Gyaa!!! gyaa!!! gomen,gomen,gomen,gomen,gomen,gomen,gomen,gomen…
maap kalo chapter yg 1 tempatnya salah dan lupa…;(
maklum ya, ini fict pertama shira, jd masih awwam…(-_-")
buat senpai-senpai yg udah flemin, (yg namanya tidak bisa saya sebutkan satu persatu namun tidak mengurangi rasa hormat saya)*menyembah senpai2* shira ucapin,
arigato gozaimasu bangeettt….
shira seneng di fict shira yg pertama ini udah ada yg kritik.. jadi shira bisa introspexi deh….makasih once more..^^v
Tapi kalo masih ada2 yg salah, maklumin ya.. *bersimpuh*
Chapter 2
Author: shira kusanagi (masih awwam.. jadi masih butuh saran2 dari pembaca semua..)
Disclaimer: om masa-kishi, yang lagi di jepang.. semoga dia ingat padaku..(ketemu aja blum pernah..)
Warning: shoAi, gaje, chara ded, agak konyol dikit-lah..
Pairing: tetep sasunaru, sainaru, mungkin masih nambah lagi..
Shira-kus present..
Terererererererereret…….
(happy read..)
the end of this story
SMA 90 Konoha
"Pagi, sai..!"
Naruto menyapa sai yang baru saja tiba di bangkunya. Bahkan dia tidak memberikan kesempatan bagi sai untuk bernafas sejenak.
" Ah! hh.. pagi juga, hh.. naru.." sai ngos-ngosan.
"Kau kenapa, sai? wajahmu pucat?" naruto sok jadi dokter.
"Hh.. hahaha..!! hh.. wajahku memang pucat, naru.." jelas sai masih ngos-ngosan.
"Eh?! Iya ya..hehe,, gomen.." naruto sok jadi bodoh.
"Aku memang mudah capek, hh.. jadi setiap habis menaiki tangga, aku harus mengatur nafasku, hh.." ucap sai masih saja ngos-ngosan.
"Oh, begitu.." naruto sok ngerti.
Pip!
(Naruto: "Tunggu dulu.. tadi sok dokter, lalu sok bodoh! sekarang sok ngerti! apa maumu, hah?!"
Author: "Err… santai saja, naru-kun..^^a itu kan hanya embel-embel.. tapi kenapa kau tiba-tiba muncul seenak kumismu?"
Naruto: "Aku mau protes!"
Author: "Ha?! jadi kau memotong cerita hanya untuk protes?"
Naruto: "Memangnya kenapa?! aku tidak terima dibilang bodoh!!"
Author: "Siapa yang bilang kau bodoh naru-kun..?"
Naruto: "Memang belum, tapi di cerita ini aku pasti jadi orang bodoh, kan?!"
Author: "Haah~….kau 'kan memang bodoh.."
Naruto: "Apa kau bilang?!"
Author: "Ah! ti, tidak, tid-.."
Naruto: "Hyaah…!!! rasenshuriken!!!"
Author: "Gyaaa….!!! ampun..!! kalian para tokoh 'kan hanya bertugas menegurku jika aku mulai mengacau..!! toloong..!!"
Yang lain: *hanya menengok sebentar* "ganbatte naruto.."
Author: "APPUAAH….?!")
Plok!
"Ampun deh, pagi-pagi gini nyamuk udah pada berisik..!" naruto seperti menangkap suara-suara tidak penting.
"Nyamuk? tapi disini tidak ada nyamuk.." mata sai mengelilingi kelas.
"Iya sih, tapi tadi seperti suara nyamuk.." naruto heran
"Sai, kenapa nama sekolah ini harus 90?" tanya naruto.
"Sebenarnya sih, aku juga tidak tahu maksud authornya apa.. tapi kalau dibaca jadi sma go konoha, kan?" jelas sai.
"Ooh.. tapi aku rasa masih ada arti lain bagi si author.." naruto sweatdrop.
Tiba-tiba naruto merasa ada sesuatu yang mendekati telinganya perlahan,, hangat..
"Dobe,"
"Uwaa..!! te, teme! apa sih tiba-tiba?" terlihat naruto masih agak canggung.
"Tasmu jatuh dan menghalangi jalanku, dasar dobe!" jelas sasuke.
"Hah!! jangan sok jadi raja ya, teme! itu tasku! terserah aku dong!" naruto melawan.
"Aku hanya mengingatkanmu, yah.. kalau kau ingin tasmu ini ku injak, aku dengan senang hati melakukannya.."
Brrg!!
"Huwaa…!!! tasku, bukuku, tempat pensilku,,, heh!! teme!! jangan kurang ajar ya!!"
"Salahmu sendiri, usuratonkachi!"
"Ghaaa…..!!!! awas kau, baka temee!!!!" naruto bersiap mengeluarkan kunai dari seragamnya.(?)
Sebagai lelaki salju, sai merasa berkewajiban untuk segera mendinginkan kelas yang sudah seperti neraka ini.
"Sudah, sudah naruto.." pinta sai.
"Huh! kau beruntung, teme! kali ini kau kulepaskan.." seru naruto.
"Cih! orang bodoh sepertimu selamanya tidak akan bisa mengalahkanku." kesombongan uchiha keluar sudah.
"Gyaaaa!!!!!!!"
Jadilah kelas itu ricuh-ria di pagi hari.
13.44.59 hampir waktu pulang..
"Kerjakan tugas itu bersama kelompok kalian! kumpulkan hari Senin ke pak RT kelas ini, ya!" perintah guru pelajaran tersebut sambil meninggalkan ruang kelas.
(teng, tong, teng, tong)
"Baik, sensei.." jawab para murid kelas itu.
…
"Hiks,,hiks,, kenapa aku harus dengan teme itu??" naruto terlihat rapuh.
"Tidak apa naruto.. kau kan sekelompok denganku juga!" sai coba menghibur.(satu kelompok ada tiga orang)
"Terima kasih, sai.. kau baik sekali.." naruto masih rapuh(?)
Namun dibelakang sana ada yang mendengar pembicaraan tersebut. Dan dia merasa harga dirinya sebagai uchiha di injak-injak oleh makhluk itu.
"Aku tidak sudi sekelompok dengan orang sepertimu, dobe!" timpal sasuke dari tempat duduknya.
"Ka,kau..*menengok dengan gaya patah-patah* kau bicara apa, hah?!" naruto tersulut lagi emosinya.
"Kau hanya akan merepotkanku nanti." ucap sasuke.
"Aku juga tidak sudi!! teme!!" balas naruto.
"Sudahlah.. bagaimana kalau kita mengerjakan tugas ini besok?" tanya sai sang snowboy. (bukan snowman=spidol)
"Dimana?" naruto tertarik dengan ucapan sai.
"Rumahku. Dekat dengan sekolah kok, jadi nanti kalian aku jemput di sekolah" jawab sai.
"Jam berapa?" tanya naruto lagi.
"Sekitar jam 10, mau?" ucap sai.
"Osh!" teriak naruto dengan jempolnya.
"Sasuke?" sai masih menunggu pendapat yang seorang lagi.
"Hn." balasnya sangat singkat sambil bertopang dagu menghadap jendela.
Naruto dan sai hanya bisa sweatdrop karena tidak tahu pasti apa jawaban dari uchiha yang satu ini. Namun mereka mengartikannya 'ya'.
#$%^&*(??)
Keesokan harinya…
Terlihat seorang lelaki sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Dia mengenakan kaos berwarna kuning yang senada dengan kuning rambutnya dan celana jeans biru tua. Sambil membawa tas selempang berwarna biru muda, memakai kacamata berbingkai tebal berwarna biru langit, dan di atas kepalanya, ia mengenakan topi berwarna biru. Sangat fresh!
Dia terlihat sudah berada di tempat itu selama 2 menit. Tampaknya sedang menanti teman yang belum kelihatan sedari tadi.
Tap..tap..
"Ah! sa-" dia tampak semangat.
"suke.." dia tampak lesu.
"Hn, dobe." balas lelaki yang bernama sasuke itu
"Ghaa,,, namaku naruto, teme!" geram lelaki itu yang ternyata bernama naruto.
"Hn." balas sasuke singkat.
"Dasar miskin kata!" ejek naruto.
"Mana sai?" tanya sasuke yang tampaknya juga mencari orang yang sama.
"Entah, dia belum tiba." jawab naruto.
Tak terasa, naruto agak kagum dengan penampilan sasuke hari ini. Dia mengenakan cardigan putih dan di bagian dalamnya kaos berwarna biru kehitaman. Celana jeans yang berwarna abu-abu semakin menambah kesan 'dingin' sasuke.
Namun di sisi lain, sasuke tak kalah mengagumi naruto. Dia tak menyangka kalau naruto bisa bergaya seperti itu. Sambil mengepalkan tangan, dia menahan keinginannya untuk tidak berlari ke arah naruto dan memeluknya.
Untuk beberapa lama kemudian mereka hanya berdua di tempat itu. Karena naruto tidak betah, dia mencoba untuk memulai percakapan. Walau dia yakin, tidak akan berakhir manis.
"Emm,, teme." panggil naruto.
"Hn." singkat sasuke.
"Teme." naruto tidak puas dengan tanggapan sasuke.
"Hn." masih singkat.
"Teme." naruto terus mencoba.
"Hn." sasuke tetap singkat.
"Teme." naruto,, ah! author kehabisan ide.
"Hn."
"Teme."
"Hn."
"Teme."
"Hn."
"Tem-"
"Apa dobe?" akhirnya sasuke menyerah.
"Hehe..!! aku menang!" sombong naruto.
"Ada apa?" tanya sasuke.
"Sai kenapa belum datang, ya?" naruto mulai bosan.
"Kalau aku tahu, aku akan datang kemari satu detik sebelum dia datang, dobe." jelas sasuke.
"Huh! sok keren!" cela naruto.
Naruto sebenarnya agak bingung dengan perubahan sifat sasuke. Dua hari lalu sasuke membentaknya karena tidak suka dengan kepindahannya ke sekolah itu. Tapi kemarin, sifatnya berubah 359,99 derajat. Dia kembali jadi seperti sasuke yang memusuhi naruto. Ya memang sih, dia selalu memusuhi naruto. Tapi ini beda, ini seperti sasuke yang baru bertemu dengan naruto.
"Kau, apa masih memikirkan hal itu?" tanya naruto dengan nada rendah.
"Hal apa?" sasuke balik bertanya.
"Dua hari lalu.." ucap naruto lagi.
"……"
"Kau masih ingin tau?" tanya naruto penuh keraguan.
"….. kurasa aku tidak perlu menjawab." ucap sasuke.
"Hah? kenapa?" tanya naruto heran.
Sasuke berjalan mendekati naruto. Menatap mata biru langitnya lurus dan mengelus pelan rambut naruto.
"Agar kau tidak berisik lagi, dobe.." jawab sasuke setengah berbisik.
Naruto agak setengah sadar mendengarnya. Dia baru mencerna kata-kata sasuke setelah beberapa saat kemudian. Dan saat itu juga dia merasa terbakar api murka.
"Ghaaaa!!!! sialan kau temee!!!" naruto meraih tangan sasuke yang sedang berada di atas kepalanya. Lalu menghempaskan tangan putih itu ke sisi kirinya, dengan kekuatan super kyuubi.
Buaakk!!!
"Eh, 'buaakk'?? suara apa itu?" batin naruto heran.
Samar-samar terdengar suara rintihan kecil, tapi terdengar jelas di telinga naruto.
"Akh.." rintih sasuke.
Rupanya naruto tidak sadar (atau mungkin ceroboh) karena tangan sasuke yang ia hempaskan sekuat tenaga, ternyata 'bersentuhan' dengan pagar beton sekolah mereka yang tepat berada di sisi kirinya.
"Gyaaa…!!! te, teme, teme! kau tidak apa-apa??" teriak naruto panik.
"Aww!! jangan remas tanganku, dobe!!" bentak sasuke.
"Gyaa!! gyaa!! ma, maaf teme.. aku tidak sengaja..!!" kepanikan naruto membuat matanya berputar-putar.
"Akh! sial! pikir-pikir dulu kalau mau pakai kekuatan seperti itu!! Kau tidak lihat tembok ini?!" protes sasuke.
"Ma, maaf, maaf.. aku tidak sengaja.. refleks, teme.." ucap naruto sambil mengipasi(?) tangan sasuke.
"Sepertinya beberapa tulang jariku ada yang retak.." jelas sasuke.
"Gyaaah!!!! ayo ke rumah sakit!! jangan! ke gopli!!(?) eh, ke puskesmas!! tidak-tidak ke posyandu saja!! Oh iya! ke-"
"Naruto!!" teriak sasuke. menghentikan ocehan-ocehan naruto yang ngaco.
"Apa? apa?" tanya naruto yang sudah mulai gila.
"Ruang kesehatan sekolah sudah cukup. Lagipula hanya retak biasa." jelas sasuke sambil memegangi tangannya.
"Biasa apanya?! Ayo cepat kita kesana!!" perintah naruto.
Akhirnya mereka berdua tiba di ruang kesehatan.
"Aww!! pelan-pelan, dobe!" amuk sasuke.
"Iya, iya!! kau jangan banyak bergerak!!" tegas naruto.
"Bahkan digerakkan saja masih terasa sakit." sasuke mengeluh kecil.
"Maafkan aku, teme.. aku sungguh bodoh.." naruto merasa sangat bersalah.
"Kau memang bodoh, dobe!" jawaban telak dan maut oleh sasuke.
"Iya makanya! aku minta-"
Kata-kata naruto tak bisa dilanjutkan. Ucapannya terhenti saat telunjuk sasuke yang dingin menyentuh bibir manisnya.
"Sudah cukup minta maafnya.." pinta sasuke.
"Aku sudah tidak apa-apa.. mungkin 2 minggu ke depan aku sudah pulih." jelas sasuke.
"Tapi aku mau menebus kesalahanku.." naruto memohon sambil memegang telunjuk sasuke yang tadi menyentuh bibirnya.
"Tidak perlu." jawab sasuke.
"Aku menolak.." tegas naruto.
Perlahan sasuke memperhatikan tatapan mata naruto yang menunjukkan keseriusan.
"Hh.. baiklah. Sampai jari-jariku sembuh, kau harus menjadi tanganku. Kau tahu kan, aku tidak pernah melewatkan satu huruf-pun dari apa yang diucapkan guru.." sasuke mendeskripsikan kehebatan tangannya.
"Glek! ba, baik.. aku janji.." naruto bisa merasakan tangannya sedang menangis sekarang.
Tanpa terasa, sedari tadi sampai detik ini tangan naruto masih memegangi tangan sasuke. Naruto yang sadar akhirnya melepaskan tangan sasuke dan memalingkan mukanya yang mulai memerah.
"Aku janji, aku akan menebus kesalahanku ini.." ucap naruto.
"Tak kusangka, kau benar-benar merepotkanku, dobe.." sasuke berusaha untuk berdiri.
"Ukh! ucapanmu menusukku, tahu!" ucap naruto sambil mengelus perutnya.
"Sudahlah! sai sudah menunggu di depan.." sasuke mulai mengaktifkan wajah stoicnya.
"Bagaimana kau tau- ahh!! sasuke, tunggu!" naruto mengejar sasuke.
Di POT..(place of tragedy)
"Naruto?! sasuke?! kalian kok dari dalam sekolah? sasu, tanganmu kenapa??" tanya sai kaget.
"Sai! kenapa kau lama sekali?!" protes naruto.
"Maaf, tadi aku mengantar kakakku ke kantornya.. Tapi sasuke, tanganmu.." sai memegang tangan sasuke yang di perban.
"Tidak apa, hanya luka kecil." jawab sasuke.
"Bisa nulis?" tanya sai.
"Tidak, tapi ada tanganku yang lain.." ucap sasuke sambil melirik naruto.
Yang dibicarakan hanya bisa memainkan jari a la hinata.
"Hehe..!! aku yang menyebabkan tangannya begitu, jadi-"
"Biar aku yang menggantikan naruto!" tegas sai.
Membelalak-lah mata naruto dan (terutama) sasuke. Ingin rasanya sasuke menghajar orang ini, setelah kejadian –oper tempat duduk- dua hari lalu. Namun sebelum sasuke mengeluarkan sharingannya, naruto sudah menolak pernyataan tersebut. Membuat sasuke membatalkan niatnya.
"Tidak usah, sai.." tolak naruto.
"Tidak apa-apa, aku tidak kalah rajin dengan sasuke, kok.. kami sering diibaratkan 11-12.. jadi menulis bukan masalah bagiku" jelas sai.
"Tidak.. aku mohon, sai. aku sudah berjanji untuk mempertanggung jawabkan semuanya. Dan aku akan menepati janjiku.." naruto menatap lurus sai.
Sai hanya bisa terdiam. Dia tahu, naruto pasti tidak akan mau menerimanya saat ini.
"Baiklah kalau itu maumu.. Ayo! kita ke rumahku sekarang.." ucap sai.
"Ayoo!! teme, cepat!!" seru naruto.
"Hn." balas sasuke.
Terlihat oleh sasuke, naruto dan sai sedang asik berbicara. Mereka tidak menyadari, sebuah seringai licik muncul di wajah sasuke.
"Misi selesai.."
Tubercolosis
*tendang author*
Tbc
Ye!!ye!!ye!!
Akhirnya chapter 2 udah selesee…
Gimana, gimana?? Jadi lebih baik, gak?? Atau.. malah lebih buruk??
Kalo ada yg salah, tolong beri petunjuk yaa…. *menyembah reader*
Oh iya, naruto itu pake kacamata gaya.. dia gk minus atau plus qo.. apalagi plus-minus,, hahaha…!!!XD
shira cuma mao berbagi imajinasi, karena menurut shira naruto dengan gaya seperti itu sangat kereenn!!!
Kyaaaa…!!! *joget pake pom-pom*
Shira ucapin makasih banget yg udah baca.. trus udah beri kritik dan saran.. juga yg udah review.. pokoknya makasih bgt, deh!!
Sampai ketemu di chapter 3..
