Bangunlah, Bruder. Bitte.
Kau tak pernah terlihat setenang ini sebelumnya—tapi juga tak pernah terasa begitu menyedihkan
Ke mana semangatmu? Ke mana teriakan beranimu? Ke mana kau pergi?
…aku membutuhkanmu, Bruder.
CARDIAC
Alive
Disclaimer: Hetalia © Hidekaz Himaruya
Warning: OOC. Human names used. History inaccuracy. Terror and nightmare.
Jatuh.
Itulah yang ia bisa rasakan. Ia kehilangan semua yang dulu pernah ia miliki. Juga secara harfiah—ia merasakan dirinya terjun bebas. Entah ke mana. Yang ia lihat, sekitarnya adalah hitam. Gelap dan tak berbatas.
Berapa lama lagi sampai mencapai dasar? Ia bertanya pada dirinya sendiri. Begitu ia berpikir seperti itu, ia merasakan gerakannya terhenti oleh lantai keras, mendarat pelan di punggungnya. Nafasnya terasa berat. Semua inderanya hanya dipenuhi oleh kekosongan dan kegelapan.
Dicobanya bangkit. Tetapi begitu ia tepat berada di posisi duduk, rasa sakit tiba-tiba menyambar dari dadanya. Refleks kedua tangannya mencengkeram dada. Ia mengerang keras, tetapi suaranya hilang. Dagingnya terasa tersayat benda tajam. Ototnya terasa dirobek oleh tangan-tangan kuat. Dan rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Itu sakit yang sama. Ketakutan yang sama. Bayangan pipa, pisau, dan senyuman polos seperti anak kecil, dilatari dengan cipratan darahnya sendiri mulai terlintas cepat di benaknya. Hanya sekilas, tetapi terasa begitu nyata. Rupanya itulah mimpi buruk yang tersisa padanya, ditinggalkan oleh monster kejam yang mengambil Königsberg.
Sakit! Tolong, hentikan. Hentikan. Hentikan!
Nafasnya bertambah cepat dan keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Ia masih terbaring di lantai dunia gelap itu, mencengkeram erat dadanya dan memohon-mohon entah-pada-siapa agar sakitnya berhenti. Ia bisa merasakan tulang rusuknya dipotong. Ia bisa merasakan saat paling buruknya—saat pembuluh darahnya terputus dan dadanya tiba-tiba terasa kosong.
Kosong.
Ia masih terbaring di sana, masih tersisa jejak rasa sakitnya. Nafasnya masih tersengal. Rambutnya yang putih basah oleh keringatnya sendiri dan wajahnya yang pucat terlihat semakin memutih. Mata merah menerawang kosong. Begitu juga dengan badannya—ia merasakan dirinya kosong. Hampa.
Sudah pergi. Oh, terima kasih.
Saat ia merabanya, dadanya tak terluka. Tak ada darah, tak ada bekas sayatan. Dan tak ada monster sadis yang berniat mengambil jantungnya. Ia menghela nafas lega. Hanya saja masih ada yang janggal—ia merasa mati rasa di bagian dadanya. Memang ia masih bisa bernafas, tetapi tak bisa merasakan detak jantungnya. Benar-benar tak terasa.
Ia mencoba bangkit lagi. Dan hal yang sama terjadi—teror itu terulang. Tubuhnya kembali dijalari rasa sakit yang sama, dan bayangan menakutkan itu melintas lagi di benaknya. Ia berteriak, tetapi suaranya masih hilang. Memohon-mohon agar sakit itu berhenti, agar ketakutan itu tak kembali. Tetapi semakin ia berusaha melawan, bayangan menakutkan itu semakin terlihat jelas di benaknya.
Untuk kedua kalinya ia jatuh lagi, terbaring lemas dengan nafas terengah dan tubuh yang dibanjiri keringatnya sendiri. Tetapi ia tak akan jadi Prussia kalau tidak melawan—itulah yang ia katakan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Keras kepala sudah menjadi pembawaannya. Hanya saja melawan rasa takut sendiri tak mungkin semudah yang ia bayangkan.
Ia bangkit lagi, lebih cepat dari sebelumnya. Dan secepat ia bisa bangkit, secepat itulah rasa sakitnya kembali menyambar. Ia merasakan dadanya dibuka berulang-ulang dan jantungnya diambil berkali-kali. Sementara bayangan yang terputar di benaknya semakin jelas. Lama-lama ia bisa melihat jelas pisau yang menyayat ototnya, rusuknya yang terpotong, dan bahkan bayangan jantungnya sendiri di tangan monster itu. Hal-hal yang dulu ia rasakan dan lihat secara samar, kali ini bisa ia saksikan semakin jelas. Hanya wajah monster itu yang selalu tertutup bayangan.
Kumohon, hentikan. Hen…ti-kan…
Ia terjatuh lagi untuk ke sekian kali. Tubuhnya lunglai, tenaganya habis. Ia hampir tak mampu bangkit lagi. Dadanya sesak dan naik turun dengan cepat. Ia sudah hampir putus asa. Air mata menumpuk di pelupuk matanya, memohon-mohon agar mimpi buruk itu pergi. Kedua mata merahnya tertutup erat, wajahnya masih mengerut dan meringis kesakitan.
Namun ia masih mencoba. Sekali lagi ia bangkit dan sekali lagi rasa sakit yang sama menyerangnya. Ketakutannya terulang lagi, bayangan itu terputar kembali. Hanya saja ia bisa melihatnya. Ya, ia bisa melihatnya! Sejelas ia memandang, tak lagi disamarkan bayangan. Terlihat terang semua adegan, mulai saat dagingnya tersayat, saat dadanya dirobek, saat tulangnya terpotong, saat jantungnya ditarik dari dalam dadanya. Dan wajah menakutkan itu juga tak lagi tertutup bayangan. Senyumannya, matanya, dan aura gelap yang memancar deras dari tubuhnya—Ivan! Ia bisa mengenali wajah monster itu.
Saat teror itu reda, ia menyadari dirinya masih berdiri, tak terjatuh lagi seperti sebelumnya. Sedikit senyuman lega terkembang di sudut bibirnya. Tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah. Lututnya terasa lemas, dan ia jatuh. Mata terpejam dan tak sadarkan diri.
Akhirnya pergi… Terima kasih. Terima kasih.
"Bangunlah."
Terdengar sayup suara menggema memanggilnya, menariknya kembali ke kesadaran. Ia tak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan dirinya. Tetapi saat sepasang mata merah terbuka, ia menyadari ia masih di tempat yang sama—di dunia gelap yang sama. Ia menarik dirinya berdiri dan untuk pertama kali, rasa sakit itu tak lagi menyambar dari dadanya. Nafas lega terhembus dari hidungnya.
"Bangunlah."
Suara itu semakin jelas. Ia mengerjap bingung. Ia tak pernah mendengar suara itu sebelumnya. Bukankah ia sudah bangun? Lalu apa maksud suara misterius itu?
"Belum saatnya kau mati."
Tunggu. Ia mengernyitkan dahinya. Kalau ia sebenarnya belum mati, apa yang sudah terjadi pada dirinya?
"Kau masih dibutuhkan."
Heh. Ia tahu dirinya memang awesome. Tetapi ia masih bertanya. Siapa yang akan membutuhkan dirinya—Prussia, sebuah negara yang selalu membanggakan kesendiriannya, yang bersedia mempertaruhkan segalanya dalam medan perang hanya untuk mempertahankan kesepiannya? Ia tak pernah ingat punya teman dekat yang mungkin menginginkannya kembali.
"Bangun dan pergilah."
Suara itu memudar. Ia masih berdiri, bingung dengan semua kata-kata itu. Kepalanya menoleh ke semua arah, mencari sesuatu atau seseorang yang mungkin datang. Tetapi masih gelap yang tersisa. Sampai ia mendengar suara—seperti pintu yang dibuka? Dan di sana, jauh depannya, ada cahaya yang menyilaukan datang dari sebuah celah.
Ia tak berpikir lagi untuk kedua kalinya. Dengan segera kakinya melangkah, membawa dirinya mendekat ke cahaya itu. Saat ia melintas, cahaya itu menenggelamkan dirinya dan menyilaukan penglihatannya. Refleks ia memejamkan matanya. Ia bisa merasakan dirinya ditarik ke tempat yang lain.
Jatuh.
Ia terjatuh lagi—terjun bebas. Tetapi di tempat yang berbeda. Setiap kedua mata merah berusaha terbuka, cahaya menyilaukan akan segera menyerangnya dan memaksanya kembali terpejam. Ia tak perlu bertanya lagi untuk sampai ke dasarnya karena tak butuh waktu lama sampai ia bisa merasakan dirinya terbaring di dasar, sementara tubuhnya terasa aneh.
Begitu ia membuka matanya, cahaya itu tak lagi menyilaukan. Sekarang hanyalah dunia putih tak berbatas. Tiba-tiba dadanya terasa menyesak, nafasnya mulai tersengal. Ada yang tumbuh di dalam rongga dadanya—ia bisa merasakan hal itu. Semula terasa sakit. Tetapi sakitnya berbeda dengan mimpi buruk yang sebelumnya ia lihat. Tumbuh, dan tiba-tiba ia merasa lengkap.
Memang lengkap. Namun tubuhnya terasa berbeda dari sebelumnya.
Deg. Deg. Deg.
Ia mengerjap. Detakan itu. Jantungnya kembali! Senyum lebar mengembang di bibirnya. Tanpa sadar ia sudah tertawa-tawa senang. Ia menghembuskan nafas lega.
"Siapa kau?"
Ada sayup suara bertanya dengan nada datar. Suara yang sama dengan suara di dunia gelap itu—tetapi ia masih tak bisa mengenalinya. Tentu saja ia Prussia. Ia hendak menjawab, namun suaranya masih belum kembali.
Aku Gilbert Beillschmidt. Prussia.
"Siapa kau?"
Königreich Preußen, Gilbert Beillschmidt.
Suara itu bertambah keras. Nadanya masih datar, tetapi semakin terdengar dingin. Ia tak tahu, tetapi merasa salah dengan jawabannya. Tapi bukankah memang begitu kenyataannya? Ia Prussia, 'kan?
"Siapa kau?"
Königreich Preu-
"Siapa kau?"
Suara itu bahkan memotong jawabannya. Ia mengernyit. Lama-lama ia merasakannya. Jantungnya ini… Bagian-bagian yang lain… Yah, ia masih Gilbert Beillschmidt. Hanya saja tak terasa benar. Ia meneguk ludah dan mempersiapkan jawaban. Tetapi…
East Germany, Deutsche Demokratische Republik… Gilbert Beillschmidt.
Kali ini suara itu tak bertanya lagi. Ia mengerjap, tetapi tak ada yang terjadi. Sampai tiba-tiba cahaya menyilaukan itu kembali membutakan matanya. Refleks ia kembali memejamkan matanya. Tapi kali ini ia tidak ditarik ataupun jatuh lagi.
Untuk sesaat ia kehilangan rasa dari inderanya. Ketika ia membuka matanya, ia berada di kamarnya sendiri, terbaring di ranjang. Dengan segera ia meraih dadanya dan merasakan jantungnya. Ia tersenyum lega saat ia bisa merasakan detaknya. Itu bukan mimpi—tetapi pengalaman menakutkan yang tak ingin ia alami lagi.
Ekspresi di wajah Gilbert berubah saat ia menyadari sesuatu. East Germany? Dirinya?
"WEST!" teriaknya. Ia segera turun dari ranjang dan berlari keluar kamarnya.
Ludwig sedang duduk di ruang tamunya. Wajahnya menunduk, perasaannya benar-benar tak enak. Sejak ia menandatangi perjanjian itu, tubuhnya terasa aneh. Ia bisa merasakan kalau dirinya kehilangan sebagian wilayahnya, tetapi tak tahu ke mana hilangnya. Tentu saja pada East Germany, tetapi Ludwig tak tahu orang seperti apa East Germany ini.
Anggota Allied Forces meninggalkannya sendiri seusai Postdam. Mereka berkata akan kembali sore hari untuk mengambil East Germany. Tetapi Ludwig bahkan tak tahu ke mana bagian timurnya pergi, bagaimana mungkin ia bisa mencari personifikasinya! Ia mengerang keras, kebingungan. Tinggal sepuluh menit lagi mereka akan datang. Sampai suara keras mengagetkannya.
"WEST!" teriak Gilbert sambil memasuki ruangan itu. Ia hampir saja terjatuh.
"Bruder?" tanya Ludwig saat ia melihat kakaknya terengah-engah di pintu ruang tamu. Ia menatapnya tak percaya. "Bruder, benar itu kau?"
"Bukan, West. Aku hantu," jawab Gilbert, memutarkan bola matanya. "Tentu saja ini aku, kleiner bruder!"
Tetapi Ludwig sepertinya tak mendengar kata-kata itu. Ia sudah beranjak dari duduknya dan hampir berlari menuju kakaknya. Ia menyentuhnya, memastikan keadaan Gilbert. Di wajahnya, terkembang senyum lega namun masih tak percaya. Tanpa sadar ia sudah memeluk erat tubuh kakaknya.
"Kau hidup," gumamnya di telinga Gilbert. Air mata mulai menggenang di mata birunya. "Kau benar-benar kembali!"
"Hei, West. Tenanglah." Kakaknya tertawa senang. Dan Ludwig tak tahu mengapa ia benar-benar senang saat ia mendengar suara tawa itu.
"Dummkopf!" Ludwig menarik dirinya dan memperhatikan kakaknya. Ia mengusap matanya yang mulai basah. "Kau tidak bangun selama tiga bulan! Bagaimana mungkin aku bisa tenang!"
Ekspresi di wajah Gilbert berubah. Dahinya mengernyit. "Tiga bulan?"
"Ya! Roderich hampir saja menguburmu kalau aku tak mencegahnya," balas Ludwig cepat. Ia menundukkan kepalanya. "Karena aku masih percaya kalau kau masih hidup. Dan aku benar."
Ludwig tertawa kecil. Ia menghela nafas. Saat itulah ia menyadari sesuatu. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Gilbert lagi. "Gilbert, jangan-jangan kau… East?"
Gilbert berkata pelan, "Kurasa begitu. Memangnya ada apa dengan Germany, West?"
Badan Ludwig mulai bergetar. Matanya mulai basah lagi, tetapi ia segera mengusapnya. Ia menarik nafas yang terlihat berat, menggandeng kakaknya, dan mendudukkannya di kursi.
"Ini… ini akan sedikit panjang. Tetapi waktu kita tidak banyak," Ludwig memulai. Ia menceritakan bagaimana Königsberg jatuh ke tangan Russia, kekalahan demi kekalahan yang memaksa pasukan mereka mundur dan bosnya yang bunuh diri, juga keadaan tubuh Gilbert yang aneh.
"Aneh? Maksudmu apa, West?" tanya Gilbert.
"Sejak kembali dari Königsberg, kau masih bernafas bahkan saat jantungmu sudah tidak ada. Terkadang tubuhmu bergerak-gerak tanpa sadar dan terlihat kesakitan. Aku… benar-benar takut kalau ada yang tidak beres, Bruder," aku Ludwig. Ia terus menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata kemerahan kakaknya.
"Oh." Gilbert teringat pada mimpi buruknya. "Oh, West. Es tut mir leid, aku sudah membuatmu takut. Aku… aku-"
"Tidak apa-apa, Bruder," potong Ludwig. Senyum kecil terkembang di bibirnya.
"Lalu ada apa dengan Germany?" tanya Gilbert lagi.
"…mereka memutuskan untuk membelah Germany menjadi dua bagian. Barat dan Timur. Aku bisa merasakan kalau bagian timur itu menghilang… tapi tak tahu ke mana." Ia mengangkat wajahnya dan bertemu sepasang mata merah yang harus ia akui memang dirindukannya. "Sampai kau bangun."
"Apa yang akan terjadi pada East-"
Gilbert tak sempat menyelesaikan pertanyaannya. Saat itulah pintu rumah Ludwig dibuka tanpa permisi dan para negara anggota Allied kecuali Wang Yao, memasuki ruangan itu. Sontak Ludwig berdiri dan menghapus matanya yang masih basah. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Gilbert menatap tajam pada salah satu dari mereka—sepertinya Ivan.
"Waktumu habis, Ludwig," ujar Arthur. "Kau sudah menemukan bagian Timur?"
"Ya. Dia…" jawab Ludwig dengan pandangan menunduk dan nada sedikit menyesal. "Gilbert."
"Дa?" Ivan tersenyum. "Kalau begitu comrade Prussia… maksudku comrade East Germany, ayo ikut denganku."
Mata Gilbert melotot tajam. Ia teringat kembali pada mimpi buruk itu. Ia terdiam mematung.
"Biar aku," ujar Ludwig. Ia teringat apa yang sudah terjadi di Königsberg antara kakaknya dan Ivan. Matanya menatap tajam kepada nation tinggi besar itu. "Biar aku yang menggantikan Gilbert."
Saat itulah Gilbert tersentak. Kata-kata itu kembali terulang di benaknya.
Kau masih dibutuhkan. Kau masih dibutuhkan. Kau masih dibutuhkan…
Ia segera menyadarinya. Maksud perkataan itu… Tidak! Ia tidak akan membiarkan adiknya mengalami hal yang sama seperti dirinya. Lebih baik ia mati daripada melihat Ludwig tersiksa di bawah tangan Ivan!
Mimpi buruk itu masih menghantui Gilbert. Tetapi ia tahu pasti inilah yang harus ia lakukan. Dengan tenang ia berkata, "West, tidak apa-apa. Aku yang akan pergi."
Kali ini giliran Ludwig yang tersentak. "Tapi, Bruder. Kau-"
"Tidak apa-apa," ia memotong perkataan Ludwig. Gilbert tersenyum meyakinkan adiknya, sementara berusaha menyembunyikan rasa takut itu dalam dirinya. "Lagipula aku yang diinginkannya."
Ludwig bisa merasakan matanya basah lagi. Ia tak tahu sejak kapan, tetapi ia sudah memeluk kakaknya lagi dan berbisik di telinganya, "Oh, Bruder… Bruder."
"Jangan menangis lagi, West," ujar Gilbert tenang. Ia melepaskan adiknya dan memandang tajam Ivan. "Aku akan baik-baik saja."
"Ayo comrade," ajak Ivan dengan senyumnya. "Lebih baik kita pergi sekarang, дa?"
Gilbert tak menjawab apa-apa. Ia hanya diam saja dan berjalan mengikuti Ivan, tak lagi melihat ke belakang. Ia bisa mendengar teriakan putus asa Ludwig—dan semua terasa semakin berat. Tetapi ia meyakinkan dirinya untuk tidak berbalik, karena ia tahu ia tak akan bisa pergi bila melihat wajah sedih adiknya. Teror Königsberg itu masih membayanginya, tetapi Gilbert berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri. Ini untuk West. Ya, Ludwig. Mein kleiner Bruder…
Ivan berhenti melangkah dan berbalik kepada nation berambut putih itu. Gilbert bisa melihat senyumnya—masih sama seperti yang diingatnya dalam mimpi buruk itu. Dadanya mulai sesak dan keringat dingin merembes keluar dari pori tubuhnya. Demi West, demi West, demi West!
"Kau senang, дa? Akhirnya kau akan bisa bersatu sepenuhnya dengan Russia," katanya ceria.
Mata merah spontan membelalak. Neraka lain sudah disiapkan untuk Gilbert Beillschmidt.
((owari))
Rambling gapen
Ahahaha. Ludwig OOC, ya? Maaf untuk yang mengharapkan lebih banyak kesadisan Ivan, saya harus mengecewakan kalian. Dan tak perlu ditanya, saya memang senang menyiksa Gilbert *evil laugh* *dibunuh Ore-sama FC*
Balasan review untuk
Akachi: Aih, terima kasih banyak kalau memang benar-benar sesadis itu *bangga?*. Wogh, kalau begitu hobi kita sama—saya juga suka yang sadis, apalagi kalau lagi depresi seperti ini. Yap, terima kasih lagi.
nyasar-chan: Wah, jangan sampai dibenci lah. Yap, terima kasih banyak. Ini update-nya^^. Dan terima kasih lagi udah ngereview fic saya yang lain.
Ah, review дa? *nyiapin pipa*
-gK
