October 27th, 2011

Aku menemukan diriku bermain gitar di depan kerumunan orang-orang di atas panggung yang sama dengan Baekhyun 2 tahun yang lalu.

Aku menyanyikan lagu yang dimaksudkan untuknya; lagu yang aku nyanyikan setahun yang lalu di panggung yang sama—di tanggal yang sama.

Ini bukanlah sebuah hobi maupun tugas; melainkan, ini adalah apa yang aku sukai. Aku suka menulis lagu, bermain gitar, dan musik sudah menjadi energiku selama bertahun-tahun; tidak sampai aku jatuh cinta. Dan sekarang, yang kusukai adalah musik dan Baekhyun.

Orang-orang bersorak; wajah yang tersenyum memenuhi ruangan tetapi, semuanya menjadi kabur.

Ini adalah penampilanku yang terakhir di universitas. Mungkin, penampilan terakhirku di Korea.

Dan aku meletakkan segala sesuatu tentang hal ini; dan aku berharap musikku, suaraku mencapainya

Di nada terakhir, aku membuka mata, aku berpegang tak berdaya pada akhirnya setitik harapan merangkak keluar dari hatiku. Aku tetap berdoa, berharap aku bisa melihat seorang yang aku cintai bertahun-tahun.

Dentuman jantung terus naik dan turun; pada titik tertentu, aku pikir bahwa aku kehabisan oksigen, secara perlahan, kelopak mataku terbuka.

Tetapi, dia tidak ada di sana.

Baekhyun tidak ada di sana.

November 27, 2010

Sehari setelah aku mengaku pada Baekhyun, aku merasa seperti hanya tertidur tetapi aku mengalami mimpi buruk.

Semuanya tidak terjawab. Baekhyun tidak menghadiri ujian terakhirnya.

Baekhyun tidak mendaftar pada semester berikutnya. Kita tidak akan lulus bersama-sama.

Aku tidak pernah melihat Baekhyun lagi semenjak hari di mana aku mengaku padanya.

"Hey, sobat, bergembiralah!" Jongin menepuk bahuku saat ia memberikan sekaleng bir padaku.

"Bersenang-senanglah, Yeol." Kyungsoo tersenyum lembut. "Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Kau berhak untuk bahagia."

Kyungsoo benar-benar yang terbaik dalam membentuk kalimat. Aku berhak untuk bahagia. Aku tahu, tapi aku tak bisa. Kesedihanku muncul dari keputusanku sendiri; bukan karena Baekhyun pergi; tidak juga karena aku tidak melihat Baekhyun sebulan ini.

Segala hal berjalan dengan lancar. Aku akan lulus beberapa bulan lagi dan sudah ditawari pekerjaan—pekerjaan impianku.

Aku seharusnya bahagia.

Jongin mengerutkan bibir berusaha membentuk seulas senyum terbaiknya tetapi aku pandai membaca pikiran orang lain, selain Baekhyun, karena kalian lihat, jika kalian di mabuk cinta, hal yang lain seperti tak berarti….

Dan Jongin tahu sesuatu.

Aku tahu.

"Aku senang. Kalian berdua ada di sini." Aku memberikan mereka senyum terlebarku.

Kyungsoo beranjak pergi, mungkin mengambil kue. Jongin melihat ke arahku, "Chanyeol." aku ingin sekali mengetahui apa yang akan Jongin katakan; dialah satu-satunya pengantar koneksiku ke Baekhyun.

"Lupakan, Hyung."

Jongin adalah penggemar terbesarku. Ketika ia mengetahui bahwa aku menyimpan perasaan pada kakaknya; ialah yang tersenyum paling cerah. Ia yang mendorongku untuk mencoba mendekatinya dan ialah yang selalu mendukungku. Jonginlah yang paling bahagia.

Jadi ketika aku mendengarkan ucapannya, aku merasa seolah-olah bom nuklir baru saja diledakkan.

Aku bisa mendengar suara Kyungsoo menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku namun aku mengesampingkannya. Pandanganku terkunci kearah Jongin. Matanya memancarkan kesedihan dan juga rasa bersalah.

Kyungsoo masih saja bernyanyi.

"Tidak" sebuah kata bergema di dalam ruangan, memotong nyanyian Kyungsoo.

Aku tak akan pernah bisa melupakan Baekhyun.

Namun jika ganjaran yang harus kuterima adalah hilangnya Baekhyun, dan aku harus rela melupakan perasaanku. Aku ingin waktu kembali berputar.

Aku tak ingin terbangun setiap hari dengan mengetahui bahwa ia tak ada disini.

Aku ingin melihat senyumannya. Aku ingin mendengar nyanyiannya.

Aku tak peduli jika ia menginginkan orang lain. Aku tak peduli jika aku melihatnya mencium orang lain. Aku tak peduli jika ia mengabaikanku. Aku hanya ingin ia berada di dekatku. Aku ingin melihatnya.

Masalah ini tak akan selesai hanya dengan melupakannya. Cara itu adalah cara terbodoh yang pernah kudengar. Lebih baik jika aku tetap memujanya diam-diam daripada harus menghabiskan hari-hariku tanpanya.

Aku menyalahkan diriku sendiri. Seharusnya aku tak menyatakan perasaanku padanya. Aku bingung. Semua hal yang berkaitan dengan Baekhyun membuatku bingung. Kenapa ia lari ketika aku menyatakan perasaanku padanya? Kenapa ia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun? Kalau ia membenciku seharusnya ia bisa langsung menolakku. Jika ia tak menginginkanku, ia bisa mengatakannya langsung di depanku. Namun ia tak melakukan apapun. Pertanyaan tersebut terlalu lama menggantung di pikiranku.

Atau akukah yang terlalu berharap?

"Maafkan aku, Chanyeol. Aku seharusnya memberitahu hal ini padamu dari dulu" Jongin, membuyarkan lamunanku, tiba-tiba berkata sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Jongin" Aku dapat mendengar Kyungsoo berbisik seakan ia menyuruh laki-laki itu untuk berhenti berbicara. Nadanya terdengar seolah ia memperingatkan laki-laki yang lebih muda itu sedangkan aku sendiri telah menyiapkan perasaanku untuk patah hati lagi.

"Hyung meninggalkan Korea"

Ketakutan mulai menggerayangiku. Kesedihan mulai melanda pikiranku namun tak sebanding ketika Jongin memberikan sebuah kotak yang familiar padaku.

"Sialan kau, Kim Jongin. Hari ini hari ulang tahunnya" ucap Kyungsoo.

Saat aku membuka kotak itu dengan tangan bergetar, aku berjalan menuju kamarku. Hatiku berdegup ketakutan.

Air mata mulai jatuh membasahi wajahku ketika aku menemukan sebuah kalung perak familiar di dalam kotak tersebut.

Baekhyun mengembalikan hadiahku.

Malam itu adalah malam pertama aku menangis sampai jatuh tertidur.

December 23, 2010

Kyungsoo dan Jongin duduk dengan nyaman diatas sofa di apartmen yang kuhuni bersama Kyungsoo. Sudah lebih dari setahun sejak kami pindah kemari. Aku masih ingat Baekhyun ikut membantu kami pindah dan dia jugalah yang mendekorasi ruangannya.

Ibu mendapat pekerjaan di luar Korea sehingga kami harus menjual rumah kami dan ia membelikanku sebuah apartemen. Ketika aku mengajak Kyungsoo untuk tinggal disana bersama, ia langsung menyetujuinya.

Sekarang, aku benar-benar berharap kami tak pernah membeli apartemen ini. Terlalu banyak kenangan tentang Baekhyun di apartemen ini.

Bagaimana ia dan Kyungsoo memerintah kami, menyuruh-nyuruh kami untuk membersihkan atau mengangkat sesuatu. Bagaimana ia selalu datang untuk memasak makan malam kapanpun ia ingin menginap. Bagaimana kami menghabiskan waktu dengan berkaraoke di malam hari. Terkadang, aku menyalahkan diriku sendiri, mungkin jika aku tak pernah menyatakan perasaanku, semuanya akan berjalan seperti biasanya. Mungkin hari ini, ketika aku membuka pintu apartment, Baekhyunlah yang akan menyapaku dengan sekantong kripik kentang dan soda di tangannya, namun tidak, Baekhyun tak ada disini.

"Hey sobat" Aku mendengar suara Jongin. "Ayo makan"

"Tidak lapar" jawabku lemah.

"Kau harus makan, Chanyeol. Berat badanmu turun drastis" Kyungsoo meledekku.

"Aku sedang tidak ingin makan" pelan-pelan, aku berjalan ke kamarku.

"Hyung ada di Cina" Jongin memberitahuku.

Aku berhenti berjalan ketika mendengar berita itu namun pada akhirnya aku melanjutkan berjalan sampai aku masuk ke dalam kamarku. Aku mendengar teriakan Kyungsoo yang menyuruh Jongin menutup mulutnya.

Aku tidak marah dengan Jongin, kenyataannya, aku bersyukur bahwa ia terus memberitahuku bahwa Baekhyun aman dan masih hidup diluar sana.

Selama sebulan, aku hampir tak bisa bertahan.

Pelan-pelan, aku merangkak ke ranjangku, mengeluarkan sebuah senyuman sembari membiarkan air mata menetes dari pelupuk mataku.

Cinta itu manis pahit.

Baekhyun aman. Namun Baekhyun tak ada disini.

Aku mencintainya. Namun apakah ia juga merasakan hal yang sama?

Aku memejamkan mataku, tak ingin memikirkan jawabannya.

February 14, 2011

"Kurasa kau harus move on, Chanyeol"

Kyungsoo tiba-tiba saja bercelutuk ketika kami sedang menikmati sarapan. Aku tak menjawab apapun. Tak pernah sekalipun. Setiap kali Kyungsoo memulai permbicaraan tentang Baekhyun, aku selalu menghindarinya; terkadang aku akan permisi ke kamar mandi ataupun ke kamarku, berpura-pura menerima panggilan telepon, tiba-tiba saja melatih kemampuan rapku, atau langsung mengacuhkan pertanyaan tersebut.

"Sudah berbulan-bulan, Chanyeol"

"Aku harus ke kamar mandi" ujarku, suaraku bergetar.

"Kau tak bisa terus lari, Chanyeol!" aku tak pernah mendengar Kyungsoo membentakku sebelumnya. Aku terkejut.

"Demi tuhan Chanyeol, Baekhyun melarikan diri darimu! Kau menyatakan perasaanmu padanya namun ia malah lari dan tak meninggalkan sepatah katapun. Bukankah itu termasuk sebuah penolakan? Chanyeol, kau hanya membuang-buang waktumu. Jangan menaruh harapan pada seseorang yang tak pernah menginginkanmu!" Mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca.

"Aku ingin mendengar langsung darinya"

"Sudah berbulan-bulan Chanyeol. Berbulan-bulan" Kyungsoo menangis.

Aku tak ingin sahabatku menangis, apalagi menangis karenaku. Ia merasakan kesakitanku namun waktu tak akan membiarkanku berhenti mencintai Baekhyun. Aku mencoba untuk melupakan perasaanku dengan keras — melupakan Baekhyun namun aku tak peduli jika ia lari tanpa meninggalkan sepatah katapun. Aku tak peduli jika ia mendorongku menjauh ketika aku mencoba memeluknya. Aku tak peduli jika setelah aku mengatakan 'aku mencintaimu', ia menggelengkan kepalanya dan berkata tidak. Aku tak peduli jika ia mengembalikan cincinku. Aku tak peduli jika ia tak mencintaiku karena aku mencintainya tanpa menginginkan Baekhyun untuk membalasnya. Aku mencintainya bukan karena aku berpikir bahwa ia akan balik mencintaiku. Aku mencintainya karena ia adalah Baekhyun.

"Berhentilah Chanyeol, jangan membuang-buang waktumu untuk mencintai seseorang yang tak mencintaimu. Menyakitkan melihatmu seperti ini" Kyungsoo terus menangis.

"Tapi kau melakukannya, Kyungsoo" ucapku. Kyungsoo menatapku bingung.

"Bertahun-tahun lalu, kau mencintai seseorang tanpa mengharapkannya untuk balik mencintaimu" Aku menjelaskan. "Dan di tahun-tahun itu Kyungsoo, aku melihatmu tertawa, menangis, dan marah. Namun kau terlihat sangat bahagia ketika kau jatuh cinta"

Kyungsoo menatapku sembari menangis sesenggukan.

"Kau mencintai Jongin. Kau mencintainya dari jauh; namun tetap saja, Kau mencintainya" Aku tersenyum sembari menepuk pundaknya sebelum pergi ke kamar mandi.

"Aku ingat kau pernah berkata padaku ketika aku bertanya mengapa kau mencintai Jongin, karena saat itu aku tak mengerti apa itu cinta namun kau berkata, cinta berada di puncak tertingginya ketika ia tak berbalas. Karena dengan itu, kau akan terus mencintainya tanpa mementingkan dirimu sendiri dan kau akan memberi semua yang kau punya tanpa mengharapkannya membalas perasaanmu"

"Aku melakukannya sekarang. Tak penting jika Baekhyun tak mencintaiku. Aku akan selalu bahagia karena Baekhyun masuk ke dalam kehidupanku dan aku jatuh cinta padanya. Aku tak ingin jatuh cinta pada siapapun lagi"

Dengan itu, aku berjalan menuju kamar mandi, menutup pintunya, menyalakan shower dan menangis.

Maret 25, 2011

"Hyung kembali ke Korea"

April 12, 2011

"Buatlah sebuah lagu untuk orang yang kau cintai, Chanyeol"

Kata-kata terakhir ayahku kembali bergema di pikiranku. Sudah 12 tahun sejak ia meninggal namun ia pergi dengan sebuah senyuman.

Ayahku adalah seorang komposer dan ia menulis melodi-melodi yang indah. Tetapi aku ingat saat ia berkata bahwa hasil kerjanya yang terbaik bukanlah melodi-melodi itu, melainkan aku, anaknya. Ia mengajariku cara bermain gitar sampai aku benar-benar terjerumus ke dalamnya. Di usia muda, aku telah membuat sebuah lagu dan ayahkulah yang mendengarkannya.

"Aku akan membuatmu bangga, yah" ucapku semangat dan ayahku akan selalu meresponnya dengan, "Aku yakin akan hal itu"

Saat-saat terbaik dalam hidupku adalah waktu yang kuhabiskan bersama ayah.

Saat itu memasuki bulan November ketika aku ditawari untuk bekerja di Cina dan mereka bilang bahwa ini hanyalah awalnya; sebuah latihan. Dan setelah beberapa tahun, aku bisa debut menjadi artis solo, membuat laguku sendiri. Rasanya seperti impian yang terwujud bagiku.

Impian ayahku.

Aku akan dilatih oleh perusahaan entertainment terbesar di Cina. Tawaran pekerjaan datang bergulir padaku segera setelah aku lulus dengan berbagai macam penghargaan. Penandatanganan kontrak akan segera dilakukan pada 25 Maret 2011.

Tak ada acara penandatanganan kontrak.

Baekhyun ada di Korea dan aku harus tinggal disini.

Mei 21, 2011

Sudah dua bulan sejak Jongin memberitahuku bahwa Baekhyun telah kembali ke Korea. Aku tak pernah bertemu dengannya. Tak ada tanda-tanda kehadiran Baekhyun.

Tapi entah mengapa, aku merasa tenang. Baekhyun ada di Korea dan hal itu menaikkan kesempatanku untuk melihatnya lagi. Ada sepercik harapan bahwa semua akan kembali seperti semula. Hanya itulah yang aku inginkan. Melihat Baekhyun lagi.

Juni 18, 2011

Tetap tak ada tanda-tanda kehadiran Baekhyun.

Tetapi aku tahu ia masih menetap di Korea. Jongin terus memberitahuku.

Juli 1, 2011

Aku sedang dalam perjalanan untuk sebuah wawancara kerja, satu lagi kesempatan untuk menunjukkan bakatku. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kyungsoo telah membuatkanku sarapan special untuk keberuntungan dan ia merahasiakannya takut-takut Jongin akan memakan semuanya.

"Semoga beruntung!" ia membenahi dasiku. "Tapi aku tahu kau akan mendapatkannya"

"Terima kasih" Aku tersenyum, dan kali ini, aku tulus melakukannya.

Sejak aku mengetahui bahwa Baekhyun ada di Korea, aku merasa serpihan kaca yang menusuk jantungku telah pergi. Setidaknya dia ada disini. Ia berada dekat denganku.

Wawancaranya berjalan lancar dan penandatanganan kontraknya akan dilakukan minggu depan. Aku merasa telah berhutang banyak pada Kyungsoo, sehingga aku memutuskan untuk mampir ke toko kue favoritnya dan membelikan laki-laki itu beberapa kue.

Bell yang tergantung diatas pintu mulai berbunyi, lembut namun jelas. Ini adalah pertama kalinya bagiku berada di suasana setenang ini. Menikmati bau harum kue yang baru dipanggang, aku menekan mataku kearah counter, menyebarkan pandanganku kepada kue-kue indah ini. Aku terlalu fokus memilih kue.

Aku minta Blueberry Cheesecakenya satu

Suaranya terdengar sangat familiar. Jantungku mulai terhuyung; tubuhku tak bergerak dari tempatnya.

Tolong taruh di kotak merah itu, terima kasih.

Bell kembali berbunyi ketika pintu terbuka dan menutup.

Aku terpaku di tempatku.

Aku tahu suara ini. Suara yang sudah sangat melekat di pikiranku. Pelan-pelan aku mendongakkan kepalaku namun semuanya telah terlambat.

Sebuah sosok yang familiar baru saja keluar dari pintu dan berjalan menuju mobil merah yang terparkir di depan toko.

Aku berlari.

Baekhyun.

Baekhyun ada disini.

Aku berlari, mengejar mobil tersebut. Bodoh memang, namun aku tetap berlari. Saat itu adalah salah satu kesempatanku untuk bertemu dengannya, berbicara dengannya, melihatnya tersenyum, namun hal itu tak terjadi.

Sekali lagi, aku kehilangan Baekhyun.

Agustus 28, 2011

Aku terus mengingatkan diriku bahwa aku tak kehilangan Baekhyun; ia memang tak pernah jadi milikku.

Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri, kenapa aku tak bisa move on? Kenapa aku tak pernah menemukan jawaban yang tepat? Kenapa aku tak bisa hidup dengan normal?

Semuanya kembali kepada Baekhyun. Jawaban dari semua pertanyaanku adalah Baekhyun.

Ia bukan milikku. Dan aku tak pernah kehilangannya. Apa yang hilang dari diriku adalah senyumanku.

Oktober 27, 2011

Banyak hal terjadi. Hari ini adalah hari yang sama saat aku menyatakan perasaanku pada Baekhyun. Aku baru saja menyelesaikan pertunjukkan terakhirku di Universitas sebelum aku berangkat ke Amerika untuk memperdalam kemampuan bermusikku.

Sebulan yang lalu, aku memutuskan untuk berhenti menunggu. Aku mencintai Baekhyun dan itu tak akan berubah. Kyungsoo benar, aku harus pergi. Aku butuh sebuah kehidupan tanpa Baekhyun di dalamnya.

Tetapi, ia akan selalu ada di hatiku.

Pekerjaan yang aku terima di Korea beberapa bulan lalu memberikan kesempatan padaku untuk belajar keluar negeri. Aku menerimanya dengan senang hati, hal tersebut adalah sebuah penghargaan bagiku. Sebuah jalan menuju kehidupan yang baru.

Semuanya telah siap; tiket pesawat, dan juga perlengkapanku. Semuanya telah siap; kecuali hatiku.

Hari ini adalah hari terakhirku berada di apartment. Aku sengaja meminta Jongin untuk tinggal disini. Melihat keadaannya sekarang, tak terasa telah bertahun-tahun aku menghuninya namun tetap saja banyak kenangannya di dalamnya.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling apartment yang tampak lengang ini untuk terakhir kalinya. Aku tersenyum, tulus.

Aku berbalik, tak ingin larut dalam kenangan.

Dadaku terasa sesak, aku tak bisa bernafas. Aku harus berpegangan pada sesuatu supaya tidak jatuh.

Mata yang familiar itu menembus jiwaku, tatapan penuh keputusasaan serta rasa bersalah timbul dari mata coklatnya. Aku merasa seperti bermimpi. Kakiku bergetar namun aku tetap terpaku di tempatku.

Tak sepatah katapun terlontar dari bibir kami. Aku ingin berteriak. Aku ingin menjerit. Namun aku tak melakukan apapun.

Pelan-pelan, laki-laki yang memberikanku tahun paling mengerikan sepanjang hidupku, laki-laki yang membunuh kebahagiaanku, laki-laki yang menghilang setahun lalu, meninggalkan perasaanku tergantung, berjalan pelan kearahku.

Langkah pertama, aku ingin mundur.

Langkah kedua, aku ingin lari.

Satu langkah lagi, aku ingin mendorongnya, namun aku malah merasakan air mataku mulai menetes setetes demi setetes membasahi wajahku, meredupkan hatiku.

Sampai aku merasakan sebuah bibir menempel pada bibirku, menikmati setiap inci mulutku dengan lahap. Aku tak bisa berpikir apapun saat bibir tersebut terus saja menyentuh bibirku. Air mataku masih mengalir deras, aku memejamkan mataku dan mulai mencium balik sembari merentangkan tanganku untuk memeluknya.

Aku mengabaikan semua rasa sakit dalam hatiku setahun ini; saat-saat dimana aku menangis sampai jatuh tertidur.

Yang aku tahu adalah, hari ini adalah hari terbaik sepanjang hidupku. Bukan karena aku menciumnya, namun karena…

Byun Baekhyun ada disini.


"Chanyeol"

Sebuah suara familiar mengalun di telingaku, betapa aku sangat merindukan suara tersebut.

"Baekhyun. Aku, tolong jangan tinggalkan aku lagi. Lupakanlah saja apa yang kukatakan setahun lalu. Mari kita berteman saja, jika itu yang kau mau. Apakah aku menakutimu? Tolonglah Baekhyun, jangan tinggalkan aku lagi. Maksudku, kita bisa mengulanginya lagi dari awal. Hai, namaku Chanyeol. Mari berteman?"

Aku terus mendesaknya untuk melupakan pernyataanku setahun lalu, perasaan takut mulai menjalari tubuhku. Aku tak ingin Baekhyun pergi lagi. Ia disini dan aku senang.

"Baekhyun, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf tapi aku tahu aku meminta terlalu banyak. Kita adalah teman dan kita bisa tetap

"DIAMLAH, PARK CHANYEOL"

Baekhyun tak pernah berteriak. Namun ia melakukannya, kemudian aku bisa merasakan separuh jiwaku melayang ketika Baekhyun menempelkan kembali bibirnya padaku. Perasaan yang sama kembali mengintai di perutku; rasanya sangat sakit. Getaran-getaran aneh menjalari punggungku ketika aku merasakan bibirnya.

"Apa kau bodoh, Chanyeol?" desis Baekhyun di sela-sela ciuman.

Ia menggigit bibir bawahku, membiarkan lidahnya masuk kedalam mulutku. Pelan-pelan, aku merasa bahagia; menikmati bibirnya, rasanya.

Ia melepaskan ciuman panas kami, "Apakah teman berciuman seperti ini?"

Aku tak dapat merespon apapun ketika Baekhyun memperdalam ciumannya.

"Tidak"

Ciuman kami berhenti. Mata kami menatap satu sama lain. "teman tidak berciuman seperti ini, Chanyeol" Baekhyun menggigit bibirnya. "Dan kenapa kau yang meminta maaf. Ini kesalahanku. Harusnya aku yang disalahkan"

Air mata kembali menetes dari pelupuk mataku.

"Maafkan, Chanyeol. Aku seorang pengecut. Kukira aku bisa melewatinya, namun aku tak bisa."

Tangan-tangan lembut menyentuh pipiku, mendekap kepalaku.

"Aku sangat takut saat itu, Chanyeol. Aku sudah puas dengan hanya apa yang kita alami saat itu walaupun aku benar-benar ingin sekali memelukmu setiap saat aku melihatmu tertawa. Aku ingin mendengarkanmu bermain gitar. Aku ingin menonton film bersama denganmu. Aku ingin bergandengan tangan. Aku ingin memelukmu. Aku ingin merasakan bibirmu. Aku ingin semua hal tentangmu Chanyeol, sungguh. Hanya saja, aku tak yakin jika mengakui perasaanku padamu adalah pilihan yang tepat"

Setelah setahun yang kurasakan dalam kesunyian ini, aku tak dapat memercayai yang aku dengar. Baekhyun merasakan hal yang sama namun kenapa ia pergi? Kenapa ia menghilang?

"Kenapa?"

Aku masih belum menyiapkan perasaanku untuk mendengar jawabannya karena aku tahu jawaban itu tak akan sederhana. Cinta kita tidak sesederhana itu.

"Aku sekarat, Chanyeol"

Baekhyun menatap mataku langsung tanpa adanya keraguan ataupun mengandai-andai.

"Aku sekarat"

Mungkin ini karena angin yang tiba-tiba menerpa dadaku yang membuat air mataku berhenti mengalir. Mungkin karena rasa keterkejutan ini terasa begitu nyata sampai-sampai tak ada air mata yang jatuh atau mungkin karena Baekhyun menangis kencang sampai-sampai aku tak bisa menangis lagi saat aku memeluk laki-laki yang sedang menangis dihadapanku dan menekan badannya erat.

Atau mungkin karena aku masih berharap bahwa ini semua adalah mimpi.

Namun ternyata tidak.

Setelah aku mempelajari hal-hal yang menimpaku selama ini, aku merasa hidup di dalam sebuah film. Semuanya terasa seperti telah direncanakan, dan hal terburuk mengenai ini semua adalah klimaks yang terjadi padaku. Aku tak ingin hidup di dalam sebuah film. Aku ingin hidup yang normal, bersama Baekhyun.

Baekhyun sekarat. Seperti di dalam film-film sialan itu.

Baekhyun menderita kanker langka bernama Aphonia. Sama seperti film tragedi. Sel kanker tersebut muncul pelan-pelan dari pangkal tenggorokannya, dan jika tidak segera diobati, sel kanker tersebut akan menjalar ke bagian otaknya, menuntunnya menuju kematian. Baekhyun telah didiagnosa mengidap penyakit ini sejak SMA.

Harta paling berharga Baekhyun adalah suaranya.

Aku tak pernah memimpikan kehidupan yang penuh melodrama seperti ini.

Kemudian, ia diberi dua pilihan. Apakah menjalani terapi penyembuhan yang akan mengakibatkannya bisu atau bertahan selama beberapa tahun namun ia masih bisa memiliki suaranya.

Beberapa tahun lalu, Baekhyun senang akan pilihannya.

Katanya, ia tak pernah merasa seyakin ini.

Ia memilih yang terakhir.


Baekhyun tidur selama 30 menit.

Aku tetap terjaga memperhatikannya; takut-takut kalau ia akan meninggalkanku.

Aku hanya melihat laki-laki itu ketika ia menangis sesenggukan di dalam tidurnya. Pikiran-pikiran mulai menjalari kepalaku seperti sebuah film, bagian-bagian film itu terus saja berdatangan di kepalaku. Pertanyaan yang tak terjawab, pertanyaan yang telah terjawab. Melihat Baekhyun tidur, aku masih tak percaya ia berada disini setelah setahun. Ia ada disini, namun apakah itu hal yang bagus?

Baekhyun membuka matanya pelan-pelan.

"Hey" Aku tersenyum sembari mengelus rambutnya, jemariku menelusuri wajahnya.

"Hey" gumamnya malu.

Tak ada yang bicara selama beberapa menit, hanya saling memandang satu sama lain. Ini sempurna, pikirku.

"Maafkan aku" ucapnya mengakhiri momen itu. Aku tak bicara, aku membiarkannya. Aku butuh penjelasan, aku butuh jawaban.

"Maafkan aku karena telah pergi" suaranya pecah di setiap kata yang ia lontarkan, Baekhyun melompat dari kasur kemudian memelukku erat sembari membiarkan air mata mengalir deras dari wajahnya.

"Maafkan aku Chanyeol, maafkan"

"Aku minta maaf karena telah menggantungkanmu, aku minta maaf karena lari saat itu. Aku tak tahu harus berbuat apa, Chanyeol. Aku sekarat dan aku tak ingin kau mencintai pria sekarat. Aku tak pantas mendapatkanmu. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, Chanyeol. Kau harus mencintai orang lain"

Tak ingin mendengar lebih banyak, aku melepaskan pelukanku, ketakutan tampak jelas di matanya. Aku tak ingin mendengarnya lagi. Yang penting Baekhyun ada disini.

Aku menangkup wajahnya, memejamkan mataku kemudian menempelkan bibirku padanya.

Hatiku gembira dari kontak fisik tersebut.

Aku mencium Baekhyun.

Dan ia menciumku balik.


Kami menghabiskan jam-jam berikutnya dengan menonton siara ulang I Hear Your Voice. Kecanggungan masih menghinggapi kami. Ia duduk di ujung sofa sembari menekuk lututnya tepat di depan wajahnya sementara aku duduk di ujung yang lain, terpisah beberapa inci.

Keheningan itu tak memekakkan; tapi menenangkan. Walaupun tak ada dari kami yang bicara, namun aku merasa kami melakukan hal yang benar.

Saat itu sudah mendekati tengah malam. Kyungsoo dan Jongin masih belum juga kembali; mungkin mereka sedang pergi ke suatu tempat, dan saat itulah aku tersadar.

"Apakah Jongin dan Kyungsoo tahu kau ada disini?" tanyaku, memecahkan keheningan.

"Aku menelepon Jongin sebelum kemari. Kubilang aku akan bicara dengannya nanti. Menemuimu, adalah, yang terpenting"

Aku tersipu mendengar perkataan tersebut saat jantungku sedang berdentum cepat.

"Bolehkah aku menginap disini?" Tanya Baekhyun sembari menyesap chocolatenya.

Aku mengangguk.

Aku mengarahkannya menuju kamar Kyungsoo, kemudian membiarkan dirinya menempatinya.

Melihat Baekhyun duduk di ranjang, tangannya memeluk kedua kakinya dengan secangkir kopi diantaranya; ia terlihat seperti anak kecil.

Dengan itu, aku berjalan menjauh dan bersiap untuk tidur di sofa.

"Kau mau kemana?"

"Aku akan tidur di sofa" aku berbalik menatapnya dan kulihat ia mengerutkan bibirnya.

Baekhyun meletakkan cangkir kopinya di meja kemudian menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Kau bisa tidur disini" aku bisa melihat wajahnya tersipu. Dan aku menyadari wajahku lebih memerah lagi sekarang.

"Aku, Well, Uhm.."

"Aku tak akan membiarkanmu tidur di tempat yang tidak nyaman" ujarnya.

Jadi disinilah kami, berbaring bersebelahan dengan degup jantung kencangku serta perutku yang bergejolak terus menerus.

"Aku ingin hidup, Chanyeol" ucapnya pelan, hampir tak bisa didengar namun aku masih dapat mendengarnya.

"Dulunya, kurasa ini adalah jalan terbaik bagiku untuk tidak melawan kanker ini. Sedikit rasa sakit, sedikit uang yang dikeluarkan. Kukira ini akan mudah. Aku menjalani hidup yang bahagia. Dan kurasa aku puas dengan itu. Suaraku adalah harta berhargaku satu-satunya. Namun, semuanya berubah"

Ia merubah posisinya, matanya menjelajahi tubuhku.

Aku menatapnya, dan ia tersenyum. Siapa yang akan menyangka bahwa laki-laki ini sedang memperjuangkan hidupnya?

"Kau datang"

Tangan-tangan lembut mengelus pipiku, aku tak tahu mengapa aku merasa lemah.

"Aku tak peduli jika aku kehilangan suaraku. Aku tak peduli jika aku tak bisa bicara lagi. Yang aku inginkan hanyalah hidup bersamamu, Chanyeol"

"Aku memutuskan untuk berjuang"

Baekhyun menatap mataku, ia menyunggingkan senyuman yang sama dengan senyuman yang ia berikan di hari kami meninggalkan Jongin dan Kyungsoo; senyuman yang ia sunggingkan ketika selesai bernyanyi; senyuman yang ia buat ketika ia mengatakan bahwa ia mencintai payung.

Inilah senyuman yang aku miliki.

"Aku akan berjuang untukmu"


Semua pikiran mulai tenggelam ketika ia tertidur dalam pelukanku.

Baekhyun sekarat.


halo, setelah curi-curi waktu akhirnya bisa juga nyelesain chapter empat ff ini. and the angst began from now on lewl. thanks so much buat Raein karena udah mau bantuin translate awal-awal chap ini jadi mempermudah kerjaanku wahaha /showers you with love/ dan terima kasih sangat buat readers yang ngasih review karena it means so much for me, y'know what is feel like rite? kk

thanks you again buat author theusualfan yang udah ngasih izin aku buat ngetranslate ff ini. dan tolong ya, garis bawah keras jangan copy atau mengakui hasil translatean aku/hasil karya author ff ini sebagai karya kamu karena aku tadi diberitahu salah satu readers ada yang memplagiat atau bisa dibilang mengcopas dan mengakui hasil translatean 10080 sebagai punya dia. dan parahnya lagi, diganti castnya kan ya? maaf aku ga terlalu tahu. baru diberitahu barusan dan beneran aku speechless.

ngerasa sedih buat exobubz yang udah susah susah buat itu ff malah dicopas plus diganti castnya sekalian. sedih juga hasil kerjaku ngetranslate itu ff sampe ngurangin waktu tidur asal diplagiat plus dicopas. pingin marah cuma gabisa.

so, do not be a plagiator and please take a proper credit if you want to share the fic in your own blog. thanks buat pengertiannya ^^