Summary: Antonio berhasil membuat janji kepada mereka berdua, tapi apa mereka bakal datang?
Gilbert memindah-mindah channel TV nya. Dia masih kesal dengan Antonio, tapi dia berpikir—ini pasti salah paham. Yee. Antonio juga udah bilang daritadi kali.
Beberapa detik kemudian, ada seseorang membuka pintu. Ternyata adiknya, Ludwig.
"tadi kulihat ada Antonio keluar dari rumah. Untuk apa dia kesini?" Tanya Ludwig kepada kakaknya. "ada urusan" jawab Gilbert tanpa melihat ke Ludwig dan tetap memindah channel. "hast du zu ihm bekennen? " kata Ludwig dalam bahasa Jerman. "Es ist nicht deine Sache " jawab Gil. Ludwig memutar matanya dan tersenyum. "Glück, Bruder " kata Ludwig akhirnya, sebelum dia naik ke tangga. "was auch immer."
Antonio melihat ke jam tangannya. Dia menggigit bibirnya. Udara bulan Desember memang sangat menusuk. Lalu dia mulai berpikir, aku satu rumah dengan Lovino, kenapa aku memanggilnya kesini? Kenapa tidak langsung bicara saja? Bodoh. Ya, kau bodoh, Spain. –author digebukin massa-
Samar-samar terlihat sosok cowok imut berikal satu (?). "Lovino!" panggil Antonio dan melambaikan tangan. Lovino pun berjalan ke arah Antonio. "kenapa kau minta bertemu disini? Kita satu rumah, dan kau bisa langsung bicara denganku."
"err… beberapa detik sebelum kau datang juga aku berpikir begitu.." Antonio merapatkan mantel bulunya. "jadi" mulai Antonio. "kemana kita mau pergi?" . "pergi? Kok pergi?!" Tanya Lovino dengan tereak2. Nggak usah teriak kali, bang. –author bener-bener diceburin ke sungai gangga-
"ya, kemana saja kau mau. Hari ini dingin, jadi kenapa kita tidak ke tempat yang hangat-hangat saja? Seperti tempat pembakaran sampah" kata Antonio diikuti tempelengan dari Lovino. "kalau gitu" ucap Lovino membetulkan syalnya. Pipinya merah. "aku mau ke akuarium, boleh?". Antonio pun tersenyum, dan mereka berjalan ke S** W*r*d (( karena takut dikira promosi, jadi disensor. Kufufufu~ ))
---------------
"wah, lihat ikan itu deh! lucu banget!" Lovino menunjuk ikan Piranha. Lho, itu mah nyeremin. =='a
Lalu saat setengah jalan mereka mengelilingi akuarium, mereka melihat Feliciano dan Ludwig sedang berjalan bersama. Feliciano melambaikan tangan ke arah mereka berdua. "Loviii~!! Antonio-kun~!" sapa Feliciano. Feliciano dan Ludwig berlari ke arah Lovino dan Antonio. Lovino pun melotot ke arah Ludwig ( yang memang Lovino benci =="a ). Ludwig swt. Lalu Ludwig melihat ke Antonio.
"ah, Antonio, kebetulan sekali bisa bertemu disini. Bisa bicara berdua saja sebentar?" Tanya Ludwig. Antonio mengangguk sambil melihat Lovino. Lalu mereka berdua pergi ke café.
"ada apa Ludwig?" Tanya Antonio kepada Ludwig saat mereka berdua sudah duduk di salah satu kursi di café tersebut. "santai dulu, bruder. Mari minum sebentar dulu." Ludwig mengangkat tangannya dan datang seorang waitress berbaju maid. "Selamat datang, pesan apa?" kata pelayan berambut pirang pendek dan – ehm—berdada besar. "aku mau satu gelas beer" Ludwig berkata setelah membolak-balik daftar minuman. "kau, Antonio?" Tanya Ludwig. "aku, eh? Aku, jus tomat saja deh" (( … gak yakin deh, ada jus tomat di café ))
"baiklah" akhirnya Ludwig mulai angkat bicara. "ada sesuatu antara kau dan Bruder, kan?". Antonio yang baru memulai minum jus tomatnya, keselek dan akibatnya nyembur kemana-mana, termasuk mukanya Ludwig. Dengan muka pasrah bin melas, Ludwig ngambil tissue dan ngelap-ngelap mukanya /yang emang udah ancur dari sananya/ -ditembak-
"d—darimana kau tau?!" kata Antonio sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. "dari tampang Gil, mukanya merah" Ludwig membuang tissue nya ke tempat sampah terdekat. "k—kan bisa saja bukan denganku, bisa saja dengan yang lain; Francis misalnya." Ludwig menggelengkan kepalanya.
"jelas-jelas kau yang sebelumnya masuk ke rumahku dan Gil, Spain."
"kau—kau melihatku?"
"jelas sekali."
Antonio melihat ke lantai di bawahnya. "sebenarnya aku masih bingung, antara Gilbert dan Lovino." Ludwig melihat ke salah satu teman dari kakaknya itu. "jadi—kupikir perasaanku ke Gilbert dank e Lovino itu beda. Sama-sama cinta—" Antonio melirik sebentar ke Ludwig, yang tersenyum kecil. "tapi entah kenapa, beda."
"kau pikir lagi" ucap Ludwig dengan nada bijaksana. "coba kau rasakan lebih dalam lagi, pasti ada yang berbeda" Ludwig berdiri dari kursinya, memanggil pelayan /berdada besar/ itu lagi, meminta bill dan membayarnya. "ayo. Si kembar itu sudah menunggu, pastinya". Antonio mengangguk dan berdiri, mengikuti Ludwig. Dia masih bingung dengan kata-kata Ludwig. "ngomong-ngomong" kata Ludwig. "pelayanan di café ini memuaskan juga" yang diikuti tabokan dari Ukraine dan Author.
GILEEE!! PANJANG BGT!!! WASHOO!!
Oya, translate dari beberapa percakapan berbahasa Jerman disini:
hast du zu ihm bekennen?: kau sudah menyatakan perasaanmu?
Es ist nicht deine Sache: bukan urusanmu
Glück, Bruder: Selamat berjuang, kak.
was auch immer: wateper *plak* whatever
yak, minna. Ini menurut saya paling serius disini. Dan paling panjang ( ngalahin rekor chapter 7 ) oke. Ja mata ne~!
