-•-•-•- -•-•-•-
"NEIN"
A "BoBoiBoy" fanfiction by kurohimeNoir
Commission for Roux Marlet
Disclaimer: Monsta©
-•-•-•- -•-•-•-
.
.
.
.
.
NEIN
Bab 6. Go Down Fighting, Go Down Like Lightning
.
.
.
.
.
"Apakah nama aslimu adalah ... Kaizo?"
Pria itu tertegun ketika tiba-tiba BoBoiBoy melontarkan satu pertanyaan tak terduga. Tidak. Dia sudah tahu, cepat atau lambat, BoBoiBoy pasti akan menanyakan hal ini. Namun, pada akhirnya, pria itu hanya mendesah. Kemudian berbalik memunggungi BoBoiBoy.
"Bukankah masih ada hal yang harus kaulakukan?"
Kata-kata berikutnya yang terlontar dari mulut orang itu bukanlah jawaban. BoBoiBoy ingin sekali lebih mendesaknya. Sudah terlalu banyak pertanyaan dan dugaan yang menumpuk di benaknya tanpa mendapatkan kepastian.
Ah, benar juga. Kapten Kaizo di dimensi itu adalah abang kandung dari Fang, bukan? BoBoiBoy pun teringat, malam itu di studio musik, ketika Fang sempat bercerita sedikit kepadanya bahwa dia memang memiliki seorang abang.
"Jangan-jangan ... kau dan Fang—"
"BoBoiBoy," ucapan BoBoiBoy dipotong dalam nada rendah. "Waktumu tidak banyak."
Baru saja sang pria bermata merah berkata begitu, dimensi tempatnya berada sekarang bersama BoBoiBoy, mendadak berguncang. Seperti gempa kecil, hanya terjadi dalam beberapa detik singkat.
"A-Apa yang terjadi?" BoBoiBoy nyaris terlambat menyadari detak jantungnya yang kini seperti habis berlari. "Guncangan apa itu tadi?"
"Kau yakin, tempat ini bisa bertahan lama?"
"Apa?" Kebingungan BoBoiBoy perlahan berubah menjadi kekesalan, seiring pemuda itu yang mengepalkan kedua tangannya. "Cukup main teka-tekinya! Jelaskan padaku, semuanya!"
Nada menuntut di dalam ucapan BoBoiBoy hanya mampu membuat lawan bicaranya mendengkus samar.
"Daripada mengurusi urusanku, bukankah lebih baik kau fokus pada masalahmu sendiri?"
Suara pria itu kini terdengar begitu dingin. BoBoiBoy terdiam, sementara terkilas cepat di benaknya, segala ingatan tentang Kapten Kaizo di dimensi lain. Terkadang, pria itu pun bisa bersikap dingin, bahkan kepada orang-orang yang disayanginya. Termasuk kepada adiknya sendiri. Dan setiap kali itu terjadi, selalu ada sesuatu di baliknya. Ada suatu tujuan yang ingin diraih oleh sang kapten berjuluk Pemberontak Legenda.
BoBoiBoy pun berbalik kembali, lantas berjalan mendekati tombak berlambang petir merah. Di hatinya, ia telah menyimpan satu keyakinan. Pria bermata merah itu memang Kaizo. Yang berarti, dialah abang yang pernah disebut-sebut oleh Fang.
Tangan pemuda itu terulur menyentuh tombak, segera setelah ia menempatkan diri tepat di hadapannya. Secepat matanya yang terpejam, kilasan-kilasan memori di sekitar kejadian bangkitnya BoBoiBoy Halilintar, menari-nari di benaknya.
Sekilas, kejadian naiknya Petir ke tahap kedua itu terkesan 'lucu', bagaimana ia ketakutan terhadap balon-balon yang sengaja diletuskan oleh Adu Du dan Probe tepat di depan mukanya. Namun, BoBoiBoy sangat paham, sesungguhnya itu adalah satu peristiwa yang sangat menakutkan. Fobia, bukanlah hal yang bisa dipandang remeh, apalagi dipermainkan.
Berpikir begitu, tekad BoBoiBoy makin membaja untuk mengubah penderitaan ini. Ia mengilas balik kejadian-kejadian sebelumnya, mencoba menemukan celah untuk mengubah keadaan.
Apakah dirinya harus mencoba berbisik sekali lagi kepada Probe untuk tidak menakut-nakuti Petir dengan letusan balon? BoBoiBoy berpikir, itu bisa saja berhasil. Namun, Petir tetap sudah telanjur diculik. Di samping itu, ia juga tak yakin, apa lagi yang bisa diperbuat Adu Du walau ide meletuskan balon itu berhasil dihentikan. Bisa jadi malah akan terjadi hal lain yang lebih parah.
Kalau begitu, mencegah Petir diculik oleh Adu Du tampaknya lebih masuk akal. Akan tetapi, bagaimana caranya? Mungkin ia bisa mencoba memberitahu ketiga pecahan BoBoiBoy itu pada saat pertarungan melawan Adu Du di depan Kedai Kokotiam, bahwa Petir akan diculik.
BoBoiBoy mendadak teringat alterasi sebelumnya dengan Angin. Tiba-tiba ia khawatir, bagaimana kalau kali ini pun suaranya tidak sampai kepada para elemental. Apalagi, penculikan Petir terjadi begitu cepat. Apa akan sempat?
Sekian menit berlalu dalam hening, hingga BoBoiBoy membuka mata kembali sembari menarik tangannya. Di belakang sana, pria yang diyakini bernama Kaizo, mengerutkan kening. Pikirnya, BoBoiBoy akan langsung pergi untuk melakukan alterasi berikutnya, sama seperti yang sudah-sudah. Namun, ternyata, pemuda itu masih di sini, diam setengah menerawang sambil pasang pose berpikir.
"Apa ada masalah?" Kaizo tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Bukan apa-apa," sahut BoBoiBoy setengah acuh. "Hanya sedikit bingung bagaimana harus melakukan alterasi kali ini."
"Hoo? Tumben sekali."
"Kalau nggak mau bantu, lebih baik diam saja."
Kaizo mendengkus samar sembari mengangkat bahu. Sementara kening BoBoiBoy masih berkerut mencari jawaban terbaik. Hingga akhirnya tatapan mata itu kembali terisi keteguhan.
"Tidak perlu ragu. Kalaupun gagal, kau masih bisa mencoba melakukan alterasi lagi, bukan?"
Ucapan yang keluar dari mulut Kaizo, tepat sebelum BoBoiBoy menyentuh tombak merah kembali, akhirnya berhasil menarik perhatian pemuda itu.
"Maksudmu ... aku masih punya kesempatan setelah ini?" BoBoiBoy bicara tanpa menoleh ataupun berbalik. "Berapa kali alterasi sebenarnya yang bisa kulakukan?"
"Entahlah. Yang jelas, waktu itu, aku mendapatkan lebih dari tujuh kali kesempatan. Walaupun aku tidak tahu, apakah kita akan mendapatkan jumlah alterasi yang sama atau tidak."
BoBoiBoy mendesah pelan. Lagi-lagi jawaban yang tidak pasti. Kalau begitu, buat apa dikatakan?
Namun, tidak masalah, karena BoBoiBoy sudah menemukan jawaban, di bagian mana dirinya harus mengubah garis takdir sang adiwira elemental kali ini.
-•-•-•- -•-•-•-
BoBoiBoy menemukan dirinya berada di sebuah tempat yang sangat familier, hanya beberapa detik setelah cahaya dari tombak merah menelan dirinya—ia masih berharap itu bukanlah cahaya terakhirnya. Kamar sederhana bertema benda-benda angkasa. Dan si pemilik kamar itu, seorang bocah bertopi dino jingga, tengah tertidur lelap di kasurnya yang empuk.
"BoBoiBoy! BoBoiBoy! Bangun, BoBoiBoy!"
Sang pemuda terkejut ketika seseorang mendadak menerobos masuk sambil berseru panik. Ialah Tok Aba, yang baru kali ini dilihat oleh BoBoiBoy dari jarak sedekat ini, sejelas ini. Beberapa kali di alterasi-alterasi sebelumnya, ia hanya melihat sosok sang kakek dari jarak jauh.
"Hah? Kenapa?"
Bocah bertopi jingga itu pun terbangun, masih tampak terkantuk-kantuk.
"Tolong!"
Mendengar suara atok satu-satunya meminta tolong, anak itu pun segera bangkit. Walau BoBoiBoy melihat dia seperti masih setengah mengigau.
"Hah? BoBoiBoy Kuasa Tiga!"
Anak itu mengaktifkan kuasa terhebatnya tanpa pikir panjang. Lantas berpecah menjadi ketiga elemental tahap pertama yang dimiliknya saat ini. BoBoiBoy Petir, Angin, dan Tanah.
"Tolong apa, Tok?" tanya ketiganya kemudian.
Sang kakek pun menjawab, "Tolong Atok mengantarkan cokelat-cokelat ini."
Tok Aba menunjukkan beberapa kaleng cokelat bubuk Kokotiam siap antar.
"Hah?"
Ketiga pecahan elemental menjatuhkan diri mereka ke lantai kamar yang terbuat dari kayu.
"Lah ... Kukira ada apa tadi," ucap Tanah dengan nada lega.
"Kita sudah tertipu," sahut Angin.
Tok Aba tertawa kecil sembari berkata, "Terbaik."
BoBoiBoy yang menyaksikan semua itu ikut tertawa kecil. Dia jadi teringat dengan kakeknya sendiri. Tok Aba di dunianya, juga sama-sama punya sifat iseng seperti ini. Dan sama seperti 'dirinya yang lain', BoBoiBoy pun sangat dekat dengan kakeknya.
-•-•-•- -•-•-•-
BoBoiBoy masih ingat, walaupun agak samar-samar, kejadian ketika dirinya berusia sepuluh tahun. Saat itu, dirinya sedang dilanda kesedihan mendalam sebagai seorang anak. Lantas menangis di dalam kamarnya, di kediaman Tok Aba. Juga sama seperti 'dirinya' di dimensi lain, BoBoiBoy pun tinggal bersama sang kakek. Kedua orang tuanya pergi ke luar negeri demi menunaikan tugas sang ayah sebagai duta Malaysia untuk PBB.
"BoBoiBoy? Atok boleh masuk?"
Suara sang kakek terdengar dari luar kamar, seiring pintu yang diketuk pelan. BoBoiBoy tak menjawab. Ia hanya menunggu, entah Tok Aba akan pergi, atau masuk menemuinya. Selang dua-tiga detik, BoBoiBoy mendengar pintu dibuka perlahan. Namun, ia tak bergerak dari posisinya yang berbaring di kasur, dengan posisi membelakangi pintu.
"BoBoiBoy," Tok Aba berkata dengan lembut di dekat cucunya. "Ayah dan Ibu sudah mau berangkat, lho. BoBoiBoy nggak mau menemui mereka dulu?"
Anak itu tidak bergerak, apalagi menjawab. Tok Aba menghela napas, lantas menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Tampak putranya, Amato, tengah berdiri di ambangnya bersama sang istri. Tok Aba mengangguk pelan. Keduanya pun saling pandang, lantas masuk ke dalam kamar.
Tok Aba menyingkir sejenak. Sementara Amato dan istrinya mendekati putra mereka.
"BoBoiBoy," Amato berkata, sama lembutnya dengan Tok Aba. "Ayah dan Ibu harus berangkat sekarang, harus mengejar pesawat. Kamu baik-baik, ya, di sini sama Atok. Nanti BoBoiBoy bantu-bantu Atok di kedai, dan jangan nakal. Oke?"
BoBoiBoy tetap bergeming. Amato kembali bertukar pandang dengan sang istri. Wanita anggun berhijab itu pun tersenyum lembut.
"Sayang," katanya kemudian kepada sang putra. "Ibu dan Ayah pergi dulu, ya. Kalau kangen, BoBoiBoy bisa telepon. Ayah dan Ibu juga akan menelepon kalau kangen sama BoBoiBoy—"
"Besok BoBoiBoy ulang tahun."
Ucapan sang ibu disela oleh putra semata wayangnya yang masih tak bergerak dari posisi semula. Kesedihan seketika membayang di wajah ayu wanita itu. Begitu pula dengan Amato.
"Maafkan Ibu dan Ayah, Nak," sang ibu berkata dengan sabar. "Tapi kami ... tidak bisa menemani BoBoiBoy di sini."
"Ayah ada pekerjaan penting besok," sambung Amato. "Jadi ..."
"Ayah dan Ibu selalu ada waktu buat pekerjaan, tapi nggak pernah ada waktu buat BoBoiBoy!" anak itu menjerit, tetap tanpa mau berbalik menghadapi orang tuanya.
"Nak ... Tolong, dengarkan Ayah dan Ibu."
"Nggak! Ayah sama Ibu jahat! BoBoiBoy benci Ayah sama Ibu!"
Amato sudah hendak mengatakan sesuatu. Namun, Tok Aba menepuk pundaknya. Saat Amato menoleh, dilihatnya sang ayah menggeleng pelan. Dengan wajah sedih, Amato mengelus rambut BoBoiBoy dengan lembut. Ia cukup lega ketika anak itu tetap diam, tetapi tidak menolak. Sang ibu pun ikut mengelus rambut putranya.
"Ya sudah, Ibu dan Ayah pergi dulu, ya, Nak," pamit sang ibu.
"Oh ya, kado ulang tahunmu sudah Ayah titipkan pada Atok," kata Amato kemudian.
BoBoiBoy tetap bergeming. Amato mendesah samar, lantas menatap Tok Aba.
"Abah, Amato pamit dulu."
"Iya, Nak, ayo Abah antar ke depan." Tok Aba memandang sejenak ke arah cucunya. "BoBoiBoy, Atok antar Ayah dan Ibu sebentar ke depan, ya?"
BoBoiBoy masih diam. Hingga kakek dan kedua orang tuanya meninggalkan kamar, tetap tak ada suara darinya. Benaknya dipenuhi kemarahan dan kesedihan yang bercampur hingga terasa begitu menyesakkan. Sementara ia tak tahu bagaimana harus melampiaskan atau meredakannya.
Anak itu tidak tahu sudah berapa lama ia hanya berdiam diri tanpa bergerak satu senti pun. Hingga tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat menepuk kepalanya dengan lembut. Tanpa menoleh pun, ia tahu itu pasti Tok Aba. Ia bisa merasakan ranjangnya bergerak sedikit ketika Tok Aba duduk di tepiannya, sangat dekat di sisinya.
"Atok ... BoBoiBoy nggak mau kado," anak itu berkata lirih, mulai terisak. "BoBoiBoy mau Ayah dan Ibu ada di sini ..."
Tok Aba hanya bisa terus mengelus rambut BoBoiBoy, mencoba menghibur anak itu. "Cucu Atok ..."
Ucapan itu terputus. Sementara BoBoiBoy kecil tak mampu lagi menahan air mata. Ia pun mendadak bangkit, dan langsung memeluk sang kakek erat-erat. Tok Aba membalas pelukan itu. Dibiarkannya sang cucu menangis keras-keras. Menumpahkan segala kesedihan dari dalam dirinya.
BoBoiBoy masih muram pada perayaan ulang tahun kecil-kecilan keesokan harinya. Ia sangat kecewa kedua orang tuanya tidak bisa hadir di hari istimewanya. Hanya kehadiran Tok Aba di sisinya yang bisa mengalihkan kesedihannya, membuatnya mampu tersenyum di hari yang seharusnya bahagia.
Tok Aba benar-benar memanjakan cucunya sepanjang hari itu. Membelikan hadiah dan kue ulang tahun, membuatkan cokelat hangat spesial kesukaan sang cucu, memasakkan makanan favoritnya. Semua yang dianggap Tok Aba akan membuat cucunya senang.
Kemudian, pada malam harinya, Tok Aba menemani BoBoiBoy hingga nyaris tertidur. Menceritakan banyak hal menarik dari masa lalu. Tentang masa muda Tok Aba. Tentang masa kecil BoBoiBoy. Sang atok pun menjawab sambil tersenyum setiap kali cucunya bertanya dengan antusias.
"Ooh ... BoBoiBoy sudah mengantuk?" tanya Tok Aba ketika melihat cucunya menguap pelan. Anak itu hanya mengangguk. "Ya sudah, kalau begitu, BoBoiBoy tidur. Ini juga sudah malam."
BoBoiBoy menurut dan langsung menyelimuti diri di kasurnya yang empuk dan hangat. Tok Aba tertawa kecil. Malam ini memang agak dingin.
"Oh, iya," kata Tok Aba tiba-tiba. "Hampir lupa. Atok masih punya sesuatu untuk BoBoiBoy."
"Apa itu, Tok?" Mata bulat anak itu langsung berbinar. "Atok masih punya hadiah lagi buat BoBoiBoy?"
Tok Aba tertawa pendek. "Iya, ada. Tapi ... ini bukan dari Atok."
"Terus, dari siapa?"
Tok Aba hanya mengulum senyum. Lantas berpamitan untuk keluar kamar sejenak. BoBoiBoy yang penasaran, kembali bangkit dari posisinya yang sudah siap untuk tidur. Lantas memilih untuk menunggu sambil duduk di tepi ranjang. Tak lama kemudian, Tok Aba kembali dengan sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus kertas kado jingga cerah.
BoBoiBoy tersenyum ketika Tok Aba duduk di sebelahnya. "Itu buat BoBoiBoy?"
Tok Aba mengangguk. "Ini kado ulang tahun BoBoiBoy dari Ayah dan Ibu."
Senyum seketika terhapus dari wajah BoBoiBoy. Ia menunduk, bersikeras untuk tidak menatap kado di tangan Tok Aba.
"BoBoiBoy nggak mau," katanya.
Tok Aba mendesah pelan. Lantas bangkit dan meletakkan kado itu di atas nakas, tepat di samping tempat tidur cucunya.
"Ya sudah, Atok letakkan di sini, ya. Nah, sekarang BoBoiBoy tidur. Atok juga mau pergi tidur."
Sebelum keluar kamar, Tok Aba menepuk puncak kepala cucunya dengan lembut. Cukup lama, BoBoiBoy hanya diam di tengah keheningan malam, tak bergerak dari posisi terakhirnya. Akan tetapi, seorang bocah yang hari ini baru genap berusia sebelas tahun, tetaplah tak kuasa melawan kantuk.
Anak itu pun memutuskan untuk tidur. Namun, matanya tak mampu menahan keinginan untuk melirik kado itu. Sedetik, dua detik lewat. Hingga akhirnya ia mengulurkan tangan. Dibukanya kertas pembungkus kado itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada sebuah kotak karton berwarna putih. BoBoiBoy membukanya, dan menemukan sebuah topi dino berwarna jingga. Di bagian depan topi itu, terdapat semacam emblem seperti petir berwarna kuning elektrik yang membentuk huruf "B".
Ketika Tok Aba datang satu jam kemudian untuk melihat apakah cucunya sudah tidur atau belum, ia menemukan pemandangan yang membuat senyum hangat menghiasi bibirnya. Yaitu BoBoiBoy kecil, yang tertidur pulas sambil memeluk topi dino jingga pemberian kedua orang tuanya.
-•-•-•- -•-•-•-
BoBoiBoy menghela napas nyaris tanpa sadar, berbarengan dengan kakinya yang terhenti di depan Kedai Kokotiam. Tempat ini pun menyimpan kenangan tersendiri akan masa kecilnya yang diwarnai kesedihan. Namun, juga masih diselimuti kehangatan. Semua berkat sang kakek tercinta yang selalu ada untuknya.
"Apa nggak boleh mengantarnya agak tengah hari?"
Terdengar si bocah penguasa elemen, kini mencoba bernegosiasi dengan kakeknya.
"Mana bisa!" Ochobot yang menyahut.
Tok Aba menyambung cepat, "Orang ingin menggunakan cokelat ini pagi-pagi."
"Kita harus mengantarnya sebelum pukul tujuh," kata Ochobot lagi. "Tepati waktu, jaga integritas Tok Aba Kokotiam."
"Eh, kok dia yang malah terlalu semangat?" bocah bertopi dino jingga itu berkomentar keheranan.
"Pasti, lah," sahut Tok Aba. "Karyawan terbaik bulan ini."
BoBoiBoy pun tertawa kecil saat matanya menangkap poster bergambar si robot kuning. Tertempel dengan kebanggaan, di salah satu bagian dinding kedai. Lengkap dengan tulisan: 'Ochobot karyawan terbaik 2011'.
"Nah, ini alamat dan peta." Tok Aba menyerahkan kertas di tangannya kepada sang cucu. "Ochobot, kamu temani BoBoiBoy."
"Oke, Bos!"
Setelah itu pun, BoBoiBoy terus mengikuti langkah 'dirinya yang lain' bersama Ochobot. Hingga ketiganya tiba di sebuah persimpangan jalan.
"Oke. Kita harus antar ke rumah Pakcik Kumar, Makcik Yah, dan Nenek Ying." Ochobot memastikan kembali tugas dari Tok Aba yang harus mereka tunaikan. "Sempat, nggak, BoBoiBoy? Kamu harus pergi ke tiga tempat, nih."
BoBoiBoy tersentak dengan perkembangan tiba-tiba yang tergelar di depan mata. Hanya satu yang dipikirkannya, harus cepat-cepat menghentikan 'dirinya yang lain' sebelum—
"Hehehe ... Nggak masalah! BoBoiBoy Kuasa Tiga!"
Belum sempat BoBoiBoy mengambil tindakan apa pun, bocah bertopi dino jingga itu sudah memakai kuasa terkuatnya. BoBoiBoy hanya bisa menggeram kesal. Harusnya dia bisa bertindak lebih cepat.
"Terlambat, ya," keluhnya.
Kali ini, BoBoiBoy berusaha untuk fokus. Samar-samar, ia menyadari, barangkali dirinya terlampau terdistraksi oleh kenangannya sendiri tentang almarhum kakeknya.
"Mana boleh begini. Namanya menyalahgunakan kuasa."
Tepat ketika BoBoiBoy berpikir bahwa masih ada kesempatan, terdengar olehnya suara Ochobot. Benar juga. Masih ada Ochobot di sisi 'dirinya yang lain'. Kawan yang selalu siap sedia mengingatkan bila sang adiwira elemental mengambil keputusan yang kurang tepat.
"Apa salahnya? Aku pakai kuasa untuk menolong Tok Aba."
"Apa kamu nggak tahu? Makin lama kamu berpecah, makin pelupa nanti."
Sementara Petir dan Ochobot masih berdebat, BoBoiBoy segera bergerak mendekat.
"Dengarkan apa kata Ochobot!" BoBoiBoy berseru, tepat di sisi Petir, Angin, dan Tanah. "Akan merepotkan kalau sampai kamu hilang ingatan!"
BoBoiBoy lega ketika melihat Petir tersentak samar. Bocah itu melirik cepat ke kiri dan kanan. Ketika tak melihat apa pun, ia tampak seperti sedang berpikir, mungkin mempertimbangkan untuk membatalkan Kuasa Tiga. Tanah pun sepertinya mendengar kata-kata BoBoiBoy, lantas tampak berpikir sejenak.
"Alah, nggak apa-apa. Cuma sebentar ini."
Ketika BoBoiBoy berpikir semuanya akan baik-baik saja, mendadak Angin berkata dengan santainya. Benar juga. Nyaris ia melupakan setan kecil yang satu ini.
"Sesuka hatimu, lah," Ochobot pun akhirnya menyerah. "Janji jangan lama-lama."
BoBoiBoy nyaris panik. Ia tahu, seperti yang sudah dilihatnya dalam kilasan ingatan 'dirinya yang lain', setelah ini ketiga perwujudan kuasa elemental pertama milik bocah bertopi dino jingga itu akan segera berpencar. Jika dibiarkan, maka ketiganya akan hilang ingatan.
"Oke—"
"Tunggu dulu, Tanah!" BoBoiBoy cepat-cepat berseru sebelum Tanah membagi-bagi tugas pengantaran cokelat Tok Aba kepada Petir, Angin, dan juga dirinya sendiri. "Pikirkan baik-baik ucapan Ochobot! Kalau kalian sampai hilang ingatan, nanti bisa timbul masalah!"
Ucapan Tanah yang tiba-tiba terputus, membuat kedua pecahannya saling pandang keheranan.
"Kenapa, Tanah?" tanya Angin. "Kok diam?"
"Mmm ..." Tanah memandang Angin dan Petir bergantian. "Aku cuma berpikir ... omongan Ochobot ada benarnya."
"Sebenarnya aku juga berpikir begitu," sambung Petir.
Angin tertawa kecil. "Kalian berdua terlalu khawatir."
BoBoiBoy menepuk dahi. Di matanya justru Angin yang terlalu santai. Ia pun mencoba bicara sekali lagi kepada ketiga pecahan elemental itu.
"Kalian pikirkan lagi, gimana kalau kalian hilang ingatan, lalu sampai merepotkan orang-orang? Gimana kalau tiba-tiba Adu Du menyerang, terus kalian lupa caranya bertarung?"
BoBoiBoy melihat Petir dan Tanah bertukar pandang sedetik.
"Kalau ada musuh dan aku tiba-tiba lupa cara memanggil Keris Petir, bisa gawat juga," ucap Petir.
"Betul juga," kata Tanah. "Kalau tiba-tiba aku hilang ingatan, terus menyerang kalian ... gimana, coba?"
Angin tersentak kecil. Raut khawatir mulai menghiasi wajah anak itu.
"B-Betul juga, ya ..." Angin diam dua detik dengan kening berkerut. "Kalau gitu ... mendingan kita nggak usah berpecah."
"Hm," sahut Petir. "Tapi nanti mungkin bisa terlambat mengantarkan pesanan."
Tanah beralih menatap robot kuning di dekatnya. "Gimana, Ochobot?"
"Hmm ..." Ochobot pun menimbang-nimbang sebentar. "Ya sudahlah, terlambat sedikit nggak apa-apa. Tok Aba juga pasti mengerti. Yang penting semua aman."
"Oke!"
Pada akhirnya BoBoiBoy bisa menghela napas lega. Ketika 'dirinya yang lain' kembali ke wujud semula, ia pun melihat tubuhnya sendiri mulai memudar. Tanda bahwa alterasi yang mungkin saja kesempatan terakhirnya, baru saja selesai.
-•-•-•- -•-•-•-
Suasana remang-remang menyambut BoBoiBoy begitu ia membuka matanya kembali di dunia antah-berantah tanpa batas. Masih ada sedikit cahaya, tetapi jelas ini lebih gelap daripada yang terakhir diingatnya. Di hadapan BoBoiBoy, ketujuh benda antik masih tampak melayang di udara. Seluruh cahaya mereka telah terpadamkan, termasuk tombak yang kini berada tepat di depan matanya.
"Selamat datang kembali."
BoBoiBoy sudah terbiasa dengan suara Kaizo yang menyambutnya, tetapi tetap saja ia tak bisa mengelakkan setitik kekesalan yang mengisi rasa. Dan ya, ia sudah benar-benar yakin bahwa orang itu memang bernama 'Kaizo'.
"Bagaimana alterasi kali ini?" Kaizo bertanya. Tak ada pretensi apa pun di dalam suaranya kali ini. Murni hanya keingintahuan. "Apa menurutmu, kau sudah berhasil mengubah garis takdir seperti yang kauinginkan?"
BoBoiBoy menoleh sejenak ke arah Kaizo. Sesuai dugaannya, setengah dari dunia kosong ini, yaitu tempat Kaizo berada, kini sudah menjadi lebih terang lagi daripada sebelumnya.
"Kau benar-benar mengharapkan aku gagal, ya?"
Ucapan retoris nan sinis dari BoBoiBoy itu hanya membuat Kaizo mendengkus pendek. Tak mau terlalu memedulikan pria bermata merah itu lagi, BoBoiBoy kembali memusatkan perhatian kepada tombak di depannya. Ia menarik napas dalam-dalam, tak mampu mencegah desir tajam nan menyesakkan di dalam dada.
Dia takut. Bila boleh berterus terang, dia benar-benar takut usahanya kali ini pun ternyata gagal. Ia takut jika ini benar-benar kesempatan terakhirnya. Akan tetapi, ia juga tahu, semuanya sudah terjadi. Tak ada gunanya disesali.
Dengan kebulatan tekad ini, BoBoiBoy mengulurkan tangannya untuk menyentuh tombak berlambang petir. Saat ia memejamkan mata, kilasan memori baru pun hadir. Garis takdir 'dirinya yang lain', yang telah berbelok arah berkat dirinya.
Ia melihat 'dirinya yang lain' mengantarkan cokelat pesanan dari Kedai Kokotiam tanpa berpecah. Seperti dugaannya, memang memakan waktu lebih lama daripada yang seharusnya terjadi di garis takdir semula. Ada sedikit keterlambatan. Namun, baik para pelanggan maupun Tok Aba sama-sama memakluminya.
Setelah itu, datanglah Adu Du ke Kedai Kokotiam bersama Probe dengan menyamar. Akan tetapi, dengan cepat penyamaran itu terbongkar. Terjadi pertempuran singkat yang dimenangkan oleh sang adiwira elemental dengan berpecah tiga.
BoBoiBoy nyaris menahan napas, harap-harap cemas menunggu putaran roda nasib yang selanjutnya. Akankah kali ini berjalan lancar, ataukah akan menghempaskannya kembali ke 'garis finish' yang sama, yang sangat ingin dihindarinya.
Segalanya berputar cepat di benak BoBoiBoy. Setelah kegagalannya mendapatkan resep rahasia Tok Aba, rupanya Adu Du tetap pantang menyerah berusaha. Hingga suatu masa, buku itu pun jatuh ke tangannya, bersama dengan salah satu elemental dari 'dirinya yang lain' yang tengah berpecah. BoBoiBoy Petir. Kelahiran BoBoiBoy Halilintar pun gagal dicegah.
Selanjutnya, aliran waktu terus berjalan. Menuju satu suratan tak terelakkan. Kedatangan Ejo Jo ke Bumi, yang bermuara kepada kedatangan Kapten Kaizo.
BoBoiBoy menarik tangannya sembari membuka mata. Menatap nanar ke depan, hingga dirinya ambruk di atas lututnya yang gemetar. Ia tidak habis mengerti, mengapa tidak ada yang berubah?
"Mungkin seharusnya kau membuat Adu Du tidak menginginkan resep rahasia itu lagi." Terdengar gumaman tawa mengejek di belakang BoBoiBoy. "Bukankah kau bisa berusaha untuk ... entahlah ... membuatnya tahu bahwa resep rahasia yang diinginkannya itu sebenarnya hanyalah buku catatan hutang? Kukira kau lebih pandai daripada ini."
"Apa gunanya kau mengatakannya sekarang?" Amarah teredam terdengar di dalam suara BoBoiBoy yang masih tertunduk. "Kenapa tidak mengatakannya sebelum aku melakukan alterasi? Kau sengaja cuma mau menertawakan kegagalanku?! Lagi dan lagi?!"
Kekesalan menumpuk membebani hati dan pikiran BoBoiBoy, terwujud dalam satu gelombang kemarahan yang kali ini tak bisa dibendungnya lagi. Namun, sedetik berselang, ia tersadar. Kemarahan itu sesungguhnya tertuju kepada dirinya sendiri. Betapa di alterasi terakhir, dirinya tak bisa berpikir jernih, dihadapkan kepada kenangan menyakitkan tentang keluarganya.
Seharusnya masalah buku hutang itu takkan luput dari pengamatannya, seandainya ia bisa lebih tenang. BoBoiBoy dilanda frustrasi, sebab semua kesalahan ini bersumber dari dirinya sendiri.
Seandainya ... Seandainya ia masih punya kesempatan ...
Tepat ketika pemikiran ini melintas di benak BoBoiBoy, matanya menangkap cahaya samar di hadapan. Pemuda itu mengangkat wajah perlahan. Sepasang netra cokelat madu itu membulat, demi menyaksikan ketujuh benda antik kembali bercahaya, walaupun samar. Lantas perlahan berputar membentuk lingkaran. Putaran itu makin cepat, membuat ketujuh cahaya menyatu menjadi cahaya putih menyilaukan.
BoBoiBoy terpaksa melindungi kedua matanya menggunakan lengan. Setelah kilau itu mereda, barulah ia bisa melihat kembali ke depan. Ia membelalak, kemudian segera bangkit berdiri. Di hadapannya, kini sudah tak ada tujuh benda antik dengan tujuh simbol berbeda bentuk dan warna.
Yang ada hanyalah satu benda yang melayang di depan mata: sebuah topi dino berwarna jingga.
.
.
.
.
.
Bersambung ….
[18.03.2023]
