Chapter 5 update!!!

Gyaaa!!! senangnya hatiku…(*-*)

Chapter 5

Author: Shira Kusanagi-chan..

Disclaimer: om Masa-Kishi.. yang s'lalu di hati..

Warning: shonen-ai, gaje, chara-ded,

Pairing: SasuNaru, SaiNaru,

Shira-kus present..

Tererererererererererertt….

(happy bread..)


The End of This Story


Keesokkan harinya, waktu pulang sekolah..

"Ayo!"

"Eh? sekarang?"

"Besok. Ya sekarang, dobe!"

"Tapi aku belum makan.."

"Di rumahku banyak makanan."

"Eh.. Hore..!!"

"Cepat ke mobilku."

"Baik!!"

Naruto segera mengikuti Sasuke yang sedang berjalan ke arah mobil di samping lapangan. Dia membuka pintu mobil dengan santainya, duduk didalamnya sambil bersiul ria dan menyalakan radio seenak kumisnya. Tapi tanpa Naruto sadari, beratus-ratus pasang mata sedang mengamatinya. Pandangan sirik penuh kebencian dari para gadis-gadis yang ada di lingkungan sekolah itu.

"Susah payah kami bersaing demi bisa menaiki mobil itu berdua bersama Uchiha-sama, dengan mudahnya direbut oleh seorang lelaki seperti dia..?" itulah kira-kira batin mereka. Malah ada yang tampaknya lebih 'keji'. Yaah… bahasa anak-anak jaman sekaranglah.

Sasuke pun memutuskan untuk segera meninggalkan daerah yang sebentar lagi akan berubah menjadi dangerous area itu.

Selama perjalanan, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sasuke tetap menyetir tanpa suara dan Naruto asik mendengarkan musik sambil melihat ke arah luar jendela. Tapi Naruto agak bosan juga dengan situasi tersebut. Dia mencoba untuk membuka pembicaraan dengan si supir.

"Teme, kelihatannya kau tidak akrab dengan Sai.." ucap Naruto.

"Lalu?" tanggap Sasuke.

"Mm… cobalah berteman dengannya.." Naruto menatap Sasuke lekat.

Sasuke hanya diam dan memfokuskan matanya ke arah depan.

"Sungguh, aku ingin kalian berteman baik.." lanjut Naruto.

"Jangan mengaturku, dobe." ketus Sasuke.

"Apa kau tidak mau mendengarkan kata-kataku??" Naruto agak kesal dengan sikap Sasuke.

"Selama itu ada hubungannya dengan dia." Sasuke tetap stoic.

"Ahh.. padahal aku ingin kau akrab dengannya.." Naruto memanyunkan bibirnya.

"Jangan bercanda."

Tin..tin..

Mobil Sasuke sudah tiba di depan gerbang rumah Uchiha. Pagar dengan cat berwarna putih itu perlahan-lahan terbuka. Di sisi lain, Naruto mulai berkeringat dan ingin menangis.

"Teme, jangan jauh-jauh dariku.." pinta Naruto sambil memegang tangan Sasuke.

"Hn."

Mereka pun keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah besar itu. Baru beberapa dekameter melewati pintu utama, mereka sudah disambut dengan sapaan.

"Lama sekali kalian.."

Deg!!

"Ah.. I-Ita-nii.. sudah menunggu sejak tadi, ya??" Naruto hampir saja salto 3 putaran mendengar suara Itachi barusan.

"Kalian tahu, aku bosan menunggu."

Deg!!

"Hii… Uchiha memang tak bisa di remehkan." batin Naruto.

"Maaf.. tadi aku menengok temanku dulu yang sedang sakit di sekolah.." Naruto berusaha untuk menyelamatkan nyawanya.

"Aku tidak peduli."

Jleb!

"Gyaaa!!! dia benar-benar kakak Sasuke!!!" batin Naruto.

"Lebih baik kau jelaskan padaku tentang perbuatanmu pada Sasuke."

"Glek! maaf Ita-nii, aku tidak sengaja.."

"Jangan pikir aku akan memaafkanmu."

"Huweee… dia lebih menyeramkan daripada teme.. Teme, tolong aku.." batin Naruto menangis.

"Semua alasanmu itu tak berguna bagiku."

"……" Naruto tidak tahu harus berkata apa. Sudah hampir tergenang matanya dengan air.

"….. sekarang aku minta padamu,, pergi.."

Deg!

"Ta-"

"Pergi ke halaman belakang dan pangkas semaknya sampai rapi.."

Siiiiing-

"Eh?"

"Sasuke, temani Naruto ya.." Itachi tersenyum.

"Ita-nii, lalu yang tadi?" tanya Naruto kebingungan.

"Maaf ya kalau kau ketakutan.." jawabnya sambil tersenyum.

Naruto masih dalam keadaan memproses apa yang sedang terjadi, bisa dikatakan bengong.

Di halaman belakang rumah Uchiha

"Aku kira, Ita-nii akan membunuhku.." ucap Naruto sambil memangkas semak-semak di hadapannya.

"Kau benar-benar tertipu, dobe?" Sasuke ikut membantu Naruto dengan menghabiskan minumannya.

"Ya iyalah, teme!! Berhenti menghabiskan minumanku!!" bentak Naruto sambil menunjuk Sasuke dengan gunting rumput.

"Padahal dia belum memperlihatkan wajah aslinya. Tapi kau sudah ketakutan begitu." Sasuke menghentikan ritual minumnya.

"Eh? jadi dia yang asli lebih dari yang tadi??"

"Lebih dari aku yang bahkan kau saja tidak bisa membayangkannya."

"Glek! kau pernah mengalaminya??"

"Dulu saat aku sakit karena memotong nadiku."

"EH?! bunuh diri?! Kau kenapa sih, teme?!"

"Itu hanya masa lalu, jangan tanya."

"……"

"Itachi mendorongku ke tembok dengan sekuat tenaga, mengangkat kerah bajuku tinggi sampai kakiku tak menyentuh lantai, dan dia hampir mencekikku."

"Sou ka..?"

"Waktu itu umurku masih 13 tahun dan aku baru keluar dari rumah sakit."

"Lalu apa yang terjadi?" Naruto sangat penasaran dengan cerita Sasuke.

"Entahlah.. ketika aku sadar, aku sudah berada di atas kasurku."

"Apa yang kau rasakan ketika melihat kakakmu seperti itu, teme?"

"Takut. Hanya dengan melihat matanya, aku seperti merasakan ketakutan yang amat sangat dalam diriku. Tubuhku kaku tak bisa bergerak, nafasku tercekat di tenggorokkan, mataku tak bisa kukedipkan sama sekali."

Naruto menatap Sasuke yang sedang menyentuh keningnya. Perasaan iba dan terkejut bercampur dalam hatinya.

"….. Ita-nii hebat, ya.. Dia memiliki mata yang begitu cantik namun sangat mematikan.."

"…… hn." singkat Sasuke sambil menenggak habis minuman Naruto.

"Gyaaaa!!! Minumanku!!! Dasar baka-"

"Naruto, Sasuke! lebih baik makan dulu.." Itachi muncul tiba-tiba dari dalam rumah.

"Eh? tapi belum selesai.." Naruto menunjuk semak-semak –tak karuan bentuknya- yang sedang dia 'rapikan'.

"Tidak apa.. tadi aku hanya bercanda.." Itachi mengeluarkan senyum innocentnya.

"Bercanda saja sampai membuatku ketakutan setengah mati.. Bagaimana kalau aku jadi teme waktu itu, ya?" batin Naruto sweatdrop. Tapi dia tetap mengikuti naluri hewannya yang sedang kelaparan, menuju ke meja makan.

#$%^&*(??)

"Sasuke.. disini gelap.. aku kenapa??"

"Kau tidak apa-apa, Naruto.."

"Kau bohong!! Kenapa semuanya hitam?? Kau, kau dimana??"

"Aku disini.. disampingmu.."

"Dimana.. hiks,, aku.. uhuhu.. aku tidak bisa melihat, Sasuke.. Tanganku, kakiku,, tidak bisa ku gerakkan.. huhuhu.."

"Disini.. kau bisa merasakan genggamanku??"

"Ya.. tapi.. uhuhuhu… aku tidak bisa melihat wajahmu sekarang.. aku.. hiks,, aku tidak tahu.. matahari atau bulankah yang sedang bersinar sekarang.. aku.."

"Tenang Naruto.. tenanglah.."

"Tapi.. hiks,, mataku, tubuhku.."

"Aku yang akan menggantikan semuanya.. aku janji.."

"Hiks,, ben-ar, Sas-ke??"

"Aku janji.."

"………. Trima ka-sih, Sas-ke. Ska-ang ku –dah mat-i, ta- bis-a men-eng-ar da bi-c-ar-a.. Kus-erah-ka sem-wa pa-d-mu.."

"Kau harus sembuh.. jangan bicara seperti itu.. jangan.."

"JANGAN!!!"

Sasuke's pov

……

Oreta awai tsubasa

Kimi wa tsukoshi

Aousugiru sora ni tsukareta dake sa

Mou dareka no tame ja nakute

Jibun no tame ni waratte ii yo-

Pip!

"Mimpi??" batinku setelah mematikan alarm.

"Ya.. tadi hanya mimpi.. syukurlah.."

Segera aku berdiri dan kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Nyawaku memang masih belum terkumpul seutuhnya, tapi kupaksakan diri memutar knop shower untuk membasahi tubuhku dengan air.

"Mimpi yang menakutkan.." ucapku.

Teringat lagi olehku beberapa kepingan mimpi yang menghantuiku tadi. Semuanya terasa begitu nyata dan menyakitkan. Aku tidak sanggup melihat Naruto dalam mimpiku. Sinar terang matanya seolah redup oleh kegelapan. Senyuman hangat yang biasa ia pamerkan lenyap terhapus oleh kesedihan. Dan wajahnya yang selalu cerah tampak kelabu termakan oleh kematian.

Hey! Tunggu dulu! Kok kematian, sih?! Apa-apaan aku ini!! Jangan berpikiran seperti itu, ok! Naruto baik-baik saja dan saat ini dia sedang bersiap untuk pergi dengan Sai. Akan kupukul diriku sendiri jika berani memikirkan hal aneh tentang Naruto.

………

Sai? Oh iya, Selasa lalu dia bilang kalau dia akan pergi dengan Sai ke toko buku hari ini. Menyebalkan! Kenapa dia tidak minta kutemani saja?! Bagaimana kalau Sai melakukan hal yang macam-macam padanya?? Tidak akan kubiarkan!

End Sasuke's pov

Naruto's pov

Ku ambil sneakerku dari lemari. Ku pakaikan segera ke badanku. Setelah selesai dengan pakaiannya, ku ambil dompet yang tergeletak di atas kasurku lalu ku masukkan ke dalam tas. Sebenarnya agak setengah semangat aku melakukan itu semua. Ini gara-gara mimpi yang sangat-sangat aku tidak suka. Mood ku jadi buruk kalau mengingat mimpi itu.

Dalam mimpi itu aku melihat Sasuke.. Dia bilang padaku, dia sudah tidak kuat lagi menghadapi penyakitnya. Dan dia seenaknya pergi meninggalkanku di pinggir jalan yang bahkan aku tak tahu itu dimana. Di mimpiku, dia tetap bertampang stoic dan cool. Tapi yang membedakan adalah, dia menangis di hadapanku. Dia biarkan air matanya mengalir di pipinya yang putih. Ketika aku bertanya padanya, dia pergi begitu saja.

Ghaaa!! Kenapa aku jadi mengingatnya lagi, sih?! bikin aku geram tahu!!

"Naruto.. cepat turun!" teriak paman Iruka dari bawah.

"Iya, sebentar.." sahutku. Segera ku ambil kaos kaki dari lemariku dan membuka pintu kamar.

"Pagi pam- huwaaa!!!"

Brak! Bruk! Prang! Desh!

"Aduh.. hati-hati dong, Naruto.."

"Pasti aku jatuh lagi dari tangga.." pikirku.

"Aww!! ini salah tangganya, paman!" elakku.

"Mana mungkin!! Kau bisa berdiri?" tanyanya sambil memegangi lengan kananku.

"Aku tidak akan terluka hanya karena jatuh dari tangga!" ucapku sombong.

"Hm.. iya, kau ini kuat seperti ayahmu 'kan?" balasnya.

"Hehe.. itu paman tahu.." jawabku nyeleneh.

Segera aku berjalan menuju meja makan yang hanya berjarak 5 meter dari tempatku jatuh. Paman mengikutiku di belakang sambil membawa segelas cokelat panas.

"Paman, kau ingat tentang hadiah yang paman berikan padaku? Yang dari ayah itu.." tanyaku.

"…….. ya, memang kenapa?" tanyanya balik.

"Apakah bisa berfungsi?" tanyaku lagi.

Mendengar pertanyaanku barusan, paman terdiam lalu meletakkan sumpit yang sedang dipegangnya.

"Iya." jawabnya.

Aku agak heran melihat ekspresinya.

"Asal kau percaya.." lanjutnya lagi.

Ku tatap lekat-lekat wajah paman yang menyendu. Ku pikirkan dalam-dalam hal yang barusan paman ucapkan, tentang rasa percaya. Kepercayaan. Begitu besarkah maknanya sampai bisa membuat sebuah keajaiban? Seberapa besarkah rasa percaya yang sedang ku rasakan saat ini? Andai rasa percaya itu bisa ku lihat dan ku sentuh dengan tanganku, aku pasti bisa tahu seberapa percayakah hatiku dengan harapan. Harapan demi cinta.

"Cepat habiskan makananmu! Kau punya janji dengan temanmu, kan?" ucapan paman membuyarkan lamunanku.

"Gyaaa!!! Sudah jam segini?!" segera ku habiskan makananku dengan kecepatan tinggi.

End Naruto's pov

Sai's pov

Cuaca yang cukup sejuk di akhir pekan. Matahari tak terlalu terik, semilir angin lembut menerpa wajah, dan kicauan burung yang saling bersahutan menambah kenikmatan tersendiri bagi orang-orang yang sedang melepas lelah akibat bekerja. Di taman kota, aku terduduk di bangku taman. Sambil menunggu orang yang special, aku memutuskan untuk mengeluarkan pensil dan buku sketsa dari tasku. Mulai ku goreskan pensil ini di atas kertas sesuai kehendakku. Tidak butuh waktu lama, hampir setengah jadi gambar pemandangan kota yang baru beberapa saat lalu ku buat ini.

"Sai..!! Lama nunggu, ya??" muncul laki-laki yang menjadi tujuanku datang ke taman ini. Dia Uzumaki Naruto, ssstt.. he's my first love..

"Tidak.. aku baru tiba.." jawabku sambil tersenyum padanya.

"Emm.. lagi gambar, ya? Gambar apa? Lihat dong!"

"Bukan apa-apa, hanya gambar biasa.."

Set!

"Wah.. gambarmu bagus, Sai..!! kau jago gambar, ya?"

"Tidak juga.. Lalu, kita mau kemana?" aku mengalihkan pembicaraan agar rona merah tidak muncul di wajahku. Wajah polosnya barusan, terlihat kagum dengan gambar buatanku. Aku senang sekali!

"Ke toko buku, Jangan! Aku mau melihat-lihat kota ini dulu, gak apa-apa kan, Sai?" tanyanya sambil tersenyum lebar.

"Kemana pun aku mau, asal bersamamu.." kataku, terdengar seperti sebuah 'lamaran'.

Dia agak terdiam sebentar mendengar ucapanku barusan. Aku tahu, dia pasti akan berekspresi seperti itu. Segera ku keluarkan senyuman 'hangat' untuk mencairkan suasana. Dan ternyata berhasil. Dia membalas senyumanku dengan sebuah cengiran lebar khasnya.

"Baiklah!!" seru Naruto.

Di pusat kota..

Setelah beberapa jam kami berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di kedai ramen. Makanlah bahasa kasarnya. Dengan seksama ku perhatikan tingkah lucu orang di sebelahku ini. Sudah 4 mangkuk yang tertumpuk di hadapannya. Dan sekarang dia sedang menghabiskan yang kelima.

"Kau mau kubayarkan, Naruto?" tanyaku.

"Mm.. hak huhah hai,, hial ahu hang hayal hehili.." jawabnya dengan mulut penuh mie.

"Apa?" tanyaku lagi. Omongannya tadi benar-benar tidak bisa ku pahami.

"Mm.. glek! Gak usah, biar aku yang bayar sendiri.. makasih! kau kan sudah menemaniku.." jelasnya setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.

"Oh.. sama-sama.." balasku.

"Habis ini ke toko buku, ya.. sudah jam 3!" pintanya.

"Iya.. cepat habiskan makananmu.." perintahku sambil tersenyum.

Setelah meninggalkan kedai ramen, kami naik bis untuk segera tiba di toko buku tujuan awal kami. Di dalam bus yang bisa dibilang cukup kosong itu, sengaja kupilih tempat duduk paling belakang dengan alasan aku bisa mabuk kalau tidak duduk di belakang. Naruto pun hanya menurut saja. Dia tidak sadar kalau bukan itu alasan sebenarnya.

"Mau duduk dimana kau..?" pikirku.

Pukul 17.00, di bangku taman kota..

"Makasih, Sai.." ucap Naruto padaku.

"Sama-sama.." balasku.

Ku perhatikan orang yang terduduk di sebelahku ini. Dia sedang asik melihat-lihat buku yang baru ia beli di toko buku. Ku pikir inilah saatnya..

"Naruto.. ada yang ingin aku sampaikan padamu.."

"Apa??" tanyanya padaku.

"Sebenarnya,, aku sudah menyukaimu sejak kau pindah ke sekolah dulu.." jawabku to the point.

"…… yang benar??" tanyanya lagi.

Aku mengangguk pasti, tak lupa mengeluarkan senyumku padanya.

"Aku juga sangat menyukaimu, Sai..!!" serunya padaku.

"Sesuai rencana.. Dia pasti tahu.." batinku.

"Kalau begitu, bolehkah aku mencium pipimu??" aku tertawa kecil.

"Haah?? Gak usah segitunya kan??" protes Naruto.

"Tidak masalah, kan??" ku coba untuk meyakinkannya.

"Hmm… boleh deh, tapi pipi aja, kan??" selidiknya. Kubalas dengan senyuman. Naruto terdiam sambil memandang ke depan, menanti ciumanku mendarat di pipinya. Perlahan ku dekatkan bibirku ke pipinya. Sengaja ku ulur waktu untuk memancingnya keluar.

"Naruto!!!"

Naruto yang terkejut segera menolehkan kepalanya ke sumber suara. Aku masih terdiam tanpa menoleh. Aku tak bisa menahan sebuah senyuman keluar dari wajahku. Rencana sukses!

"Sa, Sasuke?! Sedang apa disini??" Naruto agak tidak percaya dengan kehadiran Sasuke.

"Ada Uchiha, ya? Sejak kapan??" tanyaku pura-pura terkejut.

"Brengsek kau, Sai! Kau tahu kan kalau aku mengikuti kalian?!" tuduhnya padaku, tebakan yang tepat, sih.

"Kalau aku tahu, aku sudah mengajakmu bergabung, kan..?" tanyaku dengan tampang biasa.

"Tunggu dulu!! Jadi kau mengikuti kami berdua?! Kau mau jadi stalker, ya?!" bentak Naruto tidak percaya.

"Uchiha terpojok.." sebuah senyuman kemenangan tersungging di wajahku.

"Aku ingin melindungimu! Dia ini beracun!" tunjuknya padaku.

"Beracun?! Kau gila, teme! Sai itu temanku!" seru Naruto.

"Lalu barusan?! Dia nyaris menciummu!!" seru Sasuke tak mau kalah.

"Dia begitu karena dia suka padaku! Wajar dong, sebagai teman!!" balas Naruto.

"Kau bodoh, Naruto!!" Sasuke segera menarik tangan Naruto dan membawanya pergi. Aku tidak tahu kemana, tapi yang pasti, aku senang karena rencanaku berhasil. Haha.. aku memang jahat.

End Sai's pov

Normal's pov

Sasuke terus menarik tangan Naruto tanpa tujuan. Ditengah senja yang merah, warna air di dalam danau yang tepat berada disebelah mereka pun berubah. Menambah keindahan dengan riak-riak air danau yang terus menari. Tapi Sasuke tidak peduli dengan pesona itu dan semakin menggenggam tangan Naruto erat.

"Teme, lepas!!" Naruto mencoba untuk menarik tangannya.

"Tidak akan!" jawab Sasuke.

"Kau ini kenapa, sih?!" tanya Naruto.

Sasuke melepaskan tangannya dan berbalik menghadap Naruto.

"Aku cemburu!! Puas, kau?!" bentak Sasuke.

Naruto hanya terdiam. Dia terlalu takut untuk melawan Sasuke yang saat ini benar-benar terlihat memancarkan kemarahan dari kedua matanya.

"Ta, tapi dia tidak sampai menciumku, kan?!" Naruto mencoba membela diri.

"Ku harap telingaku ini yang salah mendengar kalau kau juga menyukainya!"

Naruto menyerah. Dia tidak bisa membantah ucapan Sasuke lagi. Baginya, saat ini Sasuke seperti anak kecil yang sedang merengek dan tidak bisa dibilang 'tidak'.

"Percayalah Teme, aku hanya menganggapnya teman, tidak lebih.." ucap Naruto.

"Sudahlah! Lebih baik kita pul- Hk!! Uhukk!! Uhukk!!"

"Sasuke!!"

"Ohokk!! Ohok!! Hh.. hh.. jangan sentuh!"

Sasuke menarik diri dari Naruto dan tidak berani melepaskan telapak tangannya dari mulutnya. Dia yakin, noda merah pasti tergambar jelas di tangannya, bahkan bibirnya.

"Sasuke, mulutmu.."

"Aku tidak apa-apa, dobe.." Sasuke segera mengelap bibirnya dengan sapu tangan yang dia punya.

"Menurutku tidak.."

"Aku.. yang tahu tubuhku, hh.. bukan kau!" elak Sasuke.

"Biar kubantu-"

"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" Sasuke meninggalkan Naruto yang terdiam dibelakangnya. Dia tidak mempedulikan perasaan Naruto yang prihatin atau terluka melihatnya barusan. Sasuke merasa, saat ini lebih baik kalau mereka tidak berdua dulu. Lebih baik, Sasuke meninggalkan Naruto terlebih dahulu dan mendinginkan kepalanya. Dia pun menolehkan kepalanya ke arah Naruto untuk meminta izin pulang padanya.

"Lebih baik kau pulang sendiri, Naru.."

Byurr!!

"Naruto!!" Sasuke berlari ke arah danau tempat Naruto tercebur. Dan karena danau ini adalah danau buatan, antara bibir danau dan tanah hanya dibatasi oleh dinding semen. Dan kedalaman danau ini rata, seperti kolam. Inilah yang sangat membuat Sasuke khawatir. Dia takut Naruto tidak bisa berenang dan akhirnya..

Byurr!!

Sasuke menceburkan dirinya menyusul Naruto. Air danau yang jernih sangat memudahkannya dalam menemukan sosok Naruto. Setelah berhasil membawa Naruto ke dalam pelukkannya, Sasuke menggeletakkan tubuh Naruto di pinggir danau.

"Naruto.. sadarlah.. kau kenapa?" Sasuke mencoba membangunkan Naruto, tapi percuma. Naruto sama sekali tidak memberi jawaban.

"Tidak mungkin dia.. Dia tidak terlalu lama berada di air.. Lalu kenapa dia tidak sadarkan diri? Kenapa kau tiba-tiba terjatuh ke dalam air, Naruto??" Sasuke nyaris mengeluarkan air matanya. Dia tidak melihat sama sekali Naruto membalas pertanyaannya ataupun menggerakkan tubuhnya seujung jaripun. Mata birunya, menutup seutuhnya.

"Rumah Sakit! Aku harus membawanya ke Rumah Sakit segera!"

#$%^&*(??)

Rumah Sakit Konoha..

Sasuke terduduk di kursi ruang tunggu sendiri. Malam itu suasana Rumah Sakit memang ramai, banyak orang lalu-lalang didepannya. Tapi Sasuke tetap merasakan kesepian dan kekosongan di ruangan itu. Satu yang dia tunggu saat ini, keluarnya dokter yang sedang menangani Naruto.

Cklek!

"Dokter! Bagaimana keadaannya?!" tanya Sasuke cepat.

"…… bagaimana, ya? Aku tidak tahu harus mengatakan apa.." jawab sang dokter.

"Maksud anda??" tanya Sasuke lagi.

"…… dia koma."

Deg!

Bagai mendengar suara dentuman yang amat keras, Sasuke merasa kedua kakinya tak bertenaga. Tubuhnya seperti kehilangan kendali dan nyaris jatuh. Pikirannya kosong. Udara seperti menghilang dari sekitarnya. Dia masih tidak percaya dengan yang di ucapkan dokter itu barusan. Dia harap telinganya salah mendengar atau dokter ini salah bicara.

"Anda salah, kan?? Dia tidak mungkin koma tanpa sebab, kan?!" teriak Sasuke.

"Aku juga tidak tahu sebabnya.. tidak ada bekas benturan di kepalanya. Tapi yang pasti, kita tidak bisa memastikan dia hidup atau tidak sekarang.." jelas sang dokter.

Robohlah semua kekuatan Sasuke. Berbagai pikiran buruk telah menghantui pikirannya. Bibirnya berubah menjadi pucat dan keringat dingin mulai bercucuran dari kulitnya. Dia ingin sekali menangis, tapi matanya terlalu kosong untuk mengeluarkan air.

"Kau, kau Uchiha kan? Uchiha Sasuke.." tanya sang dokter.

………

Sasuke tak merespon. Dia hanya terus menatap dinginnya lantai tanpa berkedip. Seluruh panca indera yang ia miliki sekarang tidak berfungsi sama sekali.

"Aku yakin dia memang Sasuke.. tapi kenapa dia tidak ingat padaku, ya?? Apa aku memang selalu dilupakan?" batin sang dokter, sedih.

Sang dokter pun memutuskan untuk meninggalkan Sasuke yang terdiam. Dia paham, Sasuke saat ini sedang membutuhkan waktu untuk sendiri dan menenangkan pikirannya.

"Tenangkan dirimu dulu, Sasu-"

"Apa aku bisa menemuinya sekarang, Kakashi?" tanya Sasuke tiba-tiba.

Sang dokter yang baru beberapa langkah berjalan, menghentikan langkahnya karena merasa namanya dipanggil.

"Ya.." jawab dokter Kakashi.

Pukul 20.35, di Rumah Sakit Konoha..

Pip…pip…pip…pip…

Suara mesin itu terus menggema di seluruh ruangan. Tak ada suara lain yang terdengar, kecuali hembusan nafas dari 2 orang manusia yang sedang terdiam di dalam kamar itu. Naruto yang saat ini sedang 'tertidur' dan Sasuke yang sedang terdiam menatapnya. Pemuda bermata onyx itu terus menatapi wajah pemuda pemilik mata biru langit yang kini masih tertutup itu. Mata onyxnya layu, seolah tak memperlihatkan lagi bahwa raganya masih memiliki jiwa.

"Bukalah matamu.. perlihatkan warna biru yang indah itu padaku.." pinta Sasuke sambil menggenggam tangan Naruto erat.

"Aku menyesal.. maafkan aku.. Aku sudah membentakmu.." Sasuke terus memohon sambil menciumi tangan Naruto yang mendingin.

"Jangan pergi.. aku tidak mau ucapan kasarku tadi menjadi salam perpisahan.. aku tidak mau! uhuhu.." keluarlah air dari kedua mata Sasuke. Air mata yang menurutnya sangat panas dan perih.

"Naruto!" muncul seorang pria berkuncir satu secara tiba-tiba. Jelas sekali kekhawatiran tergambar di wajahnya.

"Maaf, bagaimana keadannya??" tanyanya agak memaksa.

"Belum ada perkembangan.." jawab Sasuke sambil menghapus air di pelupuk matanya.

"………… Aku Iruka, paman Naruto." dia mengulurkan tangannya ke arah Sasuke.

"Uchiha Sasuke." balas Sasuke.

"Terima kasih karena sudah menjaga Naruto.. kalau kau lelah, kau boleh pulang.. biar Naruto aku yang menjaganya.."

"Tidak, aku akan tetap disini.."

Iruka menatap Sasuke lekat. Dia melihat keseriusan dari ucapan Sasuke barusan.

"Baiklah.. kalau begitu aku titip Naruto sebentar, aku mau membeli makanan dan barang-barang yang diperlukan.." Iruka meraih knop pintu.

"Hn."

Kamar itu kembali sepi. Sasuke pun menggenggam tangan Naruto sekali lagi, berharap agar tangan itu akan sedikit lebih menghangat. Tapi sayangnya, perubahan sama sekali tak dirasakan Sasuke. Tangan Naruto tetap dingin.

"Permisi.. Sasuke, Naruto," ucap seorang pria sambil membuka pintu.

"Aniki... Aniki!!" Sasuke segera menghampiri orang yang baru tiba tersebut dan langsung memeluknya.

"Aniki.. uhuhu.. aku takut! Dia 'hilang'begitu saja.. uhuhu.. aku, aku memakinya.. aku menyesal.. uhuhu.." Sasuke menangis cecugukan di dalam pelukannya. Dia sudah tidak kuat menahan pikiran dan penyesalan dalam batinnya.

"Sstt.. tenanglah, Sasuke.. dia tidak akan pergi meninggalkanmu.. berdoalah agar dia cepat terbangun dari tidurnya.."

Sasuke melepas pelukannya dan mengangguk lemah. Dia kembali ke tempat duduknya dan masih tetap bertahan menggenggam tangan Naruto.

Triiing..triiing..

Pip!

Itachi membaca pesan masuk di handphone miliknya. Ekspresi senang sedikit terlihat di air mukanya.

"Sasuke, aniki pergi dulu sebentar.. nanti aniki kesini lagi.." ucapnya sambil meraih knop pintu.

"Hn."

Area parkir Rumah Sakit Konoha..

"Itachi! Kau Itachi, kan?" tanya seseorang dari arah belakang Itachi. Itachi yang hendak membuka pintu mobilnya pun menghentikan aktivitasnya.

"Dokter Kakashi?! Lama tak bertemu, ya.." balas Itachi.

"Haha.. benar, hampir 3 tahun.. Tadi aku juga bertemu dengan adikmu."

"Dia tidak berubah, ya? Tetap dingin.."

Kakashi mengangguk kecil.

"Kakashiii… mari kita pulaaang…"

Tiba-tiba muncul seorang pria langsung memeluk Kakashi dari belakang. Wajah pria itu cukup manis dan sepertinya dia orang yang ramah.

"Ah! Obito, kenalkan dia Itachi.. Apa kau dekat dengannya?" tanya Kakashi.

"Aaah… Itachi?! Kau Itachi?! Lama tak bertemu ya, sepupu..!" pria yang dipanggil Obito ini langsung mendekati Itachi.

"Obito?! Kenapa kau ada di Konoha?? Kau tinggal di Iwa, kan?" tanya Itachi.

"Tanya saja orang ini.. dia yang memaksaku untuk pindah kesini!" jawabnya sambil melirik Kakashi.

"Lalu, kau tinggal dimana?" tanya Itachi lagi.

"Dengannya.." Obito menunjuk Kakashi tanpa ragu. Benar-benar orang yang ceroboh. Kakashi dan Itachi hanya bisa sweatdrop bersama.

"Sewaktu di Iwa dulu, aku berteman dekat dengan pacarmu! Deidara, kan?"

"Kau.. tahu?? Emm.. saat ini, aku baru mau menjemputnya di bandara. Dia akan tinggal disini." jawab Itachi dengan sedikit rona merah muncul di wajahnya.

"Wah, wah, maaf ya, mengganggu.." ucap Kakashi.

"Tidak apa.."

"Kalau gitu, kita pulang dulu, ya.. Kapan-kapan main ke apartemen Kakashi, Itachi.." pinta Obito.

"Ya.. nanti ku ajak Sasuke sekalian.."

"Aaahh… Sasuke?! Senangnya..!"

"Bye, Itachi.." Kakashi berjalan menjauh.

"Ka, Kakashi!! Tunggu!! Jaa, sepupu!"

Itachi hanya tersenyum melihat Obito menjitak pelan kepala Kakashi dan dibalas rangkulan hangat oleh Kakashi.

"Dari dulu mereka tetap cocok, ya.." Itachi membuka pintu mobilnya dan segera menyalakan mesin.

#$%^&*(??)

Pukul 8.25, keesokan harinya..

"Sasuke, kau tidak tidur semalaman??" tanya Iruka yang baru saja kembali dari kamar mandi.

"Hn."

"Astaga.. lebih baik sekarang kau istirahat. Biar Naruto aku yang jaga.."

"Tidak, aku tidak mau."

"Sasuke! aku tidak mau kau ikut sakit gara-gara hal ini.."

"Aku tidak akan sakit."

"Kau harus pulang!"

"Paman! Aku mohon.." Sasuke menatap lemah Iruka sambil terus memegangi tangan Naruto. Hampir saja Iruka menangis melihat kesungguhan Sasuke sampai seperti ini. Dia juga tidak kuat melihat Naruto yang tidak kunjung membuka matanya.

"Kalau begitu.. aku mau membeli minuman dulu.." Iruka segera meninggalkan kamar itu dengan harapan, dia tidak menangis lagi.

Cklek!

Sasuke kembali menatapi wajah Naruto yang masih membeku. Tangan yang kini ia genggam masih sedingin sebelumnya. Dia cium tangan tan itu dengan lembut, seolah hendak membagi kehangatannya dengan orang yang sangat dia sayangi itu.

"Menghangatlah… aku mohon."

.

.

Tbc

Shiraland

maaf,, shira gak bisa kasih commen.. *sujud di kaki reader*

sampe ketemu di chp6...:)