A ROSE ON ME (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Baekhyun kira pertemuannya dengan Chanyeol sudah berakhir setelah ia mengembalikan bantuan yang pernah pria itu beri, namun satu tawaran tak terduga berhasil menyeretnya ke sebuah penthouse dengan fakta mengejutkan tentang seorang Park Chanyeol.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922020


A ROSE ON ME : Chapter 7

Go Yoonjung.

Chanyeol masih ingat dengan jelas bagaimana pertemuan pertama mereka terjadi.

Tak ada hal istimewa. Berawal dari urusan bisnis yang diakhiri dengan satu malam panas, Yoonjung adalah satu dari sekian banyak wanita yang pernah ia tiduri.

Cinta? Itu tidak pernah ada.

Mereka hanya bertemu satu kali melalui Fernando Go, ayah Yoonjung yang merupakan pria berkebangsaan Meksiko dan pemimpin organisasi anti pemerintah. Mereka terlibat kerja sama dalam transaksi penyelundupan senjata api.

Mengesampingkan bisnis, Chanyeol tahu Yoonjung menaruh perhatian padanya. Wanita itu sering kali menghubungi Chanyeol meski semua selalu diakhiri tanpa balasan, bahkan ketika wanita itu mengatakan tengah mengandung.

Mulanya Chanyeol abai. Bukan hal baru mendengar seseorang mengaku tengah mengandung bayinya, namun setelah bulan berganti tahun, pesan kali ini berbeda ketika Yoonjung mengirim sebuah foto bayi kepadanya.

Semua menjadi lebih rumit ketika Chanyeol mengatur pertemuan kedua mereka.

Cukup gila bagaimana Yoonjung menjelajahi tiap penjuru dunia hanya untuk menemukan seorang bayi yang punya wajah serupa dengannya. Wanita itu bukan amatiran. Dia punya niat yang jelas.

Sesuatu yang belum Chanyeol ketahui alasannya.

ㅡ《•••》ㅡ

"Akh, punggungku..."

Baekhyun terbangun dengan kondisi tidak nyaman terduduk di lantai di samping tempat tidur.

Kerjapan matanya memandang ke sekeliling. Semalam Chanyeol mencengkeramnya terlalu erat hingga ia tidak bisa beranjak pergi dari kamar, akhirnya Baekhyun memilih duduk di lantai dan tanpa sadar terlelap hingga pagi menjemput.

"Apa dia sudah pergi?" gumam Baekhyun sembari menguap.

Baekhyun meninggalkan kamar kosong itu dan berjalan menelusuri lorong mansion tanpa tahu arah. Matanya menangkap kehadiran Dohwan yang berlalu ke arah lain.

"Dohwan!" panggilnya seraya berjalan mendekat.

"Hei, Baek."

Entah bagaimana bisa Dohwan terlihat baik-baik saja dalam balutan jasnya. Baekhyun sangat yakin jika di balik jas tersebut sekujur tubuhnya dililit perban seperti mumi. Pria itu tertembak cukup banyak kemarin.

"Bagaimana keadaanmu?"

Dohwan memberi senyuman. "Aku baik. Hanya sedikit sulit beraktivitas tapi jangan khawatir, ini bukan seperti pertama kalinya aku tertembak."

Mendengar hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang baru untuk Baekhyun. Jika ini bukan pertama kalinya Dohwan terluka, apa itu artinya serangan seperti kemarin sudah sering terjadi?

"Kau sering terluka? Apa orang-orang jahat kemarin juga yang melukaimu?"

Pertanyaan polos itu menciptakan tawa pelan. Dohwan mengusak rambut Baekhyun.

"Bagaimana denganmu, Baek? Apa kau terluka?"

"Seperti yang kau lihat, aku tidak punya luka apapun. Aku baik-baik saja." Baekhyun menghentikan ucapannya dengan perasaan yang berubah tidak tenang. "Hanya saja.. Jackson..."

"Aku tahu. Aku baru saja mengecek keadaan Tuan Muda. Aku kurang yakin jika Tuan Muda tidur nyenyak setelah apa yang terjadi kemarin."

Tatapan Baekhyun menyayu oleh rasa bersalah.

"Jangan khawatir. Tuan Muda akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat."

Tanpa keduanya sadari, seseorang menyaksikan mereka dari jarak yang tidak jauh. Chanyeol memandang datar untuk setiap adegan dengan kedua tangan berada di saku celana.

Baekhyun mengangguk kecil. "Kalau begitu aku juga harus kuat demi Jackson. Dia pasti membutuhkanku."

Senyuman tampan Dohwan terlihat sangat cerah memandangi lelaki manis di hadapannya. Mungkin ia terlalu hanyut oleh pemandangan tersebut hingga tak sadar saat jemarinya beralih mencubit gemas sebelah pipi Baekhyun.

Mata Baekhyun membulat.

Yang membuatnya lebih dari sekadar terkejut adalah kehadiran Chanyeol yang tiba-tiba menarik tangan Dohwan hingga terlepas dari wajah Baekhyun.

Suara retakan tulang terdengar ketika Chanyeol mematahkan jemari itu. Ringisan tak bisa dihindari dari wajah sang pengawal.

Mulut Baekhyun menganga dengan ngeri.

"Chanyeol! Apa yang kau lakukan?!"

Pria itu menghempas tangan Dohwan dengan sorot tajam. "Kalian menghalangi jalanku." jawabnya asal.

"Huh?"

Baekhyun tak mengerti dengan alasan konyol tersebut dan memilih mendekati Dohwan.

"Itu pasti sakit! Apa tanganmu terluka?"

"Tidak apa."

"Bagaimana mungkin? Kita harus ke dokter sekarang!"

Chanyeol merotasikan bola mata dengan jengah. Entah mengapa sejak tadi ia merasa sangat terganggu. Semua ini mengiritasi mata dan membuatnya kesal. Sungguh pagi yang buruk.

Ia menarik tangan Baekhyun dan membawanya pergi.

"Hei, kau mau membawaku ke mana?!"

Baekhyun mengerutkan dahi penuh protes dengan langkah terseret mencoba menolak setiap tarikan kuat yang pria itu hentakan.

"Bagaimana dengan Dohwan? Dia terluka, Chanyeol! Kau tidak seharusnya melakukan hal tadi! Lukanya bahkan belum sembuh!"

Mereka berhenti di dalam sebuah ruangan. Banyak deretan buku yang tersusun rapi mengelilingi setiap sudut. Baekhyun meyakini ruangan itu sebagai tempat di mana Chanyeol menghabiskan waktu dengan pekerjaannya.

"Chanyeol!"

Chanyeol berbalik badan dan menatap nyalang. "Dengar, dia bukan anak bayi yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Berhenti bersikap berlebihan."

"Ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"

Baekhyun dapat melihat jelas kobaran api di bola mata pria itu. Seperti ada siraman bensin yang membuat api itu kian membesar.

"Permisi, Tuan."

Pembicaraan mereka diinterupsi oleh kehadiran Daniel yang masuk ke dalam ruang kerja Chanyeol tanpa diundang.

Keduanya menoleh bersamaan.

"Ada hal yang perlu saya sampaikan kepada anda."

"Katakan."

Daniel melirik sejenak ke arah Baekhyun sebelum menundukan kepala. "Mohon maaf, Tuan, tetapi saya rasa hal ini bukan sesuatu yang bisa didengar oleh orang luar. Saya akan kembali lagi ketika anda telah selesai."

Alis Chanyeol berkedut kesal, masih tersisa dari percakapannya dengan Baekhyun. "Cepat katakan."

"Buckmoth baru saja memberi kabar. Tuan Jinyoung telah membereskan masalah kemarin dan beliau juga telah memastikan tidak ada satupun lagi anggota Yakuza yang memiliki informasi terkait anda serta Tuan Muda. Semuanya dipastikan bersih."

"Tuan Jinyoung juga menyampaikan, apa mereka perlu mengirim beberapa anggota inti Buckmoth untuk menjaga anda?" lanjutnya.

"Aku tidak butuh."

"Baik, Tuan. Akan saya sampaikan."

Baekhyun terdiam. Telinganya tentu menangkap setiap kata yang Daniel ucapkan tanpa terlewat. Kedua alis saling bertautan, ia bergantian menatap kedua pria di sana dengan bingung. Ia yakin ia tidak salah dengar.

"Yakuza...? Buckmoth?"

"Apa maksudnya? Yakuza apa?"

Jika Baekhyun tidak salah, bukankah itu sindikat mafia di Jepang? Kenapa Chanyeol berurusan dengan mereka?

Chanyeol mengibaskan jemari untuk mengusir pergi sosok Daniel.

"Apa yang dimaksud Daniel?"

Setelah kepergian sang sekretaris, Baekhyun bergegas mencecar Chanyeol dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak segera diberi jawaban. Chanyeol berjalan terlalu santai menghampiri meja dan mengambil sebuah cerutu dari sana.

"Chanyeol, katakan sesuatu!"

Pria itu menoleh. "Apa yang perlu kukatakan?"

Suara gemuruh di dada Baekhyun tak dapat dihindari. Ada getaran takut di bola matanya.

"Sebenarnya... siapa kau?"

"Kau tidak perlu tahu siapa aku."

"Kau harus mengatakannya padaku." tuntut Baekhyun memaksa. "Yakuza itu mafia, benar? Kenapa kau berurusan dengan mereka? Apa kau juga sama seperti mereka? Kalian semua? Bahkan Dohwan sekalipun...?"

Baekhyun menunggu, akan tetapi keterdiaman Chanyeol seolah memaksanya untuk menganggap semua pemikirannya benar. Baekhyun dapat merasakan aliran darahnya berdesir cepat.

Susah payah ia menelan saliva.

"Kenapa kau tidak memberitahuku hal sepenting ini sejak awal? Aku tidak akan menjerumuskan diriku sendiri jika aku tahu siapa kau sebenarnya."

"Siapa diriku tidak ada hubungannya denganmu. Satu-satunya tugasmu hanya Jackson."

"Tapi ini semua berlebihan. Kau... menakutkan."

Chanyeol merotasikan bola mata, tidak menganggap serius pada setiap untaian kalimat. Cerutu itu menggantung di bibir dengan mata yang menyipit remeh.

"Baekhyun, kau pikir aku akan melepasmu setelah kau tahu fakta ini?"

Baekhyun tentu punya rasa takut mengenai identitas pria itu. Park Chanyeol berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari apa yang ia pikirkan selama ini.

Bagaimana bisa Baekhyun terjebak pada semua yang berhubungan dengan Park Chanyeol? Ia tidak bisa meminta hal yang jauh lebih buruk lagi.

ㅡ《•••》ㅡ

Baekhyun duduk termenung di sofa. Sesekali iris matanya akan melirik pada sosok Jackson di tempat tidur. Jackson tidak baik-baik saja. Dokter bilang pangeran kecil itu terserang demam. Jackson tumbang dalam lautan rasa takut yang buruk.

Helaan napas berat terdengar untuk yang kedua kali.

Suara nada dering muncul. Baekhyun membuka ponsel dan terkesiap begitu mendapat pesan dari seseorang yang sebulan lalu menghilang bak ditelan bumi.

Tubuhnya bangkit dari duduk.

[ Baekhyun, bisakah kita bertemu? Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan. ]

Untuk semua kejadian pahit yang Baekhyun alami selama hidupnya, Baekhyun bisa mengingat setiap rasa sakit yang ia telan seperti pil kematian. Ditenggelamkan berkali-kali hingga ke dasar, Baekhyun tak kunjung menemukan ke mana perahu bahagianya akan berlabuh.

Akan tetapi Baekhyun tetap kembali ke permukaan dan berharap tidak ada satu hal lagi yang dapat membuatnya patah hati.

"Jack, Kakak pergi sebentar ya."

ㅡ《•••》ㅡ

Bangunan putih yang khas. Baekhyun menatap nomor yang ada di sisi pintu. Kamar 406. Sesuai dengan alamat yang Heechul berikan.

Ia menggeser pintu dan membiarkan langkah ringan menapaki ruangan. Baekhyun bisa mendengar suara detak jantung yang tenang dari monitor. Tak ada suara lain yang menemani kesunyian dari salah satu kamar rumah sakit itu. Sepertinya Heechul tidak ada di ruangan tersebut.

Matanya berhenti menjelajah dan langkahnya terpaku sesaat ia melihat sosok yang terbaring di atas ranjang pasien.

Baekhyun tak mungkin lupa wajah itu.

Waktu seolah membeku. Iris matanya bergetar dan ia bisa merasakan ruangan seolah menyempit menekan dada. Ia sesak tak bisa bernapas. Kebingungan.

Kenapa ibu berada di sana?

Tak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk memutar balik langkahnya sebelum wanita itu menyadari kehadirannya. Ia terburu-buru menutup pintu.

"Baek?"

Wajah pucat milik Baekhyun menatap Heechul di hadapannya. Heechul pun terlihat panik melihat raut muka itu. Firasatnya berkata jika Baekhyun telah menemukan kebenaran lebih dulu sebelum ia sempat memberi penjelasan.

"Apa maksud semua ini, Kak?" Suara Baekhyun bergetar hebat. Ia meremas jemarinya.

"Baekhyun, mari kita masuk ke dalam dulu. Aku akan menjelaskannya padamu."

"Ibu yang kau bilang sedang sakit dan butuh pengobatan... apakah itu dia? Wanita itu...?"

Heechul menatap dengan sayu.

"Iya, Baekhyun. Ibu kita."

Debuman di dada memukul keras dirinya. Sakit. Jantungnya terasa sakit. Baekhyun tidak pernah membayangkan hal ini dapat terjadi kepadanya. Di antara sekian banyak orang, itu adalah Heechul.

"Apa kau sudah mengetahui ini sejak awal? Karena itu kau memintaku untuk memanggilmu 'Kakak'? Karena itu kau memintaku untuk membayar semua biaya pengobatannya?"

"Baekhyun—"

Baekhyun kesulitan bernapas. Pundaknya naik-turun.

"Dia membuangku. Wanita itu meninggalkanku seorang diri untuk hidup yang dia bilang akan jauh lebih baik daripada yang dia rasakan selama bertahun-tahun menjadi ibuku. Aku sekarat setelah kepergiannya. Setiap hari aku hampir menjemput ajalku karena tinggal bersama Ayah yang selalu menyiksaku."

Ia tersendat-sendat mengucap setiap kalimat bagai mengunyah bilah tajam. Matanya memerah karena terpaksa membuka kembali kenangan buruk di dalam memori.

"Aku kesakitan, aku menderita, tetapi dia membangun keluarga baru dengan keluargamu...?"

"Baekhyun, kumohon dengarkan aku dulu."

Heechul memegang kedua lengan Baekhyun dengan perasaan bersalah yang sayangnya tak berarti apa-apa di mata Baekhyun, bahkan meski air mata pria itu kini mulai mengalir penuh penyesalan.

"Aku minta maaf karena menyembunyikan hal ini darimu. Aku minta maaf karena berbohong atas segalanya. Aku sungguh minta maaf, Baekhyun..."

Heechul terlihat sama kacaunya sekarang.

"Kau benar bahwa Ibu menikah dengan Ayahku, tapi percayalah Ibu tidak pernah berniat membuangmu. Ibu sangat menyayangimu. Dia yang memintaku untuk mencarimu dan menjagamu selama ini. Kau harus tahu Ibu sangat menyesal telah meninggalkanmu begitu saja hari itu."

Baekhyun nyaris tertawa. Ungkapan tersebut terdengar sangat konyol ketika ia mengingat dengan jelas betapa percaya dirinya sang ibu melangkah pergi dari rumah kala itu.

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak punya ibu. Ibuku sudah lama mati."

Heechul menggeleng pelan.

"Kumohon jangan seperti ini, Baek. Ibu sakit keras. Ibu mengidap penyakit jantung koroner. Dia kesulitan—"

"Kau tidak perlu memberitahuku apapun, sungguh. Sembunyikan saja seperti yang selama ini kau lakukan."

Sorot mata Baekhyun menunjukan segalanya. Kesedihan dan kekecewaan yang tidak bisa dipungkiri. Kenapa ia harus bertemu kembali dengan orang yang telah melahirkannya dalam situasi seperti ini? Kenapa ia baru dibiarkan bertemu ketika wanita itu sekarat?

"Baekhyun, aku minta maaf. Aku hanya tidak tahu harus memulainya dari mana..."

Baekhyun segera berbalik badan, mengabaikan Heechul beserta tatapan memohonnya yang menyiksa.

"Mulai detik ini aku berhenti memanggilmu 'Kakak'. Jangan lagi menghubungiku. Aku harap kita tidak bertemu lagi di masa depan. Aku hanya ingin mengakhirinya sekarang."

Kepalan tangan kuat mencoba mempertahankan sisa remukan diri. Baekhyun ingin berpura-pura buta dan tuli seolah ia tidak pernah mengetahui kenyataan.

"Baekhyun..."

"Kau bisa menempati flat itu. Aku sudah membayar semua hutangmu dan biaya sewanya jadi kau tidak perlu bersembunyi lagi."

Air mata jatuh pada akhirnya.

"Semoga ibumu lekas sembuh."

Dan untuk kesekian kalinya, Baekhyun kembali tenggelam ke dasar.

ㅡ《•••》ㅡ

Jejak basah dari sepatu menyusuri sepanjang jalan kumuh. Kubangan kecil seolah tak mengganggu perjalanan. Baekhyun membawa langkah demi langkah kembali ke tempat di mana terakhir kali ia menaruh kenangan.

Rasa rindu dan sakit menggerogoti hati, tetapi seharusnya mudah dipahami bahwa Baekhyun tidak pernah meminta lebih. Sejak dulu, ia hanya menginginkan sebuah keluarga bahagia bersama ibu dan ayah.

Lelaki itu berdiri menatap rumah kotor yang tidak terurus, mungkin ia telah menghabiskan waktu hampir sepuluh menit. Jari-jari kurusnya meraih pagar merasakan partikel debu yang tertinggal di sana.

"Apa kau kerabatnya?"

Baekhyun menoleh ketika suara asing menyapa. Ia melihat seorang kakek dengan tubuh yang sedikit bungkuk menghampirinya.

"Rumah ini sudah lama kosong, jadi dibiarkan seperti itu saja." Kakek itu berjalan mendekat.

Mendengar hal tersebut, ada raut cemas yang terukir di wajah Baekhyun. Ia memerhatikan tiap inci bangunan lama rumahnya mencoba menemukan jejak sang ayah, namun sayang, ia hanya bisa melihat rumput tinggi yang mengelilingi sekitar rumah.

"Apa anda tahu ke mana pemiliknya pergi?"

"Kau tidak tahu? Pemilik rumah ini sudah meninggal dunia."

"Ya?" Baekhyun bisa merasakan kakinya tak bisa lagi berpijak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

"Sepertinya tiga tahun lalu. Dia kecelakaan saat mencari putranya yang hilang." Kakek itu terlihat berpikir keras mengingat kejadian lampau. "Jika aku tidak salah ingat, preman itu mabuk dan berteriak ke sana ke mari. Dia membuat kekacauan. Tidak ada yang bisa mencegahnya saat dia pergi ke jalan besar dan menjadi korban tabrak lari."

Tenggorokan Baekhyun tercekat sehingga tak ada satupun kata yang keluar. Jemarinya bergetar meremas udara kosong. Dadanya sakit. Seseorang perlu memberitahunya, kenyataan apa lagi yang harus ia hadapi? Harus sebanyak apa lagi air mata yang ia tumpahkan?

"Itu... t-tidak benar, bukan?"

"Sungguh, Nak. Semua orang di daerah ini mengetahuinya. Kecelakaan itu sangat tragis."

Bukankah kedua orang tuanya yang jahat? Tapi kenapa Baekhyun yang harus merasakan sakitnya? Kenapa ia menjadi satu-satunya yang ditinggalkan sendiri di sini?

Baekhyun merasa mual. Semua kenyataan ini membuatnya ingin muntah. Baekhyun menutup mulut dan berlari pergi meninggalkan tempat itu sejauh mungkin tanpa mempedulikan panggilan dari kakek tersebut.

Untuk setiap langkah kakinya yang terhuyung-huyung, air mata jatuh deras di kedua pipi putihnya. Baekhyun merasa sangat menderita.

"Ugh.." Langkahnya terhenti ketika ia tidak bisa lagi menahan perasaan itu. Ia memuntahkan isi perutnya di samping bangunan tua yang tak layak dihuni.

"Hiks.. A-Ayah... seharusnya Ayah meminta maaf padaku... hiks.. kenapa Ayah pergi seperti ini?" Baekhyun berjongkok seraya menangis keras. Ia terbatuk-batuk di antara tangisan pedihnya.

Tubuhnya gemetar. Semua rasa sakit yang tertanam sejak lama seolah kembali mendatanginya. Merayap di tubuhnya.

"Kenapa tidak ada satupun dari kalian yang menemuiku untuk meminta pengampunan dariku? hiks..."

"Kenapa kalian harus sejahat ini...?"

Sesak. Apa artinya ia berlari sejauh mungkin jika tidak ada satupun yang mengejar jejaknya? Baekhyun kira waktu akan menyembuhkan dan mengembalikan semua kembali seperti sedia kala, namun mengapa begitu mustahil? Setidaknya ia berharap bisa mendengar kata maaf atas semua luka yang ia terima.

Namun pada kenyataannya, ia tidak punya siapa-siapa.

Ia sendirian. Selalu sendirian.

Baik dulu maupun sekarang.

"Byun Baekhyun! Kau pikir kau bisa lari dariku?!"

Suara bariton yang khas menggema di jalanan sepi.

Perlahan Baekhyun mengangkat kepala dan ia menemukan sosok Chanyeol berjalan ke arahnya dengan langkah lebar. Air mata tak henti menetes menatap jarak mereka yang terkikis sedikit demi sedikit.

Pria itu datang kepadanya.

Pria itu mencarinya.

"Aku sudah bilang aku tidak akan melepasmu—"

Raut wajah Chanyeol berubah ketika berhasil melihat Baekhyun dengan jelas. Ia berhenti bersama rasa marah yang hilang menguap di udara.

Ia kira Baekhyun melarikan diri setelah mengetahui identitas aslinya karena itu ia mencari keberadaan Baekhyun, namun ia tidak menduga akan mendapati lelaki itu dalam kondisi berantakan. Menangis dengan wajah pucat.

Dahi berkerut. "Ada apa denganmu?"

Baekhyun bangkit berdiri. Tangisan itu menyayat hati dan rasanya seperti bisa melukai tenggorokan.

"Hiks.."

Baekhyun tidak pernah tahu jika ia sangat ingin dicari. Ia mau kehadirannya diinginkan oleh seseorang.

Chanyeol menangkup wajah itu. Ini jauh lebih buruk daripada terakhir kali. Chanyeol tidak bisa memungkiri bahwa perasaannya tidak tenang menatap kesedihan di wajah itu.

Chanyeol khawatir.

"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu? Siapa yang membuatmu seperti ini?"

"Hiks..."

"Bicara, Baekhyun."

Chanyeol merasa begitu marah ketika air mata jatuh menetes di telapak tangannya. Ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Siapa yang berani melukai lelaki itu?

Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan. Hanya isak tangis yang keluar. Baekhyun terlalu lemas untuk sekadar memberi jawaban.

Chanyeol melingkarkan tangan di punggung dan belakang lutut Baekhyun lalu mengangkat lelaki itu ke dalam gendongan posesif. Baekhyun tak mengeluarkan protes. Ia refleks memeluk leher pria itu dan menyembunyikan wajah di dada bidang tersebut.

"Kita pulang."

ㅡ《•••》ㅡ

"Dia baru tahu tentang kondisi ibunya dan kepergian ayahnya?"

"Benar, Tuan. Itu yang dikatakan oleh informan kami. Baekhyun sudah lama berpisah dengan kedua orang tuanya. Dia tidak tahu kabar apapun setelah itu jadi dia pasti sangat terkejut sekarang."

Penjelasan Daniel sedikitnya membuat Chanyeol lebih tenang. Setidaknya ia sudah tahu alasan di balik tangisan pedih Baekhyun, karena melihat lelaki itu tak kunjung bicara cukup membuat frustrasi.

Chanyeol berlalu meninggalkan Daniel dan kembali ke kamar. Ia bisa melihat para pelayan bergerombol di depan pintu saling berbisik membicarakan sesuatu.

"Apa yang kalian lakukan?"

Kehadiran Chanyeol mengintimidasi.

Para pelayan berbaris dengan wajah tertunduk tak berani menatap sang atasan.

"M-Maafkan kami, Tuan, tetapi Baekhyun masih tidak berhenti menangis." jelas salah satu pelayan di sana.

"Kalian tidak bisa mengatasinya?" Chanyeol berbicara sinis. "Ini pertama kalinya kalian tidak berguna. Apa kurang jelas perintahku untuk membuatnya berhenti menangis? Lakukan apapun! Beri dia sesuatu!"

"Ampuni kami, Tuan. Kami telah menjalankan sesuai perintah anda. Kami sudah mencoba menyajikan semua hidangan bintang lima yang dibuat langsung oleh para koki terhebat. Kami juga sudah mencoba memberikannya barang-barang mewah, akan tetapi Baekhyun mengabaikan itu. Tidak ada yang dapat menghiburnya."

Chanyeol mengerang kesal. Ia melirik arloji di tangan. Hampir satu jam Baekhyun menghabiskan waktu dengan lautan yang dibuatnya. Sebenarnya berapa banyak air mata yang lelaki itu miliki?

Sang CEO memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.

Dari jarak pandangnya, Baekhyun duduk bersandar pada kepala ranjang sembari memeluk kedua lutut. Tak ada tangisan menggebu-gebu, namun siapapun bisa melihat wajah basah dengan kedua mata membengkak.

"Berhenti menangis."

Pria itu duduk di tepi ranjang. Begitu asing efek yang tubuhnya rasakan ketika Baekhyun membalas tatapannya penuh luka. Tatapan itu melemahkannya.

Ia menghela napas.

"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak akan mengerti jika kau tidak mengatakannya padaku."

Karena Chanyeol buruk dalam menghibur seseorang. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah merasa bertanggung jawab untuk membuat perasaan seseorang membaik. Ia tidak peduli tentang orang lain. Hanya kali ini, ia tidak bisa berdiam diri.

Baekhyun mengerjap lemah.

"B-Bolehkah aku meminjam bahumu...?"

Dingin. Kesendirian ini membuatnya menggigil. Sejak dulu Baekhyun selalu menguatkan diri dan menegakan pundak sekencang apapun badai, tetapi hari ini ia hanya ingin menunjukan sisi aslinya. Ia lemah. Ia ingin menyerah bahwa ia tidak sekuat itu.

Tanpa banyak bicara, Chanyeol menarik Baekhyun dengan mudah ke dalam pelukan. Membawa lelaki mungil itu duduk di pangkuannya.

Baekhyun membiarkan dagunya jatuh lemas di pundak Chanyeol yang kokoh bersama tangan melingkari tubuh yang lebih besar.

Air mata mengalir dalam diam. Mereka membiarkan waktu menemani dan menghitung untuk setiap pelukan yang menjadi lebih erat dan nyaman. Tak ada yang terjadi selain menghangatkan tubuh satu sama lain.

"Kau.. sungguh mafia...?" tanya Baekhyun dengan suara parau.

Alis terangkat sebelah. "Kenapa? Hal itu mengganggumu?"

"Apa kau akan membunuhku?"

Chanyeol berdecih. "Bukan hal yang sulit. Jika aku mau, aku bisa melenyapkanmu dengan satu jentikan jari."

"Kalau begitu... apa kau bisa melakukannya sekarang?"

Raut Chanyeol berubah dalam sekejap.

"Bicara apa kau? Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Kau dengar?" Matanya melotot tajam meski Baekhyun tak bisa melihat itu. Rahangnya mengeras. "Lagi pula, Jackson membutuhkanmu. Kau terikat kontrak. Kau tidak bisa lari begitu saja dariku, Byun Baekhyun."

"...ah, kau benar." Baekhyun membalas dengan sendu. Suara pelannya terdengar seperti gumaman di telinga Chanyeol.

"Jacksonku... apa dia baik-baik saja?"

Panggilan yang menggelitik telinga. Sorot mata Chanyeol terlihat sedikit melunak.

"Tidak perlu meragukan dokter pribadiku. Dia akan memastikan Jackson sembuh dengan cepat."

Baekhyun mengangguk kecil.

"Aku hanya punya Jackson sekarang."

Chanyeol hendak membuka mulut, namun suara dengkuran halus membuatnya mengurungkan niat. Ia menolehkan kepala, memerhatikan bagaimana kedua mata sipit itu terpejam dengan napas tenang. Lelaki itu tertidur dengan bercak air mata.

Chanyeol mendengus.

"Kau tidak lihat siapa orang yang sedang kau peluk saat ini, Byun Baekhyun?"

Ia tidak pernah bisa mengerti lelaki itu. Dia selalu berhasil melukai harga diri seorang Park Chanyeol.

ㅡ《•••》ㅡ

"Ng."

Malam Chanyeol terusik.

Harus diingat, sejak kecil Chanyeol terlatih untuk tetap terjaga dalam tidur. Suara sekecil apapun dapat terdengar oleh telinga dan membuatnya waspada dari serangan musuh. Namun ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia bisa mendengar suara anak anjing di dalam kamarnya.

"Ng.. Hng.."

Kelopak matanya terbuka dengan kesal. Ia mencoba menemukan sumber suara dan dahinya mengernyit ketika menyadari suara itu berasal dari bibir laki-laki di sebelahnya.

"Baekhyun?"

"Apa kau berubah menjadi anak anjing saat tengah malam?" celotehnya seraya memeriksa sosok mungil yang bergelung di balik selimut.

Wajah damai Baekhyun terlihat sangat cantik dengan bibir kecil merah muda yang bergerak lucu dalam tidur. Meski cukup mengganggu, Chanyeol bisa memaafkannya untuk itu.

"Kau kedinginan?"

Tak ada jawaban. Sepertinya Baekhyun mengeluarkan suara-suara itu dalam keadaan tidak sadar.

Chanyeol bergerak mengatur suhu ruangan menjadi lebih hangat dari biasanya. Sebenarnya tak terlalu dibutuhkan, namun Chanyeol menarik tubuh Baekhyun mendekat padanya.

Masih dengan mata terpejam, Baekhyun mengejar rasa hangat dari dada telanjang Chanyeol yang tidak dibalut sehelai kain. Jemari kurusnya secara naluri memeluk pinggang Chanyeol layaknya guling dengan wajah menempel di dada bidang pria tersebut. Sesekali mengusakan pipi dengan nyaman di sana. Hangat.

Chanyeol mengangkat alis dan mendengus tidak percaya. Ia terkejut oleh keagresifan lelaki itu.

"Kau sangat pandai menolakku, tapi lihat apa yang kau lakukan sekarang."

Chanyeol menarik selimut dan membungkus tubuh mereka berdua. Pergerakan Chanyeol nyatanya tidak menghentikan aksi Baekhyun dalam mencari kehangatan. Hidung mungil laki-laki itu naik mengusak tulang selangka Chanyeol dan menghembuskan udara halus di sana.

Sang pria menggeram tertahan. Irisnya menajam, nyaris kehilangan kendali. Tak bisa dipungkiri, lelaki itu sangat manis, wangi, dan begitu lembut ketika bergesekan dengan kulitnya.

Jangan salahkan Chanyeol jika jemari besarnya membawa tubuh Baekhyun lebih dekat sebelum mendaratkan bibir tebal di belakang telinga itu.

Menandainya.

ㅡ《•••》ㅡ

Sinar matahari masuk melalui celah tirai jendela. Baekhyun menggaruk kepalanya dengan bingung. Tak paham kenapa ia bisa terbangun lagi di kamar Chanyeol. Apa ia tidak punya kamar sendiri di rumah ini? Dan apakah ia tidur bersama Chanyeol semalam?

"Kau sudah bangun?"

Seorang laki-laki asing mendekat. Baekhyun belum pernah melihat sosok laki-laki bermata bulat dengan jas pengawal.

"Um... kau siapa?"

"Kyungsoo." jawabnya singkat lalu mengarahkan tangannya ke arah pintu kamar. "Mari ikut denganku. Tuan Chanyeol mencarimu."

Baekhyun menurut dan mengikuti langkah di belakang. Ia tidak lagi terkejut mendengar nama itu. Chanyeol memang senang sekali memanggilnya tanpa alasan.

"Omong-omong, namaku Byun Baekhyun. Aku pengasuh Jackson. Mohon bimbingannya." Baekhyun berucap dengan ramah.

"Aku tahu."

Pandangan lurus ke depan serta jawaban datar yang tidak menunjukan minat membuat Baekhyun sedikit canggung. Ia belum pernah menemui pengawal sekaku ini.

"Er... Kyungsoo, apa kau pernah mendengar tentang Buckmoth?"

Baekhyun tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Mendadak teringat kembali soal ucapan Daniel.

Kyungsoo mengernyit. "Apa maksud pertanyaan itu? Kau saat ini berada di mansion kedua penerus Buckmoth."

Mata membelalak. "Ya? M-Maksudmu Chanyeol adalah penerus Buckmoth? Jadi Buckmoth itu milik keluarganya? Lalu apa kau salah satu anggota Buckmoth?"

"Bukan hanya aku, semua pengawal Tuan Chanyeol yang kau temui adalah anggota Buckmoth."

Kyungsoo memberi lirikan singkat.

"Sebenarnya tempat kami di markas utama, namun sejak tiga tahun lalu kami harus menjadi pengawal Tuan Chanyeol, sesuai perintah dari Tuan Besar yang meminta kami untuk menjaga beliau sampai hari penobatan ketua Buckmoth selanjutnya."

Tuan Besar? Siapa? Apa itu ayah Chanyeol?

"Yang perlu kau tahu Buckmoth jauh lebih besar dari yang terlintas di kepalamu."

Baekhyun banyak berpikir mendengar penjelasan Kyungsoo yang sulit dipahami oleh orang awam sepertinya, tetapi tak ada lagi yang bisa ia keluarkan sebagai pertanyaan. Terlalu membingungkan.

"Oh? Aku baru menyadari ada lukisan di sini."

Bola mata Baekhyun teralihkan oleh sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding.

Ia menghentikan langkah. Terpukau oleh potret seorang wanita yang duduk membelakangi kamera dengan punggung telanjang. Rambut panjang tersibak ke samping dan hanya sebuah kain sutra yang menyelimuti pinggul.

Kyungsoo ikut berhenti di sebelah Baekhyun. "Itu lukisan Nyonya Besar, Lee Youngae." jelasnya.

"Cantik."

"Kau lihat tato yang ada di punggungnya? Itu bukan tato biasa."

Punggung indah tanpa cacat itu dihiasi tato di sebelah kanan. Sebuah mawar berwarna merah darah dengan kelopaknya yang mekar ditusuk oleh belati tajam. Pada gagang belati itu terukir lambang Buckmoth yang khas. Sebuah ngengat cantik dengan sayap serupa kupu-kupu.

"Itu adalah sumpah mutlak pengabdian penuh sebagai pasangan sehidup semati. Sebuah simbol penghormatan, kekuatan, dan sensualitas yang dimiliki oleh pendamping Buckmoth. Tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Hanya pasangan penerus Buckmoth yang akan mendapat tanda istimewa itu."

Baekhyun termangu dengan wajah polos sementara Kyungsoo bersedekap. Pemuda itu meneliti Baekhyun dari atas ke bawah.

"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau bisa tidur di kamar Tuan Chanyeol, tapi kau adalah orang pertama yang diizinkan Tuan kami tidur di sana. Sangat aneh karena kau tidak terlihat seperti laki-laki prostitusi."

Baekhyun mengerjap cepat. "A-Aku bukan! Sejujurnya aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa berada di kamarnya, semua terjadi begitu saja, tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku benar-benar hanya tidur."

"Kau bahkan berhasil membuat Tuan Chanyeol berkeliaran panik setelah menemukanmu menangis."

"Ya?"

Wajah Kyungsoo yang tak acuh membuat Baekhyun mengunci mulut.

Mereka kembali berjalan hingga akhirnya tiba di halaman luas dengan sebuah kolam renang besar. Baekhyun bisa melihat pergerakan di dalam kolam. Chanyeol berada di sana.

Pipi merona merah ketika ia melihat tubuh atletis Chanyeol di cuaca secerah ini. Semua itu terlalu jelas bahkan untuk buliran air di atas lekukan kulit. Baekhyun menyaksikan Chanyeol menyisir rambut basah ke belakang dengan jemari.

Pria itu menyadari kehadiran Baekhyun. Jari telunjuknya bergerak memberi isyarat pada Baekhyun untuk mendekat seiring dengannya yang berenang ke tepi.

Baekhyun berdeham pelan lalu berjalan ke sisi kolam. Bertepatan dengan Kyungsoo yang pamit undur diri.

"Ada apa mencariku?—Hei!"

Baekhyun refleks berteriak nyaring ketika tangan besar Chanyeol menariknya masuk ke dalam kolam. Baekhyun gelagapan di dalam air biru. Kaki mungilnya menendang gravitasi dengan asal-asalan.

Sang pria mengernyit dan segera menarik pinggang Baekhyun. "Kau tidak bisa berenang?"

Baekhyun langsung mengalungkan tangannya di leher Chanyeol seraya terbatuk-batuk. Wajah manisnya mengerut marah. "Kenapa menarikku?"

"Dan aku harus mendongak saat bicara denganmu?"

Baekhyun tetap setia dengan wajah galak yang sama sekali tidak menakutkan bagi Chanyeol. Sangat tidak cocok. Dia justru nampak lucu dengan pakaian basah kuyup.

"Tapi jarak ini terlalu dekat."

"Kau harus lihat dirimu sendiri."

Wajah dan telinga memerah. Posisi Baekhyun sekarang benar-benar memalukan. Ia memeluk leher Chanyeol dengan kaki melingkar erat di pinggang pria itu. Harus diakui ia tidak bisa berenang dan kaki yang tidak bisa menapak membuatnya takut. Ia tidak punya pilihan lain selain menempeli Chanyeol seperti koala.

Baekhyun membuang muka. "Apa yang ingin kau bicarakan?" alihnya.

Sebelah tangan Chanyeol masih setia memeluk pinggang polos Baekhyun akibat baju yang terangkat mengikuti pergerakan air.

"Aku ingin memberitahu bahwa kau dan Jackson akan berada di sini untuk beberapa hari ke depan. Penthouse itu mungkin sudah tidak aman lagi. Aku akan membeli penthouse baru." Chanyeol menyampaikan tujuannya.

Baekhyun mengerutkan dahi. Ekspresinya berubah dengan cepat.

"Kenapa harus membeli penthouse baru? Tidak bisakah aku dan Jackson tinggal di sini saja? Kalian sudah berada sedekat ini, kenapa kau berusaha menjauhkan Jackson lagi?"

Chanyeol menatap tajam ke dalam mata Baekhyun. Seperti biasa, pria itu akan berubah menjadi sensitif ketika pembicaraan mereka berpusat pada Jackson.

"Jangan mempertanyakan keputusanku."

"Kau tidak boleh melakukannya. Biarkan Jackson sedekat ini denganmu, Chanyeol. Kumohon jangan terlalu kejam padanya. Dia selalu merindukanmu setiap hari. Apa kau tahu rasanya?"

Mata Baekhyun berubah sendu menatap Chanyeol dengan harapan belas kasih dari pria penuh kuasa itu. Baekhyun akan melakukan apa saja untuk Jackson meskipun harus membujuk pria tersebut.

Jarak sedekat ini nyatanya cukup mendistraksi. Chanyeol seolah tak bisa mempertahankan sikap kerasnya ketika kedua mata bak anak anjing menatapnya dengan penuh sihir.

"Jackson pasti lebih senang di sini bersamamu. Melihatmu di sekitarnya."

"Kau?"

Baekhyun mengerjap. Ia memiringkan kepala. "Aku?"

"Lupakan." Chanyeol memalingkan wajah.

"Aku akan pergi kemanapun Jackson pergi. Aku akan selalu mengikutinya. Selama itu yang terbaik untuknya maka aku tidak masalah. Aku hanya ingin Jackson bahagia dan aku tahu kau adalah alasan utamanya."

Chanyeol kembali menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia selalu bertanya-tanya apa yang istimewa dari seorang Byun Baekhyun? Kenapa lelaki itu bisa membuat seisi dunia terasa baru baginya? Dia bahkan tidak bisa mengenali diri sendiri.

"Mulai sekarang kau tidak akan pernah pergi sendirian tanpa pengawasan." ucap Chanyeol.

Topik mereka berubah mendadak.

"Ya?"

"Satu lagi, kau tidak diizinkan menangis saat aku tidak ada."

"Uh?"

Baekhyun merona ketika lintasan memori kemarin memberitahunya. Bahkan posisi mereka sekarang tidak jauh berbeda ketika Chanyeol membiarkannya tertidur dalam pelukan.

Kontak mata mereka berjalan begitu lambat. Di jarak sedekat ini, Baekhyun bisa melihat jelas mata bulat yang penuh akan misteri. Sama halnya dengan Chanyeol, dia terbuai pada manik manis di mata itu. Sesuatu yang sangat Chanyeol dambakan.

Pria itu memutus tatapan mereka lalu membawa yang lebih mungil ke tepi. Dengan mudahnya mengangkat tubuh ringan Baekhyun duduk di pinggir kolam.

"Pergi." usir Chanyeol. Dia menjauh dan kembali pada agenda berenang paginya.

Baekhyun mendadak bisu. Ia tak bisa menanyakan apapun, bahkan semudah bertanya bagaimana ia bisa tidur di kamar pria itu semalam.

Baekhyun tidak yakin kapan tepatnya bermula, namun ia tahu ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Kini Baekhyun tak bisa berhenti memikirkan sorot mata pria itu untuknya.

ㅡ《•••》ㅡ

"Jack ingin menunggu Daddy pulang."

"Daddy sepertinya akan pulang larut malam. Kita jumpai Daddy besok saja, ya?"

Baekhyun sempat mengira menemui Chanyeol adalah perkara mudah setelah mereka tinggal di dalam satu atap yang sama, ternyata ia salah besar. Sudah enam hari ia tidak melihat batang hidung Chanyeol di mansion.

Pengawal bilang Chanyeol melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan baru akan kembali hari ini. Baekhyun hanya bisa membatin semoga pria itu tidak sedang berusaha menghindari Jackson.

"Jack mau tunggu."

Baekhyun akui mata lugu Jackson sangat ajaib dalam membuat hatinya luluh.

"Baiklah."

Jackson memberi kecupan tipis di pipi Baekhyun. Dalam pangkuan, ia memeluk leher yang lebih tua untuk menyembunyikan wajah malu-malunya. "Terima kasih, Papa." bisiknya.

Baekhyun tentu tak bisa melayangkan protes pada panggilan yang disematkan untuknya. Ia tidak ingin menghilangkan senyum Jackson saat ini. Baekhyun balas memeluk tubuh mungil itu dengan gemas sembari mengayunkan tubuh mereka ke kanan dan kiri.

"Kenapa Jack lucu sekali, huh?"

Mereka memutuskan untuk mengobrol sembari membunuh waktu. Hanya membahas tentang keseharian Jackson di sekolah.

"Apa Jack mengantuk?"

Mata Jackson mengerjap lambat namun ia menggeleng pelan.

"Jack bisa tidur dulu. Nanti Kakak akan membangunkan Jack ketika Daddy sudah pulang. Hm?"

Bibirnya mengerucut tidak rela, tapi rasa kantuk berhasil melawan sikap keras kepalanya. Matanya sayup-sayup mengundang mimpi. Jackson tertidur di pangkuan Baekhyun dengan kepala yang bersandar nyaman di dada papa idamannya.

Baekhyun mengusap punggung Jackson, sesekali memberi tepukan pelan sebagai mantra agar tidur Jackson semakin nyenyak.

Tepat pukul tiga dini hari, Chanyeol berjalan dengan langkah tegap melewati ruang tengah dengan aura mencekam seperti biasa. Tidak ada senyum terulas di bibir. Ia mengernyit ketika menemukan dua orang tertidur pulas di sofa.

"Apa yang mereka lakukan di sini?"

Pertanyaan itu diajukan untuk Kyungsoo yang berjalan menyeret koper di belakangnya. Kyungsoo yang memang sedari tadi berjaga di rumah tentu mengetahui hal tersebut.

"Mereka menunggu kepulangan anda, Tuan. Sudah enam hari sejak terakhir kali mereka melihat anda. Mereka pasti rindu." sahut Kyungsoo dengan tenang.

"Kau bisa pergi."

Jangan coba menemukan arti dari ekspresi Chanyeol saat ini. Pria itu tengah merasakan sesuatu yang asing akan pemandangan baru tersebut.

Chanyeol bisa berkata bahwa menunggunya pulang adalah sebuah kesia-siaan, tetapi Chanyeol tidak juga berusaha mengelak bahwa ia tidak pernah merasa sebaik ini saat pulang ke rumah.

Chanyeol mendekat dan tergerak untuk mengangkat tubuh Jackson. Ia tidak bisa membiarkan mereka berdua tidur dalam posisi seperti ini.

"Daddy..." Jackson mengecap lucu dalam tidur. Anak itu mengigau.

Chanyeol tak membalas dan hanya melangkahkan kaki menuju kamar yang ia berikan khusus untuk putranya.

Chanyeol berdiam diri cukup lama setelah menidurkan Jackson di kasur empuk. Melihat putranya terlelap nyaman seperti ini cukup menyesakan. Hubungan mereka terlalu rumit untuk memaksa Chanyeol bersikap normal.

Meski begitu, setidaknya Chanyeol bisa sedikit leluasa membiarkan perasaannya terbuka malam ini.

Pria itu kembali ke ruang tengah.

Dia mendengus kecil memerhatikan muka tidur Baekhyun. Jemarinya berlarian memberi usapan lembut di atas pipi bayi itu sebelum menggendong Baekhyun layaknya pria sejati.

Setelah membaringkan Baekhyun di kasur, Chanyeol pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali dengan wajah yang lebih segar seraya mengenakan bathrobe abu-abu.

"Mm... Chanyeol?"

Suara mengantuk memasuki pendengaran yang lebih tinggi. Baekhyun mengerjap pelan dengan mata menyipit. Lelaki itu terbangun dari tidurnya.

"Jam berapa sekarang...? Oh, di mana Jackson...?"

"Jam tiga pagi. Jackson tidur di kamarnya."

Baekhyun bangkit duduk di atas tempat tidur. Ia melihat ke sekeliling. "Kenapa aku ada di sini?"

"Mulai sekarang kau tidur di kamarku."

Baekhyun terlihat bingung sesaat, namun Chanyeol hanya berdiri di seberang kasur tanpa penjelasan lebih lanjut. Pria itu berlagak angkuh dan tak acuh ketika melipat kedua tangan di depan dada.

"Apa aku tidak punya kamarku sendiri? Aku selalu tidur di kamarmu atau kamar Jackson beberapa hari ini. Aku butuh kamarku sendiri."

"Kau sudah mengetahui rahasia besarku. Bagaimana aku bisa percaya kau tidak akan melarikan diri? Aku harus mengawasimu bahkan dalam tidur sekalipun."

"Huh? Itu berlebihan. Aku bersumpah tidak akan membocorkannya. Aku juga masih menyayangi nyawaku."

"Kau pikir aku percaya?"

Baekhyun terdiam dengan wajah polos.

Di lain sisi, Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang memahami niat di balik ucapannya. Ia tahu ia tidak pernah bertindak konyol seperti ini sebelumnya namun ia menginginkan Baekhyun berada di kamarnya. Memiliki lelaki itu berkeliaran di ruang yang sama dan berbaring di tempat tidur privatnya bukan hal yang buruk.

Baekhyun bisa merasakan rasa kantuk kembali mendatanginya. Matanya mulai memberat kesulitan untuk tetap terjaga. Lelaki itu menguap kecil lalu mengambil sebuah bantal dan menaruhnya di tengah tempat tidur. Ia membuat batasan.

"Seperti ini lebih adil untukku. Kau tidak boleh melewati batas yang telah kubuat. Aku... sudah sangat mengantuk untuk melanjutkan pembicaraan ini."

"Apa?"

Alis tebal Chanyeol menukik tajam ketika Baekhyun kembali memejamkan mata dan tidur memunggunginya. Lelaki itu benar-benar tahu caranya membuat seorang Park Chanyeol jengkel.

"Baekhyun."

Tak bisa dipercaya bagaimana lelaki itu mengabaikannya begitu saja. Luar biasa.

Chanyeol membuang asal bantal yang menjadi pembatas mereka ke lantai. Seratus persen mengabaikan peringatan Baekhyun yang secara teknis tidak menggetarkan sedikitpun.

Dia menjatuhkan bathrobe yang membungkus tubuh kekarnya dan hanya menyisakan sebuah celana panjang hitam. Pria itu naik ke atas ranjang, dan dalam satu sergapan ia berbaring memeluk tubuh mungil Baekhyun dari belakang.

Baekhyun tersentak kaget. Terpaksa membuka matanya kembali untuk mendapati lengan berotot melingkar erat di perutnya. "Chan—"

"Aku tidak sedang ingin berdebat denganmu. Bukan hanya kau yang ingin tidur." bisikan pria itu menghentikan Baekhyun sesaat.

Pelukannya mengerat. Chanyeol memejamkan mata dengan bibir tebal yang nyaris menyentuh leher Baekhyun. Semuanya terasa hangat.

Jemari lentik berusaha mengurai lengan kokoh itu dengan lemah.

"Tapi ini—"

"Tidurlah."

Baekhyun sangat ingin memberontak andai saja rasa kantuk tidak melawan kendali tubuhnya dengan hebat.

Perlahan ia melemaskan ototnya, membiarkan Chanyeol mengurungnya dalam rengkuhan yang lebih hangat. Bentuk tubuh Chanyeol yang kontras dengan miliknya membuat Baekhyun berada dalam perlindungan teraman. Mengabaikan fakta bahwa detak jantung tengah membunyikan sirene aneh karena sentuhan itu.

Chanyeol tidak merasa ini adalah sebuah pencapaian besar, tetapi semua tentang Baekhyun memberi sensasi baru untuknya dan ia menyukai semua tidur nyenyak setiap kali Baekhyun berada di sisinya.

ㅡ《•••》ㅡ

Hari yang tenang untuk Baekhyun dan Jackson menghabiskan waktu bersama. Di hari libur seperti ini mereka banyak melakukan kegiatan menyenangkan.

Jackson mengulum senyuman lucu. Kuas di tangannya menggores kanvas dengan coretan abstrak khas anak-anak.

"Ini bunga matahari."

Baekhyun menunjukan caranya menggambar dengan mudah. Mata bulat Jackson terlihat kagum.

"Kuning." Jackson menunjuk kelopak bunga matahari.

Baekhyun mengangguk seraya terkikik. "Benar, bunga matahari berwarna kuning. Cerah sekali, ya? Jack juga mau menggambar bunga matahari?"

Jackson mengangguk kecil.

Dengan penuh perhatian, jemari Baekhyun menuntun tangan Jackson lalu menggerakannya dengan lihai. Jackson selalu senyaman ini. Kehadiran laki-laki itu membuatnya seperti benar-benar memiliki sosok orang tua.

"Gambar apa lagi ya...? Beruang? Jack suka beruang?"

Si kecil mengangguk tanpa ragu.

Ketika itu, Chanyeol berjalan melintasi ruang tengah. Entah ide dari mana, Baekhyun merasa perlu menghampirinya.

"Tunggu sebentar, Jack."

Baekhyun segera bangkit lalu mengejar Chanyeol dan menghadangnya tiba-tiba. Sang pria menghentikan langkah dengan salah satu alis terangkat penuh tanya.

"Ayo bermain dengan Jackson." ucap Baekhyun. Wajahnya berseri-seri.

"Aku sibuk."

"Bohong. Ini hari libur."

"Orang sepertiku tidak mengenal kata libur."

Baekhyun merengut kecil, lalu sepersekian detik wajah itu kembali ceria. "Kalau begitu lima belas menit saja. Aku meminta waktumu lima belas menit untuk menemani Jackson."

"Berhenti melibatkanku."

"Tidak. Kau tidak dengar apa yang pernah kukatakan? Aku akan membantumu merawat Jackson, jadi tolong jangan terus menjauhinya. Berhenti bersikap seakan ia tidak ada di sini."

"Baekhyun."

Baekhyun menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Kumohon. Lima belas menit."

Chanyeol merotasikan bola mata dengan setengah hati. Pria itu melangkah ke tempat di mana Jackson berada. Tidak didasari suka rela, ia hanya terlalu malas menanggapi ocehan Baekhyun jika tetap menolak.

"Daddy!" Bola mata Jackson berbinar melihat kedatangan sang ayah.

Chanyeol duduk di karpet bergabung bersama Baekhyun dan Jackson. Tubuh tegapnya terlihat lebih besar dibandingkan dua orang itu. Chanyeol bersedekap dengan wajah serius.

"Jack bisa menggambar bunga matahari." Jackson menunjukannya pada Chanyeol dengan bangga. Senyum tak pernah lepas dari bibir. Ini akan menjadi interaksi pertama mereka di rumah.

Sang ayah hanya melirik sekilas tanpa minat. Baekhyun mendengus pelan menyaksikannya. Sedikit gemas dengan reaksi Chanyeol.

"Ah, Kakak ada ide! Bagaimana jika Jack melukis Daddy?"

Chanyeol mengernyit mendengar Baekhyun menyebutnya 'Daddy' untuk pertama kali, dan apa-apaan soal idenya itu?

Jackson mengangguk semangat. Jemari kecilnya mulai menggenggam kuas dan ia larut dengan dunianya sendiri.

Di sisi lain, Baekhyun tengah berusaha menghindari tatapan tajam Chanyeol yang bisa membolongi matanya saat ini juga. Pria itu memaki idenya melalui tatapan.

"Ini." Jackson menunjukan hasil gambarnya.

Baekhyun sontak tertawa terbahak-bahak. Ia tidak bermaksud melakukannya, namun ia tidak bisa menahan rasa lucu pada gambar yang Jackson buat. Anak kecil memang sangat pintar dalam memerhatikan setiap detail.

Mata elang Chanyeol menajam. Kepulan asap seakan keluar dari kepalanya. "Kau..."

Chanyeol memang memiliki tinggi di atas rata-rata, namun Jackson menggambar kakinya terlalu panjang hingga menyerupai pemain sirkus. Ia membuat telinga Chanyeol berbentuk peri dan juga menggambar alis kelewat tebal dengan rambut jabrik seperti terkena setrum.

"Kkk~ Jack hebat! Jack pintar sekali menggambar Daddy! Ini sangat mirip!"

Baekhyun memuji berlebihan disertai tepuk tangan meriah. Ia tersenyum penuh kemenangan. Membalas dendam pada Chanyeol adalah niat terselubung. Ia kesal karena pria itu selalu berbuat semaunya. Siapa bilang Baekhyun tidak bisa melakukan hal yang sama? Ia akan membuat pria itu kesal setengah mati.

Chanyeol mendelik tajam. Baekhyun segera berhenti, lagi-lagi dengan wajah polos memandang ke arah lain seolah tidak melakukan hal buruk.

Jackson tersenyum lebar. Sangat lugu.

Suasana kembali berubah canggung dalam sesaat, Baekhyun tentu tak akan membiarkannya begitu saja. Ia memutar otak demi menyatukan ayah dan anak itu.

Idenya kembali muncul. Bibirnya tersenyum nakal saat ia membisikan sesuatu pada si kecil Jackson. Chanyeol mengernyit.

"Hehe..."

Yang terjadi selanjutnya adalah Baekhyun menggerakan kuasnya dan mewarnai sebelah telapak tangan mungil Jackson dengan cat air berwarna kuning. Si anak lelaki dengan tiba-tiba menempelkan tangannya ke dada Chanyeol membuat cetakan tangan di kaos putih yang pria itu kenakan.

Chanyeol terkejut, mulutnya siap mengeluarkan kata-kata menyeramkan namun diinterupsi oleh tindakan Baekhyun selanjutnya yang ikut melekatkan tangannya di baju Chanyeol dengan warna biru muda.

"Byun Baekhyun, kau—"

Kedua lelaki itu tertawa pelan oleh raut wajah Chanyeol sekarang. Tidak ada yang mampu melampaui keberanian mereka jika itu tentang mengerjai seorang Park Chanyeol di saat orang-orang di luar sana bahkan tunduk di bawah kakinya.

"Kalian—"

"Kau juga harus melakukannya." Baekhyun memotong ucapan seraya menarik tangan Chanyeol lalu menggoreskan kuas ke seluruh telapak tangan besarnya dengan cat merah.

Ia lalu menuntun tangan itu menyempurnakan karya seni di baju Chanyeol.

"Sekarang sudah lengkap."

Chanyeol kehilangan kata. Ia menemukan wajah cerah Baekhyun yang menyilaukan mata, lalu beralih menatap sang anak. Hatinya membisikan sesuatu yang asing pada momen ini.

Untuk pertama kalinya Jackson tertawa bahagia hingga matanya tertutup sempurna. Sesuatu yang tidak pernah Chanyeol saksikan selama ini. Ia tidak pernah tahu Jackson bisa sebahagia itu.

Chanyeol menahan tangan Baekhyun dengan satu tangannya yang lain ketika lelaki itu berusaha menjauh. Iris mata mereka terkunci.

"Jackson, cuci tanganmu dan pergi makan siang." Suara Chanyeol terdengar rendah, membuat siapapun merinding.

Baekhyun berusaha menarik tangannya sekali lagi namun gagal. Chanyeol sangat kuat menahannya. Raut muka si mungil berubah panik. Itu terlihat jelas karena Chanyeol tak mengalihkan mata sedikitpun dari lelaki itu.

"Ng... Baik, Daddy."

Jackson menurut dengan mudahnya. Selama ini ia tidak pernah diberi perintah langsung oleh sang ayah, jadi ketika pria itu memintanya dengan senang hati Jackson menurut seperti anak baik.

Begitu Jackson telah sempurna menghilang dari pandangan, Baekhyun menatap gugup.

"C-Chanyeol, lepaskan."

"Ah!"

Baekhyun tak bisa menahan kejutan ketika Chanyeol mendorong tubuhnya hingga telentang di karpet dengan palet cat air yang tersenggol dan sebagian tertindih atau menumpahi bajunya sendiri. Kondisinya sangat berantakan.

Chanyeol setengah menindih Baekhyun dengan kedua tangan Baekhyun ditahan di kedua sisi kepala.

"A-Apa yang kau lakukan?"

"Kau terlihat bersenang-senang, huh?" Chanyeol memerhatikan wajah panik Baekhyun dari atas. Chanyeol tidak mengerti kenapa Baekhyun begitu berani melewati batasan berulang kali di saat nyalinya tidak sebanyak itu?

"K-Kami hanya bermain! Kau harus rileks sedikit, jangan menganggapnya serius!"

"Apa yang harus kulakukan denganmu...?"

Belum sempat Baekhyun menjawab, Chanyeol telah lebih dulu mendekatkan wajahnya ke leher Baekhyun. Itu adalah sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuh ketika Baekhyun merasakan lidah basah Chanyeol menjilat, menggigit, lalu menghisap kulitnya.

"Ngh... Chanyeol..."

Wajahnya memanas. Darahnya berdesir. Baekhyun tidak tahu alasan tubuhnya bereaksi aneh.

Meski kedua tangannya tertahan, ia segera memberontak. Cukup untuk menghentikan kegiatan yang Chanyeol lakukan.

Ia melotot. "Apa kau vampir? Kanibal? Kenapa kau menggigitku seperti itu?"

Chanyeol mendengus tidak habis pikir mengenai respons polos dari lelaki di bawahnya. Jika diperhatikan dengan saksama, Baekhyun itu sangat ajaib.

"Kenapa kau selalu saja bersikap menyebalkan? Kemarin kau memaksaku tidur di kamarmu, sekarang kau menggigitku seperti manusia pengisap darah!"

"Sudah selesai bicaranya?"

Chanyeol kembali mendekatkan bibirnya pada kulit leher Baekhyun, tapi kali ini ia memainkan gigi berpura-pura seakan tengah mengoyak lehernya. Hal itu memberikan sensasi geli luar biasa. Lelaki cantik dalam kungkungannya menggeliat dengan tawa manis sambil berusaha menjauhkan diri. Cukup menghibur Chanyeol.

Sedetik kemudian wajahnya kembali berubah galak.

"Hentikan! Kau pikir aku tidak bisa melakukannya? Aku juga bisa menggigitmu."

Chanyeol mengangkat alis dengan skeptis.

Tanpa aba-aba Baekhyun memajukan wajahnya lalu menggigit lengan Chanyeol sekuat tenaga. "Awh...!" Baekhyun spontan mengaduh ketika giginya bersentuhan dengan lengan keras Chanyeol.

Apa pria itu terbuat dari besi? Baekhyun merasa seperti tengah mengunyah batu bata. Giginya mungkin bisa remuk jika dipaksakan.

Pria itu memandang datar. Merasa sangat konyol dengan tingkah Baekhyun. "Gigi-gigi kecilmu tidak akan bisa melukaiku." ejeknya.

Baekhyun masih setia meringis dan Chanyeol lantas merubah ekspresinya dalam sekejap. Dia pun tak tahu alasannya, namun akhir-akhir ini ia banyak menaruh perhatian pada si mungil.

Kedua tangan besarnya menangkup rahang Baekhyun. Memberikan usapan kecil. "Sakit?"

Baekhyun mengangguk pelan.

Ibu jari Chanyeol bergerak menyentuh belahan bibir Baekhyun lalu membukanya dan berusaha memeriksa kondisi gigi Baekhyun yang serupa gigi bayi. Ia tak menghentikan usapannya di rahang itu.

"Seberapa sakit?"

Mata mereka bertemu secara tidak sengaja.

Pipi Baekhyun sontak merona oleh posisi saat ini. Baekhyun bersumpah ia bisa merasakan perubahan atmosfer di sekitar mereka ketika keheningan menyelimuti.

Chanyeol terhipnotis. Mendapati Baekhyun terkapar pasrah di bawahnya dengan wajah cantik merona serta bibir setengah terbuka membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih. Ia membayangkan memakan lelaki itu hidup-hidup. Mencumbunya hingga kehabisan napas dan mungkin juga menungganginya penuh keserakahan.

"Daddy...?"

Keduanya seakan tersadar dan menoleh.

Jackson berdiri dengan wajah polos yang kebingungan melihat posisi sang ayah dan pengasuhnya.

"Jack mau ditemani makan oleh Kak Baekhyun." cicit si pangeran kecil dengan jari-jari mungil memainkan ujung baju.

"O-Oh.. Jack..." Baekhyun segera mendorong Chanyeol menjauh dan bangkit dengan wajah semerah tomat. Berbanding terbalik dengan Chanyeol yang datar tanpa ekspresi.

"Apa kalian menikah?" Pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulut Jackson.

"Ap-Apa?! Tidak! Bukan seperti itu, Jack—"

Baekhyun menggeleng panik sembari menatap Chanyeol meminta bantuan. Chanyeol sama sekali tak berminat untuk memberi penjelasan. Pria itu tersenyum miring dan justru berdiri seraya melepas bajunya. Meninggalkan tempat dengan bertelanjang dada.

"Jadi... Jack boleh memanggil Papa seterusnya? Selamanya?"

Baekhyun meringis.

Ini akan menjadi hari yang panjang untuk Baekhyun memberi penjelasan pada Jackson, sementara anak kecil itu kelewat semangat untuk memanggilnya dengan sebutan papa tanpa peduli apa yang akan Baekhyun katakan.

ㅡ《•••》ㅡ

"Cepat bawa dia ke sini."

"Kami tidak bisa memberi kalian izin tanpa sepengetahuan Tuan Chanyeol terlebih dulu."

"Apa ada perintah yang lebih mutlak dari perintah Tuan Besar?"

Kedua pria terlihat bersitegang. Jaewook tak hentinya mendorong pria di hadapannya yang terus berusaha menerobos masuk ke dalam mansion Chanyeol. Di belakang mereka pria-pria berjas lain mengepung.

Seluruh penghuni rumah nampaknya turut menyaksikan keributan yang tengah terjadi, membuat Baekhyun dan Dohwan yang sedang asyik mengelilingi pekarangan mansion lantas mendekat.

"Kami harus membawa Baekhyun sekarang juga."

Jaewook berdecak kesal. "Sebenarnya apa tujuan kalian? Baekhyun hanya pengasuh Tuan Muda. Jangan membawanya lebih jauh ke dalam sarang Buckmoth."

"Sekarang kau berani mempertanyakan perintah Tuan Besar?"

"Ada apa ini?" Baekhyun menyahut karena mendengar namanya disebut-sebut.

Dohwan yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya mengeluarkan suara. Dia berdiri di tengah-tengah kedua pria itu. "Berhenti membuat keributan di sini. Jika Tuan Besar memanggil, maka aku yang akan mengantar Baekhyun langsung ke markas." Ia menatap Jaewook sekilas. "Kau bisa menghubungi Tuan Chanyeol."

"Kau tahu Tuan Chanyeol tidak pernah suka Buckmoth mencampuri urusan kita."

"Perintah Tuan Besar di atas segalanya."

Ucapan Dohwan membuat Jaewook bungkam. Meski kepalanya terasa akan meledak karena menahan amarah, ia tetap mengikuti arahan Dohwan.

Baekhyun beringsut takut menatap semua pasang mata yang tertuju padanya. Ia yakin tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang membuatnya harus menemui pemimpin mafia.

"Jangan takut. Ada aku."

Bisikan Dohwan tidak sedikitpun menenangkan keresahan. Yang Baekhyun tahu setelahnya ia dibawa masuk ke dalam mobil bersama beberapa mobil lain mengikutinya di belakang. Ia benar-benar akan dilempar ke markas para mafia. Bulu kuduk Baekhyun berdiri hanya dengan membayangkannya saja.

Baekhyun dibuat ngeri sekaligus kagum ketika mobil yang ia tumpangi mulai memasuki sebuah hutan. Hanya ada satu jalur disertai pohon-pohon tinggi mengelilingi. Apa sebentar lagi ia akan mati?

Baekhyun menahan napas. Mobil mereka berhenti di depan sebuah mansion yang luasnya tak terhingga. Berkali-kali lipat lebih besar dari mansion Chanyeol yang berada di tengah kota.

Pintu mobil dibuka. Dohwan mengulurkan tangan menyambut Baekhyun yang mendadak keringat dingin.

"Apa mereka akan membunuhku?" Baekhyun menggenggam tangan Dohwan dengan cemas seiring langkah kaki mereka yang berjalan masuk ke dalam mansion.

"Kau akan baik-baik saja."

Berulang kali Baekhyun berpapasan dengan pria-pria berwajah kaku yang mengintimidasi. Mereka semua berjas dan bersenjata. Semakin menciutkan nyali Baekhyun.

"Oh? Siapa ini?"

Suara itu membuat Baekhyun berhenti dan menoleh. Ia memiringkan kepala saat ingatannya merasa tidak asing dengan sosok yang tengah berjalan ke arahnya.

"Jadi kau yang bernama Byun Baekhyun?"

Jinyoung terkekeh dan bersedekap di hadapan si mungil. Jari telunjuknya mengusap dagu seraya berpikir. "Pantas saja tidak mungkin lelaki secantikmu menjadi pengawal."

Baekhyun menatap Jinyoung dengan bingung dan canggung. Mereka tidak saling kenal untuk pria itu memberinya komentar.

"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Aku benci mengakui ini tapi aku Park Jinyoung, adik dari tuanmu." Jinyoung mengulurkan tangan untuk berkenalan.

"Adik Chanyeol?" Tanpa sadar Baekhyun meninggikan suara. Wajahnya sangat terkejut.

"Ya, adiknya." Jinyoung kemudian tertawa lagi ketika tangannya tidak disambut balik. Ia kembali bersedekap. "Kau memanggil Chanyeol hanya dengan nama saja?"

Baekhyun gelagapan. "I-Itu.. maksud saya Tuan Chanyeol."

"Sepertinya kau dekat dengan Chanyeol." Sebuah suara serak menghampiri.

Pria tua dengan kursi roda kini mendekatinya. Dari auranya yang menyeramkan, Baekhyun bisa dengan mudah mengetahui bahwa pria tua itu adalah Tuan Besar. Terlihat jelas pula bagaimana semua orang membungkuk sembilan puluh derajat ketika dia datang.

Baekhyun ikut serta membungkuk. Ia menggeleng kecil. "S-Saya tidak dekat dengan Tuan Chanyeol." Tanpa sadar suaranya bergetar.

"Begitukah?"

Baekhyun mengangguk kecil. "Saya tidak pernah bisa akrab dengan Tuan Chanyeol. Meskipun saya selalu berusaha mengajaknya bicara dan mendekatkannya dengan Tuan Muda Jackson, Tuan Chanyeol adalah orang yang sulit didekati. Kami juga sering bertengkar."

Jinyoung tertawa. Pria itu sepertinya adalah orang yang sangat ceria jika dibandingkan dengan Chanyeol yang selalu tampak marah setiap saat.

Tentu saja mendengar cerita Baekhyun adalah hal lucu. Bagaimana bisa Baekhyun dengan polosnya berkata bahwa ia sering mengajak Chanyeol bicara? Bahkan dirinya yang sedarahpun enggan memulai percakapan dengan sang kakak jika bukan hal penting.

Dan satu hal lagi yang menghibur. "Sering bertengkar?"

"Baekhyun, Chanyeol itu bukan orang yang mau menghabiskan waktunya untuk beradu mulut dengan seseorang. Dia tidak sesabar itu untuk membiarkan orang lain menaikan nada saat bicara dengannya."

Kepala Baekhyun kosong. Ia tidak mengerti maksud ucapan Jinyoung.

"Chanyeol yang kukenal adalah orang yang tidak ragu menghilangkan nyawa seseorang di detik pertama dia kesal."

Park Jaemyung terdiam mendengar semua celotehan putra keduanya. Sebenarnya hanya dengan melihat Baekhyun sekilas saja ia sudah dapat menebak bahwa Chanyeol memiliki perasaan istimewa kepada lelaki manis itu.

Darahnya mengalir di diri Chanyeol. Bahkan tipe orang yang mereka suka begitu sama.

"Ayah, kau pasti memikirkan apa yang aku pikirkan." ucap Jinyoung.

Sang ayah berdeham pelan. Niat awalnya yang memanggil Baekhyun karena ingin mengetahui perkembangan Jackson, kini berganti menjadi sebuah misi baru.

"Aku tidak peduli tentang hubungan mereka. Kita lihat seberapa berguna dia." Jaemyung menatap Baekhyun dengan tajam.

Baekhyun bisa merasakan jantungnya berdetak kencang. Perasaan takut mendominasi oleh cara pria paruh baya itu menguasai seluruh ruangan. Firasatnya membisikan kemungkinan terburuk terkait eksistensinya.

"Aku akan mengakuimu jika kau bisa membuat Chanyeol mau menggantikan posisiku, tapi jika tidak, kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini..."

"...begitu juga dengan nyawamu."

.

.

.

.


{ To Be Continued }


CHANBAEK JAYA JAYA JAYA /nangis sekebon/

kayaknya aku bakal lama apdet AROM soalnya aku pengen lanjut ngetik lamore dulu udh jadi debu tuh wkwk

BTW aku bikin twitter mutualan yu klen mau egk? uname nya sama sih baekconybekun92 gampang dicari

Selamat Hari Raya Nyepi dan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa semuanya hehe❛ ֊ ❛