Chapter 7
Tidak terasa bahwa masaku bersekolah di SMP Seigaku ini akan berakhir. Banyak hal yang akan aku rindukan di sekolah ini. Teman-teman, guru-guru, segudang kegiatan yang mengasyikkan, terutama kegiatan di klub tenis. Aku akan sangat merindukan suasana penuh semangat di lapangan ini. Dari pertama aku memulai bermain tenis, sampai bertemu dengan rekan-rekan yang selama ini sudah memperjuangkan Seigaku ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah lulus pun, aku dan teman-teman kelas tiga yang tergabung dalam klub ini, bisa meninggalkan segalanya dengan tenang karena kami mempunyai penerus yang bisa diandalkan. Ada Momoshiro dan Kaidoh yang bisa menjadi pemimpin, ada Echizen Ryoma yang selalu menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin bergabung di klub tenis ini.
"Perjalanan kalian masih panjang. Dan seiring itu pula, kalianlah yang selanjutkan meneruskan perjuangan kami. Seigaku akan menjadi yang terbaik ke depannya. Minna, yudan sezu ni ikou!"
"HAI!"
Sore itu, sebelum menghadiri pesta kelulusan di gedung pertemuan di sekolah, aku, Oishi, Fuji, Kikumaru, Inui, dan Kawamura menyempatkan diri berkunjung ke lapangan tenis. Kami ingin melihat sesi latihan mereka untuk terakhir kalinya. Aku tidak banyak memberikan pesan kepada mereka, dan tentunya aku serta teman-temanku menaruh harapan besar bagi masa depan mereka ini.
Selesai berkunjung, kami pun bergegas ke gedung pertemuan sekolah karena acara akan segera dimulai. Namun langkahku terhenti ketika sudah akan mencapai sana.
"Teman-teman, aku tidak akan ikut kalian di acara ini."
"Whoa, kenapa, Tezuka? Ini akan sangat menyenangkan lho."
"Maaf, Kikumaru. Tetapi aku…"
"Ayolah, Tezuka. Ini akan menjadi pesta perpisahan untuk semuanya."
"Tapi aku benar-benar tidak bisa, Fuji. Aku…"
"OK, aku mengerti. Kalian duluan saja, aku akan mengantar Tezuka ke depan gerbang sekolah."
Tanpa menunggu persetujuan dariku, aku membiarkan Oishi mengantarku ke gerbang sekolah. Dan yang paling mengejutkanku adalah Tachibana ada di sana. Dia berdiri sambil memandang ke layar ponselnya. Aku hanya berjarak kira-kira 20 meter dari gerbang, dan dia belum menyadari kehadiranku dengan Oishi sekarang.
Ah, tidak!
Aku akan menemui Tachibana bersama Oishi!
Bagaimana ini?
Apa yang akan dikatakan sahabatku mengenai ini?
Tiba-tiba saja aku berhenti melangkah, dan ini mengejutkan Oishi. Sekilas aku melihat Tachibana masih sibuk dengan ponselnya. Aku ingin sekali kabur dari sini, tetapi kemudian…
"Kau akan bertemu dengan orang itu khan, Tezuka?"
"…"
"Aku sudah mengetahuinya sejak lama. Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi."
"…"
"Eh, mengapa diam, Tezuka? Apa ini agak mengejutkanmu?"
"Ya."
"Aku pun tadinya tidak percaya bahwa kalian bersama sekarang. Dan semua ini berhasil kau tutupi, sampai tidak ada yang curiga padamu mengapa belakangan ini kau sering menghindar kalau diajak pergi oleh kami."
"…"
"Hey, jangan diam saja donk. Aku jadi takut nih bicara denganmu, Tezuka. Apa kau marah padaku karena aku sudah mengetahui semuanya?"
"Tidak."
Oishi tertawa melihatku agak gugup mendengar penjelasannya. Dia meletakkan satu tangan di bahuku. Terus terang, aku benar-benar gugup dan tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak pernah menyangka dia bisa tahu. Apa dia memberitahukan kepada yang lain juga? Atau dia seorang yang mengetahui ini?
"Temuilah dia, Tezuka."
"Oishi…"
"Bersenang-senanglah. Kalian tidak akan satu sekolah khan nantinya? Maka gunakanlah waktu yang ada sebaik-baiknya. Kau sudah cukup banyak menghabiskan waktu dengan kami teman-teman klub tenis."
"Apa yang lain…?"
"Hanya aku yang tahu. Bahkan Fuji sekali pun tidak tahu."
"…"
"Aku akan membantumu menyimpan rahasia ini, Tezuka. Pergilah."
"Terima kasih, Oishi."
Oishi berlari meninggalkanku, dan sekali berbalik sambil melambaikan tangan padaku. Aku mengangguk memohon diri, kemudian menghampiri Tachibana yang dari tadi masih sibuk dengan ponselnya.
"Tachibana…"
"Oh, aku hampir tidak tahu kau datang. Aku sedang membalas pesan dari teman-teman klub tenisku."
"…"
"Sudah siap?"
"Kita akan ke mana?"
"Naiklah dulu."
"Itu…motormu?"
"Kau tidak pernah tahu kalau aku bisa mengendarai motor." (saya juga ndak tau, sejak kapan?) *ditabrak motornya Tachibana*
"…"
"Ayolah, aku ajak kau ke suatu tempat yang menyenangkan."
Awalnya aku meragukan kemampuan dia mengendarai motor. Aku masih ingat bahwa dia pernah dirawat di rumah sakit karena cedera kaki setelah bertanding melawan Kirihara Akaya di pertandingan regional. Dan sekarang dia menunjukkan padaku satu hal yang lebih nekad lagi setelah dia keluar dari rumah sakit. Kalau dia tidak bisa mengendarai dengan baik, aku akan menyuruhnya untuk membuang motornya itu ke jurang yang paling dalam. (weleeeh…)
"Pegangan yang erat, Tezuka. Aku tidak ingin kehilangan momen ini denganmu…"
Tachibana menaikkan sedikit kecepatannya setelah kami sudah bisa melihat bibir pantai di ujung penglihatan kami. Pantai? Untuk apa dia membawaku ke sini? Aku kira dia akan mengajakku ke rumahnya sebagai pembalasan beberapa waktu yang lalu. (see chapter 6)
Setibanya kami di pantai ini, Tachibana memarkir motornya lalu meraih tanganku untuk berjalan menyusuri pantai. Dengan bertelanjang kaki (kaki lho, bukan yang lain!), kami membiarkan air laut membasahi kaki-kaki kami. Beberapa menit berjalan, kami belum memulai pembicaraan apa pun. Dalam keheningan ini, aku mencuri pandang ke Tachibana. Lingkar emas matahari menyinari separuh wajahnya, dan dia terlihat tenang. Aku pun menurunkan pandanganku, dan mencoba merasakan ketenangan yang tengah dia rasakan juga. Genggaman tangannya tidak lepas dari tanganku. Yang terjadi malah aku jadi tegang, tidak bisa setenang dia.
"Aku tidak akan pindah ke Osaka lagi, Tezuka."
"Tidak akan?"
"Ya, aku akan menetap di Tokyo saja."
"Mengapa?"
"Entahlah, aku lebih suka berada di Tokyo. Ada banyak hal yang belum aku lakukan di Tokyo."
"Contohnya?"
"Pergi ke suatu tempat denganmu, di mana tidak ada orang yang melihat kita berdua, hanya ada kau dan aku di sana."
"Kau ini…"
"Intinya aku tidak akan meninggalkan Tokyo. Orangtuaku juga sudah kerasan berada di sini. Adikku juga sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan dari kegiatan klub tenis perempuan di sekolah."
"…"
Setelah berjalan agak jauh, kami duduk melepas lelah sambil memandang ke arah matahari yang hampir terbenam. Pemandangan yang sangat menyenangkan. Apalagi di sebelahku duduk seseorang yang kehadirannya membuat warna hidupku sedikit berbeda dari biasanya. Aku teringat dengan kata-kataku sendiri saat pertama kali dia menyatakan perasaannya.
Aku ingin belajar menerima perasaan itu tidak dari orang lain, melainkan dirimu, Tachibana…
Dan aku rasa, aku sudah terlalu banyak belajar sampai akhirnya aku sudah terbiasa menghabiskan waktuku dengannya. Namun yang agak membebani pikiranku sekarang adalah kenyataan bahwa kami tidak akan pernah bisa disatukan dalam satu kondisi. Satu sekolah, misalnya.
"Ne, Tachibana."
"Ya, Tezuka."
"Menurutmu, jika kita sudah beda sekolah nanti, apa kita bisa mengulang hari ini lagi?"
"Kau ingin mengulang berapa kali, Tezuka?"
"Entahlah, apakah ini akan bisa terjadi lagi?"
"Kau tahu? Menurutku, pacaran jarak jauh itu agak menyenangkan."
"Bagaimana mungkin bisa menyenangkan?"
"Karena, setiap kali kita bertemu, maka aku akan menyadari betapa aku sangat merindukanmu, Tezuka. Setiap saat kita akan selalu mengalami jatuh cinta lagi." (cie cie…) *dilempar ke ikan hiu*
"Begitukah?"
"Itu akan sangat menyenangkan, dan menjadi momen yang sangat ditunggu. Aku yakin semua pasangan di dunia ini akan mengalami hal yang sama jika mereka terpisah oleh jarak. Kita hanya terpisah oleh dua sekolah berbeda, Tezuka. Itu tidak buruk, kurasa." (duh, gak Tachibana banget deh…^^;)
"Tapi…"
"Hm?"
"Aku…agak keberatan…" (aaawww….) *dikubur hidup2*
"Jadi kau ingin satu sekolah denganku juga, Tezuka?"
"…Tidak…"
"Jika Tuhan masih memberi kita kesempatan, maka aku yakin suatu hari pasti momen ini akan kembali terulang."
"…Hn…"
"Ayolah, Tezuka. Yakinkan dirimu. Aku melihat kau sedang banyak pikiran sekarang. Katakan saja semua yang sedang kau pikirkan, Tezuka."
"Hm…"
"…"
"Kapan kau akan mengenalkanku pada orangtuamu?"
"Oh ya, soal itu. Sabtu ini?"
"…?"
"Kalau kau mau."
"Hn. Aku akan ke rumahmu hari Sabtu ini. Tapi orangtuamu ada di rumah khan?"
"Tentu saja. Kali ini, kita akan melakukan apa yang sudah terjadi di rumahmu, dan harus terjadi di rumahku juga."
"…"
"Aku masih tidak bisa melupakannya, Tezuka. Suaramu, tubuhmu, kehangatanmu…" (kyaaaa….!) *dicekokin air laut*
"Jangan lanjutkan, Tachibana! Aku mengerti apa maksudmu."
Dia tertawa, dan aku suka sekali mendengar dia tertawa meski terkadang tawanya itu terkesan menggodaku. Aku merebahkan diri beralaskan pasir pantai yang lembut. Tachibana lalu ikut merebah dan menopang dirinya dengan satu siku, berusaha untuk bisa lebih dekat denganku. Satu tangannya membelai kepalaku. 0_0! Terus terang aku tidak pernah punya waktu untuk berduaan seperti ini dengannya. Dia punya kesibukan sendiri, aku pun begitu. Dan ini membuatku agak khawatir. Jika nantinya aku dan dia sudah punya kesibukan lain di SMA, dan nyaris tidak bisa mengingat satu sama lain, apakah hubungan ini akan terus berlanjut? Ataukah nantinya…
"Tachibana."
"Hm?"
"Kau tahu aku agak keberatan dengan kondisi ini."
"Ya, aku mengerti."
"Kau yakin…bisa mempertahankan apa yang sudah terjadi antara kau dan aku?" (nyebut 'kita' aja susah bener sih? Hoho…)
"Kau khawatir aku akan melupakanmu, Tezuka?"
"Maa ne."
"Kau bisa percaya padaku, Tezuka. Kau seorang untukku." (YES!) *ditabrak kapal tangker*
Aku lalu bangkit dan duduk berhadapan dengannya. Wajah kami cukup dekat sekarang, hanya satu jengkal dari ujung hidungku. Aku menatapnya dalam, dan dia menatapku balik. Perlahan aku mengangkat satu tanganku dan menyentuh wajahnya. Ini tidak pernah kulakukan sebelumnya. Aku cukup gugup ketika mencoba untuk lebih dekat lagi, dan akhirnya bibir kami bertemu. Perasaan ini begitu bergejolak, tidak ingin aku akhiri segera apa yang sedang terjadi di sini. Tachibana balik menciumku begitu dalam, dan kami berhenti untuk menarik nafas...
"Tachibana."
"Ya?"
"Berjanjilah, untuk selalu memegang kata-katamu yang terakhir…"
"Ya, Tezuka…"
Lingkar emas di ujung lautan itu pun mulai turun dan menghilang dari penglihatan. Hari sudah mulai gelap, dan kami kembali menyusuri pantai untuk pulang. Kedua tangan kami masih berpegangan…
Jika kesempatan ini datang sekali lagi pada kami, aku akan meneriakkan sesuatu di pantai ini dan aku tidak peduli jika ada yang mendengar.
Aku mencintainya…(wah, ayo donk teriakkin sekarang aja!) *ditendang Tezu-buchou*
Owari~
Akhirnya selesai…! Terima kasih atas dukungan semangatnya, dan terima kasih buat yang udah baca n review. Sangat menolong sekali buat saya menyelesaikan Fic tidak jelas ini…*bow several times*
Tachibana : Gitu doank?
Tezuka : Mau dibikin gimana lagi sih? Kamu dari tadi marah2 melulu…*naikkin kacamata*
Tachibana : Ya, apa kek biar gak boring nih pairingnya…
Tezuka : Menurut kamu ini boring?
Tachibana : Nggak juga sih, khan sama kamu maennya…*deket2 Tezuka*
Tezuka : Eh…kamu ini…! *mendorong Tachibana jauh2*
Penulis : kalian ini so sweet banget deh…besok bikin cerita lagi tentang kalian yak? *blink2*
Tachibana : Ya, tapi bukan ELO penulisnya! Udah jangan ganggu! *dijepret ketapel*
