Disclaimer: Vocaloid bukan milik Mikan
Akhirnya ending dari fic ini! \(T7T)/
ah, Mikan mau bikin fic baru! bagi yang ingin tahu judul dan summarynya silahkan lihat di profil Mikan ^^
Rin melihat keluar kamarnya melalui jendela besar yang menghadap langsung ke kota. Dari jarak itu dia bisa melihat kumpulan orang orang berpakaian berwarna warni dan juga balon balon raksasa berbentuk hewan ataupun benda. Rin yang penasaran segera membangunkan Len yang tertidur dengan lelapnya dengan berteriak menggunakan speaker TOA.
"LEN!"
Sontak Len bangun dengan segera. Dilapnya bekas bekas tidurnya, aka ilernya dan tergesa gesa menghadap Rin yang menatapnya dengan raut wajah mencibir, tangan terlipat dan kaki yang dihentakkan ke lantai marmer.
"A, ada apa Rin?" tanya Len gugup.
Rin menunjuk jendela dan bertanya dengan polosnya, cibirannya telah berganti menjadi rasa penasaran pada apa yang sebelumnya dia lihat. "Apa yang mereka lakukan disana?"
Len ikut melihat keluar jendela, diluar tampak orang orang dalam jumlah banyak memainkan alat musik dan menari dengan riangnya, beberapa juga menunjukkan kebolehannya berakrobat. Len yang juga kali pertamanya menyaksikan hal itu menggeleng tidak tahu.
"Aku juga tidak tahu. Ayo kita tanya pada Rinto otousama dan Lenka Okaasama." Usulnya.
Rin mengangguk dan menggandeng tangan Len menuju kamar raja dan ratu. Tanpa mempedulikan kedua orang tuanya yang ingin beristirahat dengan tenang, Rin mendobrak masuk pintu kamar dan berteriak membangunkan raja dan ratu. Tentu saja raja dan ratu terkejut dan terbangun dari tidurnya. Rinto bahkan terjatuh dari tempat tidur saking kagetnya. Len yang melihat kesialan ayahnya hanya bisa geleng kepala.
"Ada apa Rin?" tanya Rinto seraya berusaha berdiri dari lantai.
"Itu, itu. Apa yang mereka lakukan disana?" tanya Rin semangat, bahkan sampai melompat lompat sambil menunjuk jendela yang mengarah langsung ke pemandangan ibukota mereka.
Lenka melihat jendela lalu pada Rin dan tersenyum. "Itu festival panen, mereka merayakan panen tahun ini yang lebih banyak dari tahun kemarin." Jawab Lenka.
"Boleh kami mengikutinya?"
"Lebih baik jangan, disana banyak orang dan para pengawal-"
"Kami tidak memerlukan para pengawal. Aku dan Len ingin melihat rakyat biasa mensyukuri hidup mereka tanpa dikelilingi pria pria tua yang bau itu."
"Tapi Rin-" Rinto buka mulut tapi kembali dipotog oleh sang putri.
"Tidak ada tapi. Len akan melindungiku. Dia juga ingin mengikuti festival seperti orang biasa."
Rinto menggaruk kepalanya dengan bingung dan takub melihat kesungguhan putrinya. Dia menoleh pada Len, dan menemukan bahwa yang dikatakan Rin memang benar. Dengan pasrah Rinto mengangguk.
"Baiklah. Tapi jika kalian ingin menyamar menjadi orang biasa kaian tidak biasa berpakaian seperti itu." Rinto menunjuk pakaian mereka.
Rin dan Len melihat pakaian mereka dan menyadari pakaian mereka yang 'sedikit' mewah. Rinto menepuk tangannya dan seorang pelayan entah dari mana muncul membawa setumpuk pakaian yang terlihat sudah kusam ditangannya. Diberikannya pakaian pakaian itu pada Len.
"Itu adalah pakaian kalian untuk menyamar."
"Ini? Ini kan pakaian kami tiga tahun lalu?" sahut Len. Rinto mengangguk.
Len mengibaskannya pakaian itu dan debu pun beterbangan keluar dari kain kain yang berlapi lapis. Saking banyaknya hingga membuat Lenka bersin bersin dan lari keluar kamar.
"Pakaian ini terlalu kecil!" protes Rin.
"Tidak ada pakaian milik kalian yang lebih cocok untuk menyamar selain ini. Jadi pakai atau tidak sama sekali." Rinto berkata.
Rin dan Len mencibir dan mengambil pakaian milik masing masing. 'Dasar pelit. Bilang saja tidak mau memberikan kami pakaian baru.' Sungut mereka dalam hati.
"Tidak, jangan pakai pakaian itu." Rinto mencegah. Rin dan Len memandangnya bingung.
"Rin, kamu pakai pakaian Len. Sedangkan Len pakai pakaian Rin."Rinto menjelaskan.
"Bukannya sama saja? Maksudku kamikan kembar. Gak ada seorangpun yang tahu perbedaannya." Len berucap. Rinto menggeleng tidak setuju.
"Kalian berbeda. Rin itu lebih... uhm... kecowokan. Sedankan Len, kamu lebih feminim.." jawab Rinto tanpa berani melihat Len. Len menatap horor Rinto.
"Rinto otousama!"
"Sebenarnya Len, aku juga berpikir begitu,"
"Rin juga!?"
"Ibu juga~"
Len tidak dapat berkata apa apa dan hanya bisa melihat tiga anggota keluarganya dengan tatapan tidak percaya. Akhirnya dia berjongkok dipojok ruangan dan menangis ditemani Rin yang menggosok punggungnya dengan perasaan simpati.
Setelah selesai dengan tangisan Len dan permintaan maaf dari Rinto, mereka akhirnya memakai pakaian lama mereka yang ditukar. Dan benar kata Rin, pakaian mereka lebih pedek dan ketat meskipun mereka tidak berubah banyak setelah tiga tahun. Rin bahkan harus menutupi lekuk lekuk tubuhnya dengan sebuah jubah.
"Siap?" tanya Len. Rin mengangguk.
Mereka membuka pintu darurat yang berada dibelakang istana dan segera berlari menuju keramaian. Mereka tidak ingin melewatkan satu detik pun dari festival itu.
"WOA! Banyak orang..." Rin berkata dengan takjub. Len mengangguk.
Mereka terus berjalan ditengah kerumunan. Len terus saja memegangi tangan Rin dengan erat. Sesekali dia melirik apa yang tengah Rin lakukan dari sudut matanya. Dia tidak ingin Rin terpisah dan menghilang dari sisinya.'
Puncak acara itu adalah drama teater diruang terbuka. Ceritanya sangat mengharukan. Rin bahkan menangis saat sang pelayan yang setia pada ratunya itu mati setelah melemparkan sebuah botol ke laut. Len memluknya erat dan membiarkan air mata Rin membasahi gaun yang dipakainya.
"Aku tidak mau kisah kita berakhir seperti mereka..."
"Aku juga tidak."
"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan aku sendirian, Len,"
"Aku berjanji."
Rin mengangkat kepalanya dan melihat Len lurus. Pipinya yang basah oleh air mata yang mengancam akan turun kembali tidak dihiraukannya. Dikeluarkannya jari kelingkingnya tanpa berpaling sedikitpun dari mata Len.
"Berjanjilah dikehidupan selanjutnya kita akan terus bersama."
Len mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Rin dan tersenyum. Bukan senyum jahil melainkan senyum yang menunjukkan sebuah kesungguhan. "Aku berjanji."
Fin
