Chapter 6
Pertandingan ini belum berakhir. Aku tidak boleh menyerah apa pun yang terjadi. Sanada bukan lawan yang mudah, tetapi aku tidak mau mudah dikalahkan olehnya juga. Akan aku keluarkan apapun yang bisa kupakai untuk mengalahkannya.
"Seigaku akan menjadi yang pertama di Nasional! Dan aku yang akan memimpin mereka berada di puncak teratas!"
Aku bangkit dari kejatuhanku di lapangan, raketku terlempar jauh tetapi aku bisa meraihnya kembali. Sanada kembali menyerangku dengan Light. Aku bangkit dan mengembalikannya dengan Phantom-ku. Tetapi sepertinya aku gagal, bolanya tidak keluar. Melainkan masuk dalam porosku sendiri. Aku memukulnya balik, dan raketku terhempas lagi. Aku mendengar Sanada berseru lantang…
"Rikkai harus menjadi nomer satu!"
Dan akhirnya…
"Game end Match, Rikkai Sanada. 7-5!"
Rasa nyeri di tangan kiriku semakin bertambah. Aku jatuh tak berdaya setelah pertandingan ini selesai. Entah kenapa aku lega karena pertandingan sudah berakhir. Aku menarik nafas dalam-dalam demi bisa kembali bangkit bertemu dengan teman-temanku.
"Tezuka. Aku tidak ingin bermain denganmu lagi. Melawanmu adalah sesuatu yang merepotkan. Bisa-bisa aku dikirim langsung ke rumah sakit setelah ini."
"Aku juga, Sanada. Nice game!"
Sanada membantuku berdiri. Kemudian Fuji dan Oishi langsung menggantikannya dan membawaku ke tribune untuk bergabung dengan teman-temanku. Rasa sakit ini masih terasa, bahkan sampai menusuk sampai tulangku. Aku duduk di bench coach dan menenangkan diri. Beberapa teguk air sepertinya tidak membayar dahaga dalam tenggorokkanku.
"Kau perlu ke dokter, Tezuka?"
"Tidak, aku baik-baik saja, Oishi."
"Coba luruskan tanganmu, Tezuka. Biar aku bisa memeriksa rasa sakitnya."
Inui membantuku mengendurkan otot tanganku yang tadi sudah bekerja sangat banyak. Ketika aku meluruskannya, terasa sangat sakit. Dia lalu memberikan analgesic spray supaya bisa mengurangi rasa sakit.
"Spray ini tidak banyak menolong. Aku rasa kau harus bisa menahan diri untuk tidak dekat dengan raket, bola, dan lapangan."
"Tidak mungkin…"
"Bersabarlah, Tezuka. Kalau kau beristirahat, kau pasti bisa sembuh."
"Dengar, kalian harus bisa melangkah lebih mantap lagi setelah ini. Pertandingan belum berakhir. Inui, Kaidoh, kalian bersiaplah."
"HAI!"
Ketika teman-temanku sudah sibuk dengan persiapan Inui dan Kaidoh, aku naik ke tribune. Aku bilang pada Fuji dan Oishi kalau aku ingin ke toilet. Aku hanya berdalih sebenarnya.
Aku ingin bertemu Tachibana, tetapi tidak ingin terlihat oleh teman-temanku…
Aku melihat Tachibana turun dan hendak menghampiriku. Aku segera bergegas menghampirinya. Dia berdiri agak jauh dari tempat teman-temanku, dan dia juga memisahkan diri dari teman-temannya. Kami bertemu di sisi tribune lain dan tidak terlihat dari teman-teman kami. Saat kami berhadapan, aku hanya tertunduk tidak berani melihat dirinya. Kemudian aku jatuh berlutut, tetapi Tachibana langsung mengajakku berdiri lagi.
"Tidak ada yang perlu disesali, Tezuka. Kau sudah berjuang sangat keras di lapangan. Kekalahanmu bukanlah sesuatu yang sia-sia."
"Aku tidak menepati janjiku padamu."
"Yang paling penting adalah kau harus berjanji untuk Seigaku. Aku tidak begitu penting dalam pertandingan ini."
"Tachibana…"
"Kau begitu parah. Mau kutemani ke bagian kesehatan untuk memeriksa tanganmu?"
"Tadi Inui sudah memeriksanya untukku."
"Kau mengejutkan semua orang di sini, Tezuka."
"…"
"Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti tadi lagi."
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu kau mengorbankan diri demi bisa memenangkan pertandingan ini, dan juga demi teman-temanmu. Tetapi kau terlalu terbawa suasana sampai akhirnya tidak mempedulikan keselamatanmu sendiri. Kau tidak akan bisa bermain tenis lagi setelah ini, Tezuka."
"Jangan pernah mengatakan itu padaku, Tachibana!"
"Tezuka…"
Aku kelepasan mengeluarkan nada tinggi mendengar Tachibana bilang begitu padaku. Kenapa seakan semua orang tidak suka dengan tindakkanku di lapangan tadi? Apa aku berlebihan? Aku merasa telah melakukan yang terbaik di sana. Tetapi mengapa tanggapan mereka jadi seperti ini?
"Kau, Sanada, Inui, semuanya pun bilang begitu! Sampai kapan pun aku akan tetap bermain tenis!"
"Aku tidak mengatakan kau akan berhenti bermain tenis, Tezuka. Tetapi jika kau melakukan hal ini lagi…"
"Apa pun yang terjadi di lapangan, semua itu adalah keputusanku! Kau tidak berada di sana, Tachibana. Kau tidak tahu bagaimana rasanya…!"
"Di bawah tekanan? Tezuka, kau bukan satu-satunya orang yang berada di bawah tekanan saat ini. Lihatlah rekan-rekanmu di sana. Lihatlah Inui dan Kaidoh yang sekarang ini bertanding. Mereka pun sama stress-nya denganmu."
"Tapi…!"
"Tezuka, dengarkan aku!"
Tiba-tiba kedua tangan Tachibana mengguncang bahuku dengan kasar, berusaha menyadarkanku agar aku tidak terbawa emosi. Dia menatapku marah, diiringi dengan kecemasannya. Aku pun menatapnya balik, kecemasan dan rasa amarah masih bercampur aduk dalam otakku. Aku ingin menggerakkan tanganku untuk mendorong Tachibana dariku, tetapi aku tidak bisa. Seperti ada yang mencegahku melakukannya.
"Kau…akan tetap bermain tenis, sampai kapan pun, Tezuka. Hanya saja kau harus berjanji padaku satu hal."
"…"
"Jangan pernah lagi melibatkan dirimu dalam kondisi seperti tadi. Jangan pernah! Kau ingin terus bermain tenis khan? Jadi sekali lagi aku mengingatkanmu, jangan pernah menyakiti dirimu sendiri lagi!"
"Tachibana…"
Aku tidak membenarkan semua yang dikatakan Tachibana. Tetapi kemudian aku kembali memikirkan bahwa semuanya itu ada benarnya juga. Jika saja pertandingan tadi masih terus berlanjut, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Sanada mungkin juga akan menjadi korban.
"Ya, Tachibana. Aku berjanji."
"Serius?"
"Ya, mudah-mudahan aku bisa memegang janji ini."
"…"
"Aku serius, Tachibana."
Angin berhembus kencang di lapangan itu. Aku sampai mendekap diriku sendiri karena khawatir kedinginan. Tachibana tanggap, kemudian dia melepas jaketnya dan dipakaikan padaku. Untung saja jaket yang dipakaikan padaku ini bukan jersey Fudomine School. Hanya jaket biasa untuk menghangatkanku.
"Kembalilah ke teman-temanmu, Tezuka."
"Hn."
"Selesai pertandingan, aku akan menghubungimu lagi. Sampai nanti."
"Hm…matte, Tachibana."
Ketika Tachibana sudah berbalik hendak kembali, aku mencegahnya. Tiba-tiba kepalaku dipenuhi sejuta kata-kata yang sulit rasanya untuk dikeluarkan. Karena itu, yang terjadi kemudian bukan mengatakan sesuatu padanya. Melainkan aku memeluknya dan berbisik 'terima kasih' di telinganya. (huaaa…so sweet!) *ditendang keluar tribune sama Tachibana*
To be continue~
