"Count Love"

~Pair : Draco Malfoy x Harry Potter~

~Genres : Humor, Fluff, School Life, Drama, Others!~

~Rate : T to M

~Chapter : 4/?~

~J.K Rowling © Harry Potter~

~Disclaimer : Count Love (based on comic)~

Translator and Author : BerRy_

.

Warnings: No MAGIC, OOC, Typo(s), OTHERS!

It's Slash!

Boys Love a.k.a Boy x Boy

Don't Like? Don't Read!

.

(A/n : Ah, maaf sekali, update-nya telat banget. Dan sekali update hampir seluruh plot terisi dengan adegan Rated-M *ngakak*. Aku menuruti permintaan kalian semua, yang mau dikasih Rated-M dan aku sudah membuatnya. Dan perlu kalian tau selama gue mengetik FF ini dan merangkai-kata kata yang benar-benar bikin gue gemeteran. Gue masih polos. Gue masih polos. Otak gue teriak kek gitu mulu, lol.

Gue nulisnya satu minggu T_T *mungkin lebih* Rated-M nya yang susah.Dan aku harap feel-nya udah dapat^^

Yaudah gak banyak bacot, silahkan dibaca^^

Jangan lupa review ya :* …

*civok satu-satu*)

~Just Enjoying~

~And HAPPY READING GUYS^^~

-oOo-

Preview

Draco's POV

Aku merasakan jantungku berdetak jauh lebih kencang dari biasanya.

"Kau yakin tidak apa-apa, Harry?"

-000001 "Uh…" Harry menganggukkan kepalanya.

Aku menautkan jari-jariku di jemari Harry dan perlahan menuju bibirnya yang terbuka dengan eksotis. Aku mengecup bibirnya sementara bagian bawahku perlahan bekerja untuk menyatukan tubuh kami.

-000001 "K-kiss me…Ah…"

Aku jadi bertanya-tanya sendiri, apa yang akan terjadi dengan aku dan Harry…ketika kami menjadi… satu?

.

.

.

Author's POV

"nhh…nhh…" sensasi lenguhan Harry membuat Draco kelabakan. Ia tidak henti-hentinya mengecup, melumat, menjilat, bahkan menggigit lembut bibir ceri seorang Harry Potter yang kini membengkak mengerikan—tapi sexy disaat yang sama.

"mmmhh…" Draco menekan tengkuk Harry memperdalam ciuman—lumatan mereka. Tidak diperdulikannya tangan Harry yang menekan dadanya untuk memberikan kesempatan pada Harry untuk menarik nafas—paling tidak lima detik.

Saat ia mulai menyadari wajah Harry yang menggelepar menuntut oksigen, Draco melepaskan bibirnya. Saliva keduanya yang sudah tercampur membentuk benang tipis diantara mereka—yang juga enggan terputus.

Dada Harry naik turun menarik nafas untuk melepaskan tali yang sempat menghimpit paru-parunya. Sambil sesekali melenguh—mendesah menikmati kecupan-kecupan Draco yang kini beralih ke leher jenjangnya—memberikan tanda bahwa Harry Potter milik Draco Malfoy.

'Kenapa setiap kali bibir Draco menyentuh kulitku, aku merasa seperti tersengat?'

Kepala Harry beralih ke kiri dan ke kanan menahan rasa nikmat yang menjalar di permukaan kulit lehernya. Matanya terpejam, dan menikmati sensasi yang memabukkan itu. Saat ia tidak merasakan bibir Draco—yang basah—di sekitar lehernya, dengan sedikit kecewa ia membuka matanya dan menatap Draco yang seperti sedang… berfikir?

Jemari Draco menjalar ke pipi Harry, mengusapnya, lembut. "Tidak seharusnya aku melakukan ini, Harry." Harry mengernyit heran, kenapa jadi seperti ini? Ia bertanya-tanya, "Kalau aku meneruskannya, bukannya aku malah mengambil keuntungan seperti apa yang dilakukan oleh Cedric? Don't you think?" Tatapan mereka masih bertaut dan sudah sepuluh detik yang lalu Harry tidak berkedip sama sekali, ia tenggelam di lautan perak yang berhasil mendobrak permukaan hatinya hingga tenggelam—tepat di dasar yang paling dalam.

Harry menggenggam jemari Draco yang masih mengelus pipinya, membawa tangan Draco ke bagian bawah tubuhnya.

Tatapan Harry memohon,"Do it!"

Bola mata Draco membelalak, "Hah?"

Harry menekan tangan Draco di selangkangannya, "Just do it!"

"…"

Harry menekan tangan Draco, hingga ia mengaduh—kesakitan, "I'm Hard!" sentak Harry sedikit memaksa.

Draco mengedip—setelah tiga puluh detik yang lalu ia masih membelalak—, "Kau yakin, Harry?" tanya Draco kikuk dengan tingkah kekasihnya yang sedikit…mengangetkan.

Tatapan Harry memelas, "You don't want me?" bisik Harry dengan suara paraunya. Sedetik kemudian Draco mengecup bibir Harry yang bergetar dan melumatnya dalam sekali lahap.

.

"Kau yakin tidak apa-apa, Harry?"

"Uh…" Harry menganggukkan kepalanya.

Draco menautkan jari-jarinya di jemari Harry dan perlahan menuju bibir Harry yang terbuka dengan eksotis. Draco mengecup bibir Harry sementara bagian bawah Draco perlahan bekerja untuk menyatukan tubuh mereka.

"K-kiss me…Ah…" lenguh Harry dan sedetik kemudian Draco mengecup bibir Harry.

Dalam sekali hentakan—

"Nghhh…AHH—"

—tubuh keduanya hampir menyatu.

"Harry…" Lirih Draco—sedikit tersiksa. Draco menyadari hal itu, Harry menahan nafasnya untuk menahan rasa sakit yang ia timbulkan. "Harry…tatap mataku!" dengan sedikit meringis Harry membuka matanya dan menatap kilau perak Draco yang teduh dengan tatapan hangatnya. "Jangan menahannya, desahanmu." Harry mengangguk, "Dan beritahukan aku kalau sakit."

Plak!

Harry menabok kepala Draco.

"Bodoh! Tentu saja sakit! Ini pertama kalinya ada benda asing yang lumayan besar—" Draco tersenyum diam-diam, "memasuki tubuhku." Kilau emerald Harry menahan air matanya agar tidak tumpah, dan hal itu tentu saja membuat Draco sedikit bersalah.

Draco menatap bagian bawahnya, darah. "Darah." Gumam Draco pelan dan kembali menatap emerald Harry, "Aku menyakitimu, Harry." Harry menggeleng keras.

"Tapi aku menginginkannya." Lirih Harry.

Harry mengangguk.

Hentakan kedua berhasil membuat Harry meneriakkan nama Draco dengan lantang. Seprei Draco berada di dalam genggaman tangan Harry yang berkeringat.

Dan Hentakan ketiga—dengan teriakan Harry yang membuat Draco dengan greget memasukkan lidahnya ke mulut Harry untuk meredakan teriakan kekasihnya—membuat tubuh mereka menyatu…dengan sempurna.

Sementara bagian bawah Draco menjebol ke-virgin-an sweet hole Harry, Draco mulai melumat dan mengajak lidah Harry untuk berlomba dengan lidahnya sendiri—untuk mengalihkan rasa sakit yang ia timbulkan karena bendanya yang besar—sekali lagi Draco tersenyum.

Draco melepaskan ciumannya dan membuat Harry detik itu juga menarik tengkuk Draco dan mengecup pelan bibir Draco. "Move it." Pinta Harry tepat di depan bibir Draco.

Dengan perlahan Draco mulai memompa tubuhnya dan berusaha memberikan ransangan ke tubuh Harry—untuk mengalihkan Harry dari rasa sakit—dengan mengecup bagian-bagian tubuh Harry yang sensitif.

"Nhhh…" lenguh Harry saat Draco berhasil menyentuh sweet spot-nya. Rasa sakit dan nikmat melebur menjadi satu seiring permainan mereka yang mulai liar.

"Call my name, Harry."

Dan detik-detik berikutnya bibir Harry yang membengkak dengan lucu mendesahkan, "Draco ah~" untuk melampiaskan rasa sakit dan nikmat yang ia rasakan di saat yang sama.

Sementara itu Draco tidak henti-hentinya mempermainkan bibirnya di tubuh Harry, mengecup, melumat, menjilat, dan menggigit setiap senti tubuh Harry yang bisa dijamahnya. Tubuh Harry menggeliat kesana-kemari saat Draco berkali-kali menyentuh sweet spot dan mulai menghiraukan rasa sakit yang masih mengikat di dinding rektumnya.

"Kau mau mengubah posisi?" tanya Draco—dengan genjotan pelannya. Harry mengangguk pasrah.

Draco menurunkan kedua kaki Harry di bahunya, dan mulai melepaskan tubuhnya dari dalam Harry.

Plop

Draco mengeluarkan juniornya yang sedikit berlumuran darah dari dalam tubuh Harry. Dan mulai memberikan posisi yang tepat untuk Harry, menungging—doggy style.

Dengan junior yang sedikit berlumuran Darah, Draco mengarahkan juniornya kembali ke lubang Harry yang berkedut, dan—

Blesss

—junior Draco merembes masuk dengan sukses. Draco mulai menggerakkan pinggulnya dengan bibir yang mengecup punggung Harry dan sesekali melumat leher jenjang Harry yang kini mengerikan dengan bercak-bercak biru keunguan.

"Nhhgghh…Draco…ahhh~" Harry tidak hentinya mendesah nikmat seiring genjotan Draco yang semakin membuatnya kelabakan mencari yang mana rasa nikmat dan rasa sakit saat junior Draco menggesek dinding rektumnya di saat yang sama dan sesekali mengenai sweet spot-nya.

"Nhhh—Dra…co…" panggil Harry.

"hm?" gumam Draco singkat tanpa mengurangi tempo genjotannya.

"A-aku…cap…hek…posisi…seperti…nhhh…ahhh…ini."

Mendengar itu, Draco langsung mengeluarkan juniornya dan mengubah posisi Harry kembali seperti semula. Semuanya selesai dalam sepuluh detik—dan lima belas detik dengan Junior Draco yang kembali sukses menjebol lubang Harry.

"Nghhh~"

Mereka bercinta hampir empat puluh menit dan sepuluh detik kemudian Draco berteriak, "I wanna cum. I wanna cum. Cum…Harryyyy… ahhhh~" Junior Draco berkedut-kedut didalam tubuh Harry membuat Harry terangsang dengan rasa hangat yang menjalar di dalam tubuhnya dan detik berikutnya ia meneriakkan nama Draco dan menggelepar-gelepar memukul dada Draco—pelampiasan rasa nikmatnya.

.

"I love you, Harry! You are the only one." Bisik Draco menatap tubuh kekasihnya yang tertidur dengan sangat pulas menapaki mimpi—yang Draco yakin pasti…indah.

Draco mengecup kening Harry. Lembut.

.

.

.

Harry's POV

"Nghhhh~" aku menggeliat dan berusaha untuk bangun. Sedikit terkejut saat pertama kali membuka mata— aku tidak melihat lukisan bunga lili di langit-langit kamar…ku?

Kamarku?

Aku menoleh ke arah Draco yang masih terlelap, apa aku benar-benar menghabiskan waktuku di rumah Draco?

Dan, kami beneran bercinta kan?

Aku mengambil posisi duduk dan bergerak untuk membangunkan Draco yang terlelap.

"Ahhh~" aku meringis, bagian bawahku sakit sekali. Aku membawa tanganku untuk menyentuhnya, berarti kami benar-benar bercin—

Darah?

Butt-ku berdarah!

Dengan sedikit panik aku mengguncang-guncang tubuh Draco, "Bangun Draco! Bangun!"

"Nghhh~"

Draco menggeliat dan membuatku berteriak, "Kamar mandinya berada dimana?"

Eh?

-HHHHH "Apa yang kau katakan, Harry?" Draco mengucek-ngucek matanya menatapku yang berdiri kaku di depannya.

-HHHHH "ck! Ini masih pagi tapi kau sudah membangunkanku…hoaaammm…dan aku senang sekali hari ini hari minggu."

-H

Huruf itu terpampang jelas di atas kepala Draco!

Dan apa artinya itu?

"Harry?"

Aku berkedip seteleh sekian detik. Aku langsung melompat dan menghiraukan rasa sakit di bagian bawahku yang menusuk-nusuk. "Aku pulang!" tangkasku dan langsung memakai pakaianku dengan tergesa-gesa.

Kau pikir apa itu?

Aku meraih ranselku dan berlari keluar dari rumah Draco menghiraukan teriakannya.

"TUNGGU, HARRYYY…"

Blam!

Aku menutup pintu dengan sempurna dan berlari terseok-seok menuruni tangga—dengan meringis, sial! Draco membuatku seperti ini—sambil bertanya-tanya apa itu—yang di atas kepala Draco.

Saat aku berada di tangga terakhir aku hampir menabrak ibu Draco yang membawa buah.

-108650 "Ah, kau pasti Harry Potter. Temannya Draco kan? Draco banyak bercerita tentangmu, Harry. Dan Ahhh—maaf son, aku tidak membawakanmu minum tadi malam." Ibu dan anak sama saja, cerewet!

Aku tersenyum, setelahnya ibu Draco langsung pergi menuju dapur, mungkin?

Aku menggeram saat menyadari Draco sudah menuruni tangga. Dan aku sudah bersiap-siap lari—

"Tunggu, Harry!" teriak Draco membuatku menoleh ke belakang, "Ada yang mau aku bicarakan. Dan—aku akan mengantarmu pulang."

Aku menggeleng—dan berusaha mengabaikan kepala Draco yang menjadi alasanku untuk cepat-cepat pergi. "Aku bisa pulang sendiri." Sergahku dan entah kenapa Draco malah mematung dan menatapku penuh selidik.

Mengambil kesempatan itu, aku segera berlari—dan mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk di bagian bawahku—meninggalkan Draco.

.

Draco's POV

Apa itu?

Barusan di atas kepala Harry?

Kemana angka -000001 di atas kepalanya?

Dan kenapa malah terganti menjadi

-DDDDDD

Apa yang terjadi sebenarnya?

.

.

Harry's POV

Aku menunduk sambil memeluk lututku. Aku berada di halte, menunggu.

Ini gila! Dan seharusnya seperti itu…

Aku bisa melihat angka-angka yang

—memusingkan itu,

berada di atas kepala orang-orang.

Aku mengangkat kepalaku dan baru sepersekian detik aku sudah pusing menatap angka-angka yang memusingkan itu.

Ini gila!

Aku beranjak dari tempatku dan menuju toilet—perutku mulas. Sesekali aku menatap angka-angka di atas kepala orang-orang yang berpapasan denganku, dan mengalihkan pandangan saat orang-orang yang aku tatap memandangku aneh.

Draco bilang enam digit angka yang berada di atas kepala orang-orang merupakan seberapa banyak mereka berbohong semasa hidupnya.

Aku mengacak-ngacak rambutku yang berantakan,

Tapi kenapa aku bisa melihatnya sekarang? Apa karena aku dan Draco

had sex?

Aku keluar dari bilik toilet, melangkah sambil tetap memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Jangan bilang kemampuannya terbagi denganku juga.

No way!

Dan seingatku jika aku tidak ragu Draco mengeluarkan cairan tubuhnya di dalam tubuhku.

Apakah itu mungkin?

Bruk!

"S-sorry." Gumamku pelan sambil menunduk, aku baru saja menabrak seseorang.

"That's hurt! Watch your steps!"

Huh?

Aku menatap di sekelilingku—orang-orang yang berada di toilet—dan entah kenapa aku harus bersedih atau apa.

Aku tidak bisa melihat angka-angka itu lagi!

Aku mengerjabkan mataku, dan menatap kepala orang-orang —yang tetap saja memandangku aneh—setengah berharap angka-angka itu tidak muncul lagi.

Sebelum aku memasuki toilet aku masih bisa melihatnya kok, tapi kenapa sekarang tidak bisa lagi?

Selama menuju rumah Draco pertanyaan itu selalu terngiang di kepalaku.

.

.

Aku berdiri mematung.

Draco yang melihatku datang langsung menghampiriku setelah sebelumnya meneriakkan namaku—dengan lantang.

Draco menangkup pipiku, "Kau darimana saja? Kau juga mematikan ponselmu!" aku menunduk tidak menyangka kalau Draco sekhawatir ini terhadapku.

"Aku minta maaf," bisikku menahan tangis.

Draco memelukku, "Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir, apa kau baik-baik saja?" aku mengangguk, "Kau bahkan berjalan terasaruk-saruk." Aku terkekeh.

Apakah aku harus memberitahunya tentang hal aneh yang barusan aku alami?

Draco melepaskan pelukannya, "Maaf. Aku mengeluarkannya di dalam, aku tidak bisa menahannya. Kau yakin kau baik-baik saja, Harry?"

Dia ini bicara apa sih? Aku mengerutkan keningku, dan hanya mengangguk-angguk menanggapi pertanyaan Draco.

Aku masih berfikir, apakah aku harus memberitahunya? Tapi aku tidak punya bukti sama sekali tentang aku mendapatkan kemampuannya itu. Dan jika aku salah, maka itu akan berakhir menjadi sebuah kebohongan.

Dan aku tidak mau berbohong.

Paling tidak aku harus bertanya, "Um…" aku menengadah, ragu. Draco mengerutkan keningnya, "Kau bilang kau bisa melihat angka kebohongan yang dilakukan seseorang selama hidupnya 'kan?"

Draco menatapku heran tapi kemudian mengangguk. "Um…yeah!"

Aku berdeham, "Apa kau pernah melihat angka yang aneh atau bahkan huruf di atas kepala seseorang?" aku sedikit memanipulasi pertanyaanku.

Draco's POV

"Apa kau pernah melihat seseorang tanpa angka di atas kepalanya atau bahkan huruf di atas kepala seseorang?" tanya Harry membuatku menatap angka yang berada di atas kepalanya.

Dan kenapa huruf 'D' itu menghilang?

Angkanya kembali menjadi -000001

"Pernah! Dan itu diriku sendiri." Aku membersihkan tenggorokanku dengan deheman, "Saat aku melihat ke cermin, aku tidak melihat apapun. Pada dasarnya, kau tidak bisa melihat angkamu sendiri."

Harry's POV

Tidak bisa melihat angkamu sendiri.

Itu salah! Karena aku melihat huruf 'H' di atas kepala Draco.

Menurutku, orang yang mempunyai kemampuan untuk melihat angka-angka itu tidak bisa saling melihat angka satu sama lain. Dan itulah kenapa aku tidak bisa melihat angka Draco, karena Draco juga mempunyai kemampuan yang sama denganku! Itulah mengapa diatas kepalanya tercetak huruf 'D'. Dan apa 'D' itu? Apakah Draco juga melihat huruf yang sama seperti denganku?

Dan itu berarti kemampuan Draco…

Contagious!

Aku memekik. Dan berusaha acuh saat menyadari Draco sedikit terperanjat.

Tapi, aku sudah tidak bisa melihatnya dan bisa dikatakan aku 'sembuh'. Dan jika Draco mendapatkan kekuatan ini dari orang lain—seperti aku yang tertular oleh Draco—jadi Draco bisa di'sembuh'kan?

Jadi dia bisa kembali ke kehidupannya beberapa tahun yang lalu dan tanpa bisa lagi melihat angka-angka di atas kepala seseorang—yang sangat memusingkan itu?

Kau bisa disembuhkan, Draco! Pekikku dalam hati.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, Tidak! Tidak! Tidak sampai aku mempunyai cukup bukti bahwa Draco benar-benar bisa disembuhkan.

Tapi jika aku—jadi Draco dan aku sudah merasakannya beberapa saat yang lalu—menjalani kehidupan sepertinya, aku pikir aku tidak akan bisa bertahan hidup barang sehari. Kau pasti cukup pusing menatap angka-angka mengerikan di atas kepala seseorang. Dan kebohongan-kebohongan yang mereka katakan dan kau sadar bahwa kau bisa mengetahuinya, bahwa mereka bebohong terhadapmu.

Tapi, Draco sudah lama dengan hal ini. Dan aku benar-benar ingin membantunya untuk bisa kembali menjalani kehidupan yang jauh lebih normal lagi. Tanpa angka-angka mengerikan itu.

Draco tertular oleh orang lain kan? Dan aku tertular oleh Draco karena kami melakukan—

Aku terisak.

"Harry, kau tidak apa-apa? Kenapa menangis?"

Aku menatapnya dengan bibir yang sumringah, tapi sebenarnya aku tidak ingin menanyakan hal ini. Menyakitkan. "Kau pernah bercinta dengan orang lain'kan?" sial! Tubuhku menghianatiku.

"A-apa? Yang benar saja!" bentak Draco, aku semakin terisak.

"K-Kau cukup…hiks… menjawabnya! Ini penting sekali!"

"Dan apa yang kau lakukan jika aku membertahumu?"

"A-aku tidak bisa…memberitahumu sekarang."

Draco's POV

"Kau pernah bercinta dengan orang lain'kan?"

Aku terperanjat. "A-apa? Yang benar saja!" gertakku. Kenapa dia bertanya seperti itu?

"K-Kau cukup…hiks… menjawabnya! Ini penting sekali!"

Penting sekali?

Aku menatap Harry dengan berusaha menyelidik, "Dan apa yang kau lakukan jika aku membertahumu?" tanyaku balik.

Jangan bilang dia sedang curiga denganku? Atau, atau—dia sedang mengujiku? Menurutmu?

"A-aku tidak bisa…memberitahumu sekarang." Elak Harry. Hah! Yang benar saja!

Aku tahu! Aku tahu!

Mataku memicing.

Was there something weird about how we did 'it' last night?

.

.

Harry's POV

"I love you, Harry! You are the only one."

Aku menopang daguku, aku sangat bahagia saat Draco mengatakan hal itu. Meskipun aku berpura-pura tertidur, tapi itu berarti Draco benar-benar mencintaiku 'kan?

Kurasakan darah terpompa lebih cepat ke bagian pipiku.

Ah tidak! Tidak! Tidak!

Aku tidak seharusnya pusing akan hal ini, tapi tentang dimana Draco mendapatkan kemampuan itu. Jika aku menemukannya, maka aku bisa tahu kenapa bisa aku sembuh dengan sangat cepat.

"Kau ternyata sangat freak terhadap Biologi, ya?"

Suara itu!

Cedric!

Aku segera berdiri dan berbalik menatapnya dengan tatapan geram. "Kalau kau kesini untuk menghancurkan tanamanku, sebaiknya kau keluar!" gertakku dengan kaki gemetar.

Author's POV

Cedric terkekeh, "Tidak usah takut seperti itu, Harry."

~Flash Back

Draco's POV

-047372 "Aku tidak tahu!"Ching~-047373

"Kau berbohong kan?Sekarang beritahu aku dimana kau menyembunyikan alat mata-matamu yang menyebalkan itu!"

Aku melayangkang bogemku—yang keempat kalinya—ke pipi Cedric. Menurutmu dia pantas kan mendapatkan hal ini?

~End of Flash Back

"Kau tahu? Dia menghapus semua data-dataku, dan pacarmu yang menyebalkan itu mengambil semuanya, alat-alatku dan bahkan kameraku." Cedric mendekat ke arah Harry—yang diam-diam gemetar.

Cedric mencengkeram lengan Harry—membuat Harry memekik kesakitan, "Tapi aku menemukan sesuatu yang aneh."

~Flash Back

Cedric's POV

Aku menyalakan alat perekam yang tadi aku taruh di rumah kaca Harry.

"Aku mengerti, Draco. Kekuatan yang kau punya, aku mengerti dan aku percaya.".

Kekuatan?

"Aku jadi berharap bisa melihat angka-angka sepertimu sehingga aku bisa mengerti rasa sakit yang kau rasakan."

"Tapi bagiku yang tidak bisa melihatnya,"

Angka-angka?

Apa yang mereka bicarakan? Aku memperbesar volume headset-ku.

"Bahkan kalau aku ingin mengerti, bagaimana aku bisa? Entah apa yang kau katakan benar atau salah, aku tidak mempunyai cara bagaimana mempercayai apa yang kau katakan, Draco."

Gila! Mereka gila! Apa yang mereka bicarakan?

Kekuatan angka-angka apa yang dimiliki Draco?

~End of Flash Back

"Hal itu benar-benar menggangguku." Ucap Cedric, mengeratkan cengkramannya.

Harry mengernyit, heran dan meringis di saat yang bersamaan. "Jadi aku harus bertanya." Cedric menyeringai.

Cedric melepaskan cengkramannya, menatap Harry tajam. "Kekuatan apa yang dimiliki Draco? Dan angka-angka apa yang kalian maksud?"

Harry menahan nafasnya dengan mata membelalak.

.

.

.

TBC

.

.

.

Finally!

Kelar juga ini chapter.

Mungkin sisa dua chapter atau bahkan satu chapter lagi.

Terima kasih yang sudah baca sampai chapter ini, dan aku harap kalian masih tetap ngikutin dan tetap review pastinya.

Dan terima kasih juga buat readers yang masih berbaik hati membagi-bagi review-nya untuk FF ini. *deep bow* thank you so much :*

Nah! What do you think guys?

Kalian nemu typo?

Dan maaf kalo Rated-M nya kurang hot!

I've tried so hard and how to get feeling and write it one by one.

Karena Rated-M tanpa Feel, rasanya hambar kan?

Makanya, FF ini selesai dalam satu minggu. *berusaha ngumpulin feel- Rated-M buat ditulis*

See you next chap^^

.

.

.

Review ok?

.

.

.

.

.

_BerRy_