WARNING!

THIS CHAPTER CONTAIN SEX SCENE (just a lil bit). PLEASE KINDLY SKIP THE PART IF U DON'T WANT TO READ IT.

Rated: M


Chapter 3: Do it.

.

.

.

"Kalau kau mengizinkan,"

Luhan mengatupkan kelopak matanya tidak berani melihat pria dihadapannya lagi, membiarkan apapun yang akan terjadi –yang dilakukan Sehun padanya.

Sehun tahu Luhan pasti mengizinkannya –menurut pikiran jeniusnya. Tapi ia tidak mungkin menciumnya didepan rumah, bukan? Tangan besar Sehun melingkar di pinggang Luhan, menyeretnya masuk kedalam rumah.

Tanpa basa-basi lagi, Sehun langsung mendaratkan bibirnya diatas bibir Luhan. Menyesap bibir atasnya seakan takut kehilangan pria itu. Beberapa lenguhan singkat tertangkap oleh telinga Sehun membuatnya lega karena Luhan menikmati perlakuannya.

Kedua flowerboy ini tampak larut dalam 'aktivitas' mereka. Coach kuning muda itu sekarang menjadi alas duduk Luhan yang sedang terbuai oleh Sehun.

"Hngh–" Nafas Luhan mulai tersengal. Tangannya mendorong pelan dada bidang Sehun membuat pria itu mengerti bahwa Luhan butuk oksigen sehingga ia harus melepas tautan bibir mereka.

Manik mata mereka bertemu dalam jarak sempit antara wajah mereka.

"Hun, hm–" Luhan bergumam asal sambil mengalihkan pandangannya dari Sehun. Sesekali ia mendentumkan jarinya diatas dada bidang pria albino itu namun Sehun bergeming dan tidak berniat untuk mengalihkan fokusnya. Sehun menikmati setiap inci dari wajah Luhan ketika telunjuknya mengarahkan dagu Luhan agar manik mata mereka bisa bertemu dan Sehun dapat lebih jelas melihat wajah itu.

Bagi Luhan, Sehun benar-benar menyiksanya dengan tatapan matanya. Sorot mata tajam, garis rahang tegas, dan bibir tebal yang kemerahan. Ia tidak sanggup untuk terus diperhatikan oleh Sehun yang seperti ingin menerkamnya kapan pun ia mau.

Tapi bagi Sehun, ia tidak mengerti apa yang dirasakannya sekarang. Ia hanya berpikir kalau mencium bibir Luhan terasa begitu candu untuknya sehingga ia ingin terus memberitahu pria itu mengenai perasaannya melalui ciuman hangat yang sudah dilakukannya tadi.

Untuk waktu yang cukup lama, Sehun bergeming hingga Luhan kembali meloloskan gumaman aneh.

"Sehun, kita–" Seharusnya Luhan mengerti lebih dulu bahwa ini adalah satu-satunya cara –menurut Sehun– untuk memberitahu apa yang mengganggu pikirannya pada Luhan.

Tidak ada penolakan darinya, sehingga Sehun menganggap itu semua sebagai sebuah persetujuan. Ia kembali meraup bibir kecil Luhan kemudian berakhir dengan lumatan kecil dan lembut.

"Ngh- bajumu basah, Sehun-ah," suara Luhan parau ketika ia baru menyadari tubuh basah Sehun membuatnya kedinginan ditengah ciuman mereka. Sehun melepas bajunya dengan cepat kemudian membawa tubuh kecil Luhan kedalam pangkuannya. Memeluk pinggang kecil pria cantik itu dan memberikan bercak merah di leher jenjang putih milik Xi Luhan.

"Sehunnie-ah..h," Luhan melingkarkan lengannya pada leher Sehun sambil mengerang tertahan, memeluk kepala Sehun membiarkannya mengecap dan merasakan aroma bayi lembut dari tubuhnya.

Entah apa yang merasukinya, Luhan memberanikan diri untuk mengusap dada bidang putih Sehun dan membuka kancing celananya, meloloskan milik Sehun dibalik celana jeans-nya dibawah sana.

Sehun tidak keberatan, tetapi ia tidak akan membiarkan Luhan melakukan ini semua lebih dulu. Ia menarik lepas kaus Luhan dan menyentuh kulit mulus seputih susu itu. Demi segala hal, Sehun sangat memuja pria ini. Luhan tidak hanya baik dalam kepribadian, memukau dalam penampilan, tetapi ia juga memiliki segala hal yang akan membuat orang jatuh hati padanya. Dan hal yang Sehun sentuh sekarang, membuat benaknya menjadi egois untuk memiliki pria itu, Xi Luhan, hanya miliknya.

Sehun membuka celana Luhan, melepaskannya dari kaki jenjang itu sementara milik mereka berdua sudah bersentuhan dibawah sana. Luhan merasa bagian dirinya bergetar, perutnya dihinggapi ribuan kupu-kupu membuat pipinya merona ketika Sehun terus saja menggodanya.

"S-sehun," Sehun yang tadinya sedang menikmati pemandangan dihadapannya, memalingkan wajahnya menatap wajah favoritnya itu, menjawab Luhan yang terus saja mendesahkan namanya.

"Aku tak yakin kau bisa– maksudku boleh melakukan ini, Sehun-ah. Kau masih–" Luhan menatap Sehun sambil tersipu.

"Dibawah umur. Aku tahu. Tapi tolong, mulai saat ini lihatlah aku sebagai lelaki dewasa, hyung," Sehun terdengar seperti memohon. Ia ingin Luhan melihatnya bukan sebagai anak kecil yang tidak mengerti apapun, tetapi seseorang yang bisa menjaga pria itu dan membahagiakannya. Ia ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa mengerti Luhan lebih dari dirinya sendiri.

"Percaya padaku, hyung," bisik Sehun bersama udara yang menerpa di daun telinga Luhan. Perlahan tangannya meremas milik Luhan dan pria itu tidak lagi bisa mendengar apa yang dikatakan Sehun, melainkan melenguh lemah dan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Sehun.

Luhan memeluk tubuh dingin Sehun sambil sesekali meremas rambut Sehun dan bulir air menetes. Susah payah Luhan menekan pikiran-pikiran negative dalam dirinya tentang Sehun, menahan diri agar ia tidak berbuat sesuatu diluar kendali. Tapi Sehun, pria itu malah memberikan seribu alasan untuk Luhan menyentuh perut atletisnya. Bahkan mengusap, mencumbunya lebih dalam.

"Kau indah, hyung,"

"Pelan-pelan, S-Sehun,"

Sehun terus saja menggoda Luhan membuatnya tidak tahan untuk tidak bergerak liar. Tubuhnya bergeliat dan tanpa sadar ia malah mendorong miliknya dan menabrak milik Sehun yang bisa dibilang sekarat kalau tidak disentuh sekarang juga. Mau tidak mau, si pemilik mengarahkan tangan Luhan untuk menyentuh benda keras dengan goresan tidak beraturan itu.

Luhan mengerti dan melakukan apa yang harus dilakukan. Beberapa kali ia menjentikkan jarinya sebentar disana, memberikan sentuhan kecil dan menggoda agar Sehun mengerang frustasi.

"A-ah, Lu..Han"

Sehun memejamkan matanya ketika tangan Luhan mengusap miliknya dan menekan-nekan ujung milik Sehun yang mulai berkedut.

"S-shh.." Sehun mendesah karena sentuhan itu terus saja merusak otaknya. Luhan memijat kecil hingga ke pangkal little-sehun.

Kegiatan itu diakhiri Sehun dengan memindahkan tubuh mereka ke atas meja kaca didepan coach kuning yang jauh lebih besar untuk mereka berdua.

Sehun menahan cairannya yang mulai menetes dan langsung memposisikan Luhan untuk membuka dan menekuk kedua kakinya. Luhan tidak yakin dengan ini, tetapi ia benar-benar tidak bisa menahannya ketika Sehun terus saja meremas milik Luhan dengan sedikit kasar.

Tanpa menunda lagi, Sehun memasukkan miliknya kedalam liang Luhan.

"Akh-" Luhan meninggalkan goresan merah pada tubuh putih Sehun, berusaha untuk menahan rasa sakit yang mulai menjalar hingga membuat kedua pipinya memerah dan jemarinya mencengkram lengan Sehun keras.

"S-sehun,"

"Ah.."

Gerakan Sehun semakin cepat ketika ia merasa Luhan menjepit miliknya didalam sana.

"T-tight.. Ugh,"

Sehun memeluk pinggang Luhan lebih erat agar miliknya bisa masuk lebih dalam dan menubruk spot Luhan. Cairan Luhan mulai menetes tetapi ia tidak peduli.

Sekarang Luhan merasa liangnya sangat penuh ketika seluruh bagian milik Sehun berhasil masuk kedalam, membuatnya harus menggigit bibir plump-nya untuk menahan perih yang terus saja menjalar.

Sehun menatap wajah Luhan yang kemerahan dan menyembunyikan desahan di bibirnya.

"Sebut namaku, hyung,"

"Ah- Sehunnie..ah"

"Ngh-" Sehun mencium bibir Luhan membantu pria itu untuk bungkam dengan bibirnya. "You are sweet,"

Entah sejak kapan, Sehun belajar kata-kata seperti itu dan sukses membuat Luhan melupakan perihnya untuk beberapa saat. Sehun terus mempercepat gerakannya seiring nafsunya yang semakin meningkat dan itu lagi-lagi membuat kaki jenjang Luhan bergetar menahan rasa sakit dan nikmat di waktu yang sama. Luhan memejamkan matanya ketika meja kaca yang kokoh itu bahkan berdenyit dengan tempo yang tidak beraturan. Sesekali Luhan mengerang ketika Sehun menggerayangi kedua nipple-nya.

Diselipkannya jemari lentik Luhan di sela rambut Sehun sambil ia remas dan Sehun menggigit benda kecoklatan itu. "A-ahh–" lenguhnya kenikmatan.

"Sebut namaku lagi, hyung," titah Sehun setengah mendesah tepat di telinga Luhan.

"Nghh–ah–Sehunh" desah Luhan setengah berteriak ketika lelaki yang mencintainya setengah mati itu menggigit telinganya sensual.

"Lagi," perintah Sehun dengan suara serak sexy-nya. Ia menjilat garis rahang Luhan. Tangannya terjulur memegang benda keras yang masih menegang milik Luhan. Jemari Sehun lincah memainkan ujung-'nya' yang mengeluarkan pre-cum. Semakin kasar Sehun memainkannya, semakin cepat Luhan mengeluarkan cairannya hingga meluber di seluruh bagian tangan Sehun.

"Hun… Ah-" Luhan mengeluarkan suaranya parau dan merasa sedikit lega.

Tangan Sehun menggenggam lebih keras milik Luhan kemudian menyusulnya dan mengeluarkannya didalam liang sempit Luhan.

"Shh.." desahan itu membuat Luhan merinding.

Sehun masih berada diatas Luhan dengan bertumpu pada lututnya sementara Luhan berbaring pada meja kaca yang dipenuhi peluh dan cairan putih milik mereka.

Luhan memeluk manja sekaligus erat pada leher Sehun ketika berhentinya gerakan little-sehun membuat liangnya ngilu setengah mati dan ia harus menahannya.

"Are you okay, hyung?" Tanya Sehun cemas, Luhan masih memejamkan matanya.

Sehun mengusap surai rambut Luhan yang basah karena peluhnya, merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi pandangannya terhadap wajah cantik itu.

"Hm," Luhan bergumam lemah

"Thank you," Sehun tersenyum tulus sambil mengecup kening pria dihadapannya itu.

Luhan membuka kelopak matanya perlahan, mengabaikan ucapan Sehun dan rasa sakitnya sambil berbicara serak, "Mejanya dingin, Sehun-ah," sambil memeluk Sehun lebih erat lagi. Luhan meringis tertahan sambil mencengkram bahu Sehun ketika Sehun melepas miliknya dari liang Luhan dan kemudian menggendongnya ala Bridal style.

Disatu sisi, ia menginginkan ini, disisi lain ia merasa bersalah pada Luhan. Sehun tahu ini pertama kalinya Luhan melakukan ini –dan ia sendiri juga– dan Sehun menghargai usaha Luhan untuk menggodanya. Tangan Luhan melingkar dengan nyaman di leher Sehun, tatapan mereka tidak terputus.

"Hun,"

"Hm?"

Luhan tersenyum tipis, "Aku lebih menyukai kau yang seperti ini,"

Sehun memunculkan senyum miring khasnya ketika Luhan sedang merona menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sehun.


Mata Luhan terbuka perlahan ketika ia mendengar seseorang membuka pintu masuk rumah Sehun. Firasat Luhan itu adalah Baekhyun –Sehun bilang orangtuanya sedang berlibur– karena suara gaduh yang lelaki mungil itu buat.

"Sehun," Luhan mengguncangkan tubuh Sehun disebelahnya.

"Sehun," panggilnya lagi dengan suara yang sedikit lebih keras. Sehun tetap bergeming. "Hun, Baekhyun sudah pulang. Is this okay?"

Akhirnya Sehun terbangun. "Hm, tidak apa," katanya dengan mata terpejam dan setengah sadar. Ia malah memeluk Luhan yang tengah dilanda cemas. Luhan tidak tahu apakah Sehun sudah membereskan semuanya tadi karena ia belum siap mendengar Baekhyun memekik di malam hari apalagi kalau melihatnya bersama Sehun di ranjang yang sama.

"Kau sudah mengunci pintunya?" Luhan kembali berbicara ketika suara derap langkah semakin terdengar.

"Sepertinya belum," jawab Sehun ringan sambil menggeliat kecil dan tidak peduli. Luhan melebarkan bolamatanya dan menyingkirkan tangan Sehun yang memeluk tubuhnya, hendak beranjak mengunci pintu kamar. Sayangnya Sehun tidak memindahkan tangannya dari pinggang Luhan dan ia harus sedikit mendorongnya. "Aku akan mengunci pintunya dulu, Sehun,"

Setelah mendengarnya Sehun bergerak dari ranjangnya menuju pintu putih bagian sana tidak membiarkan Luhan untuk bergerak sedikitpun meninggalkan ranjangnya. Luhan menarik selimutnya berjaga-jaga kalau Baekhyun bisa saja masuk secara tiba-tiba dan ia bersiap untuk bersembunyi dibawah selimut Sehun. Semburat merah muncul di kedua pipinya ketika melihat Sehun masih dengan tanpa sehelai benang-pun berjalan ke arah pintu dengan mata yang setengah terbuka.

"Hah," desah Sehun saat kembali berbaring disamping Luhan, mendekap luhan –lagi.

"M-maaf," Luhan yang menyembunyikan wajahnya –juga tubuhnya– dalam dekapan Sehun merasa bersalah, meminta maaf padanya sambil menjentikkan jari-jarinya diatas dada topless Sehun.

"Kau tidak boleh meninggalkan ranjangku malam ini," katanya sambil mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala pria cantik itu.

"Tidurlah, jangan menggodaku lagi,"

Luhan tersenyum dibalik tubuh Sehun yang hampir menutupi semua bagian tubuhnya. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar, terakhir kali Sehun hanya mendengar suara kecupan di dada putihnya –karena hanya bagian itulah yang dapat dijangkau bibir Luhan didalam pelukan seorang Oh Sehun.

Setengah malam sudah mereka habiskan bersama, dan berakhir dengan pelukan hangat diatas ranjang yang sama, berbalut selimut putih bersih. Keheningan ini benar-benar membuatnya hangat dan merasa nyaman didalam pria yang sedang tertidur dengan pulas. Luhan pernah dipeluk, bahkan cenderung sering, namun hanya desiran darah dan degup jantung Sehun yang berhasil menular padanya.

Mungkin tidak dalam waktu yang lama Luhan akan menyadari sesuatu, bahwa dalam setiap hal yang ia lakukan, ia ingin bertemu Sehun. Berdebat dengan bocah itu, bergelayut manja padanya, dan mengajarinya mencintai seseorang dengan benar. Luhan terlalu berjasa pada Sehun dan pria jenius itu seharusnya mengerti bagaimana cara membalas itu semua, dengan tidak membiarkan Luhan lepas darinya.

Satu-satunya hal yang tidak dimengerti Sehun adalah Luhan. Sehun jenius, berintelek tinggi. Namun sayangnya semua itu menjadi omong kosong yang tidak berguna ketika ia bertemu Luhan. Ia tak menyangka Luhan akan serumit ini. Betapa Sehun ingin mempelajarinya. Luhan. Sehun berharap dengan menatapnya seperti ini, akan membuatnya mengerti.

Alih-alih Sehun benar-benar tengah memperhatikan setiap lekuk wajah Luhan karena ia terbangun lebih awal. Tampaknya ia benar-benar kelelahan dan Sehun merasa sedikit bersalah. Luhan tengah memeluk Sehun dan wajah mereka bertemu. Sehun tersenyum ketika Luhan menggeliat kecil dan perlahan membuka kelopak matanya. Dan orang pertama yang menyambutnya adalah Sehun.

"Pagi," suara lembut Sehun bahkan sukses untuk membuat Luhan tersenyum dan menatapnya dengan kelopak mata yang masih berat. "Tidur saja kalau masih mengantuk,"

"Sudah berapa lama kau menatapku seperti itu?" kata Luhan serak –tenggorokannya kering.

"Satu jam? Dua jam?" Luhan mendaratkan pukulan ringan pada lengan Sehun ketika Sehun berusaha menggodanya.

"Tidurlah kalau masih lelah," Sehun mengulang kalimatnya.

Ponsel Luhan berdering membuatnya buru-buru meraih ponselnya yang sudah ada disamping ranjangnya –entah apa yang Sehun lakukan semalam. Baru saja ia akan mengangkatnya, Sehun merebutnya dari genggaman Luhan.

Luhan menatap Sehun bingung memberikan pertanyaan, "kenapa?"

"Ini hari Minggu, hyung. Jangan sibuk– kumohon,"

Luhan masih tidak mengerti. Tetapi Sehun jelas mengetahui siapa yang meneleponnya.

"Tapi mungkin saja penting, Sehun-ah,"

"Tidak ada yang penting. Percayalah,"

Sehun dan Luhan tidak ingin memulai perdebatan pagi-pagi seperti ini karena Sehun ingin menghabiskan waktu bersama pria disampingnya itu dan begitu juga Luhan. Sayangnya Sehun lagi-lagi menyampaikan 'keinginan'-nya itu dengan cara yang salah sehingga membuat Luhan harus mengalah –lagi.


Suara pintu kamar mandi membuat Sehun menghentikan aktivitas bersih-bersihnya dan menoleh. Beruntunglah Baekhyun sedang pergi –entah kemana ia tak peduli– jadi tak masalah jika Luhan keluar kamar. "Kemari," kata Sehun sambil memegang handuknya.

"Duduklah," instruksi Sehun menyuruh Luhan duduk diantara kakinya –seperti memangku tapi Luhan duduk diatas sofa, bukan paha Sehun.

Dengan cermat dan perlahan Sehun mengeringkan rambut basah Luhan sambil sesekali tersenyum sendiri. Lelaki bermata doe itu hanya bisa terdiam menerima perlakuan sayang Sehun. "Hyung," panggilnya pelan yang dijawab Luhan dengan gumaman. "Apa kau masih menganggapku anak kecil?"

Sejenak Luhan berfikir. Sehun benar-benar tampak serius saat ini, dan berarti ia harus menjawab sejujur-jujurnya apa yang ia pikirkan tentang pria itu. Sebenarnya Luhan sudah tak menganggap Sehun anak kecil lagi, tapi sikapnya kerap kali membuat Luhan kesal sendiri.

"50%" jawab Luhan singkat.

"Hanya setengah? Hyung, lalu yang kemarin–"

"Aku bahkan tak tahu yang kemarin itu apa, Sehun," Luhan menghela nafasnya singkat. "Lupakan saja–" Sehun langsung membalikkan tubuh Luhan dan meraup bibirnya –membungkamnya. Luhan lagi-lagi meloloskan lenguhan dan Sehun melepas tautannya. "Aku tak akan mungkin bisa melupakan yang kemarin, hyung," Semburat merah kembali muncul diatas permukaan pipi Luhan. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau Sehun membahas tentang semalam. Tapi bagi Sehun, dengan membayangkan apa yang mereka lakukan semalam malah membuatnya ingin menerkam Luhan lagi, sekarang.

"Kau cantik semalam," Sehun menggoda Luhan dengan kalimat sederhana dan alhasil ia mendapat pukulan ringan yang baginya terasa seperti usapan lembut dari Luhan di dada bidangnya.

"Kau harus berhenti merona, hyung. Semakin kau tersipu semakin membuatku ingin mengulang–"

Luhan tiba-tiba menutup mulut Sehun rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. "Baekhyun dimana?" Luhan bertanya memastikan ketika telinganya menangkap suara berjalan samar-samar.

"Ia sudah pergi," bisik Sehun.

"Lalu itu suara siapa?"

Sehun memperhatikan suara dari luar rumah dan segera menarik Luhan kembali ke kamarnya.

"Kalau itu adalah Baekhyun lalu bagaimana aku pulang?"

Belum ada tanda-tanda suara pekikan Baekhyun sehingga Sehun harus fokus pada suara yang bisa saja tiba-tiba terdengar.

Sayangnya Luhan terus saja mengoceh tentang kekhawatirannya bahwa ia harus pulang, tugas kuliah, Jongin, –blah. Sehun mencium Luhan –membungkamnya lagi.

"Berhentilah berbicara atau kau tidak akan bisa pulang,"

Luhan terdiam menatap Sehun yang sudah lebih dulu menatapnya dengan sorotan tajam. Luhan berpikir apakah Sehun marah padanya. Dan sepertinya bocah itu mengerti apa yang dipikirkan Luhan lewat manik mata dengan gores ketakutan sehingga membuatnya kembali mencium pria cantik itu. Kali ini lebih lembut dan sedikit lumatan pada bibir bawah Luhan. "diamlah sebentar, aku akan berusaha," katanya sambil tersenyum.

Sehun mendengar ada dua suara, yang satu ia kenal jelas yaitu suara Baekhyun yang satunya lagi terdengar familiar. Sehun mengenalnya.

"Itu suara siapa?"

Sehun mempertajam pendengarannya sebelum menjawab pertanyaan Luhan.

"Chanyeol,"

"Teman kencan Baekhyun? Oh God,"

"Sepertinya mereka sedang tidak dalam hubungan yang baik,"

"Sepertinya begitu," jawab Luhan menyetujui tebakan Sehun.

"Lebih baik kau hampiri hyungmu," saran Luhan.


Seorang pria dengan kaus rajut lengan panjangnya membereskan beberapa buku tebal diatas ranjangnya. Sesekali ia mendesah kelelahan karena beberapa hari terakhir ini banyak yang harus dikerjakan. Semenjak hari Minggu tempo hari –ketika seharian ia tidak di rumah– banyak tugas yang mengejarnya. Dan lebih sialnya hari itu dosen, teman kuliah, beberapa kerabat, bahkan Xiumin mencarinya. Seperti tidak ada hari lain, maksudnya, kenapa harus di hari itu.

"Hey, hyung. Kau sibuk?"

"Hm, tidak terlalu," padahal tangannya penuh dengan buku-buku dan ia buru-buru berjalan ke arah pintu dan berhamburan keluar. Ia sudah telat 10 menit dan dalam waktu 5 menit ia harus sudah dihadapan dosennya.

Nafasnya tersenggal dan si jenius Sehun dengan mudah mengetahuinya. "Kau sibuk, hyung," katanya sambil tertawa ringan.

"Tak apa. Ada apa Hun?"

"Hm–" Sehun tampak berpikir apakah ia harus memberitahunya sekarang. "Aku merindukanmu,"

"Oh, ayolah," respon Luhan sambil tertawa ringan.

Mereka tidak berpacaran. Belum. Tapi Luhan tampak memberi lampu hijau untuk Sehun untuk mengenalnya lebih dekat. Setidaknya Luhan sudah membuka hatinya.

Sesekali Sehun berkunjung ke rumah Luhan –sekedar menemaninya atau kadang Sehun malah mengganggu pekerjaan Luhan– sampai malam hari. Semenjak itu pula Luhan dan Jongin jarang bertemu lagi –Jongin sibuk dengan kuliahnya dan demikian juga Luhan– dan Sehun senang akan hal itu. Ia merasa tak tersaingi, setidaknya. Sehun tersenyum sendiri ketika mendengar suara tawa Luhan di seberang sana.

"Jam berapa kau pulang?"

Luhan melirik ke arah jam tangannya, "Enam, mungkin?" jawab Luhan tak yakin. Lama ia di kampusnya bergantung pada dosennya jadi ia masih tidak yakin.

"Baiklah, kau kujemput. Fighting, hyung,"

Si lelaku yang lebih muda memutuskan sambungan teleponnya dengan sengaja karena ia tahu Luhan akan menolak untuk dijemput. Tiba -tiba sekelebat ide muncul di benaknya. Ia yakin 100% ia akan berhasil. Menurut perhitungannya, ini brilliant. Ia pun melesatkan mobilnya menuju suatu tempat.

Sehun membenarkan sweater tipis hitam berkerah lebar yang ia kenakan sambil bersandar di depan pintu mobilnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam dan Luhan masih belum menampakkan wajah imutnya. Ia menghela nafasnya singkat. Luhan tak mungkin sudah pulang, ia tahu Luhan takkan melanggar janjinya –apa tadi bisa dibilang janji? Entahlah.

"Sehun!"

Terdengar suara seseorang yang sangat familiar bagi Sehun memanggilnya dari jauh. Sehun langsung menghampirinya dan membantu Luhan membawa barang-barangnya. "Aku bisa sendiri, Seh–"

Sehun mendaratkan jari telunjuknya di depan bibir kecil Luhan. "Tak baik mencegah orang berbuat baik," kata Sehun sambil mengerlingkan matanya jahil.

"Ngomong-ngomong, kau belum punya surat izin mengemudi, kan?" Sehun tersenyum miring sambil mengangkat bahunya tidak peduli. Benar, Luhan baru menyadarinya sekarang. Sehun benar-benar tipikal anak SMA yang bad boy? Luhan tersenyum ketika benaknya mengatakan hal itu, mungkin akan sangat lucu kalau seorang Luhan menyukai 'bad boy' seperti Sehun.

But he does.

"Beberapa hari lagi," kata Sehun sambil menjalankan mobilnya.

Kesunyian mulai menghampiri ketika Luhan jatuh terlelap dan Sehun menyadari itu. Ia mengerti Luhannya kelelahan dan ia tak berniat membangunkannya meskipun sekarang mereka sudah sampai di depan pintu rumah Luhan. Sehun menatap perfect creature di sebelahnya yang ia cintai. Bibir kecil Luhan yang kadang sedikit terbuka –dan mendengkur halus– membuat Sehun gemas dan harus menahan diri menyentuh bibir itu dengan bibirnya.

Sehun menerima pesan singkat dari temannya dan ia baru ingat untuk seminggu kedepan ia tidak ada di kota ini, keperluan sekolah untuk melakukan survei. Luhan terbangun dan buru-buru melepas sabuk pengamannya.

"Maaf, Sehun-ah," katanya buru-buru membereskan buku-buku yang sedari tadi dipangkunya.

"Tidak apa-apa. Kau harus banyak istirahat, hyung,"

Luhan hanya menjawabnya dengan 'iya' dan langsung keluar setelah berterima kasih pada bocah itu.

"Hyung," Sehun buru-buru keluar dari mobil dan memanggilnya.

"Hm?" Luhan menoleh.

"Good night,"

Luhan tersenyum menanggapinya sebelum berusaha melambai walaupun tangannya penuh dengan barang.


Menurut Baekhyun, Sehun tidak akan pulang –sebelum tugas surveinya selesai– hari ini sehingga mungkin ulang tahunnya kali ini tidak akan dirayakan bersama dengan keluarganya. Luhan yang mendengar itu hanya mengangguk sambil sesekali menyesap latte-nya.

"Kau ada acara malam ini?"

"Entahlah. Mungkin diskusi kelompok dengan Xiumin dan yang lainnya,"

"Dimana?"

"Rumahnya, mungkin,"

"Jam berapa selesai?" Luhan mengangkat bahunya, "Mungkin jam 9? Hari ini terlalu lelah," Baekhyun mengangguk tetapi seperti ada sesuatu yang disembunyikan olehnya, jarang-jarang ia bertanya serinci itu pada Luhan kecuali ia ingin meminta tolong pada temannya itu.

"Kau tidak menyuruhku untuk membeli kado ulang tahun Sehun atau menjemputnya kan?"

"Tidak," jawabnya sambil tertawa menggelikan.

Luhan sejujurnya tidak tahu apa yang lebih baik ia berikan kepada Sehun. Ia bahkan sudah mencari inspirasi lewat gambar-gambarnya tetapi tetap saja ia tidak menemukan ide apapun. Mana mungkin ia hanya memberikan Sehun segelas bubble tea. Walaupun sepertinya itu ide yang bagus.


"Hey, Lu. Akhirnya kau datang," Xiumin akhirnya berbicara.

"Ya, ada sedikit urusan,"

Xiumin, mahasiswa jurusan arsitek yang bisa dibilang kerja sama dengan Luhan kali ini membutuhkan bantuannya. Well, bukan hanya itu sebenarnya. Pria itu sudah lama mengagumi Luhan dan ini kedua kalinya mereka bertemu, maksudnya, berbincang sedekat ini. Sesekali Xiumin berbicara sesuatu diluar topik dan Luhan cenderung tak terlalu meresponnya. Yang di benak Luhan hanya telepon dari seseorang atau mengistirahatkan pikirannya –efek merindukan seseorang.

"Thanks, Lu," Xiumin berterima-kasih pada Luhan yang sudah berdiri bersiap untuk beranjak pergi. Sambil Luhan melangkahkan kakinya ia membaca deretan tulisan yang ada diatas layar ponselnya.

Dikirim oleh Baekhyun:

[Kau sudah pulang?]

.

Terkirim kepada Baekhyun:

[Sudah. Baru saja. Ada apa?]

Baekhyun tidak membalasnya lagi dan Luhan tidak terlalu memikirkan hal itu. Anehnya tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di sebuah kedai bubble tea. Entah ada apa dengannya, rasanya ia hanya ingin membeli minuman itu.

Sesekali ia melirik arlojinya yang hampir menunjukkan pukul sepuluh dan ia ingin segera sampai di rumah. Jalanan sepi dan toko-toko sudah mulai menghentikan aktivitasnya hari ini, hanya tersisa orang-orang yang bekerja lembur dan berlalu-lalang di pavement yang bersih.

Luhan menghentikan dentuman jarinya pada stir mobil ketika sebuah cahaya toko itu menarik perhatiannya. Ia tersenyum ketika mengingat sesuatu. Tunggu, Luhan memfokuskan pandangannya untuk melihat ketika satu per satu orang menghentikan langkahnya di toko itu. Dan Luhan tertarik.

Luhan memarkirkan mobilnya di tepi jalanan dan berjalan sembari telinganya menangkap suara musik atau lebih mirip alunan gitar yang lembut, berhasil mempercepat langkahnya hingga akhirnya Luhan berhasil menembus kerumunan orang itu dan manik matanya mendapati seseorang, yang sangat familiar, bernyanyi.

Banyak rangkaian bunga di dalam etalase yang masih ditimpa cahaya terang membiaskan pesonanya membuat hati Luhan mencelos. Hampir saja Luhan menjatuhkan paper bag yang berisi bubble tea yang tidak sadar dibawanya. Luhan membeku ketika orang-orang sibuk bertepuk tangan, ketika Sehun tersenyum sambil memindahkan jari-jarinya dari senar satu ke yang lainnya. Luhan melangkahkan kakinya mendekati kerumunan orang-orang itu. Sesekali ia bergumam 'permisi' sambil mendesak masuk ke barisan paling depan. Sehun melihatnya. Sehun menatap Luhan, dalam.

"Se...hun?" gumamnya pelan.

You were my strength when I was weak
You were my voice when I couldn't speak
You were my eyes when I couldn't see
You saw the best there was in me
Lifted me up when I couldn't reach
You gave me faith 'coz you believed
I'm everything I am
Because you loved me

(Celine Dion - Because You Loved Me)

Si mata doe menatap figur indah di depannya. Kulitnya semakin bersinar ketika sinar remang itu menyinarinya dari samping, membuat lekuk sempurna wajahnya semakin terlihat. Luhan menatapnya tidak percaya, terlalu fokus dengan darahnya yang berdesir hebat dan degup jantung yang tidak karuan. Luhan benar-benar harus menahan dirinya karena kupu-kupu mulai menggelitik perutnya. Pipinya merona dan ia hanya bisa berdiri membeku disana.

Because you loved me

Lirik lagu yang Sehun nyanyikan membuatnya merinding. Ia tidak tahu pasti tetapi Sehun sepertinya mengatakan sesuatu yang benar hanya saja Luhan tidak menyadarinya. Atau mungkin sebentar lagi.

Sehun terus memetik gitarnya sambil menatap Luhan lekat. Beberapa bait lagu yang sudah dihafal jelas olehnya, Sehun menatap tepat di manik mata cantik pria dihadapannya sambil menyunggingkan sebuah senyuman.

Lagu berakhir dan semua orang bertepuk tangan untuk pria yang tengah berdiri dan melangkah beberapa kali sebelum berdiri tepat dihadapan Luhan yang masih terperangah.

"Because I love you,"

"Hun– Bukankah kau–"

"But here I am," jawab Sehun sambil tersenyum miring, membuat Luhan menahan nafasnya beberapa detik mencerna apakah ini semua kebetulan atau memang–

Sehun mencium pipi kiri Luhan yang semakin menghangat. Luhan menatap Sehun kemudian mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.

"Hey, Happy birthday,"

"Kado untukku?"

Luhan terlihat canggung sebelum Sehun meraih gitarnya lagi. Mengetes beberapa nada dan suaranya seperti menciptakan lagu secara instan.

"Itu bercanda," Kemudian Sehun terkekeh sebentar sebelum melanjutkan, "Would you be mine? My one and only, the one I'd like to spend the rest of my life with. I love you, Xi Luhan,"

"S–sehun-ah,"

Hanya itu yang dijawab Luhan sejauh ini.

Semua orang yang masih memperhatikan mereka ada yang bertepuk tangan, tertawa, atau setengah berteriak 'terimalah!'.

Luhan mengedarkan pandangannya kepada orang-orang yang lebih dulu memberikan tatapan berharap, berharap agar ia mengatakan sesuatu selain bergumam nama Sehun tidak jelas. Kelopak matanya berbinar dan perasaannya seperti dibawah kendalinya. Rasanya Luhan ingin berteriak. Sekarang juga.

"Barangkali sebagai kado ulang tahunku?" tawar Sehun kalau saja Luhan menolaknya. Luhan memejamkan matanya dan menarik nafas singkat dan tersenyum, mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab Sehun.

"Ini kado ulang tahunmu," katanya sambil menyodorkan bungkusan yang sedari tadi digenggamnya dengan senyum canggung tetapi sangat manis bagi Sehun.

"Hanya bubble tea?" Sehun kecewa dan bertanya seolah tak percaya. Apakah ini jawabannya? Sehun lagi-lagi tidak mengerti, bahkan disaat seperti ini. Ia harap Luhan tidak membuatnya depresi dan gila di hari ulang tahunnya.

Luhan menarik kerah baju Sehun dan dengan sangat cepat Sehun merasakan detak jantungnya tidak lagi berfungsi.

Luhan menciumnya.

Lama.

"Itu juga. Maaf aku tidak tahu–"

Sehun menarik tengkuk Luhan dan mengehntikan ucapannya dengan sebuah ciumsn.

"Aku mencintaimu, Luhan,"

Inilah Sehun. Seorang –lelaki yang kini sudah dewasa– yang akan dengan bangga melakukan ini di hadapan banyak orang –tanpa rasa malu, tentunya. Ia menatap Luhan lekat sebelum berbalik dan tangannya meraih sebuket bunga, yang sangat familiar unutk Luhan. Tepat setelah ia menerimanya, Luhan menatap manik mata Sehun.

"Benar, rangkaian bunga yang kau beli saat pertama kali kita bertemu. Persis, kan?"

Sehun tersenyum bangga dan Luhan tertawa membuat matanya melengkung mirip bulan sabit.

"Kenapa kau menjadi cheesy begini," Luhan berusaha menahan semburat malu yang mulai muncul di kedua pipinya.

"So, yes or no?"

Luhan tersenyum tipis, seolah pura-pura tidak tahu karena ia tak pandai berkata-kata setelah Sehun berbuat sejauh ini.

"Hm?"

"Yes? Or no?"

"Apakah itu tadi tidak cukup? Bukankah kau jenius?" Luhan mencoba mempermalukan Sehun karena biasanya pria albino itu yang melakukan ini padanya. Luhan pikir Sehun mengerti bahwa cibiran itu adalah jawaban darinya. Sehun mengusap tengkuknya malu-malu sebelum Luhan berjinjit dan memeluknya erat.

"I've had enough of you, Sehun-ah,"

Dan jawaban itu sudah cukup untuk Sehun.

.

.

.

The Grown Up Sehun: END.


Chingchongs:

CERITANYA S.E.L.E.S.A.I!

TwT)

GIMANA KESAN DAN PESAN (?) BACA FANFIC INI?

BUAT ADEGAN ANU NYA... ABSURD YA? YAHHHH MAKLUMMM... BELUM PENGALAMAN u,u

DAPET FEELS NYA GA NIHHH? SEMOGA DAPET DEH YA HEHEHE MAKLUMIN YA MASIH BELAJAR BUAT BIKIN ADEGAN ROMANTIS NYEHEHEHE~

.

OKE DEH KRITIK SARAN DITERIMA DENGAN LAPANG DADA /BOW/

KRITIK SARAN SILAKAN ISI KOLOM REVIEW! ^^

UDAHAN DLU YAAPSSS, POOPAYE!

.

Best regards,

exoblackpepper

.

THANKS FOR REVIEWING THIS FANFIC ALTHOUGH I THINK THIS ISN'T GOOD ENOUGH LOL YOUR REVIEWS MAKE ME HAPPY AND EXCITED TO CONTINUE THIS STORY.

I LOVE YOU GUYS! :*

I HOPE I DON'T DISAPPOINT U GUYS HEHE ^^/love sign/