menganggapku adiknya masih terus berputar di kepalaku.
Seolah membaca pikiranku, Shi menyikutku lembut. "Kupastikan kita akan bersenang-senang malam ini. Ayo sejenak lupakan para pria bodoh itu!"
Kami terkikik kecil.
Yeah, this lil' sis will go to rule the world tonight!
TBC
Mind to review again?
Thanks,
Nel.
Fighting! ^o^)9
Edited/Updated : 20-11-2014
