Yeay... chapter 2 yang lebih berantakan hadir XD
Thanks yang dah review.. love you mmuah mmuah dah XD
Hanny Uchiha: bagus...cepetan dilanjutin ya...oh ya, panggil aku hani aja
Aleena Alicia: waduh.. masih ancur ini.. but thanks a lot ;) oke hani.. mari berteman :D
Rated T XDGenre udah mulai jelas nih.. ayo kita lanjutkan :p
Chapter 2
" Ai-chan, shin-chan, cepat temui tamu kalian." Yukiko memanggil Ai dan conan yang sedang asyik menonton televisi.
" Siapa ibu? Apa mereka ayumi dan yang lainnya?" Tanya conan masih didepan televisi.
" Sudah cepat kesini biar kau tau siapa tamumu, Shin-chan." Jawab Yukiko. Sejenak Conan menangkap pandangan tanda Tanya dari Ai. Lalu tanpa kata lagi, keduanya bergegas menuju keruang tamu.
" Cool Kid!" tiba- tiba agen Jodie sudah memluk Conan. Conan hanya tertawa garing sambil memberikan pandangan kesalnya karena Agen Jodie yang sudah tau bahwa dia hanya 'anak-anak bohongan' itu ternyata masih menganggapnya anak kelas satu sd.
" Hei Jodie, ternyata seleramu boleh juga.. anak SMU, eh?" Akai menyeringai. Muka Agen Jodie langsung memerah mendengar itu.
" Dan kurasa kau harus melepaskan Kudo-kun, Agen Jodie, karena kalau kau masih memeluknya lebih lama lagi, akan ada orang yang mati terbakar cemburu nantinya." Ai tersenyum mengejek lalu menyeringai kearah Akai yang langsung disambut dengan tatapan dinginnya. Tak mau kalah dalam adu pandang, Ai lebih memilih memberikan tatapan mengejek dan tentu saja menggabungkannya dengan menguap. Conan bisa menduga bahwa muka Agen Jodie saat ini sudah sama merahnya dengan dasi kupu-kupu yang sedang ia kenakan. Kemudian Agen Jodie segera melepaskan Conan dan duduk disebelah Akai
" Hei..hei.. kau tau kan, aku hanya menganggapnya anak kelas satu sd. Aku kan melihat luarnya saja." Agen Jodie berbisik protes atas perlakuan Akai. Akai hanya meliriknya sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya. Dingin.
" Jadi, ada kabar gembira apa?" Tanya Conan
" Bagaimana kau tau kalau kami mau memberikan kabar gembira pada kalian?" Tanya Akai
" Kau sudah tau jawabannya. Jadi katakana saja." Conan tersenyum. Akai memandangnya sekilas lalu ikut tersenyum.
" Maaf Detektive." Ujar akai kemudian.
" Hei.. bagaimana bisa kalian menyebut ini kabar gembira. Kita sudah menentukan tanggal penyerangan. Dan kalian masih bisa santai dan mengatakan ini kabar gembira. Kurasa lebih tepat mengatakan bahwa ini adalah kabar yang menegangkan." Ujar Jodie sambil berpikir
" Jadi, kapan kita akan menyerang?" Aiy menyeruput tehnya * nah siapa tamunya?#plak*
" Loh, kenapa kau bisa tau?" Tanya Jodie
" Kau kan baru saja mengatakannya Agen Jodie" Conan menjelaskan dengan ekspresi yang sulit untuk diucapkan
" Kita akan menyerang markas mereka tiga hari lagi. Dan untuk tempatnya, itu.. menurut Kir, mereka akan mengadakan semacam pertemuan dengan bos mereka di pelabuhan yang sedang dalam perbaikan di.."
" kakak.." Ai tiba-tiba memotong pembicaraan Akai. Akai mengangkat kepalanya dan menemukan mata Ai yang sedang memandangnya dengan tatapan tajam.
" Itu tempat kakak kan?" Ai bertanya pada Akai. Akai hanya mengangguk kecil. Conan segera mengingat bahwa itu adalah pelabuhan tempat akemi- kakak Ai- terbunuh.
" Jadi, tiga hari lagi kita akan menyerang tempat itu. Dan.. apa kalian yakin akan ikut dengan tubuh kecil itu?" Tanya Jodie.
" Eh, tidak.. Haibara sedah menemukan antidote aptx 4869. Iya kan Hai-"
" Tak perlu khawatirkan kami. Kami akan tiba ditempat yang disepakati 3 hari lagi." Ai segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tangga.
" Oi..oi.." Conan mengantarkan kepergian Ai dengan kalimat khasnya.
" Baiklah Cool Kid, kami permisi dulu. Sampaikan salamku pada ibumu dan Proffesor agasa. Conan hanya mengangguk dan mengantar mereka.
" Hei, kalau kau tidak menyadarinya, aku meragukanmu sebagai detektif." Akai menyeringai pada Conan sebelum dia melangkah keluar pintu rumah Proffesor Agasa.
" Hah?" Conan memandang Akai dengan pandangan ' apa maksudnya itu' yang dibalas dengan senyuman mengejek dari akai. Conan segera memasuki rumah Proffesor
" Hhhh.. tiga hari ya? Dan setelah itu semuanya akan berakhir. Aku akan kembali menjadi detektif SMU terkenal dan aku bisa bertemu Ran dengan sosokku yang sebenarnya." Conan berkata girang dalam hatinya sambil menghempaskan dirinya di sofa. Namun itu hanya sebentar. Karena entah kenapa senyuman mengejek yang dilempar Shuichi Akai sebagai senyum perpisahan tadi mengganggunya.
" kalau kau tidak menyadarinya, aku meragukanmu sebagai detektif." Kata-kata Akai kembali terngiang di kepala Conan. Apa yang harus dia sadari sebenarnya? Lalu dia melihat kearah meja dan menemukan tumpukan majalah Fashion.
" Hmm? Ini semua pasti milik Haibara. Tumben sekali dia tidak membereskannya ke ruang bawah tanahnya. Biasanya saja dia akan mengomel kalau aku meminjam barangnya dan tidak mengembalikannya ke tempat yang semestinya. Biasanya…" Conan terdiam sejenak. Dan kemudian adegan pertemuan dengan kedua agen FBI tadi menari di otak Conan. Haibara yang kemudian terdiam setelah menyadarkannya tentang tempat penyerbuan nanti, yang meremas ujung jaketnya, yang kemudian meninggalkan percakapan di ruang tamu itu… apakah dia…
Conan segera menaiki tangga menuju kamar kamarnya sedikit terbuka.. Conan mengendap pelan perlahan, dia menemukan sosok berambut coklat itu sedang berdiri didepan jendela. Kepalanya mendongak seakan menemukan sesuatu diatas sana.
" Ha..Haibara." Conan memanggil namanya. Namun tak ada jawaban.
" Emm.. aku aku hanya ingin mengembalikan tumpukan majalahmu ini. Hh.. kau ini. Padahal kau sering mengomel kalau aku tidak mengembalikan barangmu ketempatnya. Tapi kau sendiri tidak mengembalikannya dan menggeletakkannya di meja sembarangan." Conan berjalan kearah meja disudut kamar Ai dan meletakkan majalah diatasnya. Taka da reaksi.
" Aneh.. kenapa nenek sihir itu tidak mengomel?" Pikir Conan.
" Oh ya, aku lupa harusnya juga kau tidak bertaruh semudah itu untuk pertandingan tadi sore. Kau tau, hasilnya tentu saja tim pilihanku menang." Conan masih berusaha mendapatkan respon dari Ai. Namun Nihil. Conan mengangkat alisnya dan berjalan kearah Ai.
" Kau kenapa sih!" Conan memutar bahu Ai sehingga dia dapat melihat dengan jelas wajah Ai yang terlihat kaget. Kemudian ia menyadari bahwa dari tadi ternyata Ai sedang menggunakan Headset.
" Ah, Kudo-kun.. a.. ada apa?" Ai masih sedikit shock karena Conan membalikkan badannya secara tiba-tiba. Conan hanya terdiam. Pemandangan yang menakjubkan.. rambut indahnya yang tadi berwarna coklat kini sedikit memerah terkena cahaya bulan* emang bisa yak?*
" Eh.. err tidak apa-apa.." Jawab Conan. Ai tersenyum lalu berpaling.
" Uwaaaa.. dia tersenyum.. dan itu bukan senyum mengejek." Conan merasakan pipinya memanas ketika melihat Ai tersenyum. Dan.. Hei.. apa itu? Conan menyadari sesuatu yang aneh.. pipi Ai tampak berkilau ketika cahaya bulan menerpa ..
" Ha.. Haibara.." Conan kembali membalikkan tubuh Ai. Dan disana.. bukan.. Conan seakan tidak melihat sosok Ai Haibara didepannya.. hanya seorang gadis kecil dengan kerapuhannya.. tengah menatapnya dengan air mata yang tumpah dari matanya.. dia menangis tanpa suara.. terdiam memandang conan.
CONAN POV
Dia disana dan menangis! Aku hanya bisa terdiam memandangnya yang juga terdiam. Namun sepertinya ia gagal menghentikan air matanya. Mulutku bergerak mencoba mengucapkan satu atau dua kata. Berusaha menghiburnya. Tapi tidak ada suara yang keluar… Haibara.. kenapa kau terlihat rapuh? Aku tidak tau bagaimana otakku tiba-tiba bergerak tanpa izinku dan menyuruh tanganku untuk menghapus air matanya. Dan setelah itu, seenaknya ia menyuruh tanganku bergerak meraih pundak haibara dan.. memeluknya.
Conan POV-end ^^
Ai POV
DIa disana.. entahlah.. apapun yang akan dia katakan.. mungkin sebentar lagi dia akan mengejekku. Yang pasti aku tidak peduli. Aku sudah berusaha menahannya. Dan aku tidak peduli! Perlahan aku melihat tangannya bergerak dan.. menyentuh pipiku.. menghapus air mataku. Ayolah detektif hentikan ini.. sudah cukup! Kau akan menghancurkan bentengku.. dan.. kau menghancurkannya dengan pelukanmu ini.
Ai POV-end
Ai merasa dadanya bergemuruh hebat saat Conan menariknya kedalam pelukannya. Dan tanpa bisa dia tahan lagi, semuanya tumpah. Dia menangis terisak. Conan hanya terdiam dan memeluknya.
" Ah, maaf " Ai tiba-tiba menghentikan tangisnya dan melepaskan dirinya dari pelukan Conan. Conan memandangnya sebentar lalu menariknya lagi.
" Jangan takut. Kau ingat kan? Aku akan melindungimu. Itu janjiku. Dan jangan pernah berpikiran kalau kau sendirian. Kau punya lebih dari cukup orang-orang yang menyayangimu, Haibara. Jangan lari dari takdir." Ai tersenyum mendengarnya dan melepaskan dirinya untuk kedua kalinya.
" Terimakasih detektif, sekarang bisakah kau meninggalkanku sendiri disini? Kurasa kalau pacarmu tau kau didalam kamar seorang gadis sepertiku, dia akan membunuhmu dengan karatenya. Iya kan?" ujar Ai
" Oi..oi.. kau mengusirku? Baiklah.. baiklah.." Conan berjalan kearah pintu dan memandang Ai sekilas dan berlalu dengan ucapan selamat malamnya. Ai berjalan menuju tempat tidurnya, menarik selimut dan memeluk lututnya.
" Sayangnya, aku akan segera kehilangan salah satunya, Kudo." Gumamnya dengan senyum menyedihkan.
