Disclaimer: Vocaloid bukan milik Mikan.
Mikan baru sadar Mikan menandai cerita ini complete padahal masih ada chapter ini dan satu lagi yang belum Mikan publish =w=;
Dan untuk chapter 2, Mikan tidak mengambil cerita manapun. Mikan gak tau ada doujinshi yang mirip dengan itu. Apa bisa memberi Mikan linknya? 'w'
dan bagi yang gak tau *semekot: semeter kotor
"Len~, aku lapar," Rin merengek dean gerkan lunglai seperti orang yang belum makan 3 hari. Len sweatdrop melihatnya.
"Maaf Rin, tapi kita kehabisan bahan makanan. Aku harus pergi ke negeri tetangga untuk membeli bahan makanan karena kita sedang mengalami kekeringan yang cukup parah bulan ini." Jelas Len dengan senyum meminta maaf. Rin yang sebelumnya terlihat lesu itu segera mengangkat kepala dengan wajah berseri seri.
"Kalau begitu apa yang kaita tunggu! Ayo berangkat!" seru rin samil menyeret Len keluar dari istana.
Mereka sampai dipasar dengan mengendarai Josephin, road roller milik Rin – Rin menolak menaiki Innovator, mercedess Benz milik Len karena menurutnya terlalu menyolok -. Rin yang tidak pernah memasuki pasar sebelumnya memandang kagum dengan setiap orang yang berada dipasar dan juga apa yang mereka jajakan. Dengan semangatnya dia belari kesana kemari membuat Len kewalahan.
"Hei Len, apa itu?" tanya Rin sambil menunjuk seorang pemuda dengan tinggi semekot*, berambut biru dan juga syal biru, menikmati setangkai es krim. Len milhat sekilas lalu kembali pada jeruk jeruk ditangannya.
"Itu es krim."
Untuk sesaat tidak terjadi apa apa hingga seseorang berteriak kencang. Tanpa pikir panjang Len menjatuhkan jeruk jeruk ditangannya dan mencari Rin, khawatir Rin mengalami masalah. Bagaiman jika dia diculik dan dijual sebagi budak? Pikiran Len berlari entah kemana. Tetapi kekhawatiran Len tenggelam saat melihat Rin memakan pria berambut biru yang sebelumnya ditunjuknya.
"Rin... apa yang kamu lakukan?"
Rin melepaskan orang itu dan melihat Len dengan tatapan polos. "Baunya seperti es krim. Kukira dia robot es krim raksasa dan jadi aku memakannya."
Len menarik nafas panjang dan mengangkat Rin selayaknya mengangkat kucing dan pergi meninggalkan pria malang itu.
"Len, Len apa ini?" tanya Rin untuk yang kedua kalinya. Lan menoleh dan seketika wajahnya berubah cerah.
"Pisang!"
Len berlari, eh, melompat lompat? Melewati rin menuju penjual buah buahan disamping kios penjual sayur sayuran tempat Rin berdiri. Pemilik kios itu yang bernama Gumi terlihat bahagia saat Len membeli satu gerobak pisang miliknya.
"Manis dan lembut... rasa yang sempurna!" serunya bahagia saat merasakan pisang yang dibelinya. Rin merajuk.
"Leeeen! Maksudku yang ini!" Rin menggerutu dan menunjukkan (melempar) sebatang daun bawang tepat diwajah Len.
"O oh, ini negi. Kita bisa membuat sup dengan ini." Jelas Len.
Rin tersenyum senang dan memerintahkan Len untruk membeli semuanya. Dengan 30 karung negi, mereka kembali ke kerajaan tercinta, Lucifenia.
"Potong semuanya Len! Kita akan membuat makan malam untuk Rinto otousama dan Lenka okaasama!" titah Rin. Len hanya bisa mengangguk seraya memotong daun bawang, bawang merah dan bahan bahan lain dengan berurai air mata.
"Hiks..."
Sementara itu...
"Neru san! Aku ingin membeli negi!" sahut seorang gadis dengan ceria. Rambutnya yang diikat pigtail berwarna teal menjdi sapu jalanan yang kotor saking panjangnya.
Neru hanya melirik gadis itu sebentar lalu kembali pada handphonenya seolah dia tidak peduli pada gadis itu. Tapi dengan sedikit rasa kasihan dia menjawab, "Maaf Miku. Benda busuk itu telah habis dibeli putri Rin dari kerajaan sebelah." Jawabnya datar tanpa melihat wajah Miku yang berubah horor.
"HWAAA! Aku tidak bisa membuat makan malam!" tangisnya.
