"Count Love"
~Pair : Draco Malfoy x Harry Potter~
~Genres : Humor, Fluff, School Life, Drama, Others!~
~Rate : T to M
~Chapter : 3/?~
~J.K Rowling © Harry Potter~
.
Warnings: No MAGIC, OOC, Typo(s), OTHERS!
It's Slash!
Boys Love a.k.a Boy x Boy
Don't Like? Don't Read!
(A/n : Ada reader yang salah paham ama statement gue di Chapter 2, gue nerima pujian kok^^ bukannya enggak suka, cuma jauh lebih suka di kritik dengan saran-saran *deep bow*
Nah, untuk chapter ini aku gak bisa balas review satu-satu, tapi kalian bisa tanya-tanya lewat PM *kalo mau*
Dan makasih banyak yang udah Review, Fave, dan Follows FF ini *usap ingus*
Dan maaf juga karena TELAT banget update-nya, gue nulis kurang lebih dua hari
Kalian tahu hal apa yang dapat memicu kebahagiaan?
Saat menyelesaikan satu Chapter FF dan siap mem-publish-nya dan saat melihat jumlah reviews yang bertambah^^
Jika kalian Author juga, kalian pasti ngalamin hal yang sama^^
Jadi penulis menyenangkan loh, tapi susah untuk dijalanin #korbanIklan
Jadi respon kalian terhadap FF ini merupakan kebahagiaanku, loh.
Would you leave me some review, guys ? ^^b )
~Just Enjoying~
~And HAPPY READING GUYS^^~
-oOo-
Preview
-000001 "Aku harus—" Harry mendorongku hingga membuatku telungkup di atas kasur, untungnya kasur. "—menjawabnya!" hell yeah! Persetan dengan penelpon sialan itu!
-000001 "Halo, Cedric?"
Eh?
"Harry, apakah kau sudah berada ditengah-tengah permainan sex-mu?"
-000001 "Belum, kena—"
Aku langsung bangun sambil mengepalkan tinju, "CEDRIC! YOU BASTARD! DASAR SINTING LU!"
~Overflow
Chapter 3
Draco's POV
Aku tahu kecurigaanku belum membuahkan hasil. Kalian masih ingat Cedric? Yup, pria itu! Pria yang beberapa hari yang lalu menghancurkan momenku bersama Harry. Well—aku rasa dia juga menyukai Harry, itu yang sekarang aku takutkan. Berusaha merebutnya dariku. Lihat keakraban mereka.
-000001 "Sungguh? Kau benar-benar ingin memberiku ini, Cedric?" tanya Harry, see? Bahkan manik-manik emerald-nya benar-benar berbinar cerah, sial!
Cedric tekekeh, -047297 "Ah—yeah, dan ngomong-ngomong hobi nenekku sama sepertimu." kata Cedric, aku menunggu kapan angka itu bertambah saat ia berkata hobi neneknya sama dengan Harry—merawat bunga—tapi angka itu tidak bertambah, berarti ia tidak berbohong, well—tumben. Dan persetan dengan hobi yang sama itu, mum juga suka bunga!. -047297 "Dan beliau akan membagikannya kepada siapapun yang memiliki hobi sama sepertinya, dan aku—memintanya karena aku bilang, aku memiliki teman yang juga menyukai bunga." Tutur Cedric panjang lebar, well—pendekatan yang hebat, kan?
Harry menjulurkan jemari lentiknya ke bunga yang entah apa namanya itu. -000001 "Wow—kau tahu? Ini jenis anggrek kupu-kupu dan perlu kau tahu ini sangat langka, woahhh—" Harry menjetikkan jarinya ke kelopak bunga–yang ternyata bernama anggrek kupu-kupu–itu dan kilau manik dimata hijaunya makin berbinar. Hell!
"Cool right?"
"—yeahhh, tentu saja, Cedric!"
"Kau menyukainya?"
"Sangat!"
Sial! Si pria cantik itu berhasil membuat Harry-ku terpesona dengan pemberiannya. Bahkan setelah aku memberitahukan bahwa Cedric adalah orang jahat yang tidak patut berdekatan dengan Harry yang inosen.
"entah—kejujuran atau kebohongan seseorang, tidak akan bedanya kalau kau menghakimi mereka sejak awal, karena...karena hanya angkanya!"
Itu yang dikatakan Harry, aku menghakimi seseorang dari angkanya? Tidak! Aku yakin kali ini aku benar. Cedric is not a good person, Harry! Batinku berteriak.
Tapi aku tidak mau Harry membenciku, jadi aku berusaha untuk tidak membahas tentang angka sialan itu lagi. Dan—
"Oh—Draco! Lihat ini," Harry menarik lenganku saat menyadari kehadiranku yang sedari tadi hanya melihat mereka berdua dan berdiri bak orang idiot.
Aku menoleh ke Cedric yang kini menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya ke arahku, -047297 "Wowww~" seru Cedric exciting dengan dirinya sendiri.
—Dan bagaimana pun caranya aku akan tetap bisa 'melihat'-nya, 'kan? Angka-angka sialan itu, jadi bagaimana mungkin aku tidak menghakimi seseorang dari angka-angka sialan di atas kepala mereka jika angkat itu melebihi batas kewajaran?
Cedric menyeringai ke arahku.-047297 "Aku tidak tahu kalau sekolah kita memiliki tempat seperti ini dan ini pertama kali aku menginjaknya." Ching~ -047298
Sesaat setelah perubahan angka itu, aku mengalihkan pandanganku ke arah Harry yang masih exciting dengan bunga itu.
Harry's POV
"Hey, Harry." Suara itu membuatku berpaling dari aktivitas yang aku kerjakan, membersihkan teras kelasku. Cedric berdiri bersama dengan teman-temannya yang kalau tidak salah bernama Ron si rambut merah menyala dan Hermione? Aku hanya tau mereka berdua, yang lainnya aku tidak pernah melihatnya. "Setelah ini, kau mau ikut bersama kami karaoke?" tawar Cedric.
Hmmm, jika dilihat-lihat tidak ada yang salah dengan diri seorang Cedric seperti yang dikatakan Draco. Justru selama ini dia selalu baik padaku. Mungkin saja Draco tidak menyukai Cedric dan menyuruhku menjauhinya. Memang angka berapa sih di atas kepala Cedric?
"Well, Harry?"
Aku berjengit, kaget. "A-aku, No thanks!"
"Tapi—"
Ngomong-ngomong aku tidak suka karaoke. "Aku tidak suka karaoke, Cedric." Tegasku mengeluarkan pikiran di kepalaku. Aku melanjutkan aktivitasku dan menghiraukan teman-teman Cedric yang sedang berbisik-entah-apa-itu.
"Ced, kenapa kau mengajaknya?"
"Apa yang salah?"
"Kau kan tahu kalau dia aneh."
Aku? Siapa yang mereka bicarakan sih? Eh—ngomong-ngomong Anggrek pemberian Cedric sudah diberi makan belum ya? Habis ini aku harus pergi menceknya. Siapa tau malah layu, itu kan bunga lang—
"Oh baiklah Harry, kau tidak menyukai karaoke dan bagaimana kalau kita pergi ke rumah kaca itu besok?" rumah kaca? Tentu saja aku mau!
Aku langsung berpaling menghadap Cedric, "Ten—"
"Tidak bisa! Kami sudah ada janji." Janji? Aku menoleh ke arah Draco.
End of Harry's POV
.
Draco's POV
Beruntung aku datang di saat yang tepat, kalau tidak bisa-bisa Harry sudah di ajak macam-macam oleh Cedric-pria-cantik-dan-brengsek-ini. Aku sedikit berharap Harry tidak berkata apa-apa soal janji yang baru kubuat barusan.
Cedric mendengus ke arahku. -047321 "Pirang brengsek!" gerutunya membuatku menoleh tepat di matanya yang memicing.
Aku melototkan mataku, "Apa kau bilang?" dengusku berapi-api.
Cedric menatapku dengan manik terbakar, woah—aku berhasil menyulut amarahnya. "Let's go guys," ucap Cedric sok memimpin. Kacung-kacungnya yang aku tahu Ron, Hermione, Seamus, Dean, Ginny atau-siapapun-itu baru melangkah dan menghentikan langkahnya saat aku—
"Ayo, Harry. Kita pergi dari sini," aku menarik lengan Harry setelah sebelumnya menaruh–melempar– sapu yang di pegang Harry barusan.
Cedric menatapku, -047321 "Wahhh—aku berharap mereka cepat-cepat pacaran," Ching~ -047322
Aku mendesis ke arahnya dan kembali menarik lengan Harry.
Aku melepaskan cengkramanku di lengan Harry dan menatapnya dalam-dalam. "Bukankah aku sudah memberitahumu untuk tidak dekat-dekat dengannya, Harry? Dia bisa saja menipumu!" ucapku berapi-api masih menatap kilau hijau yang menatapku dengan pandangan kosong itu.
Harry membuka mulutnya, -000001 "Dia cuma mengajakku! D-dan itu bukan berarti aku ingin dekat dengan Cedric atau apapun itu." Tutur Harry, tapi kenapa ekspresinya seperti itu? Dia seolah-olah, maksudku mungkinkah dia tertarik dengan Cedric?
Aku memicingkan mataku, "Bagaimana kalau dia menawarkanmu bunga jenis Lavender yang terletak di rumahnya?" tanyaku berusaha memancing Harry dan aku tidak yakin apakah ada bunga lavender atau tidak ada yang pasti aku hanya ingat pengharum kamarku, berarti seharusnya ada kan?
Mata Harry berbinar-binar cerah. -000001 "Lavender?" gumamnya dengan pandangan menerawang.
Aku terlonjak kaget, "See? See? Kelihatan sekali kalau kau sangat ingin pergi ke rumahnya!" ini berbahaya!
Sementara aku memicingkan mata sambil menatap Harry, Harry masih menerawang sambil menggumamkan 'lavender' sesekali.
Gerakannya yang tiba-tiba membuatku terlonjak, -000001 "Aku harus pergi memeriksa anggrek itu, ayo Draco!" Harry menyeret lenganku dan kata 'lavender' tidak juga berhenti ia gumamkan.
Aku duduk termenung sementara Harry menatap anggrek pemberian Cedric dengan wajah yang berbinar-binar cerah.
Ngomong-ngomong soal Cedric ada yang aku bingungkan dengan Cedric itu, kenapa dia harus berbohong kalau dia baru pertama kali memasuki rumah kaca ini? Berarti dia sudah pernah kesini sebelumnya? Dan apa maksudnya memberikan Harry bunga anggrek yang sekarang ditatap dengan intens oleh Harry?
-000001 "Ahhh…so pretty," gumam Harry yang terdengar olehku.
Aku berdeham, "Uhm, Harry?" panggilku.
-000001 "Hm?" jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari bunga itu.
Aku mendengus, "Aku pikir lebih baik kau mengembalikan bunga itu ke Cedric." Ucapku mantap.
Harry langsung membalikkan wajahnya, kaget -000001 "Eh?"
Aku mendekat ke arahnya dan berdeham. "Harry, sejak dia memberimu bunga itu, kau tidak berfikir kalau dia bakal minta imbalan?" ucapku berusaha meyakinkan itu, pupil mata Harry langsung mengecil dan kemudian menunduk.
-000001 "Aku benar-benar menginginkan bunga ini, sungguh. Dan aku tidak mau mengembalikannya." Untuk sekarang ini aku berharap angka Harry bertambah, mataku masih menatap angka itu tapi tidak terjadi apa-apa, fuhhhh.
Kenapa dia suka sekali diberi benda yang sesimpel itu? Mungkin aku juga harus memberinya bunga. Aku mengangkat dagu Harry menuntutnya untuk menatapku, mataku memicing, "Kau tahu apa artinya kalau seseorang memberikan sesuatu?" Harry menggeleng, aku menatap emerald itu dengan tatapan sedikit mengintimidasi, "I really want him to like me! Itu yang dia inginkan." Tegasku dan setengah berharap Harry tidak bisa melihat angka-angka di kepalaku. "Dan terlebih dia yang memberikan bunga!" ucapku sedikit menaikkan intonasi suaraku. "Kalau kau mengikuti alur yang dia inginkan, siapa yang tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya? Aku hanya mengkhawatirkanmu, Harry." Ucapku lembut, Harry menundukkan kepalanya menatap sepatunya sendiri.
-000001 "A–aku pikir, kaulah satu-satunya yang akan melakukan hal itu, Draco" Jleb!
"Ah well—a-aku maksudku—" aku berdiri, "Sudah aku katakan beberapa kali kalau ada yang salah dengannya, Harry!" ucapku sedikit berteriak tidak setuju dengan tuduhannya.
-000001 "Kau berfikir terlalu banyak, Draco." Ucap Harry datar. Berfikir terlalu banyak? Aku beberapa kali menemukan Cedric berbohong tepat di depanku saat membahas tentangmu, Harry! Batinku berteriak.
"A–aku pikir, k–kau mengerti, Harry." Ucapku sedikit kecewa dengan reaksinya.
-000001 "Aku mengerti, Draco. Kekuatan yang kau punya, aku mengerti dan aku percaya." Harry menutup wajahnya yang aku kira mengusap air matanya yang mengalir, sensitif sekali. -000001 "Aku jadi berharap bisa melihat angka-angka sepertimu sehingga aku bisa mengerti rasa sakit yang kau rasakan." Harry mengusap hingusnya. -000001 "Tapi bagiku yang tidak bisa melihatnya," Harry menoleh ke arahku dan memperlihatkan matanya yang banjir "Bahkan kalau aku ingin mengerti, bagaimana aku bisa? Entah apa yang kau katakan benar atau salah, aku tidak mempunyai cara bagaimana mempercayai apa yang kau katakan, Draco." Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, Harry langsung bangkit dari duduknya dan berlari dengan sesenggukan.
Knock!
Crashhh!
Bunga pemberian Cedric terjatuh karena tidak sengaja tersantuk kaki Harry saat berlari.
Hmmm, sudah berapa kali kami berargumen tentang masalah ini? Dan kenapa Harry tidak juga mengerti kalau sepenuhnya aku khawatir padanya?
Mungkin aku yang terlalu berlebihan saat berfikir bahwa pertama kalinya aku bertemu dengan Harry adalah takdir atau apalah itu. Memikirkan hal yang seperti itu membuatku ingin tertawa, karena pada akhirnya hanya akulah satu-satunya yang tinggal di 'dunia'ku sendiri. Tidak perduli sudah beberapa kali aku meyakinkan seseorang karena kemampuan yang aku punya, tetap saja aku akan sendiri pada akhirnya.
Aku menghela nafasku dalam-dalam berusaha mengontrol emosi yang sudah memuncak di kepalaku.
End Draco's POV
Author's POV
Harry berjalan sambil menengadahkan kepala dengan pandangan kosong, terlihat sekali bahwa ia sedang berfikir.
"A–apa yang harus aku lakukan? Aku berkelahi lagi dengan Draco, fuhhh–" gumam Harry pelan sambil berjalan tersaruk-saruk dengan ekspresi yang… tidak sehat?
"Harry."
Mendengar suara itu, Harry langsung menoleh. "Eh?"
Harry menatap Cedric yang kini berada di depannya. Sedikit heran bagaimana bisa Cedric menemukannya disini.
"B–bagaimana kau bisa—"
"Hei, dengar," Cedric mendekat ke arah Harry, "Aku mempunyai beberapa bunga yang aku menangkan dari beberapa pertandingan tadi. Kalau kau mau aku bisa membaginya denganmu, jadi kau mau ikut denganku? Rumahku tidak jauh dari sini."
Authors's POV
Setelah kepergian Harry yang tiba-tiba itu–dan Draco sama sekali tidak berniat mengejarnya– remaja bersurui pirang itu segera menunduk dan berniat untuk membersihkan bunga pemberian Cedric yang kelihatan mahal dengan posisi yang berhamburan.
"Mungkin Harry tidak menyadari kalau bunga kesayangannya terjatuh saat ia berlari tadi." Gumam Draco sambil menggenggam tanah yang berserakan di lantai. "What is this?" Tanya Draco saat menemukan benda kotak kecil berwarna hitam dan antena yang lumayan panjang di atasnya. Bentuknya agak menyurupai—
"Don't tell me, this is a spy equipment?" Tanya Draco pada dirinya sendiri, Draco terperanjat saat menyadari bahwa yang ia pegang sekarang adalah peralatan mata-mata, tanpa menunggu lebih lama lagi ia segera berlari keluar dari rumah kaca yang kini terlihat berantakan itu.
"Errr—Cedric?" panggil Harry dengan wajah polosnya.
Cedric menoleh. "Hm?"
"Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?"
Cedric mendengus, "Not really, Harry."
Harry memamerkan senyum manisnya yang seketika itu juga membuat Cedric agak berjengit dari tempat duduknya sementara tangannya langsung berhenti menekan keyboard komputernya. "Jadi, kenapa kau mengikat tanganku?" Tanya Harry polos.
Cedric memandang wajah polos Harry, "Aku hanya merasa diganggu olehmu." Jawab Cedric dan kembali menatap layar komputernya.
Harry tersentak dengan matanya yang membulat, "Eh?"
Cedric kembali menoleh, "Because you are so cute, dan jika aku harus berbicara blak-blakan sepertimu, aku menyukaimu." Ucap Cedric yang direspon Harry dengan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi –kenapa tanganku masih diikat kalau begitu?–.
Aku jadi semakin bernafsu dengan seberapa polosnya dirimu, Harry. Batin Cedric dengan seringai mesumnya.
Cedric beranjak dari kursinya dan mengambil kamera di atas meja, "Saat aku berbicara denganmu, kejujuranmu yang sangat polos itu membuatku agak risih. Tapi dengan cepat aku tersadar bahwa tingkahmu itu sangat menggemaskan." Cedric berjalan ke arah Harry yang terikat dan duduk dengan ekspresi agak tercengang di atas kasur Cedric.
Cedric menyeringai, "Maaf tapi bagaimanapun juga aku tetap menyukaimu kan? Dan…" Cedric menyalakan kameranya dan mengarahkannya ke Harry, "Aku jadi berfikir apakah aku bisa merekammu dengan tanganku sendiri? And now? I get it! dan perlu kau tahu, aku sudah lama memperhatikanmu." Tutur Cedric lagi-lagi membuat Harry tercengang, beruntung Cedric mempunyai semacam kemampuan untuk tidak langsung 'menyerang' korban, well—Harry sangat menggemaskan.
Cedric merekam Harry dan mengarahkan ke mukanya yang berlagak bingung dengan tampang inosen, "Aku sudah lama berfikir, aku akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan jika aku menyembunyikan kamera di rumah kaca itu." Cedric menurunkan kameranya dan menatap Harry, "Tapi aku lupa dimana menaruh kamera itu, jadi aku harus mencarinya dan membuat tanamanmu hancur."
Mata Harry membelalak, "Sorry about that." pinta Cedric, tulus.
Harry menelan ludahnya, "Kamera? Jadi kaulah orang yang menghancurkan tanamanku?" Tanya Harry dengan wajah menahan tangis.
"Itulah kenapa aku minta maaf, Harry." Ungkap Cedric sedikit melembutkan nada suaranya.
Cedric kembali berjalan ke arah Harry menaiki kasur dan duduk tepat di depan Harry. Wajah Cedric perlahan mendekat ke wajah Harry–yang masih membelalak–dengan kamera yang Cedric pegang ditangannya sengaja di arahkan close-up ke muka Harry, "Karena aku melupakan dimana menaruh kamera itu, aku jadi menemukan satu hal yang sangat menarik di rumah kaca itu." Ungkap Cedric dengan senyum mesumnya.
Cedric memperlebar senyumannya yang berubah menjadi seringai mesum, "Melihatmu, Harry… getting sucked off by... Draco Malfoy."
Cedric mempersempit jarak wajahnya dengan wajah Harry–yang kini membelalak dengan pipi merah– kemudian memamerkan deretan giginya. "Seeing you get sucked off by your friend…ah atau bahkan pacarmu?" Harry menggeleng yang dibalas seringai mesum yang semakin lebar oleh Cedric. "Was… really Hot." Lanjut Cedric sambil menjilat bibir atasnya.
"A-apa?" sentak Harry.
"Ahhh…Harry, let me suck you off once too." Pinta Cedric membuat Harry sedikit berjengit dan memundurkan tubuhnya ke belakang yang sudah mentok di sandaran kasur. Cedric kembali menyeringai. "Aku akan mengambil capture yang tepat," ucap Cedric sambil memperbaiki posisi kamera ditangannya.
"Stop it!" gerutu Harry sambil menggembungkan pipinya dengan mimik polos.
"Kau tidak masalah kan kalau aku juga ingin melakukannya? Draco temanmu, aku juga, jadi apa bedanya?" Tanya Cedri sedikit mengalihkan perhatian Harry dengan kata-katanya padahal jemarinya sudah memegang resleting Harry yang terekspos dengan posisi mengangkang.
"Let me suck you off, Harry." Cedric menarik turun resleting Harry.
Kembali Harry tersentak. "No way Cedric, please! Dracooooo."
"Tidak! Dia tidak di sini." Cedric sudah sampai di bagian underwear Harry, tinggal selangkah menuju tempat dimana ia juga akan mendengarkan desahan Harry yang eksotis.
Cedric menjilat bibir atasnya sementara Harry mengalihkan pandangannya ke atas. "Dracooo, hiks!"
Slam!
"Hey! Diggory! Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu!"
"Dia terus memaksaku dan bahkan hampir saja mencolok mataku jika aku tidak memberitahu di mana letak rumahmu." Ucap rambut merah yang bernama, Ron.
Pria blonde itu menatap Ron tajam membuat Ron sedikit ciut. "Cedric, is this spy equipment?" Tanya pria blonde itu sambil menjulurkan tangannya di depan pintu.
Draco–pria blonde itu–meneguk ludahnya. "Ops! Kau sedang ada urusan ya? Sorry."
"What—are you doing there?" Tanya Ron sedikit mengintip saat Draco perlahan menutup pintu Cedric.
"Cepatlah selesai, aku akan menunggumu di lantai bawah." Seru Draco bersiap-siap menuruni tangga tapi tangan Ron mencengkram lengannya.
Mata Ron tidak berani menatap Draco yang menatapnya tajam–lagi–. "B-bukankah itu Harry Potter?" Tanya Ron agak sedikit terbata.
"Maksudmu pria yang bersama Cedric?" Tanya Draco sedikit terkejut.
Ron menganggukkan kepalanya dengan canggung, "Kau yakin?" sekali lagi Ron mengangguk tapi kemudian menggeleng membuat Draco memicingkan matanya.
Draco mendengus dan berniat menggundul rambut Ron kalau saja Ron berbohong padanya. Draco berlari ke arah pintu Cedric dan membukanya dengan kasar.
Slam!
"D–dra–co?" isak Harry dan agak terkejut dengan kedatangan Draco–lagi–tadinya Harry berfikir kalau Draco tidak–mau–tau apa yang terjadi dengannya, makanya ia agak enggan bersuara.
"Harry Potter! What the hell are you doing here?
Draco melajukan langkah kakinya sementara Harry masih terisak di belakangnya. Well—nasib Cedric mungkin agak mengenaskan. Dia telah diikat oleh Draco di tepi ranjangnya sendiri dalam keadaan telanjang dan kebetulan Draco menemukan tongkat baseball hingga ia memaksa Cedric mengemut tongkat itu atau Draco akan memasukkannya ke dalam lubang pantatnya. Dan–karena Ron sudah berbaik hati memberitahukan letak rumah dan yang terpenting memberitahukannya bahwa Cedric ingin berbuat mesum dengan Harry–Draco agak ragu apakah matanya agak minus sehingga tidak melihat Harry yang dalam keadaan memohon–, maka Draco membebaskan Ron untuk segera pergi dari rumah Cedric atau ia akan memaksa Ron untuk menggantikan posisi Harry, meskipun jujur saja Draco agak muak dengan teman-teman Cedric.
Dan—tentang kamera itu, Draco sudah membereskannya–menghapus video Harry disana– dan berganti menyuting Cedric dalam keadaan telanjang dan mengemut tongkat baseball. Such interesting isn't?
"U…ughh." Harry terisak lagi meskipun sudah diacuhkan oleh Draco dari tadi yang masih melangkah di depannya, "Maaf. Aku tidak akan gegabah lagi. Aku tahu kau khawatir padaku, Draco. Tapi sungguh, aku ti–tidak menginginkan hal ini terjadi padaku." Ucap Harry agak sedikit terbata.
Draco menghentikan langkahnya. "No!" sergah Draco membuat Harry tersentak. "Jika saja aku bisa jauh lebih berhati-hati dan tidak melakukannya di tempat umum, denganmu…" Draco membalikkan badannya dan berjalan menuju Harry, "…mungkin ini tidak akan terjadi, maafkan aku, Harry." Draco menarik tengkuk Harry dan merengkuh tubuh rapuh Harry kemudian memeluknya erat. "Aku mencintaimu, Harry. Sangat mencintaimu." Bisik Draco sambil menghirup aroma vanila yang menyeruak di tubuh Harry. "Bahkan jika itu bukan, Cedric... tidak peduli siapapun, aku tidak ingin mereka menyentuhmu." Draco menyurukkan kepalanya di leher Harry mesenyap wangi tubuh pria yang kini matanya berkaca-kaca itu, "Karena…karena kau hanya milikku."
Harry mengeratkan pelukannya sambil sesekali terisak pelan, "Tidak ada seorang pun…" Draco melepaskan pelukannya dan memindahkan tangannya ke pipi Harry, "…yang dapat membuatku nyaman seperti apa yang kau lakukan terhadapku Harry." Draco mengusap pipi Harry yang perlahan berubah menjadi merah.
Draco mengusap air mata Harry. "Kau yang tidak mudah untuk berbohong. Dan aku yang dapat dengan mudah melihatnya, bukankah kita pasangan yang cocok?" Tanya Draco membuat pipi Harry semakin memerah.
Harry menatap Draco intens, "Aku ingin membagi duniaku, dengan dunia yang hanya bisa kau lihat." Harry memindahkan tangannya ke dada Draco, "Jika kita bersatu, aku akan dapat dengan mudah mengerti dengan apa yang kau rasakan. Itulah kenapa aku percaya padamu, Draco." Harry memindahkan tangannya dan mencengkeram kerah baju Draco kemudian membawa bibir Draco ke bibirnya, ,mengecupnya singkat tapi cukup membuat jantung Draco melengos.
End Author's POV
Draco's POV
Aku merasakan jantungku berdetak jauh lebih kencang dari biasanya.
"Kau yakin tidak apa-apa, Harry?"
-000001 "Uh…" Harry menganggukkan kepalanya.
Aku menautkan jari-jariku di jemari Harry dan perlahan menuju bibirnya yang terbuka dengan eksotis. Aku mengecup bibirnya sementara bagian bawahku perlahan bekerja untuk menyatukan tubuh kami.
-000001 "K-kiss me…Ah…"
Aku jadi bertanya-tanya sendiri, apa yang akan terjadi dengan aku dan Harry…ketika kami berdua menjadi… satu?
~TBC~
.
.
.
Well?—jangan kaget, mereka belum ngapa-ngapain.
Di chapter selanjutkan gue kasih Rate M++ kalau kalian mau :) *tergantung minat Reviewers juga sih* hehe
Jadi setuju kalau gue kasih Rate M++ apa kagak di Chapter 4?
Nah? What do you think guys?
Gue harap kalian gak pelit review ya, *di-Sectum Sempra*
Sekali lagi,
Jadi author menyenangkan tapi susah buat dijalanin XD
LOL
So, Would you leave me some review, guys ?
_BeRry_
