Chapter 6 is update!!! Sankyuu~
Disc: andai om masa-kishi itu omku, pasti aku bahagia..
Author: orang yang sering berubah-ubah kepribadian, tergantung situasi dan kondisi.
Warn: shonen-ai, ooc, gaje, dan entah kenapa.. hal yang Shira takutin mulai menjadi nyata, yaitu.. Shira rasa fic Shira ini mulai agak mirip-mirip dengan sinetron yang amat Shira tidak suka… Menurut para reader gimana??
I'm Fujoshi
Shirakus present,
Tererererererereret……
(happy bread..)
The End of This Story
Masih di kamar itu, suasana tetap sama tak berubah. Suara mesin yang saling bersahutan, detik jam yang terus berkejaran, dan helaan nafas dari dua insan yang berirama. Sasuke dan Naruto.
"Hangatlah.. aku janji tidak akan pergi sampai kau kembali.." Sasuke semakin mengeratkan genggamannya. Dia kuatkan hatinya untuk melawan rasa lelah yang melanda dirinya. Dia tidak mau kehilangan momen-momen saat Naruto membuka matanya nanti. Dia takut akan kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Naruto lagi.
"Leherku, pegal sekali.." gumam Sasuke. Sekuat apapun dia bertahan, dia tetap tak kuat menahan beban di tubuhnya yang semakin parah itu. Tidak tidur dan tetap bertahan pada posisi duduk tak bersandar seperti itu semalaman, pantaslah.
"Mungkin dengan menyandarkan kepalaku sebentar, rasa pegalnya akan hilang." Ia pun meletakkan kepalanya di atas lengan kanannya. Tanpa maksud, hanya untuk menghilangkan pegal di lehernya. Tapi sayang, matanya ikut terpejam akibat rasa nyaman itu. Dia pun tenggelam dalam alam bawah sadarnya.
………
"Mm.. emm.. hh…"
"Aku.. dimana..?" tanyanya setelah mengusap-usap kedua matanya yang perlahan menampakkan warna biru cerah.
"Baunya, rumah sakit.. Aduh, badanku kaku-" gerakan pemuda itu terhenti ketika ia sadar ada sesuatu yang menahan tangannya, kuat.
"Apa? Kulit putih, rambut biru raven.."
" Sasuke?!"
……
"Mm.." Sasuke sedikit menggeliat.
"Hangat.. Dia kembali.. Naruto…"
……
"Hah? Naruto?!"
"Ya? ya??" Naruto terkejut sekaligus bingung dengan pemanggilan namanya yang tiba-tiba oleh Sasuke.
"Apa? apa-"
Grep!
Tubuh Naruto yang masih terbujur diatas kasur itu menyatu dengan tubuh Sasuke. Semakin menyatu seiring nafasnya yang terus memburu.
"Teme.. kenapa-"
"Maafkan aku! Maaf, maaf, maaf sudah membentakmu.. aku menyesal.."
Naruto sedikit terkejut mendengar ucapan maaf Sasuke yang terlontar begitu saja. Dia tidak bisa menjawab, hanya sebuah senyuman manis tersungging di wajahnya. Dia pun membalas pelukan Sasuke, tapi tak seerat pelukan yang diterimanya.
"Hm.. Tidak apa, Sasuke.. maafkan aku juga, ya.." ucap Naruto.
Jduk!
"Aww!!"
"Dasar dobe!! Kenapa kau ini?! Kami semua khawatir, tahu!!" bentak Sasuke setelah membenturkan kepalanya ke kepala Naruto dan melepas dekapannya.
"Aduh.. sakit, teme! Memangnya aku tahu apa yang terjadi?!" omel Naruto sambil mencoba mendudukkan diri.
"…… Jangan begitu lagi, dobe! Aku takut.."
Membelalaklah mata Naruto mendengar pernyataan Sasuke barusan. Dia tidak sangka, Uchiha akan menunjukkan ketakutannya pada orang lain. Apalagi Sasuke ketakutan karena dia. Naruto jadi agak gusar sendiri. Dia hanya pergi sebentar, bagaimana kalau sudah waktunya nanti? Tapi, tidak apalah, ini demi kebaikan mereka berdua.
"Jangan takut. Aku selalu disini, di hatimu.." ucap Naruto sambil menyentuh dada bidang Sasuke.
"Jangan sok puitis." telak Sasuke.
"Sial kau, teme!" wajah tan Naruto memerah.
"Boleh aku tahu, kemana kau pergi?" tanya Sasuke sambil menyentuh tangan orang yang dia tanya itu.
"Kenapa kau tidak bertanya apa penyakitku?" tanya balik Naruto.
"Aku tidak bodoh, dobe! Kata dokter kau tidak sakit apa-apa."
"Haha… aku bertemu ayahku.." Naruto tersenyum. Jawaban yang berhasil membuat mata Sasuke membulat. Namun segera tergantikan dengan sebuah senyuman.
"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Sasuke lagi.
"Mm…"
"Sasuke-" ucapan Iruka terhenti ketika ia melihat mata biru safir itu bersinar kembali. Tepat dihadapannya.
"Na.. Naruto.."
"Ya, paman?"
Iruka hanya bisa melempar senyum ke arah anak asuhnya itu. Dia terlalu bahagia untuk berbicara dan memeluknya. Melihat pamannya datang, Naruto langsung merasa inilah saatnya berbicara dengan orang yang sudah merawatnya sedari kecil itu. Karena hanya Iruka yang bisa membantu Naruto.
"Emm.. teme, bolehkah aku berbicara dengan paman berdua saja?" tanya Naruto.
"…… hn." Sasuke pun meninggalkan kedua orang itu. Sebenarnya dia agak -bahkan sangat- ingin tahu pembicaraan apa yang dimaksudkan Naruto. Tapi, mungkin saja ini masalah keluarga yang tidak perlu diketahui oleh –orang yang tak bersangkutan- seperti dia. Dia pun memilih pergi ke kamar kecil untuk mencuci mukanya.
Sasuke's pov
Lebih baik aku pergi ke kamar mandi. Rasanya mukaku sudah sangat lengket karena air mata yang terus mengalir semalam. Jangan buat aku mengulangi kalimatku barusan!! Pegal, letih, dan rasa kantukku terbayar sudah dengan tersadarnya Naruto dari 'tidur aneh' itu. Tadi dia bilang, dia bertemu dengan ayahnya. Kira-kira wajah ayahnya mirip dengan dobe tidak, ya? Atau wajah dobe itu lebih mirip dengan ibunya? Aku jadi sedikit penasaran. Sudahlah! nanti kalau dobe pulang dari rumah sakit, aku lihat saja fotonya sendiri.
"Masih pagi. Pantas sepi sekali." gumamku sambil mendorong pintu bertuliskan 'Men'. Baru saja aku hendak memutar kran air, tiba-tiba rasa panas menjalar di tenggorokanku.
"Ohok!! ohok!!"
Sial! sakit sekali!
"Ohok!! ohok! ohok!"
Nafasku,, sesak…
"Ohok!! ohok! ohok! ohok!"
Tidak bisa berhenti.. Cairan merah ini kembali mengalir dari mulutku. Dadaku seperti terbakar. Aku seperti tidak memiliki paru-paru. Sakit.. sakit sekali.. aku hanya bisa meremas bajuku untuk mengurangi rasa sakit. Tapi itu sama sekali tidak membantu. Aku tidak bisa bernafas. Pandanganku mulai kabur. Semakin lama semakin gelap. Ya Tuhan.. tolong aku..
#$%^&*(??)
"Kondisinya parah, sudah waktunya dia harus dirawat intensif."
"Kuserahkan semua padamu, Kakashi.."
Samar-samar kudengar suara, seperti sedang membicarakan seseorang. Suara yang tak asing di telingaku. Suara ini, pasti suara aniki dan Kakashi, dokter yang dulu pernah menjadi dokter pribadiku. Tapi kenapa aku tak bisa melihat mereka berdua? Dan, apa yang terjadi padaku? Kalau tidak salah,, penyakitku kambuh di toilet tadi pagi. Jadi yang sedang mereka bicarakan itu aku. Aku tidak mau dirawat di rumah sakit! Aniki! jangan turuti ucapan Kakashi! Ayo mataku,, terbukalah!
……
"A.. niki.." sial! kenapa suaraku hanya sekecil ini?! Mataku juga tak bisa terbuka seutuhnya!
"Sasuke! Dokter…" aniki segera menghampiriku.
"Bagaimana kondisimu, Sasuke? Merasa lebih baik?" tanya Kakashi padaku.
Ayolah! Bicara yang tegas! Aku tidak mau dirawat!
"A-ku.. tidak.. mau dirawat…" ucapku dengan sangat pelan. Padahal rasanya aku sudah berteriak sekuat tenaga.
"Maaf, Sasuke.. tapi kau harus dirawat!" perintah aniki.
"Benar, Sasuke. Ini demi kesehatanmu.." sambung Kakashi.
"Aku mohon, aniki.. jangan siksa aku seperti ini.." pintaku. Dan kulihat dia sedikit terkejut mendengar perkataanku tadi. Aniki pasti tersentuh dan akan mengabulkan permintaanku.
"Tapi..-"
"Let me get the happiness in my end.." pintaku lagi sambil menyentuh tangannya. Memang kalimat yang menjijikan, tapi berhasil membuat dia speechless sekarang. Aku pasti menang.
"Tapi penyakitmu bisa kambuh kapan saja, Sasuke. Dan itu sangat berbahaya." Kakashi coba menghalangi niatku dengan keyakinan-keyakinannya sebagai dokter. Cih! mengganggu!
"Biar aku yang mengatur hidupku sendiri, Kakashi.." protesku. Dia hanya bisa speechless, sama seperti aniki.
"Kapan Sasuke bisa pulang, Kakashi..?" akhirnya, aniki menuruti permintaanku! Aku beruntung punya aniki sepertimu, Itachi.
"Yah.. sebenarnya aku lebih memilih kau disini. Tapi kalau kondisi paru-parumu sudah membaik, sore ini kau sudah bisa pulang." katanya. Baiklah! aku harus 'membetulkan' paru-paruku secepat mungkin agar aku bisa segera pulang.
End Sasuke's pov
Naruto's pov
Paman menangis. Oh, ayolah! Jangan sampai aku ikut mengeluarkan air mata.
"Paman.. jangan menangis.." pintaku seraya menggenggam tangannya.
"……"
"Paman..?"
"Aku tidak mengizinkanmu!" seru paman secara tiba-tiba. Tentu saja aku kaget mendengarnya. Sebenarnya tidak terlalu kaget juga. Aku tahu, paman itu protektif terhadapku. Jadi pasti itulah reaksinya.
"Aku mohon, paman.." pintaku lagi. Berharap agar ia mau merubah pendiriannya.
"Kau tega meninggalkanku sendiri?! Oh, baiklah! lupakan tentang rasa percaya itu! Omong kosong!!" Paman membentakku. Penuh emosi dan kekecewaan. Aku paham, aku paham. Ini pasti akan membuatnya sangat marah padaku.
"Tidak, paman.. aku sangat menyayangi paman.. Tidak ada orang lain di dunia ini yang sangat aku sayangi selain paman.." ucapku.
"Lalu,, kenapa…?"
Aku diam. Jujur, aku bingung harus mengatakan apa. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, apa paman akan percaya? Bisa saja paman malah menertawakanku.
"Biar waktu yang akan menjawabnya, paman.."
"…………"
"Paman pernah bilang kalau aku ini persis seperti orangtuaku, kan?"
"…………"
"Paman sangat mengerti mereka berdua,, pasti paman bisa mengerti aku juga, kan?"
"Kenapa kau begitu ingin menolongnya?"
Deg!
"A, aku.." Gawat! Aku harus bilang apa?! wajahku pasti sudah memerah sempurna!
"Apa dia itu lebih berarti bagimu dibandingkan aku?"
"Bukan begitu.."
"Lalu apa?!"
"……… Aku tidak sanggup melihatnya pergi.."
"Apa kau pikir dia atau aku suka melihat kau pergi?!"
"Aku tidak mau ditinggal lagi, paman!!!" akhirnya aku berteriak. Aku membentak orang yang sangat aku hormati dalam hidupku. Aku bodoh!
"Ma, maaf.. aku tidak bermaksud-"
"Kau menangis, Naruto.." ucap paman sambil mengusap air yang jatuh di pipiku. Aku tidak sadar kalau aku sampai mengeluarkan air mata. Duh, malunya.
"Siapa yang tega meninggalkanmu??" tanya paman.
"Kakek, nenek, ayah, ibu,, mereka meninggalkanku.."
"Kedua kakek dan nenekmu sudah meninggal sebelum kau lahir, kan?"
"Ya… dan hanya ayah yang meninggal setelah aku lahir. Itupun hanya satu bulan."
"Maafkan mereka ya, Naruto.."
"Aku tidak membenci mereka.. Justru aku ingin sekali bertemu dan memeluk mereka. Jujur, tadi aku langsung memeluk ayah, loh.. Yah, walaupun itu bukanlah kenyataan.."
"Mereka amat menyayangimu.."
"Ya, dan karena alasan itulah mereka meninggalkanku."
"……… Jadi karena alasan itu?"
"…… ya."
"Hh… entah kenapa, aku seperti melihat mendiang ayahmu sekarang.."
"Terima kasih, paman.." aku tersenyum puas mendengar jawaban paman. Dengan begini, aku bisa membuat semua orang yang aku sayangi bahagia.
"Aku mau pulang sore ini, bolehkan?" tanyaku.
"Melihat kondisimu yang seperti ini, dokter pasti menyuruhmu pulang." kata paman. Yah, aku cuma bisa nyengir kuda.
End Naruto's pov
#$%^&*(??)
Normal's pov
Rumah Sakit Konoha, pukul 15.34
"Aaah…. Senangnya bisa keluar! Teme! Ayo cepat!" titah pemuda pirang yang baru saja keluar dari pintu utama rumah sakit itu. Tapi nampaknya tidak digrubis oleh orang yang di maksud.
"Paman! Aku disini!" teriaknya. Kini dengan seorang pria yang sedang mengendarai mobil disana.
"Jangan berteriak, dobe! Berisik!"
"Terserah aku! Lagipula siapa yang menyuruhmu untuk ikut dengan kami pulang ke rumah?!"
"Aku yang membawamu kesini, jadi aku juga yang harus membawamu pulang."
"Huh! Alasan macam apa itu?! Paman Iruka!"
Tak terasa, mobil yang dikendarai orang bernama Iruka itu sudah tiba di depan mereka. Tanpa diberi aba-aba, kedua orang itupun masuk ke dalam mobil berwarna silver itu dan segera memberi perintah pada sang supir untuk meninggalkan area rumah sakit itu.
#Di rumah Naruto#
"Rumaaaah….. aku rinduu…"
"Norak, dobe."
"Berisik kau, teme! Kenapa sih, dari tadi kau selalu memprotes ucapanku?!"
"Mengganggu telingaku."
"Ghaaaa!!! menyebalkan!!!"
"Sasuke, silahkan masuk.. anggap rumah sendiri, ya.." ucap Iruka sambil membukakan pintu.
"Hn."
"Silahkan duduk, Sasuke. Paman mau membuatkan minum dulu."
"Maaf merepotkan."
"Teme! aku mau ke kamarku dulu, ya! Sebentar kok!" pesan Naruto pada Sasuke yang sedang duduk di sofa.
"Lama lebih baik, dobe."
"Ugh!" Naruto menggembungkan pipinya. Sasuke pun terpancing untuk sedikit tertawa, namun dia tahan.
Tinggalah Sasuke seorang diri di ruangan itu. Matanya terus mengelilingi seluruh isi ruangan bernuansa cerah itu. Kegiatannya terhenti ketika ia melihat sebuah meja yang berisikan bingkai-bingkai foto. Muncullah keinginannya untuk segera melihat wajah-wajah seperti apa yang menghiasi bingkai itu. Dia lalu bangkit dari duduknya dan segera melangkahkan kaki ke arah meja itu berada.
"Yang mana foto orangtua Naruto?" matanya masih terus menyapu permukaan meja itu. Pandangannya terhenti pada sebuah bingkai foto berwarna cokelat yang lumayan besar ukurannya. Setelah memperhatikan foto itu, dia agak tersenyum kecil.
"Kau mirip sekali dengan ayahmu, dobe. Mata indahmu itu pasti warisan dari ibumu." batin Sasuke.
"Bolehkah aku tahu apa saja yang anda bicarakan dengan anak anda, Uzumaki-san?"
"Namikaze." ucap Iruka sambil meletakkan secangkir teh di meja dan memperbaiki kalimat Sasuke barusan. Padahal Sasuke hanya berbicara dengan dirinya sendiri.
"Ah! maaf." Sasuke agak sedikit terkejut dengan kehadiran Iruka yang mendadak. Apalagi Iruka melihatnya sedang berkeliaran seperti ini.
"Tidak apa.. Nama pria berambut pirang yang tadi kau lihat itu adalah Namikaze Minato, sedangkan wanita cantik disebelahnya adalah Uzumaki Kushina." jelas Iruka.
"Namikaze? Lalu kenapa Naruto.."
"Ayahnya sendiri yang memberi marga itu. Dia bilang, 'Kushina-lah yang lebih pantas mendapatkan kehormatan ini..'."
Entah kenapa, Sasuke malah terkesan dengan jawaban Iruka barusan. Dia kagum dengan orang yang sedang mereka bicarakan itu, ayah Naruto. Pantas, kenapa Naruto bisa memiliki sifat 'seunik' itu.
"Ayah Naruto adalah seorang pendeta. Tapi setelah dia menikah, dia pindah ke Suna dan memilih untuk menjadi manusia pada umumnya."
"Pendeta? Apakah dia pendeta dari kuil api?" tanya Sasuke.
"Ya.. darimana kau tahu?"
"Barang-barang di rumah ini banyak yang berasal dari kuil api. Dulu aku pernah ke kuil api, jadi aku sedikit mengingat barang-barang yang menjadi ciri khas disana." jelas Sasuke. Dibalas anggukan kecil oleh Iruka.
"Aku ingat jelas, dulu hanya dia pendeta yang memiliki rambut. Apalagi warna rambutnya kontras begitu, dia jadi sering diragukan oleh orang-orang kalau dia adalah pendeta." Iruka terkekeh menceritakan hal tersebut.
"Biasanya dia mengikat rambutnya hanya ketika sedang berdoa atau membersihkan kuil. Tapi walaupun terlihat berantakan, dia adalah pendeta termuda yang kehebatannya diakui oleh penduduk Konoha."
"Kalau boleh saya tahu, ada hubungan apa paman dengan Namikaze-san?" tanya Sasuke lagi.
"Tidak ada. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Dia orang yang sangat baik, makanya aku mau menggantikannya merawat Naruto."
"Pamaaaan!! Kau cerita yang aneh-aneh tentang aku, ya?!" protes Naruto ketika ia sedang menuruni tangga.
"Percaya diri sekali, dobe." ketus Sasuke.
"Percaya diri?! Maksudmu a-"
"Dobe!!"
Brak! Bruk! Prang! Duesh!
"Aaaduuuuh…" Naruto meringis sambil memegangi pantatnya.
"Jalan itu pakai mata!" Sasuke segera menghampiri Naruto dan membantunya berdiri.
"Errr… itu sudah jadi aktivitasnya sehari-hari, Sasuke.." ujar Iruka sweatdrop.
"Tangganya yang salah, teme!"
"Jangan bodoh!!" protes Sasuke mendengar jawaban Naruto.
"Aku dan Sasuke sama saja.. hahaha…" batin Iruka.
"Kalian berdua! Paman mau pergi ke kantor dulu, ada rapat. Kalian tidak apa kan kutinggal?"
"Tenang saja.. Hati-hati ya, paman!" Naruto mencoba mendudukkan pantatnya yang masih sakit.
Setelah memasuki mobil, Iruka pun menjalankan mobilnya menjauhi rumah. Tinggallah Sasuke dan Naruto berdua di rumah itu.
"Teme, laper gak? Ada ramen loh!"
Mendengar kata makanan, Sasuke jadi ingat kalau dia sama sekali belum makan sejak insiden di taman itu. Nyaris 24 jam dong?! Lebih dari puasa yang hanya menahan lapar selama 12 jam.
"Apa tidak ada makanan lain?" tanya Sasuke.
"Makanlah apa yang ada!" omel Naruto.
"Hah… tolong buatkan, Naruto." titah Sasuke. Naruto hanya bisa ngedumel sendiri mendapat perintah seperti itu.
(Beberapa menit kemudian..)
"Nih! Habiskan, ya! Aku sudah susah payah membuatkannya untukmu!" perintah Naruto.
"Kalau aku tidak keracunan sampai suapan terakhir." ejek Sasuke.
"Ghaa!! Teme!!"
Naruto memutuskan untuk tidak melawan. Dia lalu mengambil remote dan menyalakan tv. Keduanya hanya menghabiskan waktu dengan kesibukan masing-masing, tidak ada yang berbicara. Tidak sampai Sasuke menghabiskan makanannya dan menyusul Naruto yang sedang menonton tv.
"Kau tidak makan, dobe?" tanya Sasuke sambil mendudukkan dirinya tepat di sebelah Naruto.
"Aku sudah makan di rumah sakit." jawab Naruto. Dia tetap asik dengan acara yang sedang dilihatnya sekarang. Sasuke pun merasa sedikit kecewa.
"Dobe, ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa?"
"……… Aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak suka melihat kau dengan Sai, kan?"
Deg!
Tampaknya pertanyaan Sasuke barusan sangat 'mengena' di hati Naruto. Wajah tan-nya langsung memerah sempurna.
"Y-ya, memangnya kenapa?" tanya Naruto.
"Aku ingin tahu, apa kau menganggapnya serius atau tidak."
"Maksudnya?" Naruto menoleh heran ke arah Sasuke.
"Kau mau menjauhinya demi aku?" tanya Sasuke lagi. Kali ini dengan tatapan tajam langsung dari mata onyx-nya.
"Dia temanku, mana mungkin aku menjauhinya tanpa sebab."
"Demi aku, Naruto."
Naruto langsung speechless. Dia tidak tahu harus bicara apa.
"J-jangan begitu, Sasuke.. Kalian berdua sama-sama temanku, kok!"
"Aku menganggapmu lebih dari teman, dobe."
Deg!
"Apa? apa maksudmu?!" Naruto segera membuang mukanya ke arah tv. Dia tidak berani menatap wajah Sasuke yang menurutnya 'mulai seram' sekarang.
"Aku menganggapmu lebih dari teman. Apa kau juga berfikir begitu?"
"K-kau temanku!" Naruto semakin salah tingkah mendengar pertanyaan Sasuke yang semakin memojokkannya. Ditekannya terus tombol remote tv seperti sedang mencari acara yang cocok dengan hatinya. Padahal dia melakukannya hanya untuk mengurangi rasa grogi dalam dirinya.
………
Tak ada jawaban dari Sasuke. Ini membuat Naruto sedikit penasaran. Takut-takut Sasuke malah marah padanya. Dia memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya ke arah Sasuke.
Tuk!
Tanpa diduga dan tanpa terduga, hidung Naruto bersentuhan dengan sesuatu tepat ketika ia menoleh. Sesuatu yang berhasil membelalakkan kedua mata safirnya. Hidung Sasuke sudah tepat menyentuh hidungnya. Dan tentu saja hidung itu terletak di wajah bersama mata dan mulut lelaki stoic itu. Berkatnya, Naruto bisa menatap mata hitam Sasuke dengan jelas. Kegelapan yang membuat Naruto tenggelam didalamnya, tenggelam dan tak menemukan dasar. Mata onyx Sasuke mungkin sudah biasa ia lihat, tetapi aroma tubuh bungsu Uchiha itu hanya bisa tercium ketika dirinya tinggal berjarak beberapa inchi dari tubuh Sasuke. Dan inilah keadaannya, pikiran Naruto telah dipenuhi oleh aroma mint tubuh Sasuke.
Sasuke tersenyum melihat sang korban sudah tak berdaya. Yah, dia senang karena inilah saatnya untuk 'menyerang'.
"Kau milikku.."
!!!
"Ngh…"
Naruto sudah terperangkap, bukan, lebih tepatnya bibirnya. Dia tidak sempat mengelak dari jebakan yang Sasuke buat untuk mendapatkannya. Harapan tipis untuk Naruto.
"Ngh~ Sa- mm…" suara Naruto semakin tak terdengar akibat serangan Sasuke yang tidak memberikannya ruang. Nafasnya sudah hampir habis karena bibir pucat Sasuke terus menekan bibirnya. Bahkan sekarang tangan putih itu tengah mendorong tubuh Naruto perlahan agar ia bisa mempersempit ruang gerak Naruto dengan tubuhnya. Naruto sudah terlalu panik dan grogi untuk melawan Sasuke. Dia hanya bisa diam dan memilih tidak melayani pemuda pantat ayam itu.
"Ini membosankan, dobe. Kau mau mempermainkan aku? Kita lihat, siapa yang akan kalah." Sasuke melepaskan bibirnya dari bibir Naruto. Dan dengan segera membuat Naruto siap untuk mengeluarkan makiannya.
"Teme! Apa-apaan- Gah! geli~ temee~" ocehan Naruto segera terganti dengan suara-suara manja yang keluar dari bibir manisnya sesaat setelah Sasuke menciumi leher tan-nya. Mendengar suara menggoda itu, Sasuke makin terpancing untuk ingin terus mendengarnya.
"T-teme,, ahh.. hentikan… geli~" Naruto semakin tidak tahan dengan kegiatan Sasuke yang bermain-main dengan leher dan tengkuknya. Bibir Sasuke yang dingin semakin menambah sensasi di lehernya. Ingin Naruto mendorong tubuh Sasuke, tapi tangannya telah terkunci oleh kedua tangan Sasuke yang menahannya untuk tidak melawan.
"Maaf dobe, aishiteru.." Dan ciuman Sasuke makin bergerilya di leher tan itu. Naruto jadi semakin tidak berdaya sekarang. Dia menggigit bibir bawahnya agar desahan-desahan tidak meluncur dari mulutnya.
"Baik! Baik! Aku akan men~jawab.. tapi, ahh.. hentikan ini~" pinta Naruto yang jelas sedang dalam keadaan terdesak. Sasuke langsung tersenyum mendengar pernyataan menyerah dari Naruto.
"Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Sasuke to the point.
"Hh.. hh.. Aku senang kau mau jujur kalau kau men-cin-taiku, tapi…" Naruto tak berani membalas tatapan Sasuke karena wajahnya sedang amat merah sekarang.
"Tapi apa?" tanya Sasuke lagi. Kali ini dengan tatapan yang amat tajam tepat ke mata safir itu.
"Besok! Besok sekolah libur kan? Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain di kota ini??" tawar Naruto.
"Lalu?" tanya Sasuke masih dengan tatapan yang tajam.
"A, aku akan menjawabnya disana!" ucap Naruto grogi.
"……… Benar?"
"Aku janji…"
"Hh… baiklah, besok. Ku jemput kau pukul 9 tepat disini." ucap Sasuke setuju.
"Kalau begitu, bisa kau angkat badanmu dari atas tubuhku??"
"Ck, iya dobe!" Sasuke pun mengangkat badannya dan kembali duduk seperti normal, disusul oleh Naruto.
"Lebih baik kau pulang, teme.. hush! hush!" seru Naruto sambil mengibaskan tangan ke arah Sasuke.
"Mengusirku, dobe?"
"Memang apalagi?!"
"Kau marah aku menciummu?"
Deg!
Wajah tan Naruto kembali memerah.
"Ha, habis!! Kau menciumku seolah itu adalah hal yang sepele!!"
Melebarlah mata pemuda stoic itu mendengar ucapan Naruto. Warna mukanya yang pucat pun sedikit menebarkan rona merah.
"Bukan begitu, dobe!"
"Lalu apa?!"
"…… Aku gugup tahu! karena sudah memendam keinginan itu untuk saat ini."
"Maksudmu,, apa?"
"Kau dobe sekali sih, dobe!!"
"Kok jadi marahin aku?! Ucapanmu itu memang hanya kau yang bisa mengerti!"
"Hh.. aku sudah lama ingin menciummu, dobe!" wajah Sasuke makin memerah. Ditambah Naruto yang mendengar jawaban Sasuke barusan, wajah pemuda pirang itu sudah lebih merah dari tomat.
"Me, mesum! Teme mesum!" Naruto menutupi mukanya dengan bantal.
"Kau tidak perlu marah lagi soal kejadian tadi."
"…… Tapi, apa kau akan melupakannya begitu saja?"
……
"Akankah kau terus mengingatnya?"
"Ya, akan terus kuingat sampai aku mati." ucap Sasuke seraya menggenggam tangan Naruto yang tergeletak di sampingnya.
"…… Terima kasih." ucap Naruto sambil memandangi tangannya yang sedang tergenggam.
"Mampukah kau membaca isi hatiku saat ini, Sasuke? Kegelisahan hatiku tentang nasib kita berdua.."
#$%^&*(??)
"Terima kasih Sasuke, sudah mau menemani Naruto.." ucap Iruka.
"Sama-sama paman." balas Sasuke dari dalam mobil.
"Kami pulang dulu ya.." sambung Itachi dari dalam mobil juga.
Setelah saling melempar lambaian tangan, mobil hitam yang dikendarai si sulung Uchiha pun menjauh.
"Apa kabar, Sasuke?? Lama tak bertemu, kau semakin tinggi saja, un.." sapa seseorang dari sebelah supir. Sasuke agak memandangi orang itu sebentar sebelum akhirnya ia menjawab.
"Aku baik, Deidara-chan."
Entah kenapa jawaban Sasuke barusan seperti sedikit menyinggung perasaan pria berambut pirang panjang itu.
"Ke-kenapa Sasuke bisa memanggilku begitu, Itachi?!" protesnya pada supir.
"Maaf.. mungkin aku terlalu terbuka di depannya." jawab Itachi sweatdrop.
"Dasar! Menyebalkan, un!!"
"Kau akan tinggal lagi di Konoha?" tanya Sasuke.
"Iya, rencananya aku akan tinggal di apartemen." jawabnya.
"Tapi malam ini dia akan menginap di rumah kita, Sasuke.."
"Bolehkan, Sasuke..?" tanyanya sambil mengaktifkan puppy eyes.
"Hn."
"Terima kasih, adik Itachi.." ucapnya sambil tersenyum.
"Rambut pirang dan mata birunya memang mirip, tapi Naruto lebih manis bagiku." batin Sasuke.
.
.
Tbc
Author: "Musik!! Apa yang kamu lakukan kalau sedang bete? Apa yang kamu lakukan
kalau sedang sedih? Baca fanfiction.. (oye!) Baca fanfiction.. (oye!) Baca fanfiction.. (Dum dum.. dum dum.. serr…) Yak, terima kasih untuk Naruto pada gendang, Sasuke pada suling, dan Kakashi pada krincingan. Sorry, shira gatau nama alat yang dipegang Kakashi. Yah.. walaupun band Shira ini cuma band yang biasa mangkal di metro, tapi lumayan kan buat menghibur para reader semua baik yang review ataupun yang belum sempat me-review… Osh!! Lanjut ke Shiraland! Oh iya, lagu ini Shira ambil dari lagu pembuka On the Spot di trans7. Habis, enak sih! (ini bukan iklan, loh..)"
SHIRALAND~
Shiraland sesi curhat author
Huah! *rebahan di kasur* akhirnya Shira bisa juga menyelesaikan chapter 6 ini. Seminggu yang lalu Shira habis uts, jadi Shira gak menyentuh fic Shira yang ini. Tapi akhirnya selesai juga!! *guling-gulingan* Masalah adegan yang Sasu kissu Naru itu, Shira sampe 3 malem bikinnya. Maklum ya, Shira masih pemula..(-_-")
Shira mau ucapin terima kasih bangett buat temen Shira, Namikaze Reisen (jika dia tidak dan belum ganti nama) atas bantuan pembuatan adegan SasuNaru itu.. *nunduk* Dia yang memberi Shira GBHA (Garis Besar Haluan Adegan) itu. Dan juga buat para reader yang setia dan me-reveiew fic Shira ini, hontou ni arigato gozaimasu…
OH IYA!!! Shira sampe lupa kasih penjelasan. Di sebabkan banyak sekali pertanyaan tentang cerita Shira yang kemarin, jadi Shira putusin buat membeberkannya lebih awal dan sedikit merubah GBHC (Garis Besar Haluan Cerita) yang udah Shira bikin. Tadinya Shira mau mengumbarkan semua di final chap, biar lebih seru gitu! Tapi gak apalah, setelah chap ini kan final chap. Udah bisa nebak kan, jalan ceritanya gimana?
Maaf kalo masih banyak yang salah,, sampe ketemu di chapter 7 ya! *lambai tangan*
(Shira curi-curi kolom nih, buat tanya "Apa alasan kalian gak suka suka Sai?" dijawab yang bener ya.. kritik dan saran buat fic Shira juga!)
