Disclaimer:
Bleach: Tite Kubo
Hyperdimension Neptunia: Idea Factory
.
.
.
Pairing: MaleInoue x FemChigo
Genre: fantasy, family, humor, adventure, action, scifi, romance
Rating: M (berubah ratingnya karena ada adegan yang mengandung kekerasan, gore, dan sebagainya)
Setting: dunia Gamindustri
.
.
.
Goddess Shinigami
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Fic request for Special Pairing 15
.
.
.
Chapter 26. Bertubi-tubi
.
.
.
Entah apa yang terjadi. Monster yang menyerupai kalajengking tidak tumbang juga, ketika melawan Ichigo. Dia menatap sangar Ichigo yang telah bangkit. Ichigo sempat jatuh karena diseruduk oleh ekor monster.
"Ichigo!" seru Inoue dan semua Goddess membulatkan mata saat melihat Ichigo tersungkur tadi. Mereka masih terkapar lemah di tempat masing-masing.
"Ichigo-nee, dia terdesak," kata Nepgear berusaha bangkit, tetapi merasakan badannya tidak bisa bergerak karena terluka parah, "apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita harus menolong Ichigo-nee dan Rukia-chan."
Neptune menggeram kesal. "Sial, aku malah tidak bisa berubah."
Noire juga menoleh ke arah Renji yang cukup berdekatan dengannya. "Ren-nee, tolong mereka!"
Renji bertampang kusut. "Ta ... tapi aku..."
"Tidak ada waktu lagi! Kaulah harapan kami satu-satunya, Ren-nee!" teriak Uni di belakang Renji.
Renji tersentak, menengok ke arah Uni. Semua orang menatapnya, penuh pengharapan untuk bisa membantu Ichigo dan Rukia.
Renji menghela napas, lalu mengangguk. "Apa boleh buat. Baiklah."
Renji perlahan berdiri dengan tubuh yang dialiri reiratsu merah. Reiratsu itu mengubah dirinya menjadi sosok lain. Semua mata membulat sempurna karena penampilan Renji sebagai Goddess.
Renji bermata biru dengan rambut putih terurai panjang. Pakaian shinigami serba hitam putih dan hotpants hitam kemerahan, membalut tubuh tingginya. Sepatu tinggi hitam dengan nuansa merah kelap-kelip membungkus tubuhnya. Juga ada tato yang tercetak di kepala dan tubuhnya.
"Wah, Ren-nee semakin cantik setelah berubah!" seru Uni tersenyum dengan mata berbinar-binar.
"Aku tidak cantik, tahu!" protes Renji mendelik Uni. Mukanya memerah padam karena marah.
"Memang cantik," timpal Noire tersenyum.
"Hm, itu berarti Goddess Shinigami bertambah menjadi tiga orang, ya?" tanya Vert mengangguk berulang kali.
"A ... aku pergi dulu!" teriak Renji langsung terbang tanpa menggunakan sayap. Dia tidak bisa menerima dirinya yang telah berubah gender ini.
"Aaah!" teriakan Ichigo melengking saat terbang melesat menuju sang monster. Melancarkan shunpo dengan berbagai tebasan pedang di setiap tubuh monster. Namun, usahanya yang sangat keras, tetap tidak mampu melukai monster, seolah tubuh monster sangat kuat bagai besi.
Tentu waktu penggunaan topeng hollow yang melekat di wajah Ichigo, ada batasnya. Setelah enam menit berlalu, topeng itu sirna dari wajah Ichigo sehingga pertahanan dan kecepatan luar biasa dirinya perlahan menurun.
"Gawat!" seru Ichigo membelalakkan mata. Melayang rendah di depan muka monster. Kemudian monster berputar seraya mengayunkan ekornya ke arah Ichigo.
Ichigo terhantam ekor yang sangat kuat. Mementalkan dirinya ke arah yang sangat jauh. Bahkan Zangetsu kembali terlepas dari tangannya.
"Aaah!" jerit Ichigo terlempar dalam deru angin yang kencang. Tapi, tiba-tiba, dirinya ditangkap oleh dua orang yang berada di belakangnya.
Dua gadis melayang rendah sambil memegang kedua tangan Ichigo agar tidak jatuh. Mereka menghela napas karena bisa menolong Ichigo tepat waktu.
"Kau tidak apa-apa, Ichigo?" tanya gadis berambut putih dengan tubuh yang bertato, tersenyum.
Ichigo terperangah, menjeling gadis bertato itu. "Ja ... jangan-jangan ... kau?"
"Ini aku, Renji, Ichigo. Kau terlihat babak belur dihajar monster itu."
"Bukan apa-apa. Aku juga tidak perlu bicara seperti itu padamu."
"Kau ini tidak pernah berubah sampai sekarang, ya?"
"Kau sama saja. Buktinya kau masih menunjukkan jiwa lelakimu itu, sampai kau itu ditampar adik-adikmu. Rasanya membuatku tertawa."
Kekesalan perlahan memuncak di kepala Renji. Wajahnya seolah memerah. Ingin rasanya memukul Ichigo sekarang juga.
"Wajar kalau aku laki-laki! Jadi mau bagaimana lagi?" protes Renji melototi Renji.
"Ubahlah sikapmu, Renji. Apa kau tidak ingin orang mencurigaimu karena bersikap seperti laki-laki?" sahut Ichigo tersenyum meremehkan.
Ichigo melepaskan diri dari jeratan Renji dan Rukia. Memperhatikan Renji saksama. Penampilannya hampir mirip dengan mode Goddess yang dimiliki Noire dan Uni, cuma yang membedakannya adalah dari pakaian.
"Ada apa denganmu? Ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Renji bermuka sewot.
"Penampilan seperti itu cocok untukmu," jawab Ichigo tersenyum.
Renji bermuka kesal. Alisnya naik. Kemudian dia mencengkeram kerah baju Ichigo.
"Dasar, kau ingin duel, ya?" teriak Renji. Suaranya cukup keras sehingga mengganggu pendengaran Rukia."
"Bukan saatnya untuk berkelahi! Dasar, kalian payah!" bentak Rukia, langsung menendang Ichigo dan Renji sekuat tenaga.
Ichigo dan Renji terlempar ke tanah, tersungkur di atas reruntuhan bangunan. Efek jatuh dari mereka, seolah menimbulkan gempa bumi.
"Iya, Rukia," kata Ichigo dan Renji kompak, merintih kesakitan pada punggung masing-masing. Kemudian mereka saling menatap, menyorotkan kekesalan.
Rukia menatap Ichigo dan Renji bergiliran. Diam. Otaknya berputar untuk menyelesaikan pertarungan ini.
Percuma saja jika aku menggunakan seluruh kemampuanku. Sepertinya monster ini memiliki kulit yang dialiri Quincy.
Rukia bermonolog. Berhenti terbang, memilih mengambang di udara. Mengamati monster yang sedang kebingungan, mencari lawan yang berjarak sangat jauh darinya.
"Oh ya, bagaimana keadaan teman-teman? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Ichigo sedikit melebarkan mata.
"Tidak usah cemas. Mereka baik-baik saja," jawab Renji menunjuk monster yang kini memyadari keberadaan dirinya dan teman-temannya.
"Sialan! Bagaimana kita bisa dikalahkan oleh makhluk brengsek itu?"
"Bagaimana kalau kita cari kelemahan monster itu?" tanya Rukia memandang Ichigo dan Renji bergiliran.
"Kedengarannya tidak buruk." Renji menyeringai. "Baiklah, kalau begitu, aku ikut bersenang-senang, Howl Zabimaru!"
Renji menggapai pedangnya yang menyerupai sabit. Pedang itu muncul tiba-tiba, entah darimana. Kemudian Renji terbang mendekati Rukia. Sementara Ichigo menghentakkan kakinya ke tanah, mendadak Zangetsu kembali ke tangan kanannya.
"Kali ini, aku tidak akan kalah lagi dari monster itu," ucap Ichigo menyipitkan mata, melayang ke sisi kanan Rukia.
"Aku juga," balas Rukia menukikkan alis.
"Kita maju bersama, ya?" tanya Renji tersenyum, memanggul pedang di bahu kanannya.
"Ya. Kalian mengalihkan perhatian monster itu, lalu biar aku yang akan menyerang bagian dada kirinya dengan kido spell-ku."
"Oh, ide yang sangat bagus." Ichigo tersenyum.
"Ayo, kita lakukan sekarang, Ichigo!"
"Ayo, Ren-chan!"
Ichigo maju duluan, meninggalkan Renji yang bertampang sewot karena belum bisa menerima dirinya dipanggil 'Ren-chan'. Kemudian Renji menyusul Ichigo, berusaha melupakan kemarahannya itu sejenak.
"Getsuga Tenshou!" seru Ichigo menembakkan pilar biru ke arah monster. Tapi, serangannya itu meledak saat bertabrakan dengan semburan asam panas yang dilontarkan sang monster.
"Bankai!" teriak Renji, melewati asap yang ditimbulkan dari ledakan pembenturan serangan Ichigo dan monster, "Hihio Zabimaru!"
Bankai yang digunakan Renji mampu mengubah Zabimaru menjadi versi besar dari bentuk Shikai-nya, menyerupai kerangka ular -- Zabimaru mendapatkan lebih banyak lagi segmen yang jauh lebih besar, menyerupai campuran antara kolom tulang belakang ular dan tonjolan seperti pick dari segmen Shikai-nya. Kepalanya juga menyerupai ular seukuran mobil kecil.
Penampilan Renji juga sedikit berubah. Ada kerudungnya seperti bulu kera, dan tengkorak kera dapat dilihat di atas bahu kirinya. Sisa bulunya menutupi lengan kanannya.
"Hikokatsu Taiho!" Renji meneriakkan jurus bankai-nya.
Renji dapat memisahkan bagian bankai-nya dan menggunakannya untuk mengelilingi lawannya. Dengan menghubungkan kembali segmen-segmen itu dengan reiratsu-nya.
Reiratsu merah menyerupai ular mengelilingi monster kalajengking. Berhasil membelit monster sekuat mungkin. Hal itu membuat Renji tersenyum.
"Rukia, sekarang!" pekik Renji menoleh ke arah Rukia.
"Ya," balas Rukia terbang mendekati sang monster, "Hado 31 Shakkado!"
Rukia memperagakan kido spell melalui tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menggenggam pedangnya. Dari ujung telunjuknya, muncul bola cahaya merah menyerupai matahari. Kemudian bola itu menembak lurus bagai laser menuju monster. Mengincar dada kiri monster.
"Getsuga Tenshou!" Ichigo masuk lagi ke mode bankai, menembakkan kekuatan Getsuga Tenshou terkuatnya. Cahaya pilar hitam-keunguan yang bersatu dengan kekuatan Rukia, berhasil menembus dada kiri sang monster hingga berlubang besar.
Hening. Monster diam bergeming. Matanya melotot. Tiba-tiba, tubuhnya pecah berkeping-keping seperti retakan kaca. Menghilang tanpa tersisa.
"Kita berhasil!" seru Ichigo mengudara kedua tangannya.
"Kalau kita bekerja sama, pasti kita menang," balas Rukia tersenyum.
"Benar juga. Tapi, mengapa monster itu sulit ditaklukkan, padahal kalian sudah mencurahkan semua kekuatan kalian, 'kan?" tanya Renji mengerutkan kening.
"Mungkin ada seseorang yang membangkitkan monster itu dengan Quincy." Rukia menyipitkan mata.
"Hah? Quincy?" Ichigo dan Renji membulatkan mata.
Rukia mengangguk. Ekspresinya sangat serius. Memandang wilayah Planeptune yang sudah nyaris hancur.
"Itu benar. Croire yang telah membuat kekacauan di sini." Muncul dua gadis kecil yang duduk di atas buku, dari portal dimensi berbentuk tabung. Melayang dari langit, menghampiri Ichigo dan teman-teman.
"Hah? Mengapa Histoire ada dua?" tanya Renji tercengang.
"Aku Histoire yang menjaga Planeptune di dunia ini," jawab Histoire tersenyum. Sementara Histoire dari dunia inti, mengangguk.
"Jadi, Croire yang membuat kekacauan di sini?" Ichigo menggeram kesal karena mendengar nama Croire.
"Histoire dari dunia ini, tiba-tiba datang padaku dan memberitahuku bahwa ada pemberontakan yang menguasai dunianya." Histoire dunia inti, bertampang serius.
"Pemberontakan apa?" tanya Ichigo dan Renji bersamaan. Mata mereka membesar.
Histoire dunia paralel diam sejenak. Melirik Histoire dunia inti untuk meminta pendapat. Apakah dia harus mengungkapkan semua yang terjadi secara jujur? Histoire dunia inti mengerti maksud dari arti tatapannya, lalu mengangguk pelan.
"Sebenarnya ... Rei dan Arfoire ingin memusnahkan keberadaan goddess di dunia ini. Karena itu, mereka menyerang Planeptune dengan mengirim monster," jawab Histoire dunia paralel, turut bertampang serius.
"Apa kau bilang? Arfoire masih hidup? Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Ichigo membelalakkan mata.
"Sepertinya kau tahu orang itu, Ichigo," sahut Rukia melirik Ichigo.
"Dia hampir mencelakakan adikku, dengan mencuci otak Noire, Blanc, dan Vert beserta adik-adik mereka. Aku bersumpah, akan menghabisinya dengan Getsuga Tenshou-ku ini." Ichigo menjeling Rukia.
"Sepertinya kau akan menghadapi banyak rintangan, Ichigo."
Renji hanya diam, memperhatikan Ichigo. Merasakan apa yang dirasakan Ichigo.
"Maaf, mungkin ini akan panjang ceritanya jika aku menjelaskannya, tentu akan memakan waktu banyak, yang lebih penting lagi, aku membutuhkan bantuan kalian bertiga, Goddess Shinigami untuk menghentikan rencana Croire," ungkap Histoire dunia paralel, bertampang kusut.
"Tentu saja. Siapa pikir aku membiarkan orang-orang seenaknya menghancurkan dunia ini," kata Ichigo tersenyum, mendapatkan anggukan dari Rukia dan Renji.
"Aku tahu itu, Ichigo-san. Kalian juga harus menghentikan Croire sebelum terlambat."
"Tapi, sebelum itu yang kita lakukan, bagaimana dengan kami?" tanya Vert berjalan tertatih-tatih mendekati Ichigo dan rekan-rekan. Keadaannya mulai membaik setelah disembuhkan oleh Inoue, "kami para Goddess tidak bisa berubah di dunia ini."
"Masalah itu, kalian bukanlah penduduk di dunia ini. Karena saham kalian tidak ada di sini, sehingga gelang HDD yang kalian miliki, tidak aktif," jelas Histoire dunia inti, tersenyum.
"Pantas. Kami tidak bisa berubah menjadi Goddess di sini."
"Baiklah. Urusanku di sini sudah selesai. Kalian harus tetap tinggal di sini sampai menuntaskan masalah itu. Aku harus pergi untuk menjaga Planeptune." Histoire dunia inti langsung masuk ke portal yang dibentuknya.
"Hei, Histoire! Tunggu dulu!" teriak Renji kelabakan.
Inoue yang sudah kehilangan sebagian tenaga, berusaha menyembuhkan rekan-rekannya satu persatu. Wajah rupawannya tampak letih. Sorot matanya juga sayu. Terakhir, dia menyembuhkan Plutia.
Plutia sudah kembali menjadi manusia, merasa lebih bugar setelah disembuhkan oleh Inoue. Dia duduk, menatap muka semua orang yang mengelilinginya.
"Ternyata dia masih bocah, ya?" tanya Renji bersedekap dada, berdiri diapit Noire dan Uni. Bertampang kecewa.
"Dia memang masih bocah, Ren-nee," jawab Noire bermuka datar.
"Sepertinya Ren-nee masih memikirkan soal wujud Plutia sebagai Iris Heart itu," celetuk Uni langsung menarik kerah baju Renji, "sadar! Sadar! Kau itu perempuan sekarang! Aku tidak mau kau menyukai sesama jenis! Itu menggelikan!"
"Tentu aku tidak akan menyukai sesama jenis!"
"Aku tidak percaya itu!"
"Percayalah padaku!"
"Tidak!"
"Percayalah!"
Renji dan Uni bertengkar. Noire hanya menghela napas. Plutia dan semua orang yang menyaksikan mereka, malah tertawa.
"Plutie, kau baik-baik saja sekarang, 'kan?" tanya Neptune berlutut di depan Plutia.
"Ya, Neppy," jawab Plutia mengangguk, tersenyum.
"Aaah, syukurlah."
"Oh ya, setelah ini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Nepgear sedikit membesarkan mata.
"Sebaiknya kalian beristirahat dulu di tempatku. Kebetulan tempat tinggalku tidak hancur saat terjadi penyerangan tadi karena dilindungi Histoire." Plutia tersenyum.
"Berarti Plutia ini Goddess penjaga Planeptune ini?" tanya Renji penasaran, matanya sedikit membesar.
"Ya. Dia itu versi Neptune yang lain," jawab Nepgear mengangguk.
"Membingungkan." Renji mengerutkan kening.
"Intinya, dunia ini adalah cerminan dari dunia asli atau dunia inti. Dunia itu disebut paralel. Tiada batasnya. Bisa saja kehidupan di dunia paralel itu sama dengan dunia inti, tetapi ada juga kehidupan yang berbeda," terang Histoire. Wajahnya serius.
Semua orang mendengarkan Histoire dunia paralel dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang mengerti dan ada yang tidak mengerti. Tapi, apakah kau juga mengerti dengan keadaan mereka sekarang?
"Mungkin saja di dunia paralel lain, aku yang lain juga berbeda. Entah itu watak, penampilan, dan kehidupan. Tentu Arfoire yang kalian kira itu hidup, adalah Arfoire yang hidup di dunia inti, tetapi dia adalah Arfoire versi lain di dunia ini," sambung Histoire menyipitkan mata, "Arfoire dan Rei adalah ancaman terbesar bagi dunia ini. Mungkin saja saat ini, wilayah Goddess lainnya juga diserang oleh monster-monster suruhan mereka."
"Itu gawat! Aku tidak mau versi diriku musnah dari dunia ini!" seru Vert panik.
"Tapi, versi diri kalian, Noire, Vert, dan Blanc, rasanya belum diangkat menjadi Goddess."
"Hah?" Semua orang ternganga kecuali Histoire.
Histoire mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakannya. Mengetahui keadaan tiga daratan lainnya sekarang.
Lastation, Leanbox, dan Lowee juga diserang oleh para monster. Penjaga setiap tempat itu yang menghadapi monster-monster karena belum ada Goddess yang melindungi.
"Mengapa dunia damai ini, tiba-tiba diserang seperti ini?"
"Hei, tolong serang monster itu!"
"Tunggu!"
"Rasakan ini!"
Semua tentara dari tiga daratan kecuali Planeptune, bekerja sama untuk menghabisi monster yang sama -- monster kalajengking yang dihadapi Ichigo dan rekan-rekannya tadi. Tentunya, sulit untuk menaklukkan monster-monster itu.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Halo, apa kabar semua? Saya hadir kembali di chapter 26.
Maaf, saya udah lama nggak nulis karena ada proyek besar yang lagi saya kerjakan. Jadi, menyita waktu yang nggak memungkinkan saya untuk menulis. Tapi, saya yang juga seorang penulis lepas, tentu akan menyelesaikan tanggung jawab saya ini.
Nantikan saja kelanjutannya di chapter 27, ya. Terima kasih.
Dari Hikayasa Hikari
Selasa, 21 Maret 2023
