"aku pulang,"

sudah malam di jepang sekarang, sekitar jam 8. ayase aragaki, gadus berumur 16 tahun ini baru pulang dari tempat pemotretan di taman dekat sekolah SMPnya dahulu. Pada hari ini juga membuatnya terkejut, bagaimana bisa seorang laki-laki yang ia kagumi secara tiba-tiba menjadi model di agensinya. Saat itu mood ayase meningkat drastis. Yang tadinya ia merasa tak enak selama pelajaran di sekolah tetapi siang itu naik drastis.

"ayase, ayp mandi! Ibu sudah siapkan air hangatnya," ibu ayase memanggil dari lantai bawah kamar ayase.

"Iya ibu, aku mandi kok nanti," Ayase menaruh tas dan beberapa perlengkapan modelnya di atas meja belajar. Ia membuka handphonenya. Di sana tertera jam 08.23 PM. Sudah cukup malam ya, pikirnya. Ayase pun memutuskan untuk pergi ke bawah untuk mandi. Ia membawa baju dan perlengkapan mandinya ke bawah.

"Ayase, kalau sudah mandi tolong buang airnya juga ya! Jangan seperti kemarin. Kamu lupa membuangnya."

"Iya, ibu. Aku nggak akan lupa kok. Janji," kata Ayase manis. Lalu ia pun masuk dan merilekskan dirinya di bathub nan hangat. Ia pun mulai mengingat apa saja yang terjadi hari ini,

"Hari ini, aku bahagia. Seseorang yang kucintai secara tiba-tiba menjadi rekanan ku di dalam agensi permodelan. Bahkan dia seperti menikmati pekerjaan barunya itu. Oh iya, yang membuatku tambah senang adalah ketikasesi pemotretan terakhir, ia... memegang tanganku!" secara reflek Ayase mengeluarkan tinjunya dan mengenai tembok. "ADUH!" teriaknya kesakitan.

"Ayase, kamu kenapa?" tanya Ibu Ayase cemas.

"Nggak apa-apa kok, bu," dia memegang tangannya yang sakit. "Aku berlebihan ya tadi," Ayase pun tertawa karena kebodohannya itu. Tak pernah sekalipun dalam seumur hidupnya bisa sampai kelepasan seperi itu. Ia kembali tersenyum senang mengingat kembali hari itu seraya berharap suatu saat akan kembali terjadi seperti itu.

( )

"Aku pulang," kata Kirino dan aku bersamaan. Lalu Kirino menatapku tajam. "Tak usah mengikutiku!"

"Idih siapa yang ngikutin kau? Memang begitukan adatnya ketika pulang," jawabku sewot. Kirino pun mengambil langkah cepat dengan meninggalkanku, dia pun langsung pergi ke kamarnya tanpa berkata-kata. "Apa-apaan sih anak itu? Menyebalkan," Cibirku.

Aku pun berjalan masuk ke arah dapur untuk makan malam. Di meja makan telah tersedia lauk-pauk lengkap dengan nasinya. 2 porsi. Ini pasti milikku dan Kirino.

"Oh ibu, ini milikku dan Kirino kan?"

"Iya, Kirino di mana?"

"Dia langsung ke atas tadi. Mau aku panggilkan?" aku bertanya sambil menarik kursi untuk duduk.

"Nggak usah. Ibu saja ya yang panggil. Kamu makan saja, Kyousuke," ibuku mengelap tangannya dan pergi menuju lantai dua untuk memanggil Kirino yang berada di kamarnya.

"Ya sudah aku makan duluan deh,"

5 menit berlalu. Akhirnya Kirino turun dari kamarnya dan duduk di sampingku. "Kau sudah makan?" tanya Kirino.

"Sudah, sekarang giliranmu makan," kataku sambil membereskan bekas makan dan membawanya ke tempat cuci piring.

"Oi Anikki, apa kau senang hari ini?"

eh pertanyaan manis apa itu?, kataku dalam hati. "E-e-eto ya menyenangkan. Jadi model itu ternyata seru ya,"

"Baguslah, aku pikir kau tidak menyukainya," kata Kirino sambil makan makan malamnya.

Aku pun selesai mencuci piring dan meninggalkan dapur. Sambil melirik sebntar ekspresi adik perempuanku tang sedang makan. Aku tersenyum.

( )

"Ibu, aku makan makanannya ya?" tanya Ayase sambil mengeringkan rambut panjangnya yang basah.

"Iya, nanti cuci juga tolong," kata ibunya. Ayase pun mengangguk tanda mengerti. Ia pun duduk dan mulai menyantap makanannya. Tentu saja sambil membayangkan kejadian hari ini. "Hari ini sungguh menyenangkannya," kata Ayase sembari menyantap makan malam. Spesial, kata yang tepat untuk hari ini. Ia pun selesai. Piring sisa makan itu dicuci olehnya di wastafel dapur. Masih dengan perasaan yang senang.

"Ayase kok daritadi tersenyum aja. Ada apa nih?" kata ibunya menggoda.

"Nng-nggak kok ibu. Aku.. nggak ada apa-apa," kata Ayase tergagap.

"Bohong nih. Keliatan kok dari tatapan mata kamu, sayang. Soal laki-laki ya?"

"Mmm.. apa aku harus jujur, ibu?"

"Ya terserah kamu. Mau curhat atau nggak."

apa kau harus memberitahu ibu ya, pikir Ayase dalam hati. "Ibu, apakah masalah jika kau menyukai laki-laki yang berumur 3 tahun lebih tua dari aku?" tanya Ayase hati-hati.

"Hmm menurut ibu tidak masalah kok. Kan laki-laki yang berumur lebih tua dari mu ibu yakin dia pasti sudah lebih dewasa pemikirannya. Iya kan?"

Ayase tersenyum mendengar kata-kata ibunya. Ia semakin mantap meyakini bahwa mencintai laki-laki 'itu' adalah hal yang benar. Ayase melihat laki-laki ini dengan pandangan bahwa ia adalah seorang kakak yang baik dan sangat menyayangi semua orang yang ada di sekitarnya.

Setelah pembicaraan itu Ayase meninggalkan ibunya yang masih bersih-bersih di ruang tamu. Ia pergi untuk beristirahat di kamar tidur pribadinya.

"Onii-san, apa yang sedang kau lakukan malam ini?" ia terus bertanya dalam hati. Tak berani mengungkapkannya dengan 1 buah pesan yang dapat ia kirim lewat ponsel. Apakah ini yang dirasakan oleh orang-orang kasmaran ya? Ayase bergumam dalam hati. Bantal lembutnya menutupi seluruh wajah Ayase yang sedang memerah. Hari ini ia bertingkah aneh. Sembari menghilangkan perasaan anehnya, Ayase menenangkan diri di bawah sinar lampu kamar.

( )

"Huaah hari ini sangat capek. Ternyata menjadi model itu juga butuh energi yang banyak ya," Kataku dalam hati sembari mengisitirahatkan diri di atas kasur. Menatap langit yang mengawang. Banyak hal yang terjadi hari ini. Dari mulai pemotretan, bertemu Ayase hingga berdebat kembali dengan dik perempuanku, Kirino.

"Anak itu sudah besar ya sekarang," aku memikirkan Kirino. Dahulu gadis itu rapuh, butuh aku untuk melindunginya. Namun sekarang, ia sudah mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Tak butuh bantuan kakaknya kecuali dalam satu hal. Konseling. Sejak malam itu, hubungan kami yang beberapa tahun terakhir renggang, sekarang menjadi dekat kembali.

"Nostalgia itu ternyata menyenangkan ya. Mengingat hal bodoh dahulu. Sekarang aku menyesal mengapa menolak mereka semua dan lebih memilih kirino. Yah pada akhirnya aku memperbaiki itu semua bukan? Dengan cara aku berbaikan dengan Ayase," monolog dirirku terus mengawang di udara kamar laki-laki ini. Hingga...

"Huahahahaha Kariiiiin mengapa kau sangat lucuuuuu?! Kyaaaaa," terdengar suara dari kamar sebelah. Huh ini pasti kirino yang sedang asyik bermain Erogenya.

"Hoi ini sudah malam! Tahan suaramu," Teriak ku sewot dari balik tembok pemisah kamar kami.

"Apa sih? Ganggu aja deh!"

"Argh ya sudah terserah kau saja!" aku pun kembali tiduran menatap langit-langit. Menghiraukan teriakan tak jelas dari cewek kamar sebelah yang histeris bermain eroge miliknya. Aku membuka HP. Melihat kontak yang bisa aku ajak bicara.

Kriiiing Kriiing Kriiing

dering telepon terdengar di seantero kamar. Menggema memenuhi malam. Duk!

"Anikki, angkat telponmu dong! Jadi berisik nih! Aku nggak bisa main dengan tenang," Teriak penghuni kamar sebelah.

"Orang ini lama-lama makin berisik aja. Iya iya aku angkat nih!" teriakku sewot sambil mengangkat telpon dari seseorang. "Halo?"

"Ha-ha-halo Nii-san, ini aku Ayase," jawab seorang gadis dari seberang.

a... Ayase, dia menelpon. Tenang Kyousuke. "Hai Malaikatku, bagaimana kabarmu?" aku menggodanya.

"Nii-san, kau masih mau melecehkanku ya? Besok kalau ktemu aku borgol ya?" jawabnya mengancam.

"Jangan jangan jangan. Ok maafkan aku. Oh iya, ada apa Ayase? Telpon malam-malam begini."

"Aku hanya ingin mengatakan terimakasih sama Nii-san buat hari ini."

"Oh iya? Mengapa kau berterimakasih?" jawabku excited.

"Hari ini nggak seperti biasanya. Kalau pemotretan kan biasanya hanya ada perempuan saja, tetapi hari ini nggak. Ada satu cowok yang membuat aku excited."

"Ho begitu.. hehehe sama-sama Ayase. Hari ini juga sngat spesial kok. Sungguh."

"Apa yang membuat hari ini spesial bagi Nii-san?" tanya Ayase penasaran.

"Karena pada akhirnya aku memiliki penghasilan sendiri. Te-he" jawabku riang dari telpon.

"Jadi cuman itu saja?" tanyanya. Dari suara Ayase, sepertinya gadis ini tiba-tiba marah. Aneh.

"Yap itu saja. Nggak ada yang lain," jawabku mantap.

"Huuh ya sudah deh. Sudah malam. Aku harus tidur. Besok masih masuk sekolah. Nii-san jangan tidur malam-malam. Besok belajar untuk tes bulan depan!" suara Ayase terdengar menggelegar di telingaku.

"Iya iya Malaikat kecilku Ayase," aku kembali menggoda Ayase.

"Ya sudah. Selamat malam, Nii-san!"

"Selamat malam," klik. Kami berdua menutup telpon. Aku tersenyum-senyum sendiri. Lucu ya bagaimana ketika kita sedang mengobrol. Aku ingin melakukannya lagi.

"Nii-san, mengapa sikapmu itu tidak berubah," kata Ayase sembari mengkhayal wajah dari Kyousuke malam itu. Di pangkuannya.