Chapter 3

Aku menyadari bahwa final sudah sangat dekat. Persiapanku sudah sangat matang, dan aku tidak tahu bagaimana cara memantapkannya lagi. Aku tidak bisa terus-terusan di bawah tekanan seperti ini. Teman-temanku jugga mengalami hal yang sama denganku. Maka demi meningkatkan kualitas permainan mereka, aku mengizinkan mereka pulang ke rumah masing-masing dan akan kembali tepat di hari pertandingan final nasional nanti. (pulang kampung…^^)

Hari Minggu, adalah hari yang cocok untuk jogging. Jalanan sekitar kota pasti akan sangat sepi, dan aku bisa menghirup udara segar sambil berlari-lari kecil. Hanya saja acara joggingku hari ini agak berbeda dari biasanya. Aku sudah janjian dengan Tachibana kalau akan jogging bersamanya pagi ini. Senangnya bisa berolahraga dengannya…(cie cie…Tezu-buchou, cihuy!) *dicincang mamanya Tezuka*

"Kunimitsu."

"Hai, kaa-san."

"Kau jadi pergi jogging?"

"Ya, tentu saja."

"Kalau begitu bawalah kunci rumah setelah kau keluar, karena aku juga akan pergi pagi ini."

"Ayah dan Kakek ke mana?"

"Mereka sedang pergi ke Shinjuku. Kemungkinan akan kembali malam hari karena banyak hal yang diurus di sana."

"Lalu kaa-san?"

"Aku sudah ada janji dengan teman-teman kursus menyulamku untuk mengadakan pelatihan di sebuah playgroup. Ini tidak bisa ditunda lagi, aku akan pulang agak sore mungkin."

"Aku akan sendirian kalau begitu."

"Kau boleh mengajak temanmu bermain ke rumah kalau kesepian."

"Hai."

Semoga hari ini menjadi hari kebuntunganku. Aku akan mengajak Tachibana ke rumah setelah kami selesai olahraga nanti. Apa yang akan kami lakukan? Entahlah, pokoknya harus dilakukan berdua! (Sip deh, ganbatte!) *mulut diplester lakban*

Aku dan Tachibana bertemu di sebuah taman kota. Kami berlari mengelilingi taman itu, dan kami pun tidak sendirian. Banyak orang yang ingin menghabiskan waktu pagi hari mereka dengan berkunjung ke sini. Ada yang satu keluarga, ada yang dengan pasangannya, seperti aku dan Tachibana sekarang. Aku agak khawatir akan bertemu dengan rekan sesama pemain tenis di sini. Apa yang akan mereka katakan kalau mereka melihatku sedang bersama Tachibana?

"Tezuka?"

"Ya?"

"Kau tidak apa-apa? Aku rasa kau lelah."

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Final tinggal dua hari lagi, kau harus menyimpan banyak tenaga untuk itu. Bagaimana lenganmu?"

"Sudah lebih baik sekarang. Aku masih tidak tahu siapa yang akan menjadi lawanku di final nanti."

"Siapa pun itu, yang pasti dia sangat kuat. Bisa sampai ke final, berarti bukan lawan yang mudah. Persiapkan dirimu, Tezuka. Aku akan menonton pertandinganmu."

"Ne, Tachibana. Kau buru-buru pulang?"

"Tidak, aku sudah bilang kalau akan pergi seharian ini. Kenapa?"

"Orangtuaku sedang pergi semua. Maksudku…aku ingin kau sesekali…"

"Ke rumahmu? Itu yang ingin kau katakan padaku, Tezuka?"

"…Un…"

"Ini akan menjadi yang pertama untukku."

"Kau akan pulang setelah orangtuaku kembali. Bagaimana, Tachibana?"

"Aku tidak bisa menolak sepertinya. Ayo…"

Sudah tidak sabaran, maka setelah kami melepas lelah di taman itu, aku langsung mengajaknya pulang. Aku senang sekali dia mau kuajak ke rumah. Tadinya aku ragu dia akan mau, karena mungkin dia tidak siap bertemu dengan orangtuaku. Tetapi menurutku ini akan sangat penting, selama ini orangtuaku tidak pernah tahu kalau aku punya teman lain di luar dari Seigaku.

"Maaf ya kalau berantakan."

"Orang sepertimu bisa mengacaukan rumah? Aku tidak percaya, Tezuka."

Tachibana bilang rumahku sangat rapi. Aku mengizinkan dia melihat-lihat, sementara aku membuatkan dia secangkir teh. Aku akan menahan dia pulang, kuusahakan agar dia tidak jenuh berada di rumahku.

"Ini fotomu usia berapa, Tezuka?"

"Hey, jangan lihat-lihat fotoku waktu kecil!" (hayhaaayy…lucu sekali, jadi ikutan ngebayangin) *dilempar gelas sama Tezuka*

"Kenapa? Khan lucu. Lihatlah, kau gemuk sekali waktu kecil."

"Mou, ii kara you, Tachibana." *blush*

"Lihatlah yang ini, kau pernah ke Eropa?"

"Itu waktu aku masih 10 tahun. Kakekku pernah mengajakku melihat bukit Matterhorn di Swiss. Itu fotoku waktu sedang berada di kaki bukitnya."

"Menyenangkan sekali bisa pergi ke luar negeri sewaktu masih kecil. Ngomong-ngomong, orangtuamu sedang ke mana, Tezuka?"

"Ayah dan kakek sedang pergi ke Shinjuku, sedangkan ibuku sedang ada janji dengan teman-teman kursus menyulam."

"Tidak menyenangkan sekali mereka bepergian tetapi tidak mengajakmu juga."

"Lagipula aku sudah ada janji denganmu lebih dulu, jadi mereka tidak ingin merusak acaraku. Aku juga diizinkan mengundang seorang teman untuk menemaniku sampai mereka pulang dari acara masing-masing."

"Jadi, kita punya banyak waktu untuk berdua. Aku rasa tidak akan ada yang mengganggu."

"Sou da ne. Oh ya, kalau boleh aku akan ke atas dulu. Aku mau mandi sebentar."

"Chotto matte."

Belum sempat aku naik ke atas, Tachibana lalu mendekatiku dan mendorongku ke tembok. (Deg2an bo~!) Kedua tangannya berada di dekat bahuku, dia menatapku dalam. Wajah kami sangat dekat. Aku bisa merasakan kedua pupil mataku melebar karena terkejut.

"Denganku, Tezuka?"

"Eh? Denganmu, Tachibana? Tapi…"

"Kau malu, Tezuka? Kita berdua laki-laki, apa yang harus ditakutkan?" *dies*

"Iya…tapi aku…"

"Aku memaksa. Bagaimana?" (OMG!)

Aku merasa kakiku gemetar ketika dia mengatakan itu padaku. Aku hampir kehilangan keseimbangan saat dia membisikkan kata-kata terakhirnya tepat di telingaku. (ikutan gemeteran…) Aku berusaha untuk tenang, tetap pada pembawaanku seperti biasa. Aku menghela nafas, lalu meraih tangan Tachibana dan mengajaknya naik ke kamarku. (Yahooo! Akhirnya dia berani juga…) *digelindingin ke tangga*

Setelah kami masuk kamar, aku memastikan pintu kamarku dikunci dulu supaya tidak ada yang mengganggu. Tachibana bilang kamarku sangat rapih, tidak seperti kebanyakan kamar anak laki-laki yang identik dengan berantakan. Aku tahu dia mengatakan itu untuk mengalihkan perhatian. (iya donk, biar gak nervous…) *dijedotin*

"Kamar mandinya sebelah sini, Tachibana."

"Akhirnya kau mengajakku juga."

"Karena kau memaksaku, aku tidak punya pilihan."

"Saa…ikku you…"

Tachibana lalu mendekatiku. Dan tanpa ragu, dia menciumku. Baru sebentar dia menciumku, lidahnya sudah menerobos masuk ke mulutku dan bertemu lidahku. Sungguh, aku gugup sekali…benar-benar gugup…Aku tidak bisa bersikap biasa saja. Kenapa sih akhirnya aku bisa jatuh hati pada orang ini dan menuruti apa yang dia inginkan?

"Kita…hanya akan mandi saja khan, Tachibana?"

"Kalau aku minta yang lain bagaimana?"

"Jangan aneh-aneh deh…!" (gyahahaha…! Ngebayangin kalo Tezu-buchou beneran bisa ngomong gitu…) *disumpel handuk*

"Kita sudah pacaran, sekali ini aku akan membuat kita semakin dekat. Kau pun juga penasaran khan, Tezuka? Itu normal kurasa."

"Asal kau tidak macam-macam saja, aku masih bisa menurutimu kali ini. Hanya kali ini saja. Kalau sampai aku kehabisan tenaga untuk final, aku akan membunuhmu nanti."

"Hai hai…"

Sekali lagi dia menciumku, setelah itu aku langsung mengajaknya masuk ke kamar mandi. Tak bisa dibayangkan apa saja yang terjadi di antara kami. Yang jelas, hanya kami yang tahu. Pengalaman ini akan menjadi yang pertama, terutama untukku…

Apa ini akan baik-baik saja? *shrug*

To be continue~


Simply unromantic…

Ya, gak bisa bikin adegan HOT yang OK's gitu. Jadi terpaksa saya cut lagi deh,,,^^

There will be another chapter, comment/review-nya masih ditunggu kok…makasih banyak sudah mau baca Fic tidak bermakna ini…^^;

Tachibana : emang gak jelas...

Tezuka : *naikkin kacamata*

Penulis : *sembunyi dibalik punggung Tezu-buchou*

Tachibana : makanya kalo gak bisa bikin pairing ini, mending GAK USAH aja deh...! author bodor!

Tezuka : kasih dia kesempatan sih, Tachibana...

Penulis : huaaa...kamu nolongin aku bangeeett~ X3 *meluk Tezu-buchou*

Tachibana : jangan peluk2! *ngelempar ke Ujung Kulon*