Holaaa... ada yang merindukanku? XD

Well, maaaaaaaaaaaaaaap buat yang dengan setia nungguin kelanjutan kisahku...

eh, tetep ngemis reviewnya loh saya ^^

baik... mungkin chapter kali ini bener-bener ga jelas dan kualitas menurun T.T

Jadi, buat..

Raralarhas: aduhai.. makasih ya kawan... dirimu berarti*plak

amiyaa: Aduduh,,, ancaman yang kesekian XD tenang... saya pecinta ShinShi kok ^^

Akira takamine: Here You go! nikmatin aja ya... ancur-ancur gini... kan buat anda*plak

Well, siapkah? terbaaang! XD

Disclaimer: Detective Conan cuman punya om aoyama gosho. saya hanya pengacau ^^

Chapter 5

Masih terlalu pagi untuk ayam membangunkan manusia saat gadis berambut pirang Strawberry itu keluar dari kamarnya. Sebuah tas ransel bertengger di punggungnya. Gadis itu memakai Blazer berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulit putihnya. Perlahan dia menuruni tangga. Berusaha untuk tidak menghasilkan suara sekecil apapun. Dilantai bawah, dia kembali menghentikan langkahnya. Kemudian berjalan menuruni tangga dan membuka pintu 'kamar' keduanya. Sebuah ruangan dengan kasur kecil di pojoknya. Tampak gelap dan penuh dengan buku-buku ilmiah yang sebenarnya terlalu dini untuk dibaca oleh gadis seusianya. Dia tersenyum sekilas dan kembali menaiki tangga setelah sebelumnya meletakkan secarik kertas dengan sebuah kotak diatasnya. Kemudian dia segera melangkah menuju pintu keluar saat mendengar suara mobil yang dikenalnya.

" Kau sudah siap?" Tanya suara dingin. Gadis itu mengangguk.

" Aku memang diciptakan untuk ini bukan?" Katanya dingin. Laki-laki dihadapannya tertegun sejenak lalu membuka pintu.

" Sebentar.." Gadis itu berjalan memasuki rumah itu sekali lagi. Lalu dia memandangi sekelilingnya.

" Terimakasih, Proffesor.." Gumamnya dalam hati. Andai gadis itu adalah gadis yang ' normal', mungkin saat ini dia sudah menangis dan dengan mengenaskan meninggalkan rumah itu. Namun dia bukan gadis-gadis itu. Dia adalah Shiho Miyano. Dia adalah gadis aneh, Ai Haibara. Perlahan dia memasuki mobil dan memandang rumah itu untuk yang terakhir kalinya. Mobil berputar dan melewati sebuah rumah besar disebelah rumah Proffesor.

" Kau sudah melakukan saranku kan?" Tanya laki-laki disebelahnya. Shiho tersenyum.

" Tentu saja." Jawabnya singkat.

" Pagi Proffesor!" Sapa Shinichi yang seperti biasa tak pernah memasuki rumah Proffesor tanpa ketuk pintu dan adab izin lainnya. Proffesor disana. Duduk menghadap jendela dengan tatapan kosong. Shinichi memiringkan kepalanya sedikit dan mengangkat alisnya

" Proffesor?" Shinichi berjalan kearah Proffesor dan menepuk pundaknya.

" Eh? Oh kau Shinichi. Kenapa tidak memanggilku barusan?" Tanya Proffesor. Shinichi tersenyum geli

" Wah, wah.. sepertinya kau juga mulai mengalami gangguan pendengaran ya?" Goda Shinichi yang ternyata tak mendapat tanggapan apapun dari tetangganya. Sedikit mendengus kesal, Shinichi membalikkan badannya dan berjalan menuju arah televisi dan mulai memencet remote untuk mencari saluran televisi yang cocok untuknya.

" Hei Proffesor, mana Haibara?" Tanya Shinichi. Mendengar nama Haibara, Proffesor menoleh kearah Shinichi.

" Mana? Apa dia datang?" Tanya Proffesor dengan ekspressi berseri-seri. Shinichi mengangkat alisnya.

" Hmm? Apa maksudmu? Dia kemana?" Tanya Shinichi dengan pandangan menyelidik. Proffesor terdiam dan buru-buru tersenyum

" Tidak… dia… itu… tadi dia.. sedang pergi. Ya. Dia sedang pergi." Jawab Proffesor sambil beranjak dari tidurnya dan pergi menuju dapur.

" Pergi? Kemana?" Tanya Shinichi

" Yah.. kau tahulah.. gadis-gadis pada umumnya." Ucap Proffesor datar. Shinichi diam mendengarnya.

"Gadis- gadis pada umumnya? Tapi Shiho Miyano bukan gadis-gadis itu. Dia tidak akan berkeliaran ke tempat-tempat ramai untuk berbelanja dengan santainya sementara besok akan pergi menyerang. Apalagi melakukan hal konyol seperti pergi kencan. Itu hanya pikiran bodoh." Pikir Shinichi.

" Proffesor, apa yang kau coba sembunyikan dariku?" Tanya Shinichi dengan tatapan tajamnya.

" DOR" Sosok hitam itu ambruk tepat dengan suara tembakan yang terdengar.

" Shit! Gin! Chianti! Mana Vodka?" Sosok cantik berambut pirang panjang itu berlari mengejar dua sosok lainnya yang sudah lebih dulu didepannya.

" Entahlah. Itu tidak penting sekarang. FBI sialan!" Umpat Chianti. Mereka kemudian berpencar dan dengan kecepatannya mulai hilang dari mata FBI yang mengejar mereka.

" Hhh…Hhh.. kemana mereka?" Jodie mengedarkan pandangannya.

" Tenang saja, mereka tidak akan pergi semudah itu." Sahut Akai yang masih setia dengan revolver kesayangannya. Jodie hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan Akai.

" Ya, mereka tidak akan lari semudah itu. Apalagi pelurumu berhasil melubangi kepala salah satu anggota mereka, Rye." Sebuah suara dingin muncul dari balik punggung keduanya.

" Ya, kurasa peluruku saja yang sudah tak sabar untuk bertemu dengan kulit kepala mereka, Sherry." Jawab Akai santai. Shiho-atau gadis bercodename Sherry- hanya tersenyum dingin mendengarnya, kemudian kembali mengangkat senjatanya. Matanya awas mengawasi sekitarnya.

" Jadi, apa kau tak punya saran dimana mereka bersembunyi, Sherry?" Tanya Akai. Sherry hanya memandangnya sekilas sambil menggedikkan bahu.

" Yang kutahu, mereka sangat suka kejutan. Dan akan selalu memberikan kejutan. Seperti tiba-tiba saja sudah ada dibelakangmu." Jawab Sheerry.

" Ya. Dan kami tersanjung kau tak lupa tentang hal itu, Sherry." Sebuah suara dingin kini terdengar dibalik punggungnya. Sontak ketiganya menoleh.

" A… apa yang… " Sherry kehilangan kata-katanya. Disana dia melihat sosok Gin sedang memegang kepala seorang gadis berambut panjang. Mata cemerlang gadis itu terlihat redup dan berganti dengan tatapan ketakutan.

" Lepaskan dia, Gin!" Ujar Sherry.

" Ho, aku ragu kau sedang memohon padaku. Tapi kurasa kau akan memohon jika yang kupegang saat ini adalah orang itu." Gin menggerakkan dagunya dan membuat mata ketiga 'agen' tersebut menoleh kearah pintu masuk. Samar namun pasti, mereka dapat merasakan kehadiran dua orang dari kegelapan tersebut.

" Vermouth." Gumam Akai. Jodie dan Sherry hanya mengangguk. Namun..

" Shi…. Kudo… kun?" Sherry kembali kehabisan kata-kata. Ya. Vermouth disana sedang menodongkan pistolnya tepat dikepala Shinichi. Tampak Shinichi sedang memberikan pandangan 'Cepat Lari' untuk Sherry. Sherry hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu.

" Apa-apaan ini? Kenapa mereka bisa ada disini? Demi Tuhan!" Sherry berteriak dalam hati.

" Jadi, kapan kau akan mulai memohon padaku, Sherry? Kau tau aku sangat merindukan 'permohonan' darimu." Ujar Gin dengan seringai kemenangan. Akai sudah hendak mengejek Gin ketika Sherry tiba-tiba maju selangkah dari tempatnya.

" Tidak akan pernah, Gin. Aku tidak akan mau memohon pada iblis sepertimu." Ucap Sherry gemetar.

" Ho.. kurasa kau lupa… aku tidak suka mendapat penolakan." Gin melempar Ran ketangan Vermouth, dan menjambak rambut Shinichi. Lalu menempelkan mulut pistolnya tepat di pelipis Shinichi.

" Bagaimana dengan ini?" Ujar Gin.

" Huh… kau kira dia siapa, Gin? Dia hanya korban obatku." Ujar Sherry pelan.

" Kau masih tak pandai berbohong, Sherry… meskipun tempatmu neraka, kau tetaplah malaikat.. malaikat neraka." Ujar Gin. Sherry mulai melihat Vermouth berjalan menjauh sambil mendorong Ran. Sekilas, mata mereka bersitatap dan disana ada sesuatu yang aneh. Mata Vermouth yang memandang Sherry penuh harap. Entah apa maksud tatapan itu, tapi Sherry tahu.. Vermouth tidak ingin kedua Angelnya mati mengenaskan di tangan Gin. Dia ingin mereka selamat! Dan entah kenapa, Sherry mengangguk sedikit ketika melihat tatapan itu.

" Baiklah.. kurasa orang ini tak berharga kan?" Ujar Gin sambil membuka perekat dari mulut Shinichi.

" Baka! Baka!" Shinichi berteriak penuh emosi. Sherry tahu, itu adalah teriakan untuknya.

" Lihat? Sepertinya benar-benar tidak berguna, iya kan?" Gin menoleh pada Chianti yang siaga dengan senapannya, kemudian bersiap menarik pelatuknya.

" Trackharper." Teriak Sherry. Matanya membulat. Nampak ketakutan dimatanya. Mendengar itu, Gin menjauhkan mulut pistolnya dari Shinichi.

" Huh.. kau… memang cerdas mencari jalan tengah, Sherry. Tapi, daripada aku membunuh kalian tanpa ada kompetisi, kurasa ini akan menjadi kekalahan dan kematian indah untukmu kan, Sherry?" Gin tersenyum dingin. Sherry hanya menelan ludah. Dengan kasar, Gin mendorong Shinichi kearah Sherry. Sherry segera menangkap Shinichi yang terhuyung.

" Kau….. apa yang kau lakukan, Haibara?" Shinichi mencoba mengendalikan emosinya.

" Diamlah! Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Dan kau, kenapa kau nekat sih? Bukankah kau sudah mendapatkan yang kau mau?" Sherry mendorong Shinichi kearah Akai. Akai menangkapnya dan mulai mencoba melepaskan tali ditangannya. Sedangkan Sherry menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. Terlihat menyesal, takut, dan.. berharap. Ya. Harapan yang sangat kecil.

" Kau… benar-benar mirip kakakmu." Ucap Akai dingin. Kepalanya mulai menunduk. Sherry hanya tersenyum.

" Kau bodoh sekali. Tentu saja.. aku kan adiknya. Dan.. jaga dia.. bawa dia pergi dari sini, Rye." Ujar Sherry sambil berjalan meninggalkan mereka. Shinichi sudah hendak mengejarnya ketika tangan Rye menarik lengan Shinichi. Shinichi hanya bisa melempar tatapan tak mengerti.

" Biarkan dia. Kita hanya bisa berharap untuknya." Ujar Akai.

" Apa yang ada dalam kepalamu itu? Kita harus ikut bersamanya kan?" Teriak Shinichi. Akai hanya menggeleng pelan dan menarik Shinichi.

" Dasar bodoh! Kita hanya akan menyia-nyiakan dirinya dan kesempatan yang dia beri untuk kita jika kita menolongnya." Ujar Akai dingin. Mereka bertigapun berjalan menuju tepian pelabuhan tersebut. Sedangkan Sherry masih berada di tengah pelabuhan. Masih terdengar suara tembakan dari segala penjuru. Namun entah kenapa tidak ada satupun dari ketiga orang itu yang terlihat khawatir dengan suara tembakan tersebut. Padahal bisa jadi salah satu agen FBI lainnya sedang sekarat atau bahkan tak bernyawa saat ini. Pandangan mereka bertumpu pada satu titik. Kepada seorang gadis dengan rambut pirang Strawberry yang saat ini tengah berdiri berhadapan dengan Gin.

" Apa yang sebenarnya akan mereka lakukan?" Tanya Shinichi. Akai menoleh dan mengangkat alisnya.

" Kurasa Sherry benar tentangmu. Kau jenius, tapi juga bodoh!" Ujar Akai mengejek.

" Oi..oi.. apa maksudnya itu?" Tanya Shinichi kesal.

" Tentu saja kau bodoh. Kau tidak dengar apa yang dikatakan Sherry saat Gin sudah akan meledakkan kepalamu tadi? Itu maksudnya dia akan melakukan negosiasi dengan Gin. Dan cara itu merupakan cara yang pantang untuk tidak dilakukan jika salah satu pihak memintanya. Jika menolak, itu sama saja dengan kalah. Sherry memang cerdas. Dia memilih jalan itu karena ia tau, dengan itulah kau bisa selamat. Kita hanya bisa menunggu. Sherry mempunyai keahlian menembak yang tak kalah hebat dari Gin. Bahkan mungkin dia bisa mengalahkan keahlian Chianti. Aku jadi ingin tahu siapa pemenangnya." Ujar Akai panjang lebar.

" Aku jadi ingin tahu siapa pemenangnya? Kau sudah gila? Dia bisa mati!" Teriak Shinichi lagi. Akai hanya terdiam mendengar teriakan Shinichi. Matanya terpaku pada sosok gadis tersebut.

" Itu benar, Shuu.. apa tidak sebaiknya kita menolong Sherry?" Ujar Jodie. Akai menggeleng pelan.

" Untuk itulah dia disini." Gumam Akai.

" Kau tidak akan mati semudah itu kan, Sherry?" Pikir Akai.

" Jadi, kurasa aku tak perlu menjelaskan padamu bagaimana caranya kan, Pengkhianat?" Seringai Gin.

" Ya, kecuali kau punya aturan khusus disini. Sebelumnya, apa yang akan kita pertaruhkan disini?" Tanya Sherry. Wajahnya tetap terlihat dingin.

" Tentu saja.. kalau kau menang, kau pasti akan meminta kami menyerahkan diri kan?" Ujar Gin.

" Hmm.. ya. Tentu saja, tanpa perlawanan. Dan jika kau menang, kurasa kau hanya punya satu permintaan bukan?" Ujar Sherry.

" Hahaha… ya. Kau tak perlu repot-repot. Aku hanya akan memintamu untuk menyusul kakakmu, Sherry." Ujar Gin.

" Satu lagi, aku ingin kau melepaskan mereka apapun hasilnya."

" Wah… kurasa itu tidak adil." Seringai Gin.

" Tentu saja adil. Kau meminta nyawaku, dan aku tidak meminta nyawamu, Gin." Ujar Sherry. Gin diam mendengarnya dan tersenyum

" Baiklah, karena aku tau kau yang akan mati, aku akan menepatinya."

" Kau terlalu percaya diri, Gin." Gumam Sherry dingin. Mereka segera berjalan ke tengah tanah lapang itu dan mulai saling membelakangi. Masing-masing tangan sudah siaga dengan pistolnya masing-masing.

" Aku tak pernah percaya aku akan membunuhmu sebentar lagi, Sherry.." Gumam Gin. Sherry tersenyum membayangkan wajah Gin dengan mata dingin dan seringai saat mengucapkan perkataannya barusan.

Perlahan mereka mulai melangkah. Orang-orang disekeliling mereka mulai menahan nafas.

" 10!" Keduanya berteriak dan segera berbalik

" DOR!" Suara tembakan. Entah suara tembakan dari siapa. Suasan hening. Jodie menggenggam ujung jaket Akai erat. Wajahnya tampak cemas. Kedua orang tersebut tidak menunjukkan ekspressi apapun. Namun..

" BRUK" Sosok hitam itu terjatuh.

" Kurasa, kau harus mengaku kalah untuk kali ini, Gin." Ujar Sherry pelan. Akai tersenyum melihat pemandangan dihadapannya. Shinichi masih menahan nafas melihat apa yang baru saja terjadi.

" Kau…" Gin memegang dadanya dan mengangkat pistolnya " Akan mati bersamaku, Sherry." Tambahnya. Sherry membeku.

" Huh, sudah kuduga kau tak akan bisa bermain dengan ber..-"

" DOR!" satu lagi suara tembakan terdengar.

" Aku sudah pernah bilang kan, kau bodoh kalau kau mau melakukan negosiasi dengan orang licik ini." Ujar Akai.

" G..Gin!" Suara milik Chianti terdengar dari pinggir lapangan. Dengan gesit tangannya mengangkat senapan kesayangannya. Namun belum sempat dia menarik pelatuknya, sebuah benda melayang dan mendarat tepat di pundaknya. Senapan itu terjatuh dan disusul dengan badannya.

" Semua sudah beres. Vermouth sudah dilumpuhkan. Dan anggota yang lainnya, sudah kami bereskan."

" Thanks Camel. Oh.. apa yang lainnya baik-baik saja?" Tanya Jodie. Camel hanya diam. Kepalanya menggeleng pelan.

" James.. bourbon berhasil membunuhnya." Ucapnya pelan. Semua disana tersentak kaget.

" James.." Gumam Jodie..

" Aku turut berduka." Ucap Sherry.

" Oh ya.. kami menemukan Vermouth tengah menyandera seorang gadis. Kurasa dia temanmu." Ujar Camel. Pandangannya terarah kepada Shinichi. Shinichi tersentak.

" Ran! Apa.. apa dia baik-baik saja?" Tanya Shinichi cemas. Camel hanya mengangguk.

" Tidak ada luka apapun. Kurasa dia hanya ketakutan saja." Jawab Camel. Shinichi menghela nafas lega. Kemudian dengan sigap meraih lengan Sherry kemudian menariknya.

" Hei.. Kudo-kun.. apa yang kau lakukan?" Tanya Sherry bingung.

" Kau masih bisa bertanya apa yang kulakukan? Kita harus segera kerumah sakit." Jawab Shinichi. Sherry menarik tangannya.

" Yang harus kau bawa kesana itu pacarmu. Kau tidak diberi obat aneh oleh mereka saat disandera tadi kan, Kudo-kun?" Tanya Sherry dengan pandangan mengejek.

" Huh. Justru aku khawatir kau diberi obat gila oleh mereka sehingga kau berniat mati kehabisan darah." Ujar Shinichi sambil menyingkap jaket hitam milik Sherry dan memperlihatkan Kaos putihnya yang sudah berubah menjadi pink. Sherry hanya bisa terdiam. Shinichi kembali meraih tangan Sherry dan menariknya. Namun..

" Maaf.." Gumam Sherry. Dia melangkah terhuyung dan hampir saja menyentuh tanah jika Shinichi tidak sigap menangkapnya.

" Bodoh! Kau mencoba melakukan ini semua sendiri?" Ujar Shinichi. Ia menaikkan sosok berambut pirang strawberry itu ke punggungnya. Kemudian segera berlari menuju Akai yang sudah berada didalam mobil.

" Ternyata, kau memang detektif ya?" Gumam Akai

" Tidak fatal. Hanya saja jika terlambat bisa gawat. Syukurlah kalian membawanya tepat waktu." Ujar dokter saat keluar dari ruang operasi. Shinichi dan Akai mengangguk mendengar jawaban dokter.

" Hhh.. bagaimana dengan pacarmu itu?" Suara dingin Akai memecahkan suasana senyap. Shinichi menoleh.

" Ran? Ah ya.. kau benar. Aku hampir saja melupakannya." Ujar Shinichi sambil beranjak dari duduknya. Akai tercengang melihat pemuda dihadapannya.

" Hahahahahahha…." Tiba-tiba saja Akai Tertawa terbahak. Shinichi yang sudah akan berlalu untuk melihat keadaan Ran mengurungkan niatnya.

" Apa?" Tanya Shinichi heran.

" Kau.. hahaha.. dasar detektif bodoh!" Jawab Akai masih terbahak.

" Apa maksudnya itu?" Tanya Shinichi kesal.

" Entahlah. Kau kan detektif!" Jawab Akai dengan senyum mengejeknya. Shinichi hanya melempar tatapan heran bercampur kesalnya. Lalu segera pergi meninggalkan Akai.

" Dasar bodoh! Memecahkan misteri memang nomer satu. Tapi misterinya sendiri tak mampu dipecahkan." Gumam Akai