Desclaimer : SnK bukan punya Eqa. Got it?

Warning! BL! Alur kemana-mana! AU!

Typo dan OOC berkeliaran layaknya kecoak musim kawin!

Gak suka? Don't read!

Suka? Lanjuut!

-shadow and light-

Chapter II : Departure


-sepuluh tahun kemudian-

*Eren Pov*

Berdiri di tepi jalan yang ramai, aku memandang ke arah bawah, melihat sawah-sawah dan perternakan terlantar di wilayah lembah Maria, dan untuk kali pertama aku melihat dunia luar, Lembah Shadow Fold. Resimenku masih harus menempuh dua minggu perjalanan dari kota Sina.

Matahari musim gugur terasa hangat dikepala, tetapi aku masih merasa menggigil dibalik mantel tebalku.

Aku mempercepat langkahku, berusaha mengejar resimenku. Aku berusaha mengintip kearah keramaian dan tersadar bahwa bendera kuning dari kereta peninjau telah tiada.

'sial! aku sudah jauh tertinggal' batinku kecewa.

"jangan bengong di tengah jalan, bocah." ucap suara di dekat telingaku dan sebuah pelukan dipinggangku "ayo jalan" aku mendongak kebawah dan melihat wajah Rivaille yang serius

"kau masih disini?" tanyaku penasaran

"karena kulihat kau kehilangan jejak kelompokmu."

"oh ya?"

"dan wajahmu terlihat seperti bocah ingusan kehilangan bonekanya"

aku menggembungkan pipi, menatap Rivaille tersenyum kemenangan walau samar "dan kau seperti papan kayu yang berlumut" ledekku

Rivaille menatap datar lalu menarikku pergi "aku akan mengantarkanmu ke resimenmu." Tawarnya, lalu aku mengikutinya melangkah pergi

Selama perjalanan, Tak ada satupun dari kami yang membuka pembicaraan. Ya, Rivaille sudah berubah. Dulu, Rivaille walaupun tidak banyak bicara, dialah yang selalu membuka topik. Namun sekarang, Rivaille menjadi sangat serius. Ia menjadi sesosok asing dimataku. Seakan, kami hidup di dua dunia yang bertolak belakang.

"ada apa?" tanya Rivaille dengan nada datar "belakangan ini kau aneh"

"huh? A-aku h-hanya kurang tidur. T-tenang saja!" jawabku terbata

"ada masalah?" tanyanya setengah menyelidiki, "tidak biasanya"

dia benar, aku tak pernah bisa tidur nyenyak jika ada masalah yang mengganjal dihatiku. Tapi, kebiasaan ini makin parah dalam beberapa hari terakhir. Rasa takut akan kematian, dan juga kegelapan yang menyelimuti lembah Shadow fold

"aku tak yakin." Gumam Rivaille

"ayolah! Ini sudah biasa"

"apa kau takut dengan Titan?"

"tidak!" bentakku, "aku akan memusnahkan mereka!"

"dengan sebilah belati ditanganmu? Meragukan" sindir Rivaille

"h-hei!" sahutku menahan malu, memang benar saat ini aku hanya membawa sebuah belati. Tidak seperti Rivaille yang memiliki Blade cutter di tangannya.

Benar, aku hanyalah seorang pembuat peta biasa. Sedangkan Rivaille seorang prajurit garis depan.

"aku akan melindungimu." Rivaille mene[uk pundakku lalu kembali melangkah menjauh

ah, aku jadi teringat masa lalu. Berada di Mansion Duke Dot Pixis di malam hari. Kami dengan sengaja membuka salah satu buku besar bersampul kulit rusa tua milik Duke Dot pixis di perpustakaan, buku itu seakan memanggilku untuk membacanya. Dengan perlahan, kubuka lembar pertama dari buku tersebut. Sebuah deskripsi mengenai Titan

Makhluk penghuni yang terbesar dan terkuat di Shadow Fold adalah Titan. Mereka berbentuk seperti manusia pada umumnya. Namun, seratus kali lebih besar. Mereka memangsa manusia di kegelapan Shadow fold, tidak memiliki otak dan juga membenci cahaya.

Masih teringat jelas ekspresi terkejut Rivaille ketika kami melihat ilustrasi gambar dihalaman selanjutnya. Titan besar yang tengah memakan manusia, dengan potongan kaki dan senjata yang tergambar jelas di ilustrasi tersebut. Seakan penulis adalah orang yang pernah melihatnya secara langsung. Juga, gambar tersebut terbuat dari tinta merah –yang tenyata adalah darah- dari sang penulis

"mengerikan" satu kata yang kuingat ketika Rivaille menutup buku tersebut.

Tanpa sadar, aku terhenti berjalan. Terpaku ditempatku tak mampu mengenyahkan kenangan tersebut. Saat Rivaille menyadari aku tak lagi disisinya, dia mendesah pelan lalu berjalan menujuku dan mengguncang pundakku.

"hey sadarlah bocah! Kau mau tertinggal?"

"aku tahu!"

"kau takut?"

"..."

"tatap aku, Eren"

Aku berusaha memandang Rivaille, wajahnya tampak tenang… Datar… dan dingin. "Aku tahu kau takut. Aku juga. Tapi ini adalah misi!" jelasnya

"Aku tahu! tutup mulutmu dan antar aku ke resimenku!" bentakku. Aku hendak meninjunya, tetapi Rivaille telah menyambar dan mengangkat tubuhku dengan ala bridal style.

"diamlah. Kau membuat telingaku sakit." bisiknya di telingaku

Rivaille menggendongku ketepi jalan ketika sebuah Troika hitam yang besar datang dengan suara yang bergemuruh, membubarkan orang-orang yang menghalangi jalannya

Panggeran. Tak mungkin salah mengenali keretanya yang hitam berserta para penyihir dan pengawal pribadinya.

Troika lain berwarna merah mengkilap dan biru terang berderap melewati kami dengan laju lebih santai. Kulihat sepertinya itu adalah kereta penyihir elementer api dan air.

Aku mendonggak kearah Rivaille, jantungku berdegup kencang akibat peristiwa yang sebenarnya sudah biasa tersebut. Hamper saja aku terinjak troika mereka "terima kasih" bisikku perlahan, menahan rasa malu. Rivaille menyadari bahwa kedua lengannya masih memelukku mengencangkan pelukkannya

"kau tahu? Aku ingin sekali menggendong dan memelukmu lebih lama lagi." Sahutnya disertai senyum sinisnya

"diam kau, muka datar!" bentakku mencoba melepaskan diri dari pelukannya dan berhasil

"aku ini atasanmu."

"yeah-yeah…"

Troika lainnya berwarna peach melewati kami, dan seseorang menjulurkan kepalanya dari jendela, gadis berambut cokelat madu menatap lurus kearah Rivaille. Gadis itu membentuk lenkungan manis dibibirnya dan terus mengamatinya hingga Troika yang dinaikinya menghilang dari keramaian

"Penyihir Medis rupanya." Gumamku

"kenapa diam saja? Kau ingin benar-benar kutinggal?" sahut Rivaille yang ternyata sudah berjalan menjauhiku

"ah! Tunggu aku!"


"Hey! Kau lihat tidak? Para gadis penyihir di berisan Troika itu?" sahut Sasha, salah satu pembuat peta sepertiku. Sambil memakan kentang miliknya, ia terus0menerus menyenggolkan lengannya kearahku, "nee… Eren, kau tahu? Kau sempat melihat gadis penyihir,kan? Seperti apa rupanya?" tanyanya

"tak ada yang spesial." Jawabku singkat sambil makan makanan milikku. Ya, aku sudah kembali ke resimenku dan disambut oleh ribuan pertanyaan dari berbagai arah mengenai Troika, penyihir, dan Pangeran.

"kudengar para penyihir memakan makanan yang mewah dan sangat banyak! Mouuu aku mauuu!" Sasha kembali membayangkan berbagai macam hidangan mewah

"mereka monster" jelasku singkat

"setidaknya kau sempat melihat betapa cantiknya para gadis penyihir itu kan?" seru seseorang dari samping Sasha. Hannes-san

"hn"

"beruntung sekali kau!"

Tanpa mempedulikan mereka dengan kehebohannya, aku kembali ketenda kerjaku. Tentu saja secara diam-diam. Aku paling benci jika berurusan dengan para pembuat peta senior yang cerewet itu. Dengan segera, aku meletakkan tasku kemejaku dan segera merilexkan diri disana

Kami, para pembuat peta bertugas mengumpulkan informasi dan membuat peta untuk kepentingan militer, resimen kami tidaklah sespesial para penyihir. Kami hanya membuat peta untuk para prajurit biasa dan prajurit garis depan.

Aku mengeluarkan buku sketsaku dan memulai mencorat-coretnya dengan berbagai gambar wilayah yang kujumpai semelumnya sesaat setelah Hannah-san datang lalu berbisik kesal. " darimana saja kau?"

"nyaris terinjak-injak Troika pangeran dan para gadis penyihirnya," sahutku. Lalu mengambil kertas kosong untuk menyalin hasil gambarku. Hannah-san adalah salah satu pembuat peta senior –atau lebih tepatnya asisten-

Hannah-san lalu menarik napas dalam-dalam "oh? Kau benar-benar melihatnya?"

"sebenarnya, aku berusaha untuk mencoba tidak mati"

"tetapi kau tetap hidup kan?"

"yah, beruntung seseorang dengan muka datarnya dating dan menyelamatkanku" jelasku walau harus menahan malu akan insiden pelukan dan gendongan itu

Hannah-san mengambil buku sketsa dan kertasku dari tanganku, "He-hei!" pekikku

"kau gunakan ini saja" jelasnya sambil menyerahkan hasil kerjaannya

"ini kerjaanmu, Hannah-san." Tolakku

"kuberikan, dan cepat puaskan rasa ingin tahuku." Paksanya dengan nada penasaran "dan ceritakan semuanya. Hingga ke detil terkecilnya"

"baiklah."

Hannah-san menyerap setiap kata dari penjelasanku tentang empat Troika yang hampir menginjakku, tentang Troika Pangeran dan juga wajah rupawan dari salah seorang penyihir berambut cokelat madu pendek tersebut. Aku berterima kasih pada sketsanya yang sangat bagus, jujur saja, gambarnya sangat bagus jauh melebihi gambarku

Saat kami selesai berbincang, senja sudah turun. Kami menyerahkan hasil sketsa kamipada para pembuat peta senior. Dan melangkah ke tenda berantakkan demi mendapatkan makanan. Seperti biasa, kami melihat Sasha mengembil jatah beberapa prajurit dan pembuat peta. Hannah-san memaksaku menceritakan kembali tentang Troika Pangeran dan penyihir lainnya. Setiap kali Pangeran disebut-sebut, wajah mereka tampak kagum dan bangga

Aku menghabiskan makanan dengan tenang. Membiarkan Hannah-san asik bercerita, bergosip juga membicarakan tentang penyebrangan ke shadow fold esok hari.

Dan setiap nama penyihir disebut-sebut, mereka memasang wajah dengan penuh ekspresi, marah, senang, bingung, dan sebagainya.

"mereka tidak wajar."

"mereka monster"

"mereka abadi dan mereka jahat."

"dasar petani." Cibir Hannah-san sekenanya pada kebodohan orang-orang

Aku membisu, aku lebih petani dari mereka. Dan itu bukanlah hal yang patut dihina selepas dari kata-kata hatiku, aku masih bersyukur aku dapat diterima bersama Rivaille di Manshion Duke Dot Pixis. Tanpanya, mungkin kami tidak ada disini.

Kulihat kearah keramaian, Rivaille menjadi pusat perhatian diantara para Prajurit yang asik berbincang tersebut. Sorot mata kelabu itu tampak acum mendengar candaan para rekannya

Hannah-san lalu memandangku heran "ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa berteman?" tanyanya

"siapa?"

"Rivaille"

Aku terdiam lalu kembali menatap Rivaille sedang meminum kopinya, "kami tumbuh di tempat yang sama"

"tapi kalian tak memiliki kesamaan."

"anggap saja kami memiliki kesamaan saat masih belia"

"oh?"

Lelah dengan pertanyaan Hannah-san, aku segera beranjak pergi "aku lelah. Biarkan aku istirahat."

"okay!" sahut Hannah-san dengan riang

Aku melangkah keluar untuk menikmati udara malam yang cukup dingin. Dalam perjalanan menuju barak-ku, aku harus berjalan memutar melewati tenda para penyihir. Tak elaknya pula aku melihat tenda pangeran yang dijaga ketat oleh para pengawal dan penyihir terkuat mereka

Sesampai dibarak, aku segera menggantungkan mantel dan mencoba untuk tidur di kantung tidurku, kurasakan rekan-rekanku ada yang masih bercerita-ria, ada yang terdiam merenungkan diri, ada pula yang berdoa pada tuhan untuk keselamatannya esok hari.

Besok, jika semua berjalan sesuai rencana, kami akan sampai di wilayah Maria barat dan aku akan melihat laut untuk pertama kalinya. Dan Rivaille dan para prajurit lainnya akan berburu monster ukuran kecil hingga besar untuk sampai diperbatasan Negara.

Tap… tap.. tap…

Hening

Tap.. tap…

Hening

Tap… tap..

"siapa disana?" Tanya salah seorang rekanku disampingku yang merasa terganggu

"bukan apa-apa." Bisikku lalu segera meluncur keluar, tak lupa mengambil kembali mantel yang sebelumnya gantungkan

Udara dingin menyambutku, dan aku dapat melihat Rivaille duduk di bawah pohon, memunggungiku. Jauh didepannya, kulihat Hannes-san dan yang lainnya asik bermabuk-mabuk ria

Aku menatapnya dengan malas "tolong jangan membangunkanku, jika kau ingin pergi ketenda penyihir itu?"

"tentu saja tidak." jawab singkat Rivaille. "kenalpun tidak."

"dan jangan bilang kau marah, huh?"

"kuharap kau memberikan harga yang pantas untukku. aku tak akan memaafkanmu dengan mudah" tukasku, "trik murahan Rivaille tidak akan mempan." Sahutkku memalingkan wajah blushingku. Kuharap dia tidak menyadarinya

"Oh ya?" Rivaille melempar kotak kecil kearahku. Kotak kecil berwarna hitam "bukalah."

Sebuah kalung berbandul kunci perak kecil, "i..ini..?" tanyaku ragu

"ini baru permulaan Eren. Kau milikku" sahut Rivaille mendekatiku, lalu memasangkan kalung itu di leher putihku.

"kuharap kita selamat esok hari" bisik Rivaille padaku dengan perlahan

-TBC-

MUAHAHAHAHAHA PADA BINGUNG YA? NGAKU GAK? Tanya saja pada Eqa! #capeteriakmulu. makasih Kak AkaneMiyuki yang sudah meripiu-ku untuk pertama kalinya! I luv u kak! #digebukmassal oh iya! Makasih juga untuk yang ngefollow dan ngefavorit-kan! I luv u all! #dihajarmassa

Chapter III : Rivaille terluka, Eren ditangkap, Titan, dan monster di Shadow Fold,

Sama seperti sebelumnya, aku minta ripiu, saran dan semacamnya ya! #pemaksaan