"aku pulang,"
Di rumah ini begitu sepi saat siang hari. Kalian tahu alasannya? Yang ada di rumah ini hanya ada aku dan adik perempuanku yg sedang tidur-tiduran santai di depan televisi. Tampaknya ia sedang menelpon seseorang. Dan aku tidak tau siapa yang ia telepon.
"ah baik-baik. Aku akan menanyakannya nanti. Pasti ada kabar kok. Ya sudah sampai jumpa!" klik, kirino menutup panggilannya. Ia lalu memutar tubuh dan menghadap ke arah tv yang daritadi tidak dinyalakan.
"hoi! Kau tidak mengatakan 'selamat datang' apa ke kakakmu ini?" tanyaku jengkel ke kirino.
"huh masa bodoh! Aku tak peduli. Lagipula aku tak menganggapmu ada," jawab kirino ketus. Cih menyebalkan! Anak ini masih saja tidak menganggapku ada? Apa benar aku seorang kakak kalau begini?
"bisakah kau sedikit ramah kepada kakakmu ini?" aku bertanya polos
"buat apa? Nggak ada untungnya kok," ia memalingkan wajahnya ke majalah fashion kesukaannya. Dia masih saja seperti yg dahulu.
Ya sudah, lebih baik aku tidak mengganggunya. Aku pergi dari ruang tamu dan menuju ke dapur. Aku mengambil beberapa cemilan dan jus untuk dibawa ke atas. Ke kamarku.
"hei kau tidak ada kesibukan apa?"
"anda siapa ya?" tanya kirino ketus. Masih saja menghiraukanku.
Aku pun pergi ke atas dan mengunci diriku sendiri layaknya hikikomori.
"ah saatnya santai2 setelah belajar tadi di perpustakaan," aku mengambil tempat untuk beristirahat. Merebahkan tubuhku di atas kasur empuk keluaran lama jepang. Menutup mata dan... Bermimpi.

"anikki bangun! Aku ingin menanyakan sesuatu," kirino membangunkanku dengan cara ditampar. Yeah de ja vu! Menyebalkan bukan? Sekalinya de ja vu yg terulang adalah saat seperti ini. Ketika aku harus bangun dari tidur dengan cara ditampar.
"ada apa sih? Kau tidak liat kalau aku sedang tidur apa?!" aku menjawab membentak. Dengan mata yang masih setengah watt kupaksa tubuh untuk bangun dari tempat tidur. Menuruti perintah dari kirino.
"duduk di sini sekarang!" kirino menyuruhku duduk di depannya. Sedangkan ia duduk di kursi meja belajarku dan menatap keji. Aku sengaja memilih kata ini agar lebih terlihat mendramatisir.
"baik baik. Apa yg mau kau tanyakan hah?"
"jujur sebenarnya aku juga malas untuk menanyakannya. Tetapi, orang itu terus saja menyuruhku untuk menanyakan sesuatu padamu. Ia punya permintaan," kirino menatap serius kepadaku. Tubuh yang tadinya tak peduli duduk di depannya secara tiba-tiba merinding. Ada apa ini? Apa yg ingin ia katakan. "ah apa yg mau kau inginkan?" aku menjawab gugup.
"huh... Hei kata si fotografer, ia ingin kau menjadi model fotonya besok. Bisa?" jawab kirino, acuh.
apa?! Fotografer model menginginkan aku menjadi modelnya? Bagaimana bisa? Padahal jika dilihat... Tunggu, proporsi tubuhku nggak jelek. Bisa dibilang proporsional. Tipikal tinggi model laki-laki jika ku pikir. Apa itu alasannya?
"ugh mengapa mendadak," aku menjawab bingung. Kirino menatap jijik padaku.
"entah lah apa mau orang itu. Aku hanya menyampaikan. Kau mau tidak?"
Aku kembali berpikir. Ini adalah kesempatan emas untukku untuk karir. Lagipula bayaran untuk menjadi seorang model itu mahal. Bisa dijadikan penghasilan juga buat laki2 ini agar tidak selalu bergantung pada orangtua. Benar bukan?
"baik aku menerimanya. Jam berapa pemotretannya?" aku menjawab mantap.
"besok jam setengah 4 di taman dekat SMP ku dulu. Mungkin pemotretan ada di sana. Jangan telat!" kirino membentak ku.
"iya iya aku nggak bakal telat deh."
Pada akhirnya aku mendapat sebuah pekerjaan. Dan seharusnya aku bekerja keras dalam hal ini. Menyenangkan juga bisa menjadi seorang model laki-laki bukan?

Siang hari di bulan juni. Matahari tak terlalu terik menyinari bumi hari ini. Aku menunggu di bawah pohon rindang yang hijau. Di depanku sekarang beberapa kru foto tengah mempersiapkan kamera mereka untuk sesi pemotretan siang ini. Sambil membunuh waktu, aku membaca buku yang kemarin dipinjamkan oleh seorang teman untuk ujian universitas nanti. Buku ini cukup tebal. 300 halaman dengan ukuran kertas A5 kurang lebih. cukup sakit buat nimpuk orang.
aku sudah di sini sekitar 20 menit yg lalu. tidak ada tanda-tanda dari model yang datang hingga saat ini.
"apa aku dibohongi oleh kirino ya? bisa saja dibohongi seperti ini" aku mengomel dalam hati. si kirino pun belum datang lagi, apa maunya sih?.
"hei aku kira kau tidak datang," seseorang 'menyapa'ku dari samping. dari suaranya ini bisa ditebak kalau dia gadis remaja berumur 16 tahun. aku menoleh ke arah sumber suara itu. dan benar saja apa yang aku kira tadi. di sampingku sekarang berdiri adik perempuan terjutek di dunia dengan kakaknya, kirino kousaka. aku menatapnya tajam.
"tentu saja aku sudah datang. dari mana saja kau?" aku bertanya.
"bukan urusanmu. ganti pakaian sana! bajumu itu jelek tau," ia menunjuk ke arah seorang wanita yg tengah menenteng beberapa pakaian. aku menuruti kirino dan berjalan menuju wanita yg ditunjuk kirino.
"ah permisi. aku disuruh ke sini oleh adikku."
"oh iya iya. kau kyousuke ya? kau harus memakai ini. tolong pergi ke ruang ganti di sebelah sana." wanita ini menunjuk ke arah ruang ganti di dekat pohon. aku pun aku pun pergi ke ruang ganti dan mengganti baju casualku dengan pakaian yg tadi dikasih.

"kirino, hari ini ada model baru ya?"
"oh iya. kau pasti akan kaget melihat orang ini. padahal tampangnya biasa saja tapi bisa dijadikan model sama si bos. kau penasaran?"
"ya begitu deh. dia laki-laki?"
"bisa dibilang begitu. dia model amatir. tak pernah sekalipun orang itu dipotret. sungguh," kata kirino.

"orangnya ganteng nggak?" tanya ayase dengan mata berbinar.

"tidak, orang itu sungguh jelek. sudahlah ngapain kita ngomongin dia."

"pakaian ini sepertinya tidak pas dengan tubuhku. ah sudah lah masa bodoh," aku keluar dari ruang ganti dengan wajah jengkel. sepertinya aku memang tidak pas memakai baju tipe seperti ini deh. di luar kru-kru melihatku dengan... entah tatapan terpukau atau jijik. tetapi, yang jelas mereka menatapku. itu saja.
"ah kousaka-kun. tempat pemotretan dekat dengan ayunan di sana. kau stand by di sana ya!" fotografer menyuruhku untuk stand by di dekat ayunan itu. dengan melangkah gontai aku menurutinya. tampaknya keadaan sudah kembali seperti semula. tidak ada yang berbeda.
"maaf menunggu, kau itu model yg baru ya?" tiba2 suara seorang gadis terdengar dari belakang tubuhku. suaranya mengingatkanku akan ayase. tidak-tidak ini pasti salah.
"ya aku seorang..." eh tampaknya aku mengenal gadis ini. AYASE?!. aku terkejut. oh iya, kemarin malam dia bilang kalau akan ada sesi pemotretan di taman ya. aku lengah akan hal itu.
"a-a-ayase.. aku lupa kalau kau..," aku tergagap.
"nii-san apa yg kau lakukan di sini? jangan-jangan kau..."
"... iya ayase. aku model baru di sini. bagaimana aku menceritakannya ya. pokoknya

semalam kirino membangunkan ku dan dia mengatakan bahwa aku dipanggil sebagai model hari ini. begitu,"
"jadi nii-san benar model toh? huh aneh,"
"eh kok jutek gitu sih?!"
"habis pada akhirnya aku bertemu lagi sama nii-san."
"kenapa jadi menyalahkanku?! aku nggak ngelakuin apa-apa kan?"
"iya tapi...," ayase menghentikan kalimatnya. ia tidak meneruskan perkataan barusan.
"hei hei ngapain kalian berdua hah?! ayo bekerja. aniki, kau sudah disuruh berpose tuh. ayase ayo minggir. sekarang waktunya buat laki2 tak berguna ini dipotret," kirino menarik tangan ayase. mereka menjauh dariku. kebetulan yg aneh. aku dan ayase menjadi model bersama. sudahlah lebih baik fokus sekarang.
"kousaka-kun coba kau berpose layaknya seorang remaja yang sedang menunggu pacarnya," fotografer menyuruhku untuk berpose.
"seperti ini kah?" aku mulai berpose. pose ini mudah bagiku. ya karena dahulu aku pernah memiliki pacar bukan?
"ternyata nii-san jago juga membuat pose itu," kata ayase kagum.
"ah dia hanya sok-sokan saja kok," kata kirino judes. mereka berdua melihatku berpose. tampaknya ayase terkagum-kagum denganku. wow inikah rasanya dikagumi wanita? tapi berbeda halnya dengan kirino yang menatapku jijik. dasar adik menyebalkan. paling tidak baikin kakaknya sedikit gitu.
akhirnya giliran pemotretanku berakhir. capek juga ya untuk diarahkan. kedua tangan ku lebarkan untuk melepas pegal dari pose-pose aneh tadi. sekarang giliran kirino dan ayase. aku hanya melihat . menatap lekat-lekat ke arah ayase dan kirino. tak menghilangkan kesempatan itu walau sedetik. sungguh, kegembiraan mereka begitu nyata. dari senyum, gerakan tubuh serta pose. mereka sangat menikmati sesi itu. kirino yang biasanya cemberut, ketika di depan kamera, ia berubah menjadi seperti malaikat yang turun dari surga... cukup bisa-bisa aku kembali di-cap incest lagi. ayase tidak terlalu berbeda dengan kirino. yang beda hanyalah ayase memang sudah begitu adanya. dia tipe orang yg jarang cemberut. kalau ku pikir.

18 menit berlalu sejak sesi milik kirino dan ayase dimulai. sekarang waktunya break. kami dipersilahkan untuk mengobrol maupun makan dan minum.
"hoi kalian hebat. terlihat professional," aku mengucapkan selamat pada kirino dan ayase.
"huh itu masih biasa saja sih," jawab kirino ketus.
"nii-san juga hebat. bisa memakai pose yang tak pernah ada sebelumnya."
"ahaha biasa saja kok," aku salah tingkah. sial. ayase membawakan kami minuman dingin dan bersama-sama meneguknya. segar. jus jeruk di musim panas ini. cairan oranye itu membasahi kerongkonganku. membuat temperatur tubuh turun dari tingkat didihnya.
"hei kalian yang di sana. saatnya sesi terakhir. dimohon untuk seluruh model berfoto bersama," fotografer berteriak pada kami.
"EEEHHH?!" apa ia yakin menyuruh itu. kirino memasang wajah tak pedulinya. ayase tampaknya terkejut sedangkan aku hanya diam dengan mulut ternganga.
aku akan berfoto dengan mereka berdua?! mimpi kah?
"anikki, ayo ke sana. kau juga ayase. kita selesaikan untuk hari ini," kirino menarik tangan ayase dan mereka pun berjalan ke arah fotografer. aku pun tak ada pilihan lain selain mengikuti mereka ke sana.
"coba kalian berdiri di sana begandengan tangan. gunakan senyum paling indah yang pernah kalian gunakan ketika senang. siap?"
aku berdiri di tengah mereka berdua. kirino dan ayase menyambar keras kedua tanganku. saat itu, keringat tiba-tiba turun dengan derasnya. perasaan ini aneh. berfoto dengan dua orang model professional.
"nii-san ayo tersenyum. ini sesi terakhir. jangan merusaknya ya!" kata ayase tersenyum. diam! aku juga tau itu!.
pada akhirnya kami tersenyum menghadap kamera. dan hari itulah terjadi. pengalaman pertamaku sebagai model di siang hari bolong