Byakuya sudah memulai pembicaraan antara dirinya dengan Ichigo tentang masa lalu yang ia sembunyikan dari Rukia sementara itu dari tempat yang tak terlalu jauh Renji mencuri dengar dengan seksama.
Black, White or Grey by mss Dhyta
Penguin Brother by Ayumi Shiina
Bleach by Tite Kubo
Pair : Ichiruki, RenHina, RenRuki
Byakuya menatap Ichigo yang ada dihadapannya, begitu juga Ichigo yang menatap paman dari Rukia yang dulu adalah saudara dekat dari Hisana. "Tak kusangka kau tak berubah sedikitpun."
Ichigo mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. "Sebenarnya ada apa dengan Rukia, ia bukan cuma lupa siapa aku, tapi juga seluruh ingatannya tentangku tidak ada."
"Dan aku rasa ingatan itu bukan hanya terlupakan tetapi tidak boleh di ingat. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Rukia?" tanya Ichigo lagi. Ia menunggu jawaban dari Byakuya yang masih saja tenang tanpa ekspresi.
Lalu sekilas Ichigo melihat Byakuya menghela nafas panjang. " Rukia kehilangan ingatan masa kecilnya ketika berumur 7 tahun. Dan penyebabnya…" Byakuya berbalik tanpa menatap mata Ichigo ia melihat lukisan seorang wanita yang begitu mirip dengan Hisana atau bisa dibilang itu lukisan Hisana sendiri.
"Rukia melihat ibunya tertabrak truk. Dan kecelakaan itu jelas kecelakaan yang mengerikan bagi anak berumur 7 tahun."
Ichigo terkejut mendengar penjelasan Byakuya yang dirasanya sangat mengerikan. Seorang anak kecil berumur 7 tahun yang tak lain Rukia harus kehilangan ingatan dan ibunya sekaligus dalam waktu singkat.
"Dan setelah kejadian itu Rukia jadi seperti boneka bisu, lalu aku dan ayahku segera membawanya ke desa, dan setelah enam bulan Rukia bisa kembali seperti semula. Tetapi dengan ingatan yang berkurang, ingatan tentang kejadian itu dan kejadian sebelumnya." Byakuya menundukkan kepalanya, hanya memandang sepatu hitam yang ia kenakan hari itu.
"Dan aku menanamkam kembali ingatan tentang masa kecilnya tapi, tanpa menyinggung mu sedikitpun." Byakuya memindahkan pandangannya dan melihat Ichigo yang terlihat pucat ketika mendengar ceritanya.
"Karena kurasa jika aku menyinggung masalah tentangmu, maka ia akan ingat kejadian itu. Kau tahu aku tidak ingin Rukia mengingatnya, karena aku yakin jika ia ingat maka luka dihatinya tak akan sembuh." Byakuya menjelaskannya dengan sangat detail, tanpa menimbulkan kecurigaan ataupun ketidakjelasan dipikiran Ichigo.
"Aku yakin kau tidak ingin Rukia terluka, jadi aku minta jangan dekati Rukia lagi."
Ichigo yang telah mendengar semuanya, menghela nafas berat dan menghembuskannya lagi. Ia memang kecewa tapi jika itu yang terbaik. "Saat bertemu Rukia, aku sempat terkejut ia tidak mengingatku, tapi.."
Ichigo tersenyum dengan senyum yang menyimpan kesedihan. "aku bersyukur dia lupa, jika dia melihatku yang sekarang dia pasti akan sangat kecewa padaku."
Byakuya mengerutkan dahinya dan menatap Ichigo dengan tatapan terkejut. "Kau.."
"Nii-sama. Nih dasinya." Rukia yang datang dari jauh berlari sembari membawa sebuah dasi berwarna hitam yang biasa digunakan Byakuya.
Dan saat itu secara tidak langsung pembicaraan dihentikan dengan pertanyaan tentang keadaan Ichigo setelah 9 tahun berlalu. Keadaan yang mungkin lebih buruk dari 9 tahun yang telah lalu.
.
.
"Maaf ya aku memaksamu datang, padahal tak ada kemajuan dengan ingatanku." Rukia memegang kepalanya sendiri sembari menyesali nasibnya yang ternyata belum bisa mengingat Ichigo.
Ichigo yang sedang duduk dibangku taman tetap menatap tanah yang ia pijak. "Kau tidak ingat juga tidak apa-apa."
"Eh? Aku tidak suka melupakan orang.."
Ichigo menatap Rukia yang sekarang berada di depannya. "Kau, pernah menyelamatkanku. Dan dulu aku pikir setelah berlutut dihadapan Kaien hutangku sudah selesai tapi ternyata hutang itu masih belum bisa kubayar." Rukia yang saat itu juga menatap mata coklat Ichigo merasakan ketulusan dihadapannya. Ketulusan seseorang yang sepertinya benar-benar menyayanginya.
"Ah.. itu..aku juga tidak ingat hahahaha…" Rukia mengalihkan pandangan dan menyimpan rona merah diwajahnya, mencoba untuk tertawa walaupun ia yakin tawanya sangat terlihat garing saat itu.
.
.
Byakuya yang sedang melihat beberapa lukisan buatannya di pamerannya sendiri. Berbalik ketika mengetahui ada seseorang yang sedang mengawasinya, persis berada dibelakangnya. Byakuya berbalik dan menemukan seorang pria berambut merah yang tak dikenalnya.
"Aku Renji, teman dekat Rukia sekarang."
Byakuya tak menanggapi, ia hanya menunggu apa maksud teman Rukia itu menghampirinya saat ini.
"Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Ichigo dan sebenarnya aku ingin tahu apa hubungan Ichigo dan Rukia, bagiku hubungan mereka berdua akan menjadi rintangan besar.."
"Tidak." Byakuya memotong penjelasan Renji dengan satu jawaban yang benar-benar membuat Renji menelan kata-katanya. Tanpa ekspresi dan tegas, berbeda sekali dengan Rukia.
"Maaf aku tak akan memberitahukan apapun pada tukang nguping." jelas Byakuya lagi tanpa melihat wajah Renji yang merah padam menahan kesal. Dan ketika Renji akan berbalik pergi karena yakin tidak akan mendapatkan jawaban, Byakuya gantian berbalik dan memanggil Renji.
"Hei, babon merah." panggil Byakuya tetap tanpa ekspresi.
Renji yang merasa dirinya terpanggil segera berbalik dan merespon panggilan itu, dan ia melihat sekilas Byakuya tersenyum padanya.
"Aku tak akan memberikan Rukia, pada orang yang levelnya dibawahku."
Renji yang mendengar kata-kata itu hanya bisa terpaku dan menyadari orang yang ada dihadapannya adalah seorang bangsawan yang sulit ditaklukan.
.
.
Pagi itu adalah pagi biasa dirumah biasa dan hari biasa dan seperti biasa Byakuya membaca sebuah koran pagi, menyeruput tehnya dengan anggun. "Hei, Rukia bagaimana kalau kita pindah ke Prancis?" tawarnya tiba-tiba dan hampir membuat Rukia menyemburkan teh yang baru saja masuk kedalam mulutnya.
"APA?!!"
.
.
Dan siang itu setelah Rukia tiba disekolah dan jam istirahat telah tiba ia berkumpul dengan Miyako dan Hinamori di kelas yang kosong. Rukia dan Hinamori sedang melihat-lihat foto saat mereka merayakan natal sedangkan Miyako yang sedang membaca sebuah buku merasa sedikit terganggu dengan keributan yang mereka buat.
"Ah, aku harus pergi les dulu ya." ucap Hinamori tiba-tiba setelah melirk jam yang melingkar di tangannya.
Hinamori beranjak dan meninggalkan Rukia serta Miyako yang mulai melepaskan bukunya dan melihat foto-foto yang tersebar di atas meja.
"Hei, sejak kapan kau jadian dengan Renji?" tanya Miyako secara tiba-tiba setelah melihat beberapa foto itu. Rukia yang mendengar pertanyaan Miyako hanya bisa menjawab dengan bingung.
"Tidak, kami hanya teman biasa." Rukia menjawab sembari membereskan foto-foto yang tersebar. Dan secara tidak sengaja melihat sebuah notes berwarna biru yang ia tahu kalau notes itu milik Hinamori.
"Eh, ketinggalan." Rukia membolak-balik notes itu dan menemukan sesuatu yang mengejutkan dibagian belakangnya. Foto seseorang yang sangat mereka kenal.
"Ini kan Renji."
Hinamori yang masuk secara tiba-tiba segera merebut notes itu dan membuat Rukia serta Miyako heran sekaligus kaget. "Jadi Momo, kau menyukai Renji? Kalau begitu aku.."
"Rukia, jangan. Kalau kau ikut campur aku akan marah." Hinamori memotong kalimat Rukia dan membuat Rukia hanya bisa terbengong-bengong mendengar jawaban dari Hinamori. Setelah itu deru langkah dan pintu yang ditutup terdengar, menandakan Hinamori telah keluar lagi dari kelas itu dengan cukup terburu-buru.
Rukia yang hanya mampu terpaku pun sekarang menatap Miyako yang beranjak dari tempatnya sembari mengambil tas yang sejak tadi tergeletak di kursi. "Saranku sebagai teman, sebaiknya kau jangan ikut campur, atau kau akan kehilangan dia selamanya."
.
.
Rukia yang sedang duduk sendirian di kelas itu, masih bingung dengan pembicaraan antara dirinya, Miyako dan Hinamori. Ia bingung kenapa Hinamori begitu panik ketika Rukia ingin menjadi mak comblang bagi mereka berdua, dan dia juga masih bingung dengan maksud ucapan Miyako yang terakhir kali ia dengar.
Tanpa Rukia sadari seseorang telah masuk ke ruangan itu dengan rambut merah yang mencolok. Lalu ia duduk dihadapan Rukia dan melihat cewek yang masih belum sadar dengan keberadaannya itu. "Hei, Rukia."
Rukia mengangkat kepalanya yang sejak tadi ia tundukkan sembari berpikir dan terkejut ketika melihat Renji yang sudah ada dihadapannya. "Eh? Kapan kau disini?"
Renji tersenyum. "Baru saja, oh ya Rukia aku dengar kau tinggal dengan pamanmu." Tanya Renji langsung pada tujuannya menemui Rukia.
"Iya."
"Kalian paman dan keponakan sedarah kan?" tanya Renji lagi dan semakin membuat Rukia bingung.
"Tentu saja. Kenapa kau?"
"Sekarang aku tahu siapa orang yang kau suka."
Rukia terdiam sejenak ketika ia mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan Renji, dan seketika ia merasakan panas di wajahnya. "Eh?" Rukia memegang wajahnya yang mulai memerah.
Renji hanya bisa meratapi nasibnya yang begitu tragis, ternyata tebakannya benar dan dia dikalahkan oleh seorang om-om. "Tapi bertepuk sebelah tangan dengan om sendiri, apa itu tidak sia-sia? Sesuka apapun tidak bisa menikah. Ataupun bermesraan."
Rukia terdiam dan menghela nafas. " Tanpa kau beritahu aku pun sudah tahu. Dulu ketika masih kecil aku pernah bercerita tentang hal ini pada teman ku tapi ketika aku tahu kalau aku tidak mungkin bersamanya aku, sedikit sadar."
"Pada waktu awal aku tinggal dengan nii-sama aku merasa sedih. Tapi sekarang aku sadar kalau aku bisa dengan tegas mengatakan pada diriku sendiri, bahwa dia keluargaku. Dan bagian dari hidupku. Dan semenjak dia mengasuhku ketika ibuku meninggal, dia menjadi orang yang sangat penting bagiku." Rukia menceritakan dengan ekspresi yang menunjukkan rasa sayangnya pada seseorang dan hal itu membuat Renji merasa sedikit kecewa.
"Ah, ya Renji aku akan pindah ke Prancis." Rukia secara tiba-tiba melemparkan kata-kata itu bagaikan bom yang meledak diantara peperangan yang telah reda.
"Apa?!" Renji yang sangat kaget hanya bisa mengucapkan satu kata yang benar-benar membutuhkan penjelasan.
"Nii-sama mengajakku pindah ke Prancis, tapi aku mungkin akan pindah setelah naik kelas." Rukia menggaruk kepalanya yang tidak gatal seolah-olah tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kau tidak biarkan pamanmu pindah sendiri?"
Rukia menggeleng. "Setidaknya aku ingin bersama nii-sama sebelum dia benar-benar mendapatkan seorang wanita yang pantas. Dan lagipula walaupun kita jauh sekalipun kita kan tetap teman." Rukia tersenyum lagi dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun, sedangkan Renji hanya bisa mengumpat dalam hati menahan segala kekesalannya dan ia yakin sebentar lagi dia akan meledak.
"Rukia, aku syok berat kau memilih orang itu daripada kami. Tinggal selamanya dengannya hanya membuatmu sakit hati!" Renji yang secara tiba-tiba melontarkan segala emosinya dan membuat Rukia hanya bisa terbengong-bengong tidak mengerti.
"Tapi kan.."
"Rukia lihat sekitarmu, jangan cuma menatapnya ada seseorang yang memikirkanmu."
Rukia menatap Renji lagi dengan heran. "Siapa?"
"Aku."
Rukia dan Renji terdiam bersamaan sesaat tidak ada sambungan yang membuat Rukia sadar maksud dari perkataan Renji, atau lebih tepatnya masih terjadi miss communication diantara mereka berdua.
Renji yang merasa kalau kata-kata yang dilontarkannya bisa berarti 'penembakan' segera panik dan mengatakan hal aneh lainnya. "Argh! Padahal aku tidak niat bilang. Jangan jawab sekarang aku tidak ingin jawaban klise kalau kita hanya teman."
Rukia masih tidak mengerti dan berusaha mencernanya perlahan, membiarkan Renji mengoceh sesuka hati dihadapannya. "Pokoknya tak akan kubiarkan kau pergi ke Prancis."
Setelah itu Rukia mendengar suara pintu ditutup dan menyadari kalau Renji sudah tidak ada dihadapannya. Dan setelah itu otaknya baru berjalan. Ia baru sadar kalau Renji baru saja menyatakan perasaannya secara tidak langsung.
"Payah, aku tidak bisa berpikir." Rukia keluar dari ruangan itu dan berjalan dengan lunglai, seperti baru saja kehilangan kekuatan di kakinya. Rukia melihat seseorang yang berjalan dengan seragam white dan rambut oranye, dan secara reflek Rukia mengejar pria itu dan memegang bahunya secara tiba-tiba.
"Hei, tunggu." Rukia menahan Ichigo ketika ia ingin pergi dan melanjutkan perjalanan nya tanpa mempedulikan Rukia.
"Kau menghindariku kan?"
"Tidak."
"Terus kenapa kau menjauh?"
"Aku sibuk."
"Hei, otakku sedang buntu, kau kan berkepala dingin jadi bantu aku." Rukia yang sudah mulai terdengar berbeda ditelinga Ichigo membuat pria itu akhirnya melihat Rukia yang sudah berwajah merah padam.
"Kau, kenapa?"
"Wah, masih akrab seperti biasanya ya." seseorang dengan rambut hitam dan seragam black menghampiri Rukia dan Ichigo yang masih berdiri di tempat itu dengan segala kebingungan yang mendera Rukia.
"Kaien? Kau sudah sembuh?" tanya Rukia setelah melihat Kaien yang berdiri dihadapan mereka berdua.
Kaien yang mendengar pertanyaan Rukia tersenyum pada wanita itu. "Berkat doa mu."
Rukia yang mendengar jawaban Kaien tersenyum dan memulai obrolan dengan Kaien. Dan dari kejauhan terlihat dua orang cowok dengan seragam black menghampiri Kaien yang baru saja tiba disekolah itu setelah beberapa minggu ditahan dirumah sakit karena cedera di kaki.
"Kaien, kau sudah sembuh?" tanya salah satu dari mereka.
"Kaien, selama kau di rumah sakit kami dengar, kalau sebenarnya kau dan Ichigo sebenarnya sangat akrab."
Kaien yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum dan melirik Ichigo yang masih berdiri ditempat yang sama tanpa ekspresi.
"Yang benar saja. Mana mungkin mereka akrab." Rukia yang mendengar pertanyaan itu segera membantah dan melirik secara bergantian 2 cowok itu.
"Aku tidak pernah ingat kami berdua akrab." Kaien tersenyum sembari melihat kearah Ichigo yang masih tidak merespon.
"Tapi mungkin rahasia kita sudah tebongkar ya Ichigo." lanjutnya lagi dan menunggu reaksi dari pria dingin berambut oranye yang seharusnya sudah memberi suatu respon sejak tadi.
Ichigo yang mendengar ucapan terakhir Kaien pun tersenyum. "Sepertinya permainan kita berakhir sampai disini."
.
.
Balasan review !!
KakyouAkuno : hubungan mereka berdua udah teruangkap disini kan ^^
ARGENTUM SILVER-CHAN : lho kug terpesona ada apa *bingung*
don canonji : hehehe baguslah anda sudah mereview kalau tidak saya akan benar-benar membunuh anda *digetok*
endingnya sangat diusahakan gak bakal gantung… oke deh ini udah update
Tie-manganiac-bgt males login : Eh, itu dimana ya? Maklum buta arah XDD
Ada kug perayaan sumpah pemuda, paling cuma upacara..
Ichan Kurosaki : Iya ini udah update ^^
edogawa Luffy : Karena apa udah terungkap di chapter ini kan.. nih udah update ^^
Ichan Kurosaki : *ikutan ketawa* tapik Kug lucu?? Ada yang lucu ya?? *heran*
Yumemiru Reirin : Karena Byakuya gak mau nyakitin Rukia.. hmm lebih lengkapnya baca yang chap ini ^^
Ni-chan d' :Hayo! Jangan ngasih spoi *ngamuk gak jelas*
Eh.. oke deh ini udah update !!! kalau mau baca komiknya lagi injem ma aku aja *hehehe*
nha Luph Him : Hmm romancenya baru renruki belum ichiruki *nangis gaje*
shirayuki haruna : Hehe dia emang cocok jadi petugas intel yang tukang nguping XDD
Marie Antoinette : Eh.. gomen kalau emang lemod updatenya maklum lah orang sibuk *getoked*
Ini udah update ^^
Ruki_ya_cH : Iya mereka saudara satu ayah beda ibu..
Author Note
Gomenasai karena updatenya lemod dan buat ntar malam mss akan update Love Work and Promise.
Dan bagi yang berkenantolong baca fic mss yang judulnya Yes, I do ^^
Ayo tekan ijo dibawah dengan semangat!!
