Summary: 'apa maksud Ludwig?' pikir Antonio.. (( pikir ndiri. --author ditebas kapak-- ))


Antonio menengok ke arah jam besar tepat di sebelahnya. 11.42. Masih terlalu pagi, kurasa; Pikirnya. Lalu ia menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya, menyenderkan punggungnya di pagar di belakangnya, dan menunggu.

Tak lama kemudian, datang seorang berkulit pucat, bermata rubi, mengenakan mantel lengan panjang berwarna biru indigo, dan membawa burung kecil dengan headset bulu (?) di pundaknya. Gilbert. Dan Gilbird. =='a

Antonio berdiri tegak dari senderannya. Dia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari sedetik sebelumnya. Apalagi saat Gilbert melihatnya.

"hei" sapa Gilbert. "ada apa kau memanggilku ke sini?". "tidak—aku… ingin kencan.". saat Antonio mengucapkan hal tersebut, Gilbert yang sedang melihat ke arah lain, mendadak melotot ke Antonio. "apa?" Gilbert menyipitkan kedua matanya. "ya aku bilang—kita kencan. Sekarang kita mau kemana?" Antonio ketawa garing. Dia melihat sirat-sirat pink di wajah pucat Gilbert. "oke.. kita.. ke taman bermain… boleh?" ajak Gilbert memasang muka seperti anak kecil yang pemalu (?) (( =///= ka-kawaii… -author didepak dari fict sendiri- ))

______

Saat masuk mereka di sambut oleh kipas angin air ala D*f*n , yang membuat mereka semakin kedinginan. Gilbert yang jarang ke taman bermain pun terkagum-kagum "he-hebat.. ehrfürchtig" kagum Gilbert. Lalu Antonio mengeluarkan bunyi seperti 'puh' (?). Gilbert pun melihat ke arahnya. "kenapa?!" teriak Gilbert. "tidak.. aku hanya tidak pernah menyangka saja orang sehebatmu ternyata tidak pernah ke taman bermain.. hahaha" akhirnya tawa Antonio meledak. Muka Gilbert pun memerah. "HEI! Enak saja aku tidak pernah ke taman bermain! Aku pernah dengan si West! Saat kami berumur 5 tahun.." elak Gilbert . "5 tahun?" Tanya Antonio. "ya ampun, kasihan sekali kau, sudah tidak pernah ke taman selama kurang lebih 10 tahun? Hahahaha" tawa Antonio meledak lagi. Yang akhirnya ditempeleng oleh Gilbert. ((oya, perhatian ya. Ceritanya mereka itu anak SMU gt. Hawhaw =w= *plak* ))

"jadi" kata Gilbert. "kita mau kemana?" Tanya Gilbert yang sedang memegang pet ataman bermain tersebut. "hei" kata Gilbert lagi. Dia melirik ke Antonio, dan melihat dia sedang menerawang jauh ke depannya. "Antonio!" katanya lagi sambil menyenggol lengan Antonio dengan siku-nya. "huh? Hah? Apa?" sahutnya pada akhirnya. "aku tanya, sekarang kita kemana? Sepertinya Jet Coaster seru juga."

"ya, terserah kau saja." Ucap Antonio, dan dia kembali menerawang ke depan. Gilbert berhenti berjalan. Dia melihat ke Antonio yang berjalan didepannya dengan tatapan bingung. Antonio juga ikut berhenti. "kenapa berhenti?" Antonio membalik badannya ke arah Gilbert. Gilbert memandangnya dengan tatapan tajam, dan berkata "tidak. Ayo jalan lagi" dan meneruskan langkahnya.

---------------

Jam 5. Sudah kurang lebih 5 jam mereka habiskan untuk bermain wahana-wahana di taman bermain tersebut. Tapi Gilbert masih merasa ada sesuatu yang janggal di diri Antonio. Dia selalu bengong. Seperti ada hal lain yang dipikirkan Antonio. Akhirnya, Gilbert bertanya. "Tonio" Antonio pun langsung menghadap ke arah Gilbert. "sebenarnya.. kau kenapa sih?"

"eh?" Antonio heran dengan sikap Gilbert.

"ya—selama kita disini sepertinya pikiranmu bukan disini. Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan?"

"aku-? Aku—tidak."

"bohong. Kau selalu bengong dan menerawang entah kemana—oh, jangan-jangan.. memikirkan Lovino?" saat dia mengatakan kata 'memikirkan Lovino', suaranya pada puncak kedinginannya. ((?))

Antonio kaget. "a—Lovino? Hei, aku bersamamu, lho—" Antonio hendak memegang pundak Gilbert, tapi Gilbert menepis tangannya. "tentu saja aku bersamamu! Tapi pikiranmu tidak disini! Pikiranmu itu ada di Lovino, kan? Memikirkan dia sedang apa, sudah mandi atau belum, sudah memetik tomat apa belum—pokoknya kau memikirkan Lovino, kan?" dia melotot ke arah Antonio. Antonio merasa hatinya sakit. Dia tidak berani menjawab, karena suara Gilbert sangat dingin dah. Tapi satu hal-- bukan itu yang dipikirkannya. Dia memikirkan kata-kata Ludwig dan—bukan berarti juga dia memikirkan Ludwig. Mereka diam beberapa saat.

"harusnya" pecah Gilbert di tengah kesunyian mereka berdua. Mukanya menunduk ke bawah. "aku tidak menghancurkan hubungan kalian.. ya?" Antonio mendongak ke arah Gilbert. "a—" saat dia hendak membuka mulut, Gilbert melanjutkan kata-katanya.

"kalian tinggal bersama, berarti selalu bersama—dan berarti tidak ada kesempatan untukku, ya. Aku bodoh sekali." Kepalanya makin menunduk, bisa terlihat pundaknya gemetaran, sehingga Gilbird yang dilanda gempa pun turun dati pundaknya. Antonio merasa semakin bersalah, tapi ini salah paham. Harus segera diluruskan. "aku.. sudah ditolak, ya.." kata Gilbert. Antonio merasakan ada pisau yang menusuk jantungnya. Gilbert pun berlari sekuat-kuatnya sambil menahan tangisannya. "GIL—" Antonio membalik badannya. "GILBERT!"

----------------

Antonio POV

Bodoh.

Ya, aku memang bodoh.

Seharusnya aku menyadarinya dari awal. Kalau aku sadar, tidak akan jadi begini. Gilbert tidak akan sakit hati begini.

Bodoh. Semua yang Ludwig bilang itu benar. Perasaanku ke mereka berbeda.

Coba saja aku sadar sejak awal.

Ya. Aku mencintai Gilbert.

Aku mencintainya sebagai Gilbert. Seharusnya aku sadar itu. Aku memang mencintai Lovino. Ya, tapi sebagai adik. Aku mencintainya sebagai adik yang sangat kusayangi. Tetapi Gilbert itu berbeda. Aku mencintainya sebagai orang lain. Sebagai orang yang seharusnya ku lindungi.

Aku menyadarinya sekarang, saat semua sudah terlambat. Bodoh.


Waaay~! Sesuai perkiraan, bakalan selesai di chapter 10, hohoh~

Yah.. paling Karena disini udah dibuka siapa yang bakal dipilih, pasti bakalan banyak yang ga baca chap 10 =..= huuuu~ *lebay*

Okay, ja mata ne~! rate T nya bakal keluar di next chapter~ =w=