Wawawa….!!!!
Chapter 4 is update..!!!
Shira publish cerita ini ditemenin ama temen shira, nihh.. hehe.. si baka yang itu juga sih..
Jangan nyesel ya… *dijitak dia*
Chapter 4
Author: Shira Kusanagi.. sugoii…=3
Disclaimer: om Masa-Kishi yang terhormat..*menyembah om*
Warning: shoAi, gaje, chara ded,
Pairing: tetep sasunaru, sainaru, nejigaa..
Shira-kus present,
Terererererererett…..
(happy bread=D)
The End of This Story
Flashback
"Kau sudah tenang, Naruto..?" tanya Itachi sambil mengusap kepala Naruto.
"Ya, terima kasih, Ita-nii.." Naruto mendongak dan menatap Itachi.
"Sasuke?" kali ini Itachi menoleh ke Sasuke.
"Hn." jawab Sasuke.
"Lebih baik kita teruskan makan malam ini.." lanjut Itachi sambil berjalan ke arah kursinya.
"Jangan terlalu banyak menangis, dobe. Kalau kau sakit, siapa yang akan menulis untukku nanti?" ucap Sasuke datar seperti biasa.
"Huh! kau juga menangis.." Naruto memandang sasuke tajam. Matanya masih terlihat sembab.
"Aku tidak akan menangis hanya karena hal seperti itu." Sasuke berusaha menjaga imejnya.
"Oh ya?! lihat saja, nanti kau akan kubuat menangis sampai air matamu habis..!!" sombong Naruto.
"Oh.. aku tidak sabar menanti hari itu." jawab Sasuke dengan tatapan meremehkannya.
"Gyyaaa!!!" Naruto sudah di puncak kemarahannya.
Itachi hanya bisa sweatdrop melihat perubahan drastis sikap mereka berdua.
End of flashback
Senin, pukul 10.05 waktu istirahat.
"Ini masih kurang satu kalimat, dobe."
"Kami-sama.. itu sudah ku tulis semua, teme.."
"Harusnya setelah kalimat ini, kau tulis 'Gen adalah faktor pembawa sifat yang menentukan sifat makhluk hidup'."
"Tee~mee~... KALAU KAU INGAT SEMUA YANG DIKATAKAN KABUTO-SENSEI, KENAPA TIDAK KAU SALIN SAJA HINGGA TIAP HELA NAFASNYA?!!"
Siang hari di SMA 90 Konoha, satu-satunya sekolah favorit di kota Konoha pastinya. Tapi badai dahsyat sedang melanda sekolah itu. Se-ti-dak-nya, keributan besar sedang terjadi disana. Dan suara menggelegar itu berasal dari Naruto, seorang murid biasa yang sedang mengalami masa sulit dalam hidupnya. Kesulitan yang disebabkan oleh Sasuke. Yaah.. sebagian besar di akibatkan oleh dirinya sendiri, sih.
"Kau lupa? aku tidak bisa menulis, dobe. Memangnya ini perbuatan siapa? aku bisa saja merekam semua ucapan Kabuto-sensei dengan atau tanpa alat perekam. Lagipula siapa yang memohon padaku akan mempertanggung jawabkan semuanya?" jawaban datar –nan tajam- Sasuke sangat membuat Naruto merasa dilempari ribuan shuriken dan kunai.
"Hiks,,hiks,, kau membuatku menangis, teme.." Naruto benar-benar terjerumus ke dalam lubang kegalauan. Dia tak bisa melawan Uchiha yang satu ini.
"Tapi itu 'kan hal yang tidak perlu di tulis.. Maksudku, tanpa dicatat-pun kau pasti tahu, kan??" Naruto masih berusaha untuk bangkit dan bertahan.
"Semua hal yang di ucapkan guru adalah penting dan tak boleh di abaikan." tegas Sasuke tetap dengan tampang stoic.
Naruto hanya bisa meratapi sedih nasibnya. Ini baru sehari! Bagaimana dengan 2 minggu?! Bisa saja tangannya melakukan gerakan 'sparatis'.
"Apapun yang kau mau, tuan Sasuke.." sembah Naruto. Dia sudah dikuasai seutuhnya oleh Sasuke.
"Bagus." tanggap Sasuke bergaya seperti raja.
"Na, Naruto.. kau tidak apa-apa??" tanya Sai yang kelihatan sangat khawatir.
"Saya tidak apa-apa, yang mulia Sai.." Naruto membungkukkan badannya ke arah Sai. Sai langsung sweatdrop.
"Naruto sudah gila! Naruto sudah gila!" batin para murid yang sedang ada di kelas itu, kengerian terlihat di wajah mereka.
"Aku pikir tidak. Lebih baik kau duduk dan tenangkan dirimu dulu.." Sai menarik tangan Naruto.
"Terima kasih, yang mulia.." balas Naruto dengan jawaban yang masih tidak dapat di mengerti.
"Bagaimana cara menyadarkan Naruto, ya?" Sai kebingungan. Dia lalu mengambil buku yang dia pinjam di perpustakaan dari dalam tasnya. Dilihat, judul buku itu 'cara menghajar teman yang baik'. Entah Sai disini sayang Naruto atau enggak.
"Apa maksudmu, yang mulia?" wajah Naruto sekarang benar-benar kelihatan seperti pelayan yang sudah mengabdi selama ratusan abad.
Tuk..
"Eh, apa.."
Naruto merasa ada sesuatu yang mendarat di kepalanya. Dia membelokkan bola matanya ke atas dan sedikit mendongakkan kepalanya. Sai yang sedang membaca bukunya pun menoleh karena terkejut.
"Untukmu. Imbalan karena sudah membantuku." jawab Sasuke.
"Eh, yang ben-?"
"Akan ku bawakan untukmu tiap hari, sampai kau tidak perlu menulis lagi untukku." lanjut Sasuke yang berdiri di belakang Naruto. Tangannya masih memegang benda yang ada di atas kepala Naruto.
"Hiks,, te, temee.." mata Naruto mulai berlinangan air-air kebahagiaan.
"Temee..!! kau baik sekali.. hiks,," wajah Naruto seketika berubah dari pelayan menjadi seperti budak yang di beri makan majikannya.
"Hn." singkat Sasuke sambil menyerahkan benda itu ke tangan Naruto.
Sai memperhatikan kejadian yang baru saja terjadi di depannya. Dia masih tidak percaya, semudah itukah Sasuke menyadarkan Naruto?? bagaimana bisa??
"Ramen cup..??" mata Sai menangkap benda yang diberikan Sasuke. Benda yang berhasil 'menyadarkan' Naruto dalam sekejap.
"Temee!! mana air panasnya??" tanya Naruto.
"Cari sendiri." jawab Sasuke. Dia pun kembali ke tempat duduknya.
"Hugh! dasar teme!" Naruto menggembungkan pipinya.
"Kau suka ramen, Naruto?" tanya Sai.
"Iya! Ramen itu hidupku!" jawab Naruto bangga.
"Kenapa Sasuke bisa tahu?" jelas sekali Sai merasa iri pada Sasuke.
"Oh iya, kau tidak tahu ya?" tanya Naruto sambil memeluk cup ramennya.
Sai hanya bisa kebingungan dengan jawaban Naruto. Tahu apa?
"Di Suna, aku dan Sasuke sempat berteman.." jelas Naruto.
Deg!
"Teman?! jadi Sasuke pernah tinggal di Suna??" Sai tak percaya.
"Ya.. tapi hanya dua tahun kok! Setelah itu dia pindah ke Konoha." lanjut Naruto.
"Apa kalian sangat dekat?" Sai bertanya (penuh nafsu) *ditampar sai*
"Dekat?! bahkan kami dijuluki anjing dan kucing di sekolah kami dulu..!" cela Naruto.
"Oh.." Sai agak lega sekaligus merasa khawatir.
"Dia mencuri start!!
.......
Atau mungkin... aku yang masuk dalam kehidupan mereka??" Sai bimbang dengan dirinya sendiri.
"Sai, temani aku minta air panas pada bibi kantin, yaa.." Naruto menatap Sai dengan puppy eyes no jutsu super cute.
"Baik, ayo.." Sai bangkit dari bangkunya. Membuat Naruto tersenyum lebar.
#$%^&*(??)
Satu minggu setelah itu..
Sai's pov
Seminggu sudah Naruto menjadi 'tangan' Sasuke. Seminggu sudah aku melihat mereka terus bertengkar karena masalah yang sama. Seminggu sudah Sasuke terus membawakan Naruto ramen kesukaannya. Seminggu sudah Naruto terus tersenyum sambil mengucapkan terima kasih ke Sasuke. Dan,, seminggu sudah aku merasa mereka semakin dekat.
Aku takut, aku tidak bisa punya kesempatan untuk mendekati Naruto. Aku merasa semakin sulit untuk menjamah Naruto. Yang sekarang sedang menghantuiku adalah perasaan cemburu yang amat sangat. Perasaan yang memberikan keperihan dalam jiwaku.
Ingin aku menangis, tapi apa yang akan berubah jika aku menangis? bahkan mungkin saja Naruto akan menjadi milik Sasuke jika aku hanya menangis. Naruto pun tidak akan pernah tahu bagaimana perihnya aku saat ini jika aku hanya menangis.
Aku ingin Naruto hanya untukku. Dia berikan senyumnya itu hanya untukku, air matanya hanya untukku, semuanya! tiap inci tubuhnya hanya untukku! Aku sadar, ini adalah perasaan egois. Dan aku tidak mau jadi egois. Tapi tanpa perasaan egois, aku akan kehilangan semua. Dan aku akan mati dalam kesepian.
"Ohayou, Sai!" sapaan Naruto membuyarkan lamunanku.
"Ohayou, Naru.. aku senang melihatmu.." aku mencoba untuk terlihat biasa.
"Terima kasih, Sai! aku juga sangat senang melihatmu.." Naruto mengeluarkan cengiran khasnya.
"Kenapa sih perasaan ini begitu kuat?? Setiap kali aku melihatnya, di satu sisi aku tertawa.. tetapi di sisi lain aku menangis.." batinku.
"Sai, aku mau beli buku nih.. kau bisa mengantarku ke toko buku di kota ini?" lagi-lagi ucapan Naruto membuyarkan lamunanku.
"Baik.. kau mau kapan?" tanyaku. Aku ini pintar dalam berekspresi, sehingga tidak sulit bagiku untuk menipu orang.
"Emm.. akhir minggu ini, bisa tidak?" tanya Naruto.
"Sepertinya aku tidak ada pekerjaan akhir minggu nanti.." jawabku. Sebenarnya aku harus menjaga rumah, tapi tak mungkin aku membuang kesempatan untuk berdua dengan Naruto, kan?.
"Gyaa!! makasih, Sai.." Naruto langsung memelukku. Membuatku mengeluarkan rona merah di pipi pucatku.
Tanpa sengaja aku melihat seseorang sedang menatap kami berdua. Dia Uchiha itu, rivalku. Ku keluarkan saja senyuman licik dan membalas pelukan Naruto lebih erat lagi. Kulihat mukanya memerah dan tangannya mengepal. Aku senang sekali melihatnya merasa iri seperti itu.
Kuhirup dalam-dalam wangi tubuh Naruto yang beraroma citrus. Perlahan ku tenggelamkan wajahku ke bagian tengkuknya, semakin ku rasakan wangi citrus itu telah memenuhi pikiranku. Aku ingin menunjukkan kenikmatan ini pada Sasuke. Ku lirikkan sedikit mataku ke arahnya. Dan bingo! dia menggigit bibir bawahnya dan dengan cepat membuang wajahnya ke arah jendela.
"Dia akan menjadi milikku, Sasuke.." batinku.
"Sai, kau sudah mengerjakan pr fisika?" tanya Naruto setelah melepaskan pelukannya.
"Sudah.." jawabku.
"Hehe.. aku lihat dong! Ada beberapa nomor yang belum selesai.." jelasnya.
"Maaf, kau keduluan kiba dan gaara di sana.." kataku sambil menunjuk meja yang sedang ramai.
"Gyaa!! ajak-ajak aku, dong!!!" teriaknya. Membuatku tertawa kecil. Naruto mengambil buku dari tasnya dan ikut bergabung disana.
"Hanya dalam beberapa hari, aku sudah tergila-gila pada lelaki pirang ini.."
Ku tolehkan kepalaku ke arah Uchiha. Rupanya dia sedang menatapku tajam. Ku balas tatapan itu dengan sebuah senyuman. Ku gerakkan bibirku, seperti sedang memberi tahunya sesuatu. Memang tidak ku suarakan, tetapi ku yakin dia mengerti dengan bahasa isyarat yang ku berikan padanya, terlihat dari aura kemarahannya yang memuncak.
"Aroma citrus itu akan ku miliki seutuhnya.."
#$%^&*(??)
Normal's pov
"Naru, aku pulang duluan ya.." teriak Sai dari arah pintu kelas.
"iya, Sai! jaa~.." balas Naruto.
"Duh! kenapa aku harus mengulang tugasku hari ini juga sih?! nanti paman Iruka pasti khawatir.." omel Naruto.
Sebenarnya ini hukuman karena Naruto belum tuntas mengerjakan tugas kimianya. Neji-senpai yang mengajar pelajaran itu memang terkenal 'tiada ampun' dalam memberikan hukuman. Tapi yang Naruto kesalkan adalah,,
"KENAPA GAARA TIDAK DIHUKUM JUGAA?!! Padahal 'kan dia juga belum selesai mengerjakannya!! Apa karena Gaara itu ketua kelas, ya??" Naruto masih saja ngomel.
Setelah satu jam kemudian, Naruto berhasil menyelesaikan hukumannya. Dia pun bergegas menuju ke ruang guru. Tibalah dia di depan pintu ruang guru.
"Permisi,, aku-"
"JANGAN MASUK!!!"
"E, eh, kenapa Neji-senpai?" tanya Naruto bingung.
"Tunggu sebentar!" dari dalam menyahut seperti itu.
"Ya! Kau boleh masuk.."
Greek!!
"Kak? kenapa?" tanya Naruto.
"Tadi aku tertidur, jadi aku harus merapikan penampilanku.." jawab Neji.
"Aah.. aku kira apa.. Tapi apa segitu pentingkah penampilan senpai sampai ngos-ngosan begitu??" pertanyaan Naruto tampaknya secara tidak langsung membuat neji tegang.
"Sudahlah! mana tugasmu?" Neji mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ini, ini,, tapi menurutku senpai tetap saja keren!! Walaupun habis bangun tid-"
"Jangan macam-macam, ya!!"
Muncul seseorang dari bawah meja Neji yang memotong ucapan Naruto. Dan tentu saja, naruto terkejut. Karena teman-teman sekelasnya bilang, tidak ada satu murid pun yang berani mendekati Neji. Neji sangat tidak suka dengan orang yang sok akrab.
"Lho! kau belum pulang, Gaara?? sedang apa disini?" tanya Naruto.
"Kau tidak perlu tahu!" Gaara menjawab ketus.
Neji hanya bisa memijit alisnya.
"Senpai! Gaara tidak di hukum, kan?! terus, kok dia ada disini?!" Naruto agak protes.
"Dia ada sedikit urusan denganku." jawab Neji.
"Emm.. benarkah?!" Naruto menyipitkan matanya dan menyilangkan kedua tangannya di perut.
"Urusan apa, sih? kok wajah kalian merah??"
Deg!
"Bahkan nafas kalian terdengar sampai sini, loh.."
Deg!!
"Kalian juga terlihat panik.."
Deg!!!
"Disini hanya ada kalian berdua, kan?"
Deg!!!!
"Meja senpai juga-"
"Baik!! kami mengaku!!!" teriak mereka berdua serempak.
"Eh? mengaku,, apa?" Naruto agak kaget, karena dia tanpa maksud sama sekali berbicara seperti itu.
"Kami memiliki hubungan." ucap Neji.
"Hubungan? Oh.. bilang dong, kalau kalian itu saudara.. memangnya itu rahasia, ya?" santai Naruto.
"Bukan, bodoh! kami pacaran!" tegas Gaara sambil membuang muka.
Krikk,,krikk,,
"pa, apa? paca..
.....
KALIAN PACARAANN?!!" teriakan Naruto nyaris memecahkan kaca jendela.
"Jangan teriak, bego!!!" Gaara melempar Naruto dengan kamus 7 bahasa. Sedangkan Neji hanya bisa mengelus dada.
"Ta, ta, ta, tapi, tapi, itu.. kalian,, yaoi!!!" Naruto memegangi kepalanya yang benjol.
"Tapi kami tidak bisa membohongi perasaan kami." jelas Neji.
"Kau juga pasti mengerti kan, Naruto.." tambah Gaara.
"Kalian sudah yakin?!" Naruto seperti memojokkan kedua sejoli itu.
"Cinta tidak mengenal gender, kan? lagipula, negara tidak melarang.." jawab Neji.
Naruto terdiam dan mengangguk kecil.
"Ku pikir,, itu hal yang tidak mungkin bagiku.." ucap Naruto pelan.
Neji dan Gaara tertegun mendengar ucapan Naruto.
"Kau benci yaoi?" Gaara mencoba untuk bertanya.
"Tidak,, malah aku iri pada kalian.." Naruto menatap balik Neji dan Gaara.
"Karena aku tidak bisa seperti kau dan dia.." lanjut naruto.
"Kenapa tidak bisa??" Gaara masih berusaha mencari tahu apa yang dipikirkan Naruto.
"Karena, aku sudah memutuskan hal itu.." jawab Naruto.
"Apa kau sedih?" kali ini Neji yang bertanya.
"..... sedih? tentu saja.. bahkan aku ingin menangis jika mengingat hal itu.." suara Naruto nyaris hilang karena dia menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu, rubahlah keputusanmu." ucap Neji lagi.
" Tidak bisa.. karena aku sudah berjanji untuk hal itu.." jelas Naruto.
"Kau aneh, Uzumaki.." timpal Gaara.
"Ya, memang.... baiklah!! ini tugasku, senpai! aku mau pulang!!" teriak Naruto.
"Baik, kau boleh pulang." Neji mengambil buku yang ada di atas mejanya.
"Osh!! arigato.." Naruto memundurkan diri beberapa langkah.
"Tunggu Naruto!" tahan Gaara.
"Ya??" tanya Naruto.
"Ten-tang ma-salah ini,,"
"Tenang! tidak akan ku beritahu pada yang lain.." Naruto nyengir lebar.
"Terima kasih.." Gaara membalasnya dengan sebuah senyuman lembut. Naruto pun mengambil tasnya dan segera menuruni tangga.
"Aku nggak nyangka, mereka berdua.. Akh!! ngapain dipikirin, sih?!" Naruto ngedumel sendiri di tangga.
"Mereka pasti bahagia.. Lalu aku? Aku bahkan masih belum dapat jawabannya.. Aku harus bagaimana?" batin Naruto. Karena terus berfikir, tak terasa dia sudah dekat dengan gerbang sekolah.
"Apa aku benar-benar bisa seperti mereka.." lanjut Naruto.
"Seperti siapa, dobe?" tanya seseorang.
"Neji dan Gaara.." jawab Naruto.
siiing-
"GYAAAA!!! te, teme.. sedang apa disini??" Naruto kaget setengah mati.
"Jadi mereka pacaran." ucapan Sasuke tepat menusuk jantung Naruto.
"Ti, tidak!! Jangan sok tahu, ya!! dapat pikiran konyol darimana kau?!" Naruto coba mengelak.
"Dasar dobe! Kau tidak sadar, teriakkanmu tadi terdengar sampai bulan!" ketus Sasuke.
"Glek! temee.. kau tidak mau aku dibunuh, kan??" Naruto senyum-senyum.
"Aku tidak peduli."
Jleb!
Jawaban Sasuke saja sudah nyaris membunuh Naruto.
"Temee.. aku mohon.. tolong, jangan beri tahu yang lain, ya.." Naruto bersimpuh pada Sasuke.
"Tidak ada untungnya bagiku memberi tahu yang lain." jawab Sasuke.
"Gyaa!!! makasih, teme.." Naruto bersujud di depan Sasuke.
"Tapi, kau ngapain disini? dan sepertinya sudah lama ya?" tanya Naruto.
"Aku menunggumu." singkat Sasuke.
Deg!
"Ah,, ma, makasih deh.." muka Naruto memerah.
"Hn. Ayo pulang!" Sasuke melangkahkan kakinya.
"Hey! tunggu aku, teme!!" Naruto mengejar Sasuke.
"Kenapa teme mau menungguku, ya? aku senang, sih.." batin Naruto.
Sementara di sisi lain, Sasuke..
"Aku harus merebutnya sebelum lelaki brengsek itu bertindak." batin Sasuke.
"Teme, kenapa kau mau menungguku?" tanya Naruto.
"Entahlah, dobe." jawab Sasuke.
"Ehh?! dasar teme aneh!" cela Naruto.
"Ya, karena kau." Sasuke menghentikan langkahnya. Ditengoknya Naruto yang terdiam mendengar perkataan Sasuke.
"Maksud-"
"Aku begini karena kau."
Jantung naruto berdetak 100 kali lebih cepat. Bahkan dia merasa tak bisa merasakan udara di sekitarnya. Dia berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal aneh.
"Apa, yang telah ku lakukan?" tanya Naruto.
"Kau mencuri hidupku." jawab Sasuke.
"Aku, tidak-"
"Kau ambil semuanya dariku. Bahkan kau tidak sedikitpun memberikan ruang bagi mereka untuk bergerak!"
"Apa sih maksudmu, teme?!"
Sasuke sudah kehilangan akal sehat. Di pegangnya kedua lengan naruto. Pegangan yang sangat kuat seakan tidak mau melepaskannya.
"Teme, lepas! Kau kenapa?!"
"Aku ingin memilikimu, dobe!! Atas segala apa yang telah kau ambil dariku!! Aku ingin merebutnya kembali!! Akan tetap kuambil walaupun kau akan ikut terbawa masuk dalam diriku, jiwaku, dan darahku!!"
"Teme.."
"Jangan pura-pura bodoh, Naruto!! Kau tahu, hatiku sakit melihatmu memeluk Sai tadi pagi!! Aku marah melihatmu tersenyum padanya!! Aku benci melihatmu baik padanya!! Aku mau semua itu hanya kau tunjukkan padaku!! HANYA PADAKU!!!"
Nafas Sasuke tersengal-sengal. Baru kali ini dia meluapkan emosinya. Dan itu membuat Naruto diam seribu bahasa. Hanya tinggal menunggu waktu untuk mengetahui akhir dari pembicaraan ini.
Untuk beberapa lama mereka berdua masih terdiam dalam posisi seperti itu. Tidak ada yang berani memulai atau mengakhiri pembicaraan, hanya suara jangkrik yang terdengar karena hari sudah mulai gelap.
"Hiks,, teme.." Naruto menangis begitu saja. Air matanya sudah deras membasahi pipi coklat itu.
"Maafkan aku, teme.. hiks,,hiks,, aku membuatmu susah.."
"Tidak, tidak, Naruto.. aku yang minta maaf karena sudah membentakmu.." Sasuke menunjukkan rasa penyesalannya.
"Aku tak bermaksud seperti itu, temee..maaf."
"Tidak,, jangan minta maaf.. aku mohon.." Sasuke membawa kepala Naruto kedalam tengkuknya. Perlahan dia mengelus rambut Naruto dan memeluk tubuh Naruto.
"Hiks,, temee.."
"Sudah, dobe.. aku mohon jangan menangis,, maafkan aku.. maaf, maaf, maaf.." Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
Naruto berusaha untuk menghentikan tangisannya. Tapi sejenak dia sudah terlanjur tergoda dengan aroma mint dari tubuh Sasuke. Dia tak bisa menolaknya. Dirangkulkan kedua lengannya di leher sasuke, lalu ditenggelamkan wajahnya ke dalam tengkuk orang itu, seolah ingin menghirup mint itu lebih dalam lagi. Pikirannya telah dipenuhi dengan aroma mint dari tubuh Sasuke. Membuat batinnya lebih tenang.
Sasuke masih saja memeluk Naruto, bahkan lebih erat dari sebelumnya. Dan karena pelukan itu, tanpa sadar dia mencium bau segar yang manis.
"Citrus.. nikmat sekali.." pikir Sasuke.
"Ah.. sial! aku ingin terus menghirup citrus ini.. aku tak ingin melepaskannya.. lebih, lebih lagi.."
Sasuke semakin menyatukan tubuh Naruto dengan tubuhnya. Dia hirup sepuasnya kenikmatan yang sedang dirasakan saat ini. Hidungnya terus memburu aroma tubuh Naruto. Dari kepala, leher, tengkuk.. itu masih belum cukup baginya. Dia ingin lebih dalam dari ini.
"Sasuke!!"
Naruto melepaskan diri dan memegang kerah bajunya.
"Ma, maaf.. aku tidak bermaksud.." ucap Sasuke setelah menyadari dirinya mulai lepas kendali.
"Yah.. kau ku maafkan! Untung baru terbuka satu!! kau kenapa sih?! Ini kan jalanan..!!" protes Naruto sambil mengancingi bajunya.
"Aku 'kan sudah bilang maaf!" bentak Sasuke.
"Huh!! dia malah marah!! Untung aku cepat sadar! coba kalau tidak?! Keperjakaanku bisa diambil!! Kyaaa!!!" Naruto menatap jijik Sasuke.
"Cih! aku tidak tertarik." jawab Sasuke.
"Gyaa!!! dasar kau, baka teme!!"
"Sudahlah, ayo cepat pulang! sudah malam." ketus Sasuke seraya mengambil tasnya yang tergeletak dijalan.
"Memangnya ini gara-gara siapa, hah?!" teriak Naruto. Tapi Sasuke tidak peduli, dia malah meninggalkan Naruto.
"Teme!! tunggu!!" Naruto segera mengambil tasnya dan mengejar Sasuke. Mereka pun berjalan berdampingan seperti biasa.
"Teme, tanganmu sudah sembuh, ya?? tadi kau mencengkram lenganku kuat sekali, loh.." tanya Naruto.
"Mungkin." jawab Sasuke tetap berlagak stoic.
"Kalau begitu.. aku tidak perlu jadi tanganmu lagi, dong.." Naruto tersenyum cerah.
"Hn."
"Gyaa!! akhirnya!! untung cuma seminggu!!" Naruto kegirangan sendiri.
"Tapi kau dihukum aniki."
"Horee- eh?! Ita-nii, menghukumku??"
"Hn."
"Ta, tapi kenapa??"
"Karena kau mematahkan jariku."
"Glek!! kau mengatakannya pada Ita-nii?!"
"Dia bertanya, jadi kujawab."
"Huweee!!!"
"Besok setelah pulang sekolah, kau harus menemuinya di rumahku."
"Apa benar dia bilang begitu??"
Sasuke mengangguk kecil.
"Huweee!!! Penderitaan tak berujung.."
Naruto bersimpuh di tengah jalan. Sasuke memutuskan untuk meninggalkan dia. Sasuke tidak mau orang melihat dirinya yang seorang Uchiha, biasa pulang dengan mobil kini sedang jalan kaki bersama orang gila yang guling-gulingan di tengah jalan sambil meraung seperti itu! Apa kata dunia?!
"Kenapa aku bisa tergila-gila pada orang ini?!" Sasuke protes pada dirinya sendiri.
Tbc
(hweek..!! sekarang bener!!)
naruto cengeng banget ya..*ditabok naru*
SHIRALAND~
Shiraland sesi curhat author
Hiks,, hiks,, shira agak sedih nih, dengan pembuatan chapter 4..
Kayaknya agak sulit aja..
Shira juga kesulitan dalam nentuin formatnya.. jadi berantakan gini deh.. trus masalah alur kecepetan, shira masih belon bisa ngaturnyaa… huhu~.. gomen ya, kalo masih banyak yg wrong…;(
Masalah scene bagian akhir, shira gak ada maksud qo..
Bener deh, shira gak punya maksud mao buat cerita yg 'syur-syur' gitu.. sueerr…(_)v
Shira kan tipe Lolli Shotta kayak honey-chan gitu…:3
*ditimpukkin para tokoh*
Shira mau ucapin makasih banget.. buat yg udah review..
Makasih yaa…!!! Udah ikutin cerita shira sampe chapter 4..!!
Enam jempol buat semua…..('_)dddddd
Shiraland sesi balas pesan
Chubby Chu: "ekk.. ek.. go, gom-men.. shi-ra gak bi-sa ub-bah ekk.. cer-ri-ta.. tap-i, ekk.. Chu-chan bac-a ter-us ya.. ekk.. shira, gak bis-a nap-uas.." (kaya orang keracunan..)
Fusae Deguchi: "gomen.. shira gak bisa jawab.. ikutin terus ya ceritanya.."
Yukino Hitohira: "pasti shira kurangin.. waahh… mengganggu ya?? Gomen deh, shira emang jayus orangnya..(tapan, jayus apa ya?)
Aoi no Tsuki: "iya deh, nanti shira lebih perhatiin lagi.. ditingkatin apanya nih?? biar sasu tambah parah atau cepet mati??*ditendang sasu fc*
Uchiha Nata-Chan: "udah dari awal kok.. iya nih, shira udah ganti.."
Inuzuka Eun Yufa: "aduh.. sakit Yufa-chan, masa shira digeplak.. iya deh, makasih ya.."
Namikaze Reisen: "gyaaaa!!! Baka teme dasar!!! Aku tidak takut!! Akan kulawan dengan seluruh anggota akatsuki..!! om yashiro kan pamanku, nanti kau bisa dibunuhnya lho!! Jangan macam-macam ya, me..!!"
Wah, wah, kalo diperhatikan semua menikmati cerita shira, nih..:)
Arigato bgd yuaahh.. tapi semua belum bisa diduga-duga loh..
Osh!!! Ikutin aja ceritanya yoo….XD
