Chapter 7 udah update…

Ehe..hehehe Shira bahagia~ (yah, seenggaknya udah berhasil sampe chapter ini..)

-.-a

Gatel nih, eh? apa liat-liat? Udah sono bacabacabaca!

Disclaimer: Sayalah! –Ctarr!- *kesamber gledeg* ukh.. bu, bukan saya.. bukan saya..

Pair: SasuNaru, just it.

Warn: Sho-ai, ooc (mungkin dan sangat), dan ini cerita yang masih belum bisa dibilang layak.. *jongkok di pojokan*

Boyxboy

Shira present,

Tererererererererereret

(happy bread)


The End of This Story


"Teme.. aku mau naik yang itu..!"

"Tidak, dobe!"

"Teemee…"

"Kubilang 'tidak, dobe!'"

Naruto's pov

Aku sedikit agak kesal menghadapi tingkah teme ini. Apa yang salah kalau aku ingin naik wahana-wahana itu? rambut pirangku? tiga garis di pipiku? Semuanya masih lengkap! Sejak satu jam yang lalu kami tiba disini, kami belum sama sekali mencicipi kebahagiaan. Hanya terduduk di bangku ini sambil meminum ice coffee yang kami beli di kios itu.

"Teme, teme, teme, teme, teme, teme, teme, teme, teme,"

"Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, dan tidak. Kurasa itu menjawab semuanya."

"Ugh! benar sih.." pikirku.

Jujur, aku bosan sekali diam seperti ini. Teme ini terlalu penakut ya, sampai dia selalu menolak ajakanku? Tidak kusangka ayam Uchiha ini penakut juga!

"Aku menolak ajakanmu bukan karena aku takut, dobe!"

"Gyaaaa! Kau bisa membaca pikiranku?" aku refleks menjauhkan diri darinya beberapa kaki.

"Orang yang pikirannya pendek sepertimu mudah sekali ditebak." ketusnya.

Huh! baik, aku mulai tidak sabar.

"Lalu apa alasanmu? Sudah hampir seluruh wahana disini aku tawarkan padamu, tapi terus saja kau tolak!" Kulipat tanganku sambil membuang mukaku ke arah lain.

"… Jangan marah, dobe." ucapnya datar.

Ugh! menyebalkan sekali dia!

"Aku tidak peduli kau mau bicara apa, teme!" rutukku dalam hati. Aku sudah kesal sekali dengannya. Memang apa alasanku mengajaknya kesini kalau bukan untuk bersenang-senang dengan mesin-mesin raksasa itu?

"Dobe,"

"…"

"Dobe,"

"…"

"Kau mau kucium?"

Deg!

Gyaa! Bulu kudukku langsung berdiri mendengar pertanyaannya. Dasar mesum! Tahan, tahan Naruto, kau sedang 'ngambek' kan?

"…" kuputuskan untuk tidak meladeninya saat ini.

"Baik,"

"Eh?" Teme menarik tanganku. Dia mau membawaku kemana? Dia terus berjalan seperti tanpa tujuan. Tapi sepertinya dia mulai mengarah ke sebuah pintu bertuliskan, toilet?

"Teme! kalau mau ke toilet, sendiri bisa kan?" protesku ke teme yang semakin membawaku masuk ke dalam toilet. Tapi dia tidak menjawab. Firasatku mulai menunjukkan rambu-rambu 'berbahaya'.

Cklek!

Benar saja! dia membawaku masuk ke dalam WC!

"T-teme, lebih baik aku menunggu di luar.." kucoba menarik tanganku dari genggamannya.

"Jangan coba-coba." ucapnya singkat.

Glek!

Kekuatan genggaman dan tarikkannya lebih besar dariku. Alhasil, aku tidak kuasa menarik tubuhku keluar dari sana. Dia melemparku ke dinding kayu yang berfungsi sebagai penyekat dengan WC lainnya. Dan dalam hitungan detik dia sudah berhasil mengunci pintu WC tempat kami berada. Oke! Aku mulai takut.

"T-teme, banyak orang!" protesku.

"Kau tidak lihat disini sepi, dobe?" bantahnya sambil terus melangkah mendekatiku.

"Ini toilet! Orang pasti akan kesin-"

"Ssstt.. jangan berisik, dobe!" Sasuke langsung menutup mulutku dengan tangan putihnya.

"Jangan sampai mereka tahu kalau disini ada dua orang yang sedang bercinta.." bisik Sasuke disertai seringai di wajahnya. Tuhaaaan… tolong aku! Rasanya aku seperti sedang melihat penampakkan hantu toilet.

"B-baik teme, aku tidak marah lagi.. aku janji!" kuacungkan jari telunjuk dan tengahku tepat di depan wajahnya.

"…"

"Teme..?"

"Hh… baiklah," teme pun menjauhkan dirinya. Huft… leganya!

"Tapi, aku ingin menciummu.." tangannya kembali bermain di pipiku.

Glek! Rasa lega itu terlalu cepat lewat bagaikan kilat.

"Hilangkan pikiran mesummu itu, kemarin 'kan sudah!" elakku.

"Sebentar saja, dobe.." pintanya. Kenapa teme jadi OOC begini, sih?

"T-tidak.." aku berusaha menjauhkan wajahnya yang semakin mendekati wajahku.

"Bibirmu manis, aku jadi ingin melumatnya.."

Glek! Teme benar-benar terlihat mengerikan sekarang.

"T-teme, jangan macam-macam!"

"Kalau kau mengizinkan, aku tidak akan sampai 'menyerangmu'.." ucapnya, tetap –amat sangat lebih-mengerikan.

"B-baik, hanya cium kan? sebentar saja!" aku menghentikan kegiatanku –mendorong teme menjauhiku- dan membiarkannya mendekatiku. Gyaaa! aku gugup! Lebih baik aku menutup mataku.

"Tataplah mataku, dobe!" perintahnya. Sial! kenapa malah dilarang? Tapi, kucoba untuk menurut saja agar dia tidak 'menyerang'.

Awalnya aku agak canggung menatap matanya yang onyx itu dari jarak sedekat ini. Tapi melihat kesungguhan yang terpancar dari matanya, entah kenapa aku jadi sedikit merasa percaya padanya. Percaya dalam hal apa? entahlah..

Tak terasa, mata kami sudah saling bertatapan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Sangat hening, tak ada suara selain hembusan nafas kami.

Tangan dingin teme beralih ke leherku. Amat dingin seakan membekukan leherku. Tapi aku tidak bisa menjauhkan tangan pucat itu dari sana, sesaat setelah aku melihat ekspresi wajahnya yang seketika berubah sendu. Hey! Kenapa kesedihan begitu terpancar jelas di wajahmu? Apa ucapanku sedikit melukai hatimu?

"Teme..?"

"…."

Aku tidak sanggup melihat wajahnya seperti ini. Begitu sedih dan terluka, membuatku ingin menangis. Aku hanya bisa memandang wajahnya dengan tatapan bersalah. Kenapa? Apa aku terlalu menyinggung perasaanmu? Apa aku sudah membuatmu kecewa? Kalau benar begitu, ciumlah aku sebagai tebusannya. Tebusan karena telah membuatmu sedih.

"Lakukan, Sasuke.." bisikku pelan.

Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Semakin dekat dan dekat hingga tiada jarak lagi di antara kami. Dia menciumku masih dengan ekspresi 'itu'. Mau tidak mau wajahku pun ikut terbawa perasaan sedihnya. Ciuman kami diiringi dengan ekspresi terluka yang tidak bisa kami pahami satu sama lain. Bahkan sampai bibir kami terlepas, wajahnya tetap terlihat sedih. Aku jadi takut sekali.

"Maaf, Naruto.."

"… Kau kenapa?" kugenggam tangan dinginnya yang tadi menyentuh leherku.

"… Tidak, aku hanya.."

"Hanya apa?"

"… Sudahlah, kau kesini untuk bersenang-senang, kan? Ayo cepat!" teme langsung menarik tanganku dan membuka pintu WC yang tadi terkunci.

"Huh! Pintar mengelak, dasar teme, ayam, bebek-"

"Urusai, dobe!" kami pun melangkahkan kaki keluar dari ruangan berlabel toilet itu.

End Naruto's pov

Sasuke's pov

Sial! Kenapa aku jadi lemah begini sih? Masa' hanya karena melihat wajah Naruto aku jadi ingin menangis? Lucu!

"Sebenarnya, aku takut meninggalkanmu." Tidak mungkin 'kan aku bicara seperti itu pada Naruto di hari ini? Setidaknya aku belum mau membicarakan tentang penyakitku yang semakin sering kambuh. Dan apa kalian tahu, sepulang dari rumah dobe kemarin, penyakitku kumat lagi. Beruntung aniki dan err.. pacarnya tidak tahu hal itu.

Menyedihkan kalau aku melihat diriku. Dan menyakitkan kalau aku melihat Naruto. Tuhan.. kalau kau tidak memberikanku kebahagiaan hari ini, maka berikanlah aku kenangan untuk melupakan kesedihan yang terjadi hari ini.

#$%^&*(?)

.

.

.

.

2.30 p.m.

Still Sasuke's pov

Sial! Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku yang mengalaminya? Persetan dengan Uchiha, Uzumaki, dan takdir busukku ini!

"Teme? kau kenapa sih? Wajahmu makin menyeramkan saja!"

"Hh.. aku lupa, ada Naruto disini.."

"Aku tidak apa-apa, dobe."

"Bohong! Kalau kau bilang, 'aku tidak apa-apa, dobe' sebelum kita bertemu dengan master, aku masih bisa percaya!" analisanya.

"Kau mau jadi peramal gila juga, dobe?"

"Ugh! itu kan analisa teme, bukan ramalan!" protesnya.

Sebenarnya ucapan dia ini benar. Mood-ku yang tadinya agak membaik, menjadi hancur seketika akibat pertemuan kami dengan peramal 'sakit jiwa' yang tiba-tiba menyapa kami..

Flashback

Sudah beberapa jam yang lalu aku dan Naruto berada di taman hiburan ini. Sudah banyak sekali wahana yang kami naiki, sampai pusing kepalaku rasanya mengikuti dobe ini berkeliaran.

"Teme ayo cepat! I'm hungry…"

"Hn,"

"Gaaah! 'Nyantai banget, sih-"

"Kau! anak manis, kemari sebentar.." tiba-tiba Naruto yang sedang mengomel dipanggil oleh sebuah suara berat dan bergetar.

Awalnya kukira itu suara perutnya, tapi ternyata memang ada seorang pria paruh baya yang berpakaian serba hijau memanggilnya. Dia memakai topi yang bodoh, berdiri dalam sebuah stand yang menurutku juga,, bodoh. Jelas saja aku bilang begitu! Karena di atas stand yang didomonasi warna hijau tua tersebut terpampang manis papan berukuran 3x4 meter yang bertuliskan 'Lemme show ur beyond, guys!'. Bodoh, kan?

"Kau memanggilku, om?" tanya dobe, ia malah menghampirinya.

"Panggil aku 'the master', bocah Namikaze!" teriaknya, norak sekali sekaligus menjijikan. Tapi, dia bilang 'bocah Namikaze'? Kenapa dia bisa tahu marga itu?

"Uwaah! Master kok bisa tahu marga ayahku?" tanya si dobe dengan tatapan penuh bintang.

"Hohohoho…! Karena aku ini hebat, Naruto!" jawabnya dengan sebuah cengiran –lebih- lebar dari Naruto sehingga seberkas cahaya silau terlihat disana. Dan juga jempol besarnya yang ikut bergaya. Aku yang baru tiba disebelah Naruto langsung sweatdrop dan speechless sekaligus.

"Iya! Master benar-benar hebat!" kagum Naruto. Ayolah! Masa' kau percaya begitu saja, dobe?

"Hahahaha! Biasa saja, kok!" ucapnya.

"Sangat tidak istimewa." batinku.

"Oh..! Kau mau aku meramalkan masa depanmu?" tanyanya pada Naruto. Ekspresi terkejut nampak di wajah orang bermata safir itu.

"Umm… bagaimana ya? Sepertinya tidak perlu, master.. aku ingin masa depanku itu tetap jadi sebuah rahasia." ujar Naruto.

"Hm.. never mind! Pilihan yang bagus, Naruto! Hahahaha! Kau lapar, kan? Cepat isi perutmu!" katanya masih dengan wajah yang norak.

"Iya! Aku permisi, master!" si dobe itu langsung berlari meninggalkanku.

"Dasar dobe," rutukku.

"Uchiha Sasuke?" tiba-tiba peramal gila itu menyebut namaku, spontan aku menengok ke arahnya.

"Bagaimana jika aku mengatakan, 'kalian tidak bisa bersama',"

"Hn? Apa-"

"Semua hanya tinggal menunggu waktu saja sampai perpisahan itu datang. Kau yakin akan hal itu, Sasuke?"

"… Kau tidak berhak bicara begitu." ucapku dingin dan sedikit emosi. Kenapa orang ini berbicara tentang hal yang sangat tidak ingin kudengar?

"Kalian ditakdirkan di jalan yang sama, tidak bisa saling melengkapi, dan akan dihadapkan pada pilihan yang menyedihkan." Lanjutnya lagi, seperti tidak menggubris teguranku barusan. Dan ucapannya kali ini semakin membuatku muak.

"Diam kau! Tahu apa kau tentang aku dan Naruto?"

"Tenang.. kau harus tenangkan dirimu. Jika kau mampu melihat segala sesuatunya dari berbagai arah, maka hal yang akan kau hadapi setelah ini pasti akan membawa kebahagiaan bagi dirimu.."

"Haha… Apa? apa yang akan kuhadapi?" tanyaku dengan nada mengejek.

"… Entahlah, mungkin yang selama ini kau takutkan."

Deg!

… Tenang, tenang Sasuke.. Dia ini hanya peramal gila, omongannya tak berarti apa-apa, hanya omong kosong!

"…"

Si, sial! kenapa aku gemetaran?

"Omong kosong!"

"Hanya kau yang tahu ucapanku ini benar atau tidak, Sasuke."

Tidak Sasuke, jangan percaya padanya! Dia hanya peramal gila, tidak ada manusia yang bisa mengetahui masa depan. Tapi, bagaimana dengan penyakitku? Kakashi juga sudah mengingatkanku tentang hal ini. Jadi yang dikatakan orang gila ini...

"Tidak perlu panik, coba kau ikuti pesanku barusan." Ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya bisa menatap dia gemetar. Aku tidak kuat, ingin sekali berteriak namun tertahan di tenggorokkan.

"Kenapa semua ini terjadi padaku?"

End of flashback

"Memang apa yang kau bicarakan dengan master?"

"Tidak ada, dan berhenti menyebutnya 'master'!"

"Terserah aku! Dan lagi, kau pasti berbohong padaku!"

"Hn. Mana mungkin aku bilang, 'tadi aku membicarakan tentang nasib kau dan aku, Naruto'." batinku.

"Teme, aku menemukan tempat yang asik! Kita kesana, yuk!"

"… Dimana?"

"Di belakang kedai ini, ada danau kecilnya!"

"Kolam ikan?"

"Bukaan! Danau kecil!"

"… Hn."

"Kuanggap itu, 'ya'"

End Sasuke's pov

"Huaah.. aku lelah!" Naruto segera mendudukkan dirinya di atas rumput.

"Kau itu baru makan 3 mangkuk ramen, 2 gelas jus jeruk, dan 4 cup ice cream. Pantas saja lelah!" sambung Sasuke yang ikut mendudukkan diri.

"Kau mengejekku?"

"Memang apalagi?"

"Argh!" Naruto merasa frustasi diatas frustasi. Sementara Sasuke, hanya tersenyum melihat Naruto menderita.

Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk terdiam memandangi langit. Sampai akhirnya Sasuke memulai pembicaraan.

"Naruto,"

"Yah?"

"… Maaf, hanya sampai disini.."

"Hah?"

"Chapter ini berakhir sampai disini..!"

Gubrak!

Naruto tertimpa sebuah batang kayu, "Yare~yare~"

.

.

.

.

Tbc

Shiraland~

Ehehehe..^^a

Akhir chapter yg gak elit yah?

Habis~ shira bingun mau gimana lagi, kalo misalnya dilanjutin sampe tamat seperti yg pernah shira ucapkan,

Kepanjangan,

Kelamaan,

Kehabisan waktu, mbak!

Alhasil, shira putusin jembatan suramadu –BUKAN!- shira putusin biar final chap di next chap sadja!

Osh!

See ya next chap!

^^8