Bleach by Tite Kubo

Penguin Brother by Ayumi Shiina

Black White or Grey by Mss Dhyta

Rating : T

Genre : Hurt/Comfort/Friendship

Summary : Black, White or Grey chap 10 . Ketika Kaien masih terikat seseorang muncul dihadapannya orang yang tidak ia duga. "Kau.." RnR please

Rukia bangun dari tidurnya dengan wajah berantakkan, ketika dia keluar menuju kedapur untuk cuci muka di wastafel dan memasak sarapan pagi tidak sengaja ia mendengar seseorang yang kelihatannya sedang memasak didapur mata ngantuknya bersinar cerah dan segera berlari menuju dapur.

"Om Byakuya." Rukia berteriak ketika melihat pria paruh baya berambut hitam yang sedang memasak sarapan hari itu.

Byakuya hanya tersenyum dan menunjukkan telur ceplok yang ia buat. "Mau sarapan?"

Rukia mengangguk dengan wajah senang dan mengambil piring yang dipegang Byakuya.

"Kenapa baru pulang sekarang, kalau gak pulang ngasih kabar donk." Rukia mulai mengeluhkan kelakuan Byakuya yang jarang pulang dan meninggalkan Rukia dirumah sendiri.

"Maaf kalau begitu kau tahu kan aku sibuk untuk beberapa pameran seni." Byakuya menepuk kepala Rukia pelan dan melihat wajah Rukia.

"Kau kelihatan lelah, ada masalah?" tanya Byakuya lagi.

"Yah, sedikit nanti akan kuceritakan. Dan ada beberapa hal tentang masa lalu yang ingin aku tanyakan padamu." Rukia tersenyum kecil, sedangkan Byakuya hanya diam dengan wajah sedikit terkejut.

"Tapi aku rasa bukankah sebaiknya kau berangkat sekolah dulu?" tanya Byakuya dan menunjuk jam dinding yang sudah memperlihatkan jam 07.30.

"Ah benar, aku telat!" Rukia berteriak dan segera menuju kamarnya.

Byakuya hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya itu.

"Masalah masa lalu… Apa sebaiknya hari ini aku kabur saja ya." Byakuya berpikir sejenak dan melanjutkan kembali kegiatan masak, memasaknya.

Beberapa menit kemudian Byakuya sudah berada di meja makan. Rukia menuju meja makan dengan pakaian bebasnya dan mengambil sepotong roti.

"Ah, aku berangkat dulu."

Byakuya hanya mengangkat tangannya. Dan Rukia pun berlalu.

Byakuya melihat lukisan yang terpajang diruang makan itu lukisan seorang anak perempuan dan seorang wanita yang menggendongnya."Kak, anakmu sudah tumbuh besar tapi, belum saatnya memberitahu segalanya."

Black, White or Grey

"Rukia, kau hebat juga bisa membuat Orihime masuk, tahu tidak setelah Orihime menjadi Grey jumlah kita mengalami peningkatan." Hitsugaya memuji Rukia dan membuat wanita itu nyaris besar kepala.

"Hah, siapa bilang kalau itu karenamu Rukia. Itu semua karena Orihime masuk ke Grey." Renji mulai meralat perkataan Hitsugaya dan dengan sukses diberi lemparan sepatu oleh Rukia.

"Eh itu Orihime." Hinamori menunjuk ke pintu tempat datangnya wanita berambut coklat keorangean itu.

"Ah Orihime kita mau rapat strategi, mau ikut kan?" tanya Rukia dengan background sinar-sinar gaje.

Orihime hanya tersenyum. Dan pelan ia memanggil Renji. Renji yang merasa terpanggil pun segera menghampiri Orihime.

"Hei, aku tidak mau ikut-ikutan pertarungan kalian jadi jangan libatkan aku." Orihime berbisik pelan membuat si babon Renji tersenyum.

"Ah kau sangat mendukung kami, baguslah kalau begitu bujuk semua orang di fansclub mu yah." Renji membalas bisikan Orihime dengan perkataan (baca : teriakan) yang membuat Rukia semakin senang saja.

Orihime yang mendengar perkataan Renji cuma bisa berbisik pelan. "Awas kau kumasukkan ular ketasmu."

Renji pun cuma menjawab dengan senyum kecut.

"Yah, total orang yang sudah masuk Grey adalah 126 orang dan menurutku ini sudah sangat lumayan." Hitsugaya membuka rapat hari itu dengan laporan jumlah anggota Grey dan disambut tepuk tangan dari Rukia.

"Aku memang senang dengan jumlahnya tapi aku rasa masih kurang banyak anggota cewek dalam karena waktu kita juga tak banyak maka kita harus segera menyusun aku rasa aku bisa menyerahkanya pada tuan Babon silahkan." Renji yang merasa dirinya dipanggil (baca : diejek) pun berdiri dan memulai memberikan deathglare pada Rukia serta penjelasan pada beberapa anggota Grey yang datang.

"Mereka mengatakan banyak penindasan yang terjadi diantara cewek-cewek dan karena itu, satu hal yang harus kita lakukan berantas penindas itu." Renji mulai menjelaskan kenyataan yang membuat para anggota cewek enggan untuk bergabung dengan Grey. Hinamori tertunduk pelan mendengar penjelasan Renji.

"Butterfly adalah salah satu pembasmi Grey yang harus kita berantas."

Black, White or Grey

\"Memangnya kenapa dengan Butterfly itu?" tanya Rukia dengan nada yang sedikit menantang ketika dirinya dan Renji berada di ruangan rapat tadi.

"Mereka menindas karena suka, dan mereka punya preman dibalik kesukaan mereka itu jadi sebaiknya kita hati-hati."

"Keterlaluan banget, tapi preman?" Rukia menahan emosinya ketika memikirkan salah satu penjelasan Renji yang menyangkut kata preman.

"Aku akan mencoba meminta bantuan dari juga anggota grey kau tahu Miyako?"

"Miya.."

Bruk..

Rukia terjatuh ketika ada seseorang yang menabraknya dari belakang.

"Wah maaf kau tidak kelihatan sih, apa boleh buat BOCAH ." Kaien tersenyum usil ketika melihat Rukia yang masih meringis kesakitan.

"Hei dasar kau ini." Rukia berdiri dan mulai menendang kaki Kaien membuat cowok berambut hitam itu meringis kesakitan.

"Pendek apa yang kau lakukan?" Dan dimulailah aksi jambak rambut, tendang kaki, tendang perut dan lain sebagainya. Renji pun cuma berjongkok dan jadi penonton dan sedikit bertanya dalam hati. "Kenapa mereka jadi akrab begitu?"

"Hei Kaien. Gawat." Panggil salah satu anak buah Kaien yang berlari dengan nafas tersenggal-senggal.

"Ada apa?" Sejenak Kaien menghentikkan serangannya.

"Ada banyak preman diluar mereka bilang keluarkan Kaien dan Rukia."

Kaien, Rukia dan Renji saling berpandangan dengan wajah bingung.

Black, White or Grey

"Itu pasti preman yang kemaren." Kaien melihat sekumpulan anak berandalan dengan berbagai atribut tawuran.

"Itu gara-gara kau menghajar mereka kemaren." Rukia mulai mengeluh dengan perasaan takut.

"Apa? Itu juga untuk menolongmu kan?" Kaien membantah perkataan Rukia dengan kesal dan sekali lagi dimulai pertengkaran part 2.

"Kalau begini percuma menyalahkan Orihime." Pikir Renji

"Aku yakin mereka mau balas dendam." Renji memulai aksi berpikir ala babonnya dengan memeluk bantal pisang kesayangannya.

Sedangkan Kaien dan Rukia mengulang lagi aksi jambak rambut, tendang kaki, tendang perut serta saling mengejek satu sama lain.

"Baiklah akan kuladeni mereka." Kaien menghentikan perang mulutnya dan membuat Renji mengayunkan bat baseball ke kepala Kaien.

"Ikat dia, jangan biarkan dia kabur dan bikin ribut." Rukia dan Hitsugaya cuma bisa sweet drop dengan hal yang dilakukan Renji.

Black, White or Grey

"Kalau kau bertindak seenaknya dan bertingkah ketua kami juga bisa kena jadi diam saja." Renji menempelkan isolasi hitam dibibir Kaien dan membiarkannya hanya mengomel tanpa ada yang mengerti maksud omelannya.

"Tempat ini sudah dikepung kita tidak bisa lari." Ucap Hitsugaya dengan wajah cemas.

"Maaf ya rencana jadi sedikit gagal." Ucap Rukia dengan sesal yang menumpuk.

"Tenang saja ini bukan salah kamu." Hitsugaya mencoba menenangkan Rukia.

"Hei bagaimana kalau kita minta tolong Miyako Ijima."

"Hei tadi aku melihat Miyako." Ucap Hitsugaya.

"Apa kalau begitu ayo cepat." Lalu Renji dan Hitsugaya pun berlari keluar mencari orang yang dimaksud.

Rukia melihat Kaien yang masih terdiam dengan tubuh yang terikat dan meninggalkan cowo itu sendiri.

Black, White or Grey

Rukia menuju ruang musik dan sayup-sayup terdengar suara biola yang mengalun indah.

Rukia membuka pintunya dan melihat kedalam, ia ingat kata-kata seseorang yang tadi ia tanya dimana Miyako dan orang itu menunjuk ruang musik.

Rukia melihat seorang cewek yang memainkan biolanya dengan indah, terlihat sekali kalau ia sangat meresapi nada-nada yang keluar dari alat musik itu.

"Ah maaf, apakah kau Miyako?" tanya Rukia kepada wanita itu sejenak musik itu berhenti yang berarti wanita itu menghentikan permainannya.

"Tunggu sampai lagu ini selesai baru aku akan menjawabnya." Rukia terkejut mendengar jawaban wanita itu, dan menurut saja. Mengambil tempat duduk di pojokkan sambil mendengar alunan melodi itu.

Rukia POV

Aku mendengarkan suara biola itu seoalah-olah mencerminkan perasaan yang dimiliki pemainnya, kesedihan, pengkhianatan, entah kenapa melodi itu membuatku menitikkan air mata.

"Hei." Panggil wanita itu ketika biola itu sudah berhenti digesek.

END OF RUKIA POV

"Hei." Panggil wanita itu dan membuat Rukia bangun dari lamunannya dengan mata berair.

"Ah maaf kenapa aku menangis ya." Rukia menghapus air matanya dan menatap cewek berambut hitam yang dikuncir itu.

"Tadi kau bertanya soal Miyako kan?" tanya wanita itu.

"Iya, kau kah Miyako itu?" tanya Rukia ragu-ragu.

"Iya aku Miyako Ijima."

"Dia yang ditakuti para preman itu?"

"Ah nona." Panggil seorang cowok botak yang berpakaian bebas masuk kedalam ruang musik.

Rukia menatap heran cowok berkepala kinclong itu. "Di depan ada preman aneh sebaiknya kita pulang saja." Ajak cowok itu.

Miyako berbalik. "Aku tidak mau, aku muak ditemani pulang olehmu." Cowok itu lalu mengalihkan pandangannya pada Rukia.

"Hei, kau anak baru itu namamu?" Tanyanya seolah-olah dia menemukan mainan baru. Rukia hanya menjawab dengan anggukan.

"Kenalkan diri dulu baru tanya nama orang." Rukia menjawab dengan wajah kesal.

"Ha? Aku Ikkaku Madarame dari kelas 3, kalau ada urusan dengan nona Miyako harus lewat aku." Ikaku duduk di kursi yang tadi diduduki Rukia sambil memegang sebatang rokok, dan tiba-tiba saja Rukia mengambil rokok itu dan menjatuhkannya ketanah.

"Ah, maaf aku rasa sebaiknya jangan merokok disini." Rukia berpura-pura dengan wajah innocent. Ikaku memberikan deathglarenya dan membuat Rukia sedikit bergidik ngeri.

"Hei, Ikaku."

"Ah, bocah kau berani sekali padaku, aku suka sekali dengan bocah seperti ini siapa namamu?" tanya Ikaku sambil menepuk-nepuk kepala Rukia.

"Rukia Kuchiki. Ah aku baru ingat."

Ikaku dan Miyako menatap Rukia dengan tatapan heran, lalu Rukia menjelaskan keadaannya dan kenapa preman itu bisa menyerang mereka.

"Jadi, aku mohon bantuanmu hal ini juga melibatkan orang lain" Rukia meminta wajah serius.

"Kalau tidak ada hubungannya dengan ku berarti bukan urusanku." Miyako hendak berjalan menuju pintu keluar.

"Lalu imbalannya untuk nona muda apa? Kalau dia mau menolongmu?" tanya Ikaku dengan nada menginterogasi.

"Ti.. dak ada." Rukia menjawab dengan ragu-ragu.

"Ya kalau begitu negosiasi batal." Ikaku menyusul Miyako.

"Tunggu, kalau kau dalam kesulitan aku pasti akan membantumu juga." Miyako berbalik mendengar perkataan Rukia.

"Aku berjanji akan membantumu juga." Rukia mengulang pernyataanya itu sekali lagi dan membuat Miyako terdiam memikirkan penawarannya.

"Tidak." Dan ia berbalik. "Sebaiknya jauhi aku untuk kebaikanmu sendiri."

Rukia hanya bisa mengerutkan dahinya mendengar pernyataan atau lebih bisa disebut perintah itu.

Black, White or Grey

"Hei, kalau pulang kenapa tidak dicegah?" tanya Renji pada Rukia yang telah kembali.

"Ah maaf aku tidak ingin merepotkan orang lain lebih dari ini, kalau begitu aku akan menghadapi mereka dan mengajak untuk berda.."

Buk..

Pukulan bat baseball mendarat di kepala Rukia.

"Hei ikat dia." Giliran Hitsugaya yang melakukan penyekapan kedua ini.

Black, White or Grey

"Hei apa yang kau lakukan?" Teriak Rukia yang kini sudah dililit tali dan berada di sebelah Kaien.

"Maaf Rukia, kita tetap harus menjaga keamananmu. Jadi kami juga harus mengikatmu." Hitsugaya memulai pembelaannya dan membuat Renji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Renji berdiri dari kursinya dan menuju pintu keluar." Aku akan keluar sebentar tolong jaga dua orang ini."

Hitsugaya dan Rukia hanya mengikuti langkah Renji dengan tatapan mata dan mereka bertiga pun terdiam

"Padahal Om Byakuya sudah pulang." Rukia mengeluh dengan wajah sedih sedangkan Renji yang mendengar nama Byakuya hanya terdiam.

"Ternyata Byakuya yang waktu itu dia teriakkan nama orang."

"Hei kau tahu cara berkelahi 1 lawan banyak?" tanya Kaien tiba-tiba.

Rukia terdiam dan menggeleng melihat kearah Kaien menunggu jawabannya.

"Bikin KO pemimpinnya dan setelah itu pasti anak buahnya saling tusuk sekalipun."

"Kalau begitu ikatanmu tidak akan dilepaskan." Rukia menjawab pernyataan Kaien dan membuatnya kesal.

"Oh ya, aku harus minta maaf dan berterimakasih padamu." Kaien terkejut mendengar kata yang tak terduga yang diucapkan oleh Rukia.

"Maa..f dan terimakasih." Rukia berkata dengan ragu-ragu dan senyum yang terukir diwajahnya, membuat Kaien memalingkan wajahnya.

"Sebaiknya jangn katakana hal itu padaku."

Rukia hanya tertawa melihat reaksi Kaien. "Kau malu ya."

"Berisik ah."

Black, White or Grey

Disebuah ruangan terdapat seorang wanita berambut hitam yang dikuncir dengan seorang cowok berambut merah yang sedang berlutut dihadapan wanita itu.

"Hei, Renji dengan otakmu itu kau tidak perlu memohon seperti ini kan?" tanya Miyako dengan tatapan heran.

"Ya kalau ada waktu, kami bisa dikeroyok kalau terus-menerus menunggu dan preman itu bisa saja menjebol keamanan sekolah." Renji masih berlutut dan menunduk dihadapan wanita itu.

"Aku membenci keluargaku dan kau pasti tahu itu. Kalau pun aku mau membantu bagaimana dengan salah satu matamu?" tanya Miyako dengan kesal.

Renji melongo dan dikekang oleh Ikaku. "Bagaimana satu mata untuk sebuah bantuan?" tanya Ikaku dengan tangan yang menahan tangan Renji dan tangan lain memegang sebuah pisau yang dibawanya

"Baiklah, ini soal keseriusan melindungi sesuatu kan?" tanya Renji dengan tatapan penuh keyakinan melihat kearah Miyako yang hanya bisa terkejut.

Black, White or Grey

"Sial kenapa cuma dia saja yang boleh dilepas?" Kaien mengeluh setelah Rukia berhasil meminta ijin ke kamar mandi.

Ruangan itu sepi tidak ada yang menjaga hanya tinggal Kaien yang terikat tanpa daya. Dan tanpa disangka pintu terbuka dihadapan Kaien sudah ada seorang pria yang sangat tak ia duga.

"Kau.."

Black, White or Grey

AGJ : "Hai minna-san."

Rukia :"Hebat sehari ngupdate 2 ya." (ngasih tepuk tangan)

Ichigo :"Iya hebat tapi isinya gaje semua, aku juga gak muncul nih di chap ini."

AGJ : "Ichigo saat mu bersenang-senang dengan Rukia masih nanti."

Ichigo : (blushing) "Apanya senang?"

AGJ : "Oh ya kali ini juga gak bisa balesin review maap ya ^^

all : Review please

ayo teken ijo-ijo yang dibawah satu kali aja *kalau mauberkali kali gak papa deh* dengan semangat