Look and Lock 01

by

acyanokouji

.

Summary: Sasuke Uchiha TIDAK pernah memohon. Ia-lah yang mustinya dipuja dan dimintai permohonan. Jadi, mustinya ketika ia bertemu anak magang di kantornya –yang terlihat tidak tertarik padanya- ia tidak perlu kepikiran, kan?

.

All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.

Warning: OOC, typo(s), crack couple, lemon!

.

.

.

Sekarang adalah hari sabtu, jam delapan malam lewat dua puluh empat menit. Waktu yang tepat untuk bersiap pergi berkencan. Namun, itu adalah hal yang biasa dilakukan para anak-anak muda. Bagi Sasuke Uchiha yang tahun depan akan mencapai usia 30 tahun, mengerjakan laporan di kantor yang batas waktunya masih dua minggu adalah sebuah pilihan terbaik.

Sasuke memerhatikan suasana malam kota dari jendela kantornya yang hampir membingkai keseluruhan ruangan. Matanya terpaku pada lampu pesawat terbang saat gawainya berdering, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Sasuke meraih gawainya, pesan tersebut dikirim oleh Itachi, kakaknya. Kau di mana? Jangan bilang di kantor. Kau tidak lupa titipanku, 'kan? Aku menunggu, Sasu! Sasuke berdecak sebal, tahu dari mana sih?

"Tuan Sasuke." Sasuke menoleh pada suara dari balik pintu. "Apa Anda akan pulang sekarang? Kami harus mengunci kantor sekarang."

Oh, Sasuke sudah diusir. Dengan berat hati, Sasuke bangkit. Ia mengambil jasnya yang tersampir di kursi, memakainya guna menutupi kemeja putih lengan panjang yang dipakainya. Setelah memastikan tak meninggalkan gawainya, Sasuke keluar ruangan.

"Laporkan pada Itachi, aku sudah pergi." Sasuke berkata tepat saat keluar ruang kerjanya. Di balik pintu seorang pria paruh baya yang menjadi petugas janitor tersenyum pucat. Dua saudara Uchiha yang sayangnya harus jadi atasannya itu memang sangat mengerikan.

Sepanjang perjalanan pulang, Sasuke mengumpat terus-terusan. Bagaimana tidak? Ia sedang mengemban misi dari kakak kandungnya. Misi konyol karena ia kalah main game online. Bisa bayangkan bagaimana kesalnya Sasuke saat kakaknya minta dibelikan lingerie? Parahnya lingerie itu diperuntukan kakak iparnya yang Sasuke harap terlahir sebagai kakak kandungnya, Kakak Manis Sakura Uchiha.

Menurut Sasuke, permintaan Itachi sangat tidak masuk akal. Sakura itu istrinya, kenapa malah Sasuke yang disuruh membelikan lingerie? Ini lingerie loh, pakaian yang hanya dipakai saat kita bersama dengan pasangan. Ya, 'kan?

"Itachi berengsek!" Sasuke memukul stir mobilnya. Alisnya menekuk tajam. Besok adalah batas waktu yang diberikan Itachi pada Sasuke untuk membelikan 'baju lucu' yang cocok bagi kakak iparnya. Kalau tidak, Sasuke musti pindah ke kantor cabang lain. Bukankah ancamannya terlalu berlebihan? Sialnya, Itachi punya rekaman suara perjanjian yang diambil diam-diam.

"Cih, seperti aku mau saja!"

Sasuke berdecih. Kemudian, tanpa sengaja matanya menangkap sebuah papan LED toko lingerie yang ada di sisi kiri jalan. Ia menimbang-nimbang, haruskah ia mampir? Tanpa sadar, mobil Sasuke sudah ada di depan toko tersebut.

"Selamat datang di toko Yama Nyang! Kami memiliki semua barang yang akan menaikkan gairah seksualmu! Silakan melihat-lihat, Nyangh~"

Sebuah suara menyapa Sasuke ketika ia membuka pintu toko tersebut. Ia mendogak sebentar pada pengeras suara otomatis di atas pintu. Jijik sekali. Suara laki-laki nyentrik.

"Wah, Wah. Ada pelanggan tampan~" Sasuke menoleh dan melihat seorang pria berambut pirang panjang berjalan ke arahnya. Suaranya sama seperti suara rekaman itu.

"Ada yang bisa kami bantu, Tuan? Barang apa yang kau cari?" Sasuke baru membuka mulutnya tapi si laki-laki pirang langsung bicara lagi dengan cepat.

"Apa kau butuh tambahan barang seks dengan pacarmu? Perempuan? Laki-laki? Oh ho ho! Untuk dipakai sendiri?! Kami punya alat yang pas untukmu!"

Pria itu menunjukkan sesuatu yang menyerupai alat kelamin pria berukuran besar dan err... bergerigi? What the –! Milik Sasuke sudah cukup untuk memuaskan semua pasangannya –note, perempuan.

"Bagaimana? Bagaimana? Kau mau beli?"

Sasuke bersumpah seringaian pria pirang itu sangat, sangat, sangat creepy. Sebelah matanya yang tertutupi rambut menambah kesan seram. Sasuke yakin wajahnya sendiri sekarang sudah terkejut dengan menyeramkan.

"Kau menakuti pelanggan kita, Dei!" seorang wanita cantik muncul. Rambutnya sama pirang. Wanita itu menghembuskan napas kesal dan memukul tengkuk si pria yang dipanggil Dei. "Aww!" Dei mengaduh sebentar.

"Pergi sana! Aku yang akan melayani pelanggan kita." Dei hendak protes tapi si perempuan pirang menatapnya dengan tajam hingga laki-laki pirang itu berbalik lesu.

"Ah, maafkan sikap dia." si wanita pirang bicara pada Sasuke. "Aku Ino Yamanaka, manajer toko. Yang tadi itu kakakku, Deidara Yamanaka. Dia juga pemilik toko ini tapi dia tidak pandai menyambut pelanggan."

Ino tertawa canggung, Sasuke sudah kembali ke wajah datarnya. "Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan?"

"Aku mencari lingerie perempuan," kata Sasuke.

"Oh, untuk pacarmu?" Ino sedikit menggoda tapi ia lalu berdeham melihat raut kesal Sasuke. "Baiklah, ikuti aku, Tuan."

Ino berjalan di depan Sasuke, membawa pria Uchiha tersebut ke ruangan sebelah. Bagian yang memajang berbagai jenis lingerie perempuan.

"Ini semua adalah lingerie perempuan yang kami jual," kata Ino. "Kau bisa melihat-lihat di rak atau contoh katalog yang kami pajang."

Sasuke memandang ke sekeliling. Itachi sialan. Bisa-bisanya dia menyuruh adiknya membeli lingerie perempuan. Untung Sasuke pandai menyembunyikan perasaannya. Kalau tidak, sudah pasti wajahnya memerah sekarang.

Di dinding ruangan itu terpajang beberapa bingkai foto perempuan yang memakai lingerie. Mata Sasuke terhenti pada dua buah foto –pertama dan kedua. Matanya sedikit membola karena antusias. Di foto pertama menampilkan badan perempuan yang sedikit menyamping. Ia memakai lingerie warna merah yang membentuk lekuk badannya hingga pangkal pahanya. Juga ada tambahan bulu bulat mirip ekor kelinci di belakang tubuhnya.

Foto kedua menampilkan tubuh perempuan yang menghadap kamera. Model lingerienya berupa potongan bra dan celana dalam hitam yang disatukan beberapa tali tipis penghubung melingkari perutnya. Ujung bra juga memiliki tali yang melingkari leher si model. Persamaan kedua foto tersebut adalah dua-duanya hanya menampilkan badan sang model. Bagian wajahnya terpenggal, jadi yang melihat bisa berfantasi sesukanya.

Sasuke memandang takjub foto kedua. Tubuh perempuan itu menggairahkan. Perutnya memang tidak rata seperti model-model yang lain. Pinggangnya juga tidak seramping wanita bernama Ino Yamanaka yang pamer udel dengan kaos crop topnya. Tapi, ukuran dada, pinggang, dan pantatnya yang sedikit menyembul dari samping, terlihat sangat pas. Entah kenapa Sasuke merasa bergairah memandangnya.

"Aku mau yang itu." kata Sasuke, ia tidak mengalihkan perhatiannya dari foto.

"Maaf?" Ino menatap bingung. Pelanggannya tidak menunjuk apapun dengan tangannya. Ia akhirnya mengikuti arah pandang Sasuke pada foto lingerie nomor dua di dinding.

"Oh, Anda ingin membeli lingerie yang ada di foto itu?" Ino bertanya retoris. "Ukuran apa yang ada inginkan, Tuan?"

"Berikan yang sama persis seperti foto itu."

"Eh?" Ino mengerjab-ngerjabkan matanya. "Kau yakin, Tuan? Tidak mencocokannya dengan ukuran tubuh perempuan Anda?"

"Tidak. Aku mau..." tubuh "...yang seperti di foto."

"Baiklah. Aku akan menyiapkannya untukmu, Tuan."

Ino tidak ambil pusing. Pelanggan tertarik pada barang yang dijualnya, mereka membeli, Ino dapat uang. Simpel. Ino segera membungkus satu lingerie pada pria jangkung berambut raven. Sepanjang transaksi jual-beli, Ino bisa melihat kalau laki-laki itu terus melirik bingkai foto yang tadi ditunjuknya.

.

.

"Sasuke, kau sudah pulang?" Sakura menyapa Sasuke yang baru masuk rumah dengan sebungkus tas belanja di tangannya. Adik iparnya itu menanggapi dengan dehaman. "Kau bawa apa, Sasuke?" Sakura menelengkan kepalanya, mencoba melihat bungkusan yang dibawa Sasuke.

"SA-SU-KE!"

Tiba-tiba Itachi berseru dari arah tangga. Laki-laki berambut panjang hitam itu tersenyum lebar dan berjalan cepat menuju adiknya. Sakura mengernyit. Ada apa dengan suaminya?

"Kau membelikan pesananku?" Itachi merangkul Sasuke sambil mesem-mesem. Begitu Sasuke menjawab, 'ya', dengan segera Itachi menarik Sasuke menuju kamar adiknya yang ada di lantai satu. Mengabaikan teriakan Sakura yang penasaran.

"Jadi, jadi, kau beli yang model apa?" Itachi bertanya dengan antusias sesaat setelah mereka berdua masuk di kamar Sasuke. Oh, setelah memastikan pintu terkunci juga.

"Lihat saja sendiri." Sasuke menyerahkan bungkusan pada Itachi. Ia berjalan masuk untuk melepas jas dan dasinya ke tumpukan baju kotor. Di sisi lain Itachi buru-buru membuka bungkusan dan plastik baju.

Itachi melebarkan lingerie yang dibeli Sasuke. "Model bikini, ya?" gumam Itachi. Pria itu menatap Sasuke dengan tatapan cabul. "Jadi, kau suka yang seperti ini ya, Adikku?"

"Bodoh!" Sasuke melempar sebelah sepatunya pada Itachi. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu terkekeh. Lemparan Sasuke tidak mengenainya.

"Tapi, Sasu..." Itachi meneleng-nelengkan kepalanya. "Ukurannya tidak pas untuk Sakura."

Berengsek. Sasuke memaki dalam hati. Ia lupa kalau niat awalnya adalah membelikan lingerie untuk istri Itachi.

Sasuke bisa merasakan hawa Itachi yang menatapnya lekat-lekat dari belakang. Benar saja, ketika ia berbalik Itachi sedang tersenyum lebar kepadanya. Freak.

"Hahahahaha kau membeli untuk memenuhi fantasimu, ya?" Itachi tertawa puas, mengejek Sasuke yang menggerutu kesal. Sasuke berdecak dan bersidekap. Sudah ia duga kalau Itachi memang hanya ingin mengerjainya sejak awal.

"Sayang sekali aku tidak bisa memberikan lingerie baru lagi untuk Sakura. Tapi aku lega, kau sepertinya tidak tertarik begitu pada istriku."

Sasuke mendelik kesal. "Kau gila? Kak Sakura itu hanya sosok kakak yang aku idamkan!"

"Iya, iya. My bad." Itachi mengedikkan bahu. "Tapi, Sasuke, kau beli lingerie ini untuk apa? Kau 'kan tidak punya pacar."

Sasuke hendak menimpali tapi Itachi keburu bicara lagi. "Partner seksualmu juga bukannya cuma berhubungan lewat telepon, ya?" Itachi bertanya –sambil mengejek lagi- lenggang. Ia mundur pelan-pelan ke arah pintu. "Kalau begitu, selamat memakainya sendiri, Sasuke!"

Pintu kamar Sasuke terbuka dan tertutup dengan cepat. Itachi kabur keluar dan melemparkan lingerie baru Sasuke sembarang. Lingerie itu mendarat tepat di bawah kaki Sasuke.

"ITACHII!"

.

.

Sasuke benar-benar marah pada kakaknya. Ia mogok makan di rumah. Jadinya, ia tidak punya tenaga saat tiba di kantor hari senin.

Sasuke memegang kepalanya yang terasa nyeri. Elevator yang dinaikinya terbuka di lantai dasar. Seorang perempuan berambut panjang gelap masuk dan sedikit membungkuk pada Sasuke. Sasuke mengabaikan sapaan padanya. Ia menghela napas lelah.

Setelah pintu elevator tertutup dan mereka mulai bergerak ke lantai atas, Sasuke melirik perempuan di samping melalui ekor matanya. Perempuan itu memakai kacamata. Poni di atas alis menghiasi jidatnya. Sebuah amplop besar warna merah berada dalam pelukan di depan dadanya.

"Kau siapa?" tanya Sasuke. Perempuan itu menoleh, menampilkan matanya yang bulat dan besar.

"Ah, maaf, Tuan. Saya Hinata Hyuuga, mahasiswa magang." perempuan bernama Hinata itu membungkuk sekali lagi pada Sasuke. Si pria yang disapanya hanya menanggapi acuh tak acuh. Pria itu kembali merapikan bajunya dan menatap ke depan, hanya bocah ingusan.

Lift berhenti di lantai tujuh. Pintu lift terbuka. Hinata bergerak maju untuk keluar. Amplop yang dipeluknya kini sudah berada dalam tentengan. Sebelum elevator kembali bergerak, Hinata berbalik dan berpamitan pada Sasuke. Detik-detik pintu lift tertutup, Sasuke melirik sedikit. Tak lama matanya membulat sempurna.

DADANYA BESAR!

.

.

Beberapa hari setelahnya, Sasuke terus memikirkan anak magang di perusahaannya. Tubuh perempuan itu agak pendek, mungkin sekitar 160 sentimeter. Wajahnya juga bulat dan gembil, terlihat masih muda. Tapi, berdasarkan pandangan –tidak senonoh- Sasuke, ia yakin kalau perempuan itu sudah cukup matang, secara usia –mungkin.

Tiba-tiba Sasuke teringat perkataan Itachi tempo hari. Jadilah ia beberapa kali mondar-mandir di lantai tujuh, bagian divisi keuangan. Para pegawai kantor yang mengenalnya bahkan bertanya-tanya. Kenapa wakil direktur berkeliaran di luar ruangannya?

"Aku hanya ingin memeriksa kinerja kalian." alibi Sasuke saat ditanya Gaara Sabaku, kepala divisi keuangan.

"Saya jelas bilang akan menyerahkan laporan keuangan minggu depan, Pak Wakil Direktur." sindir Gaara. Ia mendengus karena Sasuke Uchiha sering datang ke ruang kerjanya. Memang sih mereka teman tapi kalau di kantor Gaara merasa diawasi atasan, dan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

"Ya, ya. Lakukan saja pekerjaanmu. Aku hanya akan melihat-lihat." Sasuka berkata lenggang. Ia berjalan menuju tirai di jendela ruang kerja Gaara yang mengarah pada ruang kerja karyawan lain. Sasuke mengintip dari tirai pipih-pipih, memerhatikan karyawan divisi keuangan.

"Kau kenapa sih? Apa aku berbuat salah, Sasuke?" Gaara kesal. Ia paling tidak suka diganggu saat sedang bekerja. Apalagi sekarang yang ditanya malah mengabaikannya. Makin kesalah Gaara.

"Belum ada. Aku hanya ingin bertanya. Apa kau mengenal–"

"Mengenal siapa?" Gaara bertanya karena Sasuke tak kunjung melanjutkan ucapannya.

Ternyata Sasuke sedang tersenyum miring ketika matanya melihat sesuatu. Ia berbalik pada Gaara. "Tidak jadi." kata Sasuke. Pria itu berjalan menuju pintu. "Dan pastikan kau tidak berbuat salah, Ketua Divisi!" seru Sasuke sebelum pergi keluar ruangan Gaara. Bungsu Sabaku mengangkat sebelah alis tipisnya, Sasuke salah makan ya?

Sasuke menengok ke kanan-kiri. Ia bergerak menuju ruang istirahat divisi keuangan. Pintu ruangan tersebut tidak tertutup sempurna tapi sangat sempurna bagi Sasuke untuk mengintip. Dari celah pintu, Sasuke bisa melihat perempuan yang sedang melepas kacamata dan menaruhnya di atas meja. Perempuan itu mengikat tinggi rambut panjangnya. Lalu, perempuan itu berjalan ke arah cermin dan membuka dua kancing kemeja hitamnya.

Sasuke melotot. Bahu mulus hampir seputih susu itu terpampang di depan matanya. Si pemilik tubuh menyapirkan kemejanya sebelah. Kemudian perempuan itu berbalik, memunggungi Sasuke dan menatap pantulan dirinya di cermin. Si perempuan sedikit meringis. Setelah diperhatikan lagi, ia sedang mengoleskan sesuatu pada pangkal lengannya.

Sasuke meneguk ludah. Matanya berkabut melihat pemandangan sedikit erotis. Lalu, ia menyeringai hampir sama mengerikannya seperti seringaian laki-laki pirang bernama Deidara tempo hari. "Dapat," bisik Sasuke.


a new hot story for SasuHina, kyaaaa...

#Alasan #IdeSedangMandek :)