Y
Author : Kim Hye sung / EXOSTics
Main Cast :
Byun Baek Hyun
Kim Jong In
Pair: KaiBaek
Rated : M
Disclaimer : story and plot is mine! Cast belongs to god! de el..el
Genre : Romance, feeling by you're self. Not for Kids. /R : Lu sendiri?/ -_-
Warning : YAOI, OOC banget, Typo(s) DLDR. Abis baca ga review bisulan loh*ehh
.
.
.
[Chapter 3]
Baek Hyun POV
Kepala ku terasa sedikit berat, kutarik sebuah selimut tebal untuk menutupi tubuh polos ku hingga keleher. Kulirik siapa yang masih tertidur disebelah ku. Ku angkat pelan tanganku sembari menopang tubuhku untuk duduk menyandar pada sandaran tempat tidur. Kuusap pelan pipinya, dia sangat tampan, apa itu sebabnya aku langsung jatuh dengan mudahnya pada pesona namja ini?
Dia tertidur sangat pulas, sangat damai. Aku tidak pernah sekali pun menyesali pertemuanku dengan namja ini, tidak pernah terlintas dibenakku rasa penyesalan telah memberikan 'milikku' yang paling berharga, untuk namja ini. Namja pertama yang menyentuhku.
Tidak ada alasan bagiku menolak namja ini. Kapanpun aku terjatuh aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Dan aku tidak akan menyesal jika hal itu terulang atau bahkan lebih buruk lagi. Kuharap dia berbeda.
CHUP
Perasaan yang sangat hangat selalu menuntunku untuk mengecup pipi namja ini.
Sreet
Siapa yang menyangka namja ini sama sekali tidak tertidur, dia sudah bangun. Dia menatapku lembut, juga senyumannya yang sangat menawan.
"Kai.."
"Morning Kiss.." Lembut, perlahan dia mencium ku setelah berhasil menindihku, dia menurunkan ciumannya hingga keleher ku, ku rasakan hembusan nafas dan lidah nakalnya bermain disekitar leher, telinga dan rahangku, memberi ku banyak tanda 'kepemilikan' yang tidak akan hilang dalam beberapa hari.
"Ahhngg~" Ku rasa ini bukan lagi 'Morning Kiss', tapi 'Morning sex', tangannya sudah menyelusup masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh polos kami berdua. Terus membuatku menggelinjang dan mendesah keras dengan serangan nya.
"Kaisshh.." Kai menatap ku lembut, Tangannya terangkat dan mengusap beberapa butir keringat dipelipisku.
"Aku.." Kai memandangku lekat seolah meminta ijin. Aku mengangguk dan tersenyum manis, perlahan dia mendekatkan wajahnya pada ku. Dan kembali membuatku melayang meski ciumannya kali ini cukup kasar tapi aku tahu maksudnya, dia hanya tidak ingin aku kesakitan.
"AKHMmmpp…" Rasanya tidak pernah berubah, sangat perih, panas dan sangat menyakitkan meski Kai dan aku melakukannya bukan untuk yang pertama kalinya.
"Mianhae.." Ucapnya menyesal, aku membuka mataku yang sebelumnya memejam erat, dan menatapnya, meyakinkan dia untuk tetap melanjutkan apa yang dia inginkan, meski tatapanku terlihat sangat lemah, kuharap dia tetap melanjutkan ini semua, karena aku maupun Kai sudah tidak mungkin berhenti, karena nafsu sudah mengendalikan otak kami berdua.
"Ahh..ah.. Kai..shh.." Kai melanjutkannya, dia bergerak dengan sangat lembut, agak cepat dan semakin kasar, tapi aku tidak menolak, karena kenyataannya aku juga suka cara kai 'Bermain' dengan ku. Kai menarik kedua paha ku dan menaruhnya di kedua pundak tegapnya, memaju mundurkan 'milik'nya semakin keras dan merasuk sangat dalam pada ku. Tetesan keringat yang mengalir dari ujung rambut Kai jatuh pada permukaan wajahku.
"Ahh.." Kami berdua pun bisa bernafas lega saat puncak kami terjadi pada waktu yang nyaris bersamaan, Kai masih menindihku, menundukkan wajahnya dan mengecup bibir ku, dan sekali lagi, sangat lembut.
"Saranghae.."
DEG
Kami berdua saling melempar senyum.
"Kau yakin? Kali ini bukan karena nafsu saja?" Kai menatapku heran, dia mengeluarkan miliknya secara perlahan. Membuat ku mendesah tertahan, kesempatan itu Kai manfaatkan dengan langsung memasukkan lidahnya dan mengabsen seluruh penghuni dimulutku. Menghisap air liur ku dan lidah ku dengan agak kasar, dia ingin memberi sebuah penegasan? Aku mengerti, emosi nya naik hanya karena aku menanyakan hal seperti itu? Itu berarti dia tidak berbohong. Aku tersenyum lega disela-sela ciuman renyah ini, sebisa mungkin aku membalasnya tapi tetap tidak akan berubah, aku akan selalu menjadi pihak yang akan kalah dan pasrah.
Decakan halus tercipta saat Kai melepas bibirku dengan sengaja dia menggingit bibir bawahku.
"Sekarang katakan.." Aku mencoba menahan senyumku, terlihat sekali dia sangat kesal. Membuatnya kesal, Bukan hal yang buruk..
"Apa?"
"YAK! Byun Baek Hyun!" Akhirnya aku tidak bisa menahan tawaku. Ah, bisa-bisanya aku tertawa disaat seperti ini. Tapi sungguh aku merasa perut ku sangat geli.
JLEBB
"Haha- AUUUGHHH…! KAIIIII!" Teriak ku melengking, sungguh ini terlalu tiba-tiba, aku bahkan hampir tersedak. Dia pikir ini sebuah mainan ? ini sangat sakit.
… Tapi ide yang buruk.
"Haha.. katakan saja, aku menunggu.."
"Na.. ah..ahh.. akhh… do..yak! ahhkkk!" Kai tertawa disela-sela penderitaan ku, bagaimana aku bisa menjawab jika dia bergerak dengan sangat kasar? Aku memukul-mukul pelan dada nya, entah tidak tega atau apa dia menghentikan gerakan brutalnya. Polisi macam apa dia? Dasar pervert.
"Nado.. hoshh..hoshh.. sa-saranghae.."
"Bagus.."
"Keluarkan Kai, ini sudah siang dan… AGHHh!" Kai malah menggoda 'milik' ku dengan menciuminya, pagi ini sungguh Kai sangat berniat untuk menyiksa ku. Tapi aku suka siksaan seperti ini. Tidak buruk.
.
.
.
Author POV
Chan Yeol dengan geram menggebrak meja Su Ho, membuat namja tampan berkulit putih susu itu terlonjak dari tempat duduknya.
"Astaga Park Chan Yeol!" Chan Yeol tidak memperdulikan teriakan Su Ho, yang merupakan seniornya karena dia bekerja enam bulan lebih awal dari Chan Yeol, lalu mana sopan santun namja tinggi itu yang merupakan seorang junior? Tidak, itu tidak lagi berlaku, Chan Yeol sudah kehilangan pekerjaannya dan itu berarti tidak ada lagi istilah 'Junior Dan Senior' padanya dan siapapun yang bekerja di kantor polisi ini.
"Apa alasan Ketua memecatku?" Tanya Chan Yeol masih dengan wajah yang memerah menahan emosi yang meluap-luap. Su Ho mengernyitkan dahinya, sepertinya Kai benar-benar berniat memecat Chan Yeol. Tapi Kai tidak pernah bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia tidak mungkin, lagi pula Kantor pusat lah yang berhak memecat Chan Yeol, bukan Kai. Namja tinggi itu kini berada diambang batas kesabaran, dengan tidak sabar Chan Yeol menarik kerah baju seragam polisi milik Su Ho.
"Agh.. bukan Ketua yang memecatmu, tapi itu dari atasan dikantor pusat.. argg lepas!" Chan Yeol mengempaskan tubuh mungil Su Ho agar kembali duduk dikursinya.
"Apa bedanya? Kai yang melaporkan ku pada atasan aku tahu itu! Jangan berbohong padaku!" Orang-orang yang mendengar teriakan Chan Yeol kompak berhenti didepan ruangan Su Ho dan mendengarkan sayup-sayup pertengkaran mereka berdua. Para petugas pun sepertinya sudah siap masuk.
"Jangan ada dari kalian yang masuk ke dalam." Teriak Su Ho, membuat para rekan kerja polisi dan para orang diluar pun ikut diam mematung, tidak berani masuk.
"Cih, sok sekali kau.. aku bisa saja membunuhmu saat ini.."
"Benarkah? Jika begitu kau tidak usah susah-susah datang kesini, dan menjadikan dirimu satu-satu nya tersangka jika aku ditemukan meninggal.."
"Bodoh.." Chan Yeol tidak ingin lama-lama berada disini, tidak ada gunanya juga, toh orang yang dia cari hari ini masih dibebas tugaskan. Su Ho merasakan firasat buruk setelah kepergian Chan Yeol, dia segera menyambar jacketnya dan pergi. Bisa saja Chan Yeol datang ke apartemen Kai, dan tahu jika namja yang secara tidak langsung membuatnya harus didepak itu tinggal satu atap dengan Kai.
.
.
.
Seorang pemuda tinggi berada ditengah keramaian para pejalan kaki. Kris, namja itu sengaja tidak menggunakan mobilnya, beberapa jam yang lalu dia sudah tiba di seoul, setelah menaruh barang-barang nya diapartemen yang sudah dipersiapkan oleh Tuan Park selama Kris berada dikorea. Kris mencoba menghirup udara Negara gingseng ini dengan berjalan-jalan sore.
"Tidak buruk.."
Hanya dua atau tiga kali saja Kris pernah datang ke Negara ini, dan tidak satu dari perjalannya untuk liburan melainkan untuk 'bisnis' gelapnya. Karena itu tidak ada salahnya juga bukan sekedar menenangkan fikirannya.
TAP
"Ah.. gedung yang bagus.." Gumamnya saat langkah kaki panjang nya berhenti disebuah gedung tua yang terbengkalai. Menurut tuan Park ditempat inilah dimana seorang namja menjual kekasihnya pada 'mereka', dan kekasih namja itu adalah.. Byun Baek Hyun.
"Eh?" Kris melihat seseorang berdiri di atas gedung membelakangi matahari. Siapa saja pasti akan beranggapan dia sedang mencoba bunuh diri. Namja itu tinggi, dan berambut putih perak memjamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kris masih tidak bergerak dari tempatnya, dia masih terus menatap setiap gerak-gerik namja itu.
Sekedar menghirup udara?
Kenapa namja itu menurunkan tangannya dan menunduk setelah sebelumnya mendongak sambil memejamkan matanya? Apa menghirup udara harus dengan cara seperti itu? Kris tahu dikorea jumlah orang yang mati bunuh diri sangat lah tinggi jumlahnya, seolah menjadi trend. Tapi namja ini sekarang melangkah mundur kebelakang. Itu artinya belum ada niat orang ini untuk mengakhiri hidupnya. 'Belum', dan mungkin 'akan'.
Drrt.. Drtt..
Kris mengalihkan objeknya kali ini pada ponsel yang berada disaku celanannya. Sayang sekali seperti nya Kris tidak bisa mengangkat dan memberitahu namja yang kini menghubunginya dimana dia berada sekarang. Karena jika namja itu tahu maka dia pasti akan menyusul ke korea, dan akan membuat Kris tidak leluasa melakukan apa yang menjadi tujuan utamanya kesini.
Kris kembali mendongak dan namja itu sudah hilang dari pandangannya.
Kris kali ini menghubungi seseorang setelah panggilan itu berakhir,
"Tuan Park, sudah dapat informasi?"
"…"
"Kim Jong In? hm,baikalah kumpulkan informasi tentang namja itu."
"…"
"Benarkah?"
"…"
"Bunuh saja dia.. tikus tidak berguna memang harus dimusnahkan.."
.
.
.
Baek Hyun baru saja keluar dari kamar mandi. Dia berjalan mendekat ke arah lemari, setelah menggunakan pakaian sementara yang Kai sediakan untuknya, ya sebuah seragam basket tanpa lengan kini melekat ditubuh mungilnya, dan menutupi seluruh tubuhnya hingga pangkal paha mulusnya. Hanya sementara, Karena Kai masih keluar untuk membeli beberapa bahan makanan dan baju untuk simungil ini.
"Heuumm.." Baek Hyun bergumam lirih, sejak berada di apartemen Kai, Baek Hyun hanya berada didalam kamar. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan diapartemen yang cukup luas ini. Matanya tertuju pada sebuah ruangan dan ah, tidak itu dapur, dia sudah pernah ke sana, beberapa kali, mungkin cukup sering, hingga Baek Hyun kali ini berjalan kembali dan menemukan sebuah ruangan dengan pintu yang tertulis. 'Kim Lu Han.'
"Kim Lu Han?" Tanya nya entah pada siapa, tanpa menunggu lebih lama lagi Baek Hyun memegang gagang pintu itu.
KLEK
Tidak terkunci.
DEG
Indah nya.. hanya saja sedikit kusam, tapi tidak menutupi seberapa indahnya ruangan ini, yang sepertinya adalah sebuah kamar, warna nya didominasi oleh warna ungu. Dengan pelan Baek Hyun melangkah masuk. Tidak sopan memang, tapi dia penasaran, kapan lagi dia bisa ke tempat ini, karena jika ada Kai pasti dia tidak diijinkan. Karena dia pernah menanyakan ruangan ini pada Kai, tapi Kai tidak memperbolehkan Baek Hyun untuk masuk ke dalam, dan Kai serius, pasti ada sesuatu, dan Baek Hyun sangat tidak suka jika ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Bukankah Kai bilang dia menyukai Baek Hyun? Lalu untuk apa dia menyembunyikan sesuatu itu?
Baek Hyun mengahampiri tempat tidur yang masih tertata rapi meski ada sedikit debu disana. Baek Hyun juga agak kesulitan bernafas karena pengap. Dia kembali ke arah pintu, entah factor hari yang sudah hampir malam atau memang ruangan ini sedikit kusam.
Baek Hyun kembali melangkah kan kakinya pada sebuah meja saat dia sudah menghidupkan penerangan dikamar ini.
Baek Hyun mengambil sebuah figura yang entah kenapa terbalik, dan saat dia membalik figura itu kedua mata sipitnya membulat kaget.
"Kai.."
Kai dan.. siapa namja cantik ini? Baek Hyun hampir saja menjatuhkan foto itu saat dia mengangkat wajahnya dan melihat tidak hanya satu dua foto tapi beberapa foto yang terpajang di meja itu, dan kesemuanya foto Kai dan namja ini .. sangat mesra, bahkan salah satunya ada yang saling berpelukan, bergandengan tangan..
Baek Hyun meraih satu lagi figura foto yang ditaruh terbalik.
DEG
Baek Hyun benar-benar menjatuhkan foto itu kali ini, tangannya bergetar, dengan pelan dan gemetar Baek Hyun menunduk dan memunguti pecahan kaca itu,
Tes
"Akh.." Jari lentik indah itu terluka oleh serpihan kaca, mengotori foto yang berusaha dia ambil dari pecahan kaca itu. Darah segar dari jari indah itu menotori foto itu, foto namja yang Baek Hyun yakini adalah Kim Lu Han mencium Kai.. di bibir.
"Hiks.." Isaknya, sekarang apa harus kembali terjadi? Dulu dia dijual dan sekarang dikhianati? Bagaimana perasaan namja bernama Kim Lu Han jika mengetahui Kai dan Baek Hyun tinggal bersama, bersetubuh bahkan saling menyukai, tapi ada keraguan disana, saling menyukai ? benarkah? Apa Kai benar-benar sungguh mencintainya? Kau terlalu naïf Byun Baek Hyun, kau belum tahu apa yang sedang Kai sembunyikan darimu. Dengan gampangnya kau percaya bahwa namja yang baru saja kau kenal itu mencintaimu, hanya Karna kau dan dia sudah melakukan hal 'itu', perhatiannya yang begitu lembut. Apa kau tidak pernah berfikir bahwa namja itu hanya..
Mengasihanimu?
"Hiks.."
Kau datang dengan berlumuran luka bukan disekujur tubuhmu, tapi dihatimu.
Kau datang dengan masa lalu yang kelam.
Dan Kai hadir untuk meraihmu, tapi jika dia bukan Kai sekalipun, manusia mana yang akan tega membiarkan seseorang terpuruk, apa Kai hanya berusaha membuatnya bangkit? Dan hanya ingin memuaskan hasratnya saja?
Penyesalan akan selalu terlambat, setelah kau mulai mencintainya kau harus rela kapan kau akan merasakan luka. Karena cinta dan luka adalah satu, mereka adalah dua perasaan dalam bentuk yang sama. Jika kau salah membedakannya sedikit saja maka kau harus menanggung resikonya.
Jika benar cinta maka kau tidak perlu khawatir jika namja bernama Kim Lu Han itu hanya masa lalu Kai, tapi dengan cara Kai yang berusaha menyembunyikannya. Apa ini adalah luka? Apa itu artinya, suatu saat Kai akan membuangmu saat dia merasa jengah dan kembali pada Kim Lu Han? Baek Hyun, terlalu cepat, kau bahkan belum mengenal siapa itu Kim Jong In, kau tidak tahu bagaimana hidupnya, kau tidak tahu apa-apa.
Dan kau tidak mengenalnya.
Seketika wajah manis itu memucat. Goresan kaca itu ternyata tidak hanya melukai jari lentik itu tapi melukai bekas luka dipergelangan tangannya. Kembali, membuaka lebar-lebar luka yang hampir mongering itu.
Sayup-sayup Baek Hyun mendengar seseorang menekan bel apartemennya, siapa? Kai? tidak. Tubuh itu sudah sangat melemah hingga dia mendengar suara derap langkah masuk kedalam apartemen ini, hanya sampai disitu karena seterusnya Baek Hyun benar-benar terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Baek Hyun-ssi!"
.
.
.
Kai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, ada sesuatu yang menjanggal dihatinya, hinngga benda persega yang kini berada disamping kursi pengemudi pun bergetar, membuat Kai dengan berat hati menepikan mobilnya.
"Ne, ini aku.."
"…"
"Untuk apa?"
"…"
"Baiklah.."
Dengan agak kesal Kai memutar kembali mobilnya dan melempar sembarangan ponselnya, karena kesal dia bahkan tidak tahu bahwa ponsel itu terjatuh, sepersekian detik setelah sebuah panggilan baru masuk.
CKIITTT
BLAMM
Miauu (?)
Kai membanting setir mobil dan memarkirkan mobilnya sembarangan. Peduli apa dengan kucing yang kini berlari terbirit-birit menjauh dari mobil itu.
"Hai.." Sapa namja tinggi itu. Kai meludah sejenak dan berjalan mendekat, namja tinggi itu tampak nya agak mabuk dia menolehkan kepalanya. Dan benar, mantan polisi kita ini, Park Chan Yeol, apa yang pemuda ini inginkan? Tentu tuntutan sebuah penjelasan dari Kai.
"Kau.. ya.. kau.." Chan Yeol menunjuk-nunjuk Kai dengan jari telunjuknya, membuat Kai merasa dia telah membuang-buang waktu, bagaimana jika Baek Hyun khawatir dan memutuskan untuk keluar mencarinya. Dan pikiran itu membuat Kai tidak focus saat ada bayangan seseorang yang mengangkat sebuah balok kayu. Dan saat Kai menyadari hal itu.
DUGH
Terlambat, karena namja itu pasti adalah teman Chan Yeol, lalu apa? Bukankah Chan Yeol hanya membutuhkan sebuah penjelasan? Atau untuk mengeroyoknya.
Kai bisa memperkirakan ada tiga orang dibelakangnya, dihitung dengan Chan Yeol semuanya ada empat orang. Kai berusaha bangkit dengan menopang tubuhnya menggunakan kedua tangannya. Tapi salah satu orang itu menginjak punggung Kai, dan membuat Kai harus merasa perih pada bibirnya karena harus mencium kasarnya benda padat bernama aspal itu.
"Chan—apa maksudmu dengan semua ini?" Tanya Kai masih kesulitan untuk bergerak. Salah satu orang itu kembali menginjak punggung Kai saat namja itu berusaha mengangkat tubuhnya, dan namja yang agak pendek mengikat kedua tangan Kai. Membuat tidak ada celah sekecilpun untuk Kai bergeser dari tempatnya. Chan Yeol berjongkok tepat dihadapan Kai.
"Membunuhmu mungkin.." Jawab Chan Yeol santai dengan mata sayunya, dia mengankat botol minuman kacanya dan memecahkannya tepat dibatu yang sangat dekat dengan wajah Kai, membuat Kai memejamkan matanya merasa serpihan kecil kaca itu menembus kulit pipi sebelah kanannya.
Kaca, benda yang sama. Menandakan takdir memang sudah mulai mengikat Kai dan Baek Hyun dalam sebuah ikatan yang kasat mata.
"Arghh.." Dengan Keji nya Chan Yeol mengambil pecahan botol itu dan menggoreskannya dipipi Kai.
"Apa yang sedang kalian semua lakukan.." Chan Yeol yang masih asik merasa terganggu dan menoleh kea rah asal suara tadi. Seorang namja berambut putih perak dan berkulit putih, jangan lupakan wajahnya yang tampan teramat sangat, bahkan Chan Yeol saja merasa dia tersaingi, meski memang jika urusan wajah Namja ini jauh lebih tampan dari Chan Yeol, lekukan wajahnya sangat sempurna.
"Siapa Kau?" Tanya Chan Yeol yang sekarang sudah berdiri menodongkan botol kaca yang sudah pecah dan tinggal bagian kepalanya saja pada pemuda tampan ini. Namja tampan itu masih memasang wajah datarnya menatap Kai yang masih mengaduh kesakitan dibawah injakan namja berotot salah satu teman Chan Yeol.
Karena tak kunjung menjawab, ketiga namja kekar itu mendapat kode dari Chan Yeol untuk menyerang pemuda asing ini. Kai membelalakkan matanya saat dengan mudahnya pemuda tampan itu membanting para namja kekar itu. Dan salam hitungan detik ketiga namja itu sudah tidak bisa menggerakkan badan kekar mereka yang ada hanya meraung-raung kesakitan,
"Cih, sampah.." Kai mencoba untuk duduk, masih kesulitan untuk melepaskan ikatan ditangannya, sementara darah segar terus mengalir dipipinya, membuat wajah nya sedikit pucat.
See? Sama bukan?
Namja itu masih berdiri kokoh ditempatnya menatap Chan Yeol datar saat namja itu mendekat.
CTARRR
"Wahh.. hebat..hebatt.." Chan Yeol bertepuk tangan layaknya orang tidak waras, beberapa detik yang lalu Chan Yeol melemparkan sisa botol itu dan reflek namja tampan berkulit pucat itu sungguh sangat hebat. Botol itu justru mengenai tembok persis disamping namja yang memiliki wajah pocer itu"Kalian brisik, jika ingin berkelahi jangan disini.."
Chan Yeol seketika tertawa memegangi bahunya, dan sekali lagi dia seperti orang yang tidak waras.
"Tidak.. tidak, kau tidak tahu saja.. dia.. dia itu saaaaangat menyebalkan, dia curang ! harusnya aku yang menjadi ketua! Dan harusnya dialah yang aku pecat sekarang.."
Layaknya orang tidak waras wajah sumringah itu tiba-tiba berubah murung.
"Dia… dia selalu saja mengambil apa saja yang.. aku inginkan, semua yang aku miliki..cih, bedebah.."
"Namja itu.. harusnya namja itu menjadi milikku sekarang.. tapi namja bodoh ini mengambilnya.. mangambil.. Baek Hyun.."
DEG
Namja tampan itu tiba-tiba mematung ditempatnya.
"Sampai kapanpun Baek Hyun tidak akan aku serahkan pada orang sepertu mu," Kai meludahkan darah yang terasa mengalir disudut bibirnya mengundang tatapan datar dari Chan Yeol, dengan geram Chan Yeol kembali menerjang Kai.
BRUGH
DUGHH
"Arghhh.." Erangan itu menjadi saat-saat terakhir Chan Yeol sebelum matanya tertutup dan pingsan akibat kebringasan namja asing tadi. Namja asing tadi masih menunduk dengan nafas yang terengah-engah, apa? Dia tadi bahkan tidak merasa lelah sama sekali, kenapa dia seolah sangat susah bernafas, apa dia memiliki penyakit pada saluran pernafasannya? Pikir Kai.
Kai terus bergelut dengan pikirannya hingga.
Sreett..
"Pergilah.." Tepat setelah namja asing tadi membuka ikatan pada tangan Kai. Dia melangkah pergi.
"Tunggu!" Cegat Kai cepat, sebelum orang asing itu benar-benar menghilang dari hadapannya. Langkah itu berhenti sejenak.
"Jika ingin mencari keributan jangan disini, jangan pernah datang ketempat ini, kalian menggangguku saja.." Ucapnya dingin, dan kembali melangkah.
"Apa? Apa ini tempat tinggalmu?"
DEG
Kai terperangah saat tahu dimana dia saat ini, gedung ini, gedung tua ini.. tidak mungkin, namja itu tidak mungkin tinggal ditempat ini. Atau apakah namja itu memang sering datang kesini, apa dia seorang preman melihat dari cara nya berkelahi dengan lihai dan apakah disini daerah kekuasaannya? Seperti kebanyakan preman?
Dan saat Kai mengalihkan pandangannya kembali namja asing itu sudah menghilang, membiarkan berjuta pertanyaan berputar diotaknya. Dikejauhan sana, namja asing itu belum benar-benar pergi.
'Semoga Baek Hyun yang kalian bicarakan.. bukan Baek Hyun-ku.."
.
.
.
TBC
Eum.. pengennya Hye Sung focus sama FF ini, tapi disisi lain Hye Sung ingin hiatus.
Jika yang review kemarin masih bersedia review lagi, atau bertambah maka saya akan merasa sangat senang, dan mungkin bisa menunda ke-hiatusan saya.. ^^
Saya juga belum bisa menulis siapa aja yang review, ngedit FF nya aja Hye Sung belum sempat, mianhae, jika karena gak sibuk, Hye Sung pasti sempet. Eum, terima kasih, jeongmal bagi yang udah review. Dan next chap saya akan negbales satu-satu review para readers, oke? Makasih. Dan jangan lupa untuk review, See You next Chap~
Hye Sung.
