A/N : Okay~ Ada yang minta brotherly fict kan? :3 Jadi... saya mencoba untuk membuatnya XD

Yep, happy reading :3

Desclaimer : Hidekaz Himaruya

WARNING! OOC (failed at Noru n' Ice personality I think orz)

-x-x-x-x-x-x-x-

Got'cha!

Quiz 2 : Say it 3 times! Say it 10 times!

"Hei, Noru-san! Hari ini aku akan membuktikan bahwa aku lebih hebat darimu!" seru Iceland dengan mantap.

Norway, yang sedang duduk dan memandang ke luar jendela hanya terdiam dan bengong melihat adiknya itu dengan wajah datar.

"Karena aku akan memberi tebakan, kau harus menjawab, oke?" pinta pemuda berambut ash itu.

Norway berpikir sebentar, "... Kalau aku bisa menjawab... apa kau akan melakukan 'itu'?" tanya Norway sambil memiringkan kepalanya ke samping, bergaya imut.

Iceland sedikit kaget atas permintaan kakaknya itu, "I... Itu kalau kau bisa menjawab!" seru Iceland.

Norway hanya tersenyum kecil.

"Oke, jadi... katakan Himalaya 3 kali," Iceland memulai.

Norway memberinya tatapan penuh tanda tanya.

Iceland mulai tidak sabaran, "Ikuti saja lah, Noru-san!" pintanya.

Norway mengangkat bahunya. "Himalaya... Himalaya... Himalaya..."

Iceland mengangguk, "Sekarang 'Hilamaya' 3 kali lagi!"

Norway menyeringai dalam hatinya, "Ah... jadi itu..." batinnya.

"Hilamaya, Hilamaya, Hilamaya~"

Iceland tampak bingung melihat Norway yang tampaknya... senang? Ah! Mungkin hanya perasaannya saja.

"Ucapkan Himalaya 3 kali."

"Himalaya, Himalaya, Himalaya."

"Yak! Gunung tertinggi di dunia adalah...?"

"Mount Everest."

"..."

Iceland menatap pemuda berambut pirang di depannya itu dengan tatapan tidak percaya sementara Norway sendiri hanya nyengir.

"Ti... Tidak adil! Harusnya kau menjawab, 'Himalaya'!" seru Iceland frustasi.

Norway hanya tersenyum kecil, "Nah, nah, nah~ Kau kurang berpengalaman soal teka-teki, Aisu-chan," ujar Norway.

Iceland merinding mendengar nama panggilan itu dari 'kakak'nya.

"Nah, kau akan menepati janjimu kan?" tanya Norway.

Iceland mulai merasa panik, tapi... "Tunggu! Pasti kau pernah mendengar pertanyaan itu sebelumnya kan, Noru-san! Jadi itu tidak dihitung!" seru Iceland berusaha untuk menghindari janjinya untuk melakukan... 'itu'.

Wajah Norway emotionless seperti biasanya, tetapi dalam hati ia cukup kesal dengan kelakuan adiknya itu. Ia tidak akan membiarkan adiknya lari begitu saja.

"Kalau begitu... sekarang kau jawab pertanyaanku," ujar Norway.

"Apa?"

"Kau dengar aku. Kalau kau gagal, kau harus melakukannya~" ujar Norway dengan datar.

Iceland berpikir, "Pasti pertanyaannya hanyalah pertanyaan mudah!"

"Oke!" ujar Iceland mantap.

Norway menyeringai kembali dalam hatinya, "Oh, you'll regret it, Aisu-chan," batinnya.

"Baiklah. Katakan Chandelier 10 kali," ujar Norway.

Iceland mengernyitkan alisnya, tapi ia melakukannya juga. "Chandelier, chandelier, chandelier, chandelier, chandelier, chandelier, chandelier, chandelier, chandelier, chandelier..." ujarnya sambil berhitung dengan jarinya.

"Siapa putri yang meninggal karena apel beracun?" tanya Norway.

"Tuh kan gampang!" batin Iceland senang.

"Cinderella!" serunya dengan lantang.

"... Hmh..." Norway tersenyum.

Iceland terdiam. Putri. Apel beracun. Cinderella? Tunggu... itu! Sa...

"Got'cha~ Aisu-chan~" ujar Norway dengan nada penuh kemenangan. "Jawabanmu salah."

"Akh... aa... a... It... Itu..."

"Tentu saja kau ingat aku pernah membacakanmu cerita tentang Snow White kan?" ujar Norway sambil tertawa kecil.

Wajah Iceland memerah, "Aaa! I... ITU TIDAK ADIIL! KAU MENJEBAKKU!" serunya sambil berputar-putar di tempatnya.

Norway memandangi kelakuan adiknya yang 'menarik' itu. Ia mengangkat bahunya, "Well... a deal is a deal, lillebror~"

Iceland terdiam. Ia tidak bisa menghindar lagi. "No... sa...n..."

"Hm?"

"No... Noru... nii... san..."

"Aku tidak dengar, Aisu-chan~"

"Oke! Oke! Noru nii-san!" ujar Iceland dengan wajah memerah.

Keadaan hening sejenak, lalu tiba-tiba Norway berdiri dan menepuk kepala Iceland. Iceland membuang muka, tetapi, ia mencuri pandang dan betapa kagetnya begitu ia melihat senyuman yang sangat jarang dari kakaknya itu. Setelah itu Norway berjalan menuju kamarnya lalu masuk dan kemudian menutup pintunya.

Iceland hanya bisa memandanginya dan...

"SIALAAAAN!" teriaknya frustasi lalu menendang kursi, meja, dan apa pun yang ada dalam pandangannya.

Oke, pasti kalian mengira senyuman yang sangat jarang itu adalah sebuah 'senyuman yang tulus' dari Norway kan? Tapi bukan begitu pendapat Iceland. Itu adalah senyuman... mengejek. Hari itu, Iceland berjanji untuk mencari tebakan yang lebih baik untuk mengalahkan Norway!

Bagaimana dengan Norway? Tampaknya pemuda berambut pirang itu hanya berbaring di tempat tidur, berusaha untuk menahan tawanya. Hari ini benar-benar menarik baginya. Ia akan menantikan tebakan dari pemuda berambut ash itu lagi.

- END -

-x-x-x-x-x-x-x-

Lillebror : Little brother (Norwegian)

A/N : Aah... I think I failed at humor site orz Kayanya chapter kali ini kurang lucu yah? DX Well... Iceland and Norway is a new character for me :3 Saya dapet info dari temen kalo Iceland itu... tsundere like juga dan dia tidak mengakui kakaknya(Noru) yah? 'w' Yah, jadilah cerita ini XD

Jujur saya juga gagal menjawab kedua pertanyaan di atas itu orz Dengan PD menjawab, 'Himalaya' dan 'Cinderella' lol Parah juga yah :))

Moga2 fict ini bisa lanjut lagi... :,3 Ideaas! Come to meeeeee! -Wizard Igirisu style-

Hope you enjoy it! :D Review would be nice~ X)