October 27, 2010

Hujan adalah hal terakhir yang kupikirkan ketika aku melangkahkan kaki keluar dari apartemen yang kuhuni bersama Kyungsoo. Dan sekarang, disinilah aku, terjebak di dalam aula universitas, menunggu hujan reda supaya aku dapat pulang ke rumah dan tidur. Pikiranku terus saja berkata supaya aku menelepon Kyungsoo dan menyuruhnya untuk menjemputku, namun melihatnya pagi ini bersama Kim Jongin, kurasa aku tak mungkin melakukannya. Terlihat jelas kalau mereka sedang melakukan sesuatu.

Hujan sepertinya tak ada niatan untuk reda. Aku menyadarinya setelah satu jam menunggu. Berlari kearah halte mungkin ide yang bagus, aku tak kan peduli jika diriku basah kuyup namun buku-buku serta lembaran note musik di dalam tasku tak boleh basah. Mereka benar-benar penting, lebih penting daripada waktu tidurku. Ketika aku hendak mengambil earphone didalam kantongku, aku merasakan seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik, mata yang tak asing lagi itu menatap kearahku dan senyumannya yang dapat membuat hari-hariku cerah, orang tersebut meringis kearahku. "ingin berbagi?" ia menunjuk kearah payung merahnya dan sebelum aku mampu menjawab, lengannya telah merangkul lenganku. Aku merasakan jantungku melompat keluar dari tempatnya.

Hanya Baekhyun yang bisa membuatku merasakan hal ini.

Semuanya tak terasa sama lagi ketika aku menyadari bahwa aku mencintai Byun Baekhyun. Lucunya, hari ini bertepatan dengan tanggal dimana kami pertama kali bertemu, 27 Oktober. Hari dimana aku merasakan jantungku berdebar-debar, dan sekarang aku menemukan diriku jatuh cinta padanya lagi dan lagi.

Perasaanku padanya sangat mudah ditebak; Kyungsoo mengetahuinya. Begitu juga dengan Jongin. Namun Baekhyun adalah satu-satunya orang yang tak menyadarinya.

Terbata-bata (October 27, 2009)

Setelah konser mini yang ditampilkan oleh Baekhyun dan Kyungsoo tahun lalu, aku tahu cinta telah datang kepada diriku namun aku tak tahu bagaimana cara untuk mengontrol debaran di dalam jantungku. Jongin menarik tubuhku bangkit dari kursi setelah beberapa menit. Aku pasti telah melihat kearah panggung dalam waktu yang lama.

"Hyung tidak ada lagi disana, jadi ayolah!" Jongin menyambar lenganku dan mendorongku keluar. Pikiranku masih kemana-mana dan tak bisa fokus, merasakan euphoria yang berlebihan.

Sesudahnya, aku menyadari bahwa aku berada di belakang panggung ketika Jongin meninggalkanku untuk memeluk Kyungsoo, yang dipeluk merona merah karena kontak fisik yang diberikan Jongin. Hari itu, sebelum konser digelar, Jongin menyatakan perasaannya kepada Kyungsoo. Kami tak dapat lebih bahagia lagi melihat Kyungsoo dan Jongin saling mencintai satu sama lain.

Aku menggumamkan selamat selagi Kyungsoo masih berada di pelukan Jongin namun aku buru-buru menelusuri ruangan itu untuk mencari seseorang yang mungkin sudah kalian tahu. Namun sebelum aku sempat mencarinya, suaranya sudah terdengar di telingaku.

"mana pelukan untukku, Jongin?"

Mendengar kata tiap kata yang ia lontarkan terasa seperti sebuah lagu di telingaku. Jantungku berdebar kencang; aku melihat Baekhyun mengerutkan bibirnya, rasanya jantungku tak pernah merasa sebahagia ini. Aku menahan diriku untuk memeluknya.

"minta saja Chanyeol untuk memelukmu. Aku sibuk, tak bisakah kau melihatnya?"

Wajahku merona merah dan hal itu sangat terlihat jelas. Aku harus menundukkan kepalaku supaya Baekhyun tak melihat. Baekhyun tertawa kecil kemudian mendekatiku.

"jadi apakah kau mungkin jatuh cinta padaku?" Baekhyun menggodaku sembari memukul pundakku ringan.

Semuanya terdiam ketika Baekhyun mengatakan hal yang seharusnya adalah gurauan yang biasa ia lontarkan namun kini aku menangkapnya dengan cara pandang yang berbeda. Aku ingat sekarang mengapa aku tak juga menyadari perasaanku pada Baekhyun karena selama ini, hubungan kami selalu dipenuhi oleh gurauan dan pertengkaran.

Keheningan menghinggapi ruangan.

"kenapa? Apa aku ketinggalan sesuatu?" Baekhyun menatap kami semua untuk meminta sebuah jawaban atas semua keheningan ini.

"tak ada. Tak ada, hyung" Jongin melepaskan pelukannya dari Kyungsoo dan menepuk pundak Baekhyun. "penampilanmu bagus, hyung"

Di pikiranku, aku meneriakkan bahwa ia tak hanya tampil dengan bagus namun ia bernyanyi dengan sangat indahnya sampai-sampai aku bisa merasakan jiwaku melayang saat itu juga dan mati dalam damai.

Di dalam kehidupan nyata, aku memiliki masalah dengan kemampuan berbicaraku. "k-k-k-kau… l-l-l-uar b-bi-a-biasa" aku terlihat seperti bocah berusia dua tahun. Jongin tertawa terbahak-bahak sementara Kyungsoo berusaha keras untuk menahan tawanya saat ia mendorong Jongin yang masih saja tertawa keluar meninggalkan diriku yang masih terpaku dan Baekhyun sendirian.

"terima kasih, Chanyeol" Baekhyun tersenyum. "aku sangat senang mendengarnya. Namun kau benar-benar bertingkah aneh hari ini"

Jika saja pipiku tak semerah ini, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Setelah menyadari aku benar-benar mencintai Baekhyun, bernafas telah menjadi semacam kebutuhanku dan menatapnya adalah tantangan terbesar dalam hidupku. Aku jadi makin gila tiap harinya.

"apa kalian telah berpelukan?" Jongin tiba-tiba muncul dari balik pintu.

"KIM JONGIN!" Aku dapat mendengar Kyungsoo berteriak dan Jongin segera menghilang dari pandangan.

Baekhyun tersenyum kearahku, "jadi, apakah aku dapat sebuah pelukan?" ia melebarkan lengannya seolah memanggilku untuk memeluknya.

Pikiranku berputar-putar.

Tak lama kemudian, badanku mulai bergerak, bergetar. Tak ada yang lebih hangat dari ini; tak ada yang lebih sempurna dari ini.

Aku memeluk Baekhyun

Kecemburuan (October 30, 2009)

Konser mini beberapa hari yang lalu menjadi tanda berakhirnya semester ini dan hari itu adalah hari terakhir aku melihat Baekhyun sebelum ia terbang ke China. Tradisi keluarga, saat Jongin menjelaskan hal tersebut kepada Kyungsoo yang bersedih. Tak bisakah kau percaya, tepat setelah Jongin menyatakan perasaannya, ia meninggalkan Kyungsoo. Well, walaupun hanya untuk 2 minggu, namun tetap saja, aku tak akan melakukan itu terhadap Baekhyun.

"aku tak akan melakukan itu pada Baekhyun" kata-kata itu terucap dengan bangganya dari mulutku.

Kyungsoo mendesah, "hal ini sudah direncanakan sebelumnya, kita tak dapat melakukan apapun. Lagipula, Baekhyunlah yang merencanakan perjalanan itu beberapa bulan lalu sehingga Jongin tak dapat menolaknya. Kami akan tetap berhubungan melalui skype tiap hari" Kyungsoo membela kekasihnya.

"dan sejak kapan kau jadi seperti ini? Tak ada perdebatan? Tak ada pertengkaran?" Tanya Kyungsoo.

"well, bagaimanapun, aku tak akan melakukannya pada Baekhyun" aku berpegang teguh pada pendirianku.

"ya, ya, tentu" Kyungsoo tersenyum menyeringai. "kau tak akan melakukannya atau mungkin, kau tak bisa melakukannya. Kalian bahkan tak berpacaran"

Seharusnya itu hanyalah sebuah gurauan namun senyuman yang tadinya tersungging di bibirku hilang seketika dan digantikan oleh sebuah tampang penuh kesedihan. Kyungsoo segera menyadari perubahan moodku.

"aku tak bermaksud mengatakannya, Chanyeol. Maaf"

Sebelum aku dapat mengatakan tidak apa-apa, kami mendengar bunyi notif pemberitahuan skype.

"mereka menelepon" Kyungsoo menggenggam tanganku. "aku minta maaf, okay?" ia tak akan pindah dari tempatnya sebelum ia mendapat jawaban bahwa aku memang baik-baik saja. Jadi untuk menyenangkan hatinya, aku tersenyum seolah mengatakan bahwa aku baik-baik saja.

Untungnya, Kyungsoo segera melupakannya. Mungkin karena ia terlalu bersemangat untuk bertemu Jongin. Aku mengesampingkan hal tersebut dan membiarkannya terkubur dalam pikiranku, apa yang aku pikirkan sekarang adalah bahwa aku akan segera bertemu Baekhyun. Aku benar-benar gugup.

Aku mendengar suara Jongin dari dalam speaker, jelas dan keras. Suaranya terdengar sangat bahagia ketika Kyungsoo menyapanya balik. Dalam kasusku, aku mencoba untuk mengintip layar sedikit demi sedikit, menunggu seorang laki-laki untuk muncul dari layar. Setelah beberapa menit, laki-laki yang kucari tak muncul juga.

"hyung sedang bersiap-siap" Jongin memberitahu Kyungsoo, aku tahu ia bertanya tentang sikapku, mengetahui bahwa aku terlalu kasmaran untuk berbicara barang sedikit saja. Aku bersyukur Baekhyun ada disana, kukira aku tak kan melihatnya hari ini, hal itu akan membuatku semakin gila. Aku merindukannya, walaupun hanya untuk sehari, rasanya seperti untuk selamanya. Walaupun kami tidak berpacaran, aku hanya ingin melihatnya setiap hari.

"ia ada kencan" Jongin tiba-tiba mengatakan hal yang tak ingin kudengar.

Aku merasakan lututku melemah dan aku harus berpegangan pada kursi supaya tak terjatuh. Kyungsoo menatapku khawatir.

"ini bukan kencan, Jongin" aku mendengar suara Baekhyun. Aku merasa lega setelah mendengar suaranya. Namun tetap saja, kata-kata yang terucap dari mulut Jongin rasanya benar-benar menggangguku sampai ke neraka.

Aku benar-benar berharap Baekhyun mengatakan sesuatu seperti aku rindu Chanyeol kalian dan bukan ini bukan kencan.

Jongin tertawa di layar lalu kemudian berhenti, aku tahu bahwa Kyungsoo yang menghentikannya dengan tatapan ganasnya. Aku merasa cemburu, aku merasakan hatiku remuk dibuatnya.

Baekhyun tiba-tiba muncul di layar, "hey, Kyungie!" ia berkata lagi, "mana Chanyeol?"

Kata Chanyeol bergetar dalam kepalaku, bergema di setiap sudut ruangan. Kyungsoo menarik kerah pakaianku untuk menyadarkanku. Ia menemukan cara agar kami berdua dapat terlihat di layar.

"Hey Chanyeol" nada kebahagiaan Baekhyun yang biasa ia ucapkan terlontar dari bibir mungilnya dan juga senyuman di matanya yang biasa ia tunjukkan.

"Hi" aku mencoba untuk tidak terbata-bata saat berbicara. Hanya dengan melihatnya, aku tahu bahwa ia tampak berbeda. Ia sepertinya telah berdandan dan kata kencan kembali terngiang di kepalaku. Bagaimana ia menata rambutnya, pakaiannya yang terlalu bergaya dan juga eyeliner yang melekat di matanya terlalu sempurna untuknya. Aku mengerti, Jongin benar; Baekhyun ada kencan yang membuat dahiku berkerut tanpa sadar. Hatiku sakit dibuatnya.

Baekhyun bercakap-cakap dengan kami selang beberapa menit, memberitahu bagaimana panasnya China dan makanan yang mereka makan namun pikiranku hanya terfokus pada satu hal; Baekhyun terus saja melihat kearah jam di tangannya ketika ia berbicara. Dan setiap kali ia melakukan hal itu, sebagian dari diriku remuk.

November, 15 2009

Aku merindukan Baekhyun. Sangat merindukannya.

Aku melihatnya hampir setiap hari ketika Kyungsoo sedang ber-skypean dengan mereka namun semuanya tak terasa sama. Wajah yang kulihat bukan lagi wajah yang biasa kulihat. Aku merindukannya.

Ketika aku merebahkan tubuhku dengan berbagai macam obat menghantuiku, aku membenci diriku sendiri karena harus jatuh sakit di hari dimana Baekhyun dan Jongin pulang dari China.

Terdengar suara ketukan pintu; kupikir itu ibuku yang membawa obat untuk menyembuhkanku. Tapi, apakah obat itu dapat menyembuhkan cinta ini? Karena kupikir aku demam karena penyakit cinta yang melandaku.

"Tidak dikunci, bu. Masuk saja"

Aku mendengar langkah kaki ibuku. Biasanya, ia akan mengoceh tentang bagaimana aku tak dapat mengurus diriku sendiri dan beberapa ocehan tentang meminum vitamin dan tidak bermain hujan-hujanan seperti bocah berumur tujuh tahun. Untungnya, ia tak mengoceh apapun hari ini jadi aku tetap mendekam pada selimutku.

"Hi Chanyeol"

Aku tak pernah merasa semalu ini selama masa hidupku; mendengar suaranya, aku terkejut dan tubuhku tiba-tiba saja melompat dari ranjang, menatap diriku sendiri dan sang pembuat suara.

Aku merasakan pantatku mendarat pertama di lantai. Aku mendengar suara tawa yang tak asing lagi.

"Maaf mengagetkanmu"

Itu adalah Baekhyun.

Aku merindukanmu. Aku ingin meneriakkannya.

"aku membawa ini" ujar Baekhyun tiba-tiba sembari menunjuk kearah keranjang buah dengan pita di pegangannya yang ia letakkan di meja sebelah ranjangku. "Kuharap buah-buah itu akan membuatmu merasa lebih baik" ucapnya sembari tersenyum.

Tanpa kuketahui, Baekhyun adalah obatku.

Aku merindukanmu. Aku ingin dia tahu.

Sejujurnya, aku merasa lebih baik akhir-akhir ini, obat-obatan itu sekali lagi menunjukkan khasiatnya namun melihat Baekhyun repot-repot membawakan buah kemari, mungkin seharusnya aku berpura-pura kepalaku sakit.

Satu lagi, kurasa bagus juga jika Baekhyun berpikiran bahwa aku benar-benar sakit yang mana, memang benar. Namun kini suhu tubuhku telah turun dan kepalaku tak senyeri dulu, namun hatiku rasanya siap meledak kapanpun ia mau.

Kami menghabiskan siang itu dengan berbincang-bincang. Untungnya, setengah dari wajahku tersembunyi dengan sempurna dibawah selimut. Jadi, setiap kali pipiku merona merah, Baekhyun tak akan bisa melihatnya. Aku sama sekali tak fokus dengan apa yang dibicarakannya, sesuatu tentang apa film yang dilihatnya bersama Jongin, karena jantungku berdebar-debar – berdetak keras di dalam dadaku berkat kehadiran Baekhyun dikamarku; membuatku merasa jauh lebih baik. Baekhyun adalah penyembuhku.

"Kau mau apel, Chanyeol?" tanyanya tiba-tiba.

Aku menurunkan selimutku sampai diatas dada dan mengangguk lemah.

"Berhentilah bersikap imut, Chanyeol" Baekhyun terkikih sembari mengambil sebuah apel. "Uhm, kurasa aku membutuhkan pisau. Tak apa jika aku menelusuri dapurmu untuk mencari pisau?"

"Pisau, di lantai bawah. Bersebelahan dengan ruang keluarga, laci kedua dekat dinding" ujarku cepat, dan untungnya, Baekhyun memahaminya.

"Kuanggap itu sebagai jawaban ya" dengan itu, Baekhyun pergi.

Aku benar-benar tak peduli jika Baekhyun menelusuri setiap sudut rumahku namun aku benar-benar menginginkannya pergi sejenak karena dari caranya menyebutku imut, aku benar-benar tak bisa mengkontrol debaran dalam dadaku.

Setelah ia pergi, aku duduk di ranjangku; menarik selimut dan menekuk salah satu lututku sembari bersandar pada dinding, meletakkan tanganku di dada, merasakan debarannya tiap detik.

Aku tak tahu apakah bagus jika aku jatuh cinta.

Aku tak tahu sampai kapan debaran ini hidup di dalam setiap otot dan rusukku.

Cinta membuat kita melakukan banyak hal; merasakan berbagai macam emosi; memikirkan hal apapun. Namun bagiku, cinta membawakan beberapa apel yang telah dipotong, menyuapiku dengan hati-hati oleh seorang pria dengan jemari halus dan putih bernama Baekhyun dengan sebuah senyuman tersungging dihadapanku.

Cinta memberikan hadiah yang luar biasa.

"Baekhyun, maukah kau bernyanyi untukku?"

Hening.

Aku, diriku sendiri, tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.

Aku berencana untuk menarik kembali perkataanku ketika Baekhyun bertanya balik,

"Lagu apa yang ingin kau dengarkan?"

Tersenyum senang, hasrat yang tinggi terdengar jelas dalam suaraku, "Baby don't cry"

Lagu yang diciptakan Baekhyun, Kyungsoo yang memberitahukanku ketika aku bertanya lagu apa yang sering ia mainkan di ruang piano. Setelah Baekhyun menemukan cara supaya Kyungsoo dan Jongin berpacaran; kami berempat semacam memiliki ikatan yang erat. Kyungsoo dan Baekhyun jadi semakin dekat karena mereka berdua mengambil kelas vocal, yang mana, membuat mereka sering berlatih bersama di ruang musik.

Aku selalu menunggu Baekhyun memainkan Baby don't cry dengan piano setelah kelas usai, aku bahkan tak tahu mengapa aku harus berdiri dibalik dinding untuk mendengarkan permainan Baekhyun. Aku tak pernah menyadari bahwa aku selalu berdiri di tempat yang sama tiap harinya hanya untuk mendengarkan permainannya namun tak sekalipun aku mendengarkannya nyanyiannya. Saat itu aku masih tak sadar akan perasaanku padanya. Dan hari ini, aku mencoba mendorong keberuntunganku untuk membuat Baekhyun menyanyikan Baby don't cry.

Tak ada yang mengetahui liriknya, hanya Baekhyun yang tahu.

Baekhyun terdiam selama beberapa saat, aku sudah yakin bahwa ia akan menolaknya, namun ia memberikanku sebuah senyuman sembari berkata lembut, "Okay"

Aku rasa keberuntungan selalu bersamaku tiap saat.

Baekhyun menghempaskan dirinya ke kursi supaya ia dapat bernyanyi dengan nyaman, "Tunggu, dari mana kau tahu soal Baby don't cry?"

"Kyungsoo pernah memberitahuku bahwa kau menulis lagu itu. DANAKUBENARBENARINGINMENDENGARNYA… TOLONGLAH"

Baekhyun tertawa, "Okay, ini adalah pertama kalinya aku menyanyikan ini"

Aku tahu.

"Berbahagialah bahwa kau adalah orang pertama yang akan mendengarnya" godanya.

Pasti.

Kemudian, sihir itu kembali muncul.

"Deoneun mangseoriji ma jebal"

Kemudian, ia mulai bernyanyi. Mataku menatap kagum kearahnya ketika ia menyanyikan bait demi bait.

"Nae simjangeul geodueo ga"

Terkadang, aku merasa bahwa kita tak menyadari bahwa waktu terus saja berjalan.

Sering kali kita membuang-buang waktu hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna.

"Geurae nalkaroulsurok joha"

Saat Baekhyun bernyanyi, aku berharap waktu akan berhenti karena aku duduk di ranjangku; mata terbuka lebar, mulut menganga, debaran jantungku berdetak lebih pelan namun aku tahu bahwa jantung ini berdetak keras hanya untuk Baekhyun.

Waktu yang sangat sedikit namun banyak yang harus dilakukan.

Aku ingin mencintai Baekhyun setiap detik, setiap menit dan setiap jam.

"Dalbit jochado nuneul gameun bam"

Aku benar-benar mencintai Byun Baekhyun.

Baekhyun menyanyikan beberapa lagu lagi. Rasanya seperti sebuah sihir dan aku berharap sakit ini tak kunjung sembuh sehingga aku bisa memiliki Baekhyun untuk diriku sendiri walaupun dia hanya datang untuk, menceritakan sebuah cerita, memotong apel, menyanyikan beberapa lagu ataupun hanya duduk dalam diam. Selama Baekhyun ada disampingku, aku akan sangat mensyukurinya.

Tak ada lagi yang kuinginkan dalam hidup kecuali memiliki Baekhyun disampingku.

Kami tak menyadari bahwa hari telah larut ketika aku mendengar suara keras ibu yang membuat pusing kepalaku.

"PARK CHANYEOL, APA KAU SUDAH MINUM OBAT? SUDAH KUBILANG, KAU HARUS MI… oh, halo.." ibuku berteriak sangat kencang sampai ketika ia menyadari kehadiran Baekhyun.

"Halo, nyonya Park. Namaku Byun Baekhyun, teman Chanyeol" ia tersenyum sembari membungkuk kearah ibuku, membuatnya tersipu. Sebenarnya, melihatnya tersipu membuatku ingin muntah.

"Baekhyun, senang bertemu denganmu. Channie tak pernah membawa teman kemari kecuali Kyungie. Aku sampai heran apakah ia adalah anak yang terbully atau mungkin seorang pecundang di kampus"

"IBU!" Aku berusaha berteriak dari ranjang.

"Kau tak seharusnya berteriak TUAN MUDA"

"Aku jamin, Nyonya Park. Ia bukanlah anak yang terbully maupun seorang pecundang. Ia benar-benar ramah" sela Baekhyun, menyelamatkanku dari rasa malu yang berkelanjutan.

"Benarkah, Baekhyun?" ucap ibu seolah-olah ia meragukannya. "Well, kurasa ia benar-benar ramah melihat laki-laki sopan sepertimu mau berteman dengannya" Ibuku tertawa sementara aku mengerang. "Aku akan meninggalkan kalian berdua disini sementara aku menyiapkan makan malam. Baekhyun, sebaiknya kau tinggalah disini dulu, okay? Aku tak menginginkan jawaban tidak"

"Baiklah, Nyonya Park"

Dengan itu, ibuku meninggalkan ruangan sembari tersenyum menyeringai kearahku seolah mengatakan, Channieku sedang jatuh cinta.

Well, yang bisa kukatakan adalah, ibu paling mengerti kita.

Bersikeras bahwa aku terlihat terlalu lemah, Baekhyun membantuku turun, menyokong badanku. Aku bertanya-tanya bagaimana bisa pria mungil sepertinya membantu tubuh besarku turun. Aku tertawa hanya dengan membayangkannya yang membuat Baekhyun mengerutkan hidungnya.

"Apa kau sudah gila? Ya tuhan Chanyeol. Kau mengigau"

Kami tertawa lepas. Tawanya adalah musik ditelingaku.

Kepalaku masih terasa berat namun dengan Baekhyun menggenggam lenganku dan bahu kami bersentuhan; aku lebih khawatir akan keadaan jantungku. Perasaan ini terlalu berlimpah seakan-akan hati ini siap meledak kapanpun.

Makan malam berjalan cepat hari ini. Ibuku tak henti-hentinya berbicara; kurasa mereka bersenang-senang malam ini, ibuku dan Baekhyun. Keduanya tak berhenti berbicara dan mengabaikanku yang pada akhirnya asyik bermain dengan sup dihadapanku, tak pernah mengalihkan pandanganku dari Baekhyun. Tak lama kemudian, sudah waktunya bagi Baekhyun untuk pulang; menyelesaikan suapan terakhir ice creamnya untuk pencuci mulut, ia mengucapkan rasa terima kasihnya kemudian ibuku membawanya ke depan dengan aku mengikuti di belakang.

"Datang lagi lain waktu, Baekhyun-a" ibuku memeluk Baekhyun. "Aku akan membersihkan piring. Sayang sekali, anakku terlalu lemah untuk mengantarmu. Kau yakin kau tak ingin aku mengantarkanmu pulang?"

"Tak apa, Nyonya Park. Aku bisa pulang dengan selamat. Terima kasih banyak" dengan itu, ibuku meninggalkan kami berdua ke dapur, namun aku yakin ia sengaja meninggalkan kami supaya aku punya waktu untuk bicara dengan Baekhyun dan ada 99% kemungkinan bahwa ibuku sedang menguping kami sekarang.

"Terima kasih untuk hari ini, Chanyeol. Ibumu sangat baik!" ucap Baekhyun berseri-seri, matanya menunjukkan ketulusan.

"Seharusnya aku yang berterima kasih telah mampir" aku mengumpulkan keberanianku untuk berbicara walaupun jantungku masih saja berdebar-debar kencang.

"Tak masalah. Kau sedang sakit dan.." Baekhyun menundukkan kepalanya sedikit dan lengan kirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya ingin menemuimu"

Aku sangat terkejut akan ucapannya; mulutku menganga mendengar tiap ucapannya ketika hatiku berdebar-debar tiap menitnya di dalam dadaku.

"Aku… Aku.. Well, Uhm.." jelas sekali suaraku tak membantu sama sekali.

Baekhyun kelihatan terpaku namun ternyata ia mendongakkan kepalanya dan tersenyum kearahku namun senyumannya tak begitu mempesona.

"Well, ini sudah benar-benar larut jadi tampaknya aku harus pulang. Sampai jumpa besok di sekolah" Baekhyun pelan-pelan berjalan mundur dan melambaikan tangannya kearahku dan aku masih saja terpaku dengan apa yang dikatakannya barusan sampai-sampai aku tak bisa melambai balik. Yang lebih menyedihkan adalah ketika ia berjalan pergi, aku ingin sekali berlari dan memeluknya, memberitahunya apa yang ada dalam pikiranku ketika aku melihat senyumannya pagi ini namun ketika tubuhnya menghilang dari pandangan, saat itulah akhirnya suaraku kembali.

"Aku merindukanmu, Baekhyun"

Baekhyun tidak mengunjungiku keesokan harinya.

Kyungsoo mengatakan bahwa Baekhyun mempunyai banyak hal untuk dilakukan. Aku bertanya-tanya apakah aku melakukan sesuatu yang salah namun setiap kali aku memikirkan kembali kejadian kemarin, aku merasa tidak melakukan sesuatu yang salah.

Mungkin Baekhyun benar-benar harus melakukan sesuatu yang penting.

November 27, 2009.

Hari ini hari Jumat, namun hari ini bukan hari Jumat biasa. Hari ini singkirkanlah pikiran yang lain karena hari ini adalah hari ulang tahunku.

Dan hari ini akan jadi hari istimewa bagiku, Aku tahu itu. Jongin memberitahuku bahwa ia melihat sebuah kotak dibungkus cantik dengan kertas berwarna merah dengan garis-garis emas dan diatasnya diselipkan kartu ucapan, "Selamat ulang tahun"

Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari biasanya namun pikiranku hanya terfokus dengan apa yang ada didalam kotak itu. Kyungsoo dan Baekhyun masih belum terlihat, mungkin masih sibuk dengan persiapan paduan suara untuk liburan yang akan datang. Jadi disinilah aku bersama Jongin, berdua saja. Dan hal ini telah sering terjadi.

Jongin menggunakan penghapus yang terdapat diatas pensilnya untuk menusuk kepalaku sampai ia mendapat perhatianku, duduk dibawah pohon tertua di kampus.

"Apa?" akhirnya aku berbalik menatapnya.

"Dimana Kyungsoo?" responnya acuh tak acuh.

"Mungkin bersama Baekhyun"

"Sepertinya tidak. Hyung pergi lebih pagi hari ini"

Sebelum aku dapat bertanya lebih jauh, Jongin telah berdiri dan menyandang lengannya pada bahu Kyungsoo.

"Hey, Kyungie!" aku melambai padanya sembari masih tetap duduk bersandar pada pohon.

"Hey, Chanyeol. Bagaimana persiapannya?" tanyanya sembari melepaskan lengan Jongin dari pundaknya.

"Baik-baik saja. Pestanya dimulai jam 8, jangan sampai telat" Aku mengedipkan mataku.

"Tentu. Akulah yang membuat makanannya jadi tak mungkin aku datang terlambat" ia tertawa ringan.

"Kau benar-benar tak mengundang siapapun selain kita bertiga?" Tanya Jongin sembari menggeledah ransel Kyungsoo untuk mencari bento yang telah disiapkan kekasihnya.

"Ya. Aku sudah cukup senang hanya dengan kau, Kyungsoo, dan Baekhyun. Aku tak ingin mengundang siapapun lagi" ujarku dari hati yang paling dalam.

Jongin memberiku tatapan penuh belas kasihan palsu. "Kau tahu, mungkin kau mengatakan bahwa kau peduli padaku. Namun yang kau pedulikan hanya hyung" Kyungsoo tertawa mendengar perkataan Jongin dan aku merasa ada benarnya juga. Aku tertawa bersama mereka.

"Jadi, dimana Baekhyun?" Tanya Kyungsoo.

"Dia bersamamu, kan?"

"Aku tak melihatnya hari ini. Ia tak menghadiri kelas hari ini dan dia juga tak ada di ruang musik" Kyungsoo menjelaskan, kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. Aku mengerutkan hidungku merespon perkataan Kyungsoo.

"Sudah kubilang, ia tak bersama Kyungie" ucap Jongin sembari mengunyah makanannya dan mengangkat sumpitnya keatas.

"Telepon dia" Kyungsoo mengatakannya seolah menelepon Baekhyun adalah hal yang biasa namun tidak bagiku. Aku ingin mengatakan sesuatu namun memutuskan untuk mengurungkannya sehingga mulutku membuka dan menutup beberapa kali.

"Okay, okay, Chanyeol. Hentikan. Akan kutelepon dia" aku adalah orang paling beruntung di dunia karena memiliki Kyungsoo sebagai sahabatku. Ia tahu apa yang harus dilakukan setiap saat.

Namun sebelum ia sempat menekan nomor Baekhyun, seorang laki-laki dengan terengah-engah menghampiri kami.

Memakai celana yang lebih ketat dari biasanya sedang pakaian putih berkerah Vnya melekat pas dibadannya, menunjukkan tulang selangkanya yang indah. Tas kurirnya menyandang di bahunya, jaket kulitnya hampir saja jatuh dari tasnya. Mataku terpaku pada lengannya yang tak kuketahui, sangat cocok dengan ukurannya. Aku berani bersumpah, seseorang harus menghentikan liur yang menetes dari mulutku.

"Jongin, berikan aku ponselmu. Tolong" Jongin melongo, ini pertama kalinya Baekhyun berkata tolong padanya.

"Jongin" ujar Baekhyun lagi. Hal itu menyadarkan Jongin dari kekagetannya dan langsung menggeledah ranselnya untuk menemukan ponselnya. Setelah menemukannya, ia memberinya kepada Baekhyun. Ia mengambilnya dengan cepat dan langsung menelepon seseorang.

"Maaf, aku minta maaf. Ponselku mati. Ya, aku akan segera kesana dalam beberapa menit" Baekhyun terdengar khawatir awalnya, namun ketika perbincangan berlanjut, kebahagiaan adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Baekhyun saat ini.

Perbincangan berakhir; Baekhyun tersenyum kearah Jongin. "Ini" memberikan ponselnya kembali pada pemiliknya. "Terima kasih, Jonginnie" Baekhyun hendak berjalan kembali namun dihadang oleh Kyungsoo.

"Kau mau kemana?"

"Aku harus pergi ke suatu tempat" Baekhyun ragu-ragu, namun pada akhirnya ia kembali berjalan.

Baekhyun sama sekali tak melihat kearahku. Tak sekalipun aku mendengar Baekhyun berbicara langsung padaku. Aku tak pernah menerima pesan, maupun panggilan. Dan melihat Baekhyun berpakaian seperti ini, kupikir ia telah bersiap-siap untuk pergi ke acara ulang tahunku. Namun kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum perbincangannya dengan seseorang di seberang sana memumuskan semua harapanku.

Sampai jumpa disana, Yifan.

"Hari ini ulang tahun Chanyeol, hyung"

Baekhyun berhenti berjalan ketika ia mendengar perkataan Jongin.

Ia berbalik kearah kami, "aku tahu. Aku akan segera kesana nanti. Aku berjanji. Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang" ia tersenyum lalu kembali berjalan menjauh.

Aku tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Kyungsoo menatapku dengan pandangan penuh belas kasihan namun aku mencoba untuk tersenyum kearahnya. Aku tak ingin mereka bersimpati terhadapku. Setidaknya Baekhyun berjanji untuk datang, bukan?

Jongin di sisi lain, tampak marah.

"Seharusnya kau menghentikannya, Chanyeol" ucapnya pahit.

"Jika ia harus pergi ke suatu tempat, biarkan saja" suaraku pecah di setiap kata yang kulontarkan. "Lagipula, ia telah berjanji akan datang"

Jongin menyisir rambutku dengan tangannya, "Kenapa hyung begitu bodoh?"

Aku tak berkata apa-apa lagi setelahnya. Aku menahan semua perasaanku dan memfokuskan diri pada perkataan Baekhyun. Aku akan datang. Aku akan datang. Aku akan datang.

Jam telah menunjukkan pukul 10 malam dan tampaknya, makanan akan segera habis. Kyungsoo telah menyanyikan hampir semua lagu yang ada dan Jongin sendiri sudah terlalu capek untuk menari namun Baekhyun tak kunjung datang. Aku bahagia mereka berdua ada disini untuk membuatku tersenyum, paling tidak mereka telah mencoba.

Pukul 11 malam, Kyungsoo mulai membersihkan sampah-sampah yang berserakan dengan dibantu Jongin.

Pukul sebelas lewat tiga puluh menit, rumahku terlihat bersih dan baru. Terima kasih pada Jongin dan Kyungsoo.

Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, Kyungsoo dan Jongin mengucapkan selamat tinggal.

Pukul sebelas lewat lima puluh lima menit, aku berjalan ke kamarku; aku mendengar suara ketukan pintu. Mungkin Kyungsoo melupakan sesuatu.

Jam terus saja berjalan, menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh tujuh menit, aku membuka pintu.

"Kyungsoo, kau bisa saja.."

Seseorang memelukku dengan sangat erat.

"Maafkan aku"

Sebelas lewat lima puluh delapan menit.

Saengil Chukkahamnida

Saengil Chukkahamnida

Saranghaneun Chanyeollie

Saengil Chukkahamnida

Sebelas lewat lima puluh Sembilan menit.

Aku menerima sebuah kecupan lembut di pipiku.

"Selamat ulang tahun, Chanyeol"

Hari itu adalah hari ulang tahun terbaikku.

November 28, 2009

Sebuah senyuman terekat erat di wajahku, meringis seperti seorang idiot. Kyungsoo dan Jongin menatapku curiga.

"Kau membatu semalam?" tanya Jongin penuh selidik sembari mencolek pipiku.

"Ceritakan. Apa yang terjadi?" Kyungsoo terdengar sangat bersemangat, ia menggeser kursinya tiap saat dan ia menggoncangkan tubuhnya dengan canggung. "Aku tahu sesuatu telah terjadi. Apa itu? Apa itu?" aku tak pernah melihat Kyungsoo seperti ini sebelumnya.

"Well"

"Apa? Apa?" Kini Kyungsoo menggoyang-goyangkan tubuhku, tangannya bersandar di bahuku dan mengguncang-guncangkannya.

"Baekhyun datang setelah kau pulang" jawabku terburu-buru, ketakutan membayangiku ketika Kyungsoo menatapku.

Mata Kyungsoo memang lebar namun hari ini matanya tampak lebih lebar. Tangannya melepaskan diri dari bahuku namun ternyata ia melakukan sesuatu yang tak terduga setelahnya. Ia berbalik kearah Jongin, melebarkan telapak tangannya seolah-olah meminta sesuatu.

"50.000 wonku, please"

"Kau bertaruh tentangku?"

"Tidak, bodoh" jawab Jongin. "Kita bertaruh tentang kakakku. Kira-kira ia akan datang atau tidak"

"Tak baik bertaruh seperti itu" aku merespon.

"Tapi ia datang kan, itu yang penting" Kyungsoo mengedipkan matanya. "Sekarang, ceritakan semuanya"

"Ia memberiku ini" aku mengeluarkan sebuah kalung yang melingkar indah dileherku, pakaianku menyembunyikannya dari pandangan orang lain, menampakkan sebuah tutup botol perak.

"YANG BENAR SAJA?" Jongin mengangkat tangannya, kejengkelan terlihat jelas dalam suaranya.

"Apa itu?" Jika bersikap sarkasme adalah cara terbaik untuk menghina seseorang, aku tak tahu apa yang Kyungsoo lakukan namun jelas bahwa apa yang dilakukannya lebih kejam daripada bersikap sarkasme.

"Tutup botol"

Pandangan yang diberikan Jongin dan Kyungsoo sangatlah lucu. Lebih lucu daripada tatapan penghinaan yang penuh kejengkelan dan keraguan.

"Tutup botol soda" aku menjelaskan lagi supaya mereka lebih mengerti maksud ucapanku.

"Benda yang biasanya ada diatas botol soda…"

"AKU TAHU APA ITU! AKU INGIN TAHU MENGAPA KAKAKKU MEMBERIMU SEBUAH TUTUP BOTOL?"

"Itu rahasia, Jongin"

Baekhyun menghampiri kami saat ia menepukkan tangannya ke bahu Jongin sembari menatapku; ia tersenyum padaku.

Aku benar-benar mencintai Byun Baekhyun.

May 5, 2010

"Apa yang harus kubeli, Jongin?"

Air mata mulai membasahi wajahku.

"Hentikan. Kau terlihat seperti seorang gadis yang terjebak di dalam tubuh laki-laki dengan tinggi 184cm" ejek Jongin.

Kami sudah mengitari mall selama 4 jam untuk mencari hadiah apa yang tepat untuk ulang tahun Baekhyun.

"Mall akan segera ditutup" ucapku tampak menyerah.

"Aish! Aku tak tahu harus memberikan apa pada hyung!" Jongin mengacak-acak rambutnya frustasi. "Perjuangan Kyungsoo akan sia-sia" kata-kata itu sepertinya membangkitkannya.

Mendesah berat, ia berjalan menuju toko make-up, "Aku akan memberinya eyeliner"

"Kukira kau tak suka jika ia memakai eyeliner"

"Ia menyukainya. Tapi, yeah, aku tak ingin ia memakainya karena setiap kali ia menggunakan eyeliner, semua laki-laki dan perempuan akan mengejarnya. Dan kau tahu, aku yakin dia akan memakainya setiap hari karena ini adalah pemberian adik kecilnya?" ia tersenyum menyeringai dan mengedipkan matanya.

Aku buru-buru mengikutinya masuk untuk menahannya, "Yah, yah. Kim Jongin, jangan beli itu" namun terlambat, ia telah membelinya.

"Kau bukan satu-satunya pria yang mengejar kakakku"

Aku memukul lengannya ringan sebagai tanda bahwa aku tersipu mendengar perkataannya.

"Sekarang, aku harus mencari sesuatu untuknya"

Satu jam telah berlalu namun aku belum menemukan apa yang aku inginkan. Dan aku telah menyuruhuh Jongin pulang tiga puluh menit yang lalu.

"Oke, satu kali lagi. Aku yakin aku akan menemukannya"

Aku mengitari sebuah toko satu kali lagi, berharap menemukan sesuatu yang bagus mengingat mall akan ditutup lima belas menit lagi dan aku belum mendapatkan apapun.

Berlari mati-matian, mengabaikan pandangan sang pemilik toko, aku bersusah payah mencari hadiah yang tepat sampai mataku tertuju pada sebuah benda.

Dengan terengah-engah, "Aku ambil ini"

Tepat pada waktunya, Tuhan benar-benar mencintaiku.

"Ini akan menjadi hadiah yang sempurna"

May 6, 2010

"Seharusnya ia tiba 5 menit lagi" Jongin memberitahukan saat aku menemukan tempat yang benar-benar payah untuk bersembunyi. Jongin bersembunyi dibalik piano; Kyungsoo menyandarkan dirinya dibelakang rak buku sedangkan aku bersembunyi dibalik pintu.

Sepuluh menit telah berlalu dan masih tak ada tanda-tanda kehadiran Baekhyun.

"Kau yakin kau sudah mengiriminya pesan, Jongin?" Tanya Kyungsoo.

"Ya, aku yakin. Dan dia sudah menjawab bahwa ia akan datang" Jongin sedang melawan rasa dingin yang menusuknya karena ia berdiri tepat di bawah air conditioner.

Kemudian, kami mendengar suara daun pintu terbuka, kami buru-buru mengambil posisi ketika pintu tersebut terbuka lebar.

"SELAMAT ULANG TAHUN!" ucap kami bersamaan, menyapanya dengan penuh kebahagiaan.

Baekhyun mengucapkan terima kasih berkali-kali. "Kalian, karena itulah aku tak menemukan kalian dimana-mana" ia memukul Jongin pelan, "Jadi disini kau rupanya"

"Aku mencintaimu, hyung!" Jongin memeluk Baekhyun.

"Untukmu, Baekhyun" Kyungsoo menyerahkan hadiahnya kemudian Baekhyun menariknya ke dalam pelukan hangat.

Sebuah senyuman terpampang diwajahku karena aku tahu, aku bisa memeluk Baekhyun lagi. Ia memeluk Jongin dan Kyungsoo dan aku pasti akan mendapat pelukan juga darinya, aku tak bisa menyembunyikan rasa semangatku. Aku sangat gelisah. Jongin tertawa. Ia terlalu mencintai kesengsaraanku.

"Hey, mana hadiahku?" Baekhyun menyenggolku sembari mengulurkan tangannya, menunggu hadiah dariku.

"Aku akan memberikannya nanti" jawabku. Aku ingin hadiahku dibuka terkahir. Aku tak dapat pelukan karena Jongin telah mengatakan bahwa ia lapar. Setelah itu, kita mulai makan, dan Baekhyun tak memberiku pelukan.

Baekhyun mulai membuka hadiahnya. Kyungsoo memberikannya sebuah jaket kulit. Jongin tak hanya memberikannya sebuah eyeliner, namun disertai dengan sebuah kotak misterius.

Setelah beberapa menit bersenda gurau, Jongin dan Kyungsoo pamit pergi. Mereka bilang mereka ingin pergi ke suatu tempat namun aku tahu mereka hanya ingin meninggalkanku berdua dengan Baekhyun.

"Kudengar kau pandai bermain gitar"

Aku terkejut ketika ia tiba-tiba berkomentar.

"Uhm, Well, Y-yeah"

"Hmm.. Aku selalu ingin belajar bermain gitar. Aku telah mencobanya dan gagal" Baekhyun menjulurkan lidahnya.

Menyenangkan melihat Baekhyun bertingkah imut.

"Aku akan mengajarimu" ujarku. Baekhyun tak menjawab. "Well, kalau kau mau. Kalau kau tak mau, tak masalah"

"Aku mau"

Ia tersenyum.

Duniaku serasa berhenti.

Aku menghabiskan tiga jam berikutnya dengan mengajari Baekhyun dasar-dasar bermain gitar. Rasanya seperti surga tiap kali jemariku menyentuh jemarinya untuk meletakkannya di senar yang benar.

Ia berhasil mempelajari beberapa nada-nada dasar. Aku merasa bangga sebagai gurunya. Aku bisa saja mengajarinya lagi namun petugas kebersihan telah meminta kami keluar karena ruangannya akan segera ditutup.

Jam telah menunjukkan pukul 8 malam ketika kami keluar.

Aku mengantar Baekhyun pulang. Kami telah sampai di rumahnya.

Lampu masih menyala terang.

"Jongin sudah pulang" ucap Baekhyun. "Lampunya masih menyala. Aku bertanya-tanya apakah Kyungsoo ada di dalam" tambahnya dengan sebuah tawa kecil.

"Jadi…" Baekhyun memulai pembicaraan, tersenyum malu-malu. "kau akan pulang dan aku masih belum menerima hadiahmu"

Aku tertawa kecil namun Baekhyun tampak tidak senang.

"Yah, kenapa kau tertawa. Kalau kau tak mau memberikan hadiahmu, tak apa" Baekhyun membalikkan tubuhnya namun dengan cepat aku menahannya dan mendekap wajahnya dalam pelukanku.

"Selamat ulang tahun, Byun Baekhyun"

Walaupun wajah Baekhyun masih mendekap didadaku, aku mendengarnya berkata, "Terima kasih, Park Chanyeol"

Pelan-pelan, aku melepaskan pelukanku dan membuka ranselku untuk mencari sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas perak.

"Ini"

Baekhyun mengambilnya dan segera melepas ikatan pitanya. Saat ia membuka kotaknya, mataku tak pernah lepas darinya, ingin tahu bagaimana reaksinya.

Aku meringis lebar saat melihat senyuman tersungging di bibirnya.

"Ini sangat indah, Chanyeol. Terima kasih" ia memandangku dan pikiranku melayang kembali ke hari dimana kami pertama kali bertemu saat Baekhyun memberikanku senyumannya yang paling indah.

Keesokan harinya, Baekhyun tersenyum cerah.

Ia terlihat sangat cantik, memakai eyeliner tebal yang cocok dengan celana ketatnya, pakaian putih longgarnya memperlihatkan tulang selangkanya.

Aku tak peduli jika laki-laki dan perempuan melihatnya dengan penuh nafsu.

Baekhyun menghampiriku.

Mataku tertuju pada benda yang ada di lehernya.

"Hey" sapanya.

"Hi, hyung. Kau terlihat luar biasa hari ini"

"Aku memakai eyeliner yang kau berikan. Cocok denganku" ia tersenyum.

"Wow" ucap Kyungsoo ketika tangannya melusuri benda yang tergantung di leher Baekhyun. "ini sangat indah, Baekhyun"

"Aku tahu" ucapnya bangga.

Apa yang dipakainya adalah sebuah kalung emas putih. Terdapat dua benda tergantung di kalung itu. Sebuah cincin, dan sebuah mic. Di cincinnya terukir nama "Baekhyun"

"Chanyeol memberikannya untukku"

Ia tersenyum.

Saat itu, kami tak terpisahkan.

October 27, 2010

Kenangan lama seakan hadir kembali dalam pikiranku saat aku dan Baekhyun duduk di café yang sama dengan café tempat Jongin dan Kyungsoo berkenalan. Kami tinggal disana selama satu jam.

"Aku benci hujan" ucap Baekhyun sembari menyesap kopinya.

"Aku membencinya jika aku tak membawa payung bersamaku" jawabku, mencoba bergurau. Kurasa aku berhasil karena Baekhyun tertawa.

"Aku cinta payung" ucapnya sesaat setelah ia berhenti tertawa.

"Kenapa?" Aku mulai penasaran.

"Karena kau tak membawanya" ia tersenyum, matanya tertuju kepadaku dan saat itulah, jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya; setiap ucapannya melekat dalam jiwaku.

"Dan aku harus berbagi payung bersamamu" tambahnya sembari bangkit dari duduknya. Mulutku melongo lebar, jiwaku telah terbang ke surga. Jantung berdetak keras, punggungku tiba-tiba sakit tanpa sebab.

"Aku ingin pergi ke suatu tempat" kata Baekhyun lagi sembari mengulurkan tangannya kearahku. Aku tak mendapat kesempatan untuk berbicara ketika aku menggenggam tangannya dan membiarkannya menuntunku.

Hari masih hujan namun aku tak peduli karena saat kami berjalan, badan kami bersentuhan. Satu-satunya hal yang berbeda sekarang adalah, akulah yang membawa payungnya sedangkan Baekhyun melingkarkan lengannya di lenganku.

Aku disambut dengan wajah yang tak asing lagi.

Kami telah sampai di tempat tujuan dan aku menemukan diriku kebingungan disana.

"Kita kembali ke kampus"

"Yup" lengan Baekhyun masih mengitari lenganku.

"Kau ingin kesini"

"Berhenti bicara dan ikuti saja aku"

Aku melakukannya. Dan sampailah aku di aula yang familiar.

"Aku ingin sekali menyelinap kemari, tempat favorit keduaku di kampus ini, yang pertama adalah tempat kita biasa berkumpul dengan Jongin dan Kyungsoo"

Aku membiarkan Baekhyun berbicara karena suaranya dapat menenangkanku. Suaranya adalah hal kedua favoritku di dunia ini. Baekhyun adalah yang pertama, tentu saja. Seharusnya aku mengutuk diriku sendiri karena telah bertingkah aneh.

Ia berhenti tepat di depan panggung.

"Tahun lalu, di tanggal yang sama, kami tampil disini" kebanggaan terdengar jelas dalam suara Baekhyun.

"Kau benar-benar tampil dengan baik hari itu" aku tak sedang membual ataupun berbohong kepadanya tapi suara Baekhyun benar-benar bagus. Mungkin aku semakin jatuh cinta padanya berkat suaranya.

"Terima kasih"

Aku tahu ia sungguh-sungguh, aku bisa merasakannya.

"Kau tahu Chanyeol, tak ada yang namanya tidak adil di dunia ini. Orang-orang mengalami berbagai macam level penderitaan dan itu semua bergantung kepada seberapa keras mereka berusaha"

Aku tak tahu mengapa Baekhyun memberitahukan hal ini padaku atau mungkin memulai sebuah diskusi denganku tentang perkara ini. Namun aku hanya mengangguk dan menyiapkan telingaku untuk mendengar lebih.

"Sudah dua tahun sejak kita pertama kali bertemu"

Aku terpaku. Ia mengingatnya.

"Waktu berjalan cepat"

Aku mengulang kembali hari-hari yang telah kami lalui. Tahun pertama adalah ketika kami saling mengejek satu sama lain namun pada akhirnya, kami akan menggoda Kyungsoo dan Jongin. Setahun telah berlalu dan aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.

Hari ini, 27 Oktober 2010.

Ketika aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 8:42 malam.

"Kau tahu, aku selalu ingin tampil di depan miliaran orang, di tempat yang lebih besar dari ini. Aku ingin semua orang mendengarku bernyanyi" jemari Baekhyun menelusuri bagian ujung panggung dengan wajah sedih.

"Kurasa kau akan jadi penyanyi terkenal" Mungkin suaranya sedang tidak terlalu bagus hari ini jadi aku mencoba untuk menghiburnya.

Tatapan yang ia berikan padaku menunjukkan keputus-asaan serta kekalahan.

"Aku tak bisa, Chanyeol"

Kesedihan tiba-tiba menghinggapi kami.

Biasanya, aku akan bertanya-tanya padanya, namun hari ini, aku tak ingin mendengar penjelasan apapun. Aku tak ingin mendengar apapun.

Sebelum Baekhyun meneruskan ucapannya, aku mundur beberapa langkah.

"Tunggu disini, Baekhyun. Aku hanya akan mengambil sesuatu. Aku akan kembali, jadi tunggulah"

Sebelum meninggalkan ruang aula, aku melihat Baekhyun mengangguk.

Aku berlari secepat mungkin supaya tiba di ruangan tersebut dengan cepat. Mengabaikan hujan dan buku-buku di ranselku, namun seharusnya aku meninggalkan mereka di aula. Aku harus segera mendapatkannya, aku harus segera melakukannya. Meinjakkan kaki di lantai empat gedung kampus kita, dengan lega, aku melihat benda yang aku cari. Mengambilnya secepat mungkin dan segera berlari kembali.

Terengah-engah, berkeringat, jantung berdebar kencang, aku tiba di aula hanya untuk menemukan Baekhyun duduk di salah satu kursi, mengerucutkan bibirnya sembari menggoyang-goyangkan ponselnya dengan antusias. Mungkin ia sedang bermain game. Aku tersenyum karena ia tidak pergi. Aku berjalan pelan-pelan menuju panggung.

Saking sibuknya dengan ponsel di genggamannya, ia tak menyadari kehadiranku yang telah duduk manis diatas panggung dengan gitar dipangkuanku; sampai aku mulai bermain dan membiarkan suaraku keluar, mengeluarkan semua rasa dihatiku yang telah kusimpan setahun ini.

Hatiku berdebar-debar hanya dengan satu kata darimu, aku terbata-bata, apa yang aku katakan?

Aku terlihat tolol karena aku terus membuat kesalahan, tolong mengertilah perasaanku, tolong mengertilah

Semua yang kukatakan terasa canggung

Menulis pesan untukmu masih terasa sulit

Aku membuka kamus dan halaman demi halaman, aku ingin tahu, ingin tahu. Aku tidak tahu

Aku mengirimkan 143

Aku tetap tak bisa mengekpresikan perasaanku dengan kata-kata whoa oh oh

Mengirimkan 143, ini bukanlah permainan angka yang sederhana whoa oh oh

Aku mencintaimu 143, Kau adalah 486

Mengirimkan 143, kita sungguh berbeda

Mengirimkan 143, masih terasa sulit bagiku

Ini bukanlah permainan angka 143 yang sederhana

Aku membiarkan gitar tersebut jatuh ditempatnya sementara talinya masih tergantung di bahuku. Aku menggenggam dadaku, merasakan debarannya tiap saat. Aku membuka mataku dan melihat Baekhyun berdiri dihadapanku. Air mata jatuh dari pelupuk matanya.

Aku tak siap mendengar jawabannya. Diterima? Ditolak? Aku tak mengharapkan apapun. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku.

"Baekhyun-a"

Baekhyun berdiri terpaku, ponselnya telah jatuh ke lantai; mungkin terlepas dari genggamannya.

"Saat dimana kau menggenggam tanganku, mengajakku berlari keluar meninggalkan Jongin dan Kyungsoo sendirian di café itu; caramu menyanyikan sebuah lagu ketika aku sedang sakit; tutup botol coca cola yang aku terima sebagai hadiah ulang tahunku yang paling bodoh namun hadiah tersebut menjadi istimewa karena kau yang memberikannya"

"Selama setahun ini, aku selalu menunggumu dari jauh. Mendengarkanmu bermain piano setiap hari sementara aku menunggu di sebelah ruang"

Baekhyun menggelengkan kepalanya, rasanya perih.

"Kau pernah berkata padaku bahwa cinta tidak datang dari hati melainkan pikiran. Hanya dari pikiran"

Air mata mengalir deras dari pelupuk mata Baekhyun.

"Tapi kenapa aku merasakan jantungku berdegup kencang ketika kau berada di dekatku? Tapi kenapa hatiku terasa sakit ketika melihatmu bersedih? Tapi kenapa jantungku berdebar kencang ketika mendengarkanmu bernyanyi?"

Baekhyun berjalan mundur pelan-pelan. Sangat sakit melihatnya, apakah ini sebuah penolakan? Tapi aku tetap melanjutkannya, sekarang atau tidak sama sekali.

"Baekhyun-ah"

Aku turun pelan-pelan dari atas panggung untuk mendekatinya. Kami hanya terpisah beberapa langkah.

"Aku mencintaimu, Baekhyun"


part 3 sudah selesai, yeay. mungkin sedikit lebih cepat dari yang aku harapkan karena masih ada beberapa fic yang harus aku translate jadi rasanya kaya kejar tayang /slaps. chap 4 bakalan agak lama dipost karena minggu depan aku ada ospek jurusan jadi harus fokus dulu sama ospek /sobs/ terima kasih antisipasinya untuk fic ini, aku sangat berterima kasih pada kalian semua ^-^ terima kasih juga buat theusualfan yang sekali lagi, memberikanku ijin untuk mentranslate ff ini. RnR maybe? thank you~