Black, White or Grey by mss Dhyta
Penguin Brother by Ayumi Shiina
Bleach by Tite Kubo
Pair : Ichiruki, RenHina, RenRuki
AU OOC
Rukia menatap mereka berdua dengan tatapan heran sekligus takut. Ia masih takut mendengar ucapan terakhir Ichigo, terlalu aneh dan terlalu mencurigakan.
"Jangan-jangan kalian merencanakan semua ini?" sela salah seorang anggota Black yang mulai menatap pemimpinnya dengan tatapan curiga, Rukia menoleh kembali melihat ekspresi Kaien yang berubah.
"Mungkin bisa dibilang seperti itu," Kaien tersenyum membuat kebencian bangkit dari para anggotanya, sekarang mereka tahu kalau mereka hanyalah boneka yang dijadikan bahan permainan kedua orang besar di sekolah mereka.
Rukia masih bingung dan tidak bisa mengungkapkan apapun, ia masih berusaha mencerna, sekarang ia merasa otaknya benar-benar bekerja begitu lambat.
"Mereka berdua memang tidak terlalu akrab," seseorang menyela keheningan tanpa penjelasan itu Rukia memindahkan lagi pandangan menuju tempat seseorang berambut merah berdiri.
"Tapi mereka berdua bersekongkol untuk menjadi ketua dari Balck dan White dengan begitu mereka akan menjadi, orang yang dihormati oleh senior maupun junior. Mereka memang merancang semuanya sejak awal," Renji melanjutkan ucapannya dan membuat suasana hening kembali merasuk diantara mereka.
Seorang anggota Black maju, dan mulai berteriak dengan emosi. "Jadi kalian telah membohongi kami semua?" Rukia menatap orang itu dengan tatapan bingung dan beralih pada dua orang yang dipersalahkan itu, tak ada yang berubah dari ekspresi mereka terutama Ichigo.
"Dasar penipu,"
"Memuakkan,"
"Hei kalian berdua, katakan kalau hal itu tidak benar," sekarang Rukia yang angkat bicara ia mendekati Ichigo dan mencoba melihat ekspresinya yang tetap sama.
"Ini memang benar, dan sebaiknya kau jangan ikut campur lagi Rukia," Ichigo pun berbalik dan meninggalkan mereka semua, kaki kecil Rukia pun mengejarnya. Tetapi samar-samar Rukia masih bisa mendengar Kaien berbicara.
"Kalau yang ingin protes hadapi aku sekarang,"
.
.
Keeseokan harinya Rukia bisa melihat banyak orang memakai baju bebas , bahkan lebih banyak daripada yang sebelumnya. Ia hanya menatap dengan ekspresi aneh yang tidak bisa ia jelaskan, ia memang senang tapi entah kenapa di sisi lain ia merasa ada yang salah dengan semua perubahan yang begitu cepat ini.
"Maaf ya anggota clubku yang menyebarkannya, padahal sudah kusuruh mereka tutup mulut," ucap Hitsugaya setelah mendengarkan kronologis kejadian yang terjadi kemarin.
Renji menggelengkan kepalanya den tersenyum puas. " Bagaimanapun karena hal itu anggota kita bertambah dengan cepat,"
Rukia hanya mendengarkan ucapan itu samar-samar. Sementara anggota lain berusaha menghitung anggota Grey yang ada dari lantai 2, Rukia bisa mendengar suara Renji memanggilnya.
"Hei, setidaknya senang sedikit,"
Rukia hanya berpaling dan menatap Renji, "Renji, aku sudah sedikit mengerti ucapanmu kemarin Renji," ujarnya mengalihkan dari topik awal.
Renji menatap Rukia dengan tatapan heran. "Oh itu sebenarnya aku hanya keceplosan,"
"Maaf."
Renji menatap Rukia yang suadah menunduk. "Maaf kalau aku tidak bisa membalasnya, aku tidak punya pikiran lain selain kau adalah sahabatku."
Renji tak bisa lagi mengatakan hal lain, ia berbalik dan mencoba melihat rombongan anak sekolah yang masuk dengan seragam bebas. "Setidaknya terimakasih kau mau mendengarkannya,"
Mata Hinamori melihat dengan seksama pembicaraan itu, samar-samar ia menangkap bahwa Rukia baru saja menolak orang yang ia sukai.
.
.
Rukia berdiri di atap dan membiarkan rambut kebiruannya tertiup angin, jam istirahat sudah tiba dan entah kenapa ia sedikit malas berkumpul dengan anak Grey yang lain. ia mendengar langkah kaki mendekatinya dan melihat Hinamori berjalan mendekatinya.
"Kau baru saja menolak Renji ya Rukia?"
Rukia hanya mengangguk, tak ingin menyangkalnya. "Begitulah, tenang saja ini bukan karenamu, aku memang hanya menganggapnya sebagai sahabat," Rukia menjawab seolah-olah ia bisa menebak apa yang akan ditanyakan Hinamori setelah ini.
"Benarkah? Kau tidak berbohong kan?" Hinamori masih berusaha meyakinkan dirinya ia tidak bisa melihat mata Rukia hanya punggunya yang terlihat sebelum Rukia berbalik dan tersenyum.
"Kau tahu kan aku tidak bisa berbohong terlalu banyak,"
Lalu Hinamori berlari memeluk Rukia yang membalas pelukannya. "Setidaknya ceritakan padaku jika kau menyukai seseorang," pinta Hinamori dan dijawab Rukia dengan bisikan.
"Aku masih tidak mengerti dengan perasaanku Hinamori,"
.
.
Rukia kembali berjalan-jalan menyusuri lorong sendirian, ia tidak menyadari kalau ada seorang tanpa rambut (A/N : botak) yang berjalan mendekatinya.
"Hei, apa maksudmu memberitahu soal Kaien pada nona Miyako,"
Rukia lalu bisa merasakan kepalanya dijitak setelah mendengar suara keras khas Ikaku, setelah itu pun ia hanya bisa terduduk terkejut.
"Eh, maaf aku kan tidak sengaja, lagipula aku tidak memberitahunya secara langsung," Rukia berusaha mengelak dari jitakan namun tak berhasil, ia terlalu kecil.
"Baiklah, aku memafkanmu mumpung ini hari baik,"
Rukia lalu bersandar dan menarika nafas lega. "Hari baik? Maksudmu?"
Ikaku mengerutkan dahi tidak mengerti. "Hei, ini kan hari kemenangan Grey kau masih tidak sadar? Kelihatannya pun kau tidak terlalu senang?"
Rukia menggeleng. "Senang? Aku tidak tahu juga,"
Ikaku lalu mengacak-ngacak rambut Rukia. "Mereka sedang merayakan kemenangan, kau tidak mau ikut, ketua Grey?"
Rukia menggeleng. "Aku bukan ketua, lagipula sebenarnya aku tidak terlalu berperan, masalah strategi Renji yang mengatur, Hitsugaya dan Inoue pun sangat membantu, kau juga jika ada masalah pun ikut membantu,"
"Hei, kau tidak sadar tanpa kau kami tidak akan bergerak, aku sudah lama disini dan tidak ada yang seberani kau, mereka tidak kuat ditindas, kaulah yang memotivasi kami untuk berani mengubah sekolah ini," Ikaku menjelaskan tanpa menatap wajah Rukia. Dan Rukia pun hanya tersenyum.
"Mungkin kau benar,"
"Tapi jika kau masih merasa belum puas mungkin kau merasa masih ada misi yang belum kau selesaikan,"
Rukia mencerna ucapan Ikaku dan menyadari kalau pria botak itu benar, ada sesuatu yang mengganggunya walaupun urusannya sudah selesai.
.
.
Pagi itu cerah tetapi sudah digemparkan oleh sebuah berita yang mengejutkan, Rukia yang baru saja tiba pun terkejut ketika Ichigo Kurosaki, yang hari itu mengenakan pakaian bebas memberikan sebuah bungkusan yang ketika ia buka berisi.
"Seragam White?" tanya Rukia memastikan benda yang dipegangnya.
"Kau bilang akan membakarnya di halaman sekolah kan?" ucap Ichigo sembari berjalan meninggalkan Rukia, diikuti dengan sorakan penuh kemenangan dari anggota Grey yang lain.
Dan sekarang mereka benar-benar telah menang.
.
.
Kaien yang memasuki ruangan ketua Osis hanya bisa menatap dengan tatapan terkejut. "Ternyata benar, kau sudah menyerah?"
Ichigo yang sedang membereskan beberapa berkas miliknya hanya bisa menghela nafas dan tidak pernah mensyukuri kedatangan Kaien yang pastinya hanya akan mengejeknya.
"Hilangkanlah sedikit sikap cuekmu kakak," Kaien memulai lagi candaannya yang menurut Ichigo sama sekali tidak lucu.
"Diam atau kubunuh kau," Ichigo tak menatap Kaien sedikitpun dan tetap bersama berkas-berkasnya yang harus diurus hari itu juga. Sepertinya ia tidak akan bisa tenang jika Kaien masih berdiri di depan pintu dan menggodanya.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara banyak kaki yang berlari menuju ruangan OSIS yang sekarang ditempati oleh Kaien dan Ichigo. Setelah suara langkah kaki itu datang dan masuk, Rukia yang ikut bersama dengan pasukan Grey itu mulai menunjukkan jarinya kearah Kaien.
"Hei, kau sudah kalah jadi serahkan seragammu," pinta Rukia tanpa mempedulikan tatapan heran dari Kaien serta ekspresi terganggu dari Ichigo.
"Ogah," Kaien yang tak peduli dengan anak buah Rukia yang berjumlah tidak sedikit menjawab dengan penolakan dan juluran lidah.
"Kalau begitu lucuti dia," Rukia yang memberi perintah membuat beberapa anggota Grey menyerang Kaien yang masih tidak sadar kalau dirinya akan diserang, dan hasilnya beberapa menit kemudian seragam miliknya sudah berada di tangan orang lain.
"Cuma seragam 1 itu. Terserah mau diapakan," keluh Kaien setelah menghajar beberapa orang yang tadi berusaha menyentuhnya.
"Kebetulan kalian berdua ada disini, aku ingin membicarakan masalah kemarin," Rukia memulai topik lain setelah seragam itu terlepas dari tubuh Kaien, tetapi Ichigo yang tak terlalu peduli segera berdiri dan menyingkir dari ruangan itu.
"Hei, Ichigo jangan pergi dulu,"
"Sudahlah, apa kau mau dihajar lagi?" tanya Kaien dengan nada sedikit mengancam.
Rukia mengejek. "Kau sudah tidak punya pengikut lagi, jelas saja aku tidak takut,"
"Kau sombong sekali midget padahal kita udah pernah tidur bareng,"
Sejenak kata-kata yang dikeluarkan Kaien membuat kontrofersi dipikiran masing-masing orang yang ada disana.
"Benarkah?"
"Eh, itu cuma salah paham jangan berpikir yang tidak ti…" kalimat Rukia terpotong ditengah-tengah ketika mereka semua merasa mendengar suara kepala seseorang yang bertemu dengan pintu.
Ketika Hitsugaya, Rukia dan Kaien menoleh, mereka melihat kepala Ichigo Kurosaki menempel di pintu dan hal tersebut membuktikan bahwa asal suara tadi adalah dari kepalanya yang bertemu dengan pintu.
Kaki Ichigo kembali melangkah dan berusaha untuk melupakan kalimat yang tadi dikatakan Kaien, tetapi sekali lagi kakinya tersandung dan jatuh.
"Itu, Ichigo kan?"
"Dia kejedut pintu?"
"Dan tersandung?"
Rukia hanya bisa menatapa fenomena tadi dengan tanda tanya besar yang melayang dikepalanya, bagaimana bisa si dingin Ichigo melakukan kesalahan –kecerobohan seperti itu.
"Ternyata, si cowok dingin itu hanya bereaksi padamu, daripada menindasmu lebih efektif memakai cara ini," Kaien secara tiba-tiba melontarkan pernyataan yang benar-benar tidak dimengerti Rukia, hanya mampu membuat wanita itu mengulang kata-kata terakhir yang diucapkan Kaien.
"Cara ini?"
Setelah itu Rukia hanya mampu melihat punggung Kaien menjauhi pintu, berjalan dengan meninggalkan tanda tanya kepada setiap orang yang ada di ruangan itu.
"Dia gila ya?"
.
.
Kaien melangkahkan kakinya sambil tersenyum, entah kenapa ia senang sekali menemukan cara untuk membuat Ichigo marah besar, setidaknya menunjukkan sedikit ekspresi yang dimilikinya. Ketika ia melewati toilet pria secara tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang dari dalam dan dilemparkan kearah lain masuk ke dalam toilet itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Kaien kesal dan melihat cowok berambut oranya yang berdiri dihadapannya dengan tatapan marah.
"Kau?"
"Jauhi, Rukia!" hanya kata-kata itu yang keluar dari ekspresi dinginnya, terlalu dingin dari ekspresi biasanya bisa dibilang ekspresi yang hanya ditunjukkan ketika ia sedang marah.
"Ternyata benar hanya dia yang bisa membuatmu marah, bagaimana kalau aku jadikan dia milikku"
"Aku bilang jauhi Rukia!"
Dan secara tiba-tiba tangan Kaien yang terkepal mengenai pipi Ichigo yang masih dipenuhi emosi dan membuat pria itu terjatuh.
"Aku tahu kalau selama ini kau menyembunyikan perasaanmu padaku, kau pura-pura bertoleransi padaku padahal kau sangat membenciku,"
Sedetik kemudian Ichigo sudah berdiri dari tempatnya terjatuh dan menarik kerah baju Kaien.
"Kau tahu, kita tidak pernah menyukai keberadaan masing-masing, saat ini dan selamanya,"
.
.
Rukia berdiri ditengah aula bersama dengan anggota Grey lain, dan disampingnya ada Renji yang selalu menemaninya selama ia melakukan reformasi sekolah. Tangan Rukia menggenggam 2 buah seragam Black dan White.
"Jadi, apa kau ingin membakarnya?" tanya Renji ketika ia melihat tak ada persiapan apapun yang dilakukan Rukia untuk melenyapkan seragam itu sebagai symbol kemenangan mereka.
"Tidak, walaupun kita sudah menang tapi reformasi ini belum selesai, masih ada beberapa orang yang memakai seragam, jadi sebelum reformasi ini benar-benar berhasil aku tidak akan membakar seragam ini,"
Beberapa orang dari mereka bertepuk tangan seolah-olah menyatakan setuju terhadap pendapat Rukia. Setelah Rukia pun meletakkan 2 buah seragam itu dan mengambil segelas soda.
"Terimakasih untuk semuanya, dan mari kita bersulang untuk kemenangan kita!"
.
.
Beberapa anggota Grey masih berada di aula, hanya membicarakan hal-hal lain untuk merayakan kemenangan mereka, tetapi Rukia dan Renji duduk berdua di tangga yang menghubungkan ruang aula dengan pintu keluar.
"Aku senang sekolah disini, awalnya memang aku ditindas tapi setelah mengadakan reformasi ini, aku senang bisa merayakannya dengan kalian semua,"
Renji yang berada disebelah Rukia hanya tersenyum. "Hei, setelah ini kau tidak akan benar-benar ke Paris kan?"
Rukia menatap Renji dengan tatapan aku serius, dan membuat Renji hanya bisa menahan emosinya.
"Rukia, aku tidak akan menyerah, pokoknya aku tidak akan membiarkanmu ke Paris,"
"Tapi kan…"
"Dan aku akan tetap berusaha membuat perasaanmu sama denganku,"
Rukia merasakan panas diwajahnya ia sudah menebak kalau wajahnya memerah. Beberapa saat kemudian Renji sudah berdiri dan meninggalkannya sendiri, sekilas mata violetnya melihat lampu ruang OSIS yang masih menyala, dengan segera ia melangkahkan kaki menuju ruangan yang berada di gedung seberang itu.
.
.
Ichigo menghela nafas berat dan berusaha terus mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk, beberapa orang –terutama wakilnya, berpikir kalau ia pengkhianat dan perlu diberikan tambahan pekerjaan.
"Ternyata masih ada ya," Rukia melihat Ichigo dari pintu yang masih terbuka lebar, dan beberapa saat Ichigo melihat Rukia yang sudah berjalan menuju ke arahnya.
"Di aula sedang ramai lho, tidak mau ikut?" tawar Rukia.
"Tidak, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan," jawab Ichigo dengan mata yang tetap tertuju pada berkas-berkas yang menggunung.
Rukia hanya bisa melihat mata coklat Ichigo yang tak menatap matanya, dia memang masih tidak bisa mengatasi cowok cuek yang satu ini.
"Hei Ichigo, aku hanya ingin memberitahu kalau semester depan aku akan pindah," Rukia perlahan berjalan mendekati jendela yang masih terbuka lebar.
Dan sejenak tanpa Rukia tahu tangan kanan Ichigo berhenti menuliskan beberapa kata disebuah kertas, ia menatap Rukia dengan tatapan terkejut tetapi Rukia tetap melihat awan gelap yang berada di luar ruangan itu.
"Aku sadar ada beberapa hal yang belum ku selesaikan termasuk masa lalu ku, setidaknya aku ingin semua itu kembali sebelum aku pindah, dan aku minta kau membantuku, " Rukia tetap tidak melihat mata Ichigo yang masih melihat dirinya.
"Setidaknya untuk kali ini aku minta kau jangan menjauh dariku, Ichigo. Aku ingin mengembalikan semua kenanganku yang hilang bersama ingatanku,"
Sekarang Rukia benar-benar sudah mengungkapkan misi lain yang harus ia penuhi sebelum ia pergi. Misi lain yang benar-benar ingin ia selesaikan.
.
.
A/N
Gomenasai mina-san _
Mss lama banget menelantarkan fic yang satu ini… buat review silahkan lihat di PM masing-masing sudah terkirim kesana ^^
Makasih buat yang masih nunggu fic ini
Balasan review
Aizawa Ayumu : Iya ini udah dilanjutin moga aja makin suka ya ^^
Ichan Kurosaki : iya ini udah update gimana lanjutannya masih bikin penasaran?
Rabichan : Iya gakpapa makasih ya udah review
Eh rabichan entar ikut Rukianya gimana?? *bingung*
Ruki_ya : Hmm… udah tahu kan mereka ngomongin apa…
Bin-bin Mayen Kuchiki : Makasih ^^
[Type text]
