Sebelumnya, maaf Eqa lupa Update karena sibuk dengan RL. Tak lupa Eqa harus merobak ulang fict ini karena agak melenceng dari yang direncanakan

.

.

.

Warning : BL in future, OOC, Typo, Alur maju mundur, bahasa super membingungkan *terima kasih wahai senpai-senpaiku disekolah yang mengajariku dengan bahasa alien kalian~*

Pairing : Riren (mungkin akan ada pairing lain.. LOL~)

.

.

Shadow and Light

.

.

.

Chapter 3 : Cahaya?

.

.

.

-Eren pov-

Pagi berlalu dengan muram, dimulai dari sarapan, perjalanan singkat ke tenda dokumen untuk menambah persedian kuas dan tinta, lalu mendengarkan keributan di galangan kapal.

Aku berdiri bersama dengan para pembuat peta lainnya untuk menaiki sebuah kapal perang. Dibelakang kami, sudah tampak para prajurit yang sudah terbangun dan menjalankan aktivitasnya. Didepan kami, sudah terdapat hamparan kegeapan ganjil dari shadow fold.

Bahkan, malam ini binatang-binatang yang ikut bersama kami menjadi ribut dan ketakutan saat akan melanjutkan perjalanan kami menyebrangi Shadow fold. Karena alasan demikian, kami akhirnya menggunakan sebuah kapal perang laut canggih yang dimuati oleh berbagai persediaan makanan, senapan, dan segala jenis barang jadi yang harus kami kirimkan ke daratan sana.

Padahal, kami bisa saja melewati jalur yang berlainan arah dari tempat ini. Namun, kami juga diberikan misi untuk mengetahui lebih jelas keadaan Shadow fold tersebut,

Aku menduga orang-orang brengsek dari kerajaan memang sengaja untuk menjadikan kami sebagai kelinci percobaan

Aku dapat melihat di depan tiang tiap masing-masing kapal, terdapat seorang penyihir yang diapit oleh dua prajuritnya. Aku dapat menebak elemen yang mereka kuasai dengan melihat sekilas dari warna kefta* yang mereka kenakan.

Kefta biru tua, penyihir pengendali air.

Dan

Kefta merah tua, penyihir pengendali api.

Setelah aku memasuki geladak kapal bersama awak lainnya, seorang kapten menyerukan komando, para seniorku mencoba menghalauku, bersama Hanna-san, dan para asisten sepertiku. Kami segera mencari posisi untuk membantu arah navigasi kapal.

Bersamaan dengan keberangkatan kapal, Aku dapat melihat Rivaille berdiri tepat tak jauh dariku, bersama para tentara elit lainnya, membawa senapan dan sepasang 3DMG yang tersarung rap di pinggang mereka.

'dengan senjata seperti itu, mereka dapat bertahan hidup lebih lama dari kami…. Mungkin?' batinku sambil mencoba meraba sebilah pisau kecil yang kusembunyikan dibalik seragamku.

Tapi tetap saja, benda sekecil ini tidaklah memberikan sebuah kepercayaan diri berlebih untukku. Justru, aku merasa khawatir akan keselamatanku dan para pembuat peta sepertiku. Kami, para pembuat peta memang hanya diberikan sebilah pisau kecil untuk perlindungan diri. Sungguh tidak adil, bukan?

Sebuah teriakkan memilukan terdengar dari seorang pengawas dan para pembuat peta dari arah berlawanan dariku. Membuat para prajurit dengan tubuh kekarnya melangkah maju dengan senjatanya

Bahkan, walau akhirnya tiba giliran kami untuk merekam segala kejadian tepat dimata kami sebelum menuangkan semuanya pada sebuah kertas, aku tidak dapat melakukan pekerjaan ini dengan semestinya. Aku tahu langkahku sedikit terguncang akibat pergerakan kapal yang secara tiba-tiba bergerak maju menuju Shadow fold. Aku mencoba menyambar pagar pembatas kapal agar rasa ketakutan ini tidak menguasaiku.

Jantungku berdetak sangat kencang.

Aku dapat mendengar deru nafas dari Hanna-san

Para penyihir mengeluarkan segenap tenaganya untuk menghadapi perubahan cuaca yang sangat tidak karuan ini, angin berhembus menjadi sangat kencang, diikuti oleh laut yang menjadi sangat ganas. Mereka berusaha untuk melindungi kapal yang kami tumpangi.

Ini barulah sebuah awal, kami belum memasuki shadow fold yang sesungguhnya.

Rasanya seperti berdiri di ujung segalanya, berfikir akan para tentara, Rivaille dan para penyihir yang menjadi penumpang kapal selain kami. Harapan sukses menyebrangi shadow fold seperti ini nyaris kurang dari satu persen.

Entah sudah berapa lama ataupun seberapa jauh kami berlayar. Saat ini yang kudengarhanyalah suara dari angin laut dan desiran ombak yang cukup kencang.

'kita akan baik-baik saja, Eren. Tenangkan dirimu' Batinku mencoba menenangkan diri. Aku dapat merasakan jika Hanna-san mencoba mencari-cari tanganku. Ia mencoba meraihnya.

"dengar…" bisik Hanna-san "Kita harus fokus" suaranya dipenuhi rasa ketakutan.

Suara senapan yang akan menembak kini terdengar. Aku dapat mendengar suara komando untuk para prajurit

"Tembak!"

"bakar mereka hingga mati!"

Komando diserukan, disertai suara tembakan senapan dan meriam dari kejauhan. Beberapa dari prajurit segera menebas Titan dengan 3 manuler milik mereka.

Aku segera mengalihkan kedua mataku hingga mendapati tiga Titan berukuran lima meter itu mencoba menghancurkan tiap-tiap dari prajurit.

'Rivaille?! Dimana dia?' batinku mencoba mencari Rivaille. Diantara kerumunan orang yang sedang berlalu lalang mencari cara mengusir para titan di depan kapal.

Kami baru saja memasuki Shadow fold, dan cahaya tidak dapat memasuki kegelapan di dalamnya. Suara tembakkan dan suara teriakan para pemanah yang melepaskan anak panah mereka, suara sangat nyaring dan begitu mengerikan

Seorang tentara diremas dan diremukkan dalam sekejap oleh tangan Titan tersebut Aku menatap syok sebelum Hannah menyuruhku menunduk dan bersembunyi dibalik tembok kapal, hanya doa yang bisa kupanjatkan bersama Hannah-san sambil memegang sebilah penyihir dan tentara terjebak diantara peperangan antar manusia dengan titan didepannya.

Kulirik disamping kiriku, teman seperjuanganku Mina Carolina tampak pucat. Ia menggertakkan giginya berulang kali, serta memegang kedua lututnya

"Aku ingin pulang ke rumah"

Tidak, bukannya aku seorang pendusta. Tapi, apakah Mansion tempatku tinggal bersama Rivaille dapat disebut sebagai 'rumah' apa tempat itu bisa menjadi tempat kami 'pulang'? sungguh, hal itu menjadi gundahan hati disela keributan ini.

"Arrkk!" terdengar suara dari kejauhan, kini wajahku memucat seraya mengeluarkan tetesan keringat dingin.

Titan itu, mengangkat salah seorang pembuat peta, meremasnya seolah ia sedang meremas spons, menremukkannya hingga hancur

Suaraku tidak dapat kukeluarkan. Tubuhku kaku seperti sebuah patung dan jam rusak.

Deg!

"Eren! Awas!" teriak salah seorang senior pembuat peta dari kejauhan yang sontak membuatku semakin merasa kaku.

'kenapa mimpi buruk ini, tidak pernah berakhir?'

.

.

.

.

'tbc'

*kefta : baju berjubah panjang seperti mantel, terbuat dari kulit hewan da nada tudungnya

Gomeenn! Eqa kena WB berat! Entah bagaimana Eqa akan melanjutkan kisah ini. Mungkin setelah UAS akan Eqa lanjutkan?

Sebelumnya maaf bila Eqa tidak sempat membalas ripiu dan PM senpai-tachi sekalian pada chapter-chapter terdahulu, Eqa mengetik Fict ini melalui hp

Ripiu please?