Disclaimer : I don't own Gundam Seed/Destiny but this story is mine!


Special Thanks to: Mrs. Zala, RenCaggie, AlyaZala: Nih Alya dah updet :D, Dinah: Malaysia? Wow I'm flattered, anyway thanks rev-nya ;D, Lenora Jime, Ikma Zun: maaf pendek, kalau sekarang? Thanks rev-nya :D, and Popcaga.

Enjoy~

-oOoxnelxoOo-

.

Just a lil sis?

.

Act 4

.

-oOoxnelxoOo-

Seharusnya aku tak terkejut ketika Flay mengajakku ke club malam yang eksklusif. Sangat-sangat eksklusif. Kelab malam ini seperti hanya untuk kalangan VIP.

Aku mengenal beberapa wajah di sini, mulai dari artis, atlit bahkan kalangan politisi terkenal.

Wow!

Awesome!

Dan juga, aku mempunyai teman baru. Miriallia Haww, lebih singkatnya, Mir atau Miri atau Milly. Ia teman sekamar Shiho atau yang biasa ia sebut sebagai ensiklopedia berjalan. Kami langsung cocok saat pertama kali berkenalan di kelab malam ini.

Sementara Shiho dan Flay menikmati malam mereka dengan berdansa dan minum beberapa gelas. Aku dan Miri lebih memilih duduk dan mengobrol. Miri adalah salah satu anggota koran kampus. Tak heran ia mengetahui seluk beluk kampus. Ia dan Flay teman sejak kecil. Aku heran bagaimana orang seperti Miri bisa berteman dengan The Red Queen Arrogant Flay Allster?

Mungkinkah karena sifat mereka bertentangan?

Miri bukanlah partygoers. Ia mengikuti Flay karena khawatir ia bersikap ceroboh. Dan juga permintaan diam-diam dari Yzak Joule. Aku tertawa lepas mendengar 'rahasia kecil' si Joule. Joule yang sering memasang tampang jutek dan seram di balik wajah tampannya, sering berteriak bila bicara, mulutnya yang tajam dan pedas. Ternyata mempunyai sisi lembut bila menyangkut tunangannya.

Akan kujadikan ini senjata rahasiaku kelak, bila si rambut putih itu mengangguku.

Hah! Take that Joule!

Ada beberapa pria mendekati kami. Tapi Miri mempunyai cara mengusir mereka secara halus yang membuatku hampir mati karena tertawa. Wanita ini memang brillian, ia tangguh dengan caranya sendiri. Tak heran Shiho dan Flay bisa berkawan akrab dengannya.

Kau takkan percaya ini, ia mengatakan pada mereka, si lelaki hidung belang, kalau ia sudah mempunyai suami, bersama dengan kekasihnya atau (ini senjata paling ampuh) mengaku terkena HIV.

Apa kalian percaya itu?

OMG!

This is hillarious!

Shiho dan Flay akhirnya kembali dari petualangan mereka. Flay terlihat sedikit, aku beramsumsi ia mulai mabuk. Shiho meneguk minumannya sekali tegak.

"Aku tak mengajakmu ke sini hanya untuk duduk, C! Ayo kau harus ikut ke lantai dansa dan memamerkan pinggul seksimu itu!" Shiho menarik tanganku.

Aku menggeleng. "Aku cukup nyaman berada di sini." Aku melirik Miri singkat.

"Oh ayolah, jangan seperti si kutu buku itu, ia kemari hanya sebagai bodyguard Flay." Shiho mulai bicara ngelantur. Berapa gelas sebenarnya yang ia minum? Jujur, aku minum segelas kecil saja, tenggorokanku seperti terbakar. Bagaimana mereka bisa meminum ini setiap saat?

Aku menyerah, kuikuti permintaanya.

Kami berdansa. Menari. Menggerakkan tubuh kami. Dua orang pria mendekati kami. Ikut menari bersama kami. Shiho sama sekali tak merasa risih, ia bahkan mengalungkan kedua lengannya pada leher pria asing itu. Kedua tangan pria itu di bertengger di pinggul Shi. Walau minim cahaya, aku dapat melihat pria itu cukup menarik. Aku sendiri bisa merasakan tangan pria asing memegang pinggangku dari belakang. Ia menarik tubuhku hingga punggungku bersandar didadanya.

Kulihat, Shiho terlihat sangat menikmati berdansa dengan pria itu. Sedangkan aku -entahlah aku merasa sangat risih- seorang pria tak kukenal 'menggeranyangi' tubuhku. Pria asing itu menempelkan bibirnya ditelingaku. Aku bisa merasakan bau alkohol bercampur tembakau.

Ugh, kurasa bukan hanya rokok yang ia hisap. Baunya menyengat sekali.

"Aku hampir tak mengenalimu hari ini. Kau sangat sexy sayang~" bisiknya.

"Um ... thanks." Aku tak yakin menjawab apa.

Apa kita pernah bertemu?

"Kau sendirian bukan tanpa kedua bodyguard-mu itu? Hanya dengan para teman wanitamu. Aku sudah lama memperhatikanmu." Salah satu punggung tangannya mulai membelai kulit di lenganku.

Oke ini mulai creepy.

"Um ... apa aku mengenalmu?"

"Tidak sayang~ tapi aku mengenalmu. Kau ... salah satu gadis Zala bukan?" tanyanya.

Huh?

Aku berusaha menoleh padanya tapi ia menahannya. Kurasakan bibirnya mulai berpindah ke leherku. Aku mulai tak nyaman.

"Apa maksudmu?" Suaraku memang lirih, terkalahkan oleh dentuman musik keras di lantai dansa.

Entah ia mendengar atau dapat membaca pikiranku, ia berkata lagi dengan lirih, suaranya terasa berat dan parau. "Kau selalu ada bersamanya. Juga dengan Hibiki. Apa kau suka bermain dengan mereka? Sekarang kau sendiri. Apa mereka sudah membuangmu? Sayang sekali bukan gadis manis sepertimu di lempar begitu saja? Zala hanya tidur dengan wanita sekali, ia tak pernah tidur dengan wanita yang sama dua kali. Ia cepat bosan sayang~. Tapi ... tenang manis~ aku bisa memuaskanmu lebih dari ... Athrun Zala. Aku janji, takkan hanya semalam."

Mataku melebar.

Aku memang pernah mendengar ini langsung dari mulut Athrun. Tapi mendengar dari orang lain, entahlah, rasanya ... menyakitkan! Kukerahkan seluruh tenagaku, melepaskan diri dari bajingan ini. Terlepas, berbalik melihat wajah yang mungkin akan kuhancurkan, ia menyeringai. Kuacungkan telunjukku tepat di wajah sialannya. "Kau tak berhak menilai Athrun seperti itu! Dan aku bukan wanita seperti itu!" Aku hampir meninjunya jika tak segera pergi dari sana.

Tanpa mendengar balasannya, aku pergi mencari Shiho yang -shit! Ia berciuman tepat di tengah lantai dansa dengan pria asing! Sejak kapan ia menjadi wanita gampangan seperti itu?

Kutarik bahunya menjauh dari siapapun patner make out-nya. Ia mengumpat, marah tapi ketika melihat siapa yang mengganggunya, raut wajahnya bertanya-tanya. "C, apa yang kau lakukan?"

"Shi ayo pulang." Aku berteriak frustasi, suaraku tak kalah dengan irama musik di sini.

Ia memberikan tatapan "what!?", aku tak peduli, aku suka berada di sini, menari, tapi aku tak suka dengan apa yang dikatakan pria itu. Ia membuat 'peringatan Kira dan Athrun' terbukti!

Aku menarik lengannya menjauhi pria itu yang mengumpat padaku. Like hell I care! Shiho berdesis padaku selama perjalanan kami menuju Miri. "Kenapa denganmu?"

"Kenapa denganmu?" Aku balik bertanya dengan nada sewot.

"Apa maksudmu? Apa kau tak bersenang-senang?"

"Aku senang setelah -lupakan! Sejak kapan kau mencium pria baru kau kenal? Kau lupa apa yang kau katakan pada Kira huh?"

"Fuck! Aku tidak tidur dengannya, kami hanya berciuman! -"

"Bukankah itu sama saja? Ciuman lalu berlanjut ke tahap berikutnya, apa kau terlalu buta untuk itu? Apakah ini karena Kira?"

Ia balas menarik tanganku sehingga kami berhenti tepat di depan meja Miri dan Flay berada.

Ia menatapku tajam. "Jangan bawa nama kakakmu malam ini! Aku tak peduli apa yang dilakukannya di luar penglihatanku dan dia juga takkan peduli dengan apa yang kulakukan malam ini?"

Aku menantangnya balik, menyilangkan tangan di depan dadaku. "Oh ya! Tak peduli? Karena kakakku yang bodoh itu tak peduli maka kau mencari cara agar menarik perhatiannya?"

Matanya melebar, "Untuk apa aku harus mencari-cari perhatiannya!?"

"K-karena kau me-menyukainya!" teriakku frustasi.

Ia terdiam, matanya membesar. Aku tahu, aku menyentuh 'sesuatu yang vital'. Kami beradu pandang. Mungkin inilah perkelahian besar pertamaku dengan Shiho. Salahkan mood-ku saat pria brengsek itu berkata buruk tentangku, serta Shi yang mulai mabuk dan bertingkah seperti wanita jalang.

Aku mendengar Flay berteriak sambil tertawa, "Woohoo~ girls fight!"

Ia jelas mabuk berat, kudengar lagi suara Miri. "Flay tenanglah, ayo kita pulang -kau mabuk!"

Shiho berpaling, ia menghembuskan nafas besar. "Kau tahu, kau benar, semuanya percuma."

"Shi ..." Aku benci pertengkaran kami, tapi, aku lebih membenci wajah sedihnya itu. Sebelum aku mencoba menjelaskan, aku merasa ada seseorang tepat dibelakangku.

"Lihat ... siapa yang ada di sini? Pelacur kecil milik Yzak dan budaknya Haww. Dan ... mainan baru Kira, ups sori kau tak terkenal -aku tak tahu namamu dan tak penting -karena sebentar lagi Kira juga akan bosan." Kudengar suara asing dengan nada (jelas) mengejek. Membuatku berputar, bertemu dengan wanita serba pink, dibelakangnya dua wanita berperawakan model, pakaian mereka sungguh sangat minim. Seriously? Wanita merah muda itu mengingatkanku pada tokoh kartun, Pink Panther! Apa wanita ini tak salah kostum?

Hellooo … Halloween sudah lewat girls!

Shiho menipiskan matanya, pandangannya seperti ingin mengirim seseorang hari ini ke rumah sakit! Menggertakan giginya, ia berdiri tepat disampingku. Kulirik Flay pun berusaha bangkit di bantu Miri, ia kelihatan tak senang.

Sama sekali tak senang.

"Campbell." Menipiskan matanya, Flay akhirnya bersuara, anehnya, ia tampak tak mabuk seperti barusan.

Campbell? Hmm ... sepertinya aku pernah dengar. Ah, aku ingat! Miri. Ia tadi bercerita padaku soal aku harus berhati-hati pada Campbell ... Meer Campbell. Relationship crusher!

Wanita berambut panjang dark pink, dengan outfit terbuka, berusaha memamerkan 'asset' dengan ukuran tak normalnya itu. Apa benar itu asli? Daripada itu, ada yang lebih penting. Selain ia suka selain 'mengumbar' tubuhnya pada pria-pria di luar sana, ia tak peduli pasangan tidurnya itu lebih muda atau lebih tua darinya, mempunyai kekasih bahkan beristri. Kalau ia suka, ia akan dapatkan -tak peduli bagaimanapun caranya.

Miri, Flay dan Meer, mereka dulu satu SMA. Salah satu SMA elit di Aprilius City. Hubungan mereka sangat tak baik. Kurasa ... sampai saat ini. Aku tak tahu apa yang menyebabkan hubungan mereka begitu 'panas'. Kalau mendengar dan melihat sendiri saat ini, kelihatan jelas, Meer Campbell bukan tipe yang bersahabat.

Kelihatannya Kira dan Athrun pun tak luput dari incaran si pinky bimbo ini, atau mungkin ... mereka sudah -

"Allster honey~ kau dan teman udikmu itu tak pantas berada di sini. Kalian hanya mengotori tempat ini. Membuat tempat ini jadi tak berkelas." Ia menatap kami jijik. Aku ingin menarik bibir kelewat merah miliknya.

"Bagaimana denganmu Campbell? Siapa yang kau tiduri kali ini agar mendapatkan akses masuk kemari huh? Kau tahu club ini tak sembarangan menerima tamu apalagi wanita jalang kelas rendah sepertimu?" Flay masih bisa membalas walau agak gontai.

Oke, Flay si mulut pedas kembali!

Meer membelalakkan matanya. Ekspresinya kesal. Ia hendak mengucapkan sesuatu tapi ia batalkan. Tak lama ia menyeringai. "Mungkin saja yang kutiduri itu ... Joule~"

Apa!

"Fuck you bitch! Kubunuh kau!" Flay murka. Ia hampir mencakarnya dengan kuku panjangnya kalau Miri tak menghentikannya.

"Coba saja kalau berani Allster~" Meer masih berdiri di sana dengan bangganya. Sungguh, aku ingin mendorongnya dan menghajarnya sampai babak belur.

"Flay! Hentikan!" Miri sekuat tenaga menahan Flay yang memberontak. Miri menang, karena ia tak mabuk. Ia menyeret Flay sekuat tenaga. Lalu berteriak pada kami. "Cagalli, Shiho ayo kita pergi!"

Saat kami akan beranjak pergi, kudengar Meer bersuara. "Cagalli? Kau yang selalu menguntit Athrunku bukan?"

'Menguntit? Athrunku?' Langkahku terhenti. Aku menoleh padanya. "Permisi?" Aku memaksakan diriku bersikap sopan.

"Kau mendengarnya. Sampai kapan kau menguntit Athrunku huh? Bukankah kau sudah tidur dengannya? Jadi pergilah darinya? Jangan memanfaatkannya lagi hanya karena kau adik sahabatnya?"

Apa!?'

Alisku bertautan. Urat halus muncul di keningku. "Hubunganku dengan Athrun bukan urusanmu. Jangan memanggilnya seolah kau memilikinya! Oh, jangan-jangan kau sudah tidur dengannya? Maaf tapi Athrun tidak tidur kedua kalinya dengan wanita yang sama. Kau sama saja dengan pelacur yang lain baginya." Aku benci saat membayangkan Athrun tidur dengan wanita ini!

"Ap-apa katamu! Beraninya kau wanita jelek. Bukan berarti karena kau terlihat ... terlihat berbeda hari ini dan kau berhak membandingkanku dengan wanita lain yang tidur dengannya! Bukankah kau sama saja -tunggu, Athrun tidak tidur denganmu! Aku lupa, Ia hanya menganggapmu sebagai adik. Adik kecil! Nah little sis~ apa yang kau lakukan di sini, pulang sana dan minum susu~" ledekannya itu berhasil membuat kedua pelacur lain di sisinya tertawa lebar. Shiho menarik pergelanganku, ia tahu aku sanggup menghajar wanita ini dalam hitungan tiga detik. Tapi yang membuatku kesal, bagaimana bisa Athrun mengatakan padanya bahwa aku, adiknya!

"C ayo pergi, ia tak pantas menerima pukulanmu!" Shiho mencoba menahanku.

"Pelacur Kira itu benar adik kecil~ pergilah ini sudah malam, ups, maksudku pagi. Kakak Kira dan kakak Athrun akan khawatir nanti~" bicara sekali lagi, ia akan mati!

Shiho mengeratkan genggamannya. Ia berdesis, wajahnya begitu serius. "Dengar C, aku juga sangat ingin menghajarnya tapi pikirkan Kira dan Athrun bila kita membuat keributan di sini!"

Aku masih menatap Meer dengan kemarahanku yang memuncak. "Pergilah loser~ shoo~ ingat jauhi Athrunku! Jangan ada di sini lebih lama lagi, atau usaha Athrun melindungi keperawananmu akan sia-sia! Woops, aku lupa lagi, itu 'kan rahasia kami! Kalian percaya, masih ada perawan jaman sekarang? Hahaha ..."

Tubuhku yang menegang menjadi lemas seketika. Shiho menyadari karena aku tak melawan lagi. Aku tahu ia cemas melihatku. Tapi aku tak bisa memalingkan wajahku dari Meer dan kawannya yang menertawaiku.

Oh Haumea, Athrun memang sudah tidurnya saja, itu sangat menyakitkan. Tapi, mendengar Athrun menceritakan segalanya tentangku, itu seperti menikamku dari belakang perlahan.

Seketika itu, waktu seperti terhenti, kepalaku terasa sakit, aku seperti tak merasakan tubuhku, aku bahkan tak dapat mendengar apapun.

"C ...?" Shiho sedikit menggoyang tubuhku, membuatku tersadar. Kulirik Shiho singkat lalu kembali pada Meer yang memasang wajah serius kali ini.

"Kuperingatkan kau, jauhi Athrun. Ia milikku! Atau kau menyesal nantinya! Selesai denganmu, ia akan melemparkanmu seperti sampah dan ... Athrun akan selalu kembali padaku!"

"Athrun bukan milikmu bitch!" Shiho berteriak padanya.

"Hmm? Itu berlaku untukmu juga, lebih baik jauhi Kira sebelum kau menangis saat ia melupakanmu." Meer menyeringai.

"Kau! -"

"Aku tak peduli kau adik Kira atau bukan. Athrun bukan tak ingin tidur denganku lagi. Ia malah sangat menginginkanku lagi. Karena kau disekitarnya, ia tak ingin menyakitimu. Ia hanya kasihan denganmu. Apa kau tahu sesuatu? Akulah wanita yang bisa memuaskannya di ranjang. Setiap sentuhanku terasa sensitif baginya. Ia menginginkan lebih. Apa kau ingin tahu bagaimana wajahnya saat kami bersatu? Saat ia mencapai kepuasan? Saat ia meneriakkan namaku? Saat ia -"

"Cukup!" Tanpa sadar aku berteriak. Menutup telingaku. Aku tak ingin dengar lagi. Aku ingin pergi dari sini. Sekarang akulah yang menarik Shiho.

Kudengar ia terus bicara dan tertawa tapi aku tak mendengarnya jelas. Yang aku tahu, aku ingin keluar dari sini secepatnya.

Aku memang percaya bahwa Athrun mengganggap sebagai adik tapi yang tak percaya -yang tak ingin kupercayai- adalah ia mengatakan itu pada Campbell the bitch.

Biar kutebak, Athrun pasti mengatakan itu saat mere-mereka melakukan the 's' thing.

Ugh, kalau itu benar, Haumea kumohon tolong aku.


TBC


A/N: Marah 'kan?! Sy aja marah, lho?! haha ... Semoga gag di bilang pendek lagi *nervoussmile*. Updated cepat (kepedeen hehe …) takut keburu sibuk lagi … *nervoussmile*.

Mind to review again?

Thanks,

Nel.

Fighting! ^o^)9

Edited/published : 23/11/2014