Part 32 Milkul Yamin
15 Juni 2029
Sudah beberapa hari semenjak Imran yang menjadi anggota gabungan pasukan khusus Hittin, membeli budak beastmen bernama Lily. Selama beberapa hari itu Lily hanya menghabiskan waktu di atas ranjang. Memang Lily sendiri tidak dapat memungkiri bahwa dirinya juga bosan karena tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring. Kabar baiknya, hampir semua luka luar dan lebam yang dimiliki oleh Lily sudah dalam proses penyembuhan. Selama 4 hari itu, Lily pun meminta untuk diajari bahasa Arab ke Imran dan sampai hari ini Lily mulai bisa mengucapkan kata-kata simpel seperti sapaan, pertanyaan, dan ucapan salam.
Aziz, petugas medis yang juga memiliki panggilan "Dokter" dari rekan se-tim nya saat ini sedang memeriksa kondisi Lily ditemani oleh Imran. Memang kapten mereka sudah bilang bahwa Lily menjadi sepenuhnya tanggung jawab Imran. Tapi bukan berarti kawan-kawannya tidak akan membantu sama sekali. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan kesehatan, Imran hanya bisa mengandalkan Aziz karena ilmu kedokteran yang dimilikinya tidak sebanyak Aziz.
"Letnan, bisa kita berbicara di luar? Aku ingin mendiskusikan keadaanya." Ujar Aziz selesai memeriksa keadaan Lily dan melepas beberapa perbannya.
"Lily masih tidak dapat memahami banyak bahasa Arab. Kita tidak benar-benar perlu berbicara di luar kan dok?"
Aziz pun sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sempat tidak sadar bahwa Lily tidak akan dapat memahami pembicaraan mereka.
"Ah, kau benar juga. Tapi aku masih merasa tidak enak jika nona ini mendengar pembicaraan kita di sini."
Imran pun akhirnya setuju juga dan keduanya pun melangkah keluar ruangan, tak lupa menutup pintu.
"Jadi bagaimana keadaan Lily dok?"
"Alhamdulillah, semua luka luarnya sudah mulai sembuh. Insyaallah dalam waktu 3 hari, semua perbannya sudah dapat dilepas."
"Apakah akan meninggalkan bekas luka? Kau tahu kan dia seorang gadis dan bekas luka adalah salah satu hal terakhir yang diinginkan para gadis."
"Mungkin beberapa luka akan meninggalkan bekas. Butuh perawatan khusus untuk menghilangkannya dan itu hanya bisa dilakukan jika kita berada di markas pusat yang memiliki fasilitas penuh."
Imran sedikit bernafas lega seraya menggumamkan hamdalah juga.
"Satu hal lagi letnan, aku juga telah memeriksa kedua kakinya yang lumpuh. Untuk sementara ini berdasarkan analisisku, penyebab kelumpuhannya adalah putusnya tendon yang mungkin disebabkan oleh tebasan atau semacamnya yang ada di bekas luka kakinya."
"Apa bisa disembuhkan?"
"Insyaallah pusat fasilitas kesehatan di benteng Andalusia bisa menyembuhkannya, meskipun kemungkinan akan membutuhkan implan saraf buatan untuk menyambungnya karena lukanya sudah terlalu lama untuk penyambungan urat tendon. Itu artinya untuk menyembuhkan kakinya kita harus melakukan operasi."
Letnan Imran pun mengangguk paham setelah memahami situasinya.
"Terima kasih dok. aku berhutang padamu."
"Tidak perlu sungkan letnan, kita partner bukan? lagipula itu juga tugasku sebagai seorang muslim dan petugas medis."
Aziz pun berbalik pergi untuk melakukan hal lain, mungkin berniat untuk menghitung suplai medis yang dibawanya. Selesai berdiskusi dengan Aziz, Imran berjalan ke arah tasnya dan dari dalam mengeluarkan sebuah gaun putih polos yang baru saja dibelinya pagi ini dan juga dua buah roti yang saat ini menjadi pengganti ransum harian anggota pasukan Hittin. Sudah beberapa hari ini Lily hanya menggunakan kain lusuh dan memang sudah seharusnya juga Imran membelikannya pakaian yang lebih layak. Hanya saja untuk melakukannya, Imran juga harus meluangkan waktu.
Setelah mengambil gaun itu, Imran kembali memasuki kamar Lily. Di dalam Lily terlihat fokus mempelajari buku translasi Bahasa Arab - Perancis yang pernah diberikan Imran 4 hari yang lalu. Mengetahui kedatangan Imran, Lily pun menaruh bukunya dan menyambut Imran.
"Ah, selamat datang master." Itu salah satu kalimat bahasa Arab yang berhasil dikuasai Lily.
"Lily, aku datang membawakan makanan untukmu. Kau belum makan kan siang ini?"
"Terima kasih, master." Ucapnya lagi dalam bahasa Arab sambil menerima pemberian Imran.
Keduanya pun sempat makan bersama. Lily mencoba melirik apa yang dimakan oleh Imran, nyatanya apa yang dimakan Imran juga roti yang sama. Di hari-hari sebelumnya pun keduanya juga seringkali memakan roti yang sama.
"Lily, setelah makan aku ingin kau mengganti pakaianmu dengan pakaian ini."
Imran menyodorkan gaun yang tadi dibelinya ke Lily. Lily yang diberi pakaian itu hanya dapat memandang terpaku karena terkejut, tidak menyangka bahwa dirinya akan dibelikan pakaian baru.
"Master… Pakaian ini terlalu bagus untuk saya. Apa anda yakin memberikannya kepada saya?"
"Aku sengaja membelikannya untukmu. Mungkin hari ini aku hanya dapat membelikanmu satu dulu. Besok akan aku belikan lagi sebagai pakaian ganti."
"Master… kenapa anda begitu baik kepada saya? Memperlakukan saya dengan baik, menyediakan tempat tidur, memberikan makanan yang sama dengan makanan anda, dan bahkan anda memberikan saya pakaian. Padahal master yang lain pasti akan memberikan makanan sisa, menyuruh kami makan dan tidur di bawah, mereka bahkan tidak akan repot-repot memberi kami pakaian."
"Karena itu sudah kewajibanku sebagai muslim dan juga perintah dari tuhan kami."
"Perintah tuhan? Tuhan master sepertinya sangat baik sekali ya?"
"Tentu saja, dia adalah yang maha baik. Kasih sayangnya kepada seluruh makhluknya bahkan melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang baru lahir. Nabi kami juga pernah berkata untuk memberikan budak makanan yang sama dengan makanan yang kami makan dan pakaian yang sama dengan yang kami pakai, menganggap mereka layaknya saudara kami. Yah, meskipun di tempat kami berasal sudah tidak ada perbudakan lagi sekarang."
Kalimat terakhir itu membuat Lily terkejut. Lily tidak pernah membayangkan dunia tanpa perbudakan. Rasanya terdengar seperti sebuah utopia. Tapi jika dunia seperti itu memang benar ada, mungkin akan terlihat sangat indah, pikirnya. Keduanya pun selesai menghabiskan roti mereka dan Imran yang tadinya duduk di pinggiran ranjang kali ini berdiri untuk beranjak keluar dari kamar.
"Anu… master, ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu Lily?"
Lily terdiam sejenak sambil sedikit tertunduk, dari wajahnya terlihat bahwa dirinya tampak ragu-ragu untuk menanyakan apa yang ingin ditanyakannya. Tapi pada akhirnya Lily mencoba menepis keraguannya dan bibirnya pun mulai kembali berbicara untuk bertanya.
"Maaf kalau ini mungkin terdengar lancang, master. Tapi, apakah saya boleh menjadi pengikut tuhan yang anda sembah?"
Imran sangat terkejut mendengar pertanyaan itu yang mungkin lebih cocok disebut sebagai permintaan. Imran bahkan belum sempat mengajak atau menawarinya untuk masuk Islam, tapi sekarang gadis itu malah memintanya sendiri. Tapi tetap saja, keputusan untuk berpindah keyakinan pun harus didasari dengan ketetapan hati juga. Imran sendiri juga belum tau kepercayaan seperti apa yang saat ini dianut oleh Lily. Karena itu Imran masih perlu memastikan ketetapan hati Lily.
"Lily, apa kau yakin? Itu berarti kau akan mengikuti agama kami dan juga akan menjadi seorang muslim seperti kami. Kau juga harus mengikuti peraturan, cara hidup, ibadah, dan tuntunan yang ada di dalam agama kami Islam, ditambah dengan menghindari dan menjauhi semua larangan yang ada di dalam Islam. Selain itu, kau juga perlu memikirkan bagaimana dengan kepercayaanmu yang sekarang?"
Tanpa berpikir lama dengan tersenyum kecut, Lily menjawab.
"Master, kebanyakan dari kami bangsa Beastmen tidak mengikuti dewa manapun karena semua gereja di Edela mengecap kami sebagai bangsa rendah, sesat, dan terkutuk. Kami tidak tahu harus mengikuti dewa mana dan akhirnya kami pun hidup tanpa menyembah siapapun. Karena itu, master… kumohon izinkan aku menjadi pengikut tuhanmu juga."
Imran menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pikirannya sedikit bingung. Tentu saja dirinya senang jika ada orang lain yang ingin memeluk Islam. Hanya saja Imran tidak pernah menyangka akan ada situasi seperti ini ketika menerima misi pengintaian ke ibu kota musuh. Imran benar-benar tidak siap dengan situasi seperti ini karena misi utama mereka saat ini hanyalah mengintai dan melakukan sabotase. Mungkin dirinya harus memberitahu atasannya terlebih dahulu bagaimana kelanjutannya dan apa yang harus dilakukan olehnya.
"Baiklah, kalau kamu memang seyakin itu, aku akan mengaturnya untukmu."
Senyuman di bibir Lily pun akhirnya merekah. Lily sangat senang mendengar permintaannya diterima. Di sisi lain Lily membayangkan jika saja permintaannya itu terucap ke gereja atau pengikut dewa Solus, pasti yang ada dirinya malah akan dibunuh di tempat karena dianggap menghina atau mengotori nama dewa mereka. Tentu saja alasannya karena bagi mereka beastmen adalah bangsa yang rendah dan kotor.
"Terima kasih banyak master!"
Imran pun mengambil gadget kecil dari sakunya yang merupakan ponsel smartphone-nya. Dari ponsel itu Imran membuka aplikasi Al-Qur'an Elektronik disertai dengan terjemahan perancis, lalu memberikan ponsel itu ke Lily.
"Sementara itu, kau bisa menunggu sambil membaca ini."
"Apa ini, master?"
"Itu adalah isi dari kitab suci kami, kitab suci orang Islam yang disebut Al-Qur'an yang juga menjadi sumber pedoman kami dalam menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan yang ada di dalam agama kami."
"Alukuran?"
"Aku ingin kau mengenal Islam lebih dalam sebelum kau benar-benar masuk Islam, Lily."
"Baik, master."
Setelah memberikan ponselnya, Imran pun akhirnya keluar meninggalkan kamar Lily. Di depan kamar, ternyata Sa'ad sedang menunggunya.
"Letnan, kapten sedang mencarimu."
"Ada apa, Sa'ad?"
"Ikuti aku ke atap. Kita akan memasang perangkat komunikasi satelit di sana agar kita bisa berkomunikasi dengan markas pusat. Perangkatnya baru diterjunkan tadi pagi di luar tembok. Aku, Ja'far, dan Reza berhasil membawanya dari luar tembok ke dalam kota siang ini."
"Baiklah."
Keduanya pun berjalan ke atap rumah yang memiliki balkon kecil. Di atas balkon, kapten Fajar, Ja'far, dan Reza sudah menunggu dengan beberapa kotak koper yang tersusun di sekitar mereka.
"Letnan, kami butuh bantuanmu di sini. ke 5 orang lain sedang mengendalikan drone, kita kekurangan orang untuk memasang penangkap sinyal satelit, jadi maaf kalau aku mengganggu waktumu."
"Siap, sudah tugas saya untuk membantu kapten."
Mereka semua mulai membuka koper itu dan menyusun perangkat komunikasi satu demi satu. Imran pun mengambil kesempatan ini untuk berbicara dengan kapten selagi mereka mengerjakan pemasangan perangkat komunikasi itu.
"Kapten, ada yang ingin kulaporkan. Ini terkait warga sipil yang saya bawa kemari tempo hari."
"Maksudmu si gadis kucing itu?"
"Benar. gadis itu baru saja mengatakan kalau dia ingin memeluk Islam."
"Benarkah? Alhamdulillah, itu berita bagus. Tidak sia-sia kau membawanya kemari."
"Jadi, siapa yang akan menuntunnya mengucapkan syahadat?"
Perakitan perangkat itu hampir selesai dan kapten Fajar pun mulai membuka kontroler perangkat komunikasi satelit (Satcom) untuk melakukan pengaturan.
"Tentu saja kau letnan, kau yang sekarang menjadi walinya bukan?"
"Wali?"
"Benar, kau belum membebaskannya dari status budak kan?"
"Memang, saya belum membebaskannya, tapi saya berencana melakukannya ketika kita kembali ke markas besar."
Kapten Fajar terlihat selesai melakukan konfigurasi dan ketiga orang lainnya juga sudah selesai memasang semua bagian dari perangkat Satcom yang tersisa. Perangkat itu berbentuk parabola dan karena ukurannya cukup besar, kemungkinan orang-orang dari luar akan dapat melihatnya, sehingga mereka masih perlu memasang penutup ke sekeliling balkon dengan kain atau semacamnya. Kapten Fajar pun menguji koneksi ke markas dengan membuat panggilan ke markas pusat. Sebuah headset dengan kabel yang terhubung ke kontroler pun juga sudah dipakainya.
"Letnan, aku memiliki saran untukmu. Gadis itu tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini dan saat ini kau lah satu-satunya orang yang terdekat baginya. Sebaiknya, jangan bebaskan dia dulu dan biarkan dia ikut bersamamu sampai dia bisa hidup mandiri suatu hari nanti. Kau sudah membelinya dan kau harus bertanggung jawab untuk itu."
"Tapi kapten, bukannya perbudakan itu ilegal?"
"Memang benar di dunia asal kita itu ilegal, tidak ada lagi orang yang mau diperbudak di dunia kita dan kita sendiri juga sudah tidak membutuhkan budak manusia mengingat keberadaan budak mekanik sudah menggantikannya. Selain itu, perbudakan juga bertentangan dengan hak asasi manusia, setiap manusia seharusnya bebas untuk menjalani hidupnya dengan pilihannya sendiri. Tapi ini bukanlah dunia tempat asal kita. Perbudakan merupakan hal yang lumrah di sini. Bukan hanya orang-orang memerlukan budak, tapi bahkan sebagian budak pun juga memerlukan majikan mereka agar tetap bisa hidup."
"Tapi kapten, gadis itu tidak bisa menjadi budakku terus selama sisa hidupnya bukan? Lagipula suatu hari nanti aku juga harus pulang kampung, apa yang harus aku katakan ke keluargaku?"
"Benteng Andalusia, disini unit Hittin 1, apa kalian bisa mendengarku?"
Kapten mencoba panggilan ke markas, tapi belum mendapat jawaban dan hanya mendengar suara statik.
"Yah, itu memang cukup sulit. Kalau begitu nikahi saja dia."
"HAH? Kapten … tolong jangan mengatakan tentang pernikahan semudah itu."
"Oh iya, karena dia adalah budakmu, kau bisa menikahinya secara 'tasarry' dan menjadikannya 'Ummu Walad'-mu."
"KAPTEN!"
"Tentu saja jika orang lain bertanya, kau tidak harus menjawab kalau dia adalah budakmu, kau cukup jawab saja kalau dia adalah istrimu."
Percakapan keduanya terhenti ketika suara statik dari Satcom tiba-tiba berubah dan dari Satcom terdengar suara yang cukup jelas.
"[bzzz] di sini Benteng Andalusia, kami bisa mendengar suara kalian dengan jelas."
Perangkat Sat-Com itu tiba-tiba terhubung, membuat kapten Fajar langsung berfokus ke perangkat itu.
"Alhamdulillah, Disini Hittin 1, kami meminta izin untuk mendapat akses sambungan ke jaringan internet. Selain itu kami akan memberikan laporan pertama kami terkait hasil pemantauan selama 5 hari dan memberikan sambungan tayangan langsung dari drone kami."
"[bzzz] Diterima Hittin 1, silahkan berikan laporan kalian."
Dan begitulah, pembicaraan keduanya terhenti dan kapten Fajar pun berfokus membuat laporan hariannya ke markas pusat. Pikiran Imran menjadi dilema karena mendapat pilihan yang sulit. Kapten benar bahwa dirinya tidak dapat membebaskan Lily dan membiarkannya begitu saja dengan nasibnya sendiri. Lily adalah seorang sebatang kara di usianya yang cukup muda.
Selain itu dia adalah seorang beastmen. Berdasarkan cerita darinya, manusia di dunia ini membenci beastmen, itu artinya bahkan bila Lily harus hidup sendiri, minimal pasti akan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya. Mungkin pilihan terakhir jika Lily dimerdekakan nanti, dia harus hidup di salah satu fasilitas penampungan orang terlantar dan itu pun bukan tempat terbaik untuknya menghabiskan waktu hidupnya.
"Apa benar-benar tidak ada pilihan lain?" Gumam Imran di tengah dilemanya.
###
16 Juni 2029
"Master, semua isi dari kitab suci anda sungguh indah dan menakjubkan. saya belum pernah membaca yang seperti ini sebelumnya."
"Kau sudah membaca semuanya Lily?" Tanya Imran sedikit terkejut yang dijawab dengan anggukan oleh Lily. Pasalnya Lily tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca keseluruhan isi Al Qur'an.
"Iya, saya sudah membaca keseluruhan isinya. Hanya saja, ada beberapa yang ingin saya tanyakan karena saya belum paham."
Seperti biasa, Imran akan mendatangi Lily di waktu senggangnya, lebih tepatnya kali ini Imran mendatangi kamar Lily setelah sholat isya' berjamaah dengan rekan setimnya. Kali ini Imran berniat untuk menanyakan kesiapan Lily sekali lagi untuk kesediaannya menjadi seorang muslim. Lily pun yang memang tidak memiliki hal lain yang dapat dikerjakan, akhirnya menggunakan seluruh waktunya selama sehari untuk membaca terjemahan seluruh isi Al-Qur'an yang ada di ponsel Imran.
"Tanyakan saja, Lily."
"Kalau seluruh manusia adalah keturunan Adam, apakah saya juga termasuk keturunannya juga?"
"Entahlah, kami sendiri juga masih mencari jawabannya. Dunia kita terhubung oleh sebuah terowongan yang terkubur selama puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu tahun. Bisa jadi dulu ada sekelompok manusia yang menyeberang ke dunia ini dan menyebarkan keturunan manusia di dunia ini."
"Kalau begitu, apakah saya juga termasuk manusia?"
"Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberikan akal oleh Allah. Karena itu jika kau bisa berpikir dan berlaku layaknya manusia, maka seharusnya kau juga tergolong sebagai manusia Lily, sama seperti kami. Hanya saja mungkin kau sedikit berbeda dan istimewa dibanding manusia pada umumnya."
Lily tersenyum mendengar jawaban Imran karena jawaban Imran membuatnya puas, apalagi ketika menyebutnya "istimewa". Islam tidak memandang dan membedakan ras, entah itu hitam atau putih, tinggi atau pendek, bahkan manusia biasa atau pun beastmen sepertinya. Satu-satunya pembeda antara manusia satu dengan yang lainnya hanyalah ketakwaan dan ketaatannya di dalam Islam.
Tanpa sadar telinga kucingnya bergerak, membuat Imran gemas. Di dalam hatinya Imran sebenarnya ingin sekali memegang dan bermain dengan telinga kucing itu. Lily kembali mengajukan beberapa pertanyaan lain yang lebih ringan, mulai tentang nabi-nabi lain, sampai dengan beberapa fenomena alam dan perintah yang disebutkan di dalam Al-Qur'an. Barulah setelah pertanyaan itu terjawab semua, Lily pun menyatakan kesiapannya.
"Master, saya sudah siap. Saya bersedia dan siap menjadi seorang muslim."
"Baiklah, kalau begitu ikuti perkataanku."
Imran pun akhirnya menuntun Lily membaca 2 kalimat syahadat yang kemudian diikuti oleh Lily sebisa mungkin mengingat Lily sendiri masih belum begitu lancar dengan bahasa Arabnya. Setelah selesai, Imran pun mengucapkan hamdalah dan membacakan beberapa doa. Wajah Lily tampak lega setelah pengucapan kalimat syahadat, seolah beban di pundaknya telah terangkat.
Tatapan Imran sempat terarah ke leher dan pergelangan tangan Lily yang masih terdapat strap gelang budak dan rantai yang sangat pendek karena dipotong di hari pertama Lily datang. Mungkin karena Lily lebih sering berada di balik selimut, Imran jarang memperhatikannya. Namun sekarang Imran pun juga memiliki keinginan untuk melepas kalung dan gelang strap itu. Pasti tidak nyaman kan menggunakan benda itu sepanjang hari?
"Alhamdulillah, kau sudah menjadi seorang muslimah sekarang. Mulai sekarang kau harus berusaha untuk mengikuti semua perintah dan menjauhi semua larangan yang ada di dalam Islam."
"Baik master, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya."
"Lily, aku akan kembali setelah mengambil sesuatu."
"Baik, master."
Melangkah keluar, di dalam pikiran Imran banyak sekali yang ingin dirinya lakukan untuk Lily, hanya saja apa yang dia lakukan sekarang sangat terbatas. Selain itu, Imran juga harus fokus dengan misinya juga sampai misinya tuntas selama dua bulan ke depan. Di luar kamar, Imran menemui kapten terlebih dahulu di dalam ruang kontrol drone yang sekarang sekaligus menjadi pusat komando mereka.
"Kapten, maaf kalau saya menanyakan ini secara tiba-tiba, saya ada permintaan untuk anda." Sebenarnya Imran sangat tidak enak untuk meminta ini ke kapten Fajar mengingat dirinya sudah banyak merepotkan tim selama seminggu ini.
"Apa itu, letnan?"
"Saya ingin mengajukan evakuasi untuk 1 warga sipil kapten."
Entah kenapa kapten Fajar tidak terlihat terkejut dengan permintaan Imran sama sekali.
"Apa urgensinya, letnan?"
"Kaki gadis itu lumpuh dan membutuhkan operasi untuk dapat menyembuhkannya kapten. Saya mohon agar anda dapat mengirimkan permintaan evakuasi ke markas pusat."
Seluruh anggota lain yang ada di ruangan itu terdiam mendengar permintaan Imran yang tiba-tiba. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Imran memang sudah melibatkan perasaannya di misi mereka dan hal ini dapat mengganggu kelancaran misi mereka.
"Letnan, kau tahu kan berapa jarak tempat ini ke markas pusat? Selain itu, kita berada jauh di dalam wilayah musuh. Seharusnya kau paham kalau evakuasi saat ini tidak memungkinkan."
"Saya paham sepenuhnya kapten, tetapi meski begitu saya tetap ingin agar anda mengirimkan permintaan itu."
Tanpa berkata apa-apa, kapten Fajar pun menghampiri perangkat Satcom yang terhubung ke perangkat satelit di atas dan mengambil sebuah headset yang terhubung ke perangkat itu. Kapten pun menyalakan perangkat itu dan menyambungkannya ke markas pusat.
"[bzzz] Di sini Amir 1, ada apa Hittin 1?"
"Di sini Hittin 1, kami memiliki 1 warga sipil yang terluka dan membutuhkan evakuasi agar dapat dilakukan operasi pada lukanya. Kami ingin meminta pengiriman helikopter untuk mengevakuasi warga sipil tersebut."
"[bzzz] Hittin 1, apakah luka itu membahayakan nyawanya?"
Kapten Fajar memandang Imran yang sedikit tertunduk. Tentu saja mereka tidak dapat berbohong ke markas pusat.
"Tidak, untuk sementara kami sudah mengobati lukanya, hanya saja selama belum dioperasi dia akan menderita kelumpuhan di sebagian anggota tubuhnya."
Mereka menunggu beberapa saat mengingat tidak langsung ada jawaban dari balik Satcom. Mungkin operator radio itu masih menyampaikan permintaannya ke yang berwenang.
"[bzzz] Hittin 1, pengiriman helikopter akan sangat beresiko dan tidak memungkinkan untuk saat ini. Kalian harus merawat sendiri warga sipil itu selama 2 bulan sebelum pasukan utama kita bisa sampai ke sana."
Imran pun menghela nafas panjang dengan sedikit kecewa.
"Baiklah Amir 1, kami akan mengusahakannya sebisa kami."
Kapten Fajar pun hendak menutup perangkat komunikasinya, namun belum sempat ditutup, perangkat itu berbunyi lagi.
"[bzzz] Hittin 1, ada sedikit kabar baik untuk kalian. Kami akan mengirim tambahan peralatan penunjang medis bersama dengan pengiriman logistik besok untuk menunjang perawatan warga sipil tersebut. Semoga peralatan itu dapat membantu kalian merawat warga sipil tersebut. Amir 1 selesai."
Perangkat pun dimatikan. Imran sedikit lega mendengar kalimat terakhir itu.
"Terima kasih kapten, saya berhutang banyak kepada Anda."
"Tidak apa-apa letnan, itulah gunanya tim. Pastikan saja kau juga menjalankan tugasmu dengan baik letnan."
"Siap, kalau begitu saya permisi dulu kapten."
Imran pun berbalik dan keluar dari ruang kontrol. Tidak langsung kembali ke kamar Lily, pandangannya mencari tumpukan peralatan di salah satu sudut ruangan. Dari tumpukan itu, Imran mengambil sebuah tang potong besar yang biasanya digunakan untuk memotong besi dan semacamnya. Langkahnya kembali ke ruangan Lily. Melihat Imran kembali, Lily bingung dengan alat yang dibawa oleh Imran untuk apa alat itu akan digunakan.
"Master, apa yang akan anda lakukan? Untuk apa alat itu."
"Lily, julurkan tanganmu. Kamu pasti tidak nyaman dengan belenggu itu kan? Aku akan memotongnya untukmu."
Imran sedikit mengangkat tang potong itu dan hendak mengarahkannya ke pergelangan tangan Lily. Bukannya menuruti Imran, Lily malah menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya sambil menggelengkan kepalanya.
"JANGAN!"
"Kenapa Lily? Benda itu pasti sangat tidak nyaman kan? Selain itu benda itu juga yang merenggut kebebasanmu dan meninggalkan kenangan buruk untukmu." Imran terlihat sangat bingung dengan reaksi Lily. Pasalnya bukannya menurut, Lily malah menolak dengan keras apa yang baru saja dimintanya. Reaksi ini bahkan belum pernah Imran dapatkan semenjak dirinya bertemu dengan Lily.
"Memang benar, belenggu ini yang merenggut kebebasan saya, mengingatkan saya kematian keluarga saya, dan merenggut kemampuan saya untuk berjalan. Tetapi, belenggu ini juga lah yang membawa saya untuk bertemu dengan master dan mengenal Islam. Belenggu ini adalah tanda dan juga pengingat bahwa saya adalah milik master sehingga saya sudah tidak sendirian lagi. Karena itu master, tolong jangan potong belenggu ini."
Kebanyakan wanita lain pasti akan meminta sebuah cincin, kalung, atau perhiasan lainnya untuk mengingatkan dirinya sebagai ikatannya dengan seseorang. Namun, gadis kucing ini yang bernama Lily, justru meminta belenggu budak sebagai tanda ikatannya dengan seseorang. Gadis kucing ini malah meminta benda terakhir yang seharusnya diinginkan oleh setiap manusia di dunia manapun. Imran pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tang yang tadinya dia pegang terjatuh. Langkah kakinya berjalan ke arah tempat tidur Lily dengan langkah lemas. Imran pun duduk di pinggiran tempat tidur dengan pandangan terarah ke bawah.
"Master… apa bagi anda saya sama sekali tidak menarik? Saya selalu kepikiran semenjak master membeli saya, master sama sekali tidak pernah menyentuh saya."
"Maaf Lily, aku hanya ingin menjagamu dan tidak ingin merusakmu."
"Tapi, bagaimana kalau itu bukanlah apa yang saya inginkan?"
Suara Lily mulai tercampur dengan isakan tangis. Imran dapat melihat dengan jelas matanya yang mulai berair.
"Kalau begitu… Apa yang kamu inginkan?"
Lily tidak memberikan jawaban apa-apa. Apa yang selanjutnya dilakukan oleh Lily sudah memberikan jawaban yang lebih jelas daripada kata-kata. Tangan Lily bergerak memeluk leher Imran dan menarik Imran ke arah dirinya. Dalam sekejap, bibir keduanya bersentuhan. Lily melakukannya sambil menutup matanya seolah menikmati apa yang baru saja diperbuatnya.
Di sisi lain mata Imran terbuka lebar karena keterkejutannya. Lily yang dulunya terkesan submisif, pendiam, dan penurut, sekarang tiba-tiba menjadi lebih berani dan agresif. Mereka berdua berada dalam posisi berciuman selama beberapa detik sebelum akhirnya Lily melepaskan rengkuhan tangannya di leher Imran.
"Lily… apa yang baru saja kau lakukan? Kau tau kan kita bukan pasangan menikah."
Pernyataan Imran ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Lily.
"Master tidak dapat mengelabui saya, karena saya sudah tahu jika hubungan antara budak dan tuannya itu bukanlah hal yang dilarang."
Imran kembali terkejut, bahkan Lily sudah mengetahui sejauh itu hanya dengan membaca terjemahan Al-Qur'an yang pernah dipinjamkannya. Imran pun juga tersadar, kemungkinan penolakan Lily dalam melepas belenggunya adalah karena hal ini, karena memang Lily ingin tetap terikat dengan dirinya bahkan secara simbolis sekalipun. Ingatannya tiba-tiba tertuju ke perkataan kapten Fajar.
Oh iya, karena dia adalah budakmu, kau bisa menikahinya secara 'tasarry' dan menjadikannya 'Ummu Walad'-mu.
Entah kenapa di saat seperti ini Imran malah teringat dengan perkataan kapten Fajar. Padahal sebelumnya dia jelas-jelas menentang usulan itu. Imran sudah benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
"Lily, apa kau mau mengandung anak-anakku dan menghabiskan seluruh sisa waktu hidupmu bersamaku?"
Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Imran, seolah dirinya sudah tidak peduli lagi dengan perdebatan batinnya. Imran sudah tidak peduli lagi dan ingin mengikuti kata hatinya selama itu tidak bertentangan dengan aturan Islam. Lily yang mendengar dengan jelas perkataan itu sempat terkejut. Kedua tangannya bergerak menutup mulutnya. Namun, dengan mata yang berkaca-kaca dan bahkan mulai mengeluarkan air mata, Lily pun menjawabnya sambil tersenyum.
"Saya bersedia, master."
"Aku akan memberimu peringatan Lily, setelah kita melakukannya, itu berarti kau tidak akan pernah aku lepaskan sampai maut memisahkan kita, meski begitu apa kau masih tidak keberatan?"
"Saya sama sekali tidak keberatan, master."
###
AN:
Alhamdulillah, akhirnya bisa upload satu chapter lagi yang menceritakan tentang Lily dan Imran. Bagian ini memang agak lama penulisannya mengingat dalam menulis bagian ini, aku harus mencari banyak artikel dan literatur yang menjelaskan tentang perbudakan dan pengaturannya di dalam Islam. Karena memang hal semacam ini sudah tidak legal lagi, artikel yang membahas masalah ini secara detail cukup sulit ditemukan. (meskipun di luar sana masih banyak terjadi kasus human trafficking yang praktiknya tidak jauh berbeda dengan perbudakan).
Kalau mungkin ada yang masih kurang jelas tentang akhir dari bagian ini, yah intinya Imran dan Lily menikah secara "tasarry". Pada dasarnya hampir sama dengan pernikahan biasa, hanya saja tasarry ini terjadi ketika seorang pria menikahi budak perempuan yang dimilikinya tanpa melalui akad resmi. Kata "Tasarry" sendiri lumayan jarang disebutkan, karena di artikel yang membahas hal ini lebih sering menyebutkan kata "Ummu Walad" yang mana biasanya Ummu Walad ini merupakan status hasil dari pernikahan secara Tasarry tersebut.
Yah, semoga chapter ini cukup memuaskan. Bagaimana pendapat para pembaca sekalian bisa ditulis di komen. Seperti biasa, jika ada kesalahan di dalam tulisan saya, entah itu berkaitan dengan syariat atau etika dalam penulisan saya mohon diingatkan atau di diskusikan, entah itu lewat komentar atau DM ke akun saya agar bisa segera saya perbaiki.
