Chapter 3
Sejak pertama kami pergi bersama ke toko olahraga tempo hari, aku dan Tachibana jadi sering mengadakan pertemuan yang rahasia. Benar, kami merahasiakan hal ini dari teman-teman kami. Ini pun sepertinya agak berbahaya karena aku sering kali menghindari dari ajakan teman-temanku kalau sedang ingin pergi bersama. Alasannya ada saja, kadang ingin membantu kakek di rumah, atau alasan kesehatan, atau mungkin ada pekerjaan rumah. Padahal sebenarnya aku ingin pergi bertemu dengan Tachibana. Kadang dia duluan yang membuat janji, tetapi lebih sering aku yang membuat janji. Lama kelamaan aku menyadari bahwa aku membutuhkannya. Sesekali kami bertemu untuk bermain tenis.
Seperti hari ini misalnya. 1 minggu menjelang pertandingan final nasional, Tachibana mengajakku bermain tenis sekedar ingin melihat keadaan tangan kiriku. Dia pernah menyarankanku pergi ke sebuah rumah sakit di Osaka. (emang bener di Osaka ato gue salah ya? Di episode berapa gitu mereka ketemu…)
"Lengan kirimu sudah semakin baik kurasa, Tezuka. Apa kau pergi ke rumah sakit yang aku tunjukkan padamu di Osaka?"
"Ya, aku lumayan mendapat titik terang di sana. Terima kasih, Tachibana."
"Aku rasa latihan hari ini cukup. Simpan tenagamu untuk pertandingan nasional bulan depan."
"Tidak ada lawan yang perlu aku khawatirkan sebenarnya, kecuali Rikkai."
"Kau pernah mengalahkan Sanada tiga tahun yang lalu, Tezuka. Tetapi kali ini Rikkai akan kembali dengan kekuatan yang sangat besar. Kau akan melihat Sanada dengan tampilan lain."
"Dia pasti jauh lebih kuat, maka aku harus bisa lebih kuat darinya."
"Dan tentunya, Yukimura sudah sembuh dari sakitnya."
"Ya, aku dengar dia sudah kembali memimpin klubnya. Dia tidak diturunkan saat melawan beberapa sekolah."
"Siapa yang menurutmu paling menarik untuk dikalahkan, Tezuka?"
"Aku tertarik mengalahkan Sanada lagi. Aku penasaran dengan kekuatannya sekarang. Untuk Yukimura, aku tidak tahu. Jika memang dia kembali untuk bermain tenis lagi, aku tidak memikirkan akan bisa melawan dia di turnamen nanti."
"Tetapi Yukimura itu jauh lebih hebat dari Sanada."
"Aku tahu."
"Berjuanglah, Tezuka. Aku yakin kau dan teman-temanmu pasti bisa. Kami yang pernah menjadi lawanmu, akan menjadi saksi pertandingan besar kalian nantinya."
"Arigato, Tachibana."
Tachibana mengajakku duduk di bench sambil melepas lelah. Dia menawarkan minuman isotonic untuk mengembalikan staminaku. Latihan tenis secara privat dengan orang ini terasa begitu berbeda. Tachibana menjadi seorang kapten klub tenis dengan pengalaman cedera begitu banyak. Diawali dari kecelakaannya melukai seorang teman waktu dia sekolah di Osaka, kemudian kejadian di klub tenis Fudomine School yang menyebabkan klub tenis itu terancam bubar. Akhirnya sekarang dia bertindak sebagai kapten dan juga pelatih yang begitu empati terhadap anak buahnya. Cedera sedikit saja bisa berakibat fatal untuk kemajuan timnya. Maka itu dia sangat berhati-hati saat melatihku sore ini.
"Kau bilang apa pada teman-temanmu tentang hari ini, Tezuka?"
"Aku tidak pernah bilang kalau pergi denganmu."
"Benarkah?"
"Karena ini akan mencurigakan mereka kalau aku bilang pergi denganmu. Sebenarnya mereka sudah curiga dulu karena aku sering meninggalkan kegiatan di luar klub bersama mereka. Hari ini misalnya."
"Hari ini?"
"Kikumaru mengajak teman-teman klub ke rumahnya. Katanya dia baru beli DVD film baru."
"Lalu kau bilang apa?"
"Aku ingin tidur." (gubrak! Hm…Tezu-buchou?) *dilempar botol bekas minuman isotonic*
"Hahaha…kenapa kau bilang begitu?"
"Karena aku kurang tidur, hanya itu alasanku."
"Tezuka…Tezuka…kau ini lucu juga kadang-kadang. Aku jadi suka padamu."
"Eh?"
Aku sangat berharap bahwa pendengaranku salah, atau aku sedang bermimpi. (coba sini saya cubit dulu…) *dilempar kamus* Tetapi aku yakin bahwa aku tidak salah. Tachibana bilang suka padaku? Apa dia sadar juga saat mengatakan itu? Tunggu, mungkin dia punya maksud lain…
"Tachibana…"
"Kau itu sangat serius, kadang orang lain pun takut untuk berdekatan denganmu. Berbicara denganmu saja bisa menjadi momen yang sangat jarang. Aku beruntung bisa mendapatkan momen ini."
"…"
"Dan kau punya selera humor yang cukup lumayan menurutku. Kau bisa saja memberikan alasan ingin mengerjakan tugas atau apa."
"Karena aku sudah kehabisan alasan. Ini dan itu, sepertinya sudah aku keluarkan. Jadi aku pilih yang tidak masuk akal sekali-kali." (gak Tezuka banget deh…^^;)
"Maka itu aku jadi tambah suka padamu."
"…"
"Kau terkejut, Tezuka? Aku serius, bahwa aku suka padamu."
"…"
"Aku tahu ini kedengarannya bodoh. Aku yakin pasti aku terlihat sangat bodoh saat mengatakan ini padamu. Cobalah kau mengatakan sesuatu tentang ini, aku ingin mendengar pendapatmu."
"Kita berdua laki-laki, tetapi mengapa perasaan itu bisa muncul, Tachibana?"
"Entahlah. Maka itu, aku ingin dengar pendapatmu."
Aku mau bilang apa ya? Hm…(kok bingung?)
Aku sama sekali tidak merasakan keanehan dari kata-kata Tachibana. Aku pun diam-diam selalu memuji laki-laki ini. Keinginanku untuk selalu bertemu dengan Tachibana sangatlah besar. Dan sekarang aku lebih dulu mendengar kata-kata itu dari Tachibana, orang yang aku suka.
"Kita mulai dari sini saja, Tachibana."
"Eh?"
"Kau mengerti maksudku khan? Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Maka itu kau harus mengajariku bagaimana cara menerima perasaan itu dengan baik."
"Tezuka…"
"Aku ingin belajar darimu, tidak dari orang lain."
"Apakah itu berarti 'iya'?"
"…"
Aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Tachibana lalu merangkul pundakku dan mengajak pulang karena hari sudah semakin gelap.
Jadi, tidak ada yang spesial sebenarnya. Semua terjadi begitu saja. Tachibana menyatakan perasaannya lebih dulu, sedangkan aku berusaha mempersiapkan diriku untuk bisa menerima dia. Tidak hanya dia secara jasmani, tetapi dia dalam arti keseluruhan…
To be continue~
Hm…gak jelas deh bo~ kayaknya bakalan lebih dari 4 chapter deh, ya gimana nanti aja deh...*perut keroncongan*
Ditunggu comment/review-nya aja deh…^^;
