The Grown Up Sehun
Sehun x Luhan (Hunhan)
Romance; Drama
Rated T-M
3-shots
authored by: exoblackpepper
Chapter (1/3): I think I like you
.
.
.
Luhan mendesah untuk kesekian kalinya. Sahabat baiknya tak henti-hentinya memohon –coret– merengek lebih tepatnya padanya. Si lelaki berambut pirang itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu mengerutkan alisnya bingung.
"Baek, aku bahkan tak mengenal adikmu," katanya sambil memindahkan posisi ponselnya dari telinga kanan ke telinga kiri.
"Ayolah, Luhan. Aku terjebak macet disini. Adikku sudah menunggu dua jam menunggu di sekolah, kau tak kasihan padanya? Hhh… adikku yang malang," Luhan semakin bingung. Apa ia harus menolong sahabatnya ini? Sebenarnya ia tak keberatan namun Luhan sama sekali tidak mengenal adik Baekhyun. Yah, walaupun ia dulu pernah bertemu dengan adiknya sekali.
Luhan mengetuk-ngetuk setir mobilnya, berfikir. Lalu menghela nafas singkat. "Baiklah. Kirimkan aku alamat sekolahnya," Luhan lalu mematikan sambunugan teleponnya karena ia tahu orang di seberang sana pasti akan berteriak kesenangan dan akan memekakkan telinganya.
Luhan mempercepat laju mobilnya membelah jalan raya kota metropolitan ini. Ia mengerutkan keningnya berusaha mengingat wajah yang tidak familiar baginya. Sudah beberapa bulan yang lalu, atau mungkin hampir setahun –Luhan bahkan tak ingat– ia bertemu dengan lelaki kurus tinggi dengan wajah innocent (kalau tidak salah ingat) dengan senyum tipis yang sederhana. Luhan terhenyak. Ia tak menyangka pertemuannya dengan pria itu di sebuah florist di tepi jalan distrik itu bisa membuat ingatannya merekam dengan jelas figure orang itu. "Hm?" gumamnya ketika pandangannya menembus kaca mobil dan mendapatkan tempat yang baru saja berada di benaknya.
Bayangan seseorang dalam benaknya semakin jelas. "Well, setidaknya aku tidak akan salah mengenali orang nanti,"
Porsche putihnya berhenti di tempat parker yang terlihat jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Sekolah yang menarik, pikir Luhan.
Baru saja Luhan keluar dari mobil, sosok ramahnya atau lebih tepatnya wajah hampir sempurna-nya sudah menarik perhatian beberapa orang yang lewat. Sesekali ia tersenyum pada beberapa orang hingga seseorang yang berdiri di tangga tepat di depan pintu utama, mendecak kesal. Luhan menyipitkan matanya, "Harusnya itu dia," Sambil setengah berlari menghampiri pria dengan seragam putih kusam itu.
"Sehun? Kau Sehun 'kan?"
"Kau? Yang di florist?" tanya Sehun tak acuh. Yang ia inginkan hanya Baekhyun datang menjemputnya dan pulang sesegera mungkin.
"Ya, Baekhyun memintaku untuk menjemputmu,"
"Kemana dia?"
"Ia bilang terjebak macet, so… ya, aku yang menjemputmu,"
Sehun mendecak lagi dan berjalan mendahului Luhan tak acuh. Hampir saja Luhan ingin berteriak tidak sopan. Namun percuma saja Sehun sudah terlalu bad mood, ia tidak berniat peduli terhadap apapun.
Sepanjang perjalanan tak ada satupun yang berinisiatif memecah keheningan. Ditambah lagi Sehun yang sedang merajuk semakin membuat Luhan malas untuk mengajaknya berbicara. Sesampainya mereka di depan rumah yang familiar bagi mereka berdua, si pemuda yang lebih tinggi langsung keluar dari mobil Luhan. Tanpa ucapan terima kasih atau apapun. Luhan mengendikkan bahunya tak peduli. Yang pasti Baekhyun harus mentraktirnya makan setelah ini.
Luhan menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. Berulang kali ia menekan-nekan tombol bel yang terletak di dekat pintu masuk kediaman keluarga Baekhyun. Sudah setengah jam pemuda cantik itu berdiri di depan pintu rumah Baekhyun. Ia yang meminta pertolongan Luhan untuk mengerjakan tugas kelompok bersama tapi justru sang tuan rumah memperlakukannya begini.
"Jika kupencet bel ini sekali lagi dan ternyata tidak ada yang membuka pintu juga, aku pulang," batin Luhan.
TING TONG
Well, tak ada tanda-tanda kalau pintu akan dibuka. Luhan memutar matanya malas dan berbalik badan ingin melangkahkan kakinya kembali ke mobilnya dan pulang. Namun suara pintu terbuka membuat Luhan kembali membalik badannya dan bernafas lega. "Akhirnya kau membukakanku pintu juga Baek–" Ucapan Luhan terhenti ketika melihat sesosok orang yang membukakannya pintu bukanlah Baekhyun , yakni seorang pemuda berkulit putih dengan handuk melilit di sekitar pinggangnya dan tubuh yang masih dipenuhi peluh air. Tampaknya orang itu baru selesai mandi.
Luhan berusaha keras untuk menyingkirkan pikiran-pikiran negatifnya tentang bocah –dia menyebutnya begitu– di depannya ini. "Kau masih bisa melihat tubuhku di dalam kok," ucap Sehun santai sambil tersenyum miring.
Luhan mematung di depan pintu sambil berusaha menelan hasil ekskresi mulutnya sendiri sambil memandangi punggung Sehun yang menjauh namun bayangan itu bahkan terlihat –sempurna.
"Kau mencari Baek-hyung?" Luhan mengangguk polos. Persetan, entah kenapa Sehun merasa gemas dengan wajah imut yang Luhan tunjukkan padanya. Bulu matanya lentik dan wajah putih polosnya.
"Ia belum pulang, kau tahu Baek-hyung penjual jam karet. Seharusnya kau dating satu jam dari perjanjian awal," jelas Sehun sambil membenarkan handuknya dan mengacak rambut coklat kehitamannya asal.
Persetan, entah mengapa Luhan merasa darahnya mengalir lebih deras.
Sepintas pikiran Luhan terbang ke beberapa waktu lalu ketika ia masih bertemu si bocah yang sangat mirip anak kecil, dan ia mempertanyakan apakah Sehun sudah sebesar itu, atau waktu berputar lebih cepat –atau apapun.
"Lu–?"
Sehun membuyarkan lamunan Luhan.
"Hyung?"
"Hm?"
Luhan terhuyung ke belakang ketika Sehun sudah berada di depan wajahnya dan ia baru saja sadar sedetik yang lalu. Dengan sigap Sehun menangkap pinggang mungil Luhan.
Dan ini persetan untuk kesekian kalinya.
Bulir-bulir air menetes dari surai Sehun jatuh diatas permukaan leher Luhan membuatnya harus menahan diri. Ia bisa melihat wajah dewasa Sehun dari dekat dan ia tidak tahu apa yang telah merasuki pikirannya.
"Hyung?" Luhan membenarkan posisinya.
"Ya?"
"Aku akan berpakaian dulu, kau mau ikut atau–"
"Ah, silakan. Aku akan menunggu disini," Sehun tersenyum penuh arti sambil mengerling nakal, hampir saja Luhan melihatnya.
Luhan mendudukkan dirinya diatas coach kuning muda milik keluarga Baekhyun yang terletak strategis di ruang tamu nan minimalis ini. Tak ada yang berubah secara signifikan. Mungkin hanya letak meja kecil yang tadinya berada di sisi coach itu dipindahkan. Tanpa berbasa-basi dan membuang waktu, lelaki cantik itu menjejerkan semua alat-alat gambarnya di atas lantai marmer yang tampak mahal itu. Memang menjadi mahasiswa technical drawing harus mempersiapkan segala jenis alat dan bahan untuk menggambar dan tentu saja waktu luang yang cukup untuk mengerjakannya.
Suara pintu terbuka menandakan si pemuda tampan itu sudah keluar dari kamarnya. Luhan hanya acuh tak acuh –atau mungkin berusaha demikian– ketika Sehun duduk di coach yang tadi Luhan duduki. "Lebih baik kau bereskan lagi, Baekhyun hyung takkan se-tepat waktu itu," tuturnya santai seakan sudah biasa –memang kenyataannya begitu. Luhan pun menoleh. "Biarkan saja seperti ini. Yang penting jangan kau utak-atik,"
Luhan pun bangkit dan berjalan menuju dapur, mengambil segelas air untuk melepas dahaganya. Bukannya tidak sopan, tapi Baekhyung sudah sering memberitahu Luhan untuk menganggap rumahnya sebagai rumah sendiri, jadi Luhan tak perlu ambil pusing. Tanpa lelaki cantik itu sadari, sedaritadi Sehun melihatinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Desas-desus mengatakan kalau IQ Sehun diatas rata-rata. Ia mampu mengerjakan 50 soal olimpiade dalam waktu hanya setengah jam, bahkan ia sampai dijuluki 'si jenius Oh' oleh teman-teman dan guru-guru sekolahnya juga. Entahlah kenapa Luhan tahu tentang semua rumor itu.
Luhan menggagap itu aneh atau perasaannya dan entah mengapa kasus 'tidak penting' ini membawanya ke perpustakaan publik dan mencari tahu mengenai IQ, kepribadian, dan segala jenis masalah psikologi. "Ck!" Luhan berdecak ketika ia mengetahui fakta yang sesuai dugaannya. "Sejak kapan aku peduli dengannya!" Luhan beranjak keluar mengacuhkan apapun yang dibacanya tadi.
"Oh my–"
Luhan berhenti ditempatnya ketika tangannya meraih kenop pintu dan membuka papan kayu dan wajahnya bertemu wajah Sehun yang baru saja mendongak setelah selesai menunduk fokus pada ponselnya. Untung saja Sehun spontan meraih pinggangnya atau Luhan akan terhuyung ke belakang dan jatuh. Keduanya terdiam sesaat hingga Sehun tersenyum miring yang membuat Luhan merinding.
"Lain kali kau harus lebih hati-hati, hyungie," Luhan membulatkan bola matanya mengutuk siapapun.
"Mengerti, hm?" Sehun berbisik dengan suara sensualnya. Luhan menyentuh dada bidang Sehun yang dilapisi kemeja putih polos yang astaga–
"Luhan berhentilah berpikir yang aneh-aneh," Hingga Luhan berbicara dengan dirinya sendiri seperti tidak waras.
"Hm, mian Sehun-ah,"
"Never mind," Sehun mengedipkan sebelah matanya bersama dengan senyuman setengah aneh bagi Luhan. Dan Luhan masih menempelkan telapak tangannya di dada Sehun.
Sehun mengalihkan pandangannya pada tangan Luhan yang masih menempel disana secara sarkastik, alis kanan yang naik dan senyuman miring menggoda.
"Ah, sorry,"
Kebiasaan mahasiswa technical drawing yang banyak mempergunakan bahasa Great Britain itu.
"Gotta go, bye," Luhan tersenyum manis. Ia benar-benar harus meninggalkan perpustakaan umum ini.
"Hyung!" Sehun menahan tangannya. "Kau akan ke rumah hari ini?"
"Mungkin," Kalau Baekhyun tidak jam karet.
Sehun mengangguk mengerti dan membiarkan punggung Luhan menjauh dari pandangannya.
Sepertinya batin Luhan benar-benar butuh direparasi. Sedaritadi ia masih memikirkan kejadian tadi, dimana tangan Sehun menyentuh pinggangnya dan suaranya yang rendah dan serak itu– oke, cukup. Luhan menggelengkan kepalanya beberapa kali, membuat beberapa pengunjung kafé lain menatapnya bingung. Ia menyesap americano nya, lalu mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya. Terlihat sekali ia sedang menunggu seseorang.
"Maaf aku terlambat–"
"Lagi," Luhan menghela nafas sambil melihat arlojinya malas.
Si lelaki berambut hitam legam itu duduk di hadapan Luhan. Si mata doe menatap orang di depannya itu, ada yang berbeda.
"Hey, kau tampak lebih baik dengan haircut seperti itu," Baekhyun tersenyum puas. "Thanks, dude,"
Kedua orang ini lalu membicarakan hal-hal berbau teknik menggambar dan lain-lain yang membuat mereka lupa waktu. Kurang lebih sudah 2 jam mereka berceloteh sambil bercanda. "Tunggu, Lu. Ada telepon masuk," Baekhyun menginterupsi kalimat Luhan.
"Ada apa?" tanya Baekhyun pada seseorang di seberang sana.
Yang dapat Luhan tangkap dari pembicaraan sahabatnya di telepon adalah bahwa ia diminta tolong untuk menjemput seseorang. Dan benar saja, Baekhyun tak membawa kendaraan. Yang berarti lagi-lagi Luhan harus mengorbankan waktu dan bensinnya untuk menjemput seorang bocah SMA tingkat akhir itu.
"Persetan kau, Baek," batin Luhan kesal ketika Baekhyun malah tidak ikut menjemput adiknya dan malah pergi kencan dengan 'teman'nya. Luhan merasa terperalat. Ia merasa ia adalah supir pribadi keluarga Baekhyun. Salahkan dirimu yang terlalu baik, Xi Luhan.
Luhan memarkirkan mobilnya di lahan parkir sekolah yang sekarang mulai terasa familiar baginya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah megah itu, seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok si jenius yang manja itu. Atau jenius menggoda, atau whatever it is.
Luhan memutar bola matanya kesal tetapi wajahnya tidak bisa sealur dengan kondisi hatinya.
"Hey, hyung," Seseorang berlari kecil ke arahnya dengan senyum cerah. Luhan mengernyitkan dahinya bingung, ia telat 45 menit dan bocah itu tidak temperamen kali ini.
"Kau ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu bersantai,"
Luhan tidak suka tempat ramai, tipikal mahasiswa technical drawing yang mengungkapkan perasaannya dengan seni dan itu semua butuh ketenangan. Sehun tidak begitu masalah dengan itu.
"Baekhyun mengizinkan kau keluar?" Luhan seolah menginvestigasi pria disampingnya yang harus diakui sore ini terlihat jauh dari yang Luhan bayangkan. Ia jauh dari taraf penampilan seorang anak SMA melainkan a good-looking and superb man as British model. Bocah itu nyaris outrageous bagi semua wanita, Luhan yakin itu. Sehun mengangkat alisnya dan mengendikkan bahunya sebentar.
"Maksudmu?"
"Aku tidak peduli ia tahu atau tidak, ia pasti masih sibuk dengan teman kencannya,"
Sedikitnya Luhan merasa bersalah untuk mengajak adik teman satu fakultasnya keluar tanpa seizin Baekhyun. Luhan mengusap tengkuknya merasa canggung dengan atmosfir ini. Jalan tanpa arah menyusuri distrik bebas kendaraan yang memberikan kesan romantis dengan lightingnya di setiap semi-bar yang mereka lewati. Beberapa pasang mata menatap mereka sembari tersenyum ringan dan hal itu membuat Luhan semakin salah tingkah karena berdiri disamping pria tinggi tegap berbalut sweater abu-abu v-neck ini.
Entah apa maksudnya Sehun mempercepat langkahnya mendahului Luhan dan pria pirang itu mengikutinya.
"Ck-"
"Eh, mian, Sehun-ah,"
Sehun menatap Luhan penuh arti setelah pria yang jauh terlihat lebih manis hari ini menginjak sepatu kicker-nya.
"Lebih baik kau berjalan disampingku, hyung. Atau kau akan terus menginjak sepatu mahalku?"
"Bukan begitu-" Sehun menarik lengan Luhan untuk berdiri sejajar dengannya sebelum Luhan menyelesaikan penjelasannya.
"Jangan menghancurkan ekspektasi orang-orang yang melihat kita," Sehun menggandeng telapak tangan Luhan yang lembut sambil tersenyum ke arah depan tanpa menatap ekspresi pria cantik yang tidak mengerti sama sekali.
"Hm? Maksudmu?" Luhan setengah berbisik sambil mendekati Sehun karena apa yang bocah dewasa itu katakan barusan tampak mengerikan karena menyangkut 'orang-orang'.
Satu lagi pasang mata yang menatap mereka cerah. Sehun melingkarkan lengannya pada pinggang Luhan dan tersenyum ramah pada mereka.
"Sehunnie-" Luhan bergumam pelan.
"Kau panggil aku apa barusan?" Sekarang giliran Sehun yang menatapnya tidak percaya.
"Hm- nope. Tidak, bukan apa-apa," Luhan menunduk dengan pipi yang mulai memerah.
"Okay," Sehun menarik pinggang Luhan lebih dekat hingga mereka benar-benar persis seperti dugaaan orang-orang yang melihatnya, sepasang kekasih. Dan itu ekspektasi orang-orang yang tidak Luhan mengerti.
"Jadi, nama lengkapmu?" Sehun bertumpu dagu menikmati bentuk mata pria dihadapannya. Pria berhidung lancip dan bibir tipis yang tak begitu lebar. Belum lagi pipi putih yang cenderung merona benar-benar berhasil menarik perhatian Sehun yang jarang tertarik pada hal-hal seperti itu.
Luhan membasahi bibirnya yang terasa kering karena Sehun terus menatapnya sebelum ia membuka suara.
"Xi Luhan,"
"Hm, I see," Sehun mengangguk mengerti, menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dan menyilangkan kedua telapak tangannya. Senyumnya cerah, sangat mirip seperti ia ketika mendapatkan ide bagus. Percayalah, ini brilliant.
"Mengapa tersenyum?" Luhan menatap pria aneh itu bingung. Sehun bergeming dan masih menatapnya hingga arloji hitamnya berbunyi membuyarkan lamunannya.
"Sudah hampir jam 8, kau ingin pulang?" Luhan mengangguk. Ia memang ingin pulang karena beberapa hal sebagai pertimbangan, dan Sehun salah satunya.
Kedua orang itu keluar dari kedai bernuansa Jerman klasik dan itu membuat Luhan senang. Semi-bar pilihan Sehun memberinya banyak inspirasi. Dan juga percakapan hangat yang diberikan Sehun membuat Luhan tidak pernah senyaman ini, termasuk dengan Jongin.
Sehun menyentuh punggung Luhan, memastikan pria itu tidak terhuyung ke belakang atau semacamnya. Dan berakhir dengan rangkulan pinggang yang manis yang mampu membuat jantung Luhan berdegup hingga ujung pavement ini. Dan Sehun mengantarnya hingga depan pintu rumah pria itu.
"Good night, Xiao Lu," Sehun menyunggingkan senyum tulus pada Luhan dengan tatapan lembut dari garis mata teduhnya. Luhan terdiam. Kemudian Sehun menutup pertemuannya dengan Luhan mala mini dengan sebuah kecupan di pipi Luhan.
"Aku akan mentraktirmu minggu depan!" katanya setengah berteriak sambil berlari dan menghilang dari pandangan Luhan.
Luhan harus segera mengembalikan nyawanya kali ini. Like… seriously…
"Hm, Sehunnie," batinnya. Ia sedang berbaring menatap langit-langit kamar abu-abu miliknya. Sebuah suara tiba-tiba saja melintas di benaknya dan itu mampu membuatnya tersenyum sendiri.
Sejak tempo lalu, atau hampir seminggu yang lalu, ia bahkan sulit tidur akibat memikirkan seseorang. Banyak yang harus dikerjakannya, begitu pula dengan kata-kata sejenis statistik, matriks, geometri, namun satu hal yang ia tahu pasti, Luhan. Nama itu bahkan tidak bisa lepas dari benaknya. Bayangan ketika si pria pirang memanggilnya manja dengan sebutan 'sehunnie', walau hanya sekali tetapi benar-benar member dampak signifikan baginya. Suara Luhan adalah candu baginya atau ia terlalu jatuh ke dalam pesona sunbae-nya itu.
Sehun meloloskan senyum miringnya, dan meraih ponselnya.
[94sehuna: Aku akan pulang telat besok, kau yang jemput aku atau Luhan hyung?]
Sebuah pesan masuk, dikirim oleh Baekhyun di kamar sebelah.
[baekhyunee_b: Mengapa mendadak? Jangan salahkan aku kalau Luhan akan marah-marah karena ia harus menjemputmu lagi.]
Gotcha.
Sehun tampak drunk kali ini, dan jenius.
.
.
.
Chapter 1 - END.
Ching-chongs:
IYA TAU KOK INI PENDEK BANGET FUFUFUFU :3
Gimana kesannya chapter 1? kalau aneh n mngecewakan maap yea maklum ini sambil dengerin pelajaran bikinnya u,u
BTW ganti pen name lagi nih fuahahaha (kali ini ga ganti2 lagi deh #gakjanjiLOL) soalnya exo itu mirip lada hitam/? anget2 panasin kadang nyiksa huhuhu #curcol #gajeabiz
uda ah ngomongnya, bingung mo ngomong apa lagi xD
REVIEW DIWAJIBKAN!
.
BEST REGARDS,
-exoblackpepper-
