Chapter 5

Aku mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sampai aku terbangun dengan kondisi pinggang dan leher yang sakit. Ketika aku mencoba bergerak, aku menyadari ada seseorang yang memelukku sambil tidur dari belakang. Salah satu tangan orang ini menggenggam tanganku. Satu hal yang yang aku sadari bahwa kami telanjang di bawah bedcover ini. Aku menghela nafas dan membenamkan kepalaku kembali ke bantal. Aku bisa merasa pipiku merona merah, dan terasa panas…

"Tachibana, bangunlah."

"Hm…"

"Bangunlah…"

"Aku sudah bangun dari tadi, Tezuka"

"Mengapa kau tidak membangunkanku juga?"

"Karena aku ingin lebih lama begini denganmu, Tezuka."

"Kau ini…"

"Kau masih ingat apa yang baru saja terjadi dengan kita, Tezuka?"

"Hn."

"Kau begitu luar biasa. Ini hal pertama untuk kita." (cihuy!)

"Aku tidak percaya jika ini adalah yang pertama untukmu."

"Aku masih perjaka kok. Mau bukti?" (wah, mau mau mau!) *dilempar kursi*

"Tachibana!" *blush*

"Hahaha…baiklah, Tezuka. Intinya hari ini sangat luar biasa."

"Pinggangku sakit."

"Aku juga, terutama di lutut."

"Menurutmu kita agak berlebihan?"

"Entahlah, aku tidak punya pengalaman."

"Meski kau tidak punya pengalaman, kau melakukannya seakan kau sudah pernah berkali-kali melakukannya."

"Hey, kau mengira aku sudah pernah melakukan dengan orang lain, Tezuka?" (ya…siapa tau dirimu playboy gitu…xixixi) *dilipet jadi lontong*

"Tidak. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku."

"Apa itu?"

"Kau tidak akan melakukannya dengan orang lain kecuali aku." *lemes deh…*

"Hai, Tezuka Kunimitsu."

Kami berciuman (lagi…), oh…betapa aku teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu setelah kami berciuman seperti ini. Tachibana sukses menaklukkanku, aku dibuat lemah di bawah keperkasaannya. Seandainya waktu berhenti, aku bisa lebih lama merasakan ini dengannya.

Tok…Tok…

"Kunimitsu?"

Spontan aku langsung mendorong Tachibana dan secepat kilat melompat dari tempat tidur dan menyambar pakaian seadanya. Aku tidak percaya bahwa ibuku akan cepat pulang. Aku memberi isyarat kepada Tachibana untuk masuk ke kamar mandi supaya dia bisa bersiap bertemu dengan ibuku. Mendadak kepalaku terasa penuh setelah mendengar ibuku mengetuk pintu kamarku.

"Kaa-san, kau bilang akan pulang agak sore…"

"Ya, tapi ternyata acaraku sudah selesai. Aku melihat ada satu pasang sepatu di luar, apa kau mengajak teman ke sini?"

"Ya, dia sedang di kamar mandi sebentar. Kami jogging sama-sama tadi."

"Ajak dia untuk makan malam dengan kita. Ayah dan Kakek sedang dalam perjalanan pulang."

"Tidak apa-apa kalau aku mengajak temanku makan malam dengan kita?"

"Kakekmu juga senang kalau kau bawa teman ke sini. Siapa namanya?"

"Nanti saja aku kenalkan, Kaa-san."

"Suruh dia turun setelah selesai dari kamar mandi."

"Hai."

Setelah mendengar ibuku turun ke dapur, aku bernafas lega dan berusaha menenangkan diri. Aku langsung melihat kondisi Tachibana yang juga sangat syok setelah aku mendorongnya dan menyuruhnya bersembunyi ke kamar mandi.

"Tachibana, daijobu ka."

"Ee, daijobu."

"Aku sungguh tidak tahu kalau ibuku akan pulang cepat hari ini. Padahal dia sudah bilang akan pulang terlambat. Ayah dan Kakek juga sudah dalam perjalanan."

"Kalau begitu aku bersiap untuk pulang saja."

"Tapi ibuku mengajakmu makan malam, bagaimana?"

"Benarkah? Aku tidak ingin merepotkanmu lho."

"Kita bertemu dengan ibuku dulu saja kalau begitu. Ayo."

Agak kacau rupanya, aku berharap tidak merusak mood Tachibana yang sedang sangat bersemangat setelah melakukan 'itu' denganku. Aku juga sama senangnya dengan dia. Hanya saja kedatangan ibuku benar-benar membuat kami terkejut dan agak kacau. Tetapi kemudian aku melihat dia baik-baik saja. Dia terlihat tenang, dan siap bertemu dengan ibuku. Kami turun dari kamar dan bertemu dengan ibuku yang sedang bersiap di dapur.

"Hajimemashite, Tachibana Kippei desu."

"Apa kau teman sekolahnya Kunimitsu?"

"Tidak, saya dari sekolah lain. Tapi kami rekan bermain tenis."

"Begitu? Berarti di pertandingan regional kemarin kalian saling bertemu."

"Begitulah. Senang berkenalan dengan Anda, Tezuka Kaa-san. Apa yang bisa saya bantu untuk makan malam nanti?"

"Maaf merepotkanmu lho. Aku hanya senang saja bisa berkenalan dengan salah satu teman Kunimitsu yang berasal dari sekolah lain. Tidak biasanya, karena dia selalu mengajak rekan satu sekolahnya datang ke rumah."

"Sou desu ka."

"Kau dan Kunimitsu menyiapkan meja makan saja. Nanti kalau masakkannya sudah selesai, aku akan memanggil kalian lagi. Kunimitsu, tolong telepon Ayah ke ponselnya, tanyakan sudah sampai di mana."

"Hai."

Dan malam yang sudah ditunggu telah tiba. Ayah dan Kakek sudah pulang dari perjalanannya ke Shinjuku. Aku memperkenalkan Tachibana kepada keduanya. Tanggapan ekstrem langsung keluar dari Kakekku karena ini pertama kalinya dia berkenalan dengan temanku di luar sekolahku.

"Kenal di mana, Kunimitsu?" *nanya dengan muka flat*

"Di lapangan tenis. Dia yang kujumpai saat final di pertandingan regional."

"Dari mana asalnya?"

"Dia sebenarnya asli Osaka, kemudian pindah ke Tokyo karena orangtuanya dinas di sini."

"Apa nama sekolahnya?"

"Fudomine School."

"Apakah dia akan ikut final di pertandingan nasional?"

"Dia sudah kalah di semi final."

"Apa jabatannya di klub tenis?"

"Sebagai kapten."

"Dia hebat?"

"Tentu saja, Kakek. Mengapa pertanyaan Kakek begitu singkat? Ini hanya akan membuat Tachibana canggung di depan Kakek." *geregetan…*

"Lho, dia harus tahu siapa aku. Karena suatu hari nanti kau akan mengajak dia ke sini lagi khan?"

Tachibana tersenyum dan sedikit menahan tawa. Dia sesekali melihatku kalau-kalau aku bingung tidak bisa menjawab pertanyaan kakekku. Selanjutnya adalah mendengarkan petuah kakekku untuk masa depan kami. Aku mengenalkan Tachibana kepada keluargaku sebagai teman, tidak lebih dari itu. Aku tidak bisa mengenalkannya sebagai pacar atau semacamnya, aku bisa dibunuh oleh kakekku dengan satu kali pukulan Karate-nya. (ya iyalah, bisa dibanting pula kalian berdua ini nanti…) *dibanting beneran sama kakeknya Tezuka* Kakek bilang perjalanan kami ini masih jauh dan harus siap dengan segala tantangan yang menghalau di depan nanti. Kami juga ditanya seputar SMA.

"Saya masih belum bisa menentukan akan melanjutkan ke mana, Tezuka jii-sama."

"Kunimitsu harus masuk SMA favorit di wilayah ini. Aku sangat berharap dia masuk dua ekskul nanti. Tenis dan klub bela diri. Bagaimana menurutmu, Tachibana-kun?"

"Saya belum pernah tahu kalau Tezuka bisa bela diri." (saya juga, Opah Tezuka…)

"Aku yang mendidiknya. Kau bisa membuktikannya suatu hari nanti. Ayo tambah lagi, jangan ragu-ragu, Nak."

Sekali lagi aku melihat Tachibana mendengus tertawa tetapi di tahan. Kali ini aku menginjak kakinya karena dia terkesan meledekku. Aku senang sekali malam ini. Di antara acara makan malam bersama keluarga, Tachibana hadir dan larut dalam percakapan dengan keluargaku. Ini lumayan bisa membuatku lupa dengan kejadian di kamar tidur tadi…

Malam kian larut, akhirnya Tachibana memutuskan untuk pulang. Aku diizinkan oleh Kakek untuk mengantarnya sampai ke halte bis terdekat. Kesempatan ini kami gunakan untuk jalan-jalan sebentar, menghirup udara malam yang begitu menyegarkan.

"Terima kasih, Tezuka."

"Untuk apa?"

"Segalanya di hari ini. Banyak hal yang tak terduga terjadi di hari ini."

"Kau benar."

"Aku harap kita bisa mengulanginya lagi nanti. Selesaikan pertandinganmu di final, setelah itu kita buat janji lagi."

"Ya."

"Oh ya, selanjutnya di rumahku…"

"Apa?"

"Ya, kita akan melakukan 'itu' di rumahku."

Dia ini pandai sekali menggodaku. Aku menjitak kepalanya dan memasang wajah cemberutku. Dia tertawa, kemudian merangkul pundakku supaya aku tidak marah.

Tachibana yang aneh, dan aku pun menjadi orang aneh bisa menerima cinta dari orang seaneh dia. Aku masih harus banyak belajar bagaimana bisa menerima dirinya ini. Berbagi kebahagiaan dengan orang lain itu ternyata menyenangkan juga…ataukah aku yang selama ini sering membatasi diri dari banyak orang sampai tidak menyadari bahwa seorang Tachibana Kippei adalah orang yang bisa kuajak berbagi?

Entahlah, aku tidak tahu…

To be continue~


Tachibana : kok To be continue terus sih?

Penulis : Lha, emang belum ada endingnya kok…please, dua chapter lagi deh abis itu udahan…*begging*

Tezuka : *ngurut-urut kening, pusing*

Tachibana : kalo masih gak jelas juga endingnya, gue OGAH jadi character di Fic loe! *ngeguyur air panas*