Disclaimer : Karakakter BoBoiBoy dan kawan-kawan milik Monsta Studio

Original character and Story are mine







"Badan sama muka aja kayak preman, pas ketemu sama Guru BK auto ciut kayak anak ayam."

*

Yaya duduk sendiri di kursinya sambil membaca novel. Di kepalanya terpasang headphone yang menancap pada ponselnya. Mendengarkan instrumen dari beberapa lagu ballad boygroup. Tidak memperdulikan bagaimana keadaan sekitarnya yang sudah kosong melompong. Maklum saja, ini sudah jam istirahat dan sebagian siswa memilih pergi ke tempat lain.

Dengan pelan Yaya membalikan halaman demi halaman, menghayati bacaan novel bergenre misteri tersebut.

Akan tetapi, baru saja dia akan membuka halaman selanjutnya, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya keras. Membuat Yaya tersentak.

PUK!

"AIGO KAMJAGIYA!"

"Humpppt ... anjir, lo nge-fans sama Doyoung ya?" tanya seseorang sambil menahan tawanya.

Terdengar dari suaranya sih, Yaya yakin kalau yang barusan mengejutkannya itu adalah Ying.

"Kalo iya kenapa?" Mata Yaya melotot kesal, siap melahap orang.

Ying mendudukan dirinya di depan temannya itu, lalu berpangku dagu. Manik kelabunya menyorot jahil. "Gue cuma mau ngasih tahu aja, siapin hati aja supaya kuat," katanya.

Kening Yaya mengerut tanda tak paham dengan maksud Ying.

"Kenapa?"

"Soalnya kalo ngehaluin dia, bukannya diajak terbang, malah dijatohin. Kan sedih yang ada," ujarnya dengan mimil dramatis. Mungkin karena efek menonton video member NCT Doyoung.

Yaya memandang teman seperjuangannya itu dengan datar. Sedangkan Ying memamerkan cengiran khasnya.

"Udah ah, kenapa jadi ngerembet ke sana?" Yaya menghentikan topik pembicaraan yang dadakan itu. "Btw, dari mana aja lo? Dari tadi gue nggak lihat lo di mana-mana," tanyanya heran.

Tentu saja dia heran. Setahunya, Ying itu jarang sekali berpergian sendiri. Biasanya Yaya akan menemaninya berkeliling sekolah. Hal itu dikarenakan sifat Ying yang kadang akan menjadi pemalu. Terutama saat bertemu dengan lawan jenis.

Akan tetapi, baru kali ini dia melihat perubahan itu.

Sungguh tak disangka.

Ying yang mendengar pertanyaan Yaya tiba-tiba saja terlihat malu-malu. Rona merah menjalar di pipinya dan membuat Yaya bertanya-tanya dalam hati.

Ada apa dengan anak itu?

Karena penasaran, akhirnya putri sulung Tuan Yah itu bertanya. "Kenapa muka lo merah gitu?"

Ying tersentak. "Eh, nggak pa-pa," ucapnya cepat.

Mata Yaya memicing tak percaya. "Serius?"

"Mn."

"Lo gak lagi bohong sama gue, kan, Ying?" todong Yaya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Ying guna memberi efek mengintimidasi.

Dengan cepat Ying menggelengkan kepalanya. Menjawab kalau apa yang Yaya tuduhkan padanya tidak benar.

Namun, baru saja dia akan melontarkan pertanyaan lagi sebuah keributan terdengar dari arah luar.

"KYAAAAA!!!"

"ADA SERANGAN!!!"

"WOY ADA YANG TAWURAN!!"

"ANAK SMA SEBELAH NYARANG WOY!!"

"GUE TAKUT!!"

Sontak saja kedua cewek yang berada di kelas itu menengokan keluar jendela. Di sana sudah terjadi keributan karena banyaknya siswa dan siswi yang berlarian ke sana kemari untuk menghindar. Bahkan, mereka tanpa perduli saling menabrak satu sama lain.

Yang ada di dalam kepala mereka saat ini adalah menyelamatkan diri dari serangan SMA sebelah.

Yaya menajamkan matanya saat melihat ke satu titik. Detik berikutnya dia menghela napas berat.

"Ying, kita perlu mengurus para dedemit setelah ini." Yaya berujar dengan lelah.

"Kenapa?"

"Gak pa-pa. Cuman mau bikin jera aja."

*

"WOY! Keluar kalian! Jangan cemen!"

"Kalo masih punya nyali, keluar woy! Jangan cuma main kotor aja!!"

"Dasar banci!"

Halilintar dan yang lainnya menatap datar sekumpulan besar murid berseragam SMA Harapan yang berdiri di depan gerbang sambil berteriak. Beberapa dari mereka membawa senjata tajam. Seolah memang seniat itu menabuh genderang perang dengan SMA Cempaka.

Yahya yang berdiri di sisi kanan Halilintar bertanya, "jadi gimana, Hal? Maju apa nggak?"

"Gak ada pilihan lain." Halilintar mengusap wajahnya, lalu menghela napas pelan. "Gue juga penasaran apa yang bikin mereka kayak gitu. Padahal, beberapa bulan ini udah tenang karena gak ada keributan," ujarnya datar.

"Bener juga. Yang bikin gue bingung sih, kenapa mereka semua bilang kalau kita cemen, main kotor sama banci? Emangnya siswa dari sini bikin masalah sama mereka?" Solar menautkan alisnya dengan bingung.

Bukan apa-apa, hanya saja perkataan dari lawannya itu membuat Solar bertanya-tanya kejadian sebenarnya. Tidak mungkin, kan SMA Harapan menyerang begitu saja tanpa alasan yang tidak jelas.

"Mangkanya, kita hadepin aja mereka sekalian nanya, ada masalah apa sebenarnya," cetus Taufan semangat.

Fang menatap malas pada kembaran kedua Aryawinata itu. "Lo kalo urusan kek gini, semangat amet, Fan," sindirnya.

"Yo jelas."

"Astaga," keluh Fang pusing dengan tingkah absurd bin aneh seorang Taufan Aryawinata.

"Ya udah. Solar," panggil Halilintar pada adik bungsunya.

"Hm?" Solar sibuk membuka laptopnya. Matanya terus saja terpaku pada monitor.

"Lo udah hubungin anak-anak?"

"Udah."

"Siip. Kalo gitu, sekarang kita ke depan. Gue yakin mereka udah standbye di gerbang," ajak Halilintar yang dibalas anggukan oleh kedelapan orang itu.

Mereka pun berjalan dengan cepat menuju gerbang sekolah untuk menghadap para siswa dari SMA Harapan. Di belakangnya ada Solar dan Azura yang mengobrolkan sesuatu.

"Omong-omong, Blaze, ini kita tawuran pihak sekolah gak bakalan manggil kita lagi, kan?" tanya Solar pada saudaranya.

Blaze menggedikan bahunya. "Mana gue tahu. Yang jelas, kalo si Yaya tahu ada tawuran ya, mungkin bakalan kayak tahun kemarin. Auto dipanggil ke BK," sahutnya dengan santai.

"Semoga aja."

"Hm."

Hemm ... andaikan kalian tahu wahai anak muda kalau sebenarnya orang yang kalian maksud sudah bertindak dengan gesit. Jadi, selamat menunggu panggilan dari BK.

*

Halilintar dan yang lainnya sudah bergerak keluar gerbang sekolah untuk menemui musuh mereka. Dengan jabatannya sebagai ketua geng serta membawa pasukan, dia berdiri di depan menghadap langsung ketua pasukan musuh. Terlebih dia juga mengenalnya.

"So, apa alasan lo nyerang wilayah gue ha?" Halilintar mulai membuka suara.

"Harusnya lo tanyain sama anak buah lo. Ngapain dia ngusik ketenangan anak Harapan!" bentak si pemimpin pasukan.

Halilintar mengerutkan keningnya tak paham. Ia melirik semua anggotanya yang berada di belakang untuk mencari jawaban dari apa yang dimaksud oleh pemimpin lawannya itu.

"Ada yang mau kalian jelasin sama gue? Cepat, sebelum gue yang maksa kalian jawab," teriaknya keras.

Para anggota dari gengnya tak ada yang angkat bicara. Mereka justru terlihat saling melempar pandang dan menyikut satu sama lain. Hal tersebut tentu saja tak luput dari manik tajam Halilintar. Oleh karena itu, dia berbalik ke arah mereka dan berdiri tegap.

"Nggak ada yang mau ngaku?!" bentak Halilintar.

Gempa meringis kecil saat suara bentakan terdengar. Halilintar sudah berada dalam emosi yang cukup tinggi, terlebih masalah kali ini berasal dari orangnya.

Dalam hati Gempa berharap jika ini segera cepat selesai. Bagaimana pun juga, dia tidak mau terjadi pertumpahan darah kali ini. Cukup dua tahun lalu salah satu saudaranya pernah nyaris meregang nyawa akibat kecerobohan seseorang.

Bersamaan dengan itu, seorang pemuda berjalan maju ke depan sambil menautkan kedua tangannya. Penampilannya terlihat sedikit urakan, terlebih sebuah headband terpasang di kepalanya. Pemuda itu menunduk tak berani menatap Halilintar.

Halilintar menautkan alisnya. "Ngapain lo maju?"

"G-gue cuma mau ngaku kalo masalah ini terpicu karena gue," ujarnya gugup.

"Lo udah melakukan apa sampai mereka nyerang ke wilayah kita? Gue ingin jawaban jujur biar masalah kali ini dibicarain baik-baik."

Pemuda itu melirik pada kelompok lawan di depan sana tajam, seolah-olah menunjukkan rasa marah dan dendam dalam dirinya.

Halilintar mengerutkan kening, tetapi tidak bicara.

"Sebenarnya, itu semua karena gue punya dendam pribadi dengan mereka. Akibat kebrutalan mereka di jalanan, kakak gue yang saat itu akan pulang sekolah meregang nyawa di salah satu senjata geng anak Harapan. Itu kejadian dua tahun lalu, tetapi gue nggak bisa lupa dan maafin mereka begitu saja!"

Salah satu anggota dari SMA Harapan berseru.

"BOHONG! LO CUMAN OMONG KOSONG!"

"ITU KENYATAAN! KAKAK GUE MENINGGAL KARENA KALIAN SEMUA!"

"ITU SALAH DIA KARENA NGGAK MELIHAT KALO ADA TAWURAN!"

Pemuda itu membulatkan matanya. "Lo ... benar-benar nggak punya hati nurani." Ia menggelengkan kepalanya saat merasa lelah.

Halilintar terdiam cukup lama. Para saudaranya yang ada di sana menatap cemas, takut jika Halilintar akan melakukan sesuatu saat membicarakan kejadian dua tahun lalu.

Dua tahun lalu ...

"Halah! Banyak bacot mulu lo semua!" Seorang anggota dari SMA Harapan menyela sambil menaikkan tongkat pemukul di tangannya. "GUYS! SERANG!"

Namun, belum sempat mereka maju, suara teriakan seorang perempuan terdengar lantang dari arah pintu gerbang.

"BERHENTI KALIAN SEMUA PARA MANUSIA BRENGS*K!"

*

To Be Continued

Hello everyone!

Finally I can continue this story after along time hahaha. Kalau ingin membaca juga ada di versi wattpad, cuman bakalan dalam status hold on sih. Aku baru mau ngetik lagi soalnya wkwkw

Dannnnnn percayalah aku lagi jatuh cinta sama third tier-nya Duri huhuhu he looks so nice!

See you in next time!