Huaaa maaf maaf lama lagi * lambai ala miss universe
Jadi, seperti biasa ceritanya masih bikin pembaca bingung (mungkin). Tapi saya tetep minta reviewnya yak
Sebelum itu, mari berbalas komen ^^
Aishanara 87: bingung ya? Aku juga*eh. Tapi si Ai udah jadi Shiho kok pairnya? Entahlah.. doain aja jadi ShinShi*plak XDv
Raralarhas: ampuuuuun ya udah sekarang bilangnya ShinShi aja biar dibaca terus XD, tapi saya penggemar ShinShi kok ;)
Agen Glitch: makasih makasih ^^. Rencana memang ShinShi. Hehehe sekali-kali berbeda itu asyik :D
Akira Takamine: yups. Udah tau makasih ya udah mau baca :D
Yang pasti makasih banyak buat yang udah nyumbang review ama cerita yangmasih ga jelas ini *terharu.
Di chapter ini, masih ga jelas * saya emang ga jelas soalnya* saya masih pake nick Ai untuk Shiho. Mungkin mulai chapter depan bakalan ganti nick jadi Shiho
Udah aja deh curcolnya. Selamat membaca
Disclaimer: Detective Conan sepenuhnya punyanya om Aoyama Gosho. Saya hanya pengacau cerita!
Chapterr 4
Ai berjalan menyusuri kota beika malam itu. Nampak beberapa tas belanjaan ditangannya. Mulutnya bersenandung kecil. Senyum menyedihkan itu lagi.
" Kakak.. apa mati itu.. sakit?" Gumamnya. Sejenak dia berhenti dan mendongak menatap langit.
" Tidak. Dia tidak akan merasakan sakit." Sebuah suara dingin terdengar ditelinga Ai. Ai menoleh dan menangkap sosok yang sudah tak asing dibelakangnya.
" Wah, sepertinya setelah resign dari organisasi kau jadi punya kekuatan tambahan untuk berbicara dengan makhluk yang sudah mati ya, Rye? Bisa kau ajari aku?" Jawab Ai. Shuichi hanya mendengus kesal mendengar jawaban 'adiknya' itu.
" Dia yang mengatakannya." Ujar Shuichi. Ai menoleh.
" Maksudmu?"
" Dia yang mengatakannya…' mati itu tidak akan menyakitkan jika dengan itu kita akan membuka jalan baru yang membuat masa depan orang yang disayangi baik.' Aku tidak tau apa dia berhasil mati seperti itu." Jawab Shuichi sedikit murung. Ai tertegun sejenak mendengarnya. Lalu melempar tatapan dinginnya.
" Ternyata memang laki-laki sejenis kalian itu aneh dan labil. Baru sedetik lalu kau mengatakan kalau kakakku tidak akan merasakan sakitnya. Itu berarti dia berhasil kan?" Jawab Ai dingin. Shuichi diam.
" Atau kau masih tak menemukannya?" Tanya Ai. Shuichi tersenyum sinis.
" Entahlah. Mungkin saja. Karena Akemi, aku..-"
"Bodoh. Kalau kau menyayangi kakakku, bantu dia untuk berhasil! Berhenti mencintai kakak! Kakakku akan tenang kalau kau begitu." Potong Ai. Shuichi terkejut mendengarnya. Kemudian pikirannya melayang dan menemukan sosok wanita yang amat dicintainya itu. Tersenyum riang seperti biasanya. Namun bayangan itu hilang. Malah sekarang telinganya mendengar beberapa suara.
" Kau masih suka minum kopi kaleng dan tak tidur, Shuu?"
" Setidaknya kau memberitahukan rencanamu padaku, Shuu!"
" Shuu…"
" Shuu sudah kuduga kau masih hidup!"
Shuichi seperti tersadar akan sesuatu. Kemudian dia tersenyum. Matanya melirik kearah gadis 18 tahun yang sedang menatap dingin ke jalan didepannya.
" Hmm.. Baiklah, kurasa kita harus berpisah disini." Ujar Shuichi. Ai mengangguk kecil. Keduanya sudah saling memunggungi saat Ai mendengar Shuichi memanggilnya. Ai menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Menunggu apa yang akan dikatakan 'kakak'nya.
" Dan kusarankan kau tidak akan pergi semudah itu dari hadapan detektif bodohmu itu. Karena kakakmu tak akan menyukainya." Ai tersenyum mendengarnya.
" Tidak akan. Aku tak sepertimu." Jawab Ai membuat Shuichi menoleh kesal. Ai tetap tak menoleh dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
" Proffesor, makan malam sudah siap." Ai sedikit berteriak dari ruang makan.
" Ya, Ai-Chan dan malam ini Shinichi akan.." Proffesor menghentikan kata-katanya melihat menu beragam yang muncul dimeja makannya.
" Kau tidak membuat salad Ai-Chan?" Tanya Proffesor heran. Menu yang tertata rapi dimeja itu terlihat sangat lezat. Menu yang tak akan diberikan oleh Ai.
" Hmm? Sepertinya kau lebih menyukai salad. Akan kubuatkan sekarang." Ai melempar tatapan mengejeknya.
" Eh, tidak usah Ai-chan, kau pasti lelah." Proffesor mendorong Ai dan memaksanya untuk duduk di kursi. Ai tersenyum.
" Jadi, kapan Kudo-kun datang?" Tanya Ai.
" Hmm.. tadi dia bilang masih ada dirumah Ran. Mungkin sepuluh menit lagi dia akan tiba disini." Proffesor kini sudah duduk di depannya. Ai menopang dagunya dengan kedua tangannya. Dipandangnya sosok tua namun bersemangat itu. Sosok yang sudah menyelamatkannya. Yang rela menanggung bahaya deminya. Ai tersenyum samar.
" Proffesor.." Ai menggumam pelan. Dia beranjak dari duduknya dan berdiri dibelakang Proffesor Agasa. Kemudian dia mengalungkan tangannya di leher Proffesor agasa. Memeluknya dari belakang. Proffesor Agasa sedikit terkejut. Namun tak lama dia tersenyum… sama menyedihkannya dengan Ai. Seakan dia bisa merasakan dinginnya hidup gadis dibelakangnya.
" Proffesor, besok aku akan pergi.. jangan pernah menungguku untuk pulang ya? Jangan menyiapkan apapun untuk menyambut kedatanganku.. jangan sering-sering makan makanan yang kularang. Dan kuharap kau akan selalu makan salad. Jangan terlalu lelah.." Dan Proffesor menangis mendengarnya. Mendengar 'jangan-jangan' lainnya yang terucap dari mulut Ai.
" dan satu lagi, jangan beritahu Kudo-kun tentang ini." Jawab Ai. Proffesor tersentak.
" Kau akan pergi sendirian? Kau sudah gila?"
" Tidak Proffesor, aku akan bersama agen FBI lainnya. Aku hanya tak ingin melibatkannya terlalu jauh setelah aku berhasil mengembalikannya ke tubuh semula. Dia juga tak berhak ikut. Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dariku. Jadi tak ada ruginya kan kalau aku ternyata harus mati besok." Jawab Ai.
" Tapi Ai-chan, Shinichi pasti akan marah. Dia selalu marah kalau kau tiba-tiba menghilang." Jawab Proffesor.
"Tentu saja.. karena tanpaku dia tak akan kembali ke tubuh asalnya. Dan sekarang dia sudah mendapatkannya. Jadi, dia tak akan seperti itu lagi." Ai tersenyum.
" Tidak akan Proffesor.. tidak akan." Jawab Ai. Proffesor kembali menangis.
" Ai-chan.. panggil aku ayah." Pinta Proffesor. Ai tertegun mendengarnya. Lalu tersenyum haru.
" Iya, Ayah.." Proffesor tersenyum. Sesaat kemudian terdengar bunyi bell. Ai melepas pelukannya. Proffesor Agasa segera menghapus airmatanya.
" Aku yang akan membuka pintunya." Ujar Ai. Proffesor hanya mengangguk.
" Hai, Haibara." Sapa sosok laki-laki dihadapannya. Ai menatapnya dengan tatapan dingin.
" Dan kusarankan kau tidak akan pergi semudah itu dari hadapan detektif bodohmu itu. Karena kakakmu tak akan menyukainya." Ucapan Shuichi tiba-tiba melintas di kepala Ai. Haibara menunduk sesaat. Membuat Shinichi bingung. Tak lama…
" Masuklah, kami sudah menunggumu." Ucap Ai sambil tersenyum. Shinichi sedikit terkejut melihatnya.
" Wah, kau belajar dari siapa, Haibara? Sepertinya kau sudah berhasil menjadi 'wanita' ya?" Ujar Shinichi. Berniat menggodanya. Ai hanya diam dan menoleh kearah Shinichi sambil memasang senyumnya.
" masuklah, Proffesor sudah menunggu." Ujar Ai lalu melanjutkan langkahnya. Shinichi hanya bisa menatap punggung Ai heran. Setelah beberapa saat diam akhirnya dia memutuskan untuk masuk. Dan ternyata kejutan sikap Ai tadi bukanlah kejutan akhirnya. Mata Shinichi terbelalak melihat makanan yang terhampar sepanjang meja makan. Menu yang mustahil ada di meja Proffesor Agasa. Matanya berkeliling mencari sesuatu.
" Kau tidak bilang ingin makan salad juga kan, Kudo-kun?" Tanya Ai sambil tersenyum geli.
" Eh? Oh.. tidak… hanya saja… ini aneh. Jadi, apa hari ini ada yang berulang tahun?" Tanya Shinichi. Ai hanya tersenyum.
" Tidak. Kurasa kita harus merayakannya kan?" Ai berkata dengan nada yang tak pernah didengar oleh Shinichi. Ceria.
" Eh? Apa?" Tanya shinichi
" Ayolah Kudo-kun, kau kan detektif. Masa tidak bisa menebaknya?" Ai masih tersenyum ceria. Yang justru membuat Shinichi merasa sedikit merinding.
" Baiklah… tentu saja kejadian baru-baru ini yang harus dirayakan adalah kembalinya detektif handalan polisi dari timur, Shinichi kudo." Ujar Ai. Shinichi mengangkat alisnya.
" Dan kurasa, rencana tadi sore sukses kan?" Tanya Ai.
" Oh… err…. Ya. Terimakasih, Haibara." Ujar Shinichi. Mukanya terlihat memerah.
" Baiklah, lebih baik kita segera makan." Kata Proffesor.
" wah,wah… Proffesor, sepertinya kau bersemangat sekali." Goda Shinichi. Proffesor hanya tertawa mendengarnya.
" Proffesor benar. Ayo Kudo-kun." Ai menarik lengan Shinichi dan memaksanya duduk. Shinichi menoleh kearah Ai dengan tatapan yang sulit dimengerti.
" Hmm? Ada apa?" Tanya Ai sambil memiringkan kepalanya.
" Kau… tidak apa-apa kan?" Tanya Shinichi. Ai mengangkat alisnya dan tertawa.
" Tentu saja Kudo-kun." Jawab Ai pelan. Melihata intonasi Ai yang mulai berubah, Proffesor segera berdehem keras. Tapi tetap tak mampu membuat Shinichi menoleh kearahnya.
" Kau… ada apa?" Tanya Shinichi lagi. Kali ini dengan nada menyelidik.
" Hei..hei… sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar." Ujar Proffesor cepat. Ai mendongak kearah Proffesor yang kemudian tersenyum kearah Ai. Ai tersenyum
" Terimakasih, Proffesor.." ujar Ai dalam hati. Dia menarik nafas dan menghembuskannya. Mencoba mengeluarkan segala kegelisahannya. Kemudian bibirnya kembali membentuk sebuah senyuman ceria.
" Kau yang kenapa, Kudo-kun. Ayo makan. Kurasa tak akan ada yang mau detektif kebanggaan ini sakit kan?" Ujar Ai sambil mulai memakan makanannya. Shinichi yang sudah hendak bertanya tentang sikap Ai itu urung menanyakannya begitu melihat Ai yang sudah asyik menyantap makanannya. Sesekali, dia tertawa mendengar lelucon Proffesor. Tawa yang berbeda. Shinichi memilih diam dan menyantap makanannya. Sesekali dia menjawab singkat lelucon proffesor.
" Baiklah, kurasa aku sudah mulai mengantuk." Ujar Proffesor sambil mengelus perutnya sendiri karena kekenyangan.
" Hhh.. Bagaimana perutmu tidak buncit kalau habis makan begini kau langsung tidur, Proffesor?" Ujar Ai sambil menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Ya… tapi itu sudah otomatis terjadi. jika perut sudah kenyang itu tandanya kantuk menyerang." Kilah Proffesor sambil menunjukkan deretan giginya. Ai dan Shinichi hanya menghela nafas mendengarnya. Tanpa beban, Proffesor melangkah ringan menuju kamarnya. Meninggalkan Ai dan Shinichi di ruang makan.
" Hh.. dasar! Bagaimana bisa sehat kalau begitu terus." Gerutu Ai sambil mulai membereskan meja makan. Kemudian dia beranjak ke dapur dan mulai mencuci piring. Shinichi masih duduk diam ditempatnya. Matanya memperhatikan sosok wanita dewasa yang terkadang masih asing dimatanya. Hanya rambut pirang strawberrynya yang membuatnya mengenalnya. Otaknya masih berputar-putar. Mencoba merangkai beberapa analisis dari sikap teman sepenanggungannya itu. Berbagai opini yang bahkan terdengar konyol itupun berkeliaran dengan indah dikepala Shinichi (?)
" Loh, kau masih disini?" Tanya Ai sambil mengeringkan tangannya.
" Hmm.." Jawab Shinichi. " Karena kau belum menjawab pertanyaanku tadi." Ujar Shinichi sambil menatap manik biru milik Ai. Ai tertegun mendengarnya. Namun kemudian tersenyum.
" Pertanyaanmu? Yang mana? " Jawab Ai sambil meletakkan handuk ditangannya.
" Kau terlihat aneh malam ini. Kau bukan Ai yang ku ke..-"
" Kau memang tidak mengenalku, Kudo-kun. Yang kau kenal selama ini bukan aku. Tapi Ai Haibara." Ujar Ai sambil tersenyum. Senyum yang berbeda.. senyum menyedihkan. Shinichi tertegun. Mulutnya bergerak namun tak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya.
" Kalau begitu, perkenalkan. Namaku Shiho Miyano. Mungkin aku mirip dengan Ai Haibara yang kau kenal. Tapi yang perlu kau ingat, aku bukan dia." Kata Ai. Kali ini nada bicaranya sudah terdengar normal ditelinga Shinichi. Dingin.
" Kau… apa yang kau maksud berbeda? Bahkan antara conan dan akupun tak ada bedanya." Tanya Shinichi.
" Itu sudah jelas berbeda, Kudo-kun. Ai Haibara adalah gadis kecil yang kau lindungi. Dan sekarang, dia sudah pergi. Jangan cemas, kau sudah berhasil melindunginya kok. Karena itu.. karena kau berhasil.. dan karena kau sudah bukan conan, tugasmu sudah selesai, detektif." Ujar Ai sambil berjalan menuju tangga untuk pergi kekamarnya. Namun lengannya tertahan oleh tangan Shinichi.
" Hhh.. apa lagi? Aku lelah!" Ujar Ai sambil mencoba menghentakkan tangannya. Namun Shinichi mencengkram lengannya dengan keras.
" Kau… tidak akan melakukan hal yang aneh kan?" Tanya Shinichi. Ai terdiam lalu tersenyum
" Aku memang aneh. Jadi apa salahnya dengan bertingkah aneh?" Tanya Ai.
" Oi..oi.. siapa yang bilang kau aneh?" ujar Shinichi
" meskipun ada benarnya sih." Kata Shinichi dalam hati.
" Aku, selalu menjadi beban bagi orang-orang terdekatku. Dan tentu saja, menjadi beban untuk mereka.." Ai memutus kata-katanya dan menoleh kearah Shinichi. Matanya menatap tajam mata Shinichi. " Yang kucintai." Lanjut Ai. Shinichi tersentak mendengarnya. Wajahnya sedikit memanas. Berbagai perkiraan bodoh mulai berkeliling dikepalanya.
" Baiklah, sepertinya kau mulai terkena Flu. Wajahmu memerah seperti itu. Hhh.. kurasa wanita yang mencintaimu harus bersabar menghadapi detektif dengan fisik lemah sepertimu." Ujar Ai dengan senyum mengejeknya. Mendengar itu, ekspresi muka Shinichipun langsung berubah.
" apa maksudmu?" Tanya Shinichi tak terima. Namun setidaknya dia sudah mendapatkan satu kesimpulan dari kata-kata Ai tadi. Dia hanya bercanda.
" Hmm.. jadi, kapan kau akan melepas tanganmu?" Tanya Ai. Shinichi langsung melepaskan tangannya.
" Baiklah, Haibara.. aku pulang dulu." Ujar Shinichi
" Panggil aku Miyano." Kata Ai.
" Oh, maaf. Baiklah Miyano aku pulang dulu." Ucap Shinichi nyengir.
" Hmm… hati-hati, dan… selamat tinggal." Ujar Ai. Shinichi langsung melempar pandangan heran mendengarnya.
" Apa?" Tanya Ai.
" Err… tidak.. tidak apa-apa. Selamat malam, Miyano." Ujar Shinichi sambil berjalan kearah pintu dan keluar dari rumah Proffesor Agasa. Ai terdiam dan tersenyum
" Selamat tinggal, Shinichi Kudo."
