Chapter (2/3): May I?
.
.
Entah setan apa yang kini merasukinya, Luhan langsung menyetujui permintaan Baekhyun. Bisa jadi karena kejadian tempo lalu dimana ia "berkencan" dengan si bocah yang telah dewasa itu. Bahkan ciuman singkat Sehun di pipinya masih terasa dan jika Luhan memikirkannya, ia akan merona sendiri. Yang dapat ia simpulkan sejak pertama bertemu Sehun sampai saat ini, Sehun adalah anak manja yang jenius tapi berwajah dingin dan terkesan arogan. Dan tentu sudah terbukti.
Baru saja Luhan ingin membunyikan klakson mobilnya, lelaki itu sudah standby di depan pintu gerbang sekolahnya. Tanpa ragu, Sehun pun masuk ke dalam mobil.
Tampak sekali dari wajahnya kalau Sehun sedang dalam mood yang baik, malah kadang ia bersenandung mengikuti lagu yang diputar di radio. "Sedang jatuh cinta?" canda Luhan sambil terkekeh. Tanpa Luhan duga, Sehun mengangguk. "Yah, begitulah," Si mata doe hanya mengangguk-angguk lalu menatapnya jahil.
"Apa?" tanya Sehun. Lelaki satunya menggeleng. "Dasar anak sekolah," gumamnya.
Mereka berhenti di suatu tempat berpemandangan bagus di pinggiran ibukota. Danaunya jernih, langitnya bersih, anginnya nyaman. "apa kau keberatan jika aku kesini sebentar? Yah, kau tahu aku mahasiswa jurusan menggambar," kata Luhan sambil mengeluarkan sketchbook dan sebuah pensil HB dari laci mobilnya.
"Take your time, I'm always free,"
Mereka melangkahkan kaki mereka senada diatas batuan besar di pinggir danau. "Hati-hati," Sehun menggenggam tangan Luhan erat seakan takut badan kecil Luhan akan terbang diterpa angin. Sehun benar-benar tak melepaskan pandangannya se-inci pun dari lelaki di depannya itu.
Luhan memulau skets tipis diatas kertas putih yang cukup lebar dan tiba-tiba saja suaranya membuat Sehun terhenyak. "Tak usah terus memperhatikanku, aku tidak akan kabur," katanya dalam senyum tanpa mengalihkan pandangannya.
Sehun menaikkan sebelah alisnya, sedikit tersipu. Ia tidak nyaman dengan pakaian seragamnya yang membuatnya tampak lebih mirip seperti bocah.
Sehun dengan sabar menunggu Luhan yang makin lama semakin tenggelam ke dalam dunianya sendiri. Bayangan, goresan, koordinat gambar, semua itu membuat Luhan hampir lupa dengan Sehun. "Okay, I'm done," Luhan berbalik dan melihat Sehun masih memandangnya.
"Sudah berapa lama tidak berkedip?" Luhan mencoba menggoda bocah itu.
"Aku baru tahu kau ingin diperhatikan olehku," Baiklah, ternyata Sehun lebih hebat dalam hal ini. Luhan mengumpat dalam-dalam karena ia sudah salah bicara, sekaligus mencurigai apa yang bocah itu pelajari di sekolah. Ilmu pengetahuan atau cara mempermalukan orang -lebih tepatnya mempermalukan Luhan.
Kali ini Luhan diam, tenggelam ke dalam pikirannya lagi. Sehun tidak tahu apa yang terjadi dengan pria disampingnya.
"Kau kenapa?"
"Tidak," jawab Luhan singkat.
"Pemandangan itu merasukimu?"
"Kau bercanda?"
Sehun mencoba menebak apa yang membuat atmosfir ini sangat hening karena seingatnya Luhan tak menyukai kecanggungan.
"Aku tidak mengerti Lu-" Sehun memulainya lagi dengan tidak sopan. "-hyung," ralat Sehun.
"Kau marah denganku?"
"Tidak,"
Hening.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali ke mobil dan mengantat Sehun pulang. Hanya membutuhkan sekitar 15 menit mobil Luhan sudah berada di depan pintu rumah keluarga Baekhyun.
"Aku akan meneleponmu," Sehun keluar dari mobil putih itu.
Well, Luhan harus memikirkan kata 'ya, begitulah' dari Sehun atas pertanyaannya tadi. Sehun sedang jatuh cinta.
Oh.
Luhan membuka matanya perlahan ketika ia merasakan getaran di kasurnya yang sangat mengganggu tidur-di-jam-petang-nya. Seseorang meneleponnya berkali-kali. Luhan dengan malas mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya. "Halo?"
"Luhan hyung?" Suara ini. Suara yang belakangan ini mengisi kapasitas memori otaknya dan tentu dengan sekali dengan ia sudah tahu itu siapa.
"Ya?" jawab Luhan dengan suara serak khas orang baru bangun tidurnya. Terdengar suara kikikan dari ujung sana. "Ada apa, Sehun? Aku tak mau membuang waktuku hanya untuk mendengar suara kikikanmu itu,"
"Ehm," Ia berdehem sebentar. "Masih marah? Well, aku minta maaf jika aku mengganggu jam tidurmu," Luhan masih terdiam, sedang mencoba mengumpulkan nyawanya kembali. "La...lu?"
"Aku tak mengerti denganmu, hyung," Luhan bingung. Sebenarnya apa yang bocah ini pikirkan? "Kau tahu nilai akademisku selalu bagus, pelajaran-pelajaran yang kupelajari di sekolah terlampau mudah, dan bahkan hal yang baru kupelajari dengan mudah kukuasai. Tapi kau, hanya kau yang bisa membuatku kewalahan begini, hyung. To the pointnya, kau adalah hal terumit dan tersulit yang pernah kupelajari, bahkan s sampai saat ini juga,"
Luhan terdiam sejenak, berusaha mengaktifkan syaraf-syaraf otaknya untuk bekerja mencerna apa yang barusan Sehun katakan. Ia mengernyitkan keningnya sambil mengusap matanya. Bocah itu benar-benar meneleponnya di saat yang tidak tepat.
"Hyung, kau masih disana?"
"Ya, aku mendengarkanmu,"
"Ada apa denganmu, hyung?"
Luhan benar-benar tidak bisa mengerti apa yang ingin dikatakan Sehun. Otaknya sudah korosif karena terlalu banyak mata kuliah yang harus dihafalnya dan bocah ini mengganggu istirahatnya. Ia benar-benar haus menahan diri, Luhan tidak ingin memulainya.
"Jadi kau meneleponku untuk itu, Sehun-ah?" Luhan membenarkan posisinya dan bersandar di headboard ranjang putihnya, memijat pelipisnya pelan berusaha terjaga demi bocah di seberang sana yang meneleponnya.
"Aku ingin mempelajarimu, hyung. Aku sangat tertarik,"
Apa ini ajakan kencan? Jika iya, ini benar-benar tidak romantis. Jika tidak, lalu apa lagi? Luhan lagi-lagi memaksa otaknya untuk bekerja mencerna apa maksud tersirat dari kalimat yang Sehun lontarkan.
"Jika kau bermaksud mengajakku berkencan, aku menolak,"
"Dan kalau kau mengatakan kau tidak mengerti, aku bahkan jauh lebih tidak mengerti, Sehun-ah," Luhan melanjutkan kalimatnya.
Seketika sambungan telepon hening, tidak terdengar suara apapun.
"Kau sudah selesai?"
"Hello?"
"..."
"Sehunnie?"
"..."
"Kurasa memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, akan kututup teleponnya,"
Luhan beranjak dari ranjangnya, berniat mengambil segelas air. Ia merasa dehidrasi setelah argumen singkat dan menyebalkan dengan Sehun yang sama sekali tidak beresensi baginya.
"Tsk," Luhan mendecak dan memutar bola matanya malas sambil berjalan menuju pintu kaca geser yang tertutup gorden biru muda bercorak garis vertikal. Luhan menggeser gordennya dan-
Wajah Sehun ada dibalik pintu kaca membuat Luhan terkejut setengah mati.
"Apa yang kau lakukan?" Luhan memekik.
"Aku hanya memastikan kau baik-baik saja," jawab pria -yang lagi-lagi berpakaian casual itu- polos.
Dan disinilah mereka, berdiri di ambang pintu dengan kedua pasang manik mata yang saling bertemu. Sehun memberikannya tatapan polos namun Luhan menangkap goresan kekhawatiran. Dan sedetik yang lalu Luhan baru menyadari Sehun bahkan tidak menyisir rambutnya dan sekarang tampak berantakan. Rambut coklat gelap berantakan.
Luhan merasa bersalah, ia mengurungkan niatnya untuk berbicara ketus pada pria yang berhamburan datang ke rumahnya hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.
"Well, Sehun, dengar. Tidak ada apa-apa denganku. Tidak ada yang terjadi. Benar, kau sudah lihat bukan?"
Luhan memutar tubuhnya didepan Sehun dan kemudian menepuk pundak kiri Sehun. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku, but I'm okay,"
Laki-laku berambut pirang itu menyunggingkan senyumnya tipis. "Mau masuk?" Luhan membuka pintu rumahnya lebih lebar. Awalnya Sehun tampak ragu; antara memilih pulang sekarang sebelum Baekhyun mengocehinya, atau mampir sebentar ke rumah orang yang membuatnya sangat tertarik akhir-akhir ini.
"Mungkin sebentar," Sehun tersenyum lalu masuk ke dalam rumah Luhan.
"Disini tak semewah rumahmu," Luhan berjalan menuju ruang tamu yang terletak tak jauh dari pintu. "jika kau mau sesuatu bilang saja padaku," Si lelaki yang lebih tinggi mengangguk.
Sehun ternyata berpikir lebih rumit dari yang Luhan kira. Bahkan apa yang dikatakan Luhan selalu bisa dijadikan nuklir bagi dirinya sendiri.
"Aku ingin kau jujur, hyung," Luhan menghentikan langkahnya. Sehun menatap punggungnya berharap lelaki pirang itu menoleh ke belakang.
"Hm?" Luhan menoleh dengan tautan alis dan pandangan tidak mengerti seolah membatin 'apa?'.
"Anybody tells a lie?" Luhan bertanya dengan nada sedikit sarkastik. Sehun berjalan mendekati Luhan dan berdiri tepat didepannya. Sehun menunduk dan menangkap manik doe yang membuat Sehun harus menahan diri mati-matian untuk tidak mengecup kelopak mata itu sekarang.
"Sehun-ah, apa-" Sehun mendekatinya dan Luhan berjalan mundur hingga punggungnya menemukan kulkas dan terhimpit. Untuk beberapa waktu, keduanya hening. Sehun menikmati wajah Luhan yang membuat ia tidak bisa berpaling dan Luhan menyukai garis rahamg tegas Sehun.
Luhan merasakan ada yang salah dengan orang dihadapannya. Ia merasa sedikit hangat, terlebih ketika Sehun menggenggam tangannya.
"Kau sakit?" Raut wajah Luhan berubah cemas. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Sehun.
"I'm okay,"
"No, you aren't, Sehun," Luhan mempertegas kalimatnya dengan nada bicara yang benar-benar menunjukkan Sehun tidak dalam keadaan baik.
"Kau harus istirahat," sambungnya. Luhan menatap Sehun. Entah mengapa tangannya terayun untuk merapikan surai rambut Sehun yang berantakan.
"You are the one who is not okay," Sehun menimpa, memberikan pernyataan yang membuat Luhan menatapnya dalam dan menghentikan tangannya yang sedari tadi membereskan surai coklat tebal itu.
"Kau tampak marah padaku dan aku tidak mengerti. Harusnya aku mengerti karena IQ-ku yang diatas rata-rata dan segala intelejen yang aku punya, namun kau tidak semudajh itu dimengerti-"
"Apa yang kau bicarakan? Kau tak perlu mengerti tentangku, tidak, sangat tidak perlu. Kau telah membicarakan hal ini dan akulah satu-satunya yang tak mengerti, bukan kau,"
Luhan menghela nafasnya malas, tidak berniat untuk menatap Sehun yang bersikeras meminta pandangan Luhan, atau lebih tepatnya memohon. Penampilannya terlihat lebih kacau sejak mereka memulai percakapan yang tidak akan berakhir baik.
"Well, Sehun, kau harus istirahat. Ingin kuantar pulang atau kau beristirahat disini saja?"
"Aku pulang sendiri," Pria tinggi itu berjalan menuju pintu kaca sebelah sana sebelum memberikan senyuman tipis untuk Luhan yang membeku.
"Glad to know you are okay,"
Dan semenjak itu, hubungan mereka berangsur memburuk.
Ini pertama kalinya mobil kesayangan Luhan masuk bengkel karena kecerobohannya. Tadi siang ia tak sengaja menabrak trotoar jalan kerena menghindari kucing yang sedang lewat -dan mungkin faktor melamun. Setidaknya ia tak berhasil mengambil nyawa seekor kucing. Setidaknya hanya membuat bumper mobilnya ringsek sedikit. Sedikit.
"Eum, halo? Jongin?" Air wajah Luhan berubah menjadi cerah ketika salah satu orang yang paling ia percaya sejak sekolah menjawab panggilannya. Bisa dibilang ini pertama kalinya mereka berkomunikasi sejak kelulusan beberapa tahun lalu.
Luhan meminta pertolongan Jongin untuk menjemputnya di bengkel karena seingatnya si pemuda berkulit gelap eksotis itu kebetulan tinggal di dekat sana dan jarak dari bengkel ke halte cukup jauh. Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil. Kaca mobil hitam mengkilap itu turun dan menampakkan wajah yang sudah amat Luhan kenali dengan baik. "Lulu!" panggilnya setengah berteriak. Lelaki yang merasa terpanggil menghampirinya. "Keberatan memberiku tumpangan sampai halte sana?"
"Sampai Hongkong pun aku takkan keberatan. Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar? Yah, kurasa banyak cerita menarik untuk diceritakan since it's been a long time," Luhan berpikir sejenak. Tak ada salahnya juga reuni dengan teman lama.
Mereka sampai di suatu pusat perbelanjaan besar dan cukup terkenal disana, jadi tak heran jika Jongin -lelaki itu- agak kesulitan mencari tempat parkir. Untunglah ada satu mobil yang keluar dan Jongin langsung memarkirkan mobilnya.
"Kau masih suka pancakes?" Luhan mengangguk. Tangan Jongin dengan santainya bergelayut pada pundak Luhan, dan Luhan tidak keberatan karena memang begitulah kebiasaan Jongin dari dulu.
"Chocolate pancakes with lemon sprinkles," Jongin masih hafal nama kue yang sudah menjadi candu bagi Luhan sejak dulu. "dan seleramu belum berubah, kan?" Jongin meliriknya dengan sudut mata sambil tersenyum memastikan.
Luhan tertawa kecil sambil menepuk lengan Jongin pelan.
"So, how's life so far?" Luhan masih melahap pancakenya dengan lahap sambil mengangguk. "Eum, aku bertemu seseorang beberapa bulan terakhir, dan dia hm-"
Luhan berusaha menelan makanannya, namun tanpa disadarinya, Jongin menangkap gurat bahagia di raut wajah pria cantik itu, "aneh," sambungnya sambil menaikkan sebelah alisnya seperti menjelaskan 'I have no idea about it!'
"Bagaimana denganmu?"
"College, biasa saja," Jongin mengendikkan bahunya tidak peduli. Setidaknya Luhan ingin tahu, apakah Jongin masih hm- menyukainya. Luhan tidak bermaksud menyombongkan dirinya atau apapun, hanya saja Jongin pernah mengatakan demikian. Namun setidaknya hubungan mereka masih baik-baik saja sejauh ini.
"Tunggu, pria yang kau bilang tadi? Pacarmu?"
Luhan harus memaafkan Jongin yang bertanya se-terus-terang itu hingga membuatnya hampir tersedak dan ia memalingkan wajahnya untuk batuk. Tidak lucu kan ia batuk dan menghamburkan gigitan pancake di depan pria tampan itu.
Sayangnya, hidup memang tidak berjalan mulus, sama seperti pepatah. "Ya Tuhan, apa lagi sekarang," batinnya ketika benaknya mereka-ulang kejadian sejak pagi tadi. Bumper mobil, ponsel low-batt, dan sekarang bocah itu benar-benar menghantuinya.
"You okay, Lu?"
Seseorang diseberang sana menatapnya dengan wajah datar dan Luhan berpura-pura tidak melihatnya.
"Tidak apa-apa,"
Jongin dan Luhan kemudian melanjutkan acara mengobrol-tentang-bagaimana-hidupmu-sekarang. Sesekali mereka tertawa terlalu kencang, sesekali Jongin mencomot pancakes Luhan, sesekali Luhan melirik ke seberang sana -dimana disana ada seorang lelaki berseragam sekolah sedang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan walaupun ia sedang bersama teman-temannya.
Luhan memicingkan matanya dan berharap Jongin tidak menyadarinya, bahkan bocah itu sudah menghilang ketika Luhan melirik ke arahnya lagi. Sekilas Luhan bernafas lega, namun hati kecilnya seperti memikirkan apa yang anak itu lakukan. Luhan berusaha untuk tidak peduli karena ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan Jongin, tapi entahlah.
"Eh, tunggu," Suara telepon Luhan menginterupsi percakapannya dengan Jongin.
"Ya, halo?"
"Oh- Baek, sepertinya tidak bisa,"
Luhan mendengus kesal sebelum berbicara panjang lebar setengah menggerutu. "Kau tahu, mobilku rusak, bumper ringsek, ponsel sekarat, dan masih banyak hal yang membuatku- atau keadaan ini tidak kondusif untuk menjemput Se- Tunggu. Sehun?"
"Iya, Sehun. Oh ayolah, ia sedang bersama temannya dan ia memintaku untuk menjemputnya,"
Demi neptunus, Luhan tidak berani membayangkan bahwa ia harus pergi mencari Sehun di sekitar daerah ini dan membawanya pulang seperti anak kecil tersesat.
"Tidakkah bisa ia pulang sendiri? Aku sedang-" Luhan menggantungkan kalimatnya membuat Baekhyun mengernyitkan keningnya menunggu jawaban pria yang menjadi lawan bicaranya itu. Luhan tampak menimbang sebelum akhirnya menjawab. "-berkencan," Ia harap Jongin tidak memperhatikannya.
Dan setidaknya hal itu sukses membuat Baekhyun tersedak. Baekhyun sedikit merasa bersalah karena telah mengganggu temannya itu walaupun ia sama sekali tidak tahu-menahu sejak kapan Luhan mulai berkencan.
"What? Tsk. Sehun pasti sudah menunggu lama. Baiklah, sorry anyway," Akhirnya Baekhyun hanya menjawabnya singkat. Tidak ada guna juga memaksa Luhan, ia tidak bekerja untuknya kan?
"Siapa?" Jongin membuyarkan lamunan Luhan.
"Baekhyun. Kau masih ingat?"
"Hm, ya, kinda. Pria berisik itu kan?" Luhan mengangguk dengan senyum simpul yang sulit diartikan.
Sampailah mereka di akhir hari, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam dan mereka benar-benar menjalani hari dengan menyenangkan. Yah, kalian tahu kan perasaan ketika bertemu dan hangout bersama teman lama. "Rumahku disini, Jong. Katanya mereka akan mengantarkan mobilku tepat di depan rumahku besok pagi. Hmm, thanks for today," Jongin mendekatkan wajahnya pada Luhan dan si pria imut itu hanya bisa terdiam dengan ekspresi canggung.
"J-jong-"
"Hanya melepas safety belt-mu," jelas Jongin sambil tersenyum dan safety belt yang melingkar di tubuhnya sudah terlepas.
Seketika Sehun terhenyak. Perasaannya terombang-ambing. Pemandangan di depannya membuatnya semakin tak mengerti. Kalau ia tak salah ingat, minggu lalu ia tak sengaja bertemu Luhan di toko roti di dekat rumah dan si mata doe tersenyum padanya -menurut Sehun, lelaki itu masih memberinya kesempatan- tapi sekarang ia melihatnya dicium lelaki lain. Apa-apaan? batinnya. Sehun mengacak rambut dark-brown-nya frustasi, lalu beranjak dari balik tembok gang itu.
"Se-sehun?" Luhan sedikit tergagap. Sehun terhenti untuk sesaat merasakan jantungnya yang juga membeku, sayangnya manik mata Sehun masih bisa menangkap gurat merah merona di pipi Luhan.
"Bagaimana kencanmu?" Sehun mempertanyakan suatu hal secara sinis dengan makna didalamnya yang membuat Luhan terdiam seribu kata.
Pria dengan garis mata lurus itu mendekati wajahnya pada Luhan, persis seperti yang pernah ia lakukan. Hanya berjarak tidak lebih dari tiga sentimeter Sehun hampir saja akan mendaratkan sebuah ciuman pada pria dihadapannya. Namun anehnya ia mengurungkan niatnya, menekan emosinya agar tidak bertindak ceroboh.
"Kau menguntit, hm?" Kali ini Luhan tampak tenang dalam menghadapi pria tinggi itu. Bahkan Luhan tidak berusah menghindar, tapi tidak berniat menerima juga. Rumit bukan? Hal ini membuat Sehun benar-benar frustasi karena ternyata kejeniusannya tidak bisa berfungsi disini. Sama sekali tidak berguna ketika bersama dengan Luhan dan hanya Luhan.
"Mungkin kau ingin mengatakan sesuatu?" Luhan mendekatkan bibirnya pada bibir Sehun namun sama sekali tidak berniat untuk menciumnya melainkan hanya menggantungnya, membiarkan udara hangat yang keluar dari mulutnya menerpa bibir tipis Sehun ketika ia berbicara tepat disana.
Sehun memejamkan matanya sebelum akhirnya berjalan mundur menjauhi Luhan. Ia menatap Luhan sekilas, "Maaf," kemudian pergi melewati Luhan dari hadapannya.
Luhan menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Ia tak tahu apa yang dilakukannya. Lamunannya buyar ketika suara singkat dari ponselnya merengek pertanda ada pesan masuk.
[jonginini: Good night]
"Night, Jong," gumamnya tanpa berniat membalas kakao-talk dari Jongin dan menonaktifkan ponselnya. Terlalu banyak yang terjadi hari ini membuatnya lelah. Luhan tidak ingin membohongi dirinya. Dari benaknya yang paling dalam, ia berharap Sehun bisa menjadi mood-boosternya, bukan malah memperburuk keadaan. Kau bodoh, Xi Luhan.
Ketika benaknya menentang harapan yang dibuatnya secara tidak langsung, Luhan perlahan mengerti. Sehun takkan menjadi orang seperi yang diharapkan. Ingat apa yang bocah itu katakan? Sehun sedang mencintai seseorang, dan itu saja cukup untuk Luhan. Cukup untuk membuat harapan bodoh yang berkaitan pada Sehun.
Luhan tersenyum manis dan masuk ke dalam rumahnya, dengan pintu kaca yang ia tutup dengan kasar, melampiaskan perasaannya yang tidak karuan.
Belakangan ini Luhan selalu menerima paketan. Entah itu bunga, cokelat, buku gambar, dan lain sebagainya. Nama pengirimnya hanya tercantum 'H' dan Luhan sudah tahu itu pasti adalah Sehun. Ia tak suka diberi hadiah, Luhan merasa sedang disogok -entah apapun jenis motifnya. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengembalikan semua ini pada Sehun setelah ujiannya selesai, secepatnya. Dan hari itu adalah hari ini.
[Aku akan berkunjung. 7PM.] -from: Luhan
Sent.
Tangan-tangan Luhan dengan gesit mengepak barang-barang pemberian Sehun ke dalam kardus. Di dalam batinnya ia sedang menyusun skenario apa yang harus ia lakukan dengan segala respon tak terduga Sehun nanti. Ponsel Luhan bergetar, tanda SMS masuk.
[OK.] -from: Sehun
"Kuharap ia sendirian di rumah," batin Luhan. Tentu saja ia tak mau diinvestigasi Baekhyun ini itu. Ia butuh waktu berdua saja dengan Sehun. They really need to talk. Luhan butuh penjelasan apa maksud si lelaki berkulit putih itu terus mengiriminya barang.
Luhan meraih ponsel yang tergeletak di sofa beige di bagian kiri ruangannya dan menekan tombol logs dan, ya, seseorang menjawabnya dengan suara khasnya.
"Hai, Lu,"
"Hey, Baek. Hari ini kau berkencan dengan pria tinggi itu?" Luhan mengangkat kardus-kardus kecil ke sudut ruangan dekat pintu.
"Harusnya iya, entahlah, Chanyeol melanggar janjinya akhir-akhir ini," jawab Baekhyun lemas di seberang sana dan seketika saja Luhan mendapatkan lampu neon di kepalanya menyala.
"Kau harus curiga untuk itu," Luhan mengatakannya seolah akan ada hal paling buruk terjadi pada pria mungil itu -sengaja membuat Baekhyun panik.
"Benarkah? Oh, Luhan, kau harus menolongku," Baekhyun terdengar setengah frustasi.
"Kau harus bertanya padanya segera. Malam ini!"
Baekhyun yang sudah diburu cemas mendengarkan ucapan asal Luhan yang ternyata berhasil membuat Baekhyun tidak di rumah malam ini. Luhan tersenyum puas sebelum mematikan ponselnya dan mengubah ekspresinya.
Baru saja Luhan menghempaskan tubuhnya pada sofa kulit, sebuah panggilan masuk lagi. Ponselnya berdering tanpa henti. Luhan memutar bola matanya malas sebelum merekayasa nada bicaranya.
"Hey, Jong,"
"Hmm, sepertinya tidak bisa,"
"Why?"
"Ada yang harus kulakukan malam ini, mungkin lain kali? So sorry, Jongin,"
"Nevermind. Akan kubawakan beberapa pancakes nanti," Pria di seberang sana terdengar bersikeras untuk ingin bertemunya.
"Jam berapa?"
"Hm, 6:30 I'll be there,"
Mengingat Jongin tidak pernah terlambat, Luhan mengiyakannya. "Harusnya ia hanya mengantar pancakes," batin Luhan sembari mengendikkan bahunya, namun alih-alih matanya malah terkatup.
Dan benar saja, Jongin sangat tepat waktu kali ini. Seketika mata Luhan berbinar ketika mencium harumnya pancake yang dibawakan Jongin dan itu terus menerus membuatnya menelan liurnya sendiri.
"Kau tidur? Aku tidak ingin mengganggumu," pria berkulit agak gelap itu masih sama, bersikap cool dan dingin namun masih mampu menyampaikan rasa perhatiannya yang terdengar sedikit berlebih pada orang-orang yang ia sayangi. Well, kata-kata ini cukup untuk menjelaskan apa yang dimiliki Jongin untuk Luhan, perasaannya.
Luhan tersenyum simpul, "Tidak apa, no worries,"
"Lu, barang-barang itu? Kau berniat untuk pindah rumah?"
"Tidak, itu hanya barang-barang yang akan kukembalikan pada pemiliknya,"
Jongin mengangguk mengerti walaupun sedikit rasa curiga mampir di benaknya.
"Thanks for the pancakes, Jong," kata Luhan sambil melahap kue kecil itu dengan seru dan Jongin juga. Sesekali Luhan memberikan thumbsup pada Jongin seolah memberitahu bahwa pancakes-pancakes itu benar-benar membuatnya tidak bisa berhenti. Diselingi dengan percakapan hangat dan singkat yang membuat keduanya semakin akrab, terlihat jelas Jongin mengusap sisa whipped-cream di sudut bibir Luhan.
"Hm, Jong, I think I should go–" Luhan menginterupsi pembicaraan.
"Doing stuffs? Apa kau perlu tumpangan?"
Luhan tampak berpikir, mobilnya sudah kembali tetapi apakah itu bagus jika ia menolak kebaikan Jongin. Maksudnya, ia tidak tega.
"Um, kurasa tidak. Mungkin kau punya pekerjaan lain. Thanks,"
Jongin tersenyum untuk Luhan, "Tidak sama sekali. Come on, its okay. Memangnya dimana?"
Jongin terdengar antusias kali ini, padahal ia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Luhan.
"Tidak, aku bisa pergi sendiri, jangan khawatir," Luhan meyakinkan pria tan itu untuk membiarkannya pergi sendiri. Beruntung Jongin mengerti dan tidak memaksa lagi sehingga ia kembali dan Luhan bergegas untuk membelah jalanan kota dengan Porsche putihnya. Pasalnya, ia sudah telat setengah jam. Belum lagi perjalanan lima belas menit, "Sehun pasti marah, ck," batin Luhan, setidaknya ia berusaha menyiapkan dirinya.
"Okay, hh..here we go,"
Luhan menekan tombol bel ragu-ragu setelah menghela napas beberapa kali. Dari yang awalnya gugup hingga bosan menunggu karena kebiasaan keluarga ini adalah, selalu membiarkan tamunya menunggu.
Ketika Luhan mulai akan mencibir lagi, pintu papan berwarna putih didepannya memberikan tanda-tanda terbuka, dan benar saja, seseorang tengah berdiri didepannya sementara Luhan hanya bisa terperangah –untuk kesekian kalinya.
"Masuklah," si pria berwajah maskulin itu tersenyum tampan sambil menatap Luhan hangat.
Demi apapun, Luhan ingin mengabadikan pemandangan didepannya. Poloshirt hitam yang menempel di tubuh tegapnya membuat warna kulit putih itu semakin bersinar. Ditambah lagi dengan jeans yang semakin membuatnya terlihat dewasa. Luhan meneguk liurnya pelan, lalu mendongak menatap wajah itu. Rambut dark-brown yang tadinya tebal berponi berubah menjadi rambut messy-spike yang memperkuat kesan cool-nya.
"Nicehair," puji Luhan karena kata-kata yang terselip di bibirnya tidak bisa ditahannya lagi.
Sehun tersenyum miring, "Thanks," lalu mendekati wajah Luhan. Benar-benar dekat.
"Lemon Sprinkle?"
Rasanya Luhan ingin pingsan ketika ujung lidah Sehun menyentuh sudut bibirnya.
"Asam. Tetapi banyak yang menyukainya. Membingungkan, seperti kau,"
Luhan melangkahkan kakinya mundur. Ia tidak ingin Sehun membuatnya lupa akan tujuannya kesini. Dan pembicaraan ini, Luhan tidak berpikir ia berniat untuk melanjutkannya. Ia meletakkan kardus-kardus itu.
"Aku tidak mengerti apa mau-mu padaku Sehun-ah. Apa maksudmu dengan memberiku barang sebanyak ini? Menyogokku? Membayarku? Aku sama sekali tidak butuh ini, Sehun,"
"Biar kutebak. Jongin memberimu pancakes lagi. Makanya kau terlambat datang. Benar?"
Luhan mendesah tertahan sambil memutar bolamatanya malas.
"Lalu apa urusanmu? Kau tak perlu merepotkan dirimu untuk menguntitku atau apalah itu. Terimakasih. Ini barang-barang pemberianmu. Aku pulang,"
Luhan benar-benar tidak tahan lagi, ia tak mau meledak didepan orang yang membuatnya frustasi sekaligus salah tingkah. Akhirnya pria itu membenarkan lengan sweaterbeige yang sedang dipakainya, lalu tersenyum paksa.
"Hey bukankah itu tidak sopan jika kau tidak mampir," Sehun menarik pergelangan tangan Luhan dengan pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkannya. Sepertinya ia tidak ingin melepaskan Luhan kali ini.
"Aku sibuk,"
"Apa? Jongin? Ah benar, aku bisa memberikanmu seratus pancakes setiap hari kalau kau mau," katanya dengan alis tebal yang bertaut dan menyilangkan kedua lengannya, menatap pria yang sudah jengkel setengah mati itu dengan pandangan remeh.
"Listen, aku tidak perlu semua itu. Kalau kau berpikir dengan memberiku segala jenis barang itu bisa membuatku bersikap baik dan menjemputmu setiap hari, kau salah,"
"Tapi kau butuh, kan? Apa salahnya dengan menerima itu semua?"
Luhan malas berdebat dengan Sehun. Penampilannya yang hampir mirip pria dewasa ternyata dihancurkan oleh sifatnya yang semakin, err– menyebalkan.
"Kau salah dengan memberikanku ini semua. Lebih baik kau memberikannya pada orang yang –you are falling in love with–" Luhan menatap Sehun dengan sorot mata tajam dan berdecak. Kata-kata itu meluncur begitu saja membuat Sehun terdiam.
"Tunggu, hyung,"
Luhan berhenti namun tidak menoleh.
"Jadi aku salah dengan memberimu itu semua," Kali ini Luhan bersyukur Sehun bisa mengerti.
"You said it right,"
Luhan mulai melangkah lagi, kali ini lebih lambat setelah menghela napas pelan. 'anak itu benar-benar bodoh atau naif,' pikirnya.
"Hyung," Sehun memanggilnya dengan suara berat dan penuh penyesalan.
"Bisa ikut aku sebentar?"
Sebenarnya Luhan ingin menolak, sebagai antisipasi kalau Sehun akan bersikap jauh lebih menyebalkan dari tadi dan Luhan lagi-lagi harus bersabar. Tetapi entahlah, hatinya tidak sejalan dengan pikirannya kali ini. Alih-alih ia malah bertanya.
"Kemana?"
Ekspresinya berubah ketika Luhan menatap Sehun. Sementara orang yang ditarik malah tidak menjawab apapun kecuali menarik tangan Luhan dan merogoh sakunya untuk mendapatkan kunci mobil.
"Sehun-ah, aku tidak bisa bermain billiard,"
Seketika saja mood-nya berubah. Luhan buru-buru merespon ketika ia tahu Sehun akan membawanya ke tempat itu.
Sementara pria albino itu tersenyum tipis, tapi kali ini berbeda. Bukan senyum merendahkan, bukan juga senyum yang menggoda gadis-gadis, melainkan senyum teduh seperti meminta agar pria yang sedang duduk disampingnya untuk tenang.
Sehun merasa ia memahami sesuatu secara perlahan, lewat argumen singkat yang sangat menyebalkan bagi Luhan tadi, ia menangkap sesuatu yang belum pernah ia mengerti. Luhan menjelaskan sesuatu yang rumit baginya dan Sehun spontan melakukan hal yang diperintahkan oleh benaknya.
"It's okay, aku bisa mengajarimu, hyung. Mudah saja" Sehun meyakinkan pria cantik disampingnya sembari memaparkan senyum itu lagi membuat Luhan yang hampir meledak tadi, berubah gugup.
Demi apapun, Sehun terlalu mahir atau jenius karena kali ini ia berhasil membuat Luhan mengukir senyum di bibirnya. Entah mengapa rasanya Sehun memeluk tubuhnya dengan senyuman hangat itu. Jantung Luhan berdegup, kali ini lebih tidak teratur.
Luhan benci ketika dirinya seperti ini. Pikirannya berkata tidak namun perasaannya berbanding terbalik. Ia benci ketika ia harus menahan senyum karena kupu-kupu menggerayangi perutnya, ketika ia tak bisa berbuat apa-apa karena Sehun menyentuhnya, termasuk saat ini. Tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Deru nafas Sehun membentur leher mulus Luhan membuatnya merinding ketika Sehun berbicara tepat di belakang telinganya. Sexy.
"Bisa?"
Luhan mengangguk terlalu pelan karena ia tidak ingin Sehun melihat wajahnya yang benar-benar merona. Getaran detak jantung mungkin bisa dirasakan oleh Sehun –namun ia memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
"Baiklah, ayo kita bermain," Sehun melonggarkan pelukannya pada Luhan lalu berjalan ke satu rak dimana tongkat billiard tersusun rapi. Sesekali ia melirik ke arah Luhan yang tertangkap basah sedang mengamatinya dari ujung ruangan VIP ini. Sehun melemparkan senyum miring padanya dan Luhan dengan salah tingkah memalingkan wajah imutnya itu sambil mengusap-usap tongkat billiard-nya –tersipu.
Lelaki tinggi yang berjalan mendekati meja hijau yang familiar, menyusun bola-bola yang agak berat itu membentuk segitiga.
"Battle?"
Lagi-lagi Sehun tersenyum berusaha merusak pikiran Luhan yang sudah melayang entah kemana.
Belum sampai pada setengah permainan, Luhan meletakkan tongkatnya pasrah.
"Aku tidak bisa, Sehun-ah," katanya sambil mengerucutkan bibirnya frustasi. Bidikannya pada bola-bola itu jauh dari kata tepat sementara Sehun sudah menang beberapa kali. Persetan dengan hal ini, ia tidak peduli.
"Kau tadi bisa, hyung," Sehun berjalan kearah pria yang tanpa disadarinya, mulai bersikap manja-frustasi.
"Seperti ini," katanya sebelum tersenyum penuh kemenangan. Rasanya ia senang membuat Luhan seolah sangat membutuhkannya.
Sekali lagi Sehun memeluk Luhan dari belakang, menggenggam tangannya agar Luhan tidak melepas tongkat billiard-nya dan bernafas di leher jenjang itu. Bahkan Sehun nyaris menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan agar ia bisa menikmati aroma bayi yang sangat lembut dari tubuh pria manis itu.
Putih, lembut, dan beraroma bayi. Sehun tidak tahu apakah ia masih sadarkan diri ketika nafasnya menerpa leher Luhan sekaligus berbicara sehalus mungkin, "Kau lihat, hyung? Bidik bolanya and–"
Sehun mendorong benda bulat itu dengan jitu dan mudah.
"See, hm?"
Sehun masih tetap pada posisinya. Kali ini ia memejamkan matanya beberapa detik untuk menajamkan indra penciumannya, menghirup lebih banyak aroma tubuh Luhan yang sangat memabukkan. Sepertinya ia mulai candu sehingga ia ingin tetap seperti ini untuk beberapa saat lagi.
Sayangnya Luhan mengeluarkan suaranya dengan pelan tanpa berani untuk bergerak,
"S-Sehun,"
"Berikan aku satu menit untuk seperti ini,"
Debar jantung Luhan berdentum seperti melodi bagi Sehun, terlalu indah dan dinamis. Sehun senang ketika benaknya mengatakan bahwa detak jantung yang merusak pikiran itu hanya untuknya. Ia memang tidak mengerti dengan jelas, tapi ada satu hal yang ia tahu, hanya pria itu yang bisa membuatnya seperti ini. Sehun bisa menyadari kalau ia bersikap lebih sopan dan memperbaiki sikap buruknya ketika Luhan bersamanya. Ia tahu ia ingin bertemu dengan pria cantik itu sesering mungkin.
Karena hal itulah, yang menjadi penyebab ia ditegur oleh pelatih basketnya karena lay-up nya yang meleset tempo hari. Saat itu ia benar-benar tidak bisa mengusir Luhan dari pikirannya, kalau boleh jujur.
"Sehun-ah," Luhan memanggilnya dengan lembut, merasa tidak nyaman jika ada orang yang melihat mereka walaupun sebenarnya ia tidak ingin mengusik pria yang masih memeluk lingkaran pinggangnya.
"Hm, sorry,"
Sehun melepaskan pelukannya dan berdeham untuk menghindari suasana canggung diantara mereka.
"Sudah bisa, kan?"
Luhan mengangguk sambil berusaha mengukir senyum. Berusaha menahan hawa panas yang mulai mengelilingi atmosfir ruangan dan perasaannya yang tidak karuan.
"Hyung," Sehun memcah hening suasana mobil yang sejujurnya tidak begitu menyenangkan daritadi.
"Ya?"
"Maaf,"
"Untuk apa?" Luhan tidak mengerti.
"Barang-barang itu,"
Sehun sesekali membagi fokusnya antara jalanan dan pria disampingnya.
"Kau masih berhutang penjelasan padaku,"
Sehun menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. Luhan shock tapi Sehun merasa ia harus menjelaskan semuanya pada pria itu.
Pria albino itu berdeham sejenak, "Baiklah, akan kujelaskan,"
Mata tajam Sehun menatap Luhan. "Aku tak mengerti, hyung. Aku menjadi baik karena kau, aku menaruh perhatianku beberapa bulan ini padamu tapi kau bahkan tidak menunjukkan reaksi yang baik padaku. Aku hanya– tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan,"
Luhan menatap Sehun bingung ketika manik mata itu seperti menyembunyikan sesuatu yang terlalu rumit.
"Memang aku harus bereaksi apa?" Luhan bertanya karena memang ia juga tidak tahu, kemudian melanjutkan dengan ragu-ragu,
"Kita bahkan hanya– teman," lidahnya sedikit kelu karena melontarkan kalimat terakhirnya. Ia tidak ingin menatap Sehun sehingga ia memilih untuk menunduk dan tangannya bermain dengan ujung sweater-nya.
Teman. Luhan bahkan ingin merasa lebih dari itu.
"Ya, teman. Dan Jongin lebih dari itu," Sehun tersenyum miris sambil menghela nafas singkat menggambarkan kekecewaan.
"Sehun, jangan bilang kau–"
"Benar, aku jealous,"
Luhan selama ini menganggap Sehun sudah beranjak dewasa, tapi ternyata pemikirannya masih sangat sempit. Mereka saling menatap, "Hangout dengan Jongin tak berarti aku sedang berkencan dengannya, Sehun. Dan bahkan kau tak perlu jealous padanya."
Luhan berhenti untuk beberapa saat, menggantungkan kalimatnya karena ia masih tidak yakin untuk mengatakan ini.
"Kau.. Kau bahkan- punya orang yang kau sukai," katanya sambil mengupas kukunya, tertunduk. Ia sudah kehilangan keberanian untuk menatap perfectcreature disampingnya itu.
Tiba-tiba saja suasana memburuk. Sehun menatapnya dengan alis terangkat, "Hm?"
"Maksudmu?" Sehun berharap Luhan bersedia menjelaskan padanya
karena ia sama sekali tidak mengerti.
"Kau sedang menyukai seseorang kan, lalu untuk apa kau jealous–" Luhan masih menunduk.
"Apakah ia berkencan dengan pria lain?" Luhan menambahkan. Sepertinya ia tidak ingin tahu karena takut hatinya tidak akan baik-baik saja setelah ini. Tetapi lagi-lagi rasa ingin tahunya lebih besar sehingga semua itu terucap begitu saja.
Sehun mengusap tengkuknya bingung berusaha mencerna kalimat-kalimat yang sesungguhnya terlihat mudah, hanya saja mereka membuat ini semua menjadi begitu sulit dimengerti. Sehun percaya otaknya sangat jenius untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi disini.
"Well, hyung. Sepertinya ada yang salah disini, mungkin kau tidak mengerti atau aku juga begitu. Sepertinya kita salah paham,"
Luhan membulatkan mata doe-nya seolah bertanya, "apa?"
"Aku tidak tahu apa namanya secara jelas, tapi seperti yang kukatakan aku menyadari adanya perubahan dalam diriku, menjadi lebih baik dan itu aneh. Dan yang kutahu penyebab perubahan itu adalah kau,"
Sehun menjelaskan seperti ia tahu benar apa yang terjadi. Perlahan semua hal yang mereka bicarakan mulai terlihat jelas bahwa ada satu inti dimana pembicaraan ini akan berujung. Sehun mengerti karena ia jenius, mampu menganalisis apapun, hanya saja perasaan ini terlalu rumit untuk diungkapkan. Ia takut salah bicara dan mengambil langkah yang salah kemudian Luhan, akan marah padanya.
Kali ini ia lebih bisa dibilang mirip seorang yang bodoh yang tidak mengenal kosakata mirip salah satu film berjudul TheGiver, dan ia harus berusaha membuka semua memori itu. Sayangnya, Sehun tidak mempunyai memori apapun tentang Luhan. Pria pirang itu hanya datang secara tiba-tiba, membeli se-bouquet bunga Daffodils dan kemudian menuntun perasaannya hingga seperti ini.
You know it Luhan? You mess me.
Sehun menghela napas merasa frustasi. Pembicaraan ini semakin sulit bagi mereka berdua. Ditambah lagi hujan yang tiba-tiba mengguyur kota yang selalu bersinar setiap jamnya itu, membuat Sehun harus kembali menginjak gas dan melaju di jalanan agar sampai dirumahnya sebelum hujan bertambah deras.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan dan jika Sehun ketahuan membawa mobil sampai selarut ini, dapat dijamin ia tidak akan diperbolehkan membawa mobil sampai ia ulangtahun kedelapan belasnya.
Dan hanya membutuh waktu sepuluh menit untuk sampai dirumahnya, namun hujan malah bertambah deras.
Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan, membuat pemilik wajah imut itu terpaku di tempat.
"Hun–"
KLEK
"Hanya membuka safetybelt-mu. Sebaiknya kau mampir sebentar, hujan semakin deras," Sehun tersenyum teduh. Walaupun hujan masih mengguyur, Sehun membuka pintu mobilnya.. "Jangan keluar dulu," perintahnya.
Ternyata Sehun mengambil payung untuk Luhan, membuat tubuhnya basah kuyup. Sehun membukakan pintu Luhan sambil memayunginya.
Beruntunglah si bawel Baekhyun belum pulang, setidaknya Sehun tak perlu menyumbat telinganya dengan earphone.
Keduanya masih diselimuti keheningan. Sehun tahu obrolannya di tepi jalan tadi menambahkan beban pikiran Luhan, tapi disisi lain ia perlu menyampaikan segalanya.
Mereka berjalan menuju pintu utama yang terasa lebih jauh dari biasanya. Entahlah, karena hujan atau karena Sehun sedang bersama Luhan. Sehun sedikit menjauh dari tubuh Luhan yang masih kering sementara dirinya basah kuyup. Melihat ini, Luhan merasa bersalah.
"Kau basah, Hun,"
"Tak apa," Sehun menjawabnya santai sambil mengusap baju Luhan yang sedikit lembab karena dirinya.
Tapi Luhan malah menariknya agar lebih dekat, setidaknya ia tidak akan membiarkan Sehun kehujanan karena dirinya.
"Jangan, hyung. Kau akan basah," Sehun kembali menjauh
"Kau lihat bajumu mulai lembab," katanya sambil mengusap lengan Luhan yang berbalut sweater-nya.
"Maaf ya," Luhan menatap tubuh tegap Sehun yang basah. Seketika tangannya mengusap baju yang basah itu setibanya mereka di beranda rumah Sehun, menunjukkan rasa bersalahnya.
"Xiao Lu–" Sehun memanggilnya lembut sambil memegang telapak tangan Luhan yang dingin akibat bajunya yang terguyur hujan tadi.
"Hm?" Luhan menatap Sehun polos ketika ia sedang fokus mengusap dada bidang Sehun yang basah.
Atmosfir ini membuat Luhan perlahan mulai gugup ketika sorot mata Sehun terlihat berbeda kali ini, lebih tegas tetapi meneduhkan. Kedua orang yang ditimpa cahaya lampu taman membuat tubuh Sehun dan rambut berantakannya terlihat nyaris sempurna.
Perlahan Sehun memeluk tengkuk Luhan dengan telapak tangan lebarnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan. Menatap kedua manik mata binar yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Ketukan jantungnya tidak karuan dan deru nafas singkat bersama dengan rintikkan hujan rasanya cukup jelas untuk mengungkapkan apa yang Sehun rasakan sekarang. Angin berhembus membuat pria yang lebih kecil dihadapannya menggigil dan ia perlu tahu, betapa Sehun ingin memberikannya Frenchkiss untuk menghangatkannya.
Sehun memiringkan kepalanya ketika tatapan mereka membuat Luhan menahan nafasnya.
"Kalau kau mengizinkan,"
Luhan mengatupkan kelopak matanya tidak berani melihat pria dihadapannya lagi, membiarkan apapun yang akan terjadi –yang dilakukan Sehun padanya.
Sehun tahu Luhan pasti mengizinkannya –menurut pikiran jeniusnya. Tapi ia tidak mungkin menciumnya didepan rumah, bukan? Tangan besar Sehun melingkar di pinggang Luhan, menyeretnya masuk kedalam rumah.
.
.
.
Chapter 2 -End.
Chingchongs:
HEHEHEHEHE PANJANG NIHHHHHH :3 maap kalo banyak typo atau ga ke-divide hehehe ini ngebut soalnya alias no edit #plak
INI CHAP DEPAN END LOHHH
SO, KEEP CURIOUS AND REVIEW!~
.
Best Regards,
-exoblackpepper-
